Monday, September 4, 2017

Pengobatan Benjolan di Leher (3)

Hai, semuanya. Wah, cukup lama ya aku tidak bercerita tentang perkembangan proses pengobatan TB kelenjar yang sedang  kujalani. Belum sempat nulis, alasan banget nih. Sebenarnya akhir September nanti, pengobatannya dijadwalkan sudah selesai. Namun, sebelum itu aku mau cerita tentang awal-awal deteksi penyakitnya supaya nyambung dengan cerita di postinganku yang berjudul Pengobatan Benjolan di Leher (1) dan (2).

Ruangan Konsultasi

Singkat cerita pada tanggal 5 atau 6 Desember 2016, aku sudah berada di ruangan dr. Barliana, seorang dokter patologi di Klinik Ahla Assyifa, Kandangan. Selain sang dokter, di ruangan tersebut juga ada dua orang asistennya yang akan membantu proses biopsi. Aku dipersilakan rebahan di atas ranjang yang terdapat d ruangan tersebut. Kepalaku diminta untuk menghadap ke kiri, karena benjolan yang akan disedot cairannya ada di sebelah kanan leherku. Aku pun menoleh ke arah kiri, persis menghadap dinding. Kemudian terasa sedikit sengatan kecil seperti disuntik. Tak lama kemudian, rasa sakit tersebut sudah hilang. Ternyata proses biopsinya sudah selesai. Tanpa pembiusan. 

Dokter Barliana kemudian menjelaskan bahwa pada hasil pengamatan sementara tersebut tidak ditemukan sel ganas. Namun, terdapat banyak jaringan nekrotik yang artinya jaringan tersebut sudah mati dan tidak aktif lagi. Entah apa relevansinya dengan penyakitku. Yang jelas, untuk penjelasan lebih lengkap hasilnya dapat diambil 2-3 hari kemudian kata beliau. 
  
Karena aku menolak metode operasi untuk deteksi jenis penyakit, maka dr. Nanda merujuk aku ke sebuah klinik yang bisa melakukan FNAB. Biopsiasi Jarum Halus atau Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) adalah penyedotan sedikit massa/cairan dari kelainan di tubuh (pada kasusku, ya benjolan di leher ini) untuk kemudian dideteksi secara mikroskopis. Aspirasi atau penyedotannya menggunakan sebuah jarum, mirip seperti syringe.

Meski sudah selesai aku tetap disuruh menghadap ke kiri, jaga-jaga jika kemungkinan biopsinya akan diulang. Aku hanya mendengar si dokter memerintahkan beberapa instruksi kepada kedua asistennya dan bunyi alat yang cukup bising, aku menebak-nebak alat apa yang berbunyi tersebut. Namun, aku belum bisa mengenalinya. Ketika kepalaku sudah boleh ditolehkan ke kanan ternyata proses identifikasi sementara lewat mikroskop oleh dokter sudah selesai. Yaaah, padahal aku kan ingin melihat dokter membuat preparat dari jarinfan yang ia ambil. Saat itulah aku baru sadar, alat yang berbunyi tadi adalah hairdryer untuk mengeringkan preparat yang telah diwarnai sebelum diperiksa di bawah mikroskop. Pantas tidak terdengar asing. Di lab dulu, pewarnaan Gram adalah salah satu metode dalam penelitianku.

Hasil pewarnaan Gram

Tanggal 8 Desember kemudian aku mendapat sms pemberitahuan bahwa hasil uji lab milikku sudah bisa diambil. Namun, karena beberapa hal hasil tersebut baru bisa kuambil tgl 16 Desember. Alhamdulillah, inti dari hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada potensi kanker ganas. Hanya memang gejala yang kualami menunjukkan adanya infeksi tuberculosis kelenjar.

Hasil Pengujian Laboratorium

Jika benjolan menunjukkan pengecilan atau bahkan hilang, maka setelah pengobatan 6 bulan pengobatan akan dihentikan. Namun jika volume benjolan masih tetap atau bertambah maka pengobatan akan ditambah hingga 3 bulan lagi.
Antri
Karena kesibukan dan lain hal aku baru bisa konsultasi ke dokter di rumah sakit pada tanggal 28 Desember. Seperti biasa konsultasi ke rumah sakit memakan waktu yang lama sekali karena harus antri. Tiga setengah jam harus dikhususkan untuk meluangkan waktu. Jam 10 aku ke rs. Antri di loket BPJS hampir 1 jam, lalu ke loket pendaftaran sebentar saja karena sudah siang dan loketnya hampir tutup untuk menerima pasien rawat jalan. Nah menunggu di polinya ini yang lama. Aku baru bisa pulang jam 13 30. 

Konsultasi  dengan dr. Priha hanya sebentar. Beliau melihat hasil biopsiku dan kemudian mengatakan bahwa sampai saat ini dapat disimpulkan bahwa aku terkena peradangan kelenjar getah bening akibat infeksi bakteri tb. Proses pengobatannya akan membutuhkan waktu selama 6 bulan berturut-turut. Beliau kemudian membuat surat rujukan balik ke puskesmas agar aku tidak perlu lagi ke rumah sakit untuk mengambil obatnya. Namun, ketika masa pengobatan sudah hampir habis aku harus ke RS lagi agar beliau mengetahui perkembangannya.

Ya, akhir tahun lalu di hidupku aku menerima vonis penyakit yang mungkin tidak terlalu berat tapi membutuhkan konsistensi. Bayangkan saja, menenggak obat selama 6 bulan berturut-turut. Pasti tidak mengenakkan. Tunggu ceritaku selanjutnya ya tentang proses pengobatanku dengan minum Obat Anti Tuberculosis (OAT).
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates