Tuesday, June 20, 2017

Tips Sukses Buka Bersama

Buka bersama merupakan fenomena tersendiri di bulan Ramadhan ini. Biasanya euforia ini terjadi pada minggu ke-3 dan ke-4 Ramadhan. Ada banyak orang memanfaatkan momen buka bersama ini untuk reuni dengan teman lama atau berkumpul bersama keluarga besar. Sayang dong kalau acara kumpul setahun sekali ini berlalu begitu saja tanpa kesan yang berarti.



Berikut ada beberapa tips ala aku agar acara buka bersama bisa sukses lancar jaya.

1. Pilih teman berbuka
Biasanya nih, ada beberapa jadwal berbuka yang bentrok satu sama lain. Misal, bukber bersama teman SMP hari dan tanggalnya berbarengan dengan acara bukber dengan teman sekantor. Saranku, lebih baik pilih berbuka dengan teman lama atau keluarga besar yang jarang bertemu daripada berbuka dengan orang-orang yang sekarang ini lebih sering kita temui.

2. Cari tempat yang tepat
Aku sendiri lebih senang berbuka di rumah makan yang tidak terlalu ramai agar tidak terdistraksi oleh keributan pengunjung lain. Juga jangan lupa untuk memilih rumah makan yang memiliki fasilitas mushala atau yang dekat masjid. Pilihan lainnya buka bersama dapat dilakukan di salah satu rumah peserta bukber, dijamin quality timenya jadi lebih berasa. Terutama jika peserta acaranya banyak, misal di atas 20 orang. 

3. Pertimbangkan untuk membawa pasangan/anak
Jika banyak yang membawa pasangan dan anak, silakan dibawa. Namun, jika tidak banyak yang bersama keluarga kecil mereka sebaiknya juga tidak membawa pasangan/anak agar saat acara kita jadi lebih khusyu', tidak sibuk berbicara berdua saja dengan pasangan atau bahkan rempong mengurus anak.



4. Datang lebih awal
Dengan datang lebih awal, waktu kita bisa jadi lebih banyak untuk mengobrol bersama para peserta bukber lainnya. Bandingkan jika kita datang mepet dengan waktu azan maghrib, tentunya waktu kita bercengkerama jadi lebih sedikit. Karena setelah berbuka, biasanya acara langsung bubar karena untuk shalat maghrib.

5. No gadget
Jauhkan smartphone dari tangan selama acara, kecuali untuk foto-foto. Maksimalkan waktu yang hanya setahun sekali tersebut untuk bersilaturahmi.

6. Ibadah tetap nomor satu
Jangan mengabaikan shalat maghrib saat acara bukber. Jika pun masih ingin melanjutkan kongkow-kongkownya lanjutkan setelah shalat isya atau tarawih agar waktunya lebih panjang.

Monday, June 19, 2017

Blogger sebagai Konten Kreator

Konten kreator akhir-akhir ini menjadi alternatif profesi yang mulai dilirik oleh banyak orang. Hal ini karena aktivitas harian zaman sekarang sangat erat kaitannya dengan dunia digital. Apa pun produk dari dunia digital, khususnya internet merupakan konten. Konten-konten tersebut dapat berupa tulisan, foto, video, musik, dan ragam bentuk lainnya.


Salah satu konten kreator yang mulai banyak bermunculan adalah bloger. Bloger dengan produk konten utamanya adalah tulisan menurutku adalah salah satu konten kreator yang sumbernya dapat dipercaya. Tidak banyak bloger yang melabeli diri mereka anonim, pun konten dari luar biasanya tercantum dengan jelas di postingan. Isi konten blognya juga banyak yang memberikan manfaat atau hiburan bagi pembacanya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar blogger menjadi seorang kreator konten yang sukses, yaitu:
1. Tema harus spesifik dan konsisten hanya membahas hal tersebut
2. Posting secara berkala dan konsisten
3. Orisinil, jika pun harus copast dengan menyebutkan sumber
4. Lakukan pendekatan personal agar orisinilitas terjaga
5. Tema yang dibahas dapat dikaitkan dengan kejadian yang sedang hits atau kekinian sehingga konten lebih fresh dan menarik untuk dibaca
6. Reliable atau terpercaya, dengan cara menulis fakta dan mencantumkan sumber yang jelas
7. Masukkan unsur entertaint dan/atau edukasi, maka para pembaca akan selalu menantikan update postingan di blog kita


Selain tulisan, sebenarnya bloger juga harus menguasai pembuatan konten lain seperti infografis dan video. Hal ini untuk menambah ketertarikan pembaca terhadap tulisan dan menghindari kebosanan pembaca. Aku sendiri masih nol besar dalam kedua keterampilan tersebut. Harus perlu banyak belajar nih dari bloger-bloger senior yang postingan mereka penuh warna dan tak membosankan meski panjang.

Hingga sekarang, peluang menjadi konten kreator khususnya bloger terlihat masih menjanjikan. Mengingat banyaknya kebutuhan netizen akan berita, informasi, atau bahkan hanya sekadar sharing pengalaman dari sebuah postingan blog. Harapan pribadiku sih, semoga bloger (tetap) menjadi konten kreator yang menjaga kredibilitas dalam menghasilkan konten. Dan semoga aku sendiri bisa konsisten bisa mengisi blog dengan konten bermanfaat sehingga juga layak disebut sebagai konten kreator. Hihi.


Sumber :
www.dedydahlan.com
www.misterway.wordpress.com

Monday, June 12, 2017

Barabai, Kota Apam

Berbicara mengenai Barabai, kota kecil yang menjadi tempat domisiliku sekarang tak lengkap rasanya untuk tidak membahas kuliner khasnya yaitu kue apam. Kue apam produksi Kota Barabai dikenal mempunyai tekstur lembut dan kenyal serta rasanya yang enak. Ukurannya yang tidak terlalu besar membuatnya praktis dikonsumsi. Dalam satu bungkus daun pisang, terdapat 10 buah kue apam. Meski belum ada inovasi rasa ke arah yang modern, tapi kue apam khas Barabai memiliki 2 warna yang berbeda yaitu kuning dan putih tergantung gula yang digunakan. Aku sendiri lebih menyukai kue apam putih yang tanpa gula aren seperti apam yang berwarna kuning.

Source pict

Branding Barabai sebagai Kota Apam terkenal luas hingga ke seantero Provinsi Kalimantan Selatan. Rasanya tak lengkap datang ke Barabai tanpa membawa pulang kue apam. Pun bagi warga yang ke luar kota, kue apam adalah penganan wajib yang harus dibeli sebagai oleh-oleh. Sayang, hingga saat ini kue apam khas Barabai tidak bisa disimpan lebih dari 2 hari karena bahannya yang cepat berubah. Oleh karena itu, kue apam jarang bisa dibawa ke tempat yang jauh.
Selain kue apam, sebenarnya Barabai juga mempunyai kuliner khas lain seperti kue lam yang enak banget dan iwak pakasam, awetan ikan dengan beras yang digoreng.

Branding Kota Barabai sebagai Kota Apam kadang tersaingi dengan julukan Bumi Murakata. Julukan tersebut singkatan dari Mufakat, Rakat, Seiya-sekata yang merupakan semboyan dari Kota Barabai.  Di samping itu juga ada motto Berseri yang merupakan singkatan dari Bersih, Indah, Sehat, dan Rapi. Namun, motto ini menurutku tak berhasil menjadi branding kota ini karena tertutup oleh 'kebesaran' Murakata.

Dari segi tempat wisata, Barabai paling dikenal dengan objek wisata Pagat Batu Benawanya. Tempat wisata alam ini memang menyajikan lanskap alam lengkap berupa sungai, gua, dan bukit. Meski baru-baru ini sudah terdapat beberapa lokasi wisata tambahan seperti Air Terjun Tumaung dan Bukit Titi. Namun, tak dapat menggantikan Pagat sebagai branding wisata di Barabai.

Demikianlah branding Kota Barabai dari segi kuliner, semboyan, dan wisata. Dari ketiganya, julukan Kota Apam adalah yang paling familiar untuk merujuk Kota Barabai.

Jadi, kapan kamu mau ke Barabai?

Wednesday, June 7, 2017

Review 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri ala Miliarder

Aku tidak sengaja menemukan buku ini di rak toko buku. Boleh dibilang, membeli buku ini adalah keputusan impulsif. Judulnya yang sangat menjual dan isinya yang kelihatan enak dibaca membuatku rela merogoh kocek cukup dalam untuk mendapatkan buku ini. Sempat-sempatnya pula aku googling untuk membaca review buku ini sebelum mengantonginya ke kasir.

Judul : 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri ala Miliarder
Penulis : Erlita Pratiwi
Penerbit : Grasindo
Tahun terbit : 2016

Seperti judulnya, buku ini berisi 77 buah mantra tips yang biasanya dilakukan oleh orang-orang sukses yang produktif dan kaya. Di setiap tips, terdapat satu miliarder yang dibahas kebiasaannya. Dilengkapi pula dengan penerapannya untuk kehidupan kita sehari-hari. Di akhir pembahasan terdapat satu quote yang merangkum seluruh penjelasan tentang tips tersebut. 

Ada banyak quote di dalam buku ini yang menginspirasi, ini salah satunya.

Singkirkan pikiran bahwa alasan satu-satunya bekerja adalah untuk mencari uang. Cobalah melihat pekerjaan sebagai kesempatan untuk belajar yang tidak dimiliki setiap orang (hal 92).

Bagiku pribadi, 77 mantra ini cukup ampuh. Aku hanya perlu membaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga aku dijauhkan dari virus malas yang biasanya menjadi penghalang bagiku untuk meningkatkan produktivitas. Salah satu mantra yang paling berkesan bagiku di buku ini adalah fokus dalam mengerjakan apapun. Aku jadi sadar bahwa prinsip multitasking yang biasanya kuagung-agungkan itu malah menjadi batu sandungan untuk menjadi produktif.

Sunday, June 4, 2017

Review Mei 2017

Mei yang penuh warna di tahun ini telah berlalu. Tiba saatnya bagiku untuk menuliskan kisah hidupku selama satu bulan tersebut. Ada beberapa hal menarik yang terjadi di bulan ini. Apa saja? Simak rangkumannya ya.

Keluarga

Papa dan adik pulang untuk cuti kerja di awal bulan Mei. Keduanya mengambil waktu berbarengan sehingga anggota keluarga kita bisa ngumpul sempurna. Di suatu tanggal merah, tepatnya tanggal 11 Mei kami mengadakan acara masak-masak dan makan bersama di rumah kakek. Ini ide adikku, kangen ngumpul bareng keluarga besar katanya. Duh, ramainya. Sedap sekali makan siang di bawah pepohonan di pekarangan belakang.

Keluarga Besar

Meski kebersamaan kami tidak lama karena sekitar seminggu setelahnya, papa harus kembali. Dan adikku juga habis masa cutinya tepat sebelum Ramadhan yang dimulai tanggal 27 Mei kemarin. Jadi, di awal Ramadhan ini keluarga kami kembali berpisah untuk sementara waktu. Semoga lebaran nanti bisa berkumpul lagi.

Pekerjaan

Pekerjaan di lab sedang banyak-banyaknya bulan Mei tadi. Demi ketenangan di bulan puasa, semua beban kerja kuhabiskan sebelum Ramadhan. Sehingga setelah kerja rodi, di awal Ramadhan tadi pekerjaanku hanya di depan meja. Di bulan Mei juga aku mendapatkan kesempatan untuk sampling ke 2 perusahaan. Pertama, tanggal 10 Mei ke sebuah perusahaan tambang yaitu Balangan Coal. Kedua, ke PT. Bumi Jaya sebuah pabrik karet di Kab. Tabalong pada tanggal 20 Mei.

Di PT. Bumi Jaya

Pada tanggal 17 Mei yang lalu, kantor mendakan inhouse training dengan tema Audit Internal. Jadi, kami menghabiskan waktu seharian penuh untuk mendengarkan materi dari narasumber yang didatangkan dari Banjarbaru. O iya, karena suatu alasan aku dan teman-teman sekantor di suatu malam 'diundang' Pak Bupati ke rumah dinasnya. Keren interiornya.  

Pelatihan Audit Internal

Interior Rumah Dinas Bupati

Kesehatan

Overall, kesehatanku di bulan Mei ini baik-baik saja. Namun, di akhir bulan alias awal Ramadhan kemarin aku kurang enak badan. Awalnya hanya sakit tenggorokan, lalu merembet menjadi flu, sakit kepala, dan puncaknya demam. Padahal waktu itu aku sedang di kantor. Oh oh oh, rasanya tidak enak sekali. Sampai di rumah, aku langsung minta kompres dan minum obat. Alhamdulillah, sekarang sudah baikan.

Kursus Menjahit

Di bulan Mei aku libur sebulan penuh. Bukan karena jadwalnya libur, tapi karena aku kebanyakan gaya. Sok sibuk. Hingga tiba Ramadhan, jadwalnya libur resmi dari yayasan. Aku tak bisa masuk kursus lagi hingga setelah lebaran nanti.

Buku

Ada beberapa buku yang kubaca bulan Mei. Sebagian telah kureview, sebagian yang lain masih dalam proses draft dan editing. Novel yang paling berkesan bagiku selama bulan Mei tadi adalah Critical Elevennya Ika Natassa. Keren.

Travelling

Di awal bulan, tepatnya tanggal 1 Mei. Aku bersama teman-teman seliqo jalan-jalan ke Bukit Palawan. Baca cerita lengkapnya di sini ya.

Blogging

Permohonan google adsenseku diterima! Tepat pada tanggal 23 Mei lalu. Aih, senangnya. Gak nyangka banget. Meski rupiahnya masih sedikit, tapi suatu kebanggaan kalau ada iklan dari GA bisa nongol di blog gratisanku. Yihaaa.

Email 'Cinta' dari GA

Frekuensi ngeblogku masih sama slownya. Jumlah postingan konsisten 11 tulisan per bulan. Senangnya lagi di LBI, akhir bulan tadi aku akhirnya bertahta di puncak klasemen lagi setelah lama tersingkir ke barisan tengah. Senang, senang, senang.

Demikian ceritaku di bulan Mei. Nantikan ceritaku di bulan-bulan selanjutnya ya. 

Mengenal Sekilas Keuangan Syariah

Keuangan syariah, istilah ini sedikit asing bagiku. Meski ternyata aku telah menggunakan produk dan jasa di bidang keuangan syariah, tetap saja aku perlu googling untuk mempelajari ‘permukaan’ ilmu keuangan syariah. Mengapa kubilang hanya permukaan? Kalau kukatakan ‘seluk beluk’, mungkin butuh waktu yang lama untuk memahaminya. Wong kalau di Fakultas Ekonomi, pembahasan tentang keuangan syariah ini bisa satu mata kuliah tersendiri atau bahkan satu jurusan khusus.

credit

Secara singkat, keuangan syariah dapat diartikan sebagai sistem keuangan yang tata caranya mengikuti syariat Islam. Ada beberapa ciri dari keuangan syariah ini, yaitu:
  1. Aktivitas perolehan dana sesuai syariat, artinya dana didapatkan dengan cara-cara yang halal seperti mudharabah, murabahah, dan musyarokah.
  2. Aktivitas perolehan aktivitas sesuai syariat, artinya transaksi dan investasi dana memperhatikan prinsip uang sebagai alat tukar, bukan uang sebagai barang jual-beli misalnya pada sistem riba.
  3. Aktivitas penggunaan dana sesuai syariat, artinya barang yang ditukar dengan uang memiliki manfaat, bukan barang haram atau barang konsumtif serta digunakan untuk hal-hal yang dianjurkan seperti sedekah dan zakat.


Ada banyak penyedia keuangan syariah di Indonesia, kita sebagai masyarakat awam sekarang bisa lebih leluasa dalam memilihnya. Dibandingkan dengan penyedia keuangan konvensional, penyedia keuangan syariah tentunya memberikan rasa aman dan nyaman kepada para penggunanya. Penyedia keuangan syariah tersebut contohnya berupa bank syariah, asuransi syariah, dan gadai syariah.

Aku sendiri merupakan nasabah di sebuah bank syariah dan pernah menggunakan layanan gadai syariah. Sejauh ini, aku belum pernah mengalami masalah sih dalam menggunakan produk dan jasa mereka. Semoga keuangan syariah di Indonesia semakin maju, karena menurut sumber yang kubaca, sistem keuangan syariah ini dapat membantu memperkuat ekonomi umat Islam. Sehingga, meskipun kontribusi masing-masing dari kita kecil tapi bisa memberdayakan umat dengan cara sesuai syariat.

Sumber :
http://www.duniaislam.org/14/06/2015/mengenal-keuangan-syariah-dan-pengertian-perbankan-syariah/

Tuesday, May 30, 2017

Genggam Mimpimu, Semesta Pasti Mendukungmu!

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Ungkapan tersebut benar-benar pas untuk menggambarkan buku ini. Selain karena terjemahannya persis seperti judul buku ini, isinya pun menceritakan perjuangan beberapa pemuda Indonesia untuk meraih mimpinya ke luar negeri. Judul buku ini pulalah yang memikatku saat perhelatan book fair beberapa bulan lalu, hanya saja aku baru sempat membacanya sekarang. 

Judul : Genggam Mimpimu, Semesta Pasti Mendukungmu!
Penulis : Zamzami Elriza dkk
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2015

Buku yang ditulis secara keroyokan oleh 9 pemuda Indonesia ini mampu menyadarkanku kembali akan impianku menjelajah dunia. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau berusaha, aku percaya itu. Aku sangat terkesan dengan cerita-cerita yang terdapat di dalam buku ini. Cerita pembuka ditulis oleh Zamzami Elriza yang berjudul Keajaiban-keajaiban Kecil di Negara Besar. Ia berhasil mendapatkan kesempatan berkuliah di Negeri Paman Sam selama setahun dan mendapatkan pengalaman menjelajahi beberapa kota besar di US. Latar belakang pendidikan jurnalisme membuat cerita Zamzami begitu hidup seperti sebuah berita yang ditulis dengan runtut.

Ada cerita pula yang menarik perhatianku yaitu pengalaman seorang Waskito Jati yang berkesempatan training ke Ghana, sebuah negara di Afrika Barat. Ia menemukan sejarah yang terlupakan dan menguak misteri hubungan antara Indonesia dan Afrika yang telah menghantuinya sejak 6 tahun sebelumnya. Selain dua cerita tersebut, ada tujuh cerita lainnya yang menginspirasiku agar tetap mempertahankan mimpi ke luar negeri dengan mengikuti seleksi beasiswa atau training sesuai bidang keilmuanku.

Dari segi bahasa dan penulisan, buku ini hampir tak ada cela. Karena mungkin setiap penulis sudah melewati tahapan seleksi saat mengumpulkan karyanya. Namun, perbedaan karakter setiap penulis terasa nyata pada setiap cerita. Pokoknya buku ini recomended bagi para scholarship hunter dan pejuang traveller.

Sunday, May 28, 2017

Tradisi Ramadhan di Kota Barabai

Alhamdulillah, kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun ini. Senang, karena kesempatan untuk lebih banyak beribadah kepada-Nya datang lagi. Senang juga karena suasana Ramadhan yang tidak selamanya ada di sepanjang tahun akhirnya tiba hingga 30 hari ke depan.

Di beberapa daerah, ada tradisi untuk menyambut atau merayakan bulan puasa. Hal serupa juga ada di kota kecilku, Barabai. Namun, banyak di antaranya juga menjadi tradisi di daerah-daerah lain seperti semarak petasan dan pasar Ramadhan. Meski begitu, ada 2 tradisi yang sepertinya hanya ada di Kalimantan Selatan, khususnya Barabai, mengingat namanya dalam Bahasa Banjar. Kecuali, di daerah lain ada tradisi serupa dengan nama yang berbeda.

1.    Bagarakan Sahur
Bagarakan sahur adalah kegiatan membangunkan orang-orang untuk bersahur. Bentuk kegiatannya berbeda-beda di setiap kampung. Di kampungku sendiri, biasanya bagarakan sahur ini diikuti oleh para pemuda dan anak laki-laki. Mereka berjalan dari ujung kampung ke ujung kampung lainnya pada dini hari dengan membawa alat-alat yang berbunyi sambil berteriak ‘sahur, sahur!’.
 
credit


Kegiatan ini cukup ampuh membangunkan orang-orang yang masih terlelap untuk segera bersahur. Dibandingkan dengan program bagarakan sahur di masjid yang biasanya dilakukan oleh kaum (marbot), kegiatan bagarakan sahur di jalan ini cukup memekakkan telinga.

Pernah di suatu Ramadhan aku menginap di rumah saudara di Banjarmasin, pada saat sahur tak ada kegiatan bagarakan sahur baik di masjid atau pun di jalanan komplek. Kata saudara yang tinggal di sana sih, hal ini karena di dalam komplek tersebut tidak semua penghuninya beragama Islam, sehingga kegiatan bagarakan sahur ditiadakan untuk menoleransi penganut agama lain agar tidur mereka tidak terganggu.

2.    Malam Salikur
Malam salikur adalah malam ke-21 di bulan Ramadhan. Malam ini dianggap istimewa karena merupakan awal dari 10 malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan waktu diturunkannya lailatul qadar. Salah satu bentuk pengistimewaan malam ini biasanya para penduduk di kampungku menyalakan api kecil di halaman rumah, menggunakan obor atau lilin.

Selain itu, ada kecenderungan pasangan muda-mudi menikah pada malam salikur ini. Meski tidak dirayakan secara mewah, namun tren menikah di malam salikur adalah hal yang sakral. Biasanya acara dilaksanakan di rumah mempelai perempuan setelah tarawih atau rombongan pengantin beramai-ramai ke KUA.

Pawai tanglong adalah tradisi merayakan Ramadhan di Kota Barabai. Biasanya juga diadakan pada malam salikur. Bentuk acara ini berupa pawai atau festival arak-arakan kelompok pemuda masjid atau karang taruna dengan berbagai macam hiasan di atas kendaraan yang mereka gunakan. Jalur pawai meliputi jalan utama kota dan berpusat di lapangan kebanggaan warga Barabai, Dwiwarna. Pesta kembang api juga menjadi bagian dari kemeriahan acara pawai tanglong ini.

Nah, begitulah beberapa tradisi yang ada di kotaku saat Ramadhan. Bagaimana dengan tradisi yang ada di kota kalian, readers? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Saturday, May 27, 2017

Aku Hari Ini

Aku hari ini, terjebak di antara status sebagai seorang istri dan mimpi traveling kemana-mana. Sebagai pendamping suami, adalah hal yang mustahil sering bepergian apalagi sendirian. Faktanya setelah menikah, aku hampir selalu ngetrip bareng suami dan itu hanya bisa kulakukan paling banyak sebulan sekali.

Aku hari ini, terjebak di antara status sebagai pegawai kantoran dan mimpi kuliah lagi. Kuliah yang jauh, sekalian traveling maksudnya. Kalau sekadar kuliah mencari ilmu atau gelar, di dekat-dekat sini pun bisa. Namun, yang kuinginkan tentu pengalaman bersama teman dan di tempat yang baru sekaligus mencari ilmu. Impianku pun muluk, kuliahnya kalau bisa lewat beasiswa. Biar ekonomis dan sebagai pembuktian atas kemampuan akademikku.

Keputusan kuliah lagi memang agak berat, meski suami mengizinkan. Kasihan juga kalau ditinggal jauh-jauh karena dia bekerja di sini. Posisiku di kantor pun sebenarnya menjanjikan, sayang kalau ditinggal. Pulang-pulang, belum tentu bisa dapat kerja cepat di tempat yang setepat sekarang ini. Belum lagi dari segi finansial, jelas hanya mengandalkan beasiswa dan gaji suami kalau aku kuliah lagi. Di sisi lain, mimpiku untuk berkuliah lagi rasanya terlalu sayang untuk dilepas. Oleh karena itu aku tak pernah berhenti berusaha mencari info, mengusahakan, dan apply beasiswa ke kampus-kampus impian.

credit

Aku hari ini, terjebak di antara ketakutan untuk mulai berwirausaha dan keyakinan bahwa menjadi pengusaha itu harus. Mengandalkan gaji dari kantor memang aman, tapi tentu hasilnya tak lebih dari cukup. Sedang mimpiku banyak. Salah satunya ingin punya perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum, terutama anak-anak. Mimpi itu butuh modal. Aku perlu jalan agar uang tak lagi menjadi masalah sehingga bisa mewujudkan mimpi-mimpi besar dan gilaku.

Di sisi lain, aku belum punya keberanian, modal, dan dukungan moril yang cukup untuk memulai bisnis. Meski sambil tetap bekerja di kantor, kuingin bisnis ini sebagai sampingan dulu. Peluangnya sudah ada, bahkan mungkin sejak dulu. Namun, tekadku yang maju mundur membuat impianktersebut tak bisa terwujud dengan mudah. Aku belum terlalu percaya diri menjalankan bisnis seorang diri. Terutama karena sifat introvertku.

Aku hari ini, terjebak di antara keinginan menjadi penulis buku dan kemalasan yang luas biasa untuk memulai konsisten menulis satu tema. Setiap hari aku menulis, tapi hasilnya belum layak untuk dirangkum menjadi sebuah buku. Tulisan-tulisan lepas dan abstrak yang memenuhi folder penyimpananku sebagian besar hanyalah catatan buah pikir dan perasaan untuk hal-hal yang kuanggap penting dalam hidupku. Pun, aku masih terlalu malas untuk meluangkan waktu khusus untuk menulis. Padahal mimpi menjadi penulis telah terbit semenjak kanak-kanak. Oh, aku yang malas. 

Aku hari ini, terjebak di antara rasa syukur dan sesal untuk hal-hal yang telah dan belum terjadi di hidupku.

Tuesday, May 23, 2017

Bukit Palawan

Kali ini aku traveling bersama teman-teman akhwat seliqo. Ramai, karena banyak anggota yang bisa ikut. Tujuan kami adalah ke Bukit Palawan, salah satu destinasi wisata di kabupaten sebelah yaitu Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan yang sedang ngetrend saat ini. Bukit ini terletak di Desa Mawangi, persis di sebelah Desa Batu Bini yang seminggu sebelumnya puncaknya kudaki.

Foto bareng sebelum berangkat

Pos keberangkatan ke Bukit Palawan tepat di SDN Mawangi. Entah bagaimana kalau sedang tidak hari libur seperti sekarang. Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, jalur menuju puncak Palawan lebih jauh, tapi lebih landai. Ada beberapa warung yang berderet di sepanjang jalan menuju bukit. Di tengah-tengah perjalanan kami beristirahat karena ada teman yang lemah lunglai setelah mendaki sekian anak tangga. Sekitar 15 menit kami kemudian akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi.

Ada 2 jalan menuju puncak. Kami mengambil jalur yang lebih landai, mengingat kondisi anggota ada yang kurang fit. Ternyata puncaknya tidak terlalu jauh. Aku bahkan belum merasa capek.


Aku sempat terheran-heran ketika baru tiba di puncak. Suasananya ramai sekali seperti pasar. Warung tenda pun jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Meski udara cukup panas waktu itu, di puncak Palawan tidak terlalu terasa karena terdapat deretan pohon karet.

Dibandingkan dengan Bukit Batu Bini, Bukit Palawan jauh lebih luas dan lebih banyak spot cantik untuk berfoto. Katanya sih, ini adalah bukit pertama yang ngehits di kawasan Kandangan sebelum bukit-bukit yang lain menyusul untuk mempercantik diri. Berikut hasil foto-foto ala aku di Bukit Palawan.






Spot-spot foto terletak di tepi tebing. Ada banyak bentuk seperti kursi kafe, heli tentara, frame instagram, jembatan love, rumah tarzan, becak, sayap kupu-kupu, sarang burung, dan perahu. Kreatif sekali para pembuatnya. Kata nenek penjaga warung sih, puncak ini ramai semenjak 3 bulan terakhir ini. Lumayan menambah pendapatan warga sekitar juga, terutama dari tarif parkir, biaya masuk, dan warung-warung yang ada di sana.

Nongkrong di Warung Nini

Setelah sekitar 2 jam menghabiskan waktu di atas. Aku dan teman-teman berencana pulang, tapi dicegat oleh seorang nenek yang mempromosikan sebuah sumur air tawar yang katanya bertuah. Kami sebenarnya tidak percaya dengan cerita beliau tapi untuk menghargai, kami pun mengikuti beliau ke sumur tersebut untuk berwudhu dan mencuci muka. Beberapa teman juga ada yang mengisi botol minum dengan air tersebut. Jernih sekali memang, berasal dari pancuran alami di dalam gua kata si nenek.

Pulangnya, kami lewat jalur ke-3 yang ternyata jauh lebih landai karena memutar bukit meski jaraknya jadi lebih jauh. Saat tiba di bawah, kami disambut gerimis. Beruntungnya kami tidak sampai kehujanan di puncak sana. Alhamdulillah, satu lagi destinasi wisata yang berhasil kujelajahi hari itu.



Artikel Terkait :

Video on Demand

Pertama kali mendengar istilah Video on Demand (VOD), yang terlintas di benakku adalah youtube. Ya, situs ini memang menjadi favorit sebagian besar pengguna internet untuk menonton dan mendownload berbagai jenis video atau bahkan mengunggah video buatan sendiri. Namun, setelah membaca beberapa referensi mengenai VOD, ternyata cakupan definisi VOD jauh lebih spesifik daripada sebuah youtube.

VOD sendiri adalah layanan yang menyediakan beragam video berdasarkan permintaan pengguna. Materi videonya bermacam-macam, seperti film, drama, atau tayangan televisi. Dengan membayar paket berlangganan yang sudah ditentukan, para pengguna bisa bebas mengakses ratusan jenis dan judul video di sebuah aplikasi VOD. Contoh aplikasi VOD yang sedang booming di Indonesia adalah Hooq, Iflix, UseeTV, dan Viu.

credit

Kelebihan yang ditawarkan semua aplikasi VOD adalah bebasnya pemilihan judul dan waktu tayang sebuah video oleh pengguna. Canggih sekali dunia sekarang ya. Kalau dulu kita harus ke bioskop untuk nonton film atau nunggu VCDnya keluar. Pun, kita harus menunggu sinetron atau drama di jam pulang sekolah untuk bisa menyaksikan serial kesayangan kita. Sekarang kita bisa mengakses apa pun yang ingin kita tonton kapan pun kita mau.

Beberapa aplikasi juga menyediakan fasilitas download video di aplikasi VOD sehingga pengguna tetap bisa nonton saat offline. Ketergantungan layanan VOD dengan jaringan internet dimanfaatkan dengan baik oleh para provider seluler di Indonesia, yaitu dengan bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi tersebut. Salah satu bentuk kerja sama ini adalah provider menggratiskan sekian gigabyte dari total paket kuota internet untuk mengakses layanan sebuah VOD. Bagi pelanggan VOD, ini tentu angin segar. Namun, bagi yang belum kenal dengan aplikasi VOD, gratis kuota seperti itu adalah sebuah kemubaziran.

Mengapa VOD berkembang dengan cepat sekarang ini? Sama seperti layanan music on demand. Hal ini karena kebutuhan hiburan orang-orang semakin meningkat dan dinamis. Perlu dicatat bahwa kebanyakan layanan VOD yang ramai sekarang adalah VOD mobile alias berada dalam genggaman, bukan dalam bentuk layar kaca atau yang hanya bisa dinikmati dengan duduk dalam satu ruangan.

Aku sendiri bukan penikmat VOD, setidaknya belum. Aku masih merasa cukup 'terhibur' hanya dengan menonton film atau drama korea dari laptop yang filenya kuminta dari kolektor film di kantorku. Pun, aku masih tidak terlalu masalah dengan jam tayang HBO atau program televisi lainnya. Kalau pun ada video yang benar-benar ingin kulihat, aku bisa mengaksesnya di layanan video sejuta umat, a.k.a youtube. Intinya, aku bukan pecandu video yang hingga berpikir harus menggunakan layanan video on demand. Belum.

Bagaimana dengan kalian, sudahkah menikmati layanan VOD? Share pengalaman kalian di kolom komentar ya.

Monday, May 15, 2017

Tentang Umrah dan Haji

Di usia berapa biasanya seseorang (muslim) dengan kondisi finansial pas-pasan terpikir untuk umrah atau berhaji? Menurut observasiku dari orang di sekitar yang kukenal, tekad kuat untuk berangkat ke Baitullah biasanya terjadi saat seseorang mencapai usia matang, minimal 50 tahun. Ketika tanggungan biaya untuk anak-anak sudah tidak ada lagi karena mereka sudah menikah atau bekerja. Atau karena dapat harta warisan mendadak. Ya, niat untuk pergi umrah atau haji sepertinya tergantung pada satu hal yaitu biaya.

Usiaku baru 25 tahun, jika dilihat dari perspektif kebiasaan orang-orang di sekitarku, mungkin aku masih terlalu muda untuk berniat ke tanah suci dan mengusahakannya dari sekarang. Baru nikah, belum punya rumah sendiri, pekerjaan pun tak mapan. Itu adalah pikiran negatif yang ada di otak kadalku. Namun, di suatu hari cara pandangku berubah ketika diajak mama mengikuti sebuah seminar umrah dan haji. Pembicaranya bilang, sebenarnya kita ini kaya dan mampu untuk bayar umrah atau haji. Hanya saja, prioritas kita tidak mengarah ke sana. 

credit

Mencicil untuk membeli motor atau mobil saja kita bisa, seharusnya untuk umrah dan haji pun kita mengusahakannya. Kebetulan, agen travel yang mengadakan seminar tersebut memberikan solusi pembayaran bisa dicicil dengan DP yang terjangkau. Hanya butuh satu minggu aku berpikir, di minggu berikutnya aku sudah bayar DP umrah aku dan keluarga.

Dan keluarga? Yup! Salah satu mimpi dalam hidupku adalah pergi umrah bersama keluarga tercinta. Mama bapaku, meski belum terlalu tua, mereka tak ingin pergi sendirian. Terlalu banyak yang diurus, kalau bersama anak kan jadinya tenang, begitu kata mereka. Meskipun terlihat mustahil dari segi pelunasan biaya, tapi paling tidak aku sudah mengunci niat dengan mendaftarkan keluargaku untuk umrah.

Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tapi Allah akan memampukan orang-orang yang terpanggil.

Quote itu terasa kena sekali di hati. Aku yakin, pasti ada saja jalannya untuk mewujudkan mimpiku umrah bersama keluarga. Sudah ada banyak contoh orang-orang yang diberi keajaiban bisa ke tanah suci meski kondisi ekonomi sehari-hari pas-pasan. Dan ada banyak orang juga yang terlihat berkecukupan, tapi belum bisa berangkat umrah dan mengumrahkan orangtua.

Maka, di sinilah aku menggenggam mimpi dan berusaha mewujudkannya meski masih terasa mustahil.

Tuesday, May 9, 2017

Bukit Batu Bini

Pada sebuah hari Minggu, tepatnya tanggal 23 April 2017, aku dan suami memutuskan untuk berwisata ke sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Kami berencana untuk ke Bukit Palawan atau Bukit Halinjuangan di kabupaten tetangga -Kabupaten Hulu Sungai Selatan- yang sedang hits di instagram. Berbekal browsing di internet dan bertanya pada seorang teman yang sudah pernah ke sana, kami pun meluncur ke destinasi yang berjarak sekitar satu jam dari rumah tersebut tepatnya di Desa Mawangi, di Kecamatan Padang Batung.



Puncak Batu Bini

Namun, ketika hampir sampai di lokasi -sudah berada di wilayah kecamatan yang sama, kami tergoda untuk mampir di sebuah spot wisata berupa bukit juga yang bernama Bukit Batu Bini, sesuai nama desanya. Di hari libur seperti ini ternyata ada banyak turis domestik yang sedang berwisata ke sana. Keramaian di sekitar pintu masuk area Bukit Batu Binilah yang membuat kami lupa pada tujuan semula. Singkat cerita, setelah membayar 7 ribu rupiah (3 ribu untuk parkir sepeda motor, 2 ribu untuk biaya masuk per orang), kami pun masuk ke area wisata Bukit Batu Bini.

Pendakian awal kami jalani dengan nyaman dan cukup sebagai pemanasan, karena tangga yang terbuat dari semen cukup memudahkan kaki kami. Di akhir tangga mulus tersebut terdapat sebuah persimpangan. Jika berbelok ke kanan dan mendaki maka akan sampai ke puncak, sedangkan jika lurus saja akan menuju ke sebuah gua yang bernama Gua Singa. Pilihan kami adalah berjalan lurus, ke gua yang bermulut lebar dan berhawa dingin tersebut.

Di Depan Gua Singa

Nama gua tersebut diambil dari adanya 3 buah atau lebih patung singa yang terletak di ceruk terdalam gua yang buntu. Di bagian dinding gua terdapat lukisan para pahlawan yang dulu berjuang melawan penjajah. Kreatif dan dekoratif. Meski corat-coret anak muda khas vandalisme juga banyak menghiasi dinding gua.

Lukisan di Dinding Gua


Setelah puas menikmati gua beraroma kelelawar tersebut, kami pun beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Sejak awal, aku sudah tahu bahwa trip hari ini adalah pendakian. Namun, aku bersikukuh untuk mengenakan rok cantik berenda lebar supaya HOOTD nanti bagus di atas sana. Hiks, keputusan nekat yang salah sebenarnya karena rok cantikku jadi pengganggu yang berarti saat pendakian. Jalur menuju puncak Batu Bini sangat terjal dan jarak antar pijakannya cukup jauh, sehingga pendaki harus ekstra hati-hati dan fokus jika tak ingin terguling ke jurang yang menganga di bawah.


Di tengah perjalanan kami ngos-ngosan dan memilih beristirahat di sebuah balai bambu yang terdapat di pos peristirahatan. Sambil beristirahat, aku mengamati para pemuda di desa sekitar bukit ini yang menaburi bubuk sekam di jalur pendakian yang licin. Beberapa di antara mereka menggunakan ID card bertuliskan "panitia", mungkin maksudnya pengelola tempat wisata ini kali ya. Salut sama mereka yang peduli dengan kesulitan para pendaki karena jalanan licin. Yang lebih mencengangkan lagi, salah satu dari mereka memanggul satu karung sekam dengan santainya hingga ke puncak. Kami yang membawa tubuh saja kelelahan setengah raga.


Sampai di puncak, fiuuh kami perlu waktu untuk mengambil napas dan mengistirahatkan kaki di sebuah batu datar. Ramainya pengunjung yang memadati area puncak lalu lalang di sekitar kami. Sembari mengamati sekitar, aku mengambil beberapa foto dan video kondisi di sana. Ada banyak spot foto dengan latar belakang pemandangan alam yang cantik dari atas sini, seperti yang juga sedang ngetrend di Pulau Jawa. Yihaaa, Kalimantan juga punya.

Salam cinta dari Kalimantan :)

Setelah tenaga pulih kembali, aku dan suami mulai beraksi baca: foto-foto. Karena banyaknya pengunjung yang ada di atas, maka di setiap spot kami tak bisa berlama-lama. Antri. Di sebuah tempat terdapat tenda dari terpal, mungkin sebagai basecamp 'panitia'. Waktu gerimis sebentar, tenda tersebut menjadi tempat yang tepat bagi para perempuan dan anak-anak bernaung. Ya, ternyata ada banyak orangtua yang membawa balitanya naik ke atas sini. Seperti yang kami temui di sebuah spot foto, ada dedek-dedek gembul yang menggemaskan.

Si Dedek Gemesh

Puas menjelajahi semua spot, kami pun menuruni puncak dengan langkah yang lebih ringan. Kali ini tidak ada drama kelelahan lagi, mungkin karena bantuan gravitasi bumi. Secara keseluruhan tempat wisata yang baru sekitar satu bulan hits ini keren. Kami berdua pun sepakat untuk tidak melanjutkan perjalanan ke tujuan awal, karena merasa sepertinya pengalaman mendaki Bukit Batu Bini mungkin akan sama bagusnya dengan Bukit Palawan atau Halinjuangan.

 




Artikel Terkait :

Monday, May 8, 2017

Koneksi Internetku

Hidup di desa di ujung kabupaten membuatku sedikit susah bersentuhan dengan internet. Beruntung, tempat aktivitasku sehari-hari ada di kota kabupaten yang berjarak 17 km dari rumah. Hal ini memungkinkanku untuk mengecap koneksi internet lebih baik daripada jika hanya berdiam diri di rumah. Apalagi dengan adanya fasilitas wifi di kantor membuatku sangat bebas berselancar di dunia maya.


Lalu, apakah jika di rumah aku tak bisa internetan? Jawabannya adalah bisa, tapi dengan kecepatan terbatas, jika tak boleh kusebut lelet. Untuk menunjang kebutuhan internetku saat di rumah, aku menggunakan kartu dari operator Indosat Oredoo. Tak ada pilihan lain, karena hanya provider tersebut yang paling memungkinkan untuk digunakan di pelosok kampungku. Bahkan, jawara sinyal  telepon dan sms di Telkomsel pun kalah. Mau tak mau, Indosat Oredoo pun menjadi pilihan favoritku. Sinyal internetnya sendiri sebenarnya kadang lancar dan sering ngadat. Namun, apa daya. Lelet atau tidak sama sekali.

Hal inilah yang menyebabkan aku tak bisa aktif selama 24 jam dalam bermedia sosial. Ngeselin juga kadang, kalau ada kabar penting dan aku terlambat mengetahui hanya karena pesan telat masuk. Oleh karena itu, menurutku tantangan koneksi internet zaman sekarang ada pada kecepatan koneksinya. Semakin cepat koneksi internet maka pengguna pun akan semakin terbantu dan tentunya tak segan untuk memilih operator yang sama di kemudian bulan.

Berbicara tentang jaringan tercepat, saat ini 4G LTE mungkin adalah rajanya. Dan aku belum terlalu melek dengan hal itu. Karena di androidku sendiri jaringan yang paling sering muncul adalah Edge dan HSPA+. Artinya jaringan yang kugunakan hanya lebih cepat sedikit daripada generasi ke-3 (3G).
Ada barang ada harga. Istilah tersebut tepat rasanya dilekatkan pada operator dan kecepatan layanannya. Kartu internet yang kugunakan adalah Indosat Oredoo 3gb untuk 3 bulan seharga 50 ribu rupiah. Meski seringnya hanya tersisa masa aktif 2 bulan setelah kubeli. Kadang, hal tersebut membuatku kesal sehingga sempat membuatku ngomel panjang lebar di beranda facebook.

Maaf, nyampah 😅

Meski kalau dihitung-hitung, paket internetku tersebut masih terbilang murah. Jika dibagi rata 50 ribu untuk 2 bulan, maka biaya internetku tidak sampai seribu rupiah perhari. Ini mungkin karena kemiskinnya sinyal di rumah sehingga membuatku malas untuk sering-sering internetan dan karena aku ada pemanfaat wifi kantor yang baik. Hehe. Kalau disuruh milih sih, selama jaringannya masih memungkinkan aku lebih suka bayar lebih mahal asal koneksi internetnya lancar.

Itu ceritaku tentang koneksi internet yang selama ini kugunakan untuk ngeblog, medsos, dan aplikasi-aplikasi penting lainnya. Kalau ceritamu?

Wednesday, May 3, 2017

Review April 2017

Wushhh! Bulan April berlalu dengan sangat cepat, tanpa sempat aku menyadarinya. Hingga tiba saatnya aku menulis diary rangkuman sebulan yang lalu, meski agak bingung karena sepertinya tak ada hal berarti yang terjadi di bulan April.

Keluarga
Tak ada acara momen berkumpul keluarga di bulan ini. Kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Paling ada acara kecil-kecilan dalam rangka ultah si Maya yang ke-7. Duh, sudah gede dia sekarang.

Maymoy Ultah

Pekerjaan
Pekerjaanku cukup slow di bulan April ini. Namun, ada 2 kali sampling lapangan. Pertama ke sebuah pondok pesantren di Kota Barabai dan yang kedua ke sebuah pabrik pembuatan U-Ditch di Balangan. Oya, aku juga berencana untuk memulai sebuah bisnis. Nantilah kuceritakan jika sudah pasti berjalan.

Pabrik U-Ditch

Kesehatan
Alhamdulillah kesehatan keluargaku baik-baik saja selama bulan April. TB kelenjarku juga tidak menunjukkan gejala yang serius lagi, benjolannya pun sudah mulai mengecil. Meski aku tetap harus minum obat 3x seminggu.

Kursus Menjahit
Hiks, kemajuanku dalam kursus menjahit lamban sekali karena aku jarang masuk kelas. Di akhir bulan April lalu aku masuk dan menyelesaikan satu pola celana. Siap untuk lanjut ke pola kemeja. kata ibu pengajar sih waktu kursus tinggal 3 minggu lagi sebelum Ramadhan tiba. Seperti tahun lalu, saat Ramadhan kursus diliburkan. Ternyata, aku sudah lebih dari satu tahun kursus menjahit dan belum selesai-selesai. Hiks.

Buku
Ada beberapa buku yang kubaca di bulan April. Sayang, belum ada kesempatan untuk mengulasnya. Doakan pola menulisku kembali semangat ya. Sementara menunggu review buku-buku yang baru kubaca publish, silakan kunjungi label Books ini dulu untuk melihat review buku-buku yang pernah kubaca.

Blogging
Masih berhubungan dengan dunia tulis menulis. Produktivitas bloggingku sedang melemah. Sebulan terakhir, jadwal postingku hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai peserta LBI 2017 saja. Lumayanlah, gara-gara kompetisi blogku jadi gak mati total.

Travelling
Meski ada 2 tanggal merah di akhir dan awal weekend bulan April, aku tak bisa menggunakannya untuk bepergian. Selain karena momennya gak pas dengan jadwal suami, aku juga lagi nabung untuk program travelling yang lebih besar. Jadi puasa travelling dulu bulan ini. Oya, meski begitu bepergian ke spot wisata di dekat-dekat sini masih kulakukan. Tanggal 23 kemarin aku mengalami pengalaman baru naik bukit dengan spot foto yang lagi hits di Kandangan yaitu ke Bukit Batu Bini.

Pemandangan dari Puncak Batu Bini

Ya, begitulah laporan bulananku kali ini. Semoga bulan depan hari-hariku semakin baik dan produktif. Aamin.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates