Thursday, March 30, 2017

5 Hal yang Membuat Indonesia Bangga Memiliki Banggai

Banggai, di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia sepertinya masih asing. Begitu pula aku, yang notabene berdomisili di Kalimantan. Ternyata, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah ini memiliki banyak kelebihan yang patut dibanggakan. Beribukota di Kota Luwuk, Kabupaten Banggai memiliki luas area 9.672 kilometer persegi. Terletak di ujung timur provinsi Sulteng, Banggai ternyata menjadi kota transit favorit bagi para pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia. Tak mengherankan meski ‘hanya’ kabupaten kecil, Banggai memiliki pelabuhan dan bandara sendiri.

Sebagian besar penduduk Banggai memiliki profesi sebagai petani dan nelayan. Hasil pertanian dan perkebunan unggulan di kabupaten ini adalah kopra, cokelat, dan kelapa sawit. Sedangkan hasil laut yang menjadi primadona di kabupaten ini adalah ikan kerapu dan udang, tak ketinggalan mutiara kualitas tinggi juga dihasilkan dari laut kabupaten ini. Hal ini membuat ekonomi di Kabupaten Banggai sangat tergantung pada kedua sektor ekonomi tersebut. Di samping itu Banggai juga memiliki sumber daya alam lain yang berasal dari sektor kehutanan dan pertambangan.

Setidaknya, ada 5 hal yang membuat Indonesia harus bangga memiliki Banggai, yaitu:

1.    Kota yang berdampingan dengan alam
    Meski kecil, Kota Luwuk sebagai ibukota Kabupaten Banggai ternyata memiliki daya pikat yang besar bagi sebagian orang. Terbukti dengan banyaknya pendatang yang memilih Kota Luwuk sebagai tempat untuk menghabiskan waktu bersantai. Berbatasan langsung dengan laut dan dekat dengan alam yang asri membuat kota ini menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati perpaduan harmonis antara unsur modern dan tradisional. Sebagai kota kecil, Luwuk tak kalah ‘gemerlap’ jika dibandingkan dengan kota besar di Sulawesi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Luwuk seperti Venesia di siang hari dan serupa Hongkong pada malam hari. Hal tersebut seolah mempertegas bahwa kecantikan Kota Luwuk tak kalah dengan kota air Venesia dan gemerlapnya Hongkong yang dinamis.

2.    Destinasi wisata alam yang lengkap
   Dengan wilayah yang tidak terlalu luas, Banggai memiliki banyak destinasi wisata alam yang memikat. Berikut kuulas 5 diantaranya.
a.                  Bukit Keles / Bukit Kasih Sayang
        Tempat yang paling tepat untuk menikmati Kota Luwuk di malam hari adalah di Bukit Keles. Terletak di tepi kota dan dapat menjangkau seluruh view kota, Bukit Keles sangat tepat dikunjungi pada malam hari. Kegiatan yang bisa dilakukan pengunjung di sana adalah menikmati keindahan Kota Luwuk di bawah sana sembari menikmati kudapan yang dijual di warung.
b.                  Air Terjun Salodik
         Air terjun ini berjarak 27 km dari pusat kota, sehingga dapat dijangkau selama 40 menit perjalanan. Air terjun bertingkat ini terletak di kawasan Cagar Alam Salodik, sehingga sambil mandi dan bermain air di bawah air terjun ini pengunjung juga dapat menikmati suasana hutan yang sejuk dan mendengar berbagai jenis ‘musik’ alam.

Air Terjun Salodik
Sumber : muhfahriline.wordpress.com

c.                   Pantai Kilo Lima
Pantai ini terletak di pusat kota, sehingga menjadi destinasi favorit warga kota sebagai tempat berlibur. Fasilitas yang terdapat di pantai ini cukup lengkap, termasuk warung makan dan kafe yang berjejer di tepi pantai. Siap memanjakan kerongkongan yang haus dan perut yang lapar sambil menikmati hamparan pasir dan debur ombak Laut Maluku.
d.                  Padang Rumput / Savana
            Bertempat di Desa Lenyek yang berjarak 32 km dari pusat kota, savana ini disebut sebagai salah satu savana terbaik di Indonesia. Padang rumput ini dapat menjadi tempat piknik yang sempurna bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam berupa savana dengan latar perbukitan. Bonus jika berkunjung ke savana ini adalah para wisatawan dapat melihat aktivitas kawanan ternak yang merumput di sana. Benar-benar pemandangan yang memukau. Indonesia harus bangga memiliki savana ini!

Savana Desa Lenyek.
Sumber : http://travel.detik.com

e.                   Teluk Lalong
Jika bukit Keles adalah tempat yang tepat untuk melihat suasana kota di malam hari, maka Teluk Lalong adalah pilihan yang tempat untuk menikmati pemandangan laut di malam hari. Di daratan yang menjorok ke laut ini terdapat banyak kafe yang menjual berbagai jenis makanan, sehingga bersantai makan malam sembari menikmati pemandangan laut adalah kegiatan yang harus dilakukan saat ke teluk ini.
Jangan khawatir bagi wisatawan yang hanya sempat ke teluk ini pada siang hari, karena ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sana selain nongkrong di kafe. Wisatawan bisa berjalan-jalan atau jogging di pagi hari, atau berwisata ke beberapa bangunan yang berdiri di tepi teluk seperti Masjid Agung Luwuk. Di Teluk Lalong ini pulalah pelabuhan utama Kota Luwuk berada, sehingga sembari menikmati keindahan teluk para pengunjung juga dapat melihat aktivitas pekerja bongkar muat dan karyawan pelabuhan di dermaga dan kapal yang merapat.

3.    Kuliner yang memanjakan lidah
   Ada banyak kuliner khas daerah yang mampu memanjakan lidah para pelancong di Kabupaten Banggai. Rasa kuliner-kuliner tersebut pasti akan membuat wisatawan ingin kembali lagi bertandang ke Banggai. Sebut saja minuman saraba, pisang goreng lowe dicocol dabu-dabu tarasi (sambal terasi), dan seafood khas Banggai. Minuman saraba adalah minuman yang sangat cocok dikonsumsi sebagai penghangat tubuh karena terbuat dari campuran susu dan jahe yang kental. Pisang lowe konon katanya hanya tumbuh di Sulawesi Tengah, termasuk Banggai sehingga sangat tepat jika dinikmati saat berkunjung di sana. Jangan lupa, Banggai juga penghasil makanan laut yang kaya jenisnya. Setidaknya, mencicipi olahan seafood berupa kepiting atau udang adalah hal yang harus dilakukan wisatawan saat berkunjung ke Banggai.

Olahan seafood.
Sumber : http://memoirs-musafir.blogspot.co.id/

4.    Budaya yang memikat hati
Di Banggai, ada 3 suku asli yang disingkat dengan nama Babasal yaitu Banggai, Balantak, dan Saluan. Ketiga suku ini hidup berdampingan dengan para pendatang di Kabupaten Banggai. Adat budaya leluhur mereka masih terpelihara hingga kini. Salah satunya adalah Tari Molabot/Malaboti/Malabok. Tarian ini merupakan tari kreasi gabungan dari ke-3 suku di atas. Tarian ini melambangkan kebersamaan dan kekeluargaan dalam suku ini. Hal ini disimbolkan dalam gerak tangan yang melingkar dan syair-syair di dalamnya yang mengungkapkan rasa persaudaraan. Tarian ini diiringi oleh alat musik gong dan gendang serta dimainkan oleh 6-8 penari perempuan. Tarian daerah masih eksis di zaman modern seperti sekarang ini menunjukkan bahwa masyarakat Banggai masih memegang teguh rasa persaudaraan dan kesatuan meski arus globalisasi mulai masuk ke pelosok Indonesia.

Tarian Malabot.
Sumber : http://kebudayaanindonesia.net

5.    Anak muda yang peduli dengan daerah
     Ya, Banggai memiliki anak muda yang peduli dengan daerah. Hal ini patut diapresiasi karena dapat memajukan daerah sendiri sehingga dapat dikenal oleh daerah lainnya di Indonesia. Salah satu bukti nyatanya adalah event Festival Sastra Banggai 2017 (FSB 2017). Perhelatan sastra yang akan diadakan di Kota Luwuk pada bulan April ini nanti menjadi bukti kecintaan pemuda Kabupaten Banggai terhadap literasi, wisata, dan budaya daerah asalnya.
    Salah satu rangkaian acara festival ini adalah dengan diadakannya lomba blog bertema Bangga di Banggai. Sebagai penikmat sastra dan penyuka eksplor daerah, tak mau ketinggalan aku dengan senang hati mengikuti lomba ini. Semoga dapat memuaskan rasa penasaranku terhadap kabupaten ini, karena selama ini aku hanya mengenal Kota Palu sebagai ibukota provinsi.

So, sudah bangga dengan Banggai? Lima hal yang kusebutkan di atas hanyalah perwakilan dari banyak hal yang bisa dibanggakan dari sebuah kabupaten kecil di ujung timur provinsi Sulawesi Tengah ini.

#Banggai #FSB2017 #BanggaDiBanggai

Sumber:
http://humaspemdabanggai.blogspot.co.id
http://luwukkota.blogspot.co.id
http://www.banggaikab.go.id/home
http://kebudayaanindonesia.net

Tuesday, March 28, 2017

Review Kuliner - Rocket Chiken

Menu di Rocket Chicken

Tempat makan dengan menu fast food seperti ayam goreng tepung adalah hal terakhir yang akan dipilih suamiku saat akan makan di luar. Namun, pada suatu malam tempat makan yang ingin kami datangi sedang tutup, sedangkan plan B belum ada. Jadilah aku mengusulkan untuk makan ke Rocket Chicken. Awalnya suamiku ragu, tapi setelah menimbang-nimbang karena kelihatannya aku ingin sekali makan di sana ia akhirnya mengangguk. Yeaay!

Aku sendiri makan di RC pertama kali di Palangkaraya. Maklum, RC baru hadir di Barabai kurang dari setahun ini. Di Barabai, Ada 2 gerai RC di Barabai. Waktu dengan suamiku kemarin aku makan yang di gerai dekat Pasar Baru, gerai yang satunya terdapat di Benawa Tengah. Kalau dibilang aku suka sekali dengan makanan di RC sebenarnya tidak juga. Hanya saja RC mengingatkanku dengan AZ, tempat makan langgananku bersama geng waktu kuliah dulu.

Paket Rocket 3

Sebelum menu dan konsepnya yang sama, pun interior ruangan dan nuansa warna merahnya juga persis. Sangat cocok dikunjungi ketika ingin makan sambil santai. Dulu, aku dan sahabat makannya setengah jam, ngobrolnya dua jam. Haha.

Kembali ke masa sekarang, malam itu aku pesan Paket Rocket 3 dan suami pesan Chessy Level yang paling pedas. Aku ngajak duduk di mejanyang pakai sofa. Sungguh ini seperti dejavu bagiku. Sofa AZ dulu mampu mengunci kami dalam sesi curhat dan gosip yang panjang. Sayangnya kali ini tidak. Makan dengan suami artinya tidak bisa berleha-leha. Hiks.

Chessy Level 3

Soal rasa, cukup enak untuk level franchise sebesar RC. Yang baru aku coba adalah chessy levelnya ini. Di lidahku tentu saja sangat pedas. Tapi aku lebih tertarik dengan saos lemonnya. Kucocol. Bolehlah sebagai ganti saos bawang putih yang kurindukan di AZ.

Harganya sesuai dengan ukuran ayamnya. Paket yang paling murah di sini ada paket Rocket 1. Kalau tidak salah harganya 13 ribu rupiah. Selain ayam goreng, di sini juga tersedia nasi goreng dengan harga 11 ribu rupiah per porsi. Paket Rocket 3 harganya 18 ribu dan Chessy Level 3 20 ribu rupiah.
Untuk rasa semua makanan yang pernah kucoba di RC -mungkin karena aku memang suka fast food- di lidahku sih oke. Tempatnya juga cozy. Cocok dikunjungi saat hangout dengan sahabat atau rekan kerja.

Friday, March 24, 2017

Review Kuliner : Mister Bakmi

Di suatu malam minggu, aku dan suami memutuskan untuk makan malam di Mister Bakmi. Warung bakmi ini terletak di Desa Mandingin, Kab HST. Awalnya, warung ini bertempat di dekat SPBU yang selalu kulewati ketika pulang kerja. Karena setiap aku lewat, orang yang mampir di sana banyak jadilah aku mengajak suami untuk merasakan sensasi makan di sana. Apalagi dari jalan aku melihat ukuran pentol (bakso)nya yang tidak biasa, besar sekali. Jadi tambah penasaran pengen nyoba.

Pas kami ke sana, ternyata warungnya sudah pindah tempat ke daerah yang lebih dekat dengan Kota Barabai yaitu persis di pertigaan Mandingin. Kami pun segera duduk di salah satu meja yang ada di warung (tapi berbentuk ruko) tersebut. Selain meja dan kursi, ternyata untuk pengunjung juga disediakan tempat lesehan yang letaknya ada di bagian dalam ruko.

Si pelayan kemudian menghampiri kami sambil membawa buku menu dan notes. Setelah melihat-lihat buku menu sejenak, aku memutuskan untuk memesan bakso raksasa dan suamiku memesan bakmi super pedas porsi standar (karena juga ada porsi jumbonya).

Sembari menunggu pesanan datang, aku melihat-lihat dekorasi ruangan tempat kami makan tersebut. Ukurannya relatif kecil dengan dinding yang berhias beberapa wall decor dari stiker 3 dimensi. Cukup menambah estetika ruangan dan yang terpenting bersih. Sayang, untuk buku menunya sangat kumal. Hal ini mungkin karena sudah banyak tangan yang memegang dan terbuat dari bahan yang kurang bagus. Padahal warung ini seingatku baru buka kurang dari setahun terakhir.

Setelah observasiku selesai, pesanan kami datang. Dari penampakannya sih menggiurkan, apalagi bakso raksasa pesananku. Awalnya kukira bakso tersebut ada isinya seperti yang sedang booming di medsos. Itu tuh bakso beranak. Sayang, pas kubelah ternyata tak ada isinya. Daging (dan campurannya) semua. Jujur, aku kewalahan menghabiskannya. Untungnya, suami dengan sukarela membantu ngemil baksonya. Hehe.





Untuk rasa bakso raksasa, bagi lidahku sedang-sedang saja. Pun bakmi super pedasnya, aku mencoba sedikit dengan mengabaikan rasa pedasnya, tak ada rasa yang unik jika dibandingkan dengan bakmi yang pernah kucicipi sebelumnya.

Range harganya pun relatif sedang. Berkisar dari 15 ribu rupiah hingga 25 ribu rupiah. Untuk tempat bersantai dan mencicipi rasa baru di saat sore atau malam, Mister Bakmi patit dijadikan pilihan bagi warga Kota Barabai. Selamat mencoba!

Monday, March 20, 2017

Tutorial Menulis Kreatif Ala Bloger

Menulis kreatif adalah kegiatan menghasilkan tulisan yang kreatif dengan tema dan ulasan menarik. Jika jenisnya non-fiksi maka pembahasannya mengedepankan sisi personal touch si penulis. Definisi tersebut kusimpulkan setelah membaca banyak artikel yang membahas tentang menulis kreatif. Hasil dari kegiatan ini adalah sebuah tulisan kreatif, termasuk postingan dalam sebuah blog.

Sebagai bloger, setiap orang pasti punya proses kreatifnya sendiri dalam menulis (kreatif). Kali ini aku akan berbagi bagaimana prosesku setiap membuat postingan di blog. Ada 7 langkah yang kurangkum dalam sebuah video tutorial ala vlogger di bawah. Ditonton ya ... ^,^


Jangan khawatir bagi kamu yang sedang berada di area miskin sinyal atau sedang menghemat quota internet. Aku pun telah berbaik hati mennuliskan ke-7 langkah menulis kreatif ala aku tersebut. Check this out!

1. Tentukan tema
Pilih tema yang menarik dan spesifik. Semakin spesifik sebuah tema, semakin baik. Karena penulis pasti akan lebih banyak menggali informasi mengenai tema tersebut. Pembaca pun akhirnya mendapat ilmu lebih dari tema yang dikupas.


2. Baca referensi
Sebuah tulisan yang baik akan merunut pada data yang ada sebelumnya dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Membaca referensi adalah keharusan bagi penulis yang ingin tulisannya berbobot. 

3. Buat kerangka tulisan
Kerangka tulisan yang umum terdiri atas pembuka, isi, dan penutup. Isi dapat diuraikan sesuai dengan tema yang dibahas. Fungsi kerangka tulisan berguna agar tulisan tidak merembet ke luar dari tema utama.

4. Tulis draft
Saatnya menulis! Menulislah tanpa beban, tanpa takut dengan kualitas hasilnya. Pada tahap ini menulis adalah kegiatan menuangkan isi pikiran dan menceritakan pengalaman terkait tema yang diangkat dengan ditunjang data yang didapat dari referensi. Jangan lupa, salah satu hal yang membuat tulisan bisa disebut kreatif adalah faktor personal touch penulis berupa pikiran atau pengalaman. Karena setiap orang pasti akan memiliki pemikiran dan atau pengalaman yang berbeda tentang hal yang sama.

5. Endapkan tulisan
Biarkan draft tulisan selama beberapa waktu. Sembari menunggu draft tersebut mengendap, penulis dapat memanfaatkan waktu untuk membuat konten pendukung seperti infografis dan video.

6. Edit
Pada tahap ini, perbaikan tulisan dilakukan dari segi EYD hingga kerapian alurnya.

7. Publish
Yup, saatnya mempublikasikan tulisan di blog beserta konten pendukung. Jangan lupa dibagikan di media sosial agar banyak yang membaca.

Begitulah tutorial menulis kreatif ala bloger pemula sepertiku. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Friday, March 17, 2017

Visit Tidore Island – Dariku Anak Kalimantan

Dear, Tidore.

Salam kenal, aku Rindang. Seorang bloger yang lahir, tumbuh dan berkembang serta kembali mengabdi di Kalimantan. Tepatnya di Barabai, Kalimantan Selatan. Jejak langkahku ke luar pulau hanya sesekali. Itu pun sekadar ke Pulau Jawa dan Bali.

Indonesia terlalu sempit jika hanya menjelajah Jawa dan Bali. Pulau-pulau kecil sepertimu -Pulau Tidore di bagian timur Indonesia pun sebenarnya harus dieksplor untuk menyelami wajah Indonesia yang sesungguhnya. Ya, karena kamu adalah bagian dari Nusantara. Tidore ada untuk Indonesia, untuk memperkokoh julukan Negara Kepulauan yang diberikan kepada negeri kita tercinta. Tak salah jika sekarang gaung 'Visit Tidore Island' mulai terdengar jelas di dunia maya. Hal ini karena pulaumu memang layak untuk dikunjungi dan dinikmati.

Pulau Tidore. Sumber : www.octaviana8.blogspot.co.id
Terus terang aku mengenal dirimu baru-baru ini. Dari postingan  beberapa teman di blog mereka. Namamu cukup asing di telinga meski sebelumnya aku sudah pernah mendengarnya. Mungkin ini karena aku tak pernah bersentuhan langsung denganmu sehingga tak memiliki kesan tentangmu.

Sekarang izinkanlah aku memperkenalkan diri dan mengenal dirimu. Sebagai penghuni Pulau Kalimantan yang luasnya semena-mena (bahkan melingkupi 3 negara) aku menjadi penasaran dengan kehidupan masyarakat Tidore yang hanya berada di satu pulau kecil jika dibandingkan dengan Kalimantan.

Secara geografis pulaumu sama dengan Pulau Laut di Kabupaten Kotabaru di provinsiku. Ya, pulau kecil ini berada di laut bagian selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Masyarakat di pulau tersebut harus menyeberangi lautan untuk mencapai ibukota provinsi yaitu Banjarmasin. Mungkin seperti itu jugalah yang dialami oleh penduduk di Pulau Tidore yang harus menyeberangi samudera jika ingin menuju Ternate sebagai pusat pemerintahan di Provinsi Maluku Utara.

Perbedaan geografis antara Tidore dan Kalimantan juga membuat pengalaman berbeda bagi penduduknya. Bagiku yang tinggal di pedalaman Kalimantan, aku harus menempuh perjalanan sekitar 7-8 jam untuk mencapai pantai terdekat dari rumahku. Berbeda dengan para penduduk yang tinggal di pulau kecil seperti Tidore, bertemu pantai mungkin adalah hal yang biasa dan mudah dijangkau. Bahkan bagi yang bermukim di pusat kota.

Aku pernah membaca blog seorang teman, katanya Pantai Cobo adalah salah satu pantai yang wajib dikunjungi ketika di Tidore. Jaraknya 'hanya' 35 km dari pusat kota. Baiklah, aku berjanji jika aku ke sana. Aku akan mampir ke sana untuk menikmati pasir putih dan lautnya.

Kota Tidore di Pesisir Laut. Sumber : www.octaviana8.blogspot.co.id

Selain pantai yang merupakan titik terdekat dengan laut, aku pun tertarik dengan Gunung Kie Matubu yang merupakan titik tertinggi di pulau Tidore. Meski hanya berada di ketinggian 1730 mdpl, lebih rendah jika dibandingkan dengan Puncak Halau-halau (1901 mdpl), salah satu puncak di jejeran Pegunungan Meratus yang terdekat dari rumahku.

Aku pasti akan senang sekali jika bisa mendaki ke sana dan mendapatkan bonus pemandangan berupa lautan, Pulau Maitara, gugusan Pulau Halmahera, Kota Ternate dan bahkan Kota Tidore sendiri yang jika malam hari seperti ribuan bintang yang berkelip dari bawah. Subhanallah, indahnya. 

Selama ini, jika aku naik gunung di Kalimantan, tepatnya di sekitar tempat tinggalku, aku belum pernah menikmati view seperti itu. Sebagian besar pemandangan yang kulihat adalah hijaunya hutan Kalimantan yang masih tersisa. Jarang kudapatkan pemandangan lautan dari puncak gunung. Kecuali aku pernah menikmati pemàndangan gugusan pulau dari Bukit Batas di Kab. Banjar. Meskipun itu bukan di laut tapi di Waduk Riam Kanan. Benar, aku belum pernah mendaki gunung yang terletak di dekat laut.

Gunung yang juga akrab disebut sebagai Gunung Tidore ini juga menjadi background tunggal dari setiap tempat di Pulau Tidore. Aku sudah stalking banyak foto tentang tempat-tempat iconic di Tidore. Ternyata latar Gunung Kie Matubu tak pernah alpa menjadi latar yang membuat apik pemandangan di bawah langit Tidore. 

Bukan hanya puncak dan pemandangan dari atasnya yang membuat gunung ini seperti magnet bagiku. Namun, sebuah desa di lembah gunung ini juga mengusik rasa penasaranku untuk berkunjung ke sana. Desa Gurabunga, sebuah desa terpencil di kaki Gunung Tidore. Di dekat tempat tinggalku desa ini mungkin mirip dengan Desa Juhu yang merupakan desa terakhir sebelum mencapai Puncak Halau-halau. 


Kedua desa ini memiliki kemiripan yaitu terisolir namun penduduknya masih betah tinggal di sana dengan berbagai keterbatasan. Aku tidak heran mengapa mereka jauh lebih memilih tinggal di desa daripada di kota yang menawarkan segala bentuk kemudahan. Selain faktor keturunan, mereka juga pasti memilih karena ketenangan hati yang bisa dengan mudah didapat jika menyatu dengan alam. 

Desa Gurabunga dari Puncak Gunung Kie Matubu.
Sumber : www.ilhamarch.blogspot.co.id

Selain kearifan lokal penduduk Desa Gurabunga, aku pun ingin menyaksikan langsung kekayaan alam Tidore yang membuat Bangsa Portugis ingin menjajahmu di masa lalu. Ya, kebun rempah-rempah. Itu tujuanku. Katanya aku bisa dengan mudah menjumpai pepohonan cengkeh dan pala di sekitar desa tersebut. Pemandangan seperti itu jelas tak akan bisa kujumpai dengan mudah di tanah Kalimantan. Beruntung, Indonesia sekarang masih memilikimu sebagai penghasil bumbu-bumbu alami ini. 



Ngomong-ngomong tentang Bangsa Portugis ternyata peninggalan mereka masih ada di pulaumu. Yaitu berupa benteng perang yang masih kokoh berdiri hingga sekarang. Subhanallah keren sekali ya. Setidaknya aku harus berkunjung ke salah satu benteng dari dua benteng yang ada di Tidore, yaitu Benteng Torre dan Benteng Tahula. Pasti aku akan senang sekali bisa berwisata sejarah ditemani seorang pemandu yang menguasai sejarah tentang seluk beluk perang melawan Portugis. Tentu akan menjadi cerita yang menarik bagiku karena di Kalimantan aku lebih sering mendengar cerita penjajahan dari Bangsa Belanda dan Jepang saja.

Setelah puas menyusuri wisata alam dan sejarahnya, aku tak akan lupa untuk menjelajah kota dan pusat pemerintahan di Pulau Tidore. Ini juga menarik, karena berdasarkan hasil stalkingku, Tidore masih menerapkan sistem kesultanan. Sebuah bentuk pemerintahan yang langka di abad modern seperti sekarang. Meski di tanahku berasal bentuk kesultanan juga pernah ada, yaitu di Kerajaan Banjar. Namun, sekarang hanya tinggal gelar tanpa silsilah. Gelar Sultan dan Permaisuri hanya sekadar disematkan kepada petinggi tanpa esensi. Aku tak akan lupa, untuk bertandang ke Istana Sultan Tidore yang memang dibuka untuk umum. Pastinya menyenangkan dapat menelusuri pusat pemerintahan nan Islami di pulau rempah-rempah ini.

Demikianlah Tidore, sebuah surat dariku anak Kalimantan yang ingin mengenalmu lebih jauh. Semoga suatu saat aku bisa mengunjungimu dan menjejakkan kaki di tempat-tempat yang paling kuingini di atas. Sampai jumpa di waktu yang tepat.

Tuesday, March 14, 2017

Family Trip : Tanah Bumbu [II]

Pagi Sabtu tiba. Setelah melakukan rutinitas pagi dan sedikit persiapan, kami langsung meluncur ke destinasi selanjutnya. Rencananya kami ingin ke Pantai Pagatan. Namun, setelah satu jam perjalanan kami melihat pantai di tepi jalan. Ketika melihat gerbang menuju ke pantai, kami pun berbelok ke sana. Ternyata pantai ini punya nama, yaitu Pantai Rindu Alam. Kami menikmati pantai berpohon pinus tersebut sembari menikmati jajanan yang banyak tersebar di sekitar pantai.


Jam 12 siang kami beranjak untuk mengunjungi sebuah rumah kerabat yang berjarak sekitar 10 km dari pantai. Tepatnya di Sebamban 6. Subhanallah, jauh sekali jalan masuknya. Aku membayangkan ternyata beginilah yang setiap kali kerabatku rasakan jika pulang kampung saat Idul Fitri atau arisan keluarga. Salut.

Suasana perkampungan trans Bali terasa sekali di sekitar rumah beliau. Nuansa alam yang asri tambah memukau karena berpadu dengan beberapa bangunan ciri khas Bali. Suasana pedesaannya bikin tenang. Di rumah beliau kami makan siang, beristirahat, dan tentu saja ngobrol-ngobrol dengan tuan rumah. Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan.
Kami bertolak kembali dari Sebamban 6 menuju Pantai Angsana yang sekitar 15 menit jaraknya dari rumah adikku. Ya, kami berencana untuk menginap di penginapan tepi pantai yang pernah kukunjungi tahun lalu. Berdasarkan pengalamanku dan suami harga penginapan di sana dan fasilitasnya cukup bagus sehingga kami tidak ragu untuk membawa rombongan keluarga ke sana.

Asri dan sejuk
Singkat cerita sampailah kami di pantai tersebut dan bersenang-senang layaknya wisatawan yang sedang berlibur. Alhamdulillah, aku senang sekali berhasil mengajak orangtuaku bisa sampai ke pantai ini. Semoga ini menjadi sebuah perjalanan berkesan bagi mereka.

Hingga malam, kami menikmati suasana pantai yang langka kami temui. Maklum, daerah tempat kami tinggal terletak di daerah pegunungan. Setelah makan malam, kami bersantai sejenak dengan berjalan-jalan hingga ke ujung pantai. Setelah itu, para bapak dan anak laki-laki terus mengobrol hingga larut malam. Sedangkan kami lebih dahulu masuk ke kamar dan tidur dengan nyenyak hingga pagi.

Seseruan bareng keluarga

Pagi Minggu pun datang. Setelah menikmati pantai dan sarapan serta membersihkan diri, akhirnya kami siap untuk pulang sekitar jam 9 pagi. Selamat tinggal Angsana, selamat tinggal Tanah Bumbu. Lain kali aku menjelajah kabupaten ini lebih lama. Di sepanjang jalan pulang itu, aku terus tertidur hingga sampai di Kabupaten Tanah Laut.

Di Jorong kami mamspir untuk beli oleh-oleh berupa kerupuk amplang dan ikan kering. Sesampainya di Kota Pelaihari yang menjadi ibukota Kabupaten Tanah Laut kami mencari rumah makan. Bukan untuk makan siang di sana, tapi untuk membeli makanan dan dibungkus agar bisa dimakan di destinasi kami yang terakhir yaitu Taman Labirin di Tambang Ulang.


Sayang sekali, ketika kami mampir di sana petugas yang jaga gerbang melarang kami dan para pengunjung lainnya untuk masuk karena ada kegiatan perkemahan. Yah, gagal deh. Namun, di tengah hujan lebat itu kami melihat sebuah pendopo kosong di samping gerbang masuk. Kami pun berinisiatif ke sana untuk menggelar tikar dan makan siang. Ada mushalanya juga, jadi kami bisa sekalian shalat di sana.

Ternyata bukan hanya kami yang gagal piknik ke Taman Labirin, tapi juga ada 2 keluarga lain yang akhirnya juga mampir ke pendopo dan menggelar bekal mereka di sana. Kasihan sebenarnya. Terutama bagi para pengunjung yang berasal dari jauh dan sengaja datang ke sana. Untungnya kami hanya sekadar mampir saja. Meskipun agak kecewa, tapi acara makan siang kami kali itu sukses. Terbukti makanan yang tersaji ludes tak bersisa disantap.

Setelahnya kami pun kembali melakukan perjalanan hingga sampai rumah sekitar jam 7 malam. Alhamdulillah, semoga dalam waktu dekat kami masih bisa kembali melakukan perjalanan seperti ini. Aamiin.

Sunday, March 12, 2017

Agenda Wisata Kota Barabai Tahun 2017

Kali ini aku mendapatkan tantangan untuk menulis dengan tema agenda wisata kota tempatku berdomisili. Sungguh tema yang menarik untuk kuulas. Selain bagus sebagai bahan promosi wisata di kabupatenku, dengan menulis ini mau tidak mau aku pun menjadi lebih tahu tentang pariwisata di daerah sendiri. Sebagai blogger yang ngakunya suka jalan-jalan, mengulik wisata di sekitar area domisili adalah hal yang menarik untuk kulakukan.

Namun, sayang sekali ketika kumencari informasi tentang agenda wisata kabupatenku, aku tidak mendapatkan informasi yang kuharapkan. Pertama-tama, aku mencari sumber yang kira-kira dapat membantuku untuk mengetahui hal tersebut. Tujuan utamaku adalah Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kab. Hulu Sungai Tengah (HST). 

Setelah bertanya di jejaring sosial facebook akhirnya aku mendapatkan beberapa nama. Kupilih sumber yang relatif muda dengan harapan ia melek teknologi dan mengerti apa yang kumaksud. Eh, ternyata dia pun tidak begitu ngeh tentang agenda wisata tahunan kabupatenku. Menurutnya sih, instansi tempat dia bekerja tersebut belum pernah membuat agenda wisata tahunan. Hal ini sesuai dengan hasil pencarianku di internet yang tidak menemukan agenda wisata tahunan, pun agenda kegiatan Kota Barabai untuk tahun 2017 apalagi tahun-tahun sebelumnya.


Beranda web dprd.hulusungaitengahkab.go.id/dispora

Bahkan dari web resmi pemerintah kabupaten sendiri, aku tidak mendapatkan informasi yang memuaskan. Hanya tersedia beberapa artikel tentang pariwisata yang jarang diperbaharui. Meskipun begitu, hal tersebut cukup membantu untuk menambahkan informasi yang baru sangat sedikit kumiliki. Setidaknya ada 3 situs web yang berisi tentang pariwisata di Kab HST yaitu:
hulusungaitengahkab.go.id
disporabudpar.hulusungaitengahkab.go.id
dprd.hulusungaitengahkab.go.id/dispora

Selain itu, untuk melengkapi data aku pun membaca portal berita online antarakalsel.com dan dua blog yang berisi artikel tentang kegiatan wisata apa saja yang pernah ada di Kabupaten HST selama beberapa tahun terakhir. Untuk mendukung informasi tersebut, aku juga bertanya ke beberapa teman pecinta alam yang pernah beberapa kali menghadiri acara aruh adat di pegunungan meratus yang masih masuk ke dalam wilayah Kab HST.

Jadi beginilah hasil rangkumanku dari beberapa investigasi terpisah dan pengalaman pribadi selama tinggal di Bumi Murakata ini mengenai agenda wisata Kab. Hulu Sungai Tengah pada setiap tahunnya.

Aruh Ganal
Aruh ganal merupakan acara syukuran atas hasil panen padi yang didapat oleh masyarakat yang memang sebagian besar adalah petani. Acara ini dilaksanakan pada setiap musim panen tiba selama 7 hari. Sehingga jika ingin menyaksikan acara tersebut, kamu harus datang sesuai waktu panen di desa tempat diadakannya aruh tersebut. Sebagai gambaran, pada tahun 2014 acara ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus.


Suasana aruh ganal di Desa Kundan. Sumber : antaranews.com

Aruh ganal ini dilaksanakan oleh masyarakat Suku Dayak di desa pegunungan Meratus, diantaranya adalah di Desa Kundan, Kec. Hantakan. Tempat acaranya di balai, yaitu sebuah aula yang menjadi pusat kegiatan di desa pegunungan Meratus. Ada 3 balai yang rutin mengadakan acara ini yaitu Balai Bidang, Balai Bangkaung, dan Balai Kumuh 2. 

Selain aruh ganal, ada 2 jenis aruh lainnya yang juga rutin diadakan oleh masyarakat Suku Dayak setiap tahunnya yaitu aruh musim tanam (5 hari) pada musim bercocok tanam dan aruh tolak balak (3 hari) di antara musim bercocok tanam dan musim panen. Acara aruh ini diisi dengan kegiatan batandik (menari tarian khas Dayak) disertai pembacaan mantra dan doa oleh Balian (tetua adat) sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Prosesi Aruh Ganal. Sumber : dprd.hulusungaitengahkab.go.id/dispora

Pasar Wadai Ramadhan (Ramadhan Cake Fair)
Dari namanya langsung ketahuan bahwa event ini diadakan pada bulan Ramadhan setiap tahunnya. Wadai artinya kue. Meski begitu di pasar yang buka sebulan penuh ini, tidak hanya kue yang dijual di sana tapi juga berbagai makanan lain serta minuman yang dapat dikonsumsi saat berbuka puasa.

Berbagai macam wadai yang ada di Ramadhan Cake Fair.
Sumber : www.imgrum.org
Bagi kamu yang berkunjung ke Barabai pada saat bulan puasa, jangan lupa untuk datang ke Pasar Ramadhan ini. Kamu akan menemukan berbagai jenis penganan, dari yang biasa sampai yang hanya bisa kamu temukan setahun sekali. Ya, anggap saja wisata kuliner. Eitts, jangan sembarang datang juga ya karena pasar ini hanya beroperasi dari jam 2 siang hingga menjelang waktu berbuka puasa. Biasanya bertempat di dekat lokasi Pasar Baru Barabai.  

Barabai Expo
Seperti kota-kota lainnya, Barabai juga punya agenda tahunan berupa expo atau pameran pembangunan yang berisi stand-stand setiap instansi yang ada di Kabupaten HST. Bagi kamu yang ingin menyaksikan kegiatan yang diadakan untuk memperingati hari ulang tahun HST ini wajib hukumnya datang ke Kota Barabai pada akhir bulan Desember ya.

Barabai Expo 2016. (Dokumen Pribadi)

Sebagai bahan renungan, jika kuperhatikan Barabai Expo dari tahun ke tahun kualitasnya sama saja. Pengunjung lebih ramai ke stand milik swasta yang menjual barang dagangan daripada mengunjungi stand-stand instansi. Alhasil expo jadi lebih mirip pasar malam daripada kegiatan pameran. 

Padahal tujuan utama expo ini adalah untuk mengekspos kegiatan yang dilakukan oleh dinas-dinas di bawah pemerintahan bupati ke masyarakat luas. Menurutku pribadi, hal ini dikarenakan penyelenggara dan pengisi stand yang kurang kreatif mempromosikan dan membuat stand instansi kurang menarik dibandingkan stand jualan. 

Boleh dibilang aku adalah expo hunter yang jika ke setiap kota tidak akan melewatkan acara expo (jika ada) untuk kusinggahi. Karena dari expo tersebutlah aku dapat mengenal sebuah kota dalam waktu singkat. Jika penyelenggara dan pengisi stand dapat mengekspos kota atau instansi yang ada di dalamnya dengan menarik maka perspektif para pengunjung terhadap sebuah kota juga akan positif. Semoga di tahun-tahun mendatang, Barabai Expo benar-benar dapat memperkenalkan Kota Barabai yang sesungguhnya kepada para pengunjung. 

Sebenarnya ada beberapa event budaya (khususnya Suku Banjar) yang juga bisa kamu nikmati saat di Barabai. Namun, karena waktunya insidentil sehingga aku tidak memasukkannya dalam list agenda wisata Kota Barabai di atas. Sebut saja pada acara pernikahan, adat pernikahan Suku Banjar yang masih berlaku di masyarakat Kota Barabai sangat layak untuk dinikmati sebagai wisata budaya. Mulai dari acara besusuluh, bemandi-mandi, beantaran hahadap, hingga acara hiburan seperti bejinggung/baungsung, main kuntau, kuda gepang, mamanda, dan lain-lain. Nantilah kujelaskan satu-persatu jika kamu ada di Barabai.

Selain itu, dengan tingkat religiusnya yang masih kental Kota Barabai juga punya beberapa event yang tak terlepas dari adat budaya Islam. Seperti acara Maulid Nabi yang dirayakan selama sebulan penuh pada bulan Rabiul Awal dari desa ke desa di seluruh pelosok kabupaten. Atau acara tanglong yang merupakan bentuk perayaan di malam ke-21 Ramadhan. Bentuk acara ini berupa pawai Ramadhan yang dilombakan antar desa atau komunitas masjid. 


Nah, jika ingin menyaksikan beberapa event tersebut. Kamu bisa datang ke Kota Barabai di waktu-waktu terselenggaranya acara. Meski ada beberapa even yang acaranya insidentil seperti yang kusebutkan di atas. Semoga minimnya informasi tidak menyurutkan langkah kita untuk mengekplor lebih banyak wisata budaya di daerah kecil seperti di kabupatenku. Karena Indonesia terlalu sempit jika hanya melihat dari kacamata kota besar saja. So, visit Barabai and feel the culture!

Thursday, March 9, 2017

Family Trip : Tanah Bumbu [I]

Jika tahun lalu keluargaku melakukan perjalanan ke Kota Cantik Palangkaraya, maka awal tahun ini kami melakukan trip ke ujung Provinsi Kalimantan Selatan yaitu Kabupaten Tanah Bumbu. Meskipun tidak sampai ke ibukotanya -Batu Licin, tapi perjalanan yang kami tempuh sudah cukup jauh yaitu sekitar 10 jam perjalanan. Provinsi Kalimantan Selatan memang kecil, tapi jika ingin road trip seperti yang kami lakukan minggu lalu ya lumayan jauh juga.

Perjalanan dimulai pada Jumat pagi tanggal 24 Februari 2017. Aku minta izin ke kantor karena ada acara keluarga. Tak apalah 3 jam izin kerja dalam seminggu. Lagipula satu hari sebelumnya aku habis lembur hingga petang gara-gara ada kegiatan survailen dari pusat. Hitung-hitung perjalanan kali ini sebagai bentuk refereshing setelah kerja keras di awal tahun ini.

Mari Makan
Kami melewatkan 3 jam pertama dengan lancar. Namun, sekitar jam 11 siang mama mulai mabuk darat. Kita pun mampir sekaligus makan siang di depan Bandara Syamsudinnor. Kebetulan ada warung yang sedang tutup, jadi kami meminjam tempat untuk buka lapak sebentar. Ya, mama memang lebih suka membawa bekal makanan dari rumah jika akan melakukan perjalanan panjang daripada harus mampir di rumah makan. Lebih irit, tidak perlu menunggu lama, serta kita bisa bebas mau mampir dimana saja dan kapan saja jika lapar.

Singkat cerita kami selesai makan dan kondisi mama pun sudah mulai baikan. Perjalanan kami lanjutkan menuju Keluruhan Basirih, di ujung lingkar selatan Kota Banjarmasin. Lokasinya jauh melenceng sih dari tujuan awal. Kami ke sana karena ingin mengunjungi sahabat tante yang sedang sakit parah. Sesampainya di sana, kami disambut dengan hangat. Keluarga tante dan keluarga temannya ini memang akrab sekali. Padahal awal mula pertemanan mereka sejak sekolah di SMEA berpuluh tahun lalu.

Narsis saat mampir di masjid, haha
Di rumah tante Fuah, teman tanteuku tersebut kami numpang istirahat dan shalat. Bahkan Maya, sepupuku yang paling kecil numpang mandi karena dia merasa gerah. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan melewati Jl. Lintas Kalimantan Poros Selatan. Tiba di pertigaan Bati-bati kami meluncur ke arah Kota Pelaihari. Setelah melewati jalan utama Kabupaten Tanah Laut yang panjang sekali, akhirnya kami tiba di perbatasan kabupaten. Kabupaten Tanah Bumbu menyambut kami, meski untuk sampai ke tempat tujuan masih harus berkendara sekitar 2 jam lagi.

Sekitar jam 5 sore sebelum sampai di Kota Sungai Danau kami mampir di sebuah tanah lapang yang merupakan jalan menuju daerah pertambangan. Bapa bilang dia pernah kerja di sana. Areanya luas sekali, dari tepi jalan ini sama sekali tak terlihat aktivitas sejauh mata memandang ke dalam kawasan tersebut. Kami mampir untuk makan lagi, menghabiskan bekal dan karena mulai lapar lagi. Nikmat sekali rasanya makan di tengah alam begini.

Yuhuuu

Di Sungai Danau yang menjadi ibukota Kecamatan Satui, kami mampir ke rumah seorang kerabat. Mereka senang sekali kami mampir di sana. Karena waktunya pas maghrib, jadilah kami sekalian numpang shalat di sana. Setelah shalat dan ngrobol-ngobrol kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan utama yaitu rumah kontrakan adikku di Sebamban.

Rumah adikku tampak depan

Setelah melakukan satu jam perjalanan mampirlah kami di sebuah Alfamart yang cukup ramai. Dari sana kami dijemput adikku untuk menunjukkan lokasi rumahnya. Ternyata masih sekitar 15 menit lagi. Adikku rupanya tinggal di daerah yang agak sepi. Depan belakang rumahnya dikelilingi oleh pohon karet meskipun jalan masuknya masih dekat jalan raya. Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di sini. Ngobrol-ngobrol hingga waktu tidur tiba. Aku pasti akan merindukan waktu seperti ini terjadi lagi. Karena sebenarnya kami jarang sekali ngumpul seperti ini. Kami selalu disibukkan dengan masing-masing peran kami di pekerjaan [].

Bapa, adik, dan Maya



Artikel terkait:
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates