Monday, October 16, 2017

[Review Novel] Heart of Thunder

Hai, semuanya ...

Lama gak posting. Lama gak nulis review buku. Lama gak baca. Lama gak nyemplung di dunia baca tulis lagi bikin aku kangen. Jadi, sekarang aku mau posting review novel lama yang kupinjam dari perpustakaan kotaku. 

Kebanyakan kerjaan di dunia nyata (alasan) membuatku hampir lupa bagaimana asyiknya membaca sambil goler-goleran seperti dulu. Kebanyakan pengantar, nih. Yuk, langsung review novelnya.

Judul novel yang kubaca kali ini adalah Heart of Thunder. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ini novel terbitan lama dan setting waktu yang digunakan penulis pun jauh kembali ke masa lalu. Aku berasa terbawa ke abad 18 di mana saat itu, di Benua Amerika sedang terjadi demam emas. Saat di mana alat transportasi utama adalah kuda dan kereta kuda, sehingga untuk perjalanan jauh memerlukan waktu berbulan-bulan. Kondisi padang pasir di Amerika yang menjadi setting tempat di novel ini pun membayang di khayalanku, betapa kosong tanpa gedung bertingkat seperti sekarang.

Novel ini bercerita tentang dua orang yang sama-sama keras kepala dan gengsi mengakui bahwa mereka saling jatuh cinta. Konflik utama dalam novel ini adalah usaha Hank Chevez untuk mendapatkan kembali rumah dan tanah milik keluarganya yang dirampas oleh pemerintah Meksiko. Namun, ternyata tanah tersebut sudah dibeli oleh ayah Samantha Kingsley -tokoh perempuan utama dalam novel ini. Dari sanalah interaksi antara Hank dan Samantha bermula. Kebencian di antara keduanya membuat rumit perasaan cinta yang mulai tumbuh.

Meski terlihat ringan, tapi menurutku tema yang diangkat dalam novel ini cukup sadis -yaitu usaha untuk mengambil/mempertahankan hak dengan berbagai macam cara. Entah karena memang kultur zaman dahulu yang memang penuh kekerasaan atau penulis memang sengaja mengangkatnya agar menjadi alasan yang memperkuat setiap langkah yang diambil tokoh-tokoh utama.

Plot cerita dalam novel ini apik dan natural. Tak heran, karena penulisnya adalah Johanna Lindsey, The #1 New York Times Bestselling Author. Menurutku, ia piawai sekali menulis novel bergenre fiction historical romance ini. Terdapat dua sesi utama dalam novel ini, yaitu perkenalan dan konflik tokoh di Meksiko dan proses penyelesaian konflik yang dimulai dengan pelarian diri Samantha ke Inggris. Kedua sesi utama tersebut terjalin dengan rapi sehingga membentuk plot yang bagusnya juara.

Karakterisasi kedua tokoh utama sangat kuat sehingga mengendalikan jalan cerita di keseluruhan cerita. Meskipun sama-sama keras kepala, tapi emosi yang berasal dari hati juga kadang mempengaruhi keputusan pasangan ini. Penggambaran karakter yang mampu mengungkapkan apa yang ada di kepala masing-masing tokoh membuat cerita dalam novel ini terasa nyata.

Judul: Heart of Thunder (Cinta yang Tersisa)
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Dastan Book
Tahun terbit:2011

Di balik 'kesempurnaan' novel ini, ada beberapa kesalahan ketik nama yang kutemukan pada versi terjemahan ini. Misalnya pada halaman 308. Tertulis, "Aku memaksa. Dan itu alasan yang cukup bukan?" Samantha menyeringai. Seharusnya yang menyeringai adalah Hank pada konteks pembicaraan tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi favoritku dalam novel ini. Salah satunya adalah ungkapan-ungkapan Bahasa Spanyol, yang terlihat cantik dibaca. Seperti kata Gatita,  Dios Mio, Querida, dan Amigo.

Aku juga suka scene di halaman 377 saat Hank tidak percaya pada penjelasan Lorenzo betapa Samantha mengkhawatirkannya, bahwa Hank sangat berarti bagi Samantha. Hank hanya bisa berkata, "Sialan!" Bukan karena ia merasa Samantha mengasihaninya tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa binar cinta yang sama juga tumbuh di hatinya.

Bagian lain yang juga menjadi favoritku adalah ketika akhirnya Samantha mengkonfrontasi Hank di halaman 465 dan keduanya berbicara panjang lebar mengenai perasaan gila merek. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama.

Ya, novel dengan tebal 476 halaman ini memiliki pesan jika cinta mampu mengalahkan ego, keras kepala, dan gengsi sepasang kekasih. Pikiran negatif juga perlu disingkirkan sebelum mempengaruhi keputusan atau menjadi sesal karena ternyata kenyataannya berbeda. Dan yang terpenting, kalau cinta ya bilang saja. ^^

Monday, September 25, 2017

[Review Novel] Identity : Unknown

Jujur saja, sebelumnya aku hampir tak ingin melanjutkan membaca novel ini setelah bab pertama. Karena kesan yang kudapat dari ceritanya begitu berat, padahal tujuanku membaca saat itu untuk mendapatkan hiburan dari cerita yang ringan. Foto di covernya pun tidak menyiratkan isi cerita yang indah meski ada label Harlequin di ujung kiri atas. Namun, ketika tak ada pilihan kegiatan lain maka aku membaca satu-satunya novel yang belum kubaca yang ada di rumah, yaitu novel yang berjudul Identity:Unknown ini.

Tema utama dari cerita ini adalah seorang pria amnesia yang lupa sebagian besar dari dirinya dan hanya mengingat hal-hal kecil seperti ukuran celana. Pada bab pertama diceritakan ia terbangun di sebuah rumah singgah dengan kondisi tubuh yang buruk. Pria yang merawatnya memanggilnya Mish -Mission Man. Ya, ia lupa namadirinya sendiri. Satu-satunya petunjuk tentang jati dirinya terdapat di dalam sepatu bot yang tak pernah terlepas dari kakinya, yaitu sebuah pistol, uang palsu, dan kertas kecil. Alamat di dalam kertas kecil tersebut kemudian membawanya kepada Becca Keyes, seorang manajer cantik sebuah ranch.

Di lain pihak, ada sekelompok orang yang ingin menemukan Mish. Namun, ketidakpastian pengetahuan Mish tentang dirinya sendiri membuat ia menghindari kelompok yang memata-matai dirinya tersebut. Mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam juga membuatnya yakin bahwa ia mungkin adalah seorang penjahat. Karena itu pula ia tak ingin terlibat terlalu jauh dalam hubungan asmara, meski Becca Keyes tidak peduli dengan masa lalunya.

Judul : Identity: Unknown
Penulis: Suzanne Brockmann
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2010

Membaca novel ini sedikit membuatku baper. Bagaimana rasanya menjadi Mish yang terpaksa menahan dirinya agar keselamatan Becca tetap terjaga. Itu wujud cinta yang manis sekali.

Aku selalu menyukai gaya bahasa novel terjemahan. Ringkas, tapi memuat banyak informasi pada setiap kalimatnya. Meski tema tentang pencarian jati diri si tokoh utama membuat novel ini berat, tapi aku tetap merasa terhibur karena gaya bahasa penerjemah yang apik. Jangan lupa, cerita cint antara Mish dan Becca juga merupakan alasan lain mengapa aku tertarik untuk melahap habis novel ini.

Setting tempat novel ini ada di Wyatt City, New Mexico dan beberapa kota di sekitarnya. Setting dijelaskan dengan baik oleh penulis, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana suasana gersangnya kota berpadang pasir tersebut. Tidak disebutkan tahun berapa cerita dalam novel ini terjadi. Namun, aku menduga dari settng suasana yang digambarkan oleh penulis dalam cerita kemungkinan besar isi novel inibersetting pada tahun 1980-1990.

Kekurangan novel berjumlah 343 halaman ini menurutku ada di penjelasan bagaimana kertas kecil yang berisi alamat ranch Becca Keyes bisa ada di dalam separu bot Mish. Padahal jelas sekali itu bukan miliknya. Hal ini juga terkait dengan bagaimana kronologi detik-detik Mish sebelum mengalami annesia.

Monday, September 4, 2017

Pengobatan Benjolan di Leher (3)

Hai, semuanya. Wah, cukup lama ya aku tidak bercerita tentang perkembangan proses pengobatan TB kelenjar yang sedang  kujalani. Belum sempat nulis, alasan banget nih. Sebenarnya akhir September nanti, pengobatannya dijadwalkan sudah selesai. Namun, sebelum itu aku mau cerita tentang awal-awal deteksi penyakitnya supaya nyambung dengan cerita di postinganku yang berjudul Pengobatan Benjolan di Leher (1) dan (2).

Ruangan Konsultasi

Singkat cerita pada tanggal 5 atau 6 Desember 2016, aku sudah berada di ruangan dr. Barliana, seorang dokter patologi di Klinik Ahla Assyifa, Kandangan. Selain sang dokter, di ruangan tersebut juga ada dua orang asistennya yang akan membantu proses biopsi. Aku dipersilakan rebahan di atas ranjang yang terdapat d ruangan tersebut. Kepalaku diminta untuk menghadap ke kiri, karena benjolan yang akan disedot cairannya ada di sebelah kanan leherku. Aku pun menoleh ke arah kiri, persis menghadap dinding. Kemudian terasa sedikit sengatan kecil seperti disuntik. Tak lama kemudian, rasa sakit tersebut sudah hilang. Ternyata proses biopsinya sudah selesai. Tanpa pembiusan. 

Dokter Barliana kemudian menjelaskan bahwa pada hasil pengamatan sementara tersebut tidak ditemukan sel ganas. Namun, terdapat banyak jaringan nekrotik yang artinya jaringan tersebut sudah mati dan tidak aktif lagi. Entah apa relevansinya dengan penyakitku. Yang jelas, untuk penjelasan lebih lengkap hasilnya dapat diambil 2-3 hari kemudian kata beliau. 
  
Karena aku menolak metode operasi untuk deteksi jenis penyakit, maka dr. Nanda merujuk aku ke sebuah klinik yang bisa melakukan FNAB. Biopsiasi Jarum Halus atau Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) adalah penyedotan sedikit massa/cairan dari kelainan di tubuh (pada kasusku, ya benjolan di leher ini) untuk kemudian dideteksi secara mikroskopis. Aspirasi atau penyedotannya menggunakan sebuah jarum, mirip seperti syringe.

Meski sudah selesai aku tetap disuruh menghadap ke kiri, jaga-jaga jika kemungkinan biopsinya akan diulang. Aku hanya mendengar si dokter memerintahkan beberapa instruksi kepada kedua asistennya dan bunyi alat yang cukup bising, aku menebak-nebak alat apa yang berbunyi tersebut. Namun, aku belum bisa mengenalinya. Ketika kepalaku sudah boleh ditolehkan ke kanan ternyata proses identifikasi sementara lewat mikroskop oleh dokter sudah selesai. Yaaah, padahal aku kan ingin melihat dokter membuat preparat dari jarinfan yang ia ambil. Saat itulah aku baru sadar, alat yang berbunyi tadi adalah hairdryer untuk mengeringkan preparat yang telah diwarnai sebelum diperiksa di bawah mikroskop. Pantas tidak terdengar asing. Di lab dulu, pewarnaan Gram adalah salah satu metode dalam penelitianku.

Hasil pewarnaan Gram

Tanggal 8 Desember kemudian aku mendapat sms pemberitahuan bahwa hasil uji lab milikku sudah bisa diambil. Namun, karena beberapa hal hasil tersebut baru bisa kuambil tgl 16 Desember. Alhamdulillah, inti dari hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada potensi kanker ganas. Hanya memang gejala yang kualami menunjukkan adanya infeksi tuberculosis kelenjar.

Hasil Pengujian Laboratorium

Jika benjolan menunjukkan pengecilan atau bahkan hilang, maka setelah pengobatan 6 bulan pengobatan akan dihentikan. Namun jika volume benjolan masih tetap atau bertambah maka pengobatan akan ditambah hingga 3 bulan lagi.
Antri
Karena kesibukan dan lain hal aku baru bisa konsultasi ke dokter di rumah sakit pada tanggal 28 Desember. Seperti biasa konsultasi ke rumah sakit memakan waktu yang lama sekali karena harus antri. Tiga setengah jam harus dikhususkan untuk meluangkan waktu. Jam 10 aku ke rs. Antri di loket BPJS hampir 1 jam, lalu ke loket pendaftaran sebentar saja karena sudah siang dan loketnya hampir tutup untuk menerima pasien rawat jalan. Nah menunggu di polinya ini yang lama. Aku baru bisa pulang jam 13 30. 

Konsultasi  dengan dr. Priha hanya sebentar. Beliau melihat hasil biopsiku dan kemudian mengatakan bahwa sampai saat ini dapat disimpulkan bahwa aku terkena peradangan kelenjar getah bening akibat infeksi bakteri tb. Proses pengobatannya akan membutuhkan waktu selama 6 bulan berturut-turut. Beliau kemudian membuat surat rujukan balik ke puskesmas agar aku tidak perlu lagi ke rumah sakit untuk mengambil obatnya. Namun, ketika masa pengobatan sudah hampir habis aku harus ke RS lagi agar beliau mengetahui perkembangannya.

Ya, akhir tahun lalu di hidupku aku menerima vonis penyakit yang mungkin tidak terlalu berat tapi membutuhkan konsistensi. Bayangkan saja, menenggak obat selama 6 bulan berturut-turut. Pasti tidak mengenakkan. Tunggu ceritaku selanjutnya ya tentang proses pengobatanku dengan minum Obat Anti Tuberculosis (OAT).

Monday, August 28, 2017

Tak Ada Sekolah yang Benar-benar Gratis

Di suatu Minggu pagi, aku dan suami bersantai di rumah sambil membicarakan berbagai macam hal. Tak sengaja, mata kami tertuju pada seorang anak perempuan di halaman rumah yang menyatu dengan halaman rumah tetangga. Anak tetangga itu bernama Viva dan ia terlihat sendu. Aku baru teringat dengan obrolanku dan mama beberapa hari yang lalu bahwa kalau Viva tidak dapat melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya. Padahal besoknya adalah hari pertama sekolah, masa pendaftaran murid baru sudah lama usai. Aku dan suami yang prihatin dengan keadaannya berembuk mencari cara agar bisa membantu anak tersebut.


Keesokan harinya, Senin malam, setelah pulang dari aktivitas masing-masing, kami pun berbicara kepada neneknya. Ya, Viva memang tinggal bersama neneknya. Dari penuturan mereka, Viva memang tidak bisa melanjutkan sekolah karena kendala ekonomi. Meski sebenarnya Viva masih memiliki kedua orangtua, tapi mereka sudah bercerai dan masing-masing menikah kembali dan memiliki anak lagi dari hasil pernikahan baru mereka. Mungkin pendidikan bagi anak mereka yang terdahulu bukan prioritas bagi sepasang mantan suami-istri tersebut selain mungkin juga karena alasan ekonomi.

Tidak hanya Viva yang putus sekolah, kakak laki-lakinya pun yang lebih tua satu tahun darinya juga harus melepas bangku sekolah setelah semester pertama di SMP. Alasan utama neneknya pada saat itu adalah karena tidak mampu memperbaiki sepeda yang memang setiap hari digunakan oleh Adi –kakak Viva, untuk ke sekolah. Oleh karena itu, suami menawarkan untuk membantu keduanya agar bisa bersekolah (kembali). Keduanya mengangguk senang meski terlihat ragu-ragu.

Kami pun menjelaskan kepada si nenek bahwa kami akan membantu pengurusan masuk sekolah (yang sudah sangat terlambat) dan menyediakan beberapa kebutuhan awal yang penting untuk masuk sekolah. Si nenek tinggal memberikan uang saku saja, toh kalau mereka tidak bersekolah pun uang jajan tetap keluar kan? Persyaratan kami untuk neneknya hanya satu, jika dana dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) keluar, uangnya tidak diserahkan ke neneknya tapi dikelola oleh sekolah agar kebutuhan keduanya untuk sekolah bisa dipenuhi.

Beberapa siswa yang mendapatkan dana KIP di sekolah suamiku menerapkan cara ini dan berhasil mereka tetap bisa sekolah tanpa terlalu memberatkan orangtua atau wali mereka. Semoga kasus Viva dan Adi juga bisa diselesaikan dengan solusi tersebut.  Saat SD, sebenarnya mereka juga pernah mendapatkan dana KIP. Sayang, uangnya tidak dikelola untuk kebutuhan sekolah malah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari yang konsumtif. Jika dana tersebut dikelola dengan baik, aku yakin mereka bisa melanjutkan sekolah tanpa kekhawatiran akan biaya karena ada dana simpanan untuk membeli alat sekolah atau bahkan biaya tak terduga seperti memperbaiki sepeda rusak.

Untuk memberi pemahaman kalau sekolah itu penting aku berujar kepada si nenek. Nenek mungkin masih bisa hidup dengan nyaman hingga berpuluh-puluh tahun kemudian sebagai orang tua, tapi apa yang akan dialami oleh Viva dan Aldi sepuluh atau 20 tahun yang akan datang? Mereka akan menjadi pemuda dan pemdi, yang jika tidak mengenyam pendidikan mungkin akan menjalani kehidupan yang berat. Well, ini tahun 2017 di mana banyak sarjana yang menganggur. Lalu, bagaimana kabarnya 20 tahun yang akan datang jika ada pemuda tamatan SD di antara para lulusan sarjana? Kemungkinan bekerja di lapangan pekerjaan yang layak akan sangat kecil. Mereka mungkin hanya akan melanjutkan hidup sebagai manusia biasa yang menikah, banting tulang, mempunyai keturunan, lalu mewariskan kemiskinan dan kebodohan yang telah terjadi kepada ayah dan ibu mereka.

Alasan utama si nenek adalah ketidakmampuan ekonomi. Aku bisa memahami mengapa nenek tersebut berpikir sesempit itu. Beliau berpendapat bahwa sekolah hanya menghabiskan uang dan waktu, lebih baik mereka bekerja atau menikah. Suamiku langsung berkata bahwa jika kita menyuruh mereka bekerja di usia sekolah seperti ini, kita akan kena undang-undang eksploitasi anak. Aku jelas tidak bisa menghakimi bagaimana pola berpikir nenek dan kedua orangtua anak ini. Setidaknya, aku sudah berusaha membantu semampunya. Kalau kata suami, kita hanya memulai, sisanya biar Allah yang bereskan.

Kebutuhan utama mereka adalah sepeda dan seragam. Untuk sepeda, kami memberi pinjaman sepeda yang sebenarnya sudah butut untuk mereka pakai ke sekolah setiap hari. Dari hasil tanya sana-sini, kami pun mendapatkan bantuan seragam sekolah dari keluarga dan teman yang sudah tidak terpakai. Alhamdulillah, sisanya tinggal membelikan beberapa warna rok, sepatu, buku, serta alat tulis. Memang tidak ada sekolah yang benar-benar gratis, meski bantuan dari pemerintah berupa dana KIP sudah ada. Setidaknya saat masuk sekolah baru seperti mereka ini, ada banyak hal yang harus dibeli sebagai modal belajar.

Singkat cerita, Viva pun didaftarkan di sebuah MTS negeri terdekat. Ia pun diterima dengan tetap mengikuti tes dan membayar biaya pendaftaran seperti siswa lainnya. Padahal saat mendaftar sudah diberi tahu kepada pihak sekolah kalau ia termasuk dalam kategori anak kurang mampu. Tapi mau bagaimana lagi, sekolah pun tak bisa menggratiskan biaya pendaftaran yang memang digunakan untuk membeli berbagai macam atribut sekolah tersebut. Sebut saja seragam olahraga, lambang (badge) untuk seragam, topi, kerudung, dan kain batik. Belum lagi biaya yang digunakan untuk menjahit baju dan memasang badge di seragam. Kata siapa sekolah benar-benar gratis?

Berbeda dengan Viva, si Adi tidak terlalu bisa diajak ‘bekerja sama’. Karena kebutuhan Viva sudah cukup menguras kantong, kami meminta Adi untuk sedikit bersabar hingga dana KIP keluar. Kami meminta ia untuk menggunakan satu sepeda dengan Viva saat berangkat ke sekolah, toh arah sekolah mereka sama. Untuk seragam katanya ia masih punya yang lama, hanya sepatu yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Kata neneknya, ada sih sepatu uwa (kakak ibu)nya dan muat di kaki si Adi. Namun, saat hari Rabu saat ia dipersilakan masuk karena sudah disetujui oleh pihak sekolah, ia tidak berangkat-berangkat juga untuk sekolah. Hingga hari ini.

Miris sebenarnya, di samping juga tidak bisa berbuat lebih jauh. Lebih tepatnya kami kurang bersemangat untuk mengusahakannya karena melihat semangat Adi untuk sekolah juga tidak sebesar Viva. Untuk menghibur diri, aku senang melihat perkembangan sekolah Viva. Sampai saat kutulis artikel ini, Viva sudah bersekolah lebih dari satu bulan (tanggal awal masuk : 17 Juli 2017). Ia adalah orang pertama di keluarganya yang bisa mengenyam pendidikan menengah pertama. Ada banyak hal yang ia ceritakan tentang sekolah barunya ketika aku menanyainya bagaimana keadaannya. Ada banyak hal pula yang menjadi kebutuhan tambahannya, seperti buku gambar, alat gambar dan warna, juz amma, atlas, LKS mata pelajaran, dll. Sekali lagi, tidak ada sekolah gratis hari ini.

Viva juga sedang semangat-semangatnya ikut ekskul pramuka yang memang diwajibkan di sekolahnya. Meski pada saat mendaftar kemarin, suamiku sudah meminta izin kepada gurunya agar ia diberi keringanan untuk tidak ikut pramuka. Karena kalau ikut pramuka artinya Viva harus menambah jam ke sekolah dan itu akan menambah beban neneknya memberi uang saku. Ternyata hingga hari ini tak ada komplain dari neneknya, jadi kami biarkan saja ia menikmati ekskul tersebut. Meski itu artinya ia membutuhkan beberapa kebutuhan baru seperti celana pramuka, topi, dan tali kor. Aku penasaran, apakah ayah ibunya tahu detail keperluan sekolah anaknya sebanyak itu?

Semoga Viva bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik. Juga semoga dana KIP yang memang bertujuan untuk meringankan beban siswa kurang mampu, tepat sasaran dan bisa menutupi segala kebutuhan sekolah Viva, kalau bisa hingga lulus sekolah menengah atas nanti. Aamiin.


Wednesday, August 9, 2017

Rangkuman VLOG Bernard Batubara – Menulis Draft Pertama


1. Ide
2. Sinopsis
  • Tokoh utama
  • Konflik
  • Klimaks
  • Penyelesaian
  • Keseharian tokoh utama
3. Plot : Lebih detail daripada sinopsis
4. Outline : Daftar bab + adegan utama (scene)
5. Draft pertama : Tentukan DL + rutin menulis
6. Editing

Tuesday, August 1, 2017

Pengalaman PKK


Jadi ceritanya, dulu sambil menunggu hari wisuda, aku pulang kampung. Waktunya lumayan lama, karena ada jeda sekitar 1-2 bulan dari beresnya urusan skripsi hingga waktu wisuda. Untuk mengisi masa libur tersebut aku diajak mama untuk masuk dalam anggota PKK di desa. Ga minat sebenarnya, tapi hitung-hitung bisa nambah pengalaman. Toh ga ada yang dikerjain juga ini.

Logbook PKK
Singkat cerita, masuklah aku dalam jajaran pengurus PKK desa. Ga tanggung-tanggung, langsung dimasukkin sebagai ketua Kelompok Kerja (Pokja) 1 yang membidangi masalah keagamaan. Mana paling muda sendiri. Sungguh, anggota kelompok kerjaku ibu-ibu semua. Mana tega main suruh ini itu. Jadi beberapa tugas yang agak pelik, kuhandle sendiri. Termasuk mengisi logbook kegiatan yang banyaknya minta ampun dan rata-rata isinya fiktif itu. Heh.

Goal yang diinginkan aparat desa sih agar PKK desaku bisa bersaing dan bahkan menang di penilaian desa beberapa bulan yang akan datang. Singkat cerita, hari penilaian tiba. Aku yang sudah mulai bekerja terpaksa harus izin ke atasan dengan alasan ada lomba desa.

Deg-degan juga sih, takutnya pas penilaian ditanya macam-macam. Alhamdulillah, semuanya terlewati dengan baik. Hasilnya pun baik. Ga sia-sia perjuangan rapel ini itu. Hihi.

Sekarang ini aku sudah vakum dari kegiatan PKK, fokus kerja di kantor aja. Kadang kalau ada event yang melibatkan pihak di luar desa, barulah aku berhadir.

Yup, sekian ceritaku tentang pengalaman jadi ibu-ibu PKK. Asyik sih, tapi sama sekali bukan passionku. Hihi


Tuesday, July 11, 2017

Foto-foto Banjir di Barabai














Monday, July 10, 2017

Sudut Kamar

Foto-foto ini kupublish sebagai bentuk 'pengabadian' beberapa sudut kamar kecilku.







7 Tips Menarik Pembaca Blog

Bagi seorang bloger, kunjungan para pembaca di blognya adalah anugerah. Semakin banyak pengunjung, artinya isi blognya semakin disukai. Kemungkinan menambah pundi-pundi penghasilan pun semakin bertambah. Persoalannya, tidak semua bloger mempunyai banyak pengunjung.

Lalu bagaimana cara menarik pembaca agar terus mengunjungi blog kita? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk meningkatkan page view sebagai pengukur kuantitas pengunjung blog.

1.     Berikan judul artikel yang dapat menarik minat pembaca, tapi tetap sesuai dengan isi postingan.

2.     Tulis artikel yang bermanfaat atau menghibur. Dua jenis tulisan ini adalah jenis tulisan yang paling banyak orang cari di internet.

3.     Menulis dengan metode piramida terbalik. Piramida terbalik adalah metode menulis dengan meletakkan informasi utama berupa unsur 5W (who, what, when, where, dan why) di paragraf pertama. Informasi tambahan kemudian diletakkan pada paragraf-paragraf selanjutnya.

Piramida Terbalik

4.     Berikan sentuhan personal dalam setiap tulisan, karena pembaca blog yang loyal biasanya menyukai penulis blog yang menyelipkan pengalaman pribadi pada setiap postingan yang dipublish.

5.     Masukkan konten lain pada artikel blog seperti gambar, infografis, atau video.

6.     Usahakan satu artikel yang dipublish tidak terlalu panjang. Meski katanya Google suka dengan artikel yang komprehensif, tapi mata para pembaca juga bisa lelah. Kalau pembahasannya memang banyak, bagi menjadi 2 atau hingga 3 bagian.

7.     Bagikan tautan postingan blog di media sosial secara berkala.

Nah, itu tadi 7 tips menarik pembaca blog. Semoga bisa diterapkan dan jumlah pengunjung blog bisa jadi lebih meningkat.



Artikel terkait :

Monday, July 3, 2017

Eksplor Danau Panggang

Untuk memanfaatkan waktu libur lebaran, aku memaksa mengajak suami untuk jalan-jalan ke Danau Panggang, Amuntai. Daerah yang terkenal dengan wilayah danau rawa dan kerbau rawanya tersebut sebenarnya sudah menarik minat travellingku sejak lama. Namun, belum ada kesempatan yang pas untuk menjelajahnya, terutama karena waktu libur yang terbatas dan jarak yang cukup jauh dari tempatku berdomisili.

Kamis, 29 Juni 2017 adalah hari di mana kesempatan itu datang. Aku yang awalnya uring-uringan karena saat libur panjang belum bisa kemana-mana akhirnya jadi bersemangat setelah suami menyetujui whistlist lamaku tersebut. Kebetulan pula, kami sudah kehabisan destinasi wisata di dekat-dekat rumah. Hampir semua tempat sudah kami eksplor, sehingga kami mulai merambah ke destinasi yang agak jauh.

Karena sibuk berdebat tentang ini itu, aku dan suami baru siap berangkat pada pukul 9 pagi. Saat itu, tiba-tiba teman suami menelpon. Menanyakan apakah suami akan bareng bersama dengannya ke resepsi pernikahan keluarga teman mereka. Astaga, suami menepuk jidatnya. Dia baru ingat ada undangan itu. Jadilah kami ke acara itu dulu di Desa Palajau-Munjung, Kec. Batumandi, Kab. Balangan. Cukup jauh dari rumahku yang ada di Desa Labunganak, Kec. BAU, Kab. HST. Tapi aku senang-senang saja, karena artinya kami akan melewati jalan yang berbeda daripada biasanya karena dari sana kami bisa langsung go to Amuntai.

Setelah menghadiri resepsi dan beramah tamah dengan teman-teman suami, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menunjukkan sekitar jam setengah 11. Kali ini kami lewat jalan utama yaitu lewat jalur Lampihong-Batumandi. Tidak seperti waktu terakhir kami ke sana yaitu lewat jalan tembus dari Desa Teluk Masjid- HST ke Desa Banjang-HSU. Pertimbangannya karena pertama tadi waktu keluar dari Desa Palajau kami sudah melewati belokan menuju Desa Teluk Masjid. Kedua, kami harus mengisi bensin di Desa Riwa yang jika lewat jalan Banjang tidak terlewati, dan ketiga jalannya cukup mengerikan, becek apalagi jika habis hujan lebat seperti kemarin. Maklum, wilayahnya didominasi oleh jalanan setapak di tepi sawah.

Sampai di pusat Kota Amuntai, waktu sudah menunjukkan waktunya sahalat zuhur. Di simpang 4 Pelampitan, suami mulai mengaktifkan GPS. Yeah, thanks to GPS. Di perempatan tersebut kami belok kanan, arah ke Desa Sungai Malang. Setelah itu aku lupa kami melewati desa apa saja, pokoknya kami ikut saja petunjuk arah yang diberikan oleh suara cantik GPS. Hingga kami tiba di sebuah pertigaan yang di peta GPS bertuliskan Danau Panggang, sedangkan papan petunjuk jalan memberikan arah untuk berbelok ke kanan.

Papan Penunjuk Arah ke Danau Panggang

Kami pun berbelok ke kanan sebelum jembatan besar yang melintang di atas sebuah sungai yang cukup besar. Kelak, kami mengatahui bahwa petunjuk jalan yang dimaksud adalah untuk jalan di seberang jembatan. Namun, karena kami melihat jalannya masih satu lajur yaitu menyisir sungai, maka kami terus menyusuri jalan hingga berhenti di sebuah masjid di Desa Banua Hanyar untuk melaksanakan shalat zuhur.

Untuk memastikan arah, suami bertanya sebelum berwudhu kepada seorang pemuda yang berada di masjid. Katanya jalan kami sudah benar, tinggal nyebrang, terus belok kanan lalu lurus. Mau ke Guru Danau kah? tanyanya. Suamiku tersenyum, lalu menggeleng. Ya, aku lupa menceritakan bahwa hal lain yang terkenal dari Danau Panggang adalah seorang ulama atau kyai dari Danau Panggang, beliau lebih dikenal dengan sebutan Guru Danau. Ada yang unik di halaman samping masjid ini, yaitu adanya kuburan yang ditumbuhi padi di sela-sela batu nisannya.

Padi di antara Nisan

Selesai shalat, kami pun melanjutkan perjalanan. Ternyata masih jauh, sekitar 12 km lagi. Perjalanan pun terasa sedikit membosankan karena lurus saja. Oya, sepanjang jalan tersebut, tak kurang dari 5 buah rsespsi perkwinan kami lewati. Kami akhirnya tiba di pertigaan dan belok ke kiri yang terlihat lebih meyakinkan karena jika lurus saja sepertinya adalah kompleks pengajian Guru Danau dan terlihat buntu. Karena GPS sudah kami matikan sejak di masjid tadi, kami pun tebak-tebak buah manggis, hingga melewati sebuah warung makan.

Makan Siang dulu ye kan

Perut kami keroncongan jadi kami mampir untuk mengisinya. Beruntung, menunya cukup enak. Nasi sop plus sate. Di sana, kami ‘wawancara’ singkat dengan pemilik warung. Kebetulan sekali, di dekat warung makan tersebut adalah kantor Kecamatan Danau Panggang. Wah, wah, berarti kami saat itu sedang berada di ‘pusat’ Danau Panggang. Jika terus mengikuti jalan kata si pemilik warung maka akan tembus ke Babirik dan Alabio, berputar. Usut punya usut lokasi kerbau rawa ternyata hanya bisa dicapai dengan menggunakan kelotok atau speedboat yang bisa ditemukan di pelabuhan.

Kompleks Pengajian Guru Danau

Gerbang Dermaga Danau Panggang
Setelah menuntaskan urusan perut, kami pun menuju pelabuhan Danau Panggang yang terletak tepat di belakang masjid kompleks pengajian Guru Danau yang telah kami lewati tadi. Tidak banyak aktivitas yang terjadi di sana. Hanya warung-warung di tepi sungai saja yang ramai. Karena belum bisa memutuskan apakah kami akan naik perahu atau tidak, maka kami memutuskan untuk mengeksplor area sekitar terlebih dahulu. Dari pelabuhan, kami melihat sebuah jembatan kayu, kami pun menyeberang ke sana. Ternyata jembatan tersebut menghubungkan titian kayu ulin yang merupakan tanah para warga yang mempunyai rumah di atas rawa di tepi sungai.

Titian tersebut ternyata berkelok-kelok-kelok dan hanya ada satu lintasan. Kami bisa memandang rawa luas dengan leluasa. Jauh-jauh, hingga ke kaki langit. Sayang, ada begitu banyak tumbuhan air yang menutupi permukaan. Harusnya praktikum mata kuliah Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah (PLLB) ke sini ya.

Pemandangan Sungai dari Pelabuhan

Desa Rintisan, Desa di Atas Rawa

Sekitar 3 km mungkin titian kayu tersebut akhirnya membawa kami ke sebuah desa bernama Desa Rintisan. Tepat di dekat kantor desa tersebut terdapat jembatan tinggi yang menghubungkan titian seberang dengan sebelah sini. Ya, semuanya berada di atas danau, tepatnya rawa. Setelah puas menikmati pemandangan dan berfoto kami pun pulang melewati titian ulin yang sama. Saat kami bertanya kepada anak kecil yang lewat di atas jembatan mereka bilang bahwa kami tidak bisa melanjutkan perjalanan lewat jalur selanjutnya karena titian ulin yang menghubungkan dengan daratan di ujung yang lain sudah rusak sehingga akses terputus.







Sayang memang, aku tak bisa melihat langsung peternakan kerbau rawa atau kalau dalam Bahasa Banjar biasanya disebut sebagai hadangan. Tapi rasanya juga tidak terlalu rugi, karena aku telah menjelajah perkampungan di atas rawa dengan sepeda motor. Di sepanjang perjalanan melewati titian ulin tersebut aku harus lebih banyak tersenyum kepada ibu-ibu,bapak-bapak, atau anak-anak yang duduk nongkrong di teras rumah mereka yang jaraknya sangat dekat dari titian ulin yang kami lewati. Jalur tunggal begini, bahaya juga kalau kami kelihatan berbahaya di mata mereka.

Sampai di pelabuhan, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang melewati jalan yang sama. Tiba di sebuah pertigaan, kami agak ragu ingin lurus atau belok kanan. Malas buka GPS. Lalu aku menyarankan belok ke kanan, kalau pun salah sepertinya akan tetap keluar di titik yang sama, yaitu simpang 4 Pelampitan. Nah, sebelum simpang 4 tersebut kami merasa ngantuk, jadi kami mampir di sebuah masjid dan tidur. Tak lama kemudian azan ashar berkumandang. Alhamdulillah, kami sempat terlelap. Setelah menunaikan shalat ashar kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini aku meminta ke suami untuk lewat Desa Sungai Buluh, tidak lewat Desa Lampihong lagi. Ya, aku ingin melihat sisi lain ujung HST bagian selatan. Sungai Buluh ternyata lokasinya jauh sekali dari Kota Kabupaten. Kanan kiri jalan raya pun rawa, bukan sawah. Sama persis dengan daerah Danau Panggang tadi. Akhirnya kami tiba di Kec. Pandawan, lalu Kota Barabai. Sudah terasa di rumah sendiri kalau sudah di sini karena tiap hari bolak-balik kantor lewat kota.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menjelajah Danau Panggang dan berputar-putar di 3 Kabupaten, yaitu HST, Balangan, dan HSU. Melelahkan, tapi puas. Iseng, aku memantau jarak yang diperlihatkan spedometer dari awal perjalanan pulang hingga sampai ke rumah. Ternyata di perjalanan pulang tadi kami menempuh jarak  80 km. Kalikan 2 saja untuk perjalanan berangkat, berarti kami menghabiskan waktu di jalan hari ini sejauh 160 km sejak jam 9 pagi hingga jam 7 petang.

How to I Spend My Long Holiday at Lebaran

Libur lebaran tahun ini sempurna sekali. Bagi yang bekerja kantoran, liburannya bisa sampai 10 hari. Amazing banget bagiku yang hanya terbiasa libur weekend dan tanggal merah. Apalagi bagi yang bekerja sebagai guru, libur Ramadhan saja sudah hampir sebulan penuh. Tambahan lagi, libur lebaran hingga tanggal 16 Juni, satu minggu lebih lama daripada pegawai kantoran.

Aku tidak mengagendakan pergi kemana-mana untuk mengisi libur panjang ini berhubung  masih dalam suasana lebaran. Karena biasanya acara keluarga penuh di sana-sini. Jadi, apa saja yang kulakukan selama libur panjang ini? Check this out.

Day 1 : Jumat, 23 Juni 2017
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merasakan libur di weekday saat Ramadhan. Lega banget rasanya setelah hari kamis sebelumnya menyelesaikan urusan ini itu termasuk harus ke bank untuk menukar uang baru, hadiah buat para sepupu kecil.

Minal Aidin wal Faidzin

Hari ini kerjaanku adalah bersih-bersih rumah setelah tidur pu(l)as setelah subuh. Haha. Papa dan adik juga sudah pulkam sehingga rumah rasanya ramai. Namun, kami belum bisa buka bareng di rumah hari ini karena aku dan suami harus menghadiri acara bukber dengan teman masing-masing. Aku bukber bersama teman sekelas saat SMA dan suami bersama konco sekampungnya di rumah makan yang berbeda.

Day 2 : Sabtu, 24 Juni 2017
Hari ini ada acara buka bersama keluarga besar mama di rumahku. Ya, sebagai penutup Ramadhan tahun ini, bukber diadakan di rumahku setelah sebelumnya diadakan di rumah kakek dan tante. Duh, ramai sekali. Jarang-jarang kesempatan seperti ini bisa datang. Jadi seharian ini aku sibuk membantu mama mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari ke pasar saat subuh, menjemput sepupu kecil, menata ruangan, hingga preparing takjil.

Day 3 : Minggu, 25 Juni 2017
Nena Comel
Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Alhamdulillah, bisa bertemu kembali bersama sanak saudara, yang dekat yang jauh beramai-ramai pulang ke kampung halaman. Seperti biasa setelah ke masjid kami ngumpul ke rumah kakek yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumahku. Aku dan suami di sana hingga jam 11 siang, lalu bertolak ke rumah mertua untuk sungkem. Inilah enaknya punya suami masih satu kecamatan, ga perlu rempong mudik waktu lebaran. Hehe.

Di sana aku makan ketupat, mama mertua memang rajin masak ketupat tiap hari raya. Sepulang dari sana aku dan suami beristirahat hingga sore. Saat sore kembali lagi ke rumah kakek karena ada sepupu-sepupu mama dan keluarga besarnya yang silaturahmi di sana. Hingga petang menjelang, masih ada keluarga yang datang. Kali ini saudara nenek dan anak-anaknya yang datang dari Banjarmaisn, menginap di rumah kakek. Senangnya bisa bertemu mereka, apalagi ada si comel anaknya sepupu mama.

Day 4 : Senin, 26 Juni 2017
Hari ini agendaku adalah pergi ke arisan keluarga dari keluarga besar kakek di salah satu rumah keluarga yang berjarak hanya sekitar 15 menit dari rumah. Acara berlangsung dari pagi hingga makan siang. Alhamdulillah, pulang ke rumah perut sudah kenyang. Pulangnya kami mampir untuk bersilaturahmi ke rumah salah seorang teman suami.

Hari ini adikku mulai bertolak ke tempat perantauan kembali karena besok sudah harus mulai kembali bekerja. Sedih rasanya karena hanya bisa sebentar bertemu dengan satu-satunya saudara kandungku tersebut. Sore hingga malam, aku dan suami bertamu ke rumah sahabat suami yang punya anak kecil berumur sekitar 3 tahun. Duh, lucu sekali. Sementara suami asyik ngobrol dengan sahabatnya, aku bermain-main dengan si kecil Yaya dan mamanya.

Day 5 : Selasa, 27 Juni 2017
Hari ini aku mulai uring-uringan karena tidak ada agenda apapun. Mama dan papa pagi-pagi sudah berangkat ke Samarinda untuk menemui nenek yang tinggal di rumah uwa, kakak papa. Tambah sepi deh.

Aku ngerasa sayang, karena aku punya waktu sampai hari Minggu nanti untuk travelling ke tempat yang jauh. Ini liburan terpanjang yang pernah kumiliki setelah lulus kuliah. Namun, suami memiliki berbagai pertimbangan sehingga memutuskan kami diam di rumah saja selama liburan atau pergi ke tempat-tempat yang dapat dicapai sehari perjalanan. Sedangkan aku sudah kehabisan tempat tujuan wisata di dekat-dekat rumah. Oh, oh bingungnya aku.

Jadi seharian ini (setelah silaturahmi ke rumah mertua sebentar) aku hanya goler-goleran di rumah, sortir foto-foto, dan nongkrongin tv, ikut hobi suami. Alhamdulillah, sedang banyak film yang diputar selama libur lebaran. Beruntunglah sorenya hujan lebat sehingga membuatku merasa beruntung karena sedang tidak berada di luar.

Day 6 : Rabu, 28 Juni 2017
Hari ini pun sama, aku di rumah saja. Cuaca juga tidak bersahabat karena mendung dan hujan lebat. Aku stand by di depan tv setelah mandi, makan, dan beres-beres rumah. Hal yang sama sekali tidak bisa kulakukan saat tidak liburan. Sorenya, aku mengajak suami makan bakso di luar. Pulangnya mampir di rumah tante.

Day 7 : Kamis, 29 Juni 2017
Alhamdulillah, hari ini cerah dan aku memilih waktu yang tepat untuk berjalan-jalan. Hari ini aku berhasil ‘menyeret’ suami untuk berjalan-jalan ke Danau Pangggang, daerah rawa yang terkenal di Kalimantan Selatan. Puas rasanya mandi sinar matahari, foto-foto, dan menjelajah tempat baru. Malamnya kami tertidur cepat karena kecapekan.

Danau Panggang

Day 8 : Jumat, 30 Juni 2017
Pagi ini aku melayat ke rumah tetangga mertua yang orangtuanya meninggal dunia. Setelah itu ke orang selamatan di seberang rumah. Sisanya tidur-tiduran saja. Lagi-lagi sorenya hujan lebat.

Day 9 : Sabtu, 01 Juli 2017
Hari ini hari paling naas bagiku selama liburan. Ketika di perjalanan menuju ke resepsi pengantin seorang teman, motor kami mogok di tengah jalan sehingga kami harus memboyong motornya ke bengkel. Beruntung ada teman suami yang membantu dan meminjamkan motornya selama motor kami diperbaiki. Sampai di resepsi, acara sudah sepi karena keburu siang. Kami jadi tidak sempat bertemu pengantin karena sedang berganti gaun. Pulangnya kami kehujanan, lebat. Sampai basah semua. Mampir di rumah mertua untuk shalat zuhur lalu balik ke rumah untuk tiduran dan bersantai di rumah hingga malam. Hujan turun terus menerus hingga kami tertidur.

Day 10 : Minggu, 02 Juli 2017
The last day. Keluarga besar mamaku hari ini bikin acara masak-masak dan makan bersama. Spesialnya, kami makan siang ala piknik  di tempat wisata Manggasang. Yeah, penutup yang sempurna untuk libur panjang. Aku jadi puas berenang bersama suami dan para sepupu.

Piknik

Pelajaran yang bisa kuambil selama libur panjang kali ini adalah bahwa liburan tidak mesti ke tempat yang jauh. Bahkan bisa dihabiskan di rumah saja dengan cara tidur lagi setelah subuh, nonton tv sepuasnya, atau melakukan hobi indoor. Meskipun awalnya aku jengkel, tapi ternyata oke juga.

Inti dari liburan sebenarnya adalah melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan saat tidak liburan.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates