Monday, February 27, 2017

Pantai Rindu Alam, Tanah Bumbu

Yihaaa, alhamdulillah aku bisa jalan-jalan lagi. Kerennya lagi kali ini aku travellingnya sama keluarga besar. Sehari-hari kita jarang ketemu. Mumpung ada waktu dan tujuan jadilah kita manfaatkan momen ini untuk silaturahmi dan bersenang-senang.

Pantai Rindu Alam


Salah satu destinasi wisata kami kali ini adalah Pantai Rindu Alam di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Tepatnya di Desa Betung, Kecamatan Kusan Hilir. Pantai yang yang terletak di pesisir Laut Jawa bagian Kalimantan ini berdekatan dengan beberapa pantai lainnya yang terkenal di Kabupaten Tanah Bumbu, seperti Pantai Pagtan, Pantai Bunati, dan Pantai Angsana.

Ciri khas pantai ini adalah hutan pinus yang menjadi penghias sekaligus peneduh di kala matahari terik. Pemandangan menjadi lebih indah dengan adanya komunitas vegetasi homogen ini. Selain itu, di bawah rindangnya pohon pinus para pelancong bisa dapat dengan bebas menikmati laut dari jarak yang cukup tanpa perlu terbakar sinar matahari. Di area ini pula banyak warung dan pedagang makanan yang mencoba mengais rezeki dari para wisatawan yang berkunjung. Aku sendiri kemarin tertarik untuk membeli pencok buah dan menikmatinya sembari santai di tepi pantai.

Hutan Pinus di Pantai Rindu Alam


Sepertinya pemerintah daerah di sana serius mengembangkan Pantai Rindu Alam sebagai objek wisata yang patut untuk dikunjungi. Hanya dengan biaya masuk 15 ribu rupiah per buah mobil, kami sudah bisa menikmati pemandangan yang indah serta fasilitas berupa gazebo dan toilet yang masih berfungsi dengan baik. Selain itu, tak perlu khawatir bagi wisatawan yang datang dengan anak kecil karena di pantai ini juga menyediakan waterboom khusus anak-anak. Jauh lebih aman daripada anak-anak berenang di tepi laut yang berombak.

Waterboom Mini di Pantai Rindu Alam
Meski air kolamnya berwarna hijau akibat lumut di dasar kolam yang jarang dibersihkan, kolam ini recomended buat anak-anak karena kedalamannya kurang dari 1 meter. Hanya dengan membayar 5000 rupiah per orang, anak-anak sudah bisa bermain air sepuasnya tanpa khawatir akan hanyut ditelan ombak. Meski tetap harus di bawah pengawasan orang dewasa. 

Kolam renang inilah yang kemarin membuat sepupu kecilku susah move on. Pas di jalan pulang, dia sudah merengek lagi minta diajak ke sana kalau ada waktu libur nanti. Semoga saja benar kita bisa kesana nanti untuk kembali menikmati pemandangan indah alamnya. Aamiin.

Kekinian Ala Generasi Millenial

Kekinian lekat kaitannya dengan generasi millenial. Definisi generasi millenial sendiri menurut Mbah Google adalah generasi yang lahir di tahun 1982 sampai awal tahun 2000an. Berarti aku termasuk dong ya, padahal sebelumnya aku menyangka generasi millenial hanyalah generasi yang lahir di tahun 2000an. Generasi millenial atau yang juga sering disebut sebagai Generasi Y sepertinya diartikan sebagai generasi yang lahir dan berkembang selama awal tahun 2000an.



Generasi millenial lekat dengan teknologi karena zaman yang semakin berkembang. Derasnya arus informasi juga mempengaruhi gaya hidup para generasi millenial ini. Seseorang belum dianggap kekinian jika belum mengikuti trend generasi millenial. Menurut pengamatanku, inilah beberapa ciri kekinian ala generasi millenial:
  • Memiliki banyak akun media sosial dan aktif update status
  • Aktif merekam kegiatan sehari-hari untuk dibagikan di media sosial
  • Mengutamakan penampilan demi gengsi di lingkaran sosial
  • Memiliki gadget keluaran terbaru untuk mendukung aktivitas di media sosial
  • Selalu sedia charger dan power bank saat bepergian
  • Tidak ada waktu luang tanpa mengutak-atik smartphone
  • Motivasi bekerja tidak lagi sekadar untuk mendapatkan penghasilan, tapi juga untuk memenuhi passion
  • Terbiasa dengan sesuatu yang instan dan serba cepat
Meski tidak semua generasi millenial memiliki semua ciri di atas, tapi gaya hidup kekinian memang menuntut semua orang untuk selalu update dengan informasi yang selalu berkembang. Jika tidak mengetahui sebagian besar kabar terkini, kita akan dicap 'kudet' dan dianggap tidak kekinian.

Tidak semua karakteristik kekinian ala generasi millenial di atas bermuatan negatif. Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin lifestyle ala generasi millenial ini akan mendatangkan keuntungan berupa personal branding yang positif atau bahkan menghasilkan uang. Sudah banyak contoh generasi millenial yang sukses berbisnis lewat cara non-konvensional.


Strategi Bloger Menggaet Generasi Millenial

Eitts, menggaet di sini maksudnya menarik minat para generasi millenial untuk membaca postingan blog ya. Bukan menggaet buat dijadikan pasangan. Hihi. Bloger harus punya strategi yang cerdas, karena kalau tidak maka pembaca dari kalangan millenial akan ogah mampir apalagi meninggalkan komentar di postingan blog kita. Secara, membaca bukanlah hal yang terlalu disukai sebagian besar generasi millenial. Apalagi membaca tulisan panjang-panjang. Hhhh, bakal dipastikan mereka akan close tab sebelum sampai di kalimat terakhir.

Berikut beberapa rekomendasi strategi bagi para bloger agar target pembaca dari kalangan millenial dapat dicapai.
  1. Membuat postingan dengan tema yang kekinian seperti travel dan kuliner
  2. Menyisipkan konten visual berupa foto atau infografis yang menarik atau bahkan audiovisual berupa video di dalam postingan
  3. Membagikan tulisan di jejaring sosial yang lekat dengan generasi millenial, tentunya dengan bahasa yang menarik
  4. Bergabung dengan komunitas generasi millenial agar punya banyak jaringan dan kita bisa dengan mudah membagikan link postingan blog
Silakan dicoba ya, semoga berhasil. Dan bagi kamu para generasi millenial, nikmatilah hidup dengan berbagai kemudahan yang tersedia. Tapi jangan lupa untuk tetap produktif dalam berkarya. Masa depan ada di tanganmu [].


Artikel terkait:
5 Tips Membangun Personal Branding
6 Tips Mendapatkan Minimal 500 View Page Perhari
Tren Konten Blog 2017

Monday, February 20, 2017

Study Tour Bali - Malang [III]

Jum’at, 20 Januari 2012

Braaakk. Huft, aku langsung terbangun dari tidurku.Ternyata itu tadi bunyi roda bus yang menabrak lubang besar di badan jalan. Aku kaget bercampur takut, pun teman-teman. Alhamdulillah, tidak terjadi kerusakan berarti suara keras yang mengagetkan tersebut. Sejak terbangun dini hari itu aku tak lagi tertidur hingga waktu subuh tiba. Kami pun mampir di sebuah masjid di Kota Malang.

Selesai melaksanakan kewajiban shalat subuh, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di Wisma PSBB (Pusat Sumber Belajar Bersama) sekitar jam 6 WIB. Di wisma milik MAN 3 Malang inilah kami akan menginap nanti malam. Bangunannya tepat berhadapan dengan Universitas Negeri Malang. Kami mengistirahatkan badan sejenak sebelum ke destinasi selanjutnya.

Setelah beristirahat dan membersihkan diri, kami pun sudah siap untuk studi banding ke Universitas Brawijaya. Ketika pertama kali masuk ke area kampus ini, kami berdecak kagum karena melihat arsitektur bangunan gedunganya yang begitu modern jika dibandingkan dengan kampus kami. Terasa begitu megah dan luas. Bahkan ada temanku yang menyelutuk, ini kampus atau kantor pemerintahan ya?


Salah satu sudut kampus UB

Setelah turun dari bus, kami langsung menuju Fakultas MIPA dan diterima di Ruang Pertemuan MIPA. Setelah makan siang dan shalat Jumat kami dibawa berkeliling ke gedung khusus Biologi. Laboratorium milik mereka benar-benar lengkap. Aku tertarik dengan koleksi tumbuhan hasil kultur jaringan yang berada di ruangan khusus. Keren. Oya, selain program sarjana di UB juga telah ada program S2 dan S3 Biologi. Mantap.


Foto bersama di depan Jurusan Biologi

Ketika kami menunggu untuk masuk kembali ke dalam bus, ternyata ban bus pecah dengan bunyi yang nyaring. Cukup mengagetkan karena kami sedang berada di open space kampus yang lengang. Alhamdulillah, trouble tersebut bisa diatasi sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan kembali. Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Masjid Tiban di Kecamatan Turen. Sebenarnya bangunan ini bukan masjid, tapi sebuah pesantren. Namun, karena nama pesantrennya panjang sekali maka nama masjid yang ada di kawasan pesantren inilah yang mudah diucapkan orang untuk merujuk ke bangunan 10 lantai ini.

Berdasarkan penuturan pemandu wisata kami saat di Malang (kalau nggak salah nama beliau Mbak Dian), “tiban” dalam bahasa Jawa artinya “jatuh”. Hal ini berkaitan dengan sejarah masjid ini. Konon katanya di tempat yang sekarang ini berdiri pesantren, dulu tidak terdapat apa-apa. Namun, pada suatu ketika tiba-tiba di sana berdiri mesjid yang tidak diketahui siapa yang membangunnya. Seolah-olah masjid tersebut jatuh dari langit. Oleh karena itu oleh masyarakat setempat bangunan itu dinamakan Masjid Tiban dan dikenal hingga keluar daerah karena cerita unik dan wisata religinya.

Masjid Tiban tampak depan

Pembangunan pesantren ini terus dilakukan, hingga saat kami berkunjung bangunannya telah bertingkat 10. Segala renovasi dan pembangunan pesantren ini dilakukan oleh para santri yang mondok di sana. Aku sangat menikmati interior bangunannya yang patut diacungi jempol, unik dan artistik. Meski suasana di pesantren ini sejuk dan religius, tapi bangunan pesantren ini auranya agak aneh, dingin, dan mistis menurutku.

Berdasarkan pengamatan singkatku, santri di sana berusia dewasa tidak ada anak-anak. Namun, lalu lalang para wisatawan di semua sudut ruangan sedikit menyamarkan yang mana santri yang mana wisatawan. Aku ingat entah siapa yang bertanya, seorang santri menjelaskan mengapa ia berada di sini. Katanya ia ingin menghindari hiruk pikuk duniawi dengan menimba ilmu agama di pesantren ini.

Di pesantren ini kami melakukan tur gedung 10 lantai. Meski bangunannya berbentuk gedung, tapi di beberapa spot kami pun melihat beberapa bukaan dengan tumbuhan hijau sebagai pelengkap. Arsiteknya keren. Di lantai tertinggi kami dikagetkan oleh adanya beberapa toko kecil yang menjual berbagai macam pakaian dan makanan. Semacam mini mallnya pesantren ini.

View dari atas gedung Masjid Tiban

Dari lantai tertinggi kami langsung menuju keluar bangunan lewat jalan yang berbeda dari jalan masuk. Wah, bangunannya benar-benar unik. Aku ingat sewaktu kami turun, hari sudah mulai gelap dan kami melihat bangunan masjid yang begitu megah berwarna putih dengan kerlap kerlip lampu seperti puri di negeri dongeng.


Masjid Negeri Dongeng ;p

Selesai berwisata rohani di Masjid Tiban, kami kembali ke Kota Malang dan mampir di Malang Town Square (Matos). Cuci mata dan belanja. Sepulangnya dari sana, kami langsung beristirahat di wisma.

Di Pelataran Matos

Sabtu, 21 Januari 2012

Tak terasa, ini adalah hari terakhir kami melaksanakan study tour. Pagi-pagi kami sudah chek out dari wisma. Dengan bus wisata yang setia menemani, kami sarapan dan berangkat menuju Bandara Juanda. Di Sidoarjo, kami mampir sebentar untuk melihat langsung tanggul lumpur panas Sidoarjo yang dibangun tinggi. Dari tempat kami berdiri, kami melihat di beberapa titik lumpur panas masih menggelegak dan menyembur dari perut bumi. Ngeri sekali.

Di Lumpur Lapindo

Perjalanan pun kami lanjutkan sebelum berhenti lagi di sebuah toko oleh-oleh, yaitu Toko Tanggul Angin. Aku kecele karena berharap toko ini menjual oleh-oleh keripik buah yang aku suka, ternyata toko ini menjual kerajinan khas Malang seperti dompet, tas dan sepatu. Ketika waktu makan siang tiba, kami mampir untuk makan siang dan shalat di rumah makan. Aku ingat waktu itu nyoba menu kwietiaw dan rasanya kurang enak. Sayang, sudah lupa nama rumah makannya.

Akhirnya kami tiba di bandara dan mendapati bahwa penerbangan kami harus tertunda. Kali ini delaynya lebih lama, karena hujan deras yang mengguyur Surabaya. Beruntung kami ramai mengobrol sehingga tidak terlalu lama menunggunya. Teman-teman cowok malah lebih anteng karena mereka jadi bisa melihat siaran bola langsung dari tv yang ada di bandara.

Jam 8 malam, akhirnya kita tiba di Bandara Syamsudinnor. Alhamdulillah. Setelah rasa syukur karena penerbangan yang lancar jaya, aku dan geng tak tahan untung tidak mengumpat. Karena kami bertemu kembali dengan paman supir taksi jutek yang mengantar kami di awal cerita ini. Entah dengan hikmah apa, semesta sepertinya senang mempertemukan kami dengan dia. Wkwk. Yang penting akhirnya kami tiba dengan selamat di rumah dan kos masing-masing [].



Artikel Terkait:

Potensi Wisata Halal di Kota Barabai

Tren Wisata Halal

Travelling adalah salah satu tren gaya hidup masa kini. Rasanya kita masih belum layak disebut kekinian jika belum jalan-jalan ke tempat wisata (terbaru). Hal ini dibuktikan dengan foto yang diunggah di media sosial. Seakan mengumumkan bahwa pemilik akun sudah berwisata ke tempat-tempat di dalam frame tersebut.

Ada banyak jenis dan bentuk wisata, mulai dari piknik, tur, trip, backpacking, atau istilah sesuai tempat tujuan seperti wisata religi, wisata bahari, dan wisata sejarah. Nah, di antara berbagai macam istilah tersebut sekarang ini sedang booming wisata halal. Wisata halal adalah wisata berkonsep islami.  Jadi semua hal dan proses yang terkait dengan wisata jenis ini harus sesuai dengan syariat Islam termasuk destinasi, penginapan, kegiatan, makanan, dan akad jual beli.

Beberapa tahun terakhir ini wisata halal menjadi pilihan banyak orang karena jaminan halalnya yang membuat aman dan nyaman. Meskipun diperuntukkan bagi wisatawan muslim, tapi peminat dari wisatawan non muslim pun tidak sedikit. Mereka memilih wisata halal karena jaminan keamanan dan kesehatannya.

Pelaku wisata halal bisa dari siapa saja, terutama negara dan pemerintah daerah di mana sebuah tempat wisata berada. Wisata halal juga dapat dilakukan oleh pihak swasta yang memfasilitasi perjalanan wisata seperti pengelola tempat wisata, penginapan, jasa catering, dan bahkan jasa transportasi. Beberapa tahun terakhir bahkan sudah banyak agen travel yang mengusung konsep wisata halal ini sebagai brand mereka.


Selain para penyedia jasa wisata, para wisatawan juga bisa menerapkan konsep wisata halal ini pada kegiatan travelling mereka. Meskipun tidak menggunakan jasa pihak ketiga dalam mengakomodir keperluan selama berwisata, kita tetap bisa memastikan sendiri label halal dalam perjalanan kita. Caranya tentu dengan menjaga aktivitas wisata agar tidak melenceng dari syariat, seperti:

1. Tetap melaksanakan kewajiban ibadah seperti shalat selama travelling.
2. Memastikan kehalalan makanan yang dibeli selama perjalanan.
3. Memilih penginapan syariah jika bepergian lebih dari satu hari.
4. Menghindari kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam selama berwisata


Potensi Wisata Halal di Kota Barabai

Wisata halal ini bisa dilakukan dimana saja. Dengan destinasi apa saja selama masih dalam kategori halal. Untuk wisata tujuan luar negeri, wisata halal banyak dikembangkan di negara Turki dan Malaysia. Baru-baru ini bahkan geliat wisata halal juga terasa di negara-negara minoritas muslim seperti Jepang, Korea, dan China. Di dalam negeri, daerah yang sedang berusaha menarik perhatian wisatawan dengan konsep wisata halalnya adalah Lombok.

Lalu bagaimana dengan Kota Barabai tempatku bermukim? Menurutku potensi wisata halal di hulu sungai Kalimantan Selatan ini cukup bagus. Hal ini karena didukung beberapa faktor, di antaranya yaitu:

1. Suasana religius yang sudah menjadi adat budaya masyarakat Barabai
2. Fasilitas tempat ibadah berupa masjid dan mushala sudah hampir tersebar merata di pelosok Barabai
3.  Hampir semua warung/rumah makan di Barabai menjual makanan dan minuman halal
4. Telah tersedia beberapa penginapan dengan harga terjangkau dan untuk kelas menengah ke atas yang mengusung konsep syariah

Meskipun masih ada beberapa kekurangan yang menjadikan wisata halal di Barabai menjadi kurang berkembang, yaitu diantaranya kurangnya promosi ke luar daerah dari pihak yang terkait dan beberapa fasilitas pendukung di tempat wisata masih belum terkelola dengan baik. 

Untuk ke depannya, saya pribadi berharap agar pihak yang terlibat dalam bidang kepariwisataan di Kota Barabai dapat memaksimalkan konsep wisata halal ini. Karena jika dikelola dan disosialisasikan dengan baik, bukan tidak mungkin akan ada banyak kunjungan wisatawan dari luar kota atau bahkan luar negeri ke Kota Barabai terutama ke destinasi-destinasi yang sedang booming di  Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini. Jika sudah begini, maka sektor pariwisata berkonsep wisata halal mempunyai potensi besar untuk menambah pendapatan daerah.

Thursday, February 16, 2017

Produktif Ketika Sakit

Satu bulan, khususnya seminggu terakhir ini kekebalan tubuhku diuji. Selain kondisi cuaca yang sering berubah, di dalam tubuhku juga terdapat bakteri TB yang sangat kuat dan menyerang kelenjar getah bening –salah satu sistem kekebalan pada tubuh manusia. Faktor eksternal dan internal tersebut membuat aku lebih mudah lelah, sering ngantuk (mungkin karena pengaruh obat yang kukonsumsi), dan rentan mengidap penyakit ringan turunan.

Sekitar satu bulan kemarin aku merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhku dan meler hanya di hidung sebelah kiri. Setelah melakukan analisa hal tersebut berasal dari efek OAT yang kukonsumsi. Setelah berdiskusi dengan tenaga medis yang melayani program pengobatanku, aku dikasih obat. Alhamdulillah, sebelum obat habis keluhanku sudah hilang.

Seminggu kemudian, muncul benjolan di leher sebelah kiri dan di belakang telinga sebelah kiri. Kata si perawat sih itu hanya gejala peradangan, mungkin sebagai perlawanan dari kelenjar getah beningku kepada bakteri yang terus menggerogotinya. Aku memutuskan untuk berkonsultasi karena leherku jadi sakit dan berat seperti kena penyakit yang sering disebut sebagai salah bantal. Beberapa malam kemudian aku berinisiatif untuk tidak menggunakan bantal ketika tidur. Alhamdulillah, kedua benjolan tersebut sudah hilang tanpa pengobatan. Namun, benjolan utama yang membuatku didiagnosa mengidap TB kelenjar di leher sebelah kanan masih tetap saja hingga sekarang.
 
credit


Dan dua minggu terakhir aku dikhawatirkan oleh benjolan di ketiak sebelah kanan, besar dan sakit. Membuatku terganggu ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Tidak lama kemudian keluhan selanjutnya datang yaitu sakitnya sendi di kedua lututku. Demi Allah, aku kaget sendiri dan tiba-tiba menyadari di usiaku yang hampir 25 tahun segala penyakit sepertinya sedang senang-senangnya berdatangan. Aku sadar sih, pola hidupku tidak terlalu sehat selama ini terutama karena tidak pernah olahraga dan tidak secara teratur mengonsumsi makanan bergizi.

Hingga aku menuliskan ini, benjolan di ketiakku masih ada tapi sudah tidak terasa sakit lagi. Namun, lututku masih sakit terutama ketika melakukan gerakan jongkok-berdiri dan berjalan. Aku sudah mencari informasi sebanyak-banyaknya apa yang menyebabkan rematik (rasa sakit) di lututku, ada 3 kemungkinan yaitu osteoarthritis, asam urat, atau efek dari pengobatan. Faktor terakhir sepertinya yang paling memungkinkan. Intinya sih aku harus banyak mengonsumsi makanan yang mengandung kalsium untuk memperbaiki kualitas sendi lututku.

Hal itu juga yang dikatakan oleh tenaga medis yang kutanya tentang keluhan lututku. Itu mungkin efek lanjutan dari pengobatan TB kelenjarku. Jujur, meski terlihat sepele aku merasa terganggu dengan beberapa keluhan di atas. Ditambah dengan keluhan sakit kepala dan jantung berdebar yang membuatku divonis hipotensi datang dan pergi sesuka mereka. Hiks.

credit

Lalu bagaimana aku bisa tetap produktif dengan kondisi yang tidak sehat ini? Sebenarnya ini masih menjadi pertanyaan bagi diriku sendiri. Apakah seseorang bisa tetap produktif ketika sakit? Berikut tips yang dapat kubagi berdasarkan pengalaman diri sendiri.

Tetap melaksanakan kewajiban

Selama tidak diharuskan bed rest, saat sakit aku masih tetap masuk kerja 5 hari per minggu dan melakukan pekerjaan sesuai job desk di kantor. Hanya saja aku mengurangi kegiatan di weekend. Kalau biasanya aku sering travelling dan melakukan banyak aktivitas di luar rumah ketika Sabtu-Minggu. Sebulan terakhir ini aku menahan diri untuk tidak terlalu banyak berkegiatan di luar. Jadilah aku sering absen di dua kegiatan rutin yaitu kursus menjahit dan pengajian yang hanya dilaksanakan seminggu sekali. Kedua kegiatan tersebut sebenarnya tidak terlalu berat, hanya saja tempatnya jauh dari rumah dengan jarak tempuh 17 km sekali jalan.

Melakukan hobi.

Sebagai gantinya aku melakukan kegiatan di rumah yang kusukai dan bermanfaat seperti menulis dan ngeblog. Meski sebenarnya suamiku tidak terlalu suka aku melakukan itu. Katanya dia khawatir kalau-kalau hal tersebut bisa membuatku merasa stress. Namun, aku langsung menyangkal bahwa meski kelihatannya berat tapi kegiatan ini membuatku bahagia. Serius. Menulis bagiku adalah me time dan bentuk terapi yang menenangkan. Kadang aku pun melakukan hobi tercintaku yaitu membaca. Ya dengan begitu pikiranku jadi rileks karena aku suka melakukannya dan wawasan jadi bertambah.

Take time for entertainment.

Sesekali saat sakit manjakan diri dengan hiburan yang jarang dilakukan ketika sehat karena sedang mengejar target. Nonton film atau ke salon misalnya. Dua hal ini yang kulakukan untuk meregang urat stress dan menambah hormon kebahagiaan di tubuhku sehingga rasa sakit fisik menjadi terlupakan sejenak.

Berkumpul dengan Keluarga dan Sahabat.

Di zaman yang serba sibuk ini, berkumpul dengan keluarga dan sahabat bagi wanita karir sepertiku adalah hal yang langka. Karena sahabat-sahabatku berada di kota yang jauh, maka pilihan tersisa adalah berkumpul dengan keluarga. Sungguh, hal ini membuat hatiku gembira dan sakit menjadi kurang terasa. Menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang bukanlah sesuatu yang sia-sia. Quality time, itu kuncinya.


Demikianlah ceritaku tentang bagaimana aku mengatasi rasa sakit dengan cara yang produktif. Kalau kamu, bagaimana? Sharing, yuk?!

Sunday, February 12, 2017

Peran Bloger dalam Melawan Berita Hoax

Dunia digital yang berkembang pesat menjadikan arus informasi seakan tak terbendung. Internet menjadi ladang berita tumbuh dalam hitungan detik. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia barat secepat kilat dapat diketahui oleh orang-orang di belahan timur bumi.

Selain memberikan efek positif, kemajuan teknologi seperti ini juga dapat berdampak negatif. Karena tak semua berita yang tersebar itu benar, sebagian berita mengandung kebohongan atau fitnah. Berita jenis ini lazim disebut sebagai hoax.
Hoax dibuat oleh sekelompok orang dengan tujuan yang menguntungkan golongannya dan / atau untuk menjatuhkan kelompok lawan. Hoax kemudian disebarkan lewat media sosial yang menjadi target. Orang-orang yang percaya dan tanpa berpikir panjang akan kebenaran berita tersebut kemudian memperluas penyebaran berita ini.

Bahan berita yang paling rentan dijadikan hoax adalah berita yang memiliki isu politik dan SARA. Ketika seseorang membaca sebuah berita hoax yang menguntungkan golongannya, seringkali ia langsung menyebarkannya. Sebaliknya, jika ia menemukan sebuah berita yang menyudutkan pihak yang disanjungnya maka ia akan berteriak “Hoax!” tanpa menelusuri sumber berita tersebut terlebih dahulu.

Ada banyak efek negatif dari tersebarnya hoax ini, diantaranya yaitu dapat meresahkan masyarakat dan merugikan siapapun yang disudutkan dalam berita tersebut. Oleh karena itu, hoax perlu dilawan dengan cara yang tepat agar tidak terus tersebar dan membuat pengguna internet terjebak dalam lingkaran informasi yang tidak sehat.

Semua pengguna internet wajib berpartisipasi aktif dalam melawan berita hoax ini, termasuk bloger. Bloger sebagai garda terdepan penghasil konten memiliki tanggung jawab yang besar dalam melawan berita hoax. Mengapa bloger berpotensi besar dalam melawan hoax, menurutku berikut alasannya.

1. Konten yang dihasilkan oleh para bloger biasanya bersifat personal touch dan jujur karena ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.

2. Sebelum menghasilkan sebuah konten, bloger biasanya akan melakukan analisa panjang terhadap sebuah masalah yang akan dibahas. Jika sebuah berita dinilai meragukan kebenarannya maka berita tersebut tidak layak disebarkan.

3. Seorang bloger yang baik akan banyak membaca sumber sebelum menuliskan pendapatnya dan ketika ia mengutip sebuah pendapat atau menuliskan sebuah peristiwa yang tidak banyak diketahui oleh umum, ia akan memasukkan sumber berita. Hal ini membuat sebuah berita dapat ditelusuri kebenarannya.

credit

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, bloger dapat dikatakan sebagai penghasil konten yang jujur. Saya berharap dengan banyaknya konten yang dihasilkan oleh para bloger ini, berita hoax akan tersingkir. Syukur-syukur, link berita yang dibagikan di media sosial bersumber dari bloger untuk mengimbangi link dari sumber hoax yang meresahkan.

Lalu bagi para pengguna media sosial bagaimana cara yang ampuh untuk melawan hoax? Berikut dari tips saya pribadi.

1. Selektif dalam membaca berita. Ketika membaca pengantar berita dengan tema provokatif, sebaiknya abaikan atau baca dengan filter logika.

2. Cek sumber berita yang dirasa menarik. Jika penulis, situs, atau media yang membuat berita  tersebut tidak terpercaya kredibilitasnya maka jangan dibagikan.

3. Minimalisasi membagikan berita dari media sosial. Lebih baik membuat konten sendiri, seperti para bloger yang kini semakin kreatif membuat tulisan dilengkapi infografis dan bahkan video.
Semoga saja dengan adanya peran aktif dari para bloger dan para pengguna media sosial yang semakin cerdas, berita hoax dapat dikurangi keberadaannya. Sehingga dunia informasi digital pun menjadi kembali aman dan damai seperti seharusnya.

Study Tour Bali - Malang [II]

Rabu, 18 Januari 2012

Pagi ini kami ke Pantai Kuta dengan setelan formal. Kenapa? Karena kami akan study tour ke FMIPA Biologi Universitas Udayana setelah dari sana. Nggak cocok banget ya ittinerarynya. Jadilah kami salah kostum selama di pantai. Namun, itu nggak jadi soal karena kami tetap pede meski pakai shirt.

Pantai Kuta

Oya, untuk mencapai Pantai Kuta kami harus naik Komotra, alat angkutan khusus menuju Pantai Kuta. Alat angkutannya semacam odong-odong tanpa jendela gitu. Hehe. Pantai Kuta memang benar-benar indah. Banyak turis mancanegara atau pun domestik yang pergi ke sana. Beberapa kali, kami juga sempat foto bareng bule. Hehe. Di sepanjang pesisir pantai banyak dibangun hotel dan kafe, yang paling iconic adalah Hard Rock Cafe. Di sanalah spot foto paling oke menurut kami pada saat itu.

Iconic!

Kampus Universitas Udayana sama seperti Universitas Lambung Mangkurat –kampusku, yang terbagi menjadi dua lokasi. Fakultas MIPA terletak di daerah bukit, ke sanalah kami menuju. Kalau kulihat sekilas, kampusnya berada di tengah hutan. Pohonnya masih benar-benar banyak. Tiap program studi di dalam fakultas mempunyai gedung yang terpisah. Namun, secara umum fasilitas yang ada di laboratorim dan kelasnya hampir sama dengan yang kami miliki.

Kelebihan Program Studi Biologi Universitas Udayana terletak pada tempat praktikum lapangan yang lebih lengkap, seperti pantai, sungai, danau, hutan, rawa  sampai gunung ada di Bali. Semua ekosistem yang kusebutkan di atas tersedia dengan gratis di sekitar kampus. Sehingga proses praktikum menjadi lebih mudah dan data yang didapat menjadi lebih terpercaya karena didapat langsung dari ekosistemnya. Kalau praktikum lapangan di jurusanku, untuk beberapa ekosistem terkadang kami harus berangkat jauh untuk menemukan karakteristik yang diinginkan. Karena didukung oleh ekosistem yang lebih banyak, koleksi awetan binatang mereka pun  jadi lebih banyak. Terutama dari jenis biota laut.

Ssst, dari beberapa kakak-kakak pengurus Hima yang menyambut kita ada seorang cowok yang paling difavoritin teman-teman cewek yaitu kakak yang berambut gondrong. Buktinya banyak yang minta foto bareng sama dia. Hehe. Padahal nih ya dia bukan ketua HIMAnya.

Dari Udayana, kami menuju Puja Mandala untuk shalat zuhur. Btw, Puja Mandala itu nama lokasi tempat dimana 5 rumah ibadah terletak berdampingan. Hal ini menyiratkan bahwa di Bali toleransi beragama sangat terjaga. Aku paling mupeng sama bangunan vihara, bagus banget. Ada patung gajahnya juga. Sayang, waktu itu hujan lebat. Jadi kami nggak bisa berkunjung satu-satu ke tiap rumah ibadah (baca: foto-foto di depan bangunan).

Setelah kami kembali berwisata pantai. Kali ini tujuan kami adalah Pantai Tanjung Benoa. Ternyata, di sini adalah surga permainan pantai. Ada banana boat, jet ski, paralayang, fly fish, etc. Tak ada satu pun dari wahana air tersebut kuikuti, ngeri dan mahal.

Sebagai gantinya aku bersama beberapa teman naik kapal motor ke pulau penangkaran penyu. Seru sekali. Di tengah laut kami dikasih roti oleh abang-abang perahu. Awalnya kami bingung buat apa. Ternyata roti itu buat dikasih ke ikan-ikan yang persis di bawah kaki kami. Bagian tengah kapal sengaja dibuat transparan agar kami bisa melihat gerakan ikan lucu-lucu itu. Anggap saja akuarium laut.

Bli yang menyetir kapal motornya cuek banget, perahu pun dikemudikan dengan kencang hingga goyang-goyang. Seru juga sih, kami jadi punya alasan untuk berteriak. Haha. Hingga akhirnya tibalah kami di pulau yang dimaksud.

Ternyata di pulau ini tidak hanya penyu yang dipelihara, tapi juga ada banyak spesies binatang lain yang dikandangkan. Meski penyu memang jadi maskot utama karena jumlahnya yang banyak, dari yang kecil-kecil sampai yang segede roda. Binatang lain seperti berbagai jenis burung, iguana, dan ular turut menarik perhatian kami. Pulau ini jadi semacam mini zoo di tengah laut.


Pulau Penyu

Setelah berganti pakaian dan dandan cantik, kami pun kembali menaiki bus yang kali ini membawa kami ke tempat belanja tradisional di Bali. Pasar Seni Sukowati. Suasana waktu kami ke sana sedang ramai-ramainya. Bukan hanya karena jumlah pembeli yang membludak, tapi juga karena para penjual yang ikut menyumbang keributan dengan berteriak menarik perhatian pembeli. Kalo kata Yungli mah, para penjual di sana ganas-ganas. Masalah harga sih tinggal pintar-pintar menawar saja. Aku pun membeli beberapa barang lucu buat koleksi dan oleh-oleh.

Wisata belanja kemudian dilanjutkan ke Khrisna, tempat penjualan oleh-oleh khas Bali juga. Khrisna, menurutku adalah tempat belanja the best selama di Bali. Terutama karena kita batal ke Joger, pusat oleh-oleh terkenal khas Bali. Jadi aku tidak bisa membandingkan kualitas keduanya. Dari hasil belanja di Khrisna aku dapat 3 kupon undian, semoga beruntung. Meskipun faktanya hingga kini aku tak pernah dihubungi sebagai pemenang undian. Hiks.

Setelah itu, kita kembali ke hotel buat istirahat. Pas makan malam, kami kedatangan tamu. Ada Kak Gusti Agus Martawan, mantan Ketua HIMABIO “APIDAE” yang ketiga. Kak Agus ini memang orang Bali asli. Kita sharing tentang HIMA dan organisasi sembari makan malam. Beberapa teman ada yang pergi ke Legian setelah makan malam. Aku dan teman-teman sekamar sudah malas dan capek. Jadi kami menghabiskan malam di hotel saja hingga pagi.

Kamis, 19 Januari 2012

Pagi itu kita check out dari hotel, karena ini hari terakhir di Bali. Baper rasanya, hiks. Rasanya sebentar banget jalan-jalan di sini. Pagi-pagi hujan pula seperti menggambarkan kesedihan kami. Tujuan pertama kami hari ini adalah ke tempat belanja oleh-oleh Karang Kurnia sebagai pengganti Joger yang katanya hari itu tutup karena ada acara ulang tahun pemiliknya. Rasanya tak habis-habis keinginan untuk belanja. Selalu ada yang dibeli di setiap tempat belanja yang disinggahi, meski uang saku semakin menipis.

Dari Karang Kurnia kami menuju Taman Raya Eka Bali di daerah Bedugul. Karena perjalanan menuju ke sana jauh, hampir semua peserta tur ngantuk dan tertidur di bus. Ketika hampir sampai, Bli Made mengusik kesunyian di dalam bus. Entah apa yang beliau katakan, intinya sekilas kudengar skor 2-0. Rupanya mereka main tebak-tebakan, supaya tidak ngantuk kata Bli.

Karena mata sudah terbuka sempurna, kami pun jelalatan pemandangan di luar bus. Wah, pemandangannya indah sekali. Dari jendela bus kami bisa melihat pemandangan berupa lembah dan perkotaan karena kami sedang berada di ketinggian. Subhanallah. Telingaku sedikit berdenging, menandakan posisi kami semakin jauh dari permukaan laut.


Taman Raya Eka Bali

Taman Raya Eka Bali adalah sebuah kawasan wisata alam yang amat terpelihara. Perpaduan antara keindahan alam dan aristektur khas Bali berupa gerbang dan patung-patung tokoh pewayangan Bali, tempat ini sangat sayang dilewatkan untuk berfoto-foto. Hamparan rumput yang menghijau rapi pun ikut menyejukkan mata. Di sebuah lokasi, kami menemukan sebuah pohon besar yang bentuk daunnya menyerupai lelehan salju. Kalau tidak salah, pohon tersebut dari jenis cemara. Kami pun menjumpai sebuah pohon sakura yang terletak di halaman laboratorium taman ini. Sayang, pohon sakuranya sedang tidak berbunga. Nah, beberapa teman berkesempatan untuk masuk ke dalam laboratorium ditemani bapak yang bertanggung jawab di sana. Kami yang menunggu di luar sibuk menikmati keindahan alam sekitar dengan foto-foto :D.

Cemara salju

Tidak semua kawasan bisa kami capai saking luasnya. Hanya ada beberapa titik yang kami eksplor, salah satunya adalah Rumah Begonia. Di bangunan permanen yang berfungsi sebagai green house ini terdapat beraneka macam jenis tumbuhan begonia. Banyak sekali. Beberapa diantaranya sedang berbunga, duh indahnya. Dekat dengan posisi Rumah Begonia, terdapat kebun mawar beraneka jenis. Sayang, saat itu tidak sedang musim berbunga sehingga kalah indah dengan Rumah Begonia.

Salah satu sudut Rumah Begonia
Setelah puas berjalan-jalan di taman, kami pun beranjak dari sana. Berhubung hari sudah siang, kami pun mampir makan siang di Rumah Makan Saras. Pemandangan di rumah makan ini indah sekali. Karena berada di ketinggian, kami bisa melihat keindahan yang terpampang jelas di lembah dekat tempat makan. Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, bisa makan siang sambil melihat pemandangan alam nan cantik seperti ini. Karena saat itu waktu shalat zuhur sudah tiba, kami pun menuju mushala dengan cara melewati tangga ke bawah bukit. Wah, pemandangan di area bawah rumah makan ini ternyata indah sekali. Mushala dibangun dengan arsitektur cantik di bagian bawah rumah makan. Ternyata selain mushala, rumah makan ini juga menyediakan penginapan. Dari hasil survei sekilas, ruangan penginapannya bagus dan bersih sekali.

Danau Beratan adalah tempat selanjutnya yang kami nikmati dalam perjalanan wisata kami. Di sini fasilitas yang dapat dinikmati adalah naik motor boat mengelilingi danau dan foto-foto di tengah danau dan dengan background pura yang menjadi ikon di uang 50 ribuan. Danau Beratan bagiku adalah salah satu tempat paling berkesan di Bali. Kabut yang menyelimuti gunung di atas danau adalah bagian terindah yang paling kuingat dari Danau Beratan.

Bli Made mengakhiri tugasnya sebagai pemandu wisata kami di danau ini, karena setelah ini kami akan kembali pulang menuju Pulau Jawa. Bus pun menyisir bagian utara pulau Bali menuju Pelabuhan Gilimanuk. Tidak terlalu jauh dari kawasan Danau Beratan, kami menikmati pemandangan Danau Buyan dari atas. Subhanallah, indah sekali. Di sepanjang jalan ini banyak sekali monyet yang berdiri di pinggir jalan atau bergelantungan di pohon. Mereka sepertinya tidak punya rasa takut lagi kepada manusia karena sudah terbiasa.


Tugu Lumba-lumba

Sebelum sampai di pelabuhan, kami mampir ke destinasi wisata terakhir kami di Bali yaitu Pantai Lovina.  Pantai ini terkenal dengan sebutan pantai lumba-lumba karena keberadaan mamalia laut jenis ini banyak di sini. Sayang, karena saat ini matahari sedang bersinar terik kami tidak melihat satu pun hewan tersebut yang muncul ke permukaan laut. Kata orang, lumba-lumba di sini biasanya muncul saat pagi hari saja. Sebagai gantinya, kami pun berfoto di depan tugu lumba-lumba yang menjadi ikon pantai ini. Oya, selain lumba-lumba Pantai Lovina mempunyai ciri khas mempunyai pasir berwarna hitam. Berbeda sekali dengan Pantai Sanur, Kuta atau pun Tanjung Benoa yang berpasir putih.

Pantai Lovina

Setelah puas menikmati Pantai Lovina, kami pun melanjutkan perjalanan ke pelabuhan. Tiba di pelabuhan, hari sudah gelap. Perjalanan kami pakai fery kali ini tidak terlalu terasa karena suasana yang rame. Teman Hadi, si Gaffur duet bareng sama ibu-ibu. Mereka nyanyi lagu dangdut di tempat karaoke  yang disediakan fery tersebut. Keluar dari fery, setelah makan malam, bus melanjutkan perjalanan menuju Malang. Waktunya tidur [].



Artikel Terkait:

Thursday, February 9, 2017

6 Tips Mendapatkan Minimal 500 Page View Perhari

Sebenarnya aku sedikit kurang pe-de menulis artikel dengan tema ini. Karena boleh jadi para expert blogger di luar sana jauh lebih banyak ilmunya daripada yang kuketahui dan page view blognya perhari jauh lebih banyak daripada blogku. Rekor page view tertinggi yang pernah kucek hanyalah 890. Namun, dipicu oleh rasa senangku karena mendapatkan minimal 500 page view per hari selama satu bulan terakhir (sedangkan sebelumnya rata-rata di bawah itu), aku menjadi tergerak untuk menuliskan tips-tips di bawah ini.

Meskipun tips yang kubagikan ini jauh dari sentuhan SEO karena aku sama sekali buta mengenai ilmu optimasi. Tips-tips ini kurangkum hanya berdasarkan pengalaman pribadi, yang boleh jadi hasilnya akan berbeda jika diterapkan oleh orang yang berbeda. Langsung saja, berikut tips mendapatkan minimal 500 page view perhari ala Rindang Yuliani.


Memposting tulisan secara berkala

Beberapa pembaca menyenangi postingan yang berkala. Mereka akan menjadi pembaca loyal sebuah blog dengan tema menarik dan waktu postingan yang teratur. Mereka akan mengingat kapan postingan terbaru akan muncul dan akan berkunjung ke blog tersebut secara kontinu. Hal ini akan membuat jumlah page view blog konsisten atau bahkan meningkat karena kunjungan dari pembaca tetap.

Meningkatkan kualitas tulisan

Konten adalah raja, begitu semboyan para pelaku industri digital. Di dalam blog konten utama adalah tulisan. Semakin berkualitas suatu tulisan, semakin banyak pula kunjungan yang mengarah pada blog tersebut. Tulisan berkualitas versiku adalah tulisan yang memiliki manfaat bagi para pembacanya dan tidak terlalu panjang. Menurut pengalaman pribadi, tulisan yang terlalu panjang akan membuat pembaca bosan dan malas untuk membaca sampai habis. Efek jangka panjang, pembaca malas untuk berkunjung ke blog tersebut di lain waktu. Hal ini tentu sangat tidak ramah bagi statistik page view blog.

Konten adalah Raja

Share di media sosial

Setelah tulisan diposting, saatnya membagikan link postingan di media sosial. Aku sendiri lebih sering membagikan link postingan blog di twitter. Karena kebanyakan follower twitterku juga rata-rata adalah para bloger yang senang blogwalking. Hal ini tentu sangat bermanfaat untuk menambah jumlah page view harian.

Sedangkan di facebook, kebanyakan teman-temanku di sana adalah teman-teman di dunia nyata. Sebelumnya, aku agak malu membagikan postinganku di facebook hanya karena mereka mengenalku. Namun, baru-baru ini aku mulai percaya diri untuk share postingan di beranda facebookku. Ya, siapa tahu pembaca potensial adalah orang-orang terdekatmu. Oya, beri judul tulisan atau pengantar share yang menarik agar orang tertarik berkunjung ke link postinganmu.

Ikut komunitas bloger

Ada satu komunitas bloger yang aktif kuikuti. Di komunitas tersebut sering mengadakan acara tukar link. Jadilah postinganku sering dikunjungi karena program tersebut, tentunya dengan syarat aku pun berkunjung ke postingan bloger lain. Selain itu, pada saat share link di twitter aku biasanya mention akun komunitas bloger agar mereka meretweet. Sejauh ini cara ini sangat efektif mendatangkan kunjungan di blog lho, karena follower akun-akun komunitas tersebut adalah para bloger.

Sering-sering blogwalking

Masih terkait dengan tips sebelumnya, blogwalking adalah sebuah keharusan bagi bloger yang ingin blognya dikunjungi oleh orang lain. Adalah hukum tak tertulis di dunia bloger, siapa yang berkunjung akan dikunjungi balik oleh orang yang dikunjungi. Hal ini tentu akan meningkatkan trend statistik page view blog. Jika pun tidak, dengan blogwalking setidaknya kita sudah menempelkan nama kita di blog orang lain. Sehingga perlahan orang akan mengingat nama kita dan mungkin suatu saat tertarik untuk berkunjung ke blog kita.

Ikut lomba blog

Ada beberapa manfaat yang akan didapat jika kita mengikuti lomba blog. Pertama, kita menjadi lebih aktif posting di blog meski hanya untuk lomba. Kedua, keahlian menulis kita akan menjadi lebih terasah dengan kompetisi. Ketiga, tulisan kita  akan dibaca oleh orang yang lebih ahli alias juri lomba. Keempat, mungkin akan ada banyak kunjungan ke postingan tersebut yang berasal dari (calon) peserta lain atau dari target yang dibidik oleh panitia lomba. Semua manfaat tersebut akan bermuara pada satu angka, yaitu meningkatnya jumlah page view harian blog.

Demikianlah 6 tips dariku agar blog mendapatkan minimal 500 page view dalam sehari. Meskipun mungkin bagi bloger senior 500 kunjungan perhari adalah angka yang sedikit, namun bagiku yang fakir page view ini jumlah tersebut sungguh berharga. Hiks. Terima kasih telah membaca. Jika kamu punya tips lain untuk meningkatkan kunjungan di blog, share di kolom komentar ya.

Salam,

Rindang.

Monday, February 6, 2017

Study Tour Bali - Malang [I]

Kali ini aku mau bercerita tentang pengalamanku selama study tour ke Bali dan Malang 5 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 16 – 21 Januari 2012. Aku masih semester 4, masih unyu-unyu. Bersama dengan kakak-kakak tingkat semester 6 ke atas, aku dan beberapa teman seangkatanku melaksanakan studi banding sekaligus wisata ke dua kota di atas. Kami menggunakan jasa agen travel dengan biaya sebesar Rp. 1.995.000, sudah termasuk biaya akomodasi, transportasi, dan konsumsi. Plus uang saku sekitar satu jutaan. Dulu aku masih berjaya bisa jalan-jalan dengan uang beasiswa, termasuk waktu study tour. Hehe.

Senin, 16 Januari 2012

Perutku tak keruan rasanya sepanjang pagi. Begitulah kalau aku akan mengalami pengalaman yang berkesan dan jarang kualami. Jadwal keberangkatan kita ke bandara awalnya jam 13.30 karena kita akan take off jam 14.00. Ternyata eh ternyata supir taksi yang kita booking mendesak untuk berangkat jam 12.00. Huh, gimana gak kelabakan coba? Alasan beliau mendesak untuk cepat berangkat adalah karena jalur utama menuju bandara sedang macet total karena kecelakaan truk. Beliau berinisiatif untuk berangkat lebih awal agar tidak terlambat dan tidak ketinggalan pesawat.

Seseruan di bandara

Beruntung waktu itu kami sudah berkumpul di rumah salah satu geng, rumah Gadis, tempat yang kami sepakati dimana taksi itu menjemput. Tapi masih belum siap-siap banget. Akhirnya kami berangkat jam 12 siang ke bandara. Selain ngeselin karena udah maksa minta lebih cepat dari perjanjian, ternyata supir taksinya juga jutek. Nggak ramah sama penumpang. Ckck. Kita ke bandara pun lewat jalur tikus. Alhamdulillah kita sampai di bandara tidak lewat dari waktu yang ditentukan, bahkan harus menunggu lebih lama. Alhasil, Gadis yang nggak sempat makan di rumah, nyuri waktu makan di bandara. Kegiatan kami nunggu waktu check-in? Ya foto-foto dan ngobrol ngalor ngidul aja dengan sesama peserta study tour yang satu persatu mulai berdatangan. Dan tahukah kamu, waktu keberangkatan pesawat didelay menjadi 16.30 WITA. Tambah lama.

Berangkat ...

Jam 18.00 lewat kami akhirnya mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Wuah senangnya dapat merasakan udara Surabaya menjelang maghrib. Tak lama menunggu, bus wisata telah siap membawa kami mengawali perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi untuk menyeberang ke Pulau Dewata. Tetapi sebelumnya kami mampir dulu untuk dinner dan shalat di Gempol Asri (haha, aku masih ingat nama rumah makannya). Sebelum berangkat lagi dilakukan perbaikan bus, entah bagian apanya oleh supir dan asistennya. Sembari menunggu, kami foto-foto dan bercanda nggak jelas di atas bus. Beberapa teman lebih memilih untuk menunggu di luar bus. Ketika bus akhirnya melanjutkan perjalanan, kami pun mencoba terlelap dalam posisi duduk.

Selasa, 17 Januari 2012

Dini hari kami akhirnya tiba di Pelabuhan Ketapang dan menyeberang menggunakan fery ke Pelabuhan Gilimanuk. Saat itu mata kami sedang ngantuk-ngantuknya. Jadi waktu menyeberang kami habiskan untuk tidur di kursi fery. Subuh tiba, kami pun tiba di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Alhamdulillah, akhirnya aku berkesempatan menjejakkan kaki di Tanah Dewata yang pertama kali kukenal lewat buku cerita di perpustakaan SDku dulu. Kami kemudian shalat subuh di mushala sekitar pelabuhan.

Pantai Soka

Sekitar jam 9, kami tiba di Pantai Soka. Sebenarnya kami tidak benar-benar ke pantai, hanya mampir di rumah makan yang terletak di tepi pantai itu. Pantainya kelihatan sedikit jauh, tapi kami masih bisa memandang dan mendengar deburan ombaknya. Selain sarapan, kami juga membersihkan diri di sana plus istirahat, terutama bagi teman-teman yang mengalami mabuk darat waktu itu.

Sarapan narsis

Di depan rumah makan

Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju Pantai Sanur. Kasihan teman-teman yang sakit, mereka nggak bisa ikut. Jadi mereka diputuskan untuk check in duluan ke hotel supaya bisa istirahat. Oya, kami kedatangan anggota baru dalam tur yaitu Bli Made Murdana, pemandu wisata kita selama di Bali. Sebelum ke Pantai Sanur, kami mampir ke Saha Dewa dulu. Saha Dewa itu tempat pembuatan kerajinan tulis bed cover khas Bali sekaligus tempat jualan oleh-oleh khas Bali. Itu tempat belanja pertama yang kami kunjungi, sehingga banyak yang belanja untuk kenang-kenangan dan oleh-oleh.

Workshop bedcover batik

Belanja saja narsis, hihi

Sebelum ke pantai kita makan siang dulu di rumah makan dekat pantai, kali ini aku lupa nama rumah makannya. Di Pantai Sanur kami menikmati aroma pantai, matahari, dan batu karang yang menyatu. Saat itu sudah siang, sehingga cuacanya panas nas nas. Kami pun berfoto-foto sambil menikmati ombak Sanur yang kejam besar. Beruntung di pinggir pantai telah di bangun beton penyangga ombak.

Pantai Sanur

Dari Pantai Sanur kita menuju Cah Ayu, tempat penjualan oleh-oleh makanan khas Bali. Sebelum belanja, kita masuk ke dalam ruang pertemuan dulu. Diberikan sedikit “kuliah” dengan materi pengenalan bisnis camilan Cah Ayu. Ada tulisan besar yang tertempel di dinding bangunan yang menarik perhatianku yaitu Universitas Penderitaan Jurusan Legologi. Entah, apa artinya.

Kuliah singkat di Cah Ayu

Oya, di rak-rak dinding bangunan terdapat banyak plakat hadiah dari berbagai kampus yang telah mengunjungi Cah Ayu. Rupanya, Cah Ayu memang menyediakan fasilitas ‘kelas bisnis’ bagi para wisatawan berstatus mahasiswa.

Terasering di sepanjang jalan Bali

Selesai belanja di Cah Ayu, kita langsung meluncur menuju  hotel. Badanku capek sekali, keinginan istirahat pun datang. Malam itu rencana kami akan jalan-jalan ke daerah Legian tempat peristiwa Bom Bali tahun 2002. Namun, karena geng cowok malas diribetin oleh cewek-cewek, maka mereka pun berangkat duluan bersama Bapak Dosen. Kami yang sama sekali nggak tahu arah memutuskan untuk tetap di hotel dan berbelanja oleh-oleh khas Bali di depan hotel [].



Artikel Terkait:
Study Tour Bali - Malang [II]
Study Tour Bali - Malang [III]
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates