Tuesday, September 20, 2016

Kolam Renang Istiqamah

Di kotaku yang kecil ini, keberadaan kolam renang umum adalah sesuatu yang mewah. Terutama dulu, ketika sebuah waterpark yang baru beroperasi belum dibangun. Aku dan para sepupu kecilku cukup sering berkunjung ke sana. Kolam renang yang kami kunjungi bernama Kolam Renang Istiqamah, karena letaknya di dekat kompleks Pesantren Putra Darul Istiqamah. Bahkan sepertinya yang mengelola kolam renang ini juga adalah pihak pesantren tersebut.

Sepupu-sepupu kecilku

Inilah ekspresi bahagia mereka

Family time

Kolam renangnya tidak terlalu luas, hanya ada dua kolam yang memiliki kedalaman berbeda. Satu untuk balita, satu untuk anak-anak hingga remaja. Aku sendiri tak pernah masuk ke dalam kolamnya, hanya menjaga adik-adik dari pinggir saja. Meski tidak terlalu luas, tapi area di sekitar kolam renang cukup sedap dipandang karena ada beberapa hiasan dari batu selain tembok yang mengelilingi lokasi kolam.

The guardians

Di kolam renang balita

Bagus kan hiasan batu alamnya?

Saat melihat foto-foto waktu kami di sana, rasanya menyenangkan sekali. Sekarang adik-adikku sudah besar. Level main airnya sudah meningkat, mereka sudah bisa minta diajak jalan ke waterpark atau waterboom di luar kota. Ckck.


Mr. Unpredictable

Bukti Lulus

Beberapa waktu yang lalu sempat heboh kabar di antara alumni tentang status kelulusan mahasiswa di web Dikti, yang membawahi seluruh universitas di Indonesia. Meski faktanya mahasiswa tersebut sudah lulus namun ada yang statusnya tertulis belum lulus. Di jurusan angkatanku sendiri hampir setengah dari total mahasiswa mengalaminya, termasuk aku.

Di web tersebut statusku masih tertulis sebagai mahasiswa aktif meskipun waktu itu aku sudah hampir setengah tahun lulus kuliah. Kesel dong? Iyalah.

Kabarnya kalau status kita belum lulus di web tersebut, kita akan kesulitan menggunakan ijazah kita dalam skala nasional. Wah-wah, kabar tersebut membuat yang mengalami kesalahan data seperti ini semakin panik. Oya data yang salah juga bukan hanya status kelulusan, namun juga ada yang salah nama lengkap, TTL, bahkan jenis kelamin! Entah kesalahan ada dimana.

Para alumni yang mengalami kesalahan pada data miliknya tersebut dianjurkan untuk menunjukkan akta kelahiran atau ijazah asli sesuai jenis kesalahan datanya ke rektorat kampus masing-masing. Aku pun sengaja datang ke Banjarmasin, ke rektorat universitasku untuk mengurus proses perbaikan data. Sialnya saat itu ruangan yang dimaksud sedang tidak membuka pelayanan, entah karena sibuk atau jam istirahat. Proses perbaikan dataku pun tertunda.

Alhamdulillah tak lama kemudian ada kabar kalau proses perbaikan bisa dilakukan via online. Hal ini mungkin untuk mengakomodasi alumni yang rumahnya jauh dari kampus atau bahkan sekarang sedang merantau/pindah ke luar pulau. Aku pun mencoba proses perbaikan via online ini. Cukup mudah, aku hanya tinggal mengisi form yang tersedia dan melampirkan foto hasil scan ijazah. Beberapa hari kemudian status kemahasiswaanku sudah berubah menjadi lulus. Yeaay.

Era digital memang memudahkan. Meski di sisi lain juga sedikit merepotkan. Contohnya ya ini, kita tidak bisa menyatakan bahwa kita sudah lulus kuliah hanya dengan ijazah kelulusan. Kita juga harus memastikan status mahasiswa kita telah benar lulus di database Dikti untuk memperkuat pembuktian.

Catatan Akhir Tahun

Batu Karang

Jangan Sedih

Sunday, September 18, 2016

Si Kecil Maya

Ini Maya dan adikku

Punya ponakan atau sepupu yang lengket banget sama kamu? Aku punya, namanya Maya. Umurnya sekarang sudah 6 tahun. Sejak dari bayi dulu, dia sudah akrab dengan keluargaku. Sehingga di usia batitanya, ia sudah sering menginap di rumahku kalau mamanya lagi sibuk atau karena dia mau sendiri.

Maya paling dekat dengan papa, karena papa memang suka dengan anak-anak. Orang kedua dan ketiga yang disukainya yaitu aku dan suami. Dulu waktu usianya masih sekitar 2-4 tahun, saat menginap dia masih mau tidur dengan mama dan papa. Tapi sekarang setelah usianya 5-6 tahun dia sudah pinter milih, katanya paling enak tidur di kamarku. Terpaksa deh suami tergusur ke kasur di bawah. Hehe.

Ini kegiatan Maya sebelum tidur

Mewarna, di lain waktu

Si kreatif Maya
Maya kalau di rumahku kayak Ratu. Dia bebas melakukan apapun yang dia mau. Bagiku dan suami, selama yang ia lakukan positif dan sesuai umur kami akan dengan senang hati menyediakan fasilitas. Seperti menggambar, mewarna, melihat buku-buku bergambar, dan bermain boneka. Ada satu kegiatannya yang membuat kami kelimpungan, yaitu kalau dia sudah mengajak kami main kartu flora dan fauna!

Saat dia bermain selain kartu, kami masih bisa mengerjakan yang lain. Tapi kalau dia sudah mengajak main kartu flora-fauna artinya kami harus menyediakan waktu dan tubuh di dekat dia. Aku sendiri kadang bisa sampai tertidur kalau mainnya di atas kasur. Atau kalau aku lebih sibuk aku akan menolak dengan halus dengan syarat nanti kita bisa main kalau pekerjaanku selesai.

Di lain waktu ia mencoret-coret cermin kami dengan bedak bayi dan kuas yang ia temukan di kamar. Hasil gambarnya memperlihatkan ada aku dan suami serta tanda love juga gunung, rumah, dan pohon. Ah, kreatifnya anak-anak. Media apapun tidak membatasinya berkreasi. Aku tidak sanggup marah jadinya, hanya menjelaskan kalau cerminnya dijadikan kanvas kita jadi tidak bisa bercermin dengan jelas.

Biasanya dia nginap malam Minggu atau jika besoknya hari libur. Maklum dua tahun terakhir dia kan sekolah di TK. Sekarang sudah mulai masuk SD, dia mulai jarang ke rumah apalagi nginap. Kebiasaan kami saat pagi-pagi ketika Maya menginap adalah jalan-jalan pagi. Karena kami berdua juga libur, jadi lebih leluasa menggunakan waktu di pagi Minggu. 


Rute yang kami ambil biasanya adalah jalan menuju kebun karet di desa kami. Terkadang kami juga pakai sepeda atau sepeda motor, karena Maya pengen atau takut kalau dia kelelahan karena jaraknya lumayan jauh sekitar 4 km bolak-balik. Sekalian jalan-jalan, aku dan suami juga bisa ngecek kondisi kebun karet kami yang letaknya memang agak jauh ke dalam hutan.

Aku dan suami, foto diambil oleh Maya


Menghabiskan waktu dengan Maya adalah hal yang kami berdua sukai. Sadar bahwa waktu untuk bersama anak kecil ini tak akan lama lagi -sebelum ia meremaja, kami memaksimalkan quality time. Berharap semoga kenangan-kenangan masa kecil Maya akan menjadi pengingat yang manis bagi kami atau dia ketika sudah dewasa nanti.

Wednesday, September 14, 2016

Anak Durhaka

katakatamanfaat.blogspot.com

"Anjing menggonggong, kafilah berlalu" Begitu status seorang anak yang baru saja mengusir ayahnya dari rumah di akun media sosialnya. Dia menganggap kecaman dan nasihat untuknya sebagai gonggongan anjing, sedang ia merasa sebagai kafilah paling suci di muka bumi.

Jika suatu hari kau menyadari bahwa ternyata anjing yang terus menggonggong itu sebenarnya adalah kau, maka semoga ayahmu masih hidup untuk memaafkanmu. Karena ia lah sebenarnya kafilah yang selama ini bersabar menghadapi gonggonganmu.

Kau dan ibumu terus mengonggong bahwa ayahmu adalah lelaki miskin
Lelaki pemalas yang tak mampu menafkahi keluarga
Meski segala daya upaya telah ia lakukan dengan kedua tangannya
Rasa kekurangan dari hatimu yang tak pandai bersyukur itu selalu ada

Kau dan ibumu terus menggonggong bahwa ayahmu adalah lelaki hina
Karena tak punya harta
Sehingga tak layak diberi hormat
Karena bagimu uang adalah segalanya
Yang membuatmu tak mampu berpikir saat ia tak ada

Kau dan ibumu terus mengonggong bahwa sekolahmu murni karena jasa ibumu
Yang mencari nafkah di negara orang
Bahkan kau menyombongkan diri dengan berkata
Bahwa kau sudah punya 4 ijazah
Jauh lebih pintar dari ayahmu yang tak pandai membaca

Padahal kau tak tahu
Bahwa ayahmu tak lelah berdoa
Agar kamu dan adikmu selalu diberi keselamatan dunia akhirat
Agar kamu dan adikmu diberi jalan yang lurus
Agar sekolahmu tak hanya menghasilkan ijazah
Tapi juga mematri akhlak mulia di dadamu

Padahal kau telah lupa
Betapa sejak kecil kau ditimang
Diberi makan dan kasih sayang
Dibahagiakan dengan apapun yang ia bisa

Ayahmu memang lelaki papa
Tak bergelar juga miskin harta
Tapi ia tahu bagaimana membesarkanmu
Bagaimana mengajarimu kebajikan
Meski anak itu berbalik menyerangnya
Dan ia punya selaksa doa untukmu

Bahkan untuk ibumu yang pengecut itu
Yang tak pernah berani pulang
Untuk membereskan masalahnya sendiri
Yang hanya berani "menggunakan" kamu
Sebagai senjata melawan mantan suaminya
Yang hanya membisikimu kebencian
Pada ayahmu sendiri, hingga kini akhirnya kau durhaka

Nikmatilah dosamu
Tapi ingat, Tuhan tak pernah tidur

Thursday, September 8, 2016

Keluarga Besar

Awal Agustus lalu aku menghadiri acara resepsi perkawinan saudara sepupu nenek aku, yang berarti dia nenek aku juga. Wow, sudah “bergelar” nenek kok baru nikah? Jangan dikira sepupu nenekku tersebut sudah lanjut usia ya, dia baru 30 tahunan. Hanya karena struktur keluarga besar saja yang membuat dia punya gelar nenek. Nenekku yang asli memang lahir dari saudara lebih tua dan menikah di usia muda sehingga cepat punya cucu pertama, yaitu aku. Btw, kalau menyapa beliau aku nggak manggil dia nenek kok tapi “kakak”. Haha.

Yup, aku memang terlahir di keluarga yang sangat besar. Adalah Datu Andin Asmuni yang merupakan cikal bakal keluarga besar ini. Beliau dulunya adalah seorang kepala desa di kampung tempat kami bermukin sekarang. Beruntung, sekarang pamanku juga menjadi kepala desa. Meski melalui proses pemilihan umum, tapi kata oranga-orang sebagian faktornya juga berasal dari nenek moyang kami yang memang seorang pejabat desa. Oya konon Andin sendiri adalah nama gelar bangsawan Banjar pada zaman dahulu kala. Penjelasannya bisa dibaca sendiri di laman Wikipedia.

Sedikit dari keluarga besar kami

Dari Datu Andin ini lahirlah 9 anak, diantaranya adalah orang tua nenekku. Aku memanggil beliau Datu Rohani dan alhamdulillah sempat melihat beliau hidup. Pada tahun 2011 yang lalu beliau meninggal. Semoga almarhum datu diterima di sisi Allah SWT. Aamiin. Hanya Datu Rohani yang menempati rumah keluarga Andin. Delapan orang saudara beliau merantau ke luar kampung, bahkan ada yang hingga kini beranak pinak di Jakarta. Sedangkan yang terdekat ada di kampung sebelah. Dari 9 orang tersebut, yang masih hidup tinggal 4 orang. Termasuk Datu Khairul yang menjadi orang tua mempelai pengantin yang kuhadiri hari Minggu yang lalu, beliau anak ke delapan di keluarga Andin.

Datu Rohani sendiri punya 6 anak, nenekku adalah anak yang kedua. Lagi-lagi, hanya nenek yang menetap di kampung kami. Ke-5 anak datu yang lain, bermukim di perantauan setelah menemukan jodohnya masing-masing. Nenek sendiri punya 5 anak, alhamdulillah hampir semuanya menetap di kampung kami termasuk mamaku yang menikah dengan bapa yang juga asli dari kampung sini. Btw, bapa juga berasal dari keluarga besar yang masih terikat dengan keluarga besar dari mama. Akan kuceritakan silsilahnya nanti di postingan yang lain. 

Oya, setelah acara resepsi pernikahan kemarin aku diundang di grup BBM dan WA keluarga besar Andin Asmuni. Senang rasanya bisa silaturahmi dengan keluarga besar meski hanya lewat dunia maya. Meski aku kurang hafal nama dan silsilah sebagian besar generasi “tua”nya. Tapi paling tidak dengan adanya grup ini, dapat membuatku semakin mengetahui hubungan antar setiap orang. Tidak hanya label "keluarga" tapi juga pertalian darah.

Sunday, September 4, 2016

Traveling ke Gua Hantanung dan Sungai Maranting

Gunung Batu Hantanung
Hari ini aku diajak suami ke Desa Gunung Batu. Sebenarnya suami ada agenda di sana dengan anak-anak pramuka binaaannya yaitu pelantikan pramuka penegak tingkat Bantara dan Laksana. Karena waktunya hari Minggu, otomatis aku bisa ikut sekalian memuaskan jiwa travelerku. Hehe.

Desa Gunung Batu secara administratif terletak di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan. Spedometer Ride menunjukkan jaraknya sekitar 27 km dari rumahku yang terletak di Desa Labunganak, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jalur menuju desa ini tidak sulit. Setelah perbatasan kabupaten di Desa Limpasu, terdapat pertigaan. Di sana kami belok kanan dan secara berturut-turut melewati Desa Tariwin, Gunung Manau, dan Sungai Kusi. 

Oya, di Desa Gunung Manau terdapat pertigaan yang salah satu jalannya menuju Balai Benih Ikan (BBI) Gunung Manau, semacam Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) di Mandiangin. Jalan menuju Desa Gunung Batu lurus saja hingga tiba di pertigaan Desa Bihara, kami belok kanan. Desa ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Awayan. Tak terlalu jauh kemudian, kami sampai di perbatasan kecamatan memasuki Kecamatan Tebing Tinggi. Berturut-turut setelah itu kami melewati Desa Juuh, Desa Sungsum (Canting Langit), dan Desa Gunung Batu.

Sesuai dengan namanya, jalan di Kecamatan Tebing Tinggi ini menanjak dan berkelok-kelok. Tidak ada pagar pembatas antara tepi jalan dengan jurang di salah satu bahu jalan. Di sisi jalan yang lain, kebun karet warga menjadi pemandangan. Banyak lubang di badan jalan membuat pengendara harus waspada agar tidak jatuh dari kendaraan karena lubangnya banyak yang besar dan dalam. Selain itu juga harus berhati-hati untuk menjaga jarak aman dengan pengendara yang berpapasan dari arah yang berlawanan karena jalan cukup sempit. Hanya ada sedikit rumah yang terdapat di sepanjang jalan yang kami lalui.

Di Desa Sungsum terdapat pertigaan yang bercabang ke kanan menuju Desa Auh. Aku tidak tahu persis berapa jarak yang diperlukan dari pertigaan tersebut untuk sampai ke Desa Auh. Tapi yang jelasnya jaraknya jauh sekali, bahkan konon nama Desa Auh berasal dari kata "jauh". Desa Auh memang berada sangat jauh sekali di atas pegunungan dan kalau tidak salah, Auh adalah desa terakhir sebelum jalan pegunungan tak dapat lagi dilewati kendaraan. Aku pernah ke sana saat SD dan SMP, sekitar 2-3 kali untuk mengunjungi keluarga jauh pada acara maulid nabi.

Di Desa Gunung Batu, kami mampir di sebuah gua dalam bukit batu (karst). Gua inilah yang menjadi ikon pariwisata di sana, dikenal dengan nama Gua Canting Langit atau Gua Gunung Batu Hantanung (menurut referensi yang kubaca di internet). Sayang sekali kompleks wisatanya sudah tidak dikelola lagi. Ini terlihat dari bangunan pos penjaga wisata dan toiletnya yang tidak terurus. Entah apa sebabnya, meski lokasi wisatanya tetap ada dan mungkin masih banyak yang berkunjung ke sana. Bukit batu yang menjadi badan gua tersebut merupakan batuan kapur (karst) yang biasa digunakan  untuk membangun pondasi rumah. Terletak di sebelah dua sekolah (SDN Gunung Batu dan SMPN 2 Awayan) yang terdapat di desa tersebut, bukit batu tersebut menjadi latar utama desa ini. Ini pulalah yang mungkin mendasari nama desa ini, Desa Gunung Batu.


Eks-pos penjaga yang sudah bobrok

Ada dua jalan untuk memasuki gua ini, dari “pintu" depan atau dari "pintu" belakang. Meski dari dua pintu tersebut, sepertinya terowongan dalam gua saling terhubung satu sama lain. Pintu depan terletak di tepi jalan namun akses kesana agak susah karena terhalang sungai kecil. Sedangkan pintu belakang gua lebih mudah aksesnya meskipun lebih jauh untuk mencapainya. Di gua bagian belakang inilah wisatawan lebih banyak berkunjung.

Lantai jembatannya berlubang-lubang
Begitu pula yang kami lakukan. Setelah parkir di dekat bangunan eks-pos penjaga yang terdapat di tengah-tengah kebun karet, kami berjalan kaki melewati jembatan gantung. Jembatan gantung tersebut melintasi sebuah sungai kecil jernih yang berbatu di bawahnya. Tidak jauh berbeda dengan bekas pos penjaga, jembatan gantungnya pun tidak dalam kondisi bagus lagi. Harus berhat-hati saat berjalan di atasnya. Pintu belakang gua terletak tidak jauh setelah kami menyeberangi jembatan gantung tersebut. 

Anak-anak langsung selfie setelah sampai di mulut gua. Aku dan suami masuk ke dalam gua. Gelap dan dingin, itulah yang dapat menggambarkan suasana di sana. Ada beberapa lorong yang dapat dimasuki dan salah satu lorongnya mengarah ke pintu depan gua. Entah yang mana, karena kami hanya berkeliling di mulut terowongan. Terlalu gelap untuk masuk kesana. Lagipula di beberapa bagian, langit-langit gua semakin rendah sehingga kami harus berjalan membungkuk.

Stalaktit yang besar berjuntai kokoh di salah satu “ruangan” gua. Ini pasti terjadi setelah proses beratus tahun lamanya. Btw, sepertinya disana pernah ada yang berkemah atau sekadar mampir karena ada bekas api unggun di salah satu lantai gua. Aroma khas kelelawar memenuhi indera penciuman kami, semakin masuk ke dalam kepak sayap bintang malam tersebut semakin jelas terdengar. Meski saat itu adalah waktu istirahatnya, mungkin ia terbangun demi mendengar ocehan kami yang mengunjungi gua.




Setelah cukup puas menikmati pemandangan gua dan berfoto-foto di sana. Kami kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan utama. Sekitar 1,4 km dari gua, sampailah kami ke tempat yang dimaksud. Tempat tersebut adalah sebuah tepi sungai berbatu dan beraliran deras. Menurut sumber yang kubaca, nama sungai ini adalah Sungai Maranting. Di bagian tepi sungai yang kami singgahi terdapat beberapa pohon rindang, sehingga sangat cocok dijadikan sebagai tempat piknik. Gunung Hantanung yang guanya tadi kami masuki terlihat dengan jelas dari sini. Puncaknya yang tidak terlalu tinggi terlihat gagah, seakan menantang minta didaki.


Welcome in Maranting river!


Gunung Hantanung menjadi background 'piknik' kami

Setelah parkir, sesi memasak menggunakan tungku dan peralatan sederhana pun dimulai. Menunya hanya nasi, mie instan, dan telur ayam yang digoreng dadar. Sekitar jam 11 lewat, makanan sudah siap semua. Sesi makan siang pun dimulai dengan peralatan dan menu seadanya. Sebagian anak yang lupa membawa piring, menggunakan daun pisang sebagai alas makan. Meski begitu kami semua lahap sekali makannya karena faktor lapar dan suasana alam yang damai sekali. Teringat dengan sarapan kami di Loksado, suasananya mirip seperti itu. Hanya ada gemericik air dan makanan yang tersaji di depan mata.


Memasak di tepi Sungai Maranting

Selamat makan siang!

Setelah berberes makan siang, suami dan anak-anak mulai bersiap untuk melakukan upacara pelantikan. Upacara pelantikan dilakukan di atas sungai. Jadi semuanya harus terjun ke sungai, bahkan aku sebagai fotographer. Haha. Tidak hanya terjun, tapi kami juga harus menyeberangi sungai. Bagian sungai di seberang kami lebih landai dan dasar sungainya rata sehingga lebih memungkinkan untuk melaksanakan upacara. Meski tidak dalam, menyeberangi sungai ini tidaklah mudah. Arusnya yang deras membutuhkan tenaga yang kuat untuk bertahan agar tidak ikut hanyut ke hilir. Aku saja perlu berpegangan pada tangan suami yang lebih kokoh agar sampai dengan selamat ke seberang.


Menyeberangi Sungai Maranting

Suasana sebelum pelantikan
Upacara pelantikan pun dimulai. Tiga bendera (bendera merah putih, bendera pramuka Indonesia, bendera lambang boy scout internasional) pelengkap upacara pelantikan pun berkibar dengan gagahnya. Pengucapan janji pramuka dan amanat dari pembina berjalan dengan khidmat. Upacara diakhiri dengan tepuk pramuka dan bubar barisan. Setelah itu sesi foto-foto semua anggota. Aku yakin, pengalaman ini sangat sulit dilupakan oleh mereka saat mereka mulai menjalani kehidupan dewasa nanti. Seperti aku yang mungkin tak akan pernah lupa saat menjadi anggota pramuka dulu. Setiap kegiatan dan perkemahan punya kenangannya masing-masing. Adalah momen langka jika sekarang aku masih bisa bertemu dengan teman-teman dan kakak-kakak pembina pramukaku dulu.


Sambil nunggu mereka siap difoto, fotografernya selfie dulu lah ya


Tebak aku yang mana?

Acara terakhir adalah berenang bebas. Yup, anak-anak yang mulai merasa nyaman berada di sungai mulai mencemplungkan badan mereka di dalam air dengan pakaian pramuka lengkap. Putra-putri kegirangan dapat bebas mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan berbasah-basah ria. Saat itu azan zuhur bergema jadi boleh dikatakan cuaca sedang panas-panasnya, namun itu tak menghentikan kegiatan mereka bermain air. Setelah puas, mereka pun naik dari sungai dan mulai menjemur pakaian yang basah. Sebagian yang tak membawa pakaian ganti, membiarkan pakaiannya kering di badan. Sambil menunggu pakaian tersebut kering, kami duduk-duduk sambil ngobrol bebas di bawah pohon rindang yang sejuk berangin. Saat seperti ini rasanya free sekali. Bebas dari tekanan pekerjaan dan kehidupan.

Setelah dirasa cukup, jam 2 siang kami mulai balik kembali ke rumah masing-masing. Naas, di tengah perjalanan ada salah satu anak pramuka yang jatuh dari motor. Bukan di jalan berkelok dan mengerikan seperti yang kami khawatirkan, tapi di jalan lurus dan lebar di Desa Tariwin. Tidak ada motor atau mobil lain yang menabrak dia. Hanya dia yang memang entah ngantuk atau sedang melamun sehingga motornya menyerepet ke sisi jalan. Beruntung tak ada yang dirugikan selain dirinya, teman yang dibonceng, dan kerusakan kecil pada sepeda motornya.

Ia dan temannya pun kami antar ke tukang urut. Motornya diperbaiki sendiri oleh anak-anak cowok karena tak ada bengkel yang buka di sekitar sana. Setidaknya kecelakaan tersebut sudah dapat diatasi. Selain kecelakaan tersebut, traveling hari ini menyenangkan sekali. Rasanya rela badan capek asal hati senang, sehingga siap kembali beraktiviats di Senin ceria besok hari.


Salam Pramuka!
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates