Tuesday, November 29, 2016

Scream for Me


Judul: Scream for Me (Jeritan Masa Lalu)
Penulis: Karen Rose
Penerbit: Dastan Books
Tahun terbit: 2011

Baru-baru ini aku mengunjungi perpustakaan kota kecilku yang koleksi bukunya sedikit sekali jika dibandingkan dengan perpustakaan lain yang pernah kudatangi. Meski begitu, kemarin dari hasil huntingku aku menemukan sebuah novel terjemahan berjudul Scream for Me (Jeritan Masa Lalu). Berbekal nama penulis yang bergelar The #1 Romantic Suspense Writer membuatku tertarik untuk membaca buku ini. Sudah lama aku tidak membaca novel yang suspense. Meski bacaan terakhirku kemarin juga agak sedikit dark.

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama Alex Fallon yang trauma dengan masa lalunya karena saudara kembarnya dibunuh dan ibunya bunuh diri. Ia harus kembali ke kota penuh kenangan buruk tersebut karena ia mendapat telepon bahwa saudara tirinya hilang dan meninggalkan seorang anak berusia 4 tahun.

Di sisi lain, ada Daniel Vartanian dengan cerita keluarga yang sangat kelam. Ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa meski jejak rekam keluarganya buruk, ia tidak lantas menjadi buruk juga. Ia menjadi kepala investigasi pembunuhan berantai yang ternyata berkaitan dengan hilangnya saudara tiri Alex dan pembunahan saudara kembar Alex 13 tahun silam.

Alex dan Daniel menghadapi masalah pembunuhan ini bersama-sama. Di sela-sela aura suspense yang menyelimuti novel ini, sisi romantis terselip dengan cantik. Baper deh sama cerita cinta Alex dan Daniel. Aku suka sikap protektif Daniel kepada Alex. Dan oh satu lagi, aku suka nama Vartanian.

Novel 560 halaman ini sangat asyik diikuti. Aku merasa terhibur sekaligus ngeri di saat bersamaan. Ceritanya mengalir dengan POV orang ketiga, meski aku sedikit bingung karena banyaknya tokoh yang terlibat. Oya, aku juga sedikit missunderstand mengenai setting tempat novel ini karena ada banyak nama kota yang menjadi setting novel ini. Kota-kota tersebut antara lain Arcadia, Atlanta, Philadelphia, Cincinatti, dan Volusia.

Plot maju dengan waktu kejadian kurang dari seminggu merupakan kelebihan lain dari novel ini. Penulis dengan cerdas menuliskan tempat, tanggal dan jam pada setiap scene. Aku jadi teringat dengan novel Negeri para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye yang punya konsep serupa.

Karakterisasi pada tokoh sangat pas, terutama pada kedua tokoh utama. Dan penulis dengan piawai membuatku benar-benar merasa jijik dan benci kepada semua penjahat yang terlibat. Oya, aku sempat tidak mengenali Toby Granville. Ternyata ia adalah dokter Kota Dutton. Ia bahkan sudah muncul saat kasus pembunuhan pertama pada halaman 136, sungguh tidak terduga.

Cara penyampaian, gaya penulisan, dan tata bahasa novel ini cukup memikat, khas novel terjemahan. Humor ringan dalam percakapan tokoh juga bagus sekali. Aku suka. Temanya yang berat dapat mudah tertutupi dengan teknik bercerita penulis yang mantap.

Latar belakang penulis yang seorang guru kimia dan fisika SMA membuat novel ini semakin berisi. Beberapa pengetahuan eksak dengan mudah dijabarkan penulis sebagai bagian dari cerita. Meski tentu saja riset sesuai tema adalah hal mutlak yang dilakukam penulis untuk memperkaya isi novelnya. Di bagian biodata penulis tertulis banyak penghargaan yang telah diraih oleh Karen Rose. Tidak salah jika hasil tulisannya sebegini memukau. Ternyata beliau sudah banyak menulis novel suspennse. Nantilah aku hunting lagi, semoga bisa menemukan novel suspense dari penulis yang sama.

Makna tersirat dari novel ini yang kutangkap adalah bahwa kesalahan seseorang akan mmberikan efek buruk bahkan kepada orang-orang di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan tema utama novel ini yaitu tentang usaha balas dendam atas perbuatan buruk di masa lalu dan cerita tentang korban-korban tak bersalah yang ikut terseret dalam kasus tersebut.

Quote yang paling kusuka dari novel ini ada di halaman 371 ketika Alex dihipnosis. Daniel berkata, "ingatan manusia adalah sebuah hal yang rapuh, begitu mudah dimanipulasi."

Kekurangan novel ini menurutku ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab hingga di akhir cerita, yaitu:
1. Siapa ayah kandung Hope?
2. Siapa seseorang yang mengendalikan kejahatan besar seperti yang dimaksu oleh Harvard?
3. Siapa yang mengambil kotak penyimpanan Simon di bank?

2 comments:

Zahrah Nida said...

Suka juga sama quote nya! Nah, kalau pertanyaan" ga terjawab gitu kemungkinan bersambung, tunggu aja deh mba. Kalau ga ada yaaa, berarti penulisnya percaya kita mengembangkan imajinasi (terserah deh jawabannya mau kaya gimana). Tapi ya kadang kesel juga ya. Tema" misteri-detektif gini emang yang kusuka dibanding romance, hehe. Smeoga secepatnya di perpusku ada! Mau bacaa >.<

Rindang Yuliani said...

Hunting aja Mbak. Di rak2 tua perpus biasanya ada terselip buku2 sebagus ini.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates