Thursday, October 27, 2016

Aku dan Hari Blogger Nasional

Postingan ini khusus kutulis dalam rangka Hari Blogger Nasional yang jatuh pada hari ini, 27 Oktober 2016. Selain itu, tulisan ini juga merupakan caraku merekam perjalanan “karir” bloggingku yang terbilang masih dalam kategori pemula. Anggap saja tulisan ini semacam kilas balik perjalanan ngeblogku.



Perjalanan Bloggingku

Blog bagiku pada awalnya adalah tempat yang tepat untuk mengeluarkan curhatan pribadi atau unek-unek bagi yang gila menulis seperti aku. Sekarang ternyata arti blog itu ternyata jauh lebih dari itu. Definisi paling mewakili dari blog bagiku adalah media untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Pertama kali aku mengenal blog pada tahun 2008. Waktu itu ada tugas dari guru TIK-ku untuk praktik membuat blog. Jadilah blog yang kugunakan hingga sekarang tersebut menjadi blog pertama kali yang kubuat dan semoga yang terakhir, karena aku sama sekali tidak berminat untuk berternak blog. Satu saja sudah kewalahan mengurusnya. Hehe. Tak terasa, umur blogku ini sudah 8 tahun. Meski sudah 8 tahun punya blog aku baru mulai serius ngeblog sejak awal tahun 2014, ketika masih kuliah. Ya, sekitar 3 tahun terakhir inilah. Semoga tetap istiqamah selamanya. Aamiin.


Alamat blog yang kugunakan adalah www.bintangpamungkas.blogspot.com. Nama alamat tersebut terinspirasi dari sebuah nama yang tadinya akan diberikan oleh orangtuaku kepadaku jika bayi yang dikandung mama pada waktu itu adalah laki-laki. Aku pernah beberapa kali ganti nama dan tagline blog. Seingatku dulu aku pernah pakai nama Reinkarnasi Aurora, tidak ada arti spesial sih hanya terlihat keren saja. Haha. Tapi itu hanya di awal-awal, setelahnya aku konsisten pakai nama Bintang Pamungkas sebagai judul untuk blog pribadiku ini . Tagline blogku juga pernah beberapa kali ganti. Tagline yang terakhir bunyinya seperti ini, “Meski kamu adalah bintang yang terakhir, tetaplah bersina, berbagi cahaya”. Menyesuaikan dengan nama blognya sih sebenarnya.

Untuk template aku terbilang setia, disamping karena gaptek juga sih. Jadi malas untuk ngutak-ngatik dan malas mencoba untuk apply template yang macam-macam. Haha. Baru sekitar setengah bulan yang lalu aku ganti template dengan tema bookholic gitu. Lucuuuu. Tagline blog juga aku ganti menjadi "Book, Travel, and Science". Sesuai dengan tema terbanyak yang menghiasi kategori postinganku.

Kategori blogku

Apa saja yang kutulis dalam blog? Sebagian besar adalah pengalaman sehari-hari yang berkesan bagiku, catatan perjalanan, event yang aku ikuti, review buku, dan beberapa artikel yang semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Tujuan dan Manfaat Blogging 

Ada yang bertanya apa sih yang membuatku rajin ngeblog? Tujuanku simpel yaitu ingin berbagi pengalaman yang pernah kualami. Selain itu dengan blogging aku juga bertujuan jika tua nanti punya "arsip online" yang bisa dibaca berulang-ulang, bahkan oleh anak-cucuku kelak. Oleh karena itulah aku memilih lifestyle sebagai tema blogku. Sebut aku blogger tidak profesional dan aku akan mengakuinya, karena tujuanku memang sesederhana itu.

Meski tujuan ngeblogku sederhana, namun apa yang kudapatkan dari aktivitas bloggingku ternyata lebih dari itu. Aku mendapatkan jaringan pertemanan yang luas sebagai efek positif mengikuti komunitas blogger di dunia maya. Aku juga mendapatkan beragam ilmu baru setiap kali blogwalking ke blog blogger lain. Beberapa kali aku juga pernah mendapatkan rezeki hadiah dari giveaway yang kuikuti di banyak blog teman-teman lain. Ah, senangnya.

Blog yang Menginspirasi

Blog yang menginspirasiku pada awal-awal ngeblog adalah blognya Mbak Diana Rikasari dan Rohani Syawaliyah. Mbak Diana Rikasari adalah seorang fashion blogger, jauh sebelum ia seterkenal sekarang. Sebelum zaman instagram booming seperti sekarang, aku sudah suka dengan foto-foto yang mengisi blognya Mbak Diana. Aku juga suka membaca blog yang berjudul Hot Chocolate and Mint yang postingannya berbahasa Inggris. 

Beda lagi dengan Mbak Syawaliyah, pemilik blog Honeylizious ini memikatku dengan tulisan-tulisan beliau di blog pribadinya. Beliau berdomisisli di Pontianak, masih satu pulau denganku. Blog miliknya adalah blog lifestyle yang pertama kali membuatku jatuh cinta untuk blogwalking. Aku suka membaca cerita-cerita Mbak Syawaliyah yang mengalir tentang kehidupan sehari-hari. Beliau rajin banget nulis, alamak aku iriii. Sekarang isi blog beliau lebih banyak postingan berbayar. Keren deh memang emak yang satu ini.


Sekarang aku suka blogwalking ke blognya teman-teman yang satu komunitas denganku. Banyak teman blogger yang menginspirasi. Mereka rajin banget nulis dan tulisan-tulisan mereka keren. Oh oh oh. Oya, komunitas blogger yang aku ikuti ada Warung Blogger dan Emak-emak Blogger. Admin dan anggota-anggota kedua komunitas ini mantap sekali aktivitas bloggingnya.

Harapan untuk Blogger Indonesia

Harapan untuk blogger Indonesia semoga menjadi komunitas yang diperhitungkan keeksisannya. Semoga konten-konten yang yang ditulis para blogger Indonesia dapat menjadi sumbangsih yang berarti bagi kemajuan bangsa, bukan hanya kepentingan pribadi. 

Untuk blogger di daerah sepertiku, semoga tetap semangat blogging meski minim fasilitas dan menjadi minoritas. Di grup WA blogger yang kuikuti ada banyak berita tentang event yang terbuka untuk para blogger. Sebagian besar dari mereka ramai-ramai membicarakan dan antusias untuk mengikutinya. Namun apalah arti blogger di kotaku yang kecil ini. Sekalipun aku tak pernah ikut kopi darat komunitas blogger dan acara yang melibatkan blogger, karena faktor jarak dan kesempatan. 

Karena Hari Blogger Nasional sejatinya tak hanya dirayakan satu hari, tapi setiap hari oleh para blogger sejati. Keep blogging and share, guys!

Monday, October 24, 2016

2nd Anniversary

Minggu malam saat aku sedang santai menonton film di laptop, tiba-tiba suami mematikan lampu kamar dan masuk membawa kue tart lengkap dengan lilin menyala di atasnya. Surprise! Rupanya ia memberikan kejutan untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan kami. Wow, tak terasa ternyata kita sudah dua tahun bersama. 


Meski sebenarnya tanggal nikah kita itu 24 Oktober, berarti kemarin malam itu masih kurang beberapa jam dari pukul 00.00, pergantian tanggal. Tapi suami katanya takut kalau menunggu tengah malam kejutannya kita sama-sama ngantuk, buyar deh surprisenya. Terharu juga dengan niatnya merayakan anniversary kami dengan cara sederhana.

Setelah berdoa dan tiup lilin, kuenya langsung deh kita potong dan dimakan. Saat mengunyah potongan kue pertama, naluri interogasiku muncul seketika. Beli kuenya di mana, kapan, berapa harganya, di mana menyimpannya. Haha. Suamiku hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Biarlah jadi rahasia perusahaan katanya. Hanya satu yang dia jawab yaitu dia menyimpan kuenya di rak lemari yang paling jarang kubuka. Dia bilang awalnya bingung juga mau nyimpan sementara kuenya di mana, karena seluruh area rumah kan berada dalam jajahanku. Wkwk. Tapi beruntunglah aku tidak menemukan kue tersebut sebelum sesi surprise terjadi.

Semoga di tahun kedua pernikahan kami ini, kami sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik dan saling melengkapi satu sama lain. Terutama aku sebagai istri, semoga jalanku lurus menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia. Istri salehah. Aamiin.

Sunday, October 23, 2016

Amuntai Undercover

Masjid Raya Amuntai

Judul postingan kali ini sepertinya serius banget ya. Tapi sebenarnya isinya "hanyalah" sebuah catatan perjalananku yang kesekian kalinya ke Kota Amuntai. Yup, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) ini jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumahku di Kabupaten Hulu Sungai Tengah jika dibandingkan ke kota-kota tetangga yang lain. Berdasarkan pengukuran spedometer, jarak yang ditempuh dari rumahku ke kota Amuntai yaitu sekitar 44 km. Tapi lewat jalan pintas jaraknya hanya sekitar 33 km. Nah, yang akan kuceritakan adalah pengalamanku melewati jalan pintas ini.

Seperti biasa travelmateku (baca: suami) selalu setia menemani travelingku, termasuk kali ini. Dari Desa Teluk Mesjid di Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan, kami berbelok menuju jalan pintas. Medan jalan awalnya masih friendly meski lubang di sana-sini menghiasi aspal. Ditambah lagi sepertinya kemarin malam di sana hujan jadilah lubangnya penuh air. Di kanan kiri jalan awalnya masih banyak rumah penduduk, tapi semakin ke dalam kebun karet warga mendomonasi pemandangan.

Di suatu bagian jalan ada sekitar 1-2 km jalan beraspal mulus yang sepertinya baru saja diperbaiki. Tapi entah kenapa hanya di bagian itu saja. Setelah jalan mulus tersebut tibalah kami di jalan setapak tanpa aspal. Wohoo, thankyou for bring me here, mungkin itu yang dikatakan X-Ride jika ia bisa bicara. Yeah, motor yang kupakai setiap hari ke kantor ini adalah motor dengan spesifikasi khusus melewati medan terjal. Jalanan sungguh tak terkontrol lagi kemulusannya. Lumpur di semua bagian jalan menghiasi motor. Tak terhitung berapa kali kami hendak terpeleset. Tapi seperti rumusku selama ini kalau sedang dibonceng di medan berat, percayakan saja pada driver. Dia pasti akan melakukan yang terbaik. Yihaaa, love you my husband


Tapi kalau dibandingkan dengan jalan pintas menuju Loksado yang pernah kami lewati, medan ini tidak apa-apanya. Jadi ya gak terlalu ngeluh banget, hanya saja kemarin kan kita pakai baju 'bagus' karena mau ke kota. Sayang saja kalau sampai terkena cipratan lumpur. Oya, sebenarnya aku sudah pernah sekali lewat jalan ini. Waktu itu sekitar tahun 2011 aku bersama rombongan keluarga motoran ke Amuntai ke Waterboom Amuntai yang baru buka. Pulangnya kami lewat jalan pintas ini. Leadernya waktu itu adalah paman karena dia sering ke sana ketika memancing. Ya, kawasan jalan pintas tersebut biasanya dikunjungi orang-orang dari berbagai daerah untuk mencari ikan karena di sana terdapat sungai dan perairan rawa tanpa pemilik.

Setelah melewati persimpangan menuju Desa Pulau Damar jalanan makin kacau saja. Di kanan kiri sawah rawa membentang luas mengapit jalan setapak yang kami lewati. Tak ada jenis tanaman yang ditanam di sana, entah karena pemiliknya tidak ingin atau memang tanahnya yang tidak cocok dicocoktanami. Meski dari kejauhan aku melihat sepetak sawah yang ditanami dengan pohon sawit. Beberapa rumah atau yang lebih mirip pondok warga juga berdiri di tengah-tengah sawah. Namun dari pondok-pondok tersebut tak banyak penghuninya yang masih menetap. Hanya ada satu rumah yang kulihat masih berpenghuni dan memelihara banyak sapi di area halamannya yang difungsikan sebagai kandang. Mungkin ketiadaan mata pencaharian di sana sehingga mereka memilih meninggalkan tempat tersebut. Yeah, mungkin ini salah satu Amuntai undercover. Perkampungan marjinal di ujung kabupaten HSU.

Kebun sawit di tengah swah berawa

Akhirnya di jarak 30 km dari rumah kami tiba kembali di jalan besar, tepatnya di Desa Banjang, Kecamatan Banjang Kab HSU. Karena waktu itu jam makan siang sudah tiba, tujuan pertama kami adalah mencari warung makan. Meski sudah lumayan sering ke Amuntai tapi aku tidak banyak tahu tentang tempat kuliner yang bagus di Amuntai. Dulu kami kalau ke Amuntai seringnya mencari menu itik tanpa tulang yang warungnya persis di tepi sungai dekat pasar tradisional Amuntai. Tapi area tersebut sekarang sedang direnovasi karena sebelumnya kulihat ada beberapa bangunan yang terkena longsor akibat dibangun terlalu dekat ke badan air.

Sebenarmya ada sih tempat makan lesehan yang enak di dekat Waterboom Amuntai tapi lumayan jauh dari area pasar. Sedangkan tujuan kami adalah ke pasar tradisionalnya. Jadilah dengan bekal insting kami mampir ke warung makan Jawa Timur Ayam Bakar Mas Eko, persis di sebelah rumah makan Kalijo cabang Amuntai. Semoga saja enak doa kami waktu itu. Beruntung ada tempat lesehannya juga. Disanalah kami duduk. Warungnya juga jadi satu dengan tempat berjualan jus. Eh, suami menawariku pencok buah. Awalnya aku menolak karena beberapa hari terakhir sering makan pencok di kantor. Eh ternyata yang dimaksud dengan pencok oleh suamiku itu adalah manisan mangga dalam cup yang dijual di meja penjual jus. Jadilah suami membeli satu cup harganya 7 ribu rupiah. Rasanya? Manis, asam, pedas. Pedasnya banget sih di lidahku, meski kata suami enak.



Pesanan ayam bakar, nasi, dan lalapan pun datang. Rasanya lumayan enak. Cocoklah di lidah kami. Suamiku senang sekali dengan sambalnya, bisa tambah banyak pula karena tinggal ambil di mangkok yang disediakan. Aku seperti biasa, makan dengan sambal sebagai hiasan. Dicocol sedikit bersama kecap. Not bad lah. Harganya cukup bersaing yaitu sekitar 20 ribu rupiah per porsi.

Pengisi perut 

Tujuan selanjutnya adalah Masjid Raya Amuntai. Kami shalat karena waktu zuhur telah tiba. Sejujurnya aku baru kali pertama ke kompleks masjid ini. Lumayan besar juga. Kurang lebih sama dengan masjid agung yang ada di Barabai. Tapi bedanya di ke empat sisi masjid ini diapit oleh jalan besar sehingga ada banyak pintu masuk. Meski begitu kemarin itu pintu masuk yang dibuka hanya satu yaitu pintu masuk bagian belakang di dekat parkir sepeda motor. Ada satu yang menarik perhatianku adalah sebuah pohon raksasa yang menjadi penghias utama halaman masjid. Umurnya pasti sudah tua sekali dan yang pasti rindang.



Tujuan yang terakhir dan utama adalah pasar tradisional Amuntai. Misi kami yang utama adalah mencari barang yang kemungkinan ada di pasar Amuntai dan yang pasti tidak ada di Barabai, karena sudah hunting sebelumnya. Banyak orang yang bilang kalau untuk barang-barang tertentu stokmya lebih banyak di Amuntai dan bahkan barang yang tidak ada di Barabai pun bisa jadi ada di Amuntai. Diluar akurat atau tidaknya anggapan tersebut, bagiku ini adalah poin kedua Amuntai undercover. Konon katanya Amuntai memiliki pelabuhan sendiri sehingga distribusi barang lewat jalur air lebih banyak ke Amuntai. Tapi sayang beribu sayang barang yang kami cari tidak ditemukan. Sekalinya ketemu harganya naik 75%. Bah! 

Berbicara tentang pasar tradisional Amuntai, di sinilah pusat utama jual beli warga Amuntai dan sekitarnya. Meski sudah berdiri Plaza Amuntai, yaitu sebuah kompleks pertokoan modern di dekan taman kota sejak beberapa tahun yang lalu, pasar tradisional Amuntai tak pernah sepi dari orang-orang yang berdagang dan ingin berbelanja. Pasar ini terletak di sebuah bangunan berlantai dua yang sudah terlihat tua sekali. Tidak hanya di bangunan tersebut, area pasar pun merambah ke samping kanan kiri bahkan di seberang jalan. Jadi jangan coba-coba berkendara ke daerah ini kalau hanya untuk lewat, macet.

Ada banyak jajanan pasar yang bertebaran dijual para pedagang kecil. Karena kondisiku kemarin sudah kenyang jadi aku tidak lapar mata untuk membeli jajanan yang sebenarnya menggiurkan tersebut. Ada sebuah warung besar di tengah-tengah pasar yang menjual banyak kue tradisonal. Dari lantai dua, aku bisa cuci mata melihat-lihat jenis-jenis kue tersebut.

Jajanan pasar

Setelah urusan kami selesai, kami pun mulai beranjak dari Kota Amuntai untuk kembali mudik ke rumah. Kali ini kami malas bertemu dengan becek-becek lagi, jadi kami lewat jalan umum saja meski harus rela menempuh jarak tambahan sekitar 11 km dari jalan pintas yang sebelumnya kami lewati. Di perjalanan pulang tersebut ternyata suami ngantuk berat. Dia pengen tiduran bentar katanya di masjid tapi hingga berkilo-kilo meter kemudian tak satu pun masjid disinggahi entah mau cepat sampai atau merasa tempatnya kurang enak tapi yang jelas dia menolak ketika aku menawari tukar posisi. Padahal bener lho aku kuat aja untuk nyetir perjalanan jauh, toh lagi mahasiswa kan biasa aja. Cuma mungkin suami malas diliatin orang-orang atau kasian sama aku yang bertubuh kecil ini. Hehe

Sampai saking ngantuknya suami aku mencoba "menghiburnya" dengan menyalakan lagu kesukaan. Tapi susah karena pakai headset dan pakai speaker pun suaranya jadi ditiup angin. Sampai di tempat yang sepi ia meminta botol minum. Kukira akan diminum ternyata airnya dibasuhkan ke wajah. Barulah ia merasa segar. Waktu kami terakhir ke Amuntai dia begitu juga, ngantuk saat di perjalanan pulang. Bahkan waktu itu aku juga ikut-ikutan ngantuk. Jadilah kami tiduran di masjid sambil nunggu waktu ashar. Every trip has a storytell.

Es nyiur gula habang

Sampai di Desa Hamparaya yang masih masuk Kabupaten Balangan, kami mampir di warung minum yang menjual es kelapa dengan tambahan gula aren atau kalau dalam bahasa Banjar disebut es nyiur gula habang. Lumayanlah meredakan haus, kantuk, dan lelah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Sampai di Desa Haur Gading kami belok ke sebelah kiri, masuk jalan pintas menuju rumah. Meski medannya terjal, melewati perkebunan karet, tapi karena jarak yang berhasil kami pangkas lumayan jauh jadi kami dengan senang hati lewat sini. Ini kali yang kedua, pertama kali aku lewat sini waktu kami pulang traveling berburu gerhana bulan Maret lalu.

Monday, October 17, 2016

Home Decor

Bagi masyarakat perkotaan home decor mungkin sudah termasuk lifestyle wajib, apalagi jika berbicara tentang masyarakat yang status perekonomiannya menengah ke atas. Meski begitu, passion tidak memandang status ekonomi dan tempat bermukim bukan? Contohnya aku yang terlahir dari keluarga biasa-biasa saja dan notabene hidup di kampung sejak dulu menyukai tema-tema yang bersinggungan dengan home decor.

bukalapak.com

Awalnya aku tak menyadari ketertarikanku ini. Namun kalau diingat-ingat lagi, Rindang kecil dulu suka sekali mengkreasikan barang bekas menjadi lebih berguna. Dulu waktu SD meja belajarku penuh dengan hiasan dan kotak-kotak hasil DIY. Ketika mulai diberi kamar sendiri pun aku mulai berkreasi dengan menempel beberapa hiasan pada dinding. Aku juga suka mengoleksi stuff kecil-kecil yang sepertinya tak ada artinya. Printilan-printilan gitu. Bahkan aku mengoleksi kotak-kotak bekas susu, biskuit, atau bekas kemasan apa saja dengan alasan "mungkin suatu saat diperlukan". Dan seringkali kotak-kotak tersebut akhirnya memang beralih fungsi menjadi lebih berguna.

Aku juga senang baca majalah tentang dekorasi rumah dan hunian. Bahkan beberapa aku sempat beli beberapa majalah tersebut yang notabene harganya mihil banget untuk ukuran anak sekolah sepertiku dulu. Wajarlah ya kalau mahal, majalah tentang home decor kan harus full color. Tentu saja biaya produksinya juga tidak murah.

Waktu mulai kuliah dan ngekost di luar kota, kamarku penuh dengan hasil DIY. Yup, bagi pecinta home decor berstatus mahasiswa pada saat itu, DIY adalah cara teraman untuk memuaskan addictionku terhadap home decor. Sesekali ketika berjalan-jalan ke mall aku tak melewatkan Informa dan ACE sebagai toko yang harus kukunjungi, selain Gramedia tentunya. Tak banyak yang bisa kubeli di kedua toko besar tersebut. Sejak awal aku memang hanya berniat cuci mata, memuaskan passionku.

Kalau ke Hypermart aku senang ke daerah stuff atau peralatan rumah tangga. Aku membeli barang-barang kecil yang jarang dijual di luar semacam storage atau hiasan dinding. Bagi mama dan beberapa anggota keluarga besarku yang lain, hobiku ini terkategori aneh dan tidak lazim. Menurut mereka ini adalah hobi orang kaya. Ya mana tahu dengan menggeluti hobi ini aku jadi kaya ya kan, hehe. Alhamdulillah, suamiku tidak masalah dengan keganjilanku ini. Hanya saja orang yang menyukai home decor biasanya adalah pecinta kerapian. Suami sering kena omel gara-gara hal ini. Hihi. 

homedit.com

Aku menonton semua acara home decor di stasiun TV yang ada di rumahku seperti D'Sign, The Project, Rumah Impian, Griya Cantik, dan Let's Colour. Aku menyukai sesi redecorate ruangan, terutama ketika hostnya berbelanja di galeri stuff gitu. Surga banget buat mata. Dan tentunya bagian yang menjadi favoritku adalah sesi DIY yang inspiratif sekali.

Toko online yang pertama kali kukenal menjual barang-barang home decor adalah Stiletto in Style, secara dia masih saudaraan dengan penerbit Stiletto Book yang buku-bukunya banyak kukoleksi. Akhir-akhir ini aku juga suka nonton youtube gara-gara mencari inspirasi DIY dan Home Decor. Barusan lihat video room tournya Riesty siapalah. Aduh, keren sekale kamar dan koleksi home goodnya. Durasi lumayan pula, 14 menit sekian. Puas.

Ternyata ada juga orang yang seselera denganku dalam hal ini. Yah setidaknya aku tidak menjadi satu-satunya yang kepincut dengan home decor. Meski tetap saja di lingkungan keluarga aku terlihat "gila" karena punya hobi aneh begini. Btw, aku punya rencana untuk redecorate kamar tidur. Semoga bisa cepat terealisasi. Aamiin.

Sunday, October 16, 2016

Aktivitas Blogging Saya

Kali ini aku akan nge-share hasil wawancara tentang aktivitas blogging yang kulakukan selama ini. Oya, wawancara ini adalah ide dari Mbak Asri pemilik blog My Scrap Book. Beliau punya program khusus untuk mewawancara para blogger dalam program Ngobrol Bareng di blognya. Berikut adalah hasil wawancaranya. 




Hallo, Mbak Rindang. Kenalin saya Asri yang punya blog My Scrap Book. Kali ini ijinkan saya bertanya sama Mbak ya, terkait profesi Mbak sebagai analis di laboratorium lingkungan dan blogger.

​1. Hallo, Mbak. Apa kabarnya nih? Wah, lagi sibuk apa nih sekarang?
Alhamdulillah, kabar saya baik. Sekarang sih lagi sibuk kerja, ngurus keluarga, dan ngeblog. Setiap hari menjalani rutinitas pagi-sore kerja, sore-pagi mengurus keluarga, dan ngeblog di sela-sela waktu tersebut atau weekend kalau nggak ada acara.

2. Ehm, Mbak. Maaf ya, ganggu waktunya sebentar. Boleh nanya-nanya kan? Ehm Mbak, kalau boleh tau nih, profesi mbak saat ini apa ya? Boleh diceritakan sedikit mengenai profesi Mbak saat ini?
Boleh banget mbak. Profesi saya sekarang ini adalah sebagai analis di laboratorium lingkungan. Jadi kerjaan saya tiap hari itu menguji setiap sampel yang datang, khususnya air dengan berbagai parameter kimia seperti pH, COD, BOD, dll. Intinya untuk mengetahui apakah sampel air tersebut berbahaya atau tidak berada di lingkungan.

3. Pernahkah Mbak merasakan kebosanan atau mati gaya saat menjalani profesi Mbak yang nggak sedikit itu? Bagaimana cara Mbak apabila kemudian tiba-tiba merasakan kebosanan yang teramat sangat? 
Sampai sekarang sih alhamdulillah, aku belum pernah merasa bosan mengerjakan tugas-tugas di laboratorium. Mungkin karena masih terbilang pekerja baru ya, Desember ini baru genap setahun. Hihi. Kalau merasa sedikit agak jenuh caraku mengatasinya paling dengan internetan seperti main sosmed dan blogwalking ke blog teman-teman.

4. Kalau boleh tau nih, kan selain Mbak berprofesi sebagai analis, Mbak juga berprofesi sebagai blogger. Gimana sih cara bagi waktunya antara kesibukan Mbak sendiri dengan menulis blog?
Sebenarnya tidak ada waktu khusus saya dalam ngeblog. Well, artinya tidak ada pembagian waktu yang jelas antara kerja dan blogging. Tapi kebiasaan saya yang paling umum adalah waktu malam sebelum tidur itu ngedraft dulu. Ya jadi nulis sesuka hati, susunan dan EYDnya kacau dibiarkan saja dulu. Besoknya kalau hari kerja pas di kantor baru diedit, dipublish, dan dishare. Maklum wifi kantor lebih kenceng daripada paket data di rumah. Hehe. Kalau hari libur tetap dipublish juga tapi mungkin file fotonya dikurangin supaya nggak terlalu berat karena publish hanya pakai paket data.

5. Apa yang melatarbelakangi Mbak kemudian membuat blog? Kalau boleh tau, dalam sehari, seminggu, sebulan, bisa posting berapa banyak? Ada tantangan/kesulitan nggak, setiap kali mau memposting tulisan di blog? 
Latar belakang saya membuat blog awalnya sebagai media curhat dan menyalurkan hobi menulis saya. Dalam seminggu biasanya saya posting 2 atau 3 buah postingan. Baru-baru ini saya punya target satu hari satu postingan, tapi masih bolong-bolong. Heuu. Tantangan terbesar bagi saya setiap kali mau posting adalah jaringan internet yang lelet. Karena saya juga ingin melengkapi postingan saya dengan gambar yang harus didukung dengan jaringan internet yang baik.

6. Bagaimana pandangan orang-orang di sekitar Mbak, di lingkungan pekerjaan Mbak Rindang dengan profesi Mbak sebagai blogger? Apakah mereka mendukung atau malah ada yang mencibir? Apa keuntungan yang Mbak dapatkan saat Mbak kemudian memilih menjalani profesi sebagai blogger? 
Boleh dibilang yang tahu kegiatan saya sebagai blogger hanyalah suami dan sahabat-sahabat saya saat kuliah. Orang-orang yang lain bisa dibilang tidak mengetahui atau menganggap saya ngeblog tidak serius. Hal ini karena saya memang tidak pernah mensoliasikan kegiatan saya sebagai blogger. Beberapa orang yang kemudian tahu kalau saya memang serius dalam ngeblog mendukung saya dan kebanyakan mereka berkomentar “rajin amat menulis sambil bekerja kantoran”. 


Keuntungan yang saya dapat banyak sekali sebagai blogger diantaranya adalah saya mendapat banyak teman blogger di dunia maya, menang (dan dapat hadiah) beberapa kali giveaway dari teman blogger yang mengadakannya, serta mendapat ilmu dari beberapa pengalaman yang ditulis oleh blogger lain.

7. Apakah keluarga Mbak selama ini mendukung dari sisi pekerjaan tetap Mbak Rindang dan pekerjaan sampingan Mbak sebagai blogger? 
Suami saya satu-satunya orang di keluarga yang tahu bahwa saya serius dalam dunia blogging. Alhamdulillah dia mendukung 100% kegiatan blogging saya. Dia banyak memberikan ruang dan waktu sehingga saya tidak merasa bersalah dan fokus ketika blogging.

8. Ada tips dan trik nggak dari Mbak dalam menuliskan sebuah tema di blog? Atau saat menulis blog? 
Tema yang paling enak untuk ditulis di blog adalah tema yang kita alami sendiri. Dengan mengalami sendiri, isi dari tema tersebut sudah tentu kita kuasai dan harapannya dapat bermanfaat bagi pembaca blog kita. Selain itu sesuaikan tema tulisan kita di blog dengan niche blog kita. Saya sendiri kebetulan lifestyle blogger, jadi isi blogger saya gado-gado tapi lebih banyak bercerita tentang pengalaman pribadi dengan tema apa pun.

9. Menurut Mbak, blogger di era sekarang ini penting nggak sih?
Penting banget. Blogger bagi saya semacam penyampai berita non-formal terpercaya di dunia maya. Namun meski non-formal isi beritanya bagi sebagian orang tertentu sangat berguna karena biasanya ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.

10. Yang terakhir ya. Ada pesan nggak untuk para blogger yang memiliki pekerjaan pokok atau untuk para pemula yang masih baru berkecimpung di dunia perbloggeran? 
Wah, saya sendiri sebenarnya masih belajar dalam menyeimbangkannya. Tapi trik yang selalu saya pakai ini cukup berhasil. Rampungkan dulu semua pekerjaan kita sebagai pegawai di kantor dan pekerjaan kita sebagai IRT di rumah, baru setelah itu kita dapat berpuas ria dalam ngeblog. Satu lagi, menggunakan blog planner dalam blogging membuat postingan kita jadi teratur. Saya sendiri punya blog planner sederhana berupa kalender yang tiap harinya saya tulis judul yang akan saya posting pada tanggal tersebut. Kalau mendapat ide saya langsung menuliskannya pada kolom tanggal selanjutnya yang masih kosong.


Terima kasih, Mbak atas waktunya. Sukses selalu untuk Mbak Rindang.

Wednesday, October 5, 2016

Tiram Mutiara

Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Mollusca
Kelas               : Bivalvia
Ordo                : Anysomyaria
Famili              : Pteridae
Genus              :Pinctada
Spesies            :Pinctada maxima

Deskripsi:
Pinctada maxima atau tiram mutiara merupakan spesies yang mempunyai cangkang luar yang keras, berwarna coklat kekuning kuningan, garis redier kecil-kecil tidak jelas dan berwarna terang yang dihubungkan sepasang engsel (hinge) sehingga cangkangnya dapat terbuka dan tertutup. Cangkangnya berbentuk cembung, ukurannya lebih dorso-ventral daripada anterior-posterior.
Tubuh tiram mutiara terdiri atas 3 bagian yaitu: kaki, mantel dan kumpulan organ bagian dalam. Kaki merupakan salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis, terdiri atas susunan jaringan otot yang dapat meregang. Tiram mutiara termasuk monomary, yaitu hewan yang memiliki otot tunggal yang berfungsi untuk membuka dan menutup cangkang. Mantel membungkus organ bagian dalam dan memisahkan dengan bagian cangkang, selain itu juga berfungsi untuk menyeleksi unsur-unsur yang terhisap ke dalam tubuh dan jika dalam tubuhnya terdapat kotoran maka mantel akan menyemburkan kotoran itu keluar. Bagian mantel tersusun dari berkas jaringan sel yang berbentuk kolom-kolom yang homogen.

Habitat:
Pinctada maxima hidup pada kedalaman lautan 5-40 m, dengan salinitas kurang lebih 30 ppt, suhu 29 - 31 0C, kecerahan 4,5 - 7,5 m.

Potensi:
Famili tiram mutiara dikenal menghasilkan mutiara dengan kualitas tinggi dengan harga yang selangit di pasaran internasional.

Sumber Pustaka:
Aras Syazili.2011.Biologi Tiram Mutiara (Pinctada maxima)www.akuakultur.blogspot.com.Diakses pada 23 Oktober 2011
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates