Tuesday, December 12, 2017

Review Novel : Heart and Salsa

Novel terjemahan ini bercerita tentang seorang cewek remaja bernama Cat yang bosan dengan kehidupannya di Boston. Pada suatu libur musim panas, ia pun mendaftarkan diri pada program Students Across The Seven Seas (SASS) sebagai bentuk pelarian diri yang formal. Pertama, karena di sana ia akan bertemu dengan Sabrina –best friend forevernya saat masih tinggal di Scottsdale, Arizona. Kedua, ia bisa menghindar dari waktu ‘mengakrabkan diri’ dengan Tedd –ayah tiri barunya.


Judul : Heart and Salsa
Penulis : Suzanne Nelson
Penerbit : Wortel Books Publishing
Tahun terbit : 2010

Di Oaxaca, Meksiko tempat Cat belajar selama libur musim panas ternyata ia menemukan banyak pengalaman baru, teman baru, dan bahkan pemikiran baru tentang sesuatu yang sama. Bagian menariknya tentu saja proyek bukan-kencannya bersama Aidan. Cowok asal Manhattan yang juga peserta program SASS membuat Cat benar-benar menyadari sisi feminisnya. Apalagi saat mereka berdua berjalan di atas awan, ya benar-benar di atas awan karena mereka berjalan di atas jembatan di antara kanopi pohon-pohon di hutan awan sebuah perbukitan Sierra del Norte.
 
Selain Aidan, Izzie saudara angkatnya selama tinggal di rumah orangtua asuhnya di Meksiko juga memiliki sistem penyambutan yang menakjubkan. Cat awalnya selalu merasa was-was. Bahkan ia menulis kekhawatirannya di buku harian yang menjadi blurb di bagian belakang sampul novel ini.

sumber foto : google

Selain bertemu orang-orang baru, ia juga bertemu dengan Sabrina. Meski itulah tujuan utama Cat mengikuti program ini namun semuanya tak berjalan lancar. Ada Brian pacar baru Sabrina di antara mereka dan benar saja cowok itu ternyata mampu membuat persahabatan mereka berdua sekarat. Ah, satu semester yang seru apalagi selama itu mereka juga terus berjalan-jalan ke tempat yang penuh edukasi dan di akhir perjalanan mereka disuruh mengumpulkan esai dalam bahasa Spanyol. Keren. Aku jadi bermimpi akulah yang mengikuti program tersebut. 

Dulu saat SMP aku memang pernah bermimpi untuk ikut program pertukaran pelajar seperti ini. Beruntungnya aku bisa membaca ceritanya hampir persis seperti yang kuinginkan.

Judulnya sebenarnya tidak terlalu menggambarkan isinya. Kecuali jika yang dimaksud dengan Heart itu adalah kebimbangan hati seorang Cat tentang keluarganya, tentang prestasi loncat indahnya dan domisilinya di Boston. Sedangkan Salsa itu dengan jelas menggambarkan novel ini berlatar Meksiko. Meski bagian menari Salsa hanyalah ada bagian akhir novel.

Novel 348 halaman ini sangat ringan dinikmati, tidak berat. Amanatnya pun bagus yang tentang mensyukuri kebahagiaan yang dipunya, kecintaan siswa pada akademik, lingkungan, sejarah, dan nasionalisme. Sasaran pembaca jelas untuk para remaja. Tampilan covernya pun ringan dan menggoda.

Secara umum, novel ini cocok untuk dibaca sebagai hiburan. Terutama aku yang cinta banget sama novel terjemahan ini, terlebih setting tempat yang digambarkan novel ini sangat jelas di imajinasiku. Sehingga membuatku merasakan alam tropis Meksiko yang sebenarnya.

Sunday, December 3, 2017

Review November 2017

November bahagia, mungkin itu frase yang bisa kusematkan pada bulan ini. Ada beberapa cerita bahagia yang terjadi. Langsung aja ya simak ceritaku bulan ini.

Keluarga
Di bulan ini, keluargaku bisa ngumpul lengkap. Alhamdulillah. Kami merayakannya dengan jalan-jalan ke Banjarbaru. Berasa de javu ke masa aku kecil dulu, bedanya sekarang adik yang jadi driver dan bapa duduk di samping sebagai penumpang.

Pekerjaan
Pekerjaan lancar jaya meski jumlah sampel semakin membengkak, jadwal sampling juga ada terus. Intinya sih mungkin karena aku ngerasa nyaman dengan lingkungan kerjaku yang ‘sehat’ tanpa drama.


Traveling
Banjarbaru lagi. Gak bosan memangnya aku ke sana? Gak lah, kotanya adem dan bahkan sudah kunobatkan menjadi 'rumah keduaku'. Kali ini aku jalan-jalan dengan keluargaku, tempat yang kudatangi sebenarnya sudah pernah sebelumnya aku datengin. Jadi ya kali ini anggap saja aku sebagai tour guide, haha. Mereka kuajak ke Hutan Pinus, Kampung Pelangi, dan Danau Seran.

Pulang dari sana kami mampir ke makam wali di Sekumpul dan Pelampaian. Akhir bulan, tepatnya tanggal 30 November aku ke Banjarbaru lagi untuk menghadiri rapat di dinas provinsi. Pulang dari sana mampir dulu ke Banjarbaru Book Fair. Senangnya bisa ke sana pas suasana lengang gitu, jadi lebih afdol milih bukunya.



Kesehatan
Aku sehat, alhamdulillah. Padahal cuaca lagi pancaroba gini. Orang-orang juga lagi banyak yang sakit. Tentu saja hal tersebut membuatku semakin waspada untuk menjaga kesehatan.

Kursus menjahit
Akhirnya aku masuk kelas menjahit satu kali di bulan ini. Yeaay, pencapaian. Meski cuma satu kali pertemuan, tapi lumayan bikin aku udah mulai semangat lagi.

Buku
Di bulan November ada dua buku yang selesai aku baca. Pertama, Sketsa novelnya Ari Nur Utami. Lagi nyari sekuelnya nih di perpustakaan kota, sayang belum nemu karena katalognya di sana gak rapi. Buku kedua berjudul Jadi Penulis Fiksi? Gampang Kok! Bukunya asyik meski sudah jadul, nantikan reviewnya ya. 


Oya, di book fair aku beli 4 buku. Nambahin timbunan di rak buku. Hehe. Btw, aku baru beresin rak buku. Sekalian dipindah tempatnya. Rempong, untung ada adik sepupu kecilku yang bantu prosesnya. Senang, rak bukuku jadi lebih bersih dan rapi.



Blogging
Bloggingku masih seret. Banyak yang berhenti di draft, kendalanya sih waktu posting yang harus jam kantor karena memanfaatkan internet cepat. Padahal, akunya juga sibuk di jam kerja. Semoga nanti aku bisa membagi waktu lebih baik lagi.

Laporan bulananku sudah selesai. Saatnya cerita tentang bullet journal yang baru aja kubikin terhitung sejak 1 Desember. Sungguh, ternyata bullet journal berguna banget untuk aku yang kadang keteteran karena hal-hal kecil. Aku mungkin harus cerita di satu postingan khusus. Tapi seenggaknya aku mau laporan dulu bahwa di akhir November ini waktuku banyak kuhabiskan untuk survei bullet journal milik orang lain dari internet. Alhamdulillah, 1 Desember kemarin, bullet journalku sudah bisa digunakan. Yeaaay. Tunggu ceritaku bulan selanjutnya ya.

Thursday, November 9, 2017

Kenapa Calon Pengantin Harus Menggunakan Gift Registry?

Halo calon pengantin, apakah tanggal resepsimu sudah dekat? Sudah satu minggu lagi? Satu bulan lagi? Masih satu tahun lagi? Atau bahkan kamu belum merencanakan tanggal pernikahan sama sekali, karena jodohnya belum ada? Jangan sedih dulu, karena semua jomblo berhak menyandang gelar sebagai calon pengantin. Siapa juga yang enggak pengen nikah, ya kan?

Setelah menulis tentang tips menyiapkan 14 hal sebelum hari pernikahan, aku merasa masih ada yang kurang. Ternyata masih ada satu tips belum kumasukkan di sana. Meskipun terdengar sepele, tapi menurutku ini penting untuk dilakukan oleh calon pengantin yaitu membuat gift registry. Hei, yang benar saja Rindang! Kado mah urusan para tamu. Benar sih, tapi kan kalau kita sudah punya wishlist para calon tamu juga akan terbantu.

Terbantu gimana, bukannya malah jadi nggak surprise? Sering lho aku mengalami kebingungan mau bawa kado apa saat teman mengadakan resepsi pernikahan. Bawa ini, takut dia sudah punya. Bawa itu, takut dia enggak butuh. Bawa ini-itu, takut sama dengan yang lain sehingga mubazir. Nah, kalau calon pengantin menggunakan gift registry kan enak. Aku tinggal beliin dia barang yang sedang dia inginkan dan tentunya berguna.

Namanya kado, dikasih orang dalam bentuk barang apa pun sebenarnya senang terus. Apalagi kalau ternyata kado yang diterima adalah barang impian, senengnya double pasti. Jauh lebih senang daripada dapat barang yang tak disangka-sangka, tapi ternyata tidak banyak berguna buat pribadi. Jadi, pilih surprise atau manfaat barangnya? Kalau aku sih, pilih yang kedua.

Waktu resepsi pernikahanku, kado yang datang bejibun dan beberapa isinya ada yang sama. Bukan nggak ngehargain yang ngasih, tapi kalau banyak barang yang sama juga buat apa. Kalau baju atau kerudung masih oke, tapi kalau barang sejenis kompor atau magic jar? Toh yang kugunakan sehari-hari cuma satu. Sayang kan?

Terus, gimana dong bikin gift registrynya supaya tepat sasaran? Nah, baru-baru ini aku ketemu web yang ciamik banget, yaitu wishlistku.co.id. Di sana para calon pengantin bisa membuat daftar kado impian dan bisa membagikannya lewat media sosial, jangan lupa tandai akun keluarga dan teman-teman yang telah diundang ke acara. Dijamin, kado impianmu bakal tiba di hari bahagia dan menghindarkan para tamu undangan untuk membeli barang yang tidak/belum dibutuhkan.


Sistem di web ini juga sudah diatur sedemikian rupa untuk memanjakan penggunanya. Para calon pengantin cukup membuat akun, membuat daftar barang keinginan dari toko manapun di seluruh Indonesia dengan spesifikasi setepat-tepatnya beserta kisaran harga, lalu para teman dan keluarga dapat melihat dan menandai kado apa yang ingin mereka hadiahkan kepada mempelai.

Tak perlu khawatir kalau barang yang akan dihadiahkan beberapa orang akan sama, karena barang yang akan diberi harus ditandai oleh si pemberi kado. Jangan takut juga jika harga barang incaran terlalu tinggi, toh di Wishlistku ada sistem patungan antar sesama pengguna (group gift) sehingga barang impian tetap dapat terwujud tanpa memberatkan si pemberi kado.

So, kenapa calon pengantin perlu menggunakan gift registry? Seenggaknya ada 5 jawaban yang bisa kurangkum buat menjawab rasa pertanyaan kalian.
1. Tepat sasaran
2. Bisa menulis spesifikasi barang lengkap dan tepat sesuai keinginan dan kebutuhan
3. Membantu keluarga dan teman sehingga tidak bingung memutuskan mau membeli kado apa
4. Menghindari kemubaziran karena kemungkinan mendapatkan barang yang sama jauh lebih kecil daripada tidak pakai gift registry
5. Dapat mengorganisasi barang keinginan pribadi dengan rapi


Keren banget kan gift registry di Wishlistku? Tidak hanya untuk para calon pengantin saja lho ya, buat yang mau ngadain acara ulang tahun, syukuran akikah anak, atau pun sekadar wishlist buat diri sendiri juga bisa. Sebebas-bebasnya, template akunmu juga bisa dicustome sedemikian rupa. Yuk, buat daftar keinginanmu dan dapatkan barang-barang impianmu lewat Wishlistku!

Tuesday, November 7, 2017

Mata Kuliah Pilihan

Lagi kangen masa kuliah, nih. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Salah satunya tentang mata kuliah pilihan yang bermuara pada pengerucutan minat di jurusan. Aku, si pecinta alam yang suka eksakta ini, sejak awal masuk jurusan Biologi memang sudah bertekad untuk mendalami ilmu lingkungan. Oleh karena itu, sejak semester III ketika mata kuliah pilihan mulai dimasukkan dalam KRS aku konsisten mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan ilmu lingkungan.

Hanya saja, secara teknis pengambilan keputusan mata kuliah pilihan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Ada beberapa faktor yang membuatku tidak bisa seenaknya mau ambil ini-itu, salah satunya adalah jumlah minimal mahasiswa yang mengikuti matkul pilihan tersebut. Kalau tidak salah, sebuah matkul di satu semester hanya akan diadakan jika jumlah mahasiswanya minimal 10 orang. Kendala lain, aku tak bisa mengambil semua ilmu lingkungan pada semester tertentu karena jumlah SKS mata kuliah ilmu lingkungan yang boleh diambil pada semester itu (ganjil/genap) kurang dari atau lebih dari SKS maksimal yang bisa kuambil.

source

Aku nggak pernah mau rugi kalau masalah SKS. Haha. Kurang satu saja rasanya sayang. Jadilah, kadang aku mengambil mata kuliah pilihan yang menyerempet bidang lain, yaitu tumbuhan, hewan, dan mikrobiologi (bidang molekuler belum dikembangkan di jurusanku waktu itu, sekarang sudah jadi pilihan minat tersendiri). Dan, masalah yang terakhir adalah bentroknya jadwal kuliah dari beberapa mata kuliah wajib atau sesama matkul pilihan.

Sudah jadi tradisi, di setiap awal semester aku dan teman-teman sibuk mengisi KRS dengan berbagai macam pilihan mata kuliah dengan mempertimbangkan peminatan, jadwal kuliah, dan jumlah SKS maksimal masing-masing. Serunya itu di sini. Pernah, waktu aku dan beberapa teman mencoba ngelobi seorang dosen mengenai jadwal kuliah dua matkul pilihan (ekologi hewan dan ekologi tumbuhan) yang diambil agar kami bisa tetap mengambil keduanya sekaligus dalam semester ini (karena pertimbangan-pertimbangan di atas).

Kamu ini, maunya masuk mana, sih? Milih botani atau zoologi, kok keduanya diambil?” Sang dosen yang memang terkenal galak tersebut geleng-geleng kepala setelah mendengar ‘tuntutan’ kami.

Milih ekologi, Bu. Jawabku, dalam hati.

Endingnya kami bisa memperjuangkan kedua mata kuliah tersebut sehingga aku bisa mengambil kelas keduanya. Mungkin, bukan hanya ibu dosen di atas saja yang heran betapa pilihan mata kuliahku beragam sekali jenisnya. Sebenarnya, mata kuliah di luar ilmu lingkungan hanyalah pelengkap agar SKSku tak hangus. Meski terlihat hobi belajar apa saja, aku sebenarnya menghindari mata kuliah yang menjurus ke mikrobiologi. Sudah materinya mumet, efeknya ke lingkungan juga tidak terlalu besar. Begitu pikirku.

Sebut saja aku kena tulah. Kadang, ketika kita menghindari sesuatu, hal tersebut malah mendatangi kita dengan senang hati. Di akhir semester 6, aku ditawari tema penelitian bertema mikrobiologi lingkungan. Mau menolak, rasanya kesempatan untuk masuk ke tim proyek prestisius seperti itu mungkin tak akan datang dua kali. Jika aku menerima, berarti aku harus belajar banyak lagi karena mata kuliah pilihan bertema mikrobiologi tidak banyak kuambil sebelumnya. Bismillah, akhirnya kuterima tawaran tersebut.

source

Tebak, akhirnya aku dua tahun ‘kuliah’ di kelas, di laboratorium, dan di lapangan untuk menyelesaikan mega proyek ini. Aku tidak sedih dan menyesal (karena ada banyak hal baru yang bisa kupelajari), tapi juga tidak bisa terlalu bangga (karena target kelulusanku mundur jauh dari ekspekstasi).


Begitulah sekilas cerita singkatku tentang serba-serbi mata kuliah pilihan saat aku kuliah dulu. Sedikit banyak hal yang terlihat remeh tersebut mempengaruhi kehidupanku di masa sekarang. Nantilah, aku cerita-cerita lagi tentang hal-hal seru lainnya saat aku kuliah. Bye!

Wednesday, November 1, 2017

Review Oktober 2017

Apa ya kata yang bisa menggambarkan kondisiku selama bulan Oktober tahun ini? Bergejolak. Yup, itu sepertinya adalah kata yang tepat. Ada banyak perubahan dan kejadian yang terjadi di bulan ini. Satu lagi, aku merasa Oktober berlalu sangat cepat. Weekend selalu datang tanpa aku sempat mengharapkannya seperti bulan-bulan sebelumnya. Entah aku terlalu bersemangat dengan pekerjaanku atau dunia memang sudah akan kiamat. (Fyi, salah satu tanda akhir zaman adalah waktu berlalu tanpa terasa). Hingga tanpa kusadari, tanggal menjadi muda kembali dan aku harus menulis ‘laporan’ hidupku ini lagi.

Keluarga
Di bulan ini, tidak banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Meski begitu, aku dan suami menyempatkan waktu paling tidak seminggu sekali mengunjungi mertua dan si kecil Davin. Ada sih, satu kali acara di rumah kakek yaitu haulan memperingati almarhum datu (neneknya mama). Setengah hari Jumat itu aku bisa agak lama kumpul dengan keluarga.

Pekerjaan
Jadwal sampling bulan ini lumayan padat. Ada dua perusahaan besar di HSS dan HST yang meminta pengambilan sampel air dan udara di bulan ini. Permintaan pengujian sampel pun bertambah. Sungguh, tahun ini kayaknya tahun tersibuk di lab. Saat aku menulis ini, sudah ada 170 kode sampel dengan jumlah per kode 1-16 buah, serta sudah ada 12 kode sampel udara dengan kisaran jumlah 1-10 per kode.


Kabar buruk di bulan ini adalah aku nggak bisa ikut SKD untuk CPNS LIPI gara-gara nggak diizinkan mama. Alasan mama, penempatan kerjanya yang di pusat itu jauh dari rumah. Padahal dari awal masa pendaftaran, aku sudah koar-koar ke seluruh keluarga. Saat itu, mereka mengizinkan. Hiks. Aku sedih.

Traveling
Jalan-jalanku bulan ini masih di sekitar Banjarbaru, aku ke sana sekalian berhadir di momen wedding partynya teman seangkatanku. Destinasi yang kupilih kali ini adalah Danau Seran. Tempatnya lagi hits dan pemandangannya juga bagus. Fasilitasnya pun ok. Tunggu ulasanku khusus tentang Danau Seran ya.


Kesehatan
Akhirnya, aku tumbang juga. Panas dalam, flu ringan, dan batuk menyerangku di tengah bulan. Tubuh pun rasanya remuk karena aktivitas fisik yang lebih berat daripada biasanya, sampling, nganalisis sampel seabrek-abrek, dan motoran ke Banjarbaru. Untungnya, nggak sampai bed rest. Aku hanya konsumsi vitamin C, larutan untuk panas dalam, dan obat batuk andalanku plus tidur cepat saat malam.

Kursus menjahit
Masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya. Aku bolos kursus sebulan penuh.

Buku
Bulan ini ada satu buku fisik yang kutamatkan yaitu TNT#7. Review menyusul ya. Dari wattpad, aku nemu satu novel yang bagus di bulan ini yaitu She's The Boss!. Ceritanya keren, authornya kece. Aku juga tertarik untuk mereview novel ini. Oya, aku juga beli buku online di bulan ini. Paket novelnya salah satu penulis favoritku, Riawani Elyta.


Blogging
Bloggingku mulai teratur, setidaknya di akhir bulan Oktober. Semoga bisa terus nulis dan mulai ikut lomba lagi. Aamiin.

Yup, segitu aja ceritaku di bulan ini. Terima kasih yang sudah mau baca ya. Gak ada yang baca pun sebenarnya aku nggak ambil pusing, karena review ini kuniatkan sebagai diary bulanan hidupku yang sok sibuk ini. Khusus untuk diri sendiri dan pencapaian pribadi.

Monday, October 16, 2017

[Review Novel] Heart of Thunder

Hai, semuanya ...

Lama gak posting. Lama gak nulis review buku. Lama gak baca. Lama gak nyemplung di dunia baca tulis lagi bikin aku kangen. Jadi, sekarang aku mau posting review novel lama yang kupinjam dari perpustakaan kotaku. 

Kebanyakan kerjaan di dunia nyata (alasan) membuatku hampir lupa bagaimana asyiknya membaca sambil goler-goleran seperti dulu. Kebanyakan pengantar, nih. Yuk, langsung review novelnya.

Judul novel yang kubaca kali ini adalah Heart of Thunder. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, ini novel terbitan lama dan setting waktu yang digunakan penulis pun jauh kembali ke masa lalu. Aku berasa terbawa ke abad 18 di mana saat itu, di Benua Amerika sedang terjadi demam emas. Saat di mana alat transportasi utama adalah kuda dan kereta kuda, sehingga untuk perjalanan jauh memerlukan waktu berbulan-bulan. Kondisi padang pasir di Amerika yang menjadi setting tempat di novel ini pun membayang di khayalanku, betapa kosong tanpa gedung bertingkat seperti sekarang.

Novel ini bercerita tentang dua orang yang sama-sama keras kepala dan gengsi mengakui bahwa mereka saling jatuh cinta. Konflik utama dalam novel ini adalah usaha Hank Chevez untuk mendapatkan kembali rumah dan tanah milik keluarganya yang dirampas oleh pemerintah Meksiko. Namun, ternyata tanah tersebut sudah dibeli oleh ayah Samantha Kingsley -tokoh perempuan utama dalam novel ini. Dari sanalah interaksi antara Hank dan Samantha bermula. Kebencian di antara keduanya membuat rumit perasaan cinta yang mulai tumbuh.

Meski terlihat ringan, tapi menurutku tema yang diangkat dalam novel ini cukup sadis -yaitu usaha untuk mengambil/mempertahankan hak dengan berbagai macam cara. Entah karena memang kultur zaman dahulu yang memang penuh kekerasaan atau penulis memang sengaja mengangkatnya agar menjadi alasan yang memperkuat setiap langkah yang diambil tokoh-tokoh utama.

Plot cerita dalam novel ini apik dan natural. Tak heran, karena penulisnya adalah Johanna Lindsey, The #1 New York Times Bestselling Author. Menurutku, ia piawai sekali menulis novel bergenre fiction historical romance ini. Terdapat dua sesi utama dalam novel ini, yaitu perkenalan dan konflik tokoh di Meksiko dan proses penyelesaian konflik yang dimulai dengan pelarian diri Samantha ke Inggris. Kedua sesi utama tersebut terjalin dengan rapi sehingga membentuk plot yang bagusnya juara.

Karakterisasi kedua tokoh utama sangat kuat sehingga mengendalikan jalan cerita di keseluruhan cerita. Meskipun sama-sama keras kepala, tapi emosi yang berasal dari hati juga kadang mempengaruhi keputusan pasangan ini. Penggambaran karakter yang mampu mengungkapkan apa yang ada di kepala masing-masing tokoh membuat cerita dalam novel ini terasa nyata.

Judul: Heart of Thunder (Cinta yang Tersisa)
Penulis: Johanna Lindsey
Penerbit: Dastan Book
Tahun terbit:2011

Di balik 'kesempurnaan' novel ini, ada beberapa kesalahan ketik nama yang kutemukan pada versi terjemahan ini. Misalnya pada halaman 308. Tertulis, "Aku memaksa. Dan itu alasan yang cukup bukan?" Samantha menyeringai. Seharusnya yang menyeringai adalah Hank pada konteks pembicaraan tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi favoritku dalam novel ini. Salah satunya adalah ungkapan-ungkapan Bahasa Spanyol, yang terlihat cantik dibaca. Seperti kata Gatita,  Dios Mio, Querida, dan Amigo.

Aku juga suka scene di halaman 377 saat Hank tidak percaya pada penjelasan Lorenzo betapa Samantha mengkhawatirkannya, bahwa Hank sangat berarti bagi Samantha. Hank hanya bisa berkata, "Sialan!" Bukan karena ia merasa Samantha mengasihaninya tapi karena ia akhirnya menyadari bahwa binar cinta yang sama juga tumbuh di hatinya.

Bagian lain yang juga menjadi favoritku adalah ketika akhirnya Samantha mengkonfrontasi Hank di halaman 465 dan keduanya berbicara panjang lebar mengenai perasaan gila merek. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk hidup bersama.

Ya, novel dengan tebal 476 halaman ini memiliki pesan jika cinta mampu mengalahkan ego, keras kepala, dan gengsi sepasang kekasih. Pikiran negatif juga perlu disingkirkan sebelum mempengaruhi keputusan atau menjadi sesal karena ternyata kenyataannya berbeda. Dan yang terpenting, kalau cinta ya bilang saja. ^^

Monday, October 9, 2017

Pengobatan Benjolan di Leher (5)

Sabtu, tanggal 9 September aku ke puskesmas untuk minta surat rujukan ke rumah sakit untuk kontrol sebelum pengobatan bulan ke-9 berakhir. Terlalu cepat sih sebenarnya, karena di surat rujukan balik sebelumnya tertulis aku hanya harus periksa ke RS lagi dua minggu sebelum pengobatan berakhir yang jatuh pada akhir September. Tujuanku cepat begitu supaya gak terlalu keteteran dengan jadwal-jadwalku. Singkat cerita, dokter di puskes ngasih aku surat rujukan ke RS.

Aku pun langsung menuju rumah sakit. Sekitar jam 10an, antri. Sekitar jam 12.30 aku dipanggil. Kali ini kena giliran dr. Nanda. Sebenarnya aku pengen konsultasi dengan dokter Priha, tapi tahu kesempatanku bisa ke RS cuma Sabtu aja ya terpaksa aku okelah sama dr. Nanda.

Sudah bisa ditebak kalau dengan dr. Nanda aku bisa tanya macam-macam dan dia pun bisa menjelaskan macam-macam. Sama seperti sebelumnya, dia lebih recomended benjolanku di biopsi daripada di FNAB, karena benjolannya masih ada sedikit meskipun kalau gak diraba benjolan tersebut sudah tidak kelihatan. Tapi aku memutuskan untuk di FNAB lagi, kalau yang ini gak berhasil bolehlah kubilang dibiopsi.



Rabu, tanggal 20 September barulah aku bisa untuk FNAB karena kesibukan kerjaku dan beberapa hal lainnya. Aku dan suami pun berkendara selama satu jam dari rumah ke klinik tempat FNAB.

FNAB kali ini agak susah karena benjolannya sudah semakin kecil tapi akhirnya ditemukan juga jaringannya. Dari hasil analisis sementara memang masih ditemukan bakteri TB. Fiuhh, aku harus sabar.

Jumat, 22 September, sms pemberitahuan kalau hasil laboratorium FNABku sudah selesai. Tapi aku baru bisa mengambilnya tanggal 3 hari kemudian. Senin, tanggal 2 Oktober aku konsultasi lagi ke rumah sakit. Kali ini jadwalnya dr. Priha. Yes! Lama ga ketemu beliau, sekali aku duduk di depan beliau beliau langsung bilang. “ Wah, jerawatan, ya? Pasti karena efek OAT. Nanti kalau minum obatnya sudah berhenti jerawatnya akan hilang sendiri, kok.”

Aku senyum-senyum saja menanggapi komentar beliau dan berdialog dalam hati. Oh, pantes aku belum pernah berjerawat sehebat seperti sekarang ini sebelumnya. Ternyata karena efek samping obat yang kukonsumsi ya. Astaga, aku malah menyalahkan masker air mawar yang pernah kupakai menjadi penyebab jerawat bruntusanku ini. Aku ingat sekali, dulu sekitar bulan Maret jerawat ini mulai muncul di wajahku.

Inti dari konsultasiku dengan dr. Priha adalah aku disuruh lanjut pengobatan lagi. Yeah, berarti aku setahun menjalani pengobatan ini. Hokeh, 2017 berarti bagiku adalah tahun OAT. Semoga aku bisa menjalaninya hingga akhir tahun nanti dan yang terpenting bisa sembuh. Biar bisa lanjut proyek yang lainnya.


Rabu, aku pun kembali mendatangi puskesmas. Para pegawai medis di puskesmas salut dengan program pengobatan yang kujalani. Asal jangan bosan lihat wajahku aja kubilang karena sering mampir ke sini. Waktu itu aku dikasih 3 kaplet OAT biar sampai 3 bulan ga perlu ambil lagi. Oke deh, selamat berjuang bagiku melawan TB hingga akhir tahun nanti.

Monday, October 2, 2017

Review September 2017

Bulan September berlalu dengan sangat cepat di kehidupanku. Iya, aku sesibuk itu sekarang. Jika kalian memperhatikan jumlah blogpost aku satu bulan ini, maka kalian akan mengerti betapa tidak teraturnya hidupku akhir-akhir ini. Hiks. Kalau tidak bisa dibilang mengenaskan ya, karena ini seperti ‘bukan Rindang banget’.

Keluarga

Nenek tercinta
Hari Raya Idul Adha jatuh tepat pada tanggal 1 September. Namun, bapa dan adik tidak bisa pulkam dengan alasan pekerjaan. Adikku memang sedang tidak bisa cuti. Bapa menunda kepulangannya satu minggu kemudian. Qadarullah,  nenekku dari pihak bapa meninggal pada tanggal 9 September 2017 saat bapa tiba di rumah. Aku berduka tanpa bisa mengekspresikannya, karena almarhumah tidak berada di dekatku. Nenek sedang ada di Samarinda, di rumah uwa –kakaknya bapa.

Setelah berdiskusi jarak jauh, bapa dan kedua saudaranya sepakat untuk memakamkan nenek di Samarinda. Hal tersebut membuat mama dan bapa harus ke Samarinda, hari itu juga. Pukul 5 sore uwa mengabari via telepon, pukul 7 petang mama dan bapa sudah stand by menunggu bus tujuan Samarinda.  Samarinda berjarak 12 jam dari tempat tinggal kami. Setelah mengalami perjalanan panjang yang tertunda karena permasalahan teknis bus, mama dan bapa baru tiba di Samarinda pukul 1 siang. Orang-orang baru saja pulang dari prosesi pemakaman nenek. Ya, bapa tidak bertemu dengan orangtua satu-satunya pada saat terakhir. Fyi, bapa ditinggal meninggal kakek pada saat masih berada di dalam kandungan. Aku tidak tahu persis bagaimana perasaan bapa, meski katanya beliau sudah mengikhlaskan kepergian nenek. Oya, aku tidak tahu usia nenek dengan pasti tapi kalau boleh diperkirakan sekitar 100 tahun kurang sedikit.

Mama di depan makam nenek

Aku dan adik juga tidak bisa ikut ke Samarinda karena alasan pekerjaan di hari Senin. Lagipula, hari Minggu tanggal 10 itu ada acara arisan keluarga sekaligus acara aqiqah si kecil Davin di rumah kakek dari pihak mama. Aku harus sedih dan gembira dalam waktu yang bersamaan.

Di akhir bulan tanggal 30 September, ada resepsi pernikahan sahabatku waktu SMA. Untungnya diadakan hari Sabtu, sehingga aku bisa benar-benar mengosongkan waktu sehari itu untuk ke sana. Sekalian reuni dengan para sahabat yang lain, mumpung lagi ngumpul dengan para bridesmaid ala-ala.  

Vhaancoex Girls

Pekerjaan
Satu bulan terakhir, banyak jadwal sampling. Untung tubuhku kuat. Tetek bengek pendaftaran CPNS juga bikin kalang kabut. Tanggal 15 aku ikut tes CPNS periode pertama oleh Kemenkumham di Banjarbaru. Meski gak sampai tahap SKB, aku lega karena kemampuanku masih ‘lumayan’. Peringkat 605 dari 17.000 lebih peserta. No problem. Seenggaknya, nilaiku memenuhi passing grade dan paling unggul di antara yang lain saat sesi ujianku. Meski kalau diperingkat se-Indonesia ya aku nggak masuk 39 besar. Di periode kedua nanti aku akan mencoba lagi.

Pengumuman seleksi


Kesehatan
Alhamdulillah, aku sehat terus. Kabar buruknya, pengobatan TB-ku harus dilanjutkan lagi karena meskipun benjolannya sudah hampir hilang tapi bakterinya masih ada berdasarkan hasil FNAB. Nah, ngurus pengobatan ini termasuk yang bikin aku tambah sibuk juga, karena aku harus bolak-balik ke puskes, RS, dan klinik yang jauhnya satu jam perjalanan lebih dari rumah. Tetap semangat sembuh, Rindang!

Kursus menjahit
Bulan ini karena kesibukanku, aku full gak masuk kursus yang hanya 8 kali pertemuan dalam sebulan itu. Hiks.

Buku
Karena bulan ini aku punya kesempatan ke Gramedia, jadi aku beli buku dan sudah membaca salah satunya yaitu ‘Mimpi Punya Bisnis Sukses di Usia Muda’. Isinya keren banget, buat aku ingin beli dan baca buku kembarannya dari penulis yang sama –Stella Olivia, judulnya Mimpi Punya Karier Cemerlang di Usia Muda. Kemarin itu aku cuma beli satu karena jelas, aku lebih tertarik dengan dunia bisnis daripada jadi ‘karyawan cemerlang’. Ternyata isinya jauh lebih general daripada sekadar bicara dunia bisnis. Nanti aku review buku-buku kece ini ya.

Gramedia on action

Traveling
Akhirnya bisa jalan-jalan cantik lagi bulan ini. Destinasi tujuanku kali ini adalah Kampung Pelangi Banjarbaru. Yihaa. Kawasan yang sebelumnya hanyalah bantaran Sungai Kemuning ini sukses membuatku sibuk berfoto ria dan jadi model sehari. Haha.

Selamat datang di Sungai Kemuning

Blogging
Bloggingku masih tidak teratur. Kacau. Ikut lomba pun tidak lagi. Aku bertekad sejak awal Oktober ini mulai aktif lagi. Aamiin.

Nah, segitulah ceritaku di bulan September. Singkat, ya? Padahal saat menjalaninya aku gelabakan banget nget nget. Sampai ketemu di ceritaku bulan depan, ya.

Monday, September 25, 2017

[Review Novel] Identity : Unknown

Jujur saja, sebelumnya aku hampir tak ingin melanjutkan membaca novel ini setelah bab pertama. Karena kesan yang kudapat dari ceritanya begitu berat, padahal tujuanku membaca saat itu untuk mendapatkan hiburan dari cerita yang ringan. Foto di covernya pun tidak menyiratkan isi cerita yang indah meski ada label Harlequin di ujung kiri atas. Namun, ketika tak ada pilihan kegiatan lain maka aku membaca satu-satunya novel yang belum kubaca yang ada di rumah, yaitu novel yang berjudul Identity:Unknown ini.

Tema utama dari cerita ini adalah seorang pria amnesia yang lupa sebagian besar dari dirinya dan hanya mengingat hal-hal kecil seperti ukuran celana. Pada bab pertama diceritakan ia terbangun di sebuah rumah singgah dengan kondisi tubuh yang buruk. Pria yang merawatnya memanggilnya Mish -Mission Man. Ya, ia lupa namadirinya sendiri. Satu-satunya petunjuk tentang jati dirinya terdapat di dalam sepatu bot yang tak pernah terlepas dari kakinya, yaitu sebuah pistol, uang palsu, dan kertas kecil. Alamat di dalam kertas kecil tersebut kemudian membawanya kepada Becca Keyes, seorang manajer cantik sebuah ranch.

Judul : Identity: Unknown
Penulis: Suzanne Brockmann
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2010

Di lain pihak, ada sekelompok orang yang ingin menemukan Mish. Namun, ketidakpastian pengetahuan Mish tentang dirinya sendiri membuat ia menghindari kelompok yang memata-matai dirinya tersebut. Mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam juga membuatnya yakin bahwa ia mungkin adalah seorang penjahat. Karena itu pula ia tak ingin terlibat terlalu jauh dalam hubungan asmara, meski Becca Keyes tidak peduli dengan masa lalunya.

Membaca novel ini sedikit membuatku baper. Bagaimana rasanya menjadi Mish yang terpaksa menahan dirinya agar keselamatan Becca tetap terjaga. Itu wujud cinta yang manis sekali.

Aku selalu menyukai gaya bahasa novel terjemahan. Ringkas, tapi memuat banyak informasi pada setiap kalimatnya. Meski tema tentang pencarian jati diri si tokoh utama membuat novel ini berat, tapi aku tetap merasa terhibur karena gaya bahasa penerjemah yang apik. Jangan lupa, cerita cint antara Mish dan Becca juga merupakan alasan lain mengapa aku tertarik untuk melahap habis novel ini.

Setting tempat novel ini ada di Wyatt City, New Mexico dan beberapa kota di sekitarnya. Setting dijelaskan dengan baik oleh penulis, sehingga aku bisa membayangkan bagaimana suasana gersangnya kota berpadang pasir tersebut. Tidak disebutkan tahun berapa cerita dalam novel ini terjadi. Namun, aku menduga dari settng suasana yang digambarkan oleh penulis dalam cerita kemungkinan besar isi novel ini bersetting pada tahun 1980-1990.


Kekurangan novel berjumlah 343 halaman ini menurutku ada di penjelasan bagaimana kertas kecil yang berisi alamat ranch Becca Keyes bisa ada di dalam separu bot Mish. Padahal jelas sekali itu bukan miliknya. Hal ini juga terkait dengan bagaimana kronologi detik-detik Mish sebelum mengalami amnesia.

Monday, September 4, 2017

Review Agustus 2017

Bulan Agustus, bulan kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, meriah sekali. Bahkan hingga awal bulan September, merah putih masih banyak yang bertengger di tepi jalan. Lalu bagaimana dengan cerita hidupku di bulan ini? Berikut sedikit reviewnya.

Keluarga
Bulan Agustus sepertinya bukan bulan berkumpul dengan keluarga bagiku. Momen berkumpul dengan keluarga sedikit sekali. Mungkin hanya ada beberapa sore Minggu kami berkumpul di rumah kakek, hal ini karena kehadiran Davin si bayi kecil yang menjadi cucu termuda kakek.

Parahnya lagi menjelang momen hari Raya Idul Adha, papa dan adik tidak bisa pulang karena urusan pekerjaan. Ya, tempat mereka bekerja sangat jauh sehingga untuk libur satu hari saja akan membuang waktu yang percuma banyaknya di jalan. Kesunyian Agustus ditambah pula dengan kepergian suamiku pada tanggal 10-22 Agustus lalu karena mengikuti Raimuna Nasional. Rumah terasa sunyi sekali.

Pekerjaan
Di bulan ini aku tidak terlalu sibuk, pekerjaan datang silih berganti tapi bisa kuatasi segera. Aku hanya sedang berusaha disiplin dengan tidak banyak menunda pekerjaan. Ada beberapa kali sampling lapangan, di antaranya yaitu sampling PDAM 12 titik dan sampel air DAMIU di Balangan.


Bisnis baruku juga berjalan lancar yaitu menerima orderan pembuatan photobook. Sudah ada beberapa teman yang mengorder photobooknya. Yeayy. Oya, aku ikut mendaftar di seleksi CPNS Kemenkumhan. Jadi, satu bulan terakhir ini aku sibuk menyiapkan berkas dan mendaftar secara online. Harus belajar juga, ini pertama kalinya bagiku ikut seleksi nasional untuk mendaftar pekerjaan seperti ini.

Kesehatan
Satu bulan terakhir kesehatanku baik-baik saja. Sangat sehat, malah. Paling dua hari kemarin ada flu sedikit, awalnya cuma makan kerupuk lalu sakit tenggorokan, panas dalam, dan hidung tersumbat. Tinggal konsumsi vitamin C. Selesai.

Kursus Menjahit
Selama ditinggal suami, aku hadir kursus menjahit di weekend untuk mengurangi rasa sepi. Cuma satu minggu saja sih, ditambah satu hari di minggu sebelumnya. Weekend selanjutnya bisa ditebak aku mulai berleha-leha lagi. Padahal targetku sih Desember sudah harus selesai. Sekarang, aku sedang mengerjakan pola kemeja, masih ada pola daster dan kebaya lagi.

Buku
Buku terakhir yang sedang kubaca adalah Sherlock Holmes, edisi koleksi. Tebalnya hampir 800 halaman. Aku baru baca setengahnya, kumpulan dari 4 buku itu. Sudah 2 kali kuperpanjang dan belum selesai karena aku lebih sering baca wattpad daripada buku fisik. Haha. Karena ceritanya lebih ringan. Namun, Sherlock Holmes tetap juara.


Traveling
Aku tidak kemana-mana bulan Agustus ini. Selain karena tak ada tanggal merah kecuali 17 Agustus yang hujan lebat, juga karena weekend suami lebih sering ada kerjaan. Padahal biasanya aku travelling sama dia. Hanya 2 minggu di akhir bulan tadi saja kami menghabiskan pagi minggu dengan ikut car free day di lapangan kota.


Blogging :
Bloggingku masih keteteran, gara-gara kesibukan dan kemalasanku. Mungkin bawaan gara-gara down setelah kompetisi Liga Blogger kemarin. Hehe, belum bisa move on.


Yup, sekian ceritaku bulan ini. Sampai jumpa di ceritaku bulan September ya.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates