Tuesday, August 30, 2016

Wisuda, Sebuah Hadiah Kecil untuk Mama-Bapa


Hari ini 30 Agustus 2016, adikku diwisuda setelah menyelesaikan masa kuliah 3 tahunnya di Jurusan Alat Berat, Politeknik Banjarmasin. Bukan hanya dia yang senang, tapi kami juga sekeluarga. Bagaimana tidak, mungkin benar yang menjalani perkuliahan dan lika-likunya dia seorang. Tapi dibalik keberhasilannya menyelesaikan kuliah, ada peran keluarga yang sangat besar. Terutama mama, beliaulah yang membuat adikku bisa menyandang gelar Ahli Madya sebahagia sekarang ini.

Acara wisuda adikku kemarin, mengingatkanku pada acara wisudaku setahun lebih yang lalu. Tepatnya pada tanggal 16 Juni 2015. Setelah berjibaku dengan skripsi selama 2 tahun, aku berhasil menyandang gelar sebagai Sarjana Sains bidang Biologi di Fakultas MIPA ULM. Meski terlihat seorang diri, tapi jerih payahku mengejar gelar sarjana ternyata tak sendirian. Ada support dari keluarga dan teman-teman yang menguatkanku.


Meski wisuda hanya momen sesaat. Kebahagiaannya kuharap menyeluruh dan selamanya. Seperti kebiasaan di keluarga besarku, satu anggota keluarga wisuda, semuanya bisa merasakan kebahagiaannya. Terutama mama dan bapa, terlihat jelas pancaran kebahagiaan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang yang lebih tinggi daripada mereka dahulu.

Teringat jelas bagaimana perjuangan mama dan bapa yang harus LDR untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan kuliah kami. Bapa yang harus banting tulang jauh di luar kota, membuat kami hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun. Mama yang rela hidup sendiri di rumah kami, namun tak pernah lupa untuk tetap mengontrol anak-anaknya dari jauh. Sungguh, jasa kalian berdua takkan bisa menandingi apapun yang kami berikan kepada kalian.


Semoga wisuda adalah hadiah kecil yang tepat untuk keringat yang telah berjatuhan di tubuh Mama dan Bapa. Perjalanan kami masih panjang, namun wisuda adalah perayaan terima kasih kami atas semua yang telah Mama dan Bapa korbankan selama ini. Tetap doakan kami agar menjadi anak yang sukses dan berbakti pada kalian berdua.

Sunday, August 28, 2016

How to Make Organizer Little Things


Bagi cewek, printilan berupa aksesoris, perhiasan, atau alat make-up itu wajib ada di dalam kamar. Barang-barang kecil, tapi penting tersebut kalau tidak disimpan dengan baik maka sangat mungkin untuk sulit ditemukan atau bahkan hilang saat dibutuhkan. Parahnya lagi jika tata letaknya tidak diatur dengan baik, maka akan memakan tempat dalam ruangan. Jatuhnya, barang-barang kecil tersebut bisa membuat ruangan kita terlihat berantakan.


Lalu gimana dong solusinya agar kita tetap asik mengoleksi barang-barang tersebut tanpa ribet dengan penempatannya? Berikut ada beberapa tips yang sudah kuterapkan untuk mengorganize barang-barang kecil tersebut.


1. Simpan barang-barang kecil tersebut dalam wadah yang lebih besar agar tidak berserakan di sudut-sudut ruangan


2. Letakkan wadah tersebut di tempat yang mudah terlihat, agar mudah mencarinya jika dibutuhkan. Usahakan pula wadahnya transparan atau barang-barang kecilnya diatur sedemikian rupa agar tetap terlihat meski di dalam wadah



3. Buat DIY wadah/storage dari kotak/kemasan makanan. Kreasikan sesuai selera dan ukurannya disesuaikan dengan printilan yang kamu miliki.


Sekarang, kita tak perlu khawatir lagi kehilangan barang-barang kecil tersebut. Selain ruangan terlihat rapi, organizer barang-barang tersebut juga berfungsi sebagai penghias meja riasmu. Yuk, praktikkan!






Thursday, August 25, 2016

[Review Novel] Persona

Aku baru saja menamatkan sebuah novel young adult berjudul Persona. Sebenarnya sudah lama pengen membaca ini waktu liat seorang teman memposting status bahwa novel terbarunya sudah terbit. Yup, penulis novel ini kukenal karena pernah satu organisasi dengannya.

Ini novel pertamanya yang kubaca, padahal dia sudah pernah menerbitkan beberapa novel sebelumnya. Secara keseluruhan isi novelnya oke. Sebagai pembaca aku mengacungi jempol untuk karyanya.  Dia menulis novel bersampul biru malam ini dengan sangat apik.

Judul : Persona
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016

Mari kita mulai reviewnya tentang pemilihan judul. Persona. Kata ini memiliki arti semacam "kepribadian", ini dari kamus yang kubaca. Karena hingga isi novel ini habis kulahap, tak ada satu pun kata persona. Judul novel ini cocok sekali dengan benang merah novelnya. Meski baru kusadari setelah cerita novel hampir berakhir.

Tema utama novel ini tentang keluarga broken home dan efeknya terhadap psikologis si anak. Ini sesuai sekali dengan latar belakang Iis –nama panggilan penulis, yang merupakan lulusan jurusan psikologi di kampus yang sama denganku. Tema seperti ini pernah kubaca juga pada novelnya Mbak Sinta Yudisia yang berjudul Bulan Nararya, yang juga pendidikannya berlatar belakang psikologi.

Selain itu kesukaan penulis terhadap semua hal yang berbau Jepang sangat membuat hidup tokoh Altair, seorang siswa blasteran Jepang. Beberapa istilah dalam bahasa Jepang tersebar dengan apik pada novel ini. Manga, budaya jepang, nama bintang dalam bahasa jepang, musim panas di Jepang, adalah beberapa hal lain yang menggambarkan bahwa Altair itu nyata.

Hanya saja jika tidak membaca sampai habis, maka tema psikologinya belum terlihat dengan jelas. Itulah kerennya penulis novel ini, ia baru membuka tabir psikologis tokoh utama pada halaman 197 dari total 244 halaman novel ini. Well, hampir 2/3 jalan cerita aku tidak menyadari bahwa ada kejanggalan pada si tokoh utama. Ini berarti penulis berhasil mengemasnya dengan baik.

Ya, meskipun terlihat ringan. Novel ini memperlihatkan kompleksitas hidup dalam pandangan seorang remaja pra-dewasa, bukan hanya cerita tentang cinta remaja biasa. Cocok banget dibaca buat yang ingin mencari hiburan sekaligus mendapatkan pengalaman tentang hidup yang tak mudah bagi seorang Azura.

Aku menyukai cara penyampaian penulis yang ringan. Ala remaja namun konflik kehidupannya ngena banget. Remaja, Palangkaraya, psikologi, rasi bintang, dan budaya Jepang merupakan titik-titik yang berhasil penulis hubungkan satu sama lain menjadi sebuah novel berjudul Persona ini. Penggambaran rasi bintang di malam hari pada cover juga mendukung tema yang diceritakan pada novel ini.

Aku menyukai semua karakter utama pada novel ini, yaitu Azura, Nara, dan Altair. Serta peran pendukungnya. Kalau bisa disebut antagonis mungkin itu adalah kedua orangtua Azura sendiri. Oya, awalnya aku bingung untuk menentukan harus “jatuh cinta” pada siapa, apakah Altair atau Kak Nara, untuk Azura. namun keping novel ini menjawab kebingunganku tersebut, keping pertama tentang Altair dan keping terakhir tentang Kak Nara.

Yup, novel ini memang terbagi menjadi dua keping. Di setiap keping terdapat beberapa bab, di awal setiap bab terdapat keterangan tempat, bulan, serta tahun terjadinya peristiwa dalam bab tersebut. Aku penasaran dengan epilog, mengapa tak mencantumkan keterangan tersebut? Kalau boleh menerka sepertinya tempatnya adalah Jepang. Adalah sebuah kelalaian sepertinya karena tak mencantumkannya seperti pada prolog dan awal bab. Ini penting sebagai bentuk konsistensi penulis. Selain itu juga sebagai alat bantu bagi pembaca karena plot yang penulis gunakan adalah maju mundur.

Bersetting di Palangkaraya, cerita dalam novel ini terasa dekat denganku. Aku pernah 3 kali ke kota tersebut, dan sebagian besar tahu tempat-tempat yang didatangi oleh Azura dalam novel ini. Budaya Dayak yang berfungsi sebagai pembenaran bahwa mereka memang hidup di Palangkaraya, juga membuat novel ini terlihat begitu nyata. Meski ada beberapa tempat yang kutahu adalah fiksi, salah satunya yaitu sekolah para tokoh yaitu Isen Mulang International School (IMIS).

Pesan yang diselipkan penulis pada novel ini sebenarnya sederhana, yaitu bahwa kesalahan “sepele” dari seseorang atau sekelompok orang akan menimbulkan dampak besar bagi kehidupan sebagian atau bahkan semua orang di sekitar dia/mereka. Setiap perbuatan mempunyai konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan pelakunya. Seperti yang dilakukan oleh Mama dan Papa Azura, karena “kesalahan” merekalah cerita dalam novel ini ada.

Monday, August 22, 2016

Weekend di Gunung Titi

Landscape pegunungan Meratus dari puncak Gunung Titi

Gunung Titi terletak di Kecamatan Limpasu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Berjarak sekitar 1 jam dari Kota Barabai, ibukota Kab. HST. Puncak Gunung Titi dapat dicapai dari dua jalur pendakian. Jalur pertama dari Desa Hawang dan jalur kedua dari Desa Pihandam. Dari Desa Hawang tanjakannya lebih landai daripada dari Desa Pihandam sehingga banyak pendaki yang memulai pendakian ke Gunung Titi dari desa ini. Seperti yang aku dan rombongan lakukan pada akhir pekan lalu.

Aku ke sana bersama suami dan teman serta anak-anak pramuka bimbingan suamiku. Jumlahnya 12 orang, 3 orang menyusul saat malam hari. Kami berangkat dari rumah jam 05.45 sore. Ya, sudah hampir senja memang. Dari rumahku menuju Desa Hawang tidak terlalu jauh, hanya dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.

Di Desa Hawang, kami berbelok ke jalan setapak di sebelah kiri. Dari sanalah jalur pendakian menuju Gunung Titi dimulai. Dari sana kami masih bisa menggunakan motor. Medannya cukup berat, kebanyakan menanjak dengan kontur jalan yang tidak mulus. Di kanan kiri jalan terhampar luas perkebunan karet milik warga sekitar. Sebagai penumpang, kadang aku harus turun dari motor karena tanjakan yang curam, agar motor dapat lebih mudah melewatinya. Bagi Ride ini adalah petualangan pertamanya dibawa trekking di jalanan non-aspal.


Siap untuk petualangan pertama

Azan maghrib bergema saat kami belum sampai di tempat tujuan. Suasana hutan yang mulai gelap membuat kami harus fokus agar tetap selamat di perjalanan, karena medan yang tak dapat kami lihat selain dari sorot lampu motor. Terkadang aku melihat sekeliling untuk memastikan bahwa tak ada yang hal yang berbahaya di sekitar kami sambil berdoa dalam hati semoga kami selamat sampai ke tujuan juga hingga balik nanti.


Sekitar 4 km berkendara dengan medan menanjak tersebut sampailah kami di tanah yang agak lapang. Kami memutuskan untuk berkemah di sana dan berencana menuju puncak ketika fajar nanti. Sebenarnya tempat kami berkemah tersebut masih merupakan bagian dari jalan namun karena ada tanah lapang kami bisa mengambil tempat untuk mendirikan tenda dan parkir sepeda motor. Dari tempat kami berkemah, pemandangan di bawah sana terlihat dengan jelas karena lokasi kami sudah di ketinggian dan di salah satu sisinya lapang tanpa pepohonan.

Selesai urusan mendirikan tenda dan shalat, beberapa anak menyalakan api untuk memasak air. Api unggun juga kami nyalakan sebagai tambahan penerangan. Setelah itu kami makan bekal yang dibawa. Aku makan mie instan bekuhup. Nikmat sekali rasanya menikmati mie instan rasa soto banjar limau kuit di pegunungan seperti ini. Sekedar sharing, kalau kamu berniat untuk menyambangi Gunung Titi, sebaiknya bawa air mineral ataupun air keran yang banyak. Karena tak ada sumber air di sana. Seperti yang kami alami kemarin, air mineral yang kami bawa sangat multifungsi, bisa untuk minum, berwudhu, dan bahkan untuk buang air. Meski banyak persediaan, menghemat air adalah sesuatu yang mutlak saat berada jauh dari sumber air.

Malam mulai matang bertandang ke area perkemahan kami. Suasana gelap menyelimuti sekeliling. Beruntung aki yang dibawa suamiku menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga bola lampu dapat menyala dengan terang. Agenda malam dimulai, masing-masing membentuk kelompok dengan beragam aktivitas. Anak-anak pramuka kebanyakan mengerubungi api unggun sambil ngobrol. Ada juga yang rebahan dihammock. Suamiku dan teman-temannya mulai “berpesta” dengan main kartu, itu adalah kegiatan favorit mereka setiap camping. Aku sendiri lebih milih membaca e-book di dalam tenda sambil menikmati udara perkemahan yang nostalgic. Tak lama kemudian, aku mulai tertidur meski tak lelap.

Subuh tiba, jam 04.30 kami mulai bersiap untuk mendaki puncak. Motor, tenda, dan barang-barang bervolume besar kami tinggalkan di lokasi perkemahan. Hanya dompet, hp, dan air minum yang kami bawa. Di tengah kegelapan kami mulai berjalan, aku yang masih belum 100% sadar dari tidur terantuk-antuk batu. Sekarang baru terasa sakitnya kakiku.


Ini pose masih ngantuk sebelum hiking menuju puncak

Ternyata puncak yang kami tuju cukup jauh. Kalau tidak salah kami harus melewati 2 bukit terlebih dahulu untuk sampai di sana. Di bukit ketiga kami berhenti setelah berjalan sekitar 45 menit dari tempat kami berkemah. Selama perjalanan menuju puncak bukit tersebut, kami bertemu dengan 2 kelompok pendaki yang berkemah di bagian lapang bukit yang kedua dan ketiga.

Siap mendaki bukit

Di puncak tujuan kami menanti pagi, menanti matahari. Kami ngobrol sambil duduk dan rebahan di rerumputan saat berkas cahaya mulai muncul di ufuk timur. Kabut membuatnya tidak terlalu kelihatan, tapi suasana remang pagi memperlihatkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Di depan dan belakang kami terbentang landscape dataran rendah, dari beberapa lampu yang masih menyala dan tower sinyal kami bisa memperkirakan nama desa/kota daerah-daerah tersebut. Sedangkan di kanan-kiri kami perbukitan berjejer dengan rapi. Nun jauh di depan sana, puncak Halau-Halau, puncak tertinggi di Kalimantan berdiri dengan gagahnya.

Menikmati pagi bersama dengan yang tercinta

Anak-anak pramuka berjalan menuju bukit yang lebih jauh dari tempat kami berdiri, mau foto-foto katanya. Sekitar setengah jam kami disana dan ngobrol dengan kelompok pendaki yang camping disana. Setelah itu kami berjalan menuju perkemahan sambil menikmati pemandangan yang dipersembahkan oleh pagi. Dalam keadaan terang seperti ini, jalan dan pemandangan di bawah perbukitan terlihat lebih jelas. Di sebelah kiri kami, jurang terbentang dengan luas namun di seberang jurang tersebut pemandangan gunung berlapis-lapis membentuk horizon yang sangat indah. Di satu titik kami berhenti untuk menikmati pemandangan indah tersebut.


Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Setelah sampai di perkemahan, kami sarapan seadanya sekalian ngobrol dan bercanda. Keseruan dalam kebersamaan inilah yang biasanya membuat aku kangen dengan suasana perkemahan. Tidak lama kemudian kami beres-beres dan bersiap kembali pulang ke rumah. Ah, senangnya bisa menghabiskan weekend di Gunung Titi.

Friday, August 19, 2016

Pasar Terapung Banjarmasin


Pasar terapung terkenal sebagai ikon wisata Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Sebenarnya ada 2 titik tempat pasar terapung tradisional dan "asli",  yaitu di Desa Lok Baintan dan Desa Kuin. Sejak zaman dahulu kala, pasar terapung ini beroperasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kampung yang terletak di tepi sungai. Peradaban di Kalsel memang berawal dari tepi sungai, sungai berfungsi sebagai jalan raya pada zaman dahulu.

Adalah jukung, perahu kayu tradisional tanpa mesin milik warga yang berfungsi sebagai alat transportasi untuk aktivitas harian mereka. Di atas jukung tersebutlah barang-barang dagangan di pasar terapung digelar. Sebagian besar barang dagangan mereka berupa hasil pertanian. Konon pada zaman dahulu, sistem barter digunakan dalam operasi pasar terapung. Petani menukar berasnya dengan ikan hasil memancing orang yang menjual ikan. Orang yang berkebun pisang menukar buah pisang dengan kue (wadai) yang dijual sebagai penganan untuk sarapan para pedagang sekaligus pembeli di pasar terapung.

Zaman sekarang, uang mulai digunakan sebagai alat tukar barang sesuai nilainya di pasar terapung. Begitu juga dengan para pembeli, bukan hanya dari kalangan sesama pedagang, pembeli dari masyarakat luas juga ikut mengunjungi dan membeli barang-barang dari pasar terapung. Bahkan sekarang, pasar terapung dijadikan sebagai objek wisata.


Aku sendiri belum pernah mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan dan Pasar Terapung Kuin. Pernah suatu pagi, dengan nekatnya aku berkendara sendirian ke Desa Lok Baintan yang berjarak sekitar satu jam dari rumah kostku dulu saat kuliah. Sampai di sana, jam sudah menunjukkan jam 7 lewat. Ternyata, pasar terapungnya sudah bubar bar bar. Hiks, aku harus gigit jari. Kata warga yang kutanyai disana, kalau mau mengunjungi pasar terapung harus tiba saat waktu subuh karena saat itulah mereka beroperasi. Ketika barang dagangan sudah habis yaitu sekitar jam 6 pagi, para pedagang tentu saja langsung balik ke rumah masing-masing. Lain waktu aku harus berangkat dini hari dan yang lebih penting harus ada temannya karena jalan ke sana melewati beberapa daerah yang sunyi. Oya, pernah juga aku dan teman-teman berencana trip kesana tapi sampai sekarang belum kesampaian karena kesibukan masing-masing.

Objek Wisata Pasar Terapung

Selain Pasar Terapung Lok Baintan dan Pasar Terapung Kuin, di Banjarmasin kini hadir pasar terapung yang terletak di Sungai Martapura, Siring Pierre Tendean. Siring Pierre Tendean (banyak yang menyebut juga dengan Pantai Jodoh) ini merupakan pusat kegiatan dan hiburan warga Banjarmasin, sehingga selalu ramai dikunjungi oleh warga atau pelancong dari luar kota. Sejak beberapa tahun yang lalu, pada setiap pagi Minggu berbarengan dengan waktu Car Free Day diadakan pasar terapung 'buatan' oleh Dinas Pariwisata.

Tidak jauh berbeda dengan pasar terapung yang 'asli', pasar terapung di Siring Pierre Tendean ini juga bertujuan sebagai sarana jual beli antara pedagang dan pembeli yang merupakan wisatawan domestik. Perbedaannya mungkin dari segi penataan lokasi dan ketertiban pedagang, karena pasar terapung ini dikoordinir oleh pihak pemerintah. Setiap pedagang yang berada di atas jukung harus mengalungkan semacam ID card di leher mereka. Peletakan jukung juga rapi berjejer di depan pelataran dermaga siring.


Aku sendiri sudah pernah dua kali ke pasar terapung di Siring Pierre Tendean ini. Kali pertama dengan seorang teman aku hanya menikmati aktivitas orang-orang yang berjual beli di sana. Kali kedua, aku datang kesana bersama suami dan sepupu. Di sana kami membeli penganan yang dijual untuk sarapan. Kalau tidak salah waktu itu aku makan lupis, sedang suami dan sepupuku makan ketupat. Sedap betul rasanya sarapan di atas perahu. 

Kebanyakan para wisatawan disana mengunjungi pasar terapung memang untuk wisata kuliner. Makanan yang populer dijual di pasar terapung diantaranya adalah nasi kuning iwak haruan masak habang, Soto Banjar, wadai untuk, ketupat, dan kue lupis. 

Setelah sarapan, kami bertiga naik kelotok menyusuri Sungai Martapura. Di sana memang ada beberapa kelotok yang menawarkan jasa susur sungai dengan harga 5000 rupiah per orang. Rutenya tidak terlalu jauh, mungkin hanya 2 km pulang pergi. Tepatnya dari Jembatan Pasar Lama ke Jembatan Sudimampir, selama kurang lebih 30 menit.

Seru juga wisata susur sungai dengan keadaan perut kenyang, sehingga hati jadi senang. Hehe. Selain menikmati riak air Sungai Martapura bersama sekitar 10 orang lainnya yang sekelotok dengan kami, kami juga menimati pemandangan di kanan kiri sungai. Rupanya beginilah suasana di Siring Pierre Tendean jika dilihat dari tengah sungai. Ramai. Menara pandang siring yang banyak dikunjungi anak muda untuk berfoto ria, terlihat tinggi menjulang dari kelotok yang kami tumpangi. Arsitekturnya indah juga saat dilihat dari bawah. Menara pandang ini terletak di sebelah kanan pasar terapung. 

Sedangkan di sebelah kiri pasar terapung terdapat patung bekantan besar, yang baru-baru ini selesai dibangun. Bekantan adalah binatang ikon Kalimantan Selatan sejenis kera yang berhidung mancung. Sama seperti di menara pandang, banyak orang mengunjungi patung ini untuk memandanginya dari dekat dan tentunya berfoto-foto.


Bagi teman-teman yang berencana berkunjung ke Kalimantan Selatan, pasar terapung adalah destinasi wajib yang harus dikunjungi. Jika ingin menikmati suasana subuh yang teduh dengan aktivitas tradisional suku Banjar, pergilah ke Pasar Terapung Lok Baintan atau Pasar Terapung Kuin. Tapi jika ingin menikmati keseruan pasar terapung suasana modern nan ramai, kunjungilah pasar terapung 'buatan' di Siring Pierre Tendean, Kota Banjarmasin.

Monday, August 15, 2016

Ospek dan Kenangannya

Terlepas dari pro-kontra terhadap pelaksanaan ospek di sekolah dan kampus, aku menulis postingan ini sebagai bentuk kenangan terhadap masa ospek saat aku jadi mahasiswa baru dulu. meski sebenarnya bukan kenangan yang terlalu indah. Tapi sayang saja kalau hanya aku menyimpannya sendiri, lebih baik dibagikan. Selain sebagai pengingat jika nanti aku lupa, semoga postingan ini juga bermanfaat bagi para pembacanya.

Saat menjadi mahasiswa baru (maba) di kampus, aku mengikuti serangkaian ospek yang berlaku disana. Ospek pertama adalah P2B (Program Persiapan Belajar). P2B dilaksanakan sebelum masa perkuliahan dimulai. Boleh dibilang P2B adalah first-touchnya maba dengan dunia kampus. Di momen P2B itu pulalah aku bertemu dengan 2 sahabat pertamaku, yang sebelumnya kita bertiga saling add di facebook, karena sama-sama menggunakan nama lengkap di akun facebook.

Pada masa P2B ini diadakan orientasi atau pengenalan lingkungan kampus kepada para maba. Aku tidak ingat persis apa saja agendanya saat itu. Tapi yang jelas semua maba di bagi dalam puluhan kelompok, aku sendiri masuk kelompok ke-21. Aku juga lupa apakah teman sekelompokku sama-sama dari jurusan Biologi atau dimix dengan maba dari jurusan lain. Tapi yang paling kuingat jelas adalah kakak panitia pembimbing kelompokku berasal dari program studi (jurusan) Kimia. Namanya Kak Irfan, dia adalah salah satu kakak tingkat di kampus yang pertama kali kukenal karena momen ini.

Name tag P2B bagian depan

Seperti biasa pada setiap ospek ada printilan persyaratan yang diminta panitia untuk dibuat atau dibawa oleh maba. Dulu itu waktu P2B seingatku yang agak aneh hanya tas dari bahan karung beras. Persyaratan yang lain masih logis dan wajar, seperti membuat name tag (di bagian belakang name tag, kami harus memajang foto sendiri dengan ekspresi terjelek beserta foto artis idola, aku lupa memajang foto artis siapa), membawa makanan-makanan tertentu, dan datang ke kampus tidak boleh pakai kendaraan sendiri jadi harus jalan kaki atau diantar-jemput. Ini tidak masalah bagiku, karena kosku dekat dengan kampus. bersama dua sahabat baruku, kami bareng jalan kaki menuju kampus dari jam 6 pagi karena takut terlambat.

Name tag P2B bagian belakang

Ospek kedua adalah Makrab (Malam Keakraban) yang diadakan sekitar 6 bulan setelah P2B. Makrab diadakan oleh himpunan mahasiswa (Hima) per jurusan, sehingga pesertanya lebih sedikit daripada P2B. Ada 2 sesi dalam Makrab yaitu sesi indoor dan sesi outdoor. Dalam Makrab indoor, acaranya berupa pengenalan dosen, peminatan dalam jurusan Biologi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan jurusan Biologi.
Name Tag Makrab bagian depan

Makrab outdoor adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para senior. Karena dalam momen tersebutlah mereka bisa berkuasa atas adik tingkat yang masih unyu-unyu berstatus mahasiswa baru. Tempat pelaksanaan Makrab outdoor biasanya di alam terbuka, konsepnya berkemah 3 hari 2 malam. Di sanalah kegiatan lapangan dilakukan. Seru sih, tapi berasa diburu waktu pas jadi peserta. Tahun-tahun berikutnya, aku menikmati pas jadi panitia. Haha.

Name Tag Makrab bagian belakang

Ospek yang terakhir adalah LKMM (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa) yang diadakan sekitar dua bulan setelah Makrab. Panitia LKMM berasal dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan pesertanya adalah mahasiswa baru satu angkatan dari semua jurusan di Fakultas MIPA. Seperti pada P2B dan Makrab, semua maba dikelompokkan secara acak. Aku masuk di kelompok 6 dengan nama kelompok Dadar Gulung Hula-hula. Nama tersebut diambil dari nama wadai (kue) khas Banjar yang memang menjadi tema dalam pemberian nama kelompok.
Name tag P2B bagian depan

Seperti pada Makrab, LKMM juga terbagi menjadi 2 sesi, indoor dan outdoor. Konsep acara LKMM tidak jauh berbeda dengan Makrab, hanya peserta dan panitianya saja yang lebih banyak daripada Makrab. Salah satu tujuan LKMM ini memang untuk "mendekatkan" mahasiswa antar jurusan.

Name tag LKMM bagian belakang

Begitulah sekilas ceritaku mengenai ospek saat jadi maba dulu. Sedikit banyak ospek bermanfaat kok bagi maba yang masih butuh bimbingan dalam memasuki dunia perkuliahan. Manfaat yang paling besar tentu saja adalah menambah dekat pertemanan satu jurusan dan angkatan satu fakultas.

Saturday, August 13, 2016

AADC 2: Kisah Cinta yang Tertunda


PS: Bagi yang belum nonton, sebaiknya jangan membaca postingan ini. Karena isinya spoiler 100%. Hehe

Aku baru saja selesai menonton AADC 2. Ah, hawa nostalgianya berasa banget. Melemparkan aku ke 10-14 tahun yang lalu ketika seragam yang kugunakan masih putih-biru.

Scene film dibuka dengan berkumpulnya 4 anggota geng saat SMA yaitu Cinta, Milly, Karmen, dan Maura. Adalah Alya yang diceritakan telah meninggal sehingga tidak ada lagi dalam film yang kedua ini. Pada reuni tersebut, Cinta mengumumkan 2 hal. Pertama, rencana liburan mereka ke Jogja sekaligus Cinta juga ada keperluan bisnis di sana. Kedua, pengumuman bahwa ia dan pacarnya Trian telah bertunangan.

Di Kota New York, Rangga yang telah 14 tahun merantau di Amerika mengalami kegalauan. Pertama, ia selalu teringat dengan Cinta, cinta pertamanya. Kedua, adik tirinya datang ke New York dan memberi tahu bahwa ibunya masih hidup dan ingin bertemu dengan Rangga. Rangga bilang bahwa ia baik-baik saja meski sudah 25 tahun hidup tanpa ibu. Ia membenci ibunya karena dulu pernah meninggalkan dia dan ayahnya.

Setting berpindah ke Jogja dimana Cinta dan teman-temannya sudah menikmati hari pertama liburan mereka. Liburan mereka diisi dengan kulineran, sepedaan, dan shopping di pasar tradisional. Saat Karmen dan Milly membeli roti, mereka melihat Rangga sedang berjalan kaki di Kota Jogja. Mereka mengikuti Rangga hingga Rangga berhenti di sebuah guest house.

Awalnya Milly, Karmen, dan Maura bingung ingin memberi tahu Cinta atau tidak tentang keberadaan Rangga. Karmen bersikeras untuk memberi tahu Cinta agar Cinta mengetahui apa alasan Rangga memutuskan Cinta 9 tahun yang lalu melalui surat. Cinta yang akhirnya diberitahu oleh Karmen bilang bahwa dia tidak ingin menemui Rangga karena dia sudah menjadi masa lalu bagi Cinta.

Cinta dan kawan-kawan kemudian menghadiri pameran Eko Nugroho yang menjadi tujuan utama Cinta ke Jogja. Di pameran itulah Rangga menemui Cinta karena diberitahu Karmen sebelumnya. Cinta tak dapat menyembunyikan perasaan marahnya kepada Rangga sehingga ia hanya sebentar berbicara dengan Rangga lalu pulang dan marah kepada Karmen. Ia tak sadar mengatakan bahwa jika rumah tangga Karmen rusak karena suaminya meninggalkan Karmen, bukan berarti Cinta juga harus merasakannya dengan kembali bertemu Rangga seperti ini. Karmen yang merasa sakit hati pergi dari villa. Cinta sangat menyesal. Saat Karmen balik, ia minta maaf. Mereka akhirnya berbaikan lagi. Sebagai jalan tengah Cinta mau menemui Rangga, demi teman-temannya.

Cinta akhirnya menemui Rangga. Di sebuah kafe ia dan Rangga pertama kali ngobrol baik-baik dan duduk berhadapan setelah 9 tahun resmi putus. Sebenarnya tidak terlalu baik-baik juga karena Cinta dengan blak-blakan mengaku bahwa ia merasa disakiti oleh Rangga dan mengatakan bahwa Rangga telah berbuat jahat kepadanya. Ketika Cinta sudah menyatakan semua perasaannya, Rangga belum mengatakan apapun tentang alasan mengapa ia akhirnya memutuskan Cinta.


Rangga mengajak Cinta untuk membicarakannya sambil jalan. Cinta setuju dengan syarat tidak terlalu lama karena ia harus segera menyusul teman-temannya untuk makan malam. Penjelasan mengenai alasan Rangga memutuskan Cinta via surat 9 tahun yang lalu pun terungkap. Sebelumnya Cinta menduga bahwa ada perempuan lain diantara mereka sehingga Cinta emosi dan menampar Rangga. Namun akhirnya Cinta meminta maaf dan mendengarkan penjelasan Rangga yang sebenarnya. Ternyata alasan Rangga adalah bahwa ia tidak percaya diri dengan Cinta dan keluarganya karena perbedaan status sosial diantara keduanya. 

Rangga menyewa mobil, lalu mengajak Cinta ke kompleks candi Ratu Boko. Disana mereka ngobrol beragam hal, termasuk tentang pemilu. Dari sana mereka makan malam. Saat itulah Cinta baru sadar bahwa sebenarnya ia harus menyusul teman-temannya. Namun Rangga selalu mengajak Cinta tanpa bisa ditolak ke tempat-tempat baru bagi Cinta.


Hanya sekali Cinta yang menentukan tempat. Saat itu Rangga menyinggung perasaan Cinta dengan mengatakan kalimat sinis tentang Trian, tunangan Cinta. Cinta ngambek dan minta pulang, saat itulah Rangga bersikap manis dengan meminta maaf dan berkata
"Baikan lagi boleh nggak?"

Rangga dimaafkan dengan hadiah sebagai imbalannya. Cinta lalu menuju ke kafe kopi yang ia suka. Disana Rangga memberikan “hadiah” yang ia janjikan yaitu sebuah tulisan yang ia tulis saat berada di pesawat. Ia melarang Cinta untuk membukanya saat Rangga bersamanya.

Setelah minum kopi, mereka menonton teater boneka dan bertualang ke Gereja Ayam hingga subuh menjelang. Di depan villa tempat Cinta menginap mereka berpisah dengan beberapa kata yang sulit dilupakan.

Kembali ke Jakarta dengan rutinitas harian. Genk Cinta pun terpisah oleh kesibukan. Cinta masih resah, terlebih oleh "hadiah" dari Rangga yang berisi tentang keinginannya untuk memulai kembali hubungan dengan Cinta. Rangga akan pulang ke New York dan ia meminta Cinta untuk bertemu sebelum itu. Namun Cinta tak membalas pesannya.



Rangga mendatangi galeri Cinta. Ia mengatakan jika Cinta memberinya 1 kesempatan maka ia akan membatalkan penerbangannya hari ini. Cinta menolak, mereka bersitegang. Trian datang ketika Rangga keluar dari galeri. Trian pun marah pada Cinta. Cinta kalut, ia mengemudi hingga hampir kecelakaan.

Di New York, Rangga menjalanai kehidupannya sebagai pemilik kedai kopi dan pengisi kolom di majalah. Di suatu hari yang tidak tepat, seorang pelayan kafe memeluknya karena ia telah menaikkan gajinya, Cinta datang ketika semua itu terjadi. Ia marah dan Rangga mengejarnya. Mereka kemudian saling jujur bahwa mereka sebenarnya mencintai satu sama lain.

Ceritanya manis banget. Sumpah. Selain nuansa nostalgia, suasana traveling juga kental di sekuel film AADC 2 ini. Suamiku menangkap sisi lain dari cerita traveling satu malam Cinta-Rangga, dia menasihatiku:
"Makanya, cewek jangan traveling sendirian." 
Mungkin maksudnya cewek rentan berpindah hati setelah menghabiskan beberapa waktu saat traveling bersama laki-laki bukan pasangannya, seperti yang terjadi pada Cinta. Lagipula aku takkan traveling tanpa kamu kok, Beb. Xixi

Wednesday, August 10, 2016

Biji Zarah

Di dunia ini ada hal-hal kecil tapi penting bagi sebagian orang. Sedang bagi sebagian orang yang lain hal tersebut sepele, hanya sebesar biji zarah. Mereka tidak menyadari bahwa hal-hal kecil tersebut bisa berdampak sangat besar bagi orang lain.

Aku pernah beberapa kali mengalami kekecewaan karena hal-hal kecil tapi penting ini diabaikan oleh orang lain, baik sengaja maupun tidak sengaja. Pertama, pada saat ijazah SD-ku tempat lahirku yang ditulis berbeda dengan fakta dan akta kelahiran. Mungkin guru yang menulis akta tersebut menyamaratakan semua siswanya yang sekolah di desa tersebut juga lahir di sana. Saat itu tahun 2004 umurku baru 12 tahun, tidak paham bahwa hal tersebut akan berdampak besar nantinya.

Akta kelahiran asli vs akta kelahiran palsu

Saat SMP, orangtuaku bolak-balik mengurus ke sekolah agar di ijazah SMPku nanti tempat lahirku disesuaikan dengan akta kelahiran. Namun dari pihak SMP-ku tidak berani karena ijzah SD-ku sudah tercatat dalam arsip negara katanya, kalau berbeda dengan ijazah SMP nanti malah bakal mungkin jadi masalah di kemudian hari. 

Dampaknya? Hingga sekarang, aku selalu mengisi TTL dengan tempat lahir yang salah, hanya karena "kesalahan kecil" seseorang. Bahkan aku harus rela membuat akta kelahiran baru dan palsu agar data di ijazah dan akta kelahiran tidak berbeda.

Ijazah SMA-ku beda lagi ceritanya. Saat aku melaminating, ijazah SMA-ku terbakar ujungnya karena mesin laminating yang rusak. Oh oh, aku sudah tak mampu marah lagi saat itu saking kesalnya pada penjaga toko fotokopi yang lalai tersebut. Berniat ingin melindungi dokumen penting dengan cara melaminating, eh ternyata malah terbakar seperti ada orang yang ingin melenyapkan bukti kelulusanku saja. Hal tersebut mungkin sepele bagi penjaga toko fotokopi tersebut. Tapi hingga sekarang aku tak pernah melupakan kesalahannya setiap melihat ijazah SMA yang sering dibutuhkan dalam melengkapi persyaratan akademik atau kependudukan.


Pada saat semester 1 kuliah aku lagi senang-senangnya ikut seminar. Waktu itu aku ikut seminar tekno yang membahas tentang virus dan anti virus. Hingga sekarang, sertifikatnya tak pernah sampai di tanganku. Tak kurang dari 10 kali aku berusaha menghubungi salah seorang panitia tempat aku mendaftar acara tersebut. Tapi terlalu banyak alasan yang ia utarakan hingga sertifikatku kini entah ada di mana. Sebegitu sepelekah sertifikat milik orang lain hingga tak ada usaha untuk mengembalikannya?

Pernah juga aku menang lomba menulis yang diadakan oleh sebuah organisasi besar di kampus. Hingga sekarang hadiah dan piagam penghargaannya belum pernah kuterima. Panitianya buruk, begitu kesimpulanku. Dari pengumuman yang kubaca, hadiah bisa diambil pada saudara Fulanah, karena tak ada acara serah terima hadiah. Ketika kutanyakan pada yang bersangkutan ternyata hadiahnya belum disiapkan dan piagamnya belum selesai dibuat. Oke, Itu bisa ditunggu.

Hingga satu tahun berlalu. Kutanyakan kembali. Jawaban yang menggantung dan saling lempar tanggung jawab yang kudapat. Ah, jera rasanya berkarya dan ikut lomba dengan panitia model seperti itu. Bukan tentang hadiahnya, tapi tentang tanggung jawab dan penghargaan terhadap karya orang lain. Itu mungkin hanya sebesar biji zarah bagi si panitia, tapi bagiku buruk sekali efeknya. Ketiadaan apresiasi adalah salah satu hal yang membuat semangat berkarya seseorang pudar.  Perasaan down dan jera berkarya adalah hal yang berbahaya dalam diri seseorang.

Pengalaman lainnya saat perayaan wisuda kemarin. Seorang staf akademik di kampusku saat menulis biodataku tertukar dengan seorang temanku, meliputi no HP, alamat, judul skripsi, dan IPK. Sehingga di buku alumni fakultas dan universitas biodataku salah. Sungguh, aku kesal sekali. 

Efeknya tentu saja setiap orang yang mengamati isi buku alumni akan mendapatkan data yang salah tentang diriku. Bayangkan ada 2000 lebih orang yang lulus pada periode yang sama denganku. Mungkin hanya teman seangkatanku yang ngeh kesalahan data tersebut, sisanya tentu tak menyadarinya. Jika nanti ada yang bertanya seputar topik skripsi temanku yang salah tempat tersebut, maka tentu saja aku tak bisa menjawabnya karena bukan aku yang mengerjakannya.

Bahkan pada saat pengumuman wisudawan terbaik hampir saja namaku tak jadi dipanggil karena nilai IPK tertukar. Kebetulan aku tak sempat ikut gladi resik di hari sebelumnya. Beruntung sebelum acara aku sempat komplain ke panitia yang juga sempat nyolot karena mengaku hanya mengikuti yang tertulis di kertas catatan. Lihat, betapa besar efek yang ditimbulkan oleh kesalahan kecil tak sengaja seorang staf administrasi.



Ini pengalaman terbaru dan sangat mengesalkan. Aku menjahit kain untuk seragam di kantor. Saat aku mengantar kain untuk dijahit, penjahitnya bilang sedang banyak antrian, tunggu sekitar dua bulan. Okelah kusanggupi. Dua bulan kemudian ketika seragam yang sama sudah dipakai oleh semua teman sekantorku, aku mendatangi tempat jahitnya. Ternyata kainku masih utuh tak digunting. Alamak. 

Dua minggu kemudian, suamiku yang mendatangi tempat tersebut. Sesuai pesanku jika kain tersebut masih belum digunting juga, mending diambil saja. Ternyata benar. Beruntung bukan aku yang kesana, kalau iya mungkin saja aku sudah kelepasan ngomel. Hari Senin sore kemudian aku mengantar kain tersebut ke penjahit lain, hari Jumat ternyata sudah selesai dan bisa diambil. Ya ampun, sebentar sekali. Bayangkan aku menunggu hampir 3 bulan untuk menjahit kain yang sama.

Begitulah beberapa pengalamanku tentang hal-hal yang disepelekan oleh orang lain. Namun bagiku hal-hal tersebut berarti dan berefek besar dalam hidupku. Semoga aku pribadi terjaga untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Aamiin.

Monday, August 8, 2016

Selamat Jalan Redy, Selamat Datang Ride

Foto terakhir Redy, sebelum kami berpisah.

Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 2 Agustus 2016, motor yang selama ini menemaniku kemana-mana sejak tahun 2010 dijual. Ah, ada rasa haru yang menyelimuti hati ini. Selama kurang lebih 6 tahun dia menemaniku. Motor tersebut kuberi nama Redy, sesuai warnanya yang merah menyala. Dengan merk Honda Beat, motorku yang termasuk jenis matic ini sangat cocok dipakai oleh wanita berpostur mungil sepertiku. Massa motornya termasuk ringan jika disejajarkan dengan jenis merk lain yang juga matic. Sampai-sampai aku sendiri kuat mengangkat bagian belakang motor jika lahan parkir sulit. Atau saat masa-masa Redy sering mogok dulu, aku dapat dengan mudah mengangkat Redy untuk menegakkan standar duanya.


Redy, sahabatku kemana-mana

Riwayat kesehatan si Redy sebenarnya tidak terlalu buruk, meski beberapa waktu yang lalu ia sering mogok karena minta diganti aki. Sekarang sudah diganti dengan aki baru. Sebulan yang lalu bannya juga baru diganti, karena sebelumnya sudah aus. Hanya agak lama saja ia tidak diservis ringan. Pokoknya kalau dari luar, penampilan Redy sangat kinclong dan masih sayang kalau mau dijual. Tapi riwayatnya yang pernah mogok beberapa kali dan umurnya yang sudah termasuk tua (keluaran tahun 2010) membuat kami memutuskan untuk menjualnya.

Banyak kenangan kami bersama Redy
Bahkan Redy terkadang
ikut melintasi banjir

Kesedihan karena telah melepas Redy dengan empunya yang baru terbayar dengan kedatangan Ride. Ride adalah motor hasil tukar tambah dengan Redy. Ride ini merknya Yamaha X-Ride, jenis matic juga. Tapi kata suamiku sih lebih laki. Lebih tangguh dibawa ke medan sulit. Ah, jadi ingat Redy. Dia pernah menemani kami trip dua hari satu malam di Loksado dengan medan turun naik dan becek. Tangguh sekali dia. Semoga Ride lebih tangguh.

Warna motornya campuran antara hitam-putih-orange. Bukan tipeku sih. Modelnya cowok banget. Performanya saat dipakai juga biasa saja, malah terasa kurang nyaman karena aku belum terbiasa. Satu-satunya yang membuatku lapang menerima Ride adalah suamiku sangat suka dengan Ride. Yup, itu cukup. Lagipula dia anak baru, lebih muda dari Redy, Keluaran tahun 2014. Setidaknya kualitasnya masih prima.


Welcome, Ride!

Satu hal yang membuatku percaya bahwa aku berjodoh dengan Ride adalah nomor platnya yaitu 6932. Bagi orang lain mungkin biasa, tapi bagiku yang punya tanggal lahir 6-3-92 itu keren. Hanya tertukar tempat antara angka 3 dan 9, tanggal lahirku terpampang dengan sempurna.

Akhirnya aku hanya bisa mengucapkan goodbye Redy and welcome Ride!

Saturday, August 6, 2016

Review Bunda Tahan Banting

Judul: Bunda Tahan Banting
 
Penulis: Indah Lestari SP
Penerbit: Glitzy Book Publishing
Tahun terbit: 2011
Buku ini berisi tentang curahan hati seorang ibu yang juga menjadi pebisnis di bidang fashion. Isi curhatannya macam-macam, dari berbagai macam modus penipuan, kegiatan rumah tangga, anak balita, asisten rumah tangga, kartu kredit, sampai cerita tentang bisnis fashionnya. Intinya semua cerita dan pemikiran seorang Indah Lestari sebagai ibu rumah tangga dan womanpreneur.

Satu hal yang kugarisbawahi dari buku ini yaitu penulis senang menulis dan menggunakan kata “penting”. Cerita-cerita pada setiap babnya sarat pengalaman dan pemikiran sehingga membaca buku ini seperti membaca buku diary. Namun ada satu tulisan yang kulewati karena bingung dengan isinya yang membahas kartu kredit. Tulisan yang berjudul Renungan juga tidak kubaca secara penuh karena artikel tersebut sudah pernah kubaca di internet dengan sumber anonim.

Buku yang berjumlah 123 halaman ini menarik minatku dari cover dan tagline di bawah judulnya yaitu Tips Jadi Ibu Rumah Tangga yang Penting dan Jago Berbisnis. Walaupun ternyata tips tentang rumah tangganya sedikit, Lebih banyak cerita tentang pengalaman pribadi. Tips usaha berbisnisnya juga tidak banyak, hanya disentil sedikit-sedikit pada beberapa tulisan. Yah, tapi lumayanlah.

Membaca buku ini seperti makan kerupuk. Tidak mengenyangkan tapi enak di mulut.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates