Tuesday, August 2, 2016

TNT 1 Year Round The World Trip #1 [II]


Aku terkesan dengan Patagonia yang dicertakan Trinity pada hal 87. Patagonia dijuluki sebagai the end of the world karena daerah tersebut merupakan daratan terakhir sebelum antartika. Salah satu hal yang membuat saya ngakak ada di halaman 121, saat Trinity dicekam rasa was-was karena bus yang ditumpanginya sangat tidak aman. Bus selalu berjalan ngebut meskipun di jalan sempit plus suara klaksonnya seperti sirine mobil ambulan. Trinity yang duduk di samping jendela bus di tingkat atas kena getahnya karena ditimpuk kardus telur oleh warga dari jendela rumah bertingkat dua. Mungkin karena kesal dengan klakson bus yang berisik. Pengalaman lucu lainnya yang berkesan bagiku ada di halaman 10 dan 242.

Di hal 123 aku berhenti sesaat untuk tercengang karena melihat foto Machu Pichu, sama seperti Trinity kota ini merupakan impianku untuk dikunjungi suatu saat nanti. Sejak SMP saat aku membaca novel yang berjudul Matahari Tengah Malam (Marga T) yang bersetting di kota ini, aku penasaran dan mulai bertekad untuk mengunjungi kota sisa peradaban tua ini suatu hari nanti.


Machu Pichu!

Artikel di hal 126 dengan judul Travelinglah Selagi Masih Muda menggedor-gedor pintu jiwa petualangku untuk segera packing dan berangkat traveling ke destinasi-destinasi impian. Tidak mesti jauh, keliling Indonesia saja dulu. Itu adalah impian terpendamku. Semoga impian ini bisa terwujud segera. Aamiin.

Di hal 132 ada tulisan tentang reciprocal visa. Isinya sangat jlebb. Cocok dibaca oleh pihak yang berwenang mengurus pembebasan visa dari Indonesia ke luar negeri. Dengan adanya bebas visa ke banyak negara, para traveler pasti akan sangat dipermudah karena tidak harus kelimpungan mengurus ini-itu dan deg-degan karena khawatir visanya bakal ditolak oleh negara tujuan.

Judul : The Naked Traveler
1 Year Round The World Trip #1
Penulis : Trinity
Penerbit : B-First (PT. Bentang Pustaka)
Tahun Terbit : 2014
Di Bab Rekomendasi, Tips, dan Serbi-serbi aku mendapatkan banyak pelajaran baru. Salah satunya yaitu bahwa buku panduan itu penting bagi traveler, meski di zaman internet sekarang ini. Ada juga cara memilih hostel yang ideal ala Trinity. Ada satu artikel yang isinya bagus menurutku, yaitu tentang seharusnya kita bahagia menjadi orang Indonesia. Jika para traveler dari negara maju ke negara berkembang, pasti akan kaget dengan kondisi yang terbatas. Maka sebaliknya bagi kita yang berasal dari Indonesia, yang notabene adalah negara berkembang. Kita tidak akan terlalu shock dengan kondisi serba terbatas di negara-negara lain yang kondisinya sama atau bahkan lebih parah dari negara kita.

Kekhasan tulisan Trinity adalah pada pengalaman pribadinya. Inilah yang membuat aku selalu setia membaca tulisan-tulisannya. Tempat wisata tidak selalu ditulis dengan kata indah dan bagus, tapi juga ada sisi lain yang dikupas berdasarkan pengalaman pribadi di tempat wisata tersebut. Seperti pengalamannya di Camp Konsentrasi NAZI yang mengerikan dan di Valparaiso (berasal dari kata Surga) yang tak seindah namanya.

Well, setelah ini tentu saja aku ingin membeli dan membaca #TNTrtw2 yang masih nongkrong di toko online. Bahkan sekarang sudah terbit #TNT7 yang masih preorder. Ah, harus giat menabung kalau gini caranya.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates