Wednesday, January 4, 2017

Pengalaman Liburan di Banjarmasin

Sebagai orang yang tinggal di kota kecil, waktu liburan pasti kumanfaatkan untuk berjalan-jalan di kota besar. Seperti yang aku dan suamiku lakukan pada tanggal 12 Desember lalu yang bertepatan dengan Hari Senin dan tanggal merah karena ada peringatan Maulid Nabi SAW. Sejak hari minggu siang kami sudah berangkat ke Banjarmasin menggunakan sepeda motor. Sampai di Banjarmasin waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Agenda kami pertama kali adalah ke daerah Pelambuan, tepatnya ke Dermaga Banjarraya. Ceritanya mau melihat sunset, tapi suami juga sekalian mau bernostalgia di sana karena ia pernah merantau ke daerah ini setelah lulus SMP.



Dermaga Banjarraya saat itu sedang ramai oleh orang-orang yang ingin menyeberang ke Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala. Suamiku bilang, begitulah kegiatan mereka setiap hari. Pulang pergi Banjarmasin – Tamban untuk bekerja. Terlihat feri masih menunggu muatan penuh baru berangkat. Di sebelah feri, terdapat sebuah kapal besar dengan tujuan Buntok, Kalimantan Tengah. Sepertinya kapal ini tidak terlalu diminati lagi karena akses jalur darat dari Kalsel ke Kalteng sudah bagus. Dari kejauhan terlihat pelabuhan Trisakti yang sibuk dengan aktivitas kapal yang singgah dan bertolak menuju pulau-pulau di seberang.


Puas menikmati suasana di dermaga, kami ke Masjid Raya Sabilal Muhtadin untuk mengerjakan shalat maghrib dan isya. Masjid ini persis di tengah kota dan berseberangan dengan Siring Pierrre Tendean. Setelah menunaikan kewajiban, kami kembali berpelesir ke siring. Kami ke tempat dimana Patung Bekantan berdiri. Ternyata ada banyak orang juga yang sedang berkunjung ke sana. Selain berfoto-foto di ikon Kota Banjarmasin tersebut, para pengunjung juga ada yang naik kapal untuk susur sungai. Susur sungai malam-malam? Sepertinya asyik juga. Oya, waktu kami kesana pancuran air dari mulut bekantannya sedang diaktifkan sehingga jika berdiri terlalu dekat dengan patungnya bisa basah karena cipratannya.

Sebenarnya, ada satu titik lagi yang ingin kukunjungi yaitu Tugu Nol KM Banjarmasin yang mulai hits di instagram. Sayang, malam itu kami tidak menemukan keberadaannya. Jadilah dari siring kami langsung menuju mall terbesar di Kalimantan Selatan, Duta Mall. Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam di sana untuk mengunjungi Gramedia, Eiger Shop, Matahari, dan Hypermart.


Pagi Senin, 12 Desember tujuan pertama kali adalah Makam Sultan Suriansyah. Kami pun meluncur ke daerah Kuin. Ternyata ada acara maulid nabi di Masjid Jami Banjarmasin yang akan kami lewati, sehingga lalu lintas dialihkan lewat jalan pintas. Aku dan suami tidak terlalu hafal jalan, kami tersesat dan malah sampai di tujuan yang sebenarnya akan kami kunjungi nanti, yaitu Museum Wasaka. Karena kami datang terlalu pagi jadi museumnya belum buka. Jadilah kami hanya dapat menikmati arsitektur museum bagian luar dan taman di bagian belakang halaman. Bonusnya, kami juga mendapatkan pemandangan Sungai Martapura yang terdapat di bagian depan museum dan tepat di bawah Jembatan Banua Hanyar.


Setelah puas memanjakan mata di sana, kami kembali menuju Desa Kuin dan jalan masih dialihkan. Kali ini kami berputar-putar sekitar setengah jam hingga menemukan jalan pintas yang tepat. Ketika kami bertemu kemacetan barulah kami yakin bahwa kami berada di jalur yang tepat. Setelah setengah jam berjibaku dengan kemacetan di gang sempit tepi Sungai Martapura, kami akhirnya keluar di pasar tradisional yang becek dan penuh sesak manusia.

Dari daerah Pasar Lama tersebut kami kembali melewati siring. Saat itulah aku melihat Tugu Nol KM yang kucari malam sebelumnya. Mampirlah kami di sana. Sayang, hasil foto saat siang tidak sebagus saat malam karena tidak ada efek lampu di tulisannya seperti yang sebelumnya pernah kulihat di instagram. Kawasan di sekitar tugu ini dikelilingi oleh seng karena masih dalam proses renovasi, pantas saja aku tidak menemukan destinasi ini saat malam. Seng-seng tersebut menyembunyikan keberadaan tugunya.


Hari semakin meninggi. Kami akhirnya sampai di Desa Kuin Utara tempat makam dan masjid sultan berada. Di Jembatan Putih, kami kembali dihadapkan oleh kemacetan parah. Ternyata penyebabnya adalah perayaan maulid yang diadakan di makam, lokasi makam memang cukup dekat dengan jembatan tersebut. Kami pun mampir di makam dan mengikuti perayaan maulid. Kami juga sebenarnya ingin mampir ke Museum Sultan Suriansyah yang terletak di samping makam, tapi tidak bisa karena sedang digunakan sebagai tempat ibu-ibu menyiapkan hidangan.Destinasi selanjutnya adalah Masjid Sultan Suriansyah yang berjarak sekitar 1 KM dari makam. Kami menyaksikan acara Baayun Maulid di sana. Itu adalah destinasi terakhir kami saat travelling di Banjarmasin kemarin sebelum kembali ke hotel dan pulang ke rumah.

Makam Sultan Suriansyah

Baayun Maulid

Begitulah pengalaman liburanku di Banjarmasin. Selain menyukai wisata alam, seperti ke gunung, air terjun, atau pantai, kami juga suka berjalan-jalan di kota seperti ini. Menikmati hiruk pikuk sebuah kota, lalu lalang di keramaian, dan mengamati sosial culture di sana. Terutama ketika ada event seperti perayaan maulid nabi seperti kemarin. Selain bisa melihat tempat baru aku juga bisa menyaksikan langsung adat budaya yang terjadi di sana.

Rencana liburan kami selanjutnya adalah ke Kota Pontianak. Pada tanggal 21-23 Maret yang akan datang karena akan ada momen Kulminasi Matahari di Tugu Khatulistiwa. Fenomena ini tidak bisa disaksikan di kota-kota lainnya. Keunikan fenomena ini antara lain adalah bayangan benda persis dengan bendanya sehingga seakan menghilang dan telur bisa berdiri dengan tegak. Wow banget kan? Selain itu menurut bloggers dari Pontianak pada event tersebut biasanya diadakan semacam pertunjukkan seni khusus bagi wisatawan yang menyaksikan kulminasi. Jadi ngiler banget deh aku ke sana.

Makanya dari sekarang aku dan suami sudah mulai menabung untuk biaya travelling ke sana. Selain itu aku juga mulai mengunjungi website tempat booking hotel dan googling tempat wisata yang ada di sekitar Kota Pontianak agar wisatanya di sana bisa maksimal. Oya, kemarin aku sudah buka websitenya HIS Travel Indonesia dan aku menemukan paket wisata domestik yang cocok sekali dengan kebutuhan travellingku. Bisa banget nih buat liburan di dalam negeri.

Eh, tapi kenapa harus liburan di Indonesia sih? Pertama, budget lebih terjangkau. Kedua, waktu bisa lebih sebentar. Jadi tidak perlu lama izin di tempat kerja. Ketiga, kita bisa lebih mengenal bangsa kita sendiri yang ternyata sangat beragam budayanya. Setidaknya jika kita ke luar negeri pas orang bule nanya, kita juga bisa menjelaskan keunggulan pariwisata kita ke mereka.

Jadi, jangan ragu untuk liburan di Indonesia ya, Guys!

5 comments:

Nisa Rahmah said...

Waktu aku ke Banjarmasin bulan Mei kemarin, sempat ngunjungin Pulau Kembang doang, trus banyakan jalan-jalan ke luar kotanya :D Pas mau mampir ke Patung Bekantan, sudah malam, eh, banyak cabe-cabean, gak jadi berhenti :D Alhasil, banyakan wisata kulinernya. Ke Pondok Bahari (kalau gak salah sih itu nama tempatnya). Ke Soto Banjar Bang Amat aja nggak sempat. Untung waktu ke Banjarmasin Desember 2015 sempat makan di sana :)

Tira Soekardi said...

itu yg titik 0 km sebelah mana mbak, kok waktu aku ke banjarmasih gak ada sih???

Rindang Yuliani said...

Pulau Kembang, Patung Bekantan, dan Soto Banjar Bang Amaat memang icon wajib wisata di Bjm. Meski sebenarnya ada masih banyak destinasi lain yg masih belum populer.

Rindang Yuliani said...

Di depan kantor gubernur, Mbak. Dulu memang nggak terlalu menarik perhatian karena bentuknya hanya tugu. Sekarang sudah mulai cantik karena direnovasi.

Nafarin Muhammad said...

wah, ternyata tulisan ini untuk lomba.
oke gpp.. btw ulun orang Banjarmasin jua.. hhehe

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates