Tuesday, May 30, 2017

Genggam Mimpimu, Semesta Pasti Mendukungmu!

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Ungkapan tersebut benar-benar pas untuk menggambarkan buku ini. Selain karena terjemahannya persis seperti judul buku ini, isinya pun menceritakan perjuangan beberapa pemuda Indonesia untuk meraih mimpinya ke luar negeri. Judul buku ini pulalah yang memikatku saat perhelatan book fair beberapa bulan lalu, hanya saja aku baru sempat membacanya sekarang. 

Judul : Genggam Mimpimu, Semesta Pasti Mendukungmu!
Penulis : Zamzami Elriza dkk
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2015

Buku yang ditulis secara keroyokan oleh 9 pemuda Indonesia ini mampu menyadarkanku kembali akan impianku menjelajah dunia. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau berusaha, aku percaya itu. Aku sangat terkesan dengan cerita-cerita yang terdapat di dalam buku ini. Cerita pembuka ditulis oleh Zamzami Elriza yang berjudul Keajaiban-keajaiban Kecil di Negara Besar. Ia berhasil mendapatkan kesempatan berkuliah di Negeri Paman Sam selama setahun dan mendapatkan pengalaman menjelajahi beberapa kota besar di US. Latar belakang pendidikan jurnalisme membuat cerita Zamzami begitu hidup seperti sebuah berita yang ditulis dengan runtut.

Ada cerita pula yang menarik perhatianku yaitu pengalaman seorang Waskito Jati yang berkesempatan training ke Ghana, sebuah negara di Afrika Barat. Ia menemukan sejarah yang terlupakan dan menguak misteri hubungan antara Indonesia dan Afrika yang telah menghantuinya sejak 6 tahun sebelumnya. Selain dua cerita tersebut, ada tujuh cerita lainnya yang menginspirasiku agar tetap mempertahankan mimpi ke luar negeri dengan mengikuti seleksi beasiswa atau training sesuai bidang keilmuanku.

Dari segi bahasa dan penulisan, buku ini hampir tak ada cela. Karena mungkin setiap penulis sudah melewati tahapan seleksi saat mengumpulkan karyanya. Namun, perbedaan karakter setiap penulis terasa nyata pada setiap cerita. Pokoknya buku ini recomended bagi para scholarship hunter dan pejuang traveller.

Sunday, May 28, 2017

Tradisi Ramadhan di Kota Barabai

Alhamdulillah, kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun ini. Senang, karena kesempatan untuk lebih banyak beribadah kepada-Nya datang lagi. Senang juga karena suasana Ramadhan yang tidak selamanya ada di sepanjang tahun akhirnya tiba hingga 30 hari ke depan.

Di beberapa daerah, ada tradisi untuk menyambut atau merayakan bulan puasa. Hal serupa juga ada di kota kecilku, Barabai. Namun, banyak di antaranya juga menjadi tradisi di daerah-daerah lain seperti semarak petasan dan pasar Ramadhan. Meski begitu, ada 2 tradisi yang sepertinya hanya ada di Kalimantan Selatan, khususnya Barabai, mengingat namanya dalam Bahasa Banjar. Kecuali, di daerah lain ada tradisi serupa dengan nama yang berbeda.

1.    Bagarakan Sahur
Bagarakan sahur adalah kegiatan membangunkan orang-orang untuk bersahur. Bentuk kegiatannya berbeda-beda di setiap kampung. Di kampungku sendiri, biasanya bagarakan sahur ini diikuti oleh para pemuda dan anak laki-laki. Mereka berjalan dari ujung kampung ke ujung kampung lainnya pada dini hari dengan membawa alat-alat yang berbunyi sambil berteriak ‘sahur, sahur!’.
 
credit


Kegiatan ini cukup ampuh membangunkan orang-orang yang masih terlelap untuk segera bersahur. Dibandingkan dengan program bagarakan sahur di masjid yang biasanya dilakukan oleh kaum (marbot), kegiatan bagarakan sahur di jalan ini cukup memekakkan telinga.

Pernah di suatu Ramadhan aku menginap di rumah saudara di Banjarmasin, pada saat sahur tak ada kegiatan bagarakan sahur baik di masjid atau pun di jalanan komplek. Kata saudara yang tinggal di sana sih, hal ini karena di dalam komplek tersebut tidak semua penghuninya beragama Islam, sehingga kegiatan bagarakan sahur ditiadakan untuk menoleransi penganut agama lain agar tidur mereka tidak terganggu.

2.    Malam Salikur
Malam salikur adalah malam ke-21 di bulan Ramadhan. Malam ini dianggap istimewa karena merupakan awal dari 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan waktu diturunkannya lailatul qadar. Salah satu bentuk pengistimewaan malam ini biasanya para penduduk di kampungku menyalakan api kecil di halaman rumah, menggunakan obor atau lilin.

Selain itu, ada kecenderungan pasangan muda-mudi menikah pada malam salikur ini. Meski tidak dirayakan secara mewah, namun tren menikah di malam salikur adalah hal yang sakral. Biasanya acara dilaksanakan di rumah mempelai perempuan setelah tarawih atau rombongan pengantin beramai-ramai ke KUA.

Pawai tanglong adalah tradisi merayakan Ramadhan di Kota Barabai. Biasanya juga diadakan pada malam salikur. Bentuk acara ini berupa pawai atau festival arak-arakan kelompok pemuda masjid atau karang taruna dengan berbagai macam hiasan di atas kendaraan yang mereka gunakan. Jalur pawai meliputi jalan utama kota dan berpusat di lapangan kebanggaan warga Barabai, Dwiwarna. Pesta kembang api juga menjadi bagian dari kemeriahan acara pawai tanglong ini.

Nah, begitulah beberapa tradisi yang ada di kotaku saat Ramadhan. Bagaimana dengan tradisi yang ada di kota kalian, readers? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Saturday, May 27, 2017

Aku Hari Ini

Aku hari ini, terjebak di antara status sebagai seorang istri dan mimpi traveling kemana-mana. Sebagai pendamping suami, adalah hal yang mustahil sering bepergian apalagi sendirian. Faktanya setelah menikah, aku hampir selalu ngetrip bareng suami dan itu hanya bisa kulakukan paling banyak sebulan sekali.

Aku hari ini, terjebak di antara status sebagai pegawai kantoran dan mimpi kuliah lagi. Kuliah yang jauh, sekalian traveling maksudnya. Kalau sekadar kuliah mencari ilmu atau gelar, di dekat-dekat sini pun bisa. Namun, yang kuinginkan tentu pengalaman bersama teman dan di tempat yang baru sekaligus mencari ilmu. Impianku pun muluk, kuliahnya kalau bisa lewat beasiswa. Biar ekonomis dan sebagai pembuktian atas kemampuan akademikku.

Keputusan kuliah lagi memang agak berat, meski suami mengizinkan. Kasihan juga kalau ditinggal jauh-jauh karena dia bekerja di sini. Posisiku di kantor pun sebenarnya menjanjikan, sayang kalau ditinggal. Pulang-pulang, belum tentu bisa dapat kerja cepat di tempat yang setepat sekarang ini. Belum lagi dari segi finansial, jelas hanya mengandalkan beasiswa dan gaji suami kalau aku kuliah lagi. Di sisi lain, mimpiku untuk berkuliah lagi rasanya terlalu sayang untuk dilepas. Oleh karena itu aku tak pernah berhenti berusaha mencari info, mengusahakan, dan apply beasiswa ke kampus-kampus impian.

credit

Aku hari ini, terjebak di antara ketakutan untuk mulai berwirausaha dan keyakinan bahwa menjadi pengusaha itu harus. Mengandalkan gaji dari kantor memang aman, tapi tentu hasilnya tak lebih dari cukup. Sedang mimpiku banyak. Salah satunya ingin punya perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum, terutama anak-anak. Mimpi itu butuh modal. Aku perlu jalan agar uang tak lagi menjadi masalah sehingga bisa mewujudkan mimpi-mimpi besar dan gilaku.

Di sisi lain, aku belum punya keberanian, modal, dan dukungan moril yang cukup untuk memulai bisnis. Meski sambil tetap bekerja di kantor, kuingin bisnis ini sebagai sampingan dulu. Peluangnya sudah ada, bahkan mungkin sejak dulu. Namun, tekadku yang maju mundur membuat impianktersebut tak bisa terwujud dengan mudah. Aku belum terlalu percaya diri menjalankan bisnis seorang diri. Terutama karena sifat introvertku.

Aku hari ini, terjebak di antara keinginan menjadi penulis buku dan kemalasan yang luas biasa untuk memulai konsisten menulis satu tema. Setiap hari aku menulis, tapi hasilnya belum layak untuk dirangkum menjadi sebuah buku. Tulisan-tulisan lepas dan abstrak yang memenuhi folder penyimpananku sebagian besar hanyalah catatan buah pikir dan perasaan untuk hal-hal yang kuanggap penting dalam hidupku. Pun, aku masih terlalu malas untuk meluangkan waktu khusus untuk menulis. Padahal mimpi menjadi penulis telah terbit semenjak kanak-kanak. Oh, aku yang malas. 

Aku hari ini, terjebak di antara rasa syukur dan sesal untuk hal-hal yang telah dan belum terjadi di hidupku.

Tuesday, May 23, 2017

Bukit Palawan

Kali ini aku traveling bersama teman-teman akhwat seliqo. Ramai, karena banyak anggota yang bisa ikut. Tujuan kami adalah ke Bukit Palawan, salah satu destinasi wisata di kabupaten sebelah yaitu Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan yang sedang ngetrend saat ini. Bukit ini terletak di Desa Mawangi, persis di sebelah Desa Batu Bini yang seminggu sebelumnya puncaknya kudaki.

Foto bareng sebelum berangkat

Pos keberangkatan ke Bukit Palawan tepat di SDN Mawangi. Entah bagaimana kalau sedang tidak hari libur seperti sekarang. Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, jalur menuju puncak Palawan lebih jauh, tapi lebih landai. Ada beberapa warung yang berderet di sepanjang jalan menuju bukit. Di tengah-tengah perjalanan kami beristirahat karena ada teman yang lemah lunglai setelah mendaki sekian anak tangga. Sekitar 15 menit kami kemudian akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi.

Ada 2 jalan menuju puncak. Kami mengambil jalur yang lebih landai, mengingat kondisi anggota ada yang kurang fit. Ternyata puncaknya tidak terlalu jauh. Aku bahkan belum merasa capek.


Aku sempat terheran-heran ketika baru tiba di puncak. Suasananya ramai sekali seperti pasar. Warung tenda pun jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Meski udara cukup panas waktu itu, di puncak Palawan tidak terlalu terasa karena terdapat deretan pohon karet.

Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, Bukit Palawan jauh lebih luas dan lebih banyak spot cantik untuk berfoto. Katanya sih, ini adalah bukit pertama yang ngehits di kawasan Kandangan sebelum bukit-bukit yang lain menyusul untuk mempercantik diri. Berikut hasil foto-foto ala aku di Bukit Palawan.






Spot-spot foto terletak di tepi tebing. Ada banyak bentuk seperti kursi kafe, heli tentara, frame instagram, jembatan love, rumah tarzan, becak, sayap kupu-kupu, sarang burung, dan perahu. Kreatif sekali para pembuatnya. Kata nenek penjaga warung sih, puncak ini ramai semenjak 3 bulan terakhir ini. Lumayan menambah pendapatan warga sekitar juga, terutama dari tarif parkir, biaya masuk, dan warung-warung yang ada di sana.

Nongkrong di Warung Nini

Setelah sekitar 2 jam menghabiskan waktu di atas. Aku dan teman-teman berencana pulang, tapi dicegat oleh seorang nenek yang mempromosikan sebuah sumur air tawar yang katanya bertuah. Kami sebenarnya tidak percaya dengan cerita beliau tapi untuk menghargai, kami pun mengikuti beliau ke sumur tersebut untuk berwudhu dan mencuci muka. Beberapa teman juga ada yang mengisi botol minum dengan air tersebut. Jernih sekali memang, berasal dari pancuran alami di dalam gua kata si nenek.

Pulangnya, kami lewat jalur ke-3 yang ternyata jauh lebih landai karena memutar bukit meski jaraknya jadi lebih jauh. Saat tiba di bawah, kami disambut gerimis. Beruntungnya kami tidak sampai kehujanan di puncak sana. Alhamdulillah, satu lagi destinasi wisata yang berhasil kujelajahi hari itu.



Artikel Terkait :

Video on Demand

Pertama kali mendengar istilah Video on Demand (VOD), yang terlintas di benakku adalah youtube. Ya, situs ini memang menjadi favorit sebagian besar pengguna internet untuk menonton dan mendownload berbagai jenis video atau bahkan mengunggah video buatan sendiri. Namun, setelah membaca beberapa referensi mengenai VOD, ternyata cakupan definisi VOD jauh lebih spesifik daripada sebuah youtube.

VOD sendiri adalah layanan yang menyediakan beragam video berdasarkan permintaan pengguna. Materi videonya bermacam-macam, seperti film, drama, atau tayangan televisi. Dengan membayar paket berlangganan yang sudah ditentukan, para pengguna bisa bebas mengakses ratusan jenis dan judul video di sebuah aplikasi VOD. Contoh aplikasi VOD yang sedang booming di Indonesia adalah Hooq, Iflix, UseeTV, dan Viu.

credit

Kelebihan yang ditawarkan semua aplikasi VOD adalah bebasnya pemilihan judul dan waktu tayang sebuah video oleh pengguna. Canggih sekali dunia sekarang ya. Kalau dulu kita harus ke bioskop untuk nonton film atau nunggu VCDnya keluar. Pun, kita harus menunggu sinetron atau drama di jam pulang sekolah untuk bisa menyaksikan serial kesayangan kita. Sekarang kita bisa mengakses apa pun yang ingin kita tonton kapan pun kita mau.

Beberapa aplikasi juga menyediakan fasilitas download video di aplikasi VOD sehingga pengguna tetap bisa nonton saat offline. Ketergantungan layanan VOD dengan jaringan internet dimanfaatkan dengan baik oleh para provider seluler di Indonesia, yaitu dengan bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi tersebut. Salah satu bentuk kerja sama ini adalah provider menggratiskan sekian gigabyte dari total paket kuota internet untuk mengakses layanan sebuah VOD. Bagi pelanggan VOD, ini tentu angin segar. Namun, bagi yang belum kenal dengan aplikasi VOD, gratis kuota seperti itu adalah sebuah kemubaziran.

Mengapa VOD berkembang dengan cepat sekarang ini? Sama seperti layanan music on demand. Hal ini karena kebutuhan hiburan orang-orang semakin meningkat dan dinamis. Perlu dicatat bahwa kebanyakan layanan VOD yang ramai sekarang adalah VOD mobile alias berada dalam genggaman, bukan dalam bentuk layar kaca atau yang hanya bisa dinikmati dengan duduk dalam satu ruangan.

Aku sendiri bukan penikmat VOD, setidaknya belum. Aku masih merasa cukup 'terhibur' hanya dengan menonton film atau drama korea dari laptop yang filenya kuminta dari kolektor film di kantorku. Pun, aku masih tidak terlalu masalah dengan jam tayang HBO atau program televisi lainnya. Kalau pun ada video yang benar-benar ingin kulihat, aku bisa mengaksesnya di layanan video sejuta umat, a.k.a youtube. Intinya, aku bukan pecandu video yang hingga berpikir harus menggunakan layanan video on demand. Belum.

Bagaimana dengan kalian, sudahkah menikmati layanan VOD? Share pengalaman kalian di kolom komentar ya.

Monday, May 15, 2017

Tentang Umrah dan Haji

Di usia berapa biasanya seseorang (muslim) dengan kondisi finansial pas-pasan terpikir untuk umrah atau berhaji? Menurut observasiku dari orang di sekitar yang kukenal, tekad kuat untuk berangkat ke Baitullah biasanya terjadi saat seseorang mencapai usia matang, minimal 50 tahun. Ketika tanggungan biaya untuk anak-anak sudah tidak ada lagi karena mereka sudah menikah atau bekerja. Atau karena dapat harta warisan mendadak. Ya, niat untuk pergi umrah atau haji sepertinya tergantung pada satu hal yaitu biaya.

Usiaku baru 25 tahun, jika dilihat dari perspektif kebiasaan orang-orang di sekitarku, mungkin aku masih terlalu muda untuk berniat ke tanah suci dan mengusahakannya dari sekarang. Baru nikah, belum punya rumah sendiri, pekerjaan pun tak mapan. Itu adalah pikiran negatif yang ada di otak kadalku. Namun, di suatu hari cara pandangku berubah ketika diajak mama mengikuti sebuah seminar umrah dan haji. Pembicaranya bilang, sebenarnya kita ini kaya dan mampu untuk bayar umrah atau haji. Hanya saja, prioritas kita tidak mengarah ke sana. 

credit

Mencicil untuk membeli motor atau mobil saja kita bisa, seharusnya untuk umrah dan haji pun kita mengusahakannya. Kebetulan, agen travel yang mengadakan seminar tersebut memberikan solusi pembayaran bisa dicicil dengan DP yang terjangkau. Hanya butuh satu minggu aku berpikir, di minggu berikutnya aku sudah bayar DP umrah aku dan keluarga.

Dan keluarga? Yup! Salah satu mimpi dalam hidupku adalah pergi umrah bersama keluarga tercinta. Mama bapaku, meski belum terlalu tua, mereka tak ingin pergi sendirian. Terlalu banyak yang diurus, kalau bersama anak kan jadinya tenang, begitu kata mereka. Meskipun terlihat mustahil dari segi pelunasan biaya, tapi paling tidak aku sudah mengunci niat dengan mendaftarkan keluargaku untuk umrah.

Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tapi Allah akan memampukan orang-orang yang terpanggil.

Quote itu terasa kena sekali di hati. Aku yakin, pasti ada saja jalannya untuk mewujudkan mimpiku umrah bersama keluarga. Sudah ada banyak contoh orang-orang yang diberi keajaiban bisa ke tanah suci meski kondisi ekonomi sehari-hari pas-pasan. Dan ada banyak orang juga yang terlihat berkecukupan, tapi belum bisa berangkat umrah dan mengumrahkan orangtua.

Maka, di sinilah aku menggenggam mimpi dan berusaha mewujudkannya meski masih terasa mustahil.

Tuesday, May 9, 2017

Bukit Batu Bini

Pada sebuah hari Minggu, tepatnya tanggal 23 April 2017, aku dan suami memutuskan untuk berwisata ke sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kami berencana untuk ke Bukit Palawan atau Bukit Halinjuangan di kabupaten tetangga -Kabupaten Hulu Sungai Selatan- yang sedang hits di instagram. Berbekal browsing di internet dan bertanya pada seorang teman yang sudah pernah ke sana, kami pun meluncur ke destinasi yang berjarak sekitar satu jam dari rumah tersebut tepatnya di Desa Mawangi, di Kecamatan Padang Batung.



Puncak Batu Bini

Namun, ketika hampir sampai di lokasi -sudah berada di wilayah kecamatan yang sama, kami tergoda untuk mampir di sebuah spot wisata berupa bukit juga yang bernama Bukit Batu Bini, sesuai nama desanya. Di hari libur seperti ini ternyata ada banyak turis domestik yang sedang berwisata ke sana. Keramaian di sekitar pintu masuk area Bukit Batu Binilah yang membuat kami lupa pada tujuan semula. Singkat cerita, setelah membayar 7 ribu rupiah (3 ribu untuk parkir sepeda motor, 2 ribu untuk biaya masuk per orang), kami pun masuk ke area wisata Bukit Batu Bini.

Pendakian awal kami jalani dengan nyaman dan cukup sebagai pemanasan, karena tangga yang terbuat dari semen cukup memudahkan kaki kami. Di akhir tangga mulus tersebut terdapat sebuah persimpangan. Jika berbelok ke kanan dan mendaki maka akan sampai ke puncak, sedangkan jika lurus saja akan menuju ke sebuah gua yang bernama Gua Singa. Pilihan kami adalah berjalan lurus, ke gua yang bermulut lebar dan berhawa dingin tersebut.

Di Depan Gua Singa

Nama gua tersebut diambil dari adanya 3 buah atau lebih patung singa yang terletak di ceruk terdalam gua yang buntu. Di bagian dinding gua terdapat lukisan para pahlawan yang dulu berjuang melawan penjajah. Kreatif dan dekoratif. Meski corat-coret anak muda khas vandalisme juga banyak menghiasi dinding gua.

Lukisan di Dinding Gua


Setelah puas menikmati gua beraroma kelelawar tersebut, kami pun beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Sejak awal, aku sudah tahu bahwa trip hari ini adalah pendakian. Namun, aku bersikukuh untuk mengenakan rok cantik berenda lebar supaya HOOTD nanti bagus di atas sana. Hiks, keputusan nekat yang salah sebenarnya karena rok cantikku jadi pengganggu yang berarti saat pendakian. Jalur menuju puncak Batu Bini sangat terjal dan jarak antar pijakannya cukup jauh, sehingga pendaki harus ekstra hati-hati dan fokus jika tak ingin terguling ke jurang yang menganga di bawah.


Di tengah perjalanan kami ngos-ngosan dan memilih beristirahat di sebuah balai bambu yang terdapat di pos peristirahatan. Sambil beristirahat, aku mengamati para pemuda di desa sekitar bukit ini yang menaburi bubuk sekam di jalur pendakian yang licin. Beberapa di antara mereka menggunakan ID card bertuliskan "panitia", mungkin maksudnya pengelola tempat wisata ini kali ya. Salut sama mereka yang peduli dengan kesulitan para pendaki karena jalanan licin. Yang lebih mencengangkan lagi, salah satu dari mereka memanggul satu karung sekam dengan santainya hingga ke puncak. Kami yang membawa tubuh saja kelelahan setengah raga.


Sampai di puncak, fiuuh kami perlu waktu untuk mengambil napas dan mengistirahatkan kaki di sebuah batu datar. Ramainya pengunjung yang memadati area puncak lalu lalang di sekitar kami. Sembari mengamati sekitar, aku mengambil beberapa foto dan video kondisi di sana. Ada banyak spot foto dengan latar belakang pemandangan alam yang cantik dari atas sini, seperti yang juga sedang ngetrend di Pulau Jawa. Yihaaa, Kalimantan juga punya.

Salam cinta dari Kalimantan :)

Setelah tenaga pulih kembali, aku dan suami mulai beraksi baca: foto-foto. Karena banyaknya pengunjung yang ada di atas, maka di setiap spot kami tak bisa berlama-lama. Antri. Di sebuah tempat terdapat tenda dari terpal, mungkin sebagai basecamp 'panitia'. Waktu gerimis sebentar, tenda tersebut menjadi tempat yang tepat bagi para perempuan dan anak-anak bernaung. Ya, ternyata ada banyak orangtua yang membawa balitanya naik ke atas sini. Seperti yang kami temui di sebuah spot foto, ada dedek-dedek gembul yang menggemaskan.

Si Dedek Gemesh

Puas menjelajahi semua spot, kami pun menuruni puncak dengan langkah yang lebih ringan. Kali ini tidak ada drama kelelahan lagi, mungkin karena bantuan gravitasi bumi. Secara keseluruhan tempat wisata yang baru sekitar satu bulan hits ini keren. Kami berdua pun sepakat untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tujuan awal, karena merasa sepertinya pengalaman mendaki Bukit Batu Bini mungkin akan sama bagusnya dengan Bukit Palawan atau Halinjuangan.

 




Artikel Terkait :

Monday, May 8, 2017

Koneksi Internetku

Hidup di desa di ujung kabupaten membuatku sedikit susah bersentuhan dengan internet. Beruntung, tempat aktivitasku sehari-hari ada di kota kabupaten yang berjarak 17 km dari rumah. Hal ini memungkinkanku untuk mengecap koneksi internet lebih baik daripada jika hanya berdiam diri di rumah. Apalagi dengan adanya fasilitas wifi di kantor membuatku sangat bebas berselancar di dunia maya.


Lalu, apakah jika di rumah aku tak bisa internetan? Jawabannya adalah bisa, tapi dengan kecepatan terbatas, jika tak boleh kusebut lelet. Untuk menunjang kebutuhan internetku saat di rumah, aku menggunakan kartu dari operator Indosat Oredoo. Tak ada pilihan lain, karena hanya provider tersebut yang paling memungkinkan untuk digunakan di pelosok kampungku. Bahkan, jawara sinyal  telepon dan sms di Telkomsel pun kalah. Mau tak mau, Indosat Oredoo pun menjadi pilihan favoritku. Sinyal internetnya sendiri sebenarnya kadang lancar dan sering ngadat. Namun, apa daya. Lelet atau tidak sama sekali.

Hal inilah yang menyebabkan aku tak bisa aktif selama 24 jam dalam bermedia sosial. Ngeselin juga kadang, kalau ada kabar penting dan aku terlambat mengetahui hanya karena pesan telat masuk. Oleh karena itu, menurutku tantangan koneksi internet zaman sekarang ada pada kecepatan koneksinya. Semakin cepat koneksi internet maka pengguna pun akan semakin terbantu dan tentunya tak segan untuk memilih operator yang sama di kemudian bulan.

Berbicara tentang jaringan tercepat, saat ini 4G LTE mungkin adalah rajanya. Dan aku belum terlalu melek dengan hal itu. Karena di androidku sendiri jaringan yang paling sering muncul adalah Edge dan HSPA+. Artinya jaringan yang kugunakan hanya lebih cepat sedikit daripada generasi ke-3 (3G).
Ada barang ada harga. Istilah tersebut tepat rasanya dilekatkan pada operator dan kecepatan layanannya. Kartu internet yang kugunakan adalah Indosat Oredoo 3gb untuk 3 bulan seharga 50 ribu rupiah. Meski seringnya hanya tersisa masa aktif 2 bulan setelah kubeli. Kadang, hal tersebut membuatku kesal sehingga sempat membuatku ngomel panjang lebar di beranda facebook.

Maaf, nyampah 😅

Meski kalau dihitung-hitung, paket internetku tersebut masih terbilang murah. Jika dibagi rata 50 ribu untuk 2 bulan, maka biaya internetku tidak sampai seribu rupiah perhari. Ini mungkin karena kemiskinnya sinyal di rumah sehingga membuatku malas untuk sering-sering internetan dan karena aku ada pemanfaat wifi kantor yang baik. Hehe. Kalau disuruh milih sih, selama jaringannya masih memungkinkan aku lebih suka bayar lebih mahal asal koneksi internetnya lancar.

Itu ceritaku tentang koneksi internet yang selama ini kugunakan untuk ngeblog, medsos, dan aplikasi-aplikasi penting lainnya. Kalau ceritamu?

Wednesday, May 3, 2017

Review April 2017

Wushhh! Bulan April berlalu dengan sangat cepat, tanpa sempat aku menyadarinya. Hingga tiba saatnya aku menulis diary rangkuman sebulan yang lalu, meski agak bingung karena sepertinya tak ada hal berarti yang terjadi di bulan April.

Keluarga
Tak ada acara momen berkumpul keluarga di bulan ini. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Paling ada acara kecil-kecilan dalam rangka ultah si Maya yang ke-7. Duh, sudah gede dia sekarang.

Maymoy Ultah

Pekerjaan
Pekerjaanku cukup slow di bulan April ini. Namun, ada 2 kali sampling lapangan. Pertama ke sebuah pondok pesantren di Kota Barabai dan yang kedua ke sebuah pabrik pembuatan U-Ditch di Balangan. Oya, aku juga berencana untuk memulai sebuah bisnis. Nantilah kuceritakan jika sudah pasti berjalan.

Pabrik U-Ditch

Kesehatan
Alhamdulillah kesehatan keluargaku baik-baik saja selama bulan April. TB kelenjarku juga tidak menunjukkan gejala yang serius lagi, benjolannya pun sudah mulai mengecil. Meski aku tetap harus minum obat 3x seminggu.

Kursus Menjahit
Hiks, kemajuanku dalam kursus menjahit lamban sekali karena aku jarang masuk kelas. Di akhir bulan April lalu aku masuk dan menyelesaikan satu pola celana. Siap untuk lanjut ke pola kemeja. kata ibu pengajar sih waktu kursus tinggal 3 minggu lagi sebelum Ramadhan tiba. Seperti tahun lalu, saat Ramadhan kursus diliburkan. Ternyata, aku sudah lebih dari satu tahun kursus menjahit dan belum selesai-selesai. Hiks.

Buku
Ada beberapa buku yang kubaca di bulan April. Sayang, belum ada kesempatan untuk mengulasnya. Doakan pola menulisku kembali semangat ya. Sementara menunggu review buku-buku yang baru kubaca publish, silakan kunjungi label Books ini dulu untuk melihat review buku-buku yang pernah kubaca.

Blogging
Masih berhubungan dengan dunia tulis menulis. Produktivitas bloggingku sedang melemah. Sebulan terakhir, jadwal postingku hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai peserta LBI 2017 saja. Lumayanlah, gara-gara kompetisi blogku jadi gak mati total.

Travelling
Meski ada 2 tanggal merah di akhir dan awal weekend bulan April, aku tak bisa menggunakannya untuk bepergian. Selain karena momennya gak pas dengan jadwal suami, aku juga lagi nabung untuk program travelling yang lebih besar. Jadi puasa travelling dulu bulan ini. Oya, meski begitu bepergian ke spot wisata di dekat-dekat sini masih kulakukan. Tanggal 23 kemarin aku mengalami pengalaman baru naik bukit dengan spot foto yang lagi hits di Kandangan yaitu ke Bukit Batu Bini.

Pemandangan dari Puncak Batu Bini

Ya, begitulah laporan bulananku kali ini. Semoga bulan depan hari-hariku semakin baik dan produktif. Aamin.

Monday, May 1, 2017

Apakah Bloger Perlu Co-Working Space?

Co-working space, sebenarnya aku baru mendengar istilah ini saat LBI melemparkan tema untuk postingan pekan ini. Sebutlah aku kudet, karena tinggal di daerah sehingga tidak mengenal istilah yang sebenarnya sudah mulai populer. Berkat bantuan internet, aku akhirnya mengetahui jenis 'makhluk' apa sebenarnya co-working space ini.

Co-working space adalah sebuah tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja secara mandiri. 

Definisi di atas adalah versiku sendiri yang kusimpulkan dari kumpulan artikel yang kubaca mengenai co-working space. Jujur, aku merasa tertarik dengan konsep co-working space ini. Sebagai bloger, keberadaan co-working space adalah solusi ketika rumah sudah menjadi tempat blogging yang membosankan.

Bisa dikatakan co-working space adalah alternatif tempat untuk ngantor dengan biaya yang jauh lebih murah daripada menyewa tempat atau bahkan membangun sebuah kantor sendiri. Dari beberapa referensi yang kubaca, sebuah co-working space memiliki pilihan tarif sewa untuk per jam, per hari, per minggu, per bulan, atau bahkan per tahun. Fleksibel ya?
Selain rumah, aktivitas blogging biasanya kulakukan di kafe atau perpustakaan. Namun, tentu saja kondisi dan suasana kedua tempat ini tidak sekondusif co-working space yang memang diperuntukkan bagi mereka yang bekerja di depan laptop. Fasilitas layanan yang terdapat di co-working space telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah dan mempernyaman pekerja, seperti layanan internet cepat, kondisi yang tenang, ruang pertemuan, dan fasilitas cetak dokumen.

Andai saja di kotaku ada, tentu aku akan dengan senang hati berkunjung ke sana. Sayang, di kota sekecil Barabai co-working space adalah tempat langka yang mungkin hingga 5 tahun ke depan tak akan ada yang membangunnya. Berbeda halnya dengan di kota-kota besar, co-working space sudah mulai bermunculan dengan ragam fasilitas yang ditawarkan. Tak heran, karena kebutuhan para freelancer dan pebisnis startup akan tempat ini sangat tinggi. Pun bloger, menurutku sangat perlu sesekali ke co-working space. Selain untuk mendapatkan suasana kerja yang nyaman, juga bisa dijadikan tempat bersosialisasi dengan sesama bloger atau para pekerja dari bidang lain sehingga akan menambah link.

Di sisi lain, interior co-working space  yang cozy juga membuat kondisi kerja lebih kondusif. Aku sendiri lebih suka ruangan yang adem dengan musik lembut, penerangan cukup, dan internet kencang untuk blogging. Jadi, apakah bloger perlu co-working space? Tentu, perlu.



Sumber:
https://dailysocial.id/post/co-working-space-tak-sekadar-tawarkan-tempat-bekerja
https://id.techinasia.com/keuntungan-bekerja-di-co-working-space
https://www.maxmanroe.com/co-working-space-inovasi-konsep-ruang-kerja-modern.html

Review Love Sparks in Korea

Novel ini bercerita tentang seorang jilbab traveler bernama Rania. Gadis yang berprofesi sebagai penulis ini gemar menjelajah seperti idolanya Ibnu Battutah di zaman dahulu. Cerita papanya ketika ia masih kecil membangkitkan semangatnya untuk melangkah jauh ke bagian bumi mana saja. Tubuh mungil tak menjadi penghalang baginya untuk menjelajah luasnya dunia, seperti kata papanya bahwa kereta yang lewat di depan rumah mereka dulu suatu saat akan menerbangkannya ke negeri-negeri yang jauh.

image credit

Ternyata bukan hanya pengalaman dan pemandangan yang mengesankan yang ia jumpai pada perjalanannya kali ini. Destinasi negeri ginseng pada program writer in residencenya kali ini memakan waktu cukup lama yaitu enam bulan. Selama itu pula ia mengalami kejadian-kejadian menarik, termasuk bertemu dan berinteraksi dengan pemuda Korea baik hati yang pernah menolongnya saat travelling di Nepal.

Hyun Geun nama pemuda itu. Dengan caranya yang unik ia memberikan perhatian yang tak biasa kepada Rania. Di sisi lain ada Ilhan, tetangga Rania di Indonesia yang tidak menyembunyikan ketertarikannya kepada gadis petualang itu. Kisah cinta segitiga yang rumit. Manakah yang lebih penting bagi seorang gadis, mencintai atau dicintai?

Aku sebenarnya sudah dua kali membaca novel ini. Pertama kali membaca pada Desember 2015 yang lalu. Saat itu setelah menamatkan novel ini dengan begitu cepat karena ceritanya yang membuat penasaran, aku tak bisa langsung mereview novel ini. Speechless. Bagaimana cerita bisa seindah ini? Pertanyaan yang jawabannya kudapatkan dari buku-buku Asma Nadia sebelumnya, terutama buku non-fiksi Jilbab Traveler. Pertama, mungkin karena Asma Nadia mengalami hampir semua cerita yang ditulis dalam novel ini. Novel ini memang based on true story. Kedua, kelihaiannya sebagai penulis dengan jam terbang tinggi membuat cerita ini terasa nyata dan hidup bahkan di bagian fiksinya.

Judul : Love Sparks in KoreaPenulis : Asma NadiaPenerbit : Asma Nadia Publishing HouseTahun terbit : 2015

Aku terpikir untuk membaca ulang dan mereview novel ini setelah menonton filmnya. Film dengan bintang utama Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey ini berhasil menggambarkan setidaknya 80% cerita di novel. Sisanya disesuaikan untuk kemudahan syuting, seperti lokasi pertemuan pertama Rania dan Hyun Geun serta ending cerita. Pada novel diceritakan bahwa pertemuan mereka pertama kali di Nepal dan mereka bersama kedua teman Hyun Geun menghabiskan waktu untuk mengabadikan sunrise di Pegunungan Himalaya. Sedangkan di film, diceritakan bahwa mereka pertama kali bertemu saat sama-sama berada di Gunung Baluran, Jawa Timur. Bagus juga sih ya, bisa jadi tempat promosi wisata dalam negeri. Overall filmnya bagus dan mampu membangkitkan keinginanku untuk reread dan review novel ini.

Film Love Sparks in Korea

Novel yang berjumlah 376 halaman ini sarat hikmah dan pembelajaran. Melalui sosok Rania, Asma Nadia hadir sebagai juru dakwah yang tersirat. Membuatku sebagai muslimah terkadang malu karena melihat bagaimana Rania begitu teguh dalam mengamalkan ajaran Islam meski sedang dalam perjalanan. Tidak hanya syariat ketika safar, tapi juga pengamalan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya ketika Rania menceritakan adab kedua kakaknya yang sudah menikah kepada mertua mereka masing-masing.

Uniknya, novel ini berisi dengan content placement, persis seperti pada filmnya. Jika di film, iklan seperti ini mulai terlihat biasa namun di novel aku baru menemukan sekali ini. Selain dalam bentuk narasi dan masuk ke dalam badan cerita, produknya juga tercetak jelas di sampul bagian dalam dan beberapa lembar halaman paling belakang. Like a magazine. Beberapa ilustrasi cewek traveler yang ada di tengah-tengah bab juga menampilkan iklan dan quote.

Ada banyak quote mengisnspirasi dalam novel ini. Salah satu yang menjadi favoritku adalah
"Sia-sia cinta memberimu sayap jika kau tak pandai terbang.”

Kutipan yang terdapat pada halaman 361 ini memiliki makna yang dalam. Tak hanya merujuk pada cinta sepasang manusia, tapi juga mengandung pesan tersirat mengenai hidayah dan nikmat Allah yang seringkali diabaikan dan tak dimanfaatkan manusia dengan baik.

Plot maju novel ini keren, ditambah selipan flashback di tengah-tengah bab membuat ceritanya hidup. Novel dibuka dengan epilog yang pada cerita sebenarnya terletak dua bab terakhir dari belakang. Karakterisasi ketiga tokoh utama juga mantap. Rania yang keras kepala, Hyun Geun yang baik hati, serta Ilhan yang sangat berhati-hati. Setting tempat dan budaya negeri ginseng di novel ini juga memukau. Perlu data dan pengalaman sendiri untuk menjabarkan sedetail di dalam novel ini.

Bagi kamu yang ingin menikmati cerita travelling dengan selipan cerita romantis, wajib hukumnya memasukkan Love Sparks in Korea di dalam reading list. Trust it!
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates