Sunday, July 31, 2016

Pohon Rambutan

Pohon rambutan di depan rumahku

Di halaman rumahku ada dua pohon rambutan. Tepat di sebelah kanan dan kiri halaman depan. Aku lupa entah tahun berapa waktu papa membeli dan menanam bibit rambutan hasil cangkokan tersebut. Yang jelas sekitar 5 tahun terakhir buahnya sudah bisa dinikmati.



Kalau musim berbuah, pohon rambutan ini memang jadi favorit semua orang. Baik orang rumah, keluarga, sampai tetangga di sekitar. Buahnya kuning hingga memerah dan menggoda untuk dijangkau karena pohonnya tidak terlalu tinggi.



Ada juga monyet yang jahil dari kebun di belakang rumah. Dia kadang berani sampai ke halaman untuk memetik buah rambutan. Untuk menghalaunya, kami memasang boneka harimau milikku saat anak-anak, sekarang sudah rusak tapi masih berguna untuk "menipu" binatang-binatang pencuri yang berkeliaran di sekitar pohon rambutan, termasuk monyet dan tupai.

Keren kan, penjaga pohon rambutannya?

Semoga umurnya panjang sehingga buahnya bisa dinikmati oleh semua orang. Selain itu tentunya rindang daunnya yang meneduhi halaman rumah kami sangat berguna di cuaca tropis di Kalimantan ini.

Saturday, July 30, 2016

Drama Bookholic di Kota Kecil

Ada kalanya aku ingin membaca novel dengan cerita yang ringan dan menghibur. Ketika saat-saat seperti itu datang, aku sedikit kesulitan untuk menemukan novel yang kumaksud di rak bukuku. Rata-rata isi rak bukuku kebanyakan memang buku nonfiksi, jika pun fiksi tentu tema novelnya berat, tema sains, detektif, sejarah, atau gabungan ketiganya. Sejak dulu, karena keterbatasan dana aku selalu selektif memilih buku yang akan kubeli. Oleh karena itulah aku jarang membeli novel, buku nonfiksi sepertinya lebih bermanfaat jika dikoleksi.

Koleksi buku nonfiksiku dari 1 penerbit

Bagaimana cara aku memenuhi kebutuhanku membaca novel? Dulu, aku bisa ke perpustakaan atau ke tempat penyewaan novel dan membawa satu dua novel untuk dibaca satu minggu ke depan. Saat mengembalikannya nanti, aku akan meminjam dua novel yang lainnya. Begitu seterusnya. Terkadang aku juga cuci mata ke toko buku terdekat dan membeli satu novel terbaik pilihanku saat itu dengan uang tabungan yang sengaja kusisihkan untuk membeli buku.

Sekarang setelah menetap (lagi) di kota kecil ini, aku kesulitan untuk melakukan hal-hal tersebut. Koleksi buku fiksi di perpustakaan kotaku payah sekali. Hanya terdiri dari novel-novel berumur puluhan tahun dan penulisnya masuk dalam jejeran sastrawan angkatan lama. Ahh. Satu-satunya tempat penyewaan novel langgananku dulu waktu SMA juga sekarang sudah tutup. Jangan tanya tentang toko buku, di kota ini hanya ada 2 toko buku (agak) besar. 75% isinya adalah buku-buku pelajaran, sisanya novel, komik, dan buku nonfiksi dengan harga jauh di atas harga normal.

Buku di perpustakaan kota, jadul

Begini nih nasib bookholic di daerah. Perlu perjuangan ekstra untuk bisa menyantap kelezatan bernama buku. Jangan tanya tentang bookfair. Bookfair hanya diadakan di kota madya dan ibukota provinsi ratusan kilometer dari rumahku. Itulah alasan mengapa setiap aku datang ke bookfair, aku seperti orang kelaparan dengan membeli banyak buku agar merasa 'kenyang'.

Pernah dapat merchandise
dari toko buku online. Asyik!
Beruntunglah internet saat ini sudah menjadi udara di Indonesia, termasuk di kota kecil tempatku bermukim. Layanan internet mulai membaik dan itu artinya aku bisa online untuk cuci mata melihat buku-buku terbitan terbaru. Kalau sedang ada rejeki, ya aku akan membeli beberapa buku sekaligus agar hemat ongkos kirim. Teman-teman di kantor sudah hafal kalau ada paketan untukku yang sampai di kantor, isinya pasti buku. 

Semoga akses buku untuk semua daerah di Indonesia semakin mudah ke depannya. Karena sebenarnya ada banyak orang Indonesia yang suka membaca. Namun tidak di dukung oleh fasilitas perpustakaan, jaringan toko buku, kebijakan pemerintah, dan lingkungan yang pro terhadap bookholic di kota kecil seperti aku.

Friday, July 29, 2016

Lithobius atkinsoni

Klasifikasi:
Kingdom :Animalia
Filum   : Arthropoda
Kelas   : Chilopoda
Ordo    : Lithobiomorpha
Famili  : Lithobiidae
Genus  :Lithobius
Spesies:Lithobius atkinsoni

Deskripsi:
Lithobius atkinsoni merupakan salah satu spesies dari filum Arthropoda dan masuk dalam subfilum Myriapoda. Tubuhnya pipih dorsoventral. Tubuhnya beruas-ruas dan setiap ruas mempunyai satu pasang kaki. Lithobius atkinsoni mempunyai antena yang panjang dan terdiri atas 12 segment atau lebih, mandibula dan dua pasang maksila. Jenis lipan/kelabang ini mempunyai rahang yang sangat kuat dan beracun sehingga bersifat sebagai predator dan karnivora, sifat ini didukung pula dengan gerakannya yang sangat cepat untuk menangkap mangsa.

Habitat:
Lithobius atkinsoni berhabitat di darat. Hidup di permukaan tanah, sampah dedaunan yang busuk atau di reruntuhan batu. Banyak terdapat di hutan-hutan dengan iklim tropis.

Potensi:
Spesies ini sangat berbahaya, Lithobius atkinsoni berpotensi menyebabkan keracunan bahkan kematian pada manusia atau hewan yang digigitnya.

Daftar Pustaka:
Lewis, J.G.E. 1981. The biology of centipedes. Cambridge: Cambridge University Press.

Rosario Dioguardi.2007.Lithobius atkinsoni (Bollman, 1877).
chilobase.bio.unipd.it
Diakses pada 7 November 2011

www.gwannon.com
         Diakses pada 7 November 2011

Wednesday, July 27, 2016

Taman Van Der Vijl Banjarbaru

Taman Kota Banjarbaru atau yang lebih dikenal dengan nama Van Der Vijl adalah taman yang terletak di tengah-tengah Kota Banjarbaru. Fasilitas yang terdapat di taman kota ini adalah beragam patung binatang, pohon besar yang rindang, serta berbagai permainan untuk anak-anak. Cocok dijadikan sebagai tempat bersantai keluarga di saat sore hari.

Suasana di Taman Van der Vijl

Suasana di Taman Van der Vijl

Bagiku sendiri taman ini mempunyai sisi nostalgia. Banjarbaru adalah tempatku dilahirkan dan tumbuh hingga berumur 5 tahun. Taman ini cukup sering kukunjungi saat aku kecil dulu. Baik bersama mama papa atau pun bersama guru dan teman-teman TK-ku saat pelajaran olahraga karena jarak taman kota ini dari taman kanak-kanakku cukup dekat.

Ini sepupuku

Foto bersama patung binatang adalah hal yang disukai anak-anak di taman ini

Dua belas tahun setelah kepindahanku dari Banjarbaru, aku kembali ke kota ini lagi untuk berkuliah. Ada banyak perubahan yang terjadi pada infrastruktur taman ini setelah bertahun-tahun berlalu. Pagar dan beberapa bangunan yang ada disana dipugar dan dicat agar tampak lebih menarik. Meskipun ikon patung-patung binatangnya tak berubah. Selain itu, banyak fasilitas bermain anak yang berlomba menarik perhatian pengunjung. Penjual makanan pun ikut meramaikan taman kota yang biasanya padat ini saat sore hari weekend. Eh, ada bangunan khusus untuk tempat membaca juga lho. Sayang hanya buka di waktu-waktu tertentu, tidak buka setiap hari.

TBM di dalam lokasi taman

Saat bermukim kembali di Banjarbaru pada tahun 2010 hingga 2015, aku tentu tak bisa sering berkunjung lagi ke taman tersebut. Pertama, karena faktor umur yang sudah expayed dari usia kanak-kanak. Kedua, karena tak ada anak kecil yang bisa diajak mengajak kesana. Ke taman bersama teman? Ah, sepertinya nongkrong di rumah makan AZ tepat di seberang taman lebih sering aku dan teman-teman lakukan.

Beginilah wajah kami saat semester pertama kuliah
Pernah suatu pagi, aku dan teman-teman jogging di taman ini. Sebenarnya tempat jogging teramai di Kota Banjarbaru ada di Lapangan Dr. Murjani. Tapi karena kami tak ingin suasana ramai dan ingin melihat suasana baru, jadilah kami jogging di taman ini. Menyenangkan rasanya ke taman ini pakai baju olahraga. Kami bebas bermain perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, dan lainnya. It's wonderfull things. Di kesempatan lain, aku ke taman ini saat ada acara dari komunitas yang aku ikuti. Ya, di sebelah taman ini memang ada sebuah panggung besar yang sering digunakan berbagai komunitas untuk unjuk kebolehan.

Nongkrong di ayunan

Main perosotan yuk


Sekarang, aku hanya ke taman tersebut jika sedang ke Banjarbaru bersama sepupu yang berusia anak-anak. Seringnya hanya menatap ke taman tersebut dan melihat kilas balik masa kecilku di sana, saat berkendara menuju Banjarmasin atau sedang "berkeliaran" di Kota Banjarbaru karena ada urusan.

Monday, July 25, 2016

Berumah Tangga artinya Bekerja Sama

Ini hanya opini pribadiku tentang pembagian tugas antara suami dan istri dalam rumah tangga. Tulisan ini berdasarkan fakta yang terjadi di lingkungan sekitar dan cerita dari beberapa teman baik secara pribadi atau pun via statusnya di media sosial.

Enak sekali kalau ada suami yang bilang istrinya tidak bekerja karena hanya tinggal di rumah. Lalu memasak, mencuci pakaian, membereskan rumah, dan mengurus anak itu apa namanya kalau bukan bekerja? Kalau seorang suami harus menggaji pembantu rumah tangga untuk mengerjakan semua pekerjaan tersebut, berapa uang yang harus dikeluarkan? Masih tega bilang kalau istrinya tidak bekerja?


Memang, si istri tidak bekerja menghasilkan uang tapi istrinya bekerja untuk kelangsungan rumah tangga mereka. Itu bukan hal yang sepele. Penafkahan berupa uang adalah 100% kewajiban suami. Kalau pun istri mendapatkan uang dari pekerjaannya di luar rumah, itu (seharusnya) murni miliknya pribadi. Bukan untuk membeli keperluan rumah tangga, karena sekali lagi itu adalah kewajiban suami. Sebaiknya suami juga memberikan uang untuk pribadi istri di samping uang untuk kebutuhan pokok. Banyak terjadi sekarang dalam suatu rumah tangga, uang hanya bisa dipakai istri belanja keperluan pribadi setelah kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Sedang jarang sekali uang bulanan bisa cukup dengan kondisi perekonomian global yang buruk.


Fenomena lain yaitu banyak istri yang bekerja di luar untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Tapi tidak banyak suami yang rela dan peka untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Padahal itu bukan tugas istri sepenuhnya. Perlu diketahui bahwa tugas istri terhadap suami hanya 2 yaitu melayani suami di tempat tidur dan menaati perintah suami. Menyediakan pangan, sandang, dan papan untuk istri sebenarnya adalah tugas pokok suami. Istri hanya membantu.

Ketika suami-istri sama-sama bekerja, itu artinya saat pulang bekerja sama-sama capek. Eh, si suami dengan santai menyalakan televisi sementara istri memasak. Setidaknya bantulah istri menyiapkan makanan. Toh untuk kepentingan berdua juga.

Ada juga suami yang ketika hari libur santai membaca koran sedang istri keluyuran di dalam rumah karena banyak tugas yang harus dikerjakan. Setidaknya suami bantu menemani anak sehingga tidak merepotkan ibunya yang lagi sibuk. Istri tentu saja capek karena tangan yang dia punya hanya dua, sedang pekerjaan rumah menggunung. Tak pelak kondisi tersebut membuat seorang istri lelah lahir batin.


Jadi sebaiknya suami juga ikut andil dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti istri yang juga ikut mencari nafkah untuk keluarga. Karena berumah tangga artinya bekerja sama.

Sunday, July 24, 2016

Nasi Padang

Aku tidak suka makan, tidak suka kulineran. Makan bagiku hanya sebagai kebutuhan agar tubuh tetap bisa beraktivitas dengan lancar. Adalah Nasi Padang, makanan khas provinsi Sumatera Barat ini sepertinya favorit sebagian besar orang. Terutama daging rendangnya. Konon rendang dinobatkan sebagai makanan terlezat di seluruh dunia.

Daging Rendang
(www.sebatasberita.com)

Tapi tidak bagiku, awalnya. Aku biasa saja saat menyantap makanan dengan beragam pilihan lauk ini. Malah cenderung kurang suka dan memilih menu masakan yang lain jika ada pilihan karena nasi padang cenderung pedas. Cabai hijaunya seringkali dicampur dalam nasi bersama lauk jika dibungkus. Seperti yang diketahui aku bukan pecinta makanan pedas.

Waktu kuliah dulu, kalau tidak rombongan dengan teman atau makan bareng dosen barulah aku menikmati nasi padang. Bukan karena harganya lebih mahal daripada menu masakan yang lain di kantong mahasiswa, tapi karena memang aku kurang suka.

Sekarang setelah bekerja, intensitas makan nasi padangku mulai meningkat. Teman-teman kantor senang sekali dengan menu ini. Lagi pula makanan tersebut dianggap mewah jika dibandingkan menu yang lain, menurut mereka. Karena terbiasa aku mulai suka dengan bumbu rendang, juga mulai menikmati potongan buah nangka dan daun pepayanya. Tapi dengan catatan tidak pakai sambal.

Untuk menetralisir rasa pedas dari bumbu rendang di lidahku, saat memakannya aku sering menuangkan kecap pada nasi. Menu lauk favoritku adalah ayam rendang. Ya, bukan daging, ikan, telur dadar, atau perkedel. Selama masih ada ayam rendang, aku memilih itu.


Bagaimana denganmu guys? Apakah kamu pecinta berat nasi padang? Atau merasa biasa-biasa saja saat makannya? Atau lama-lama jatuh cinta karena terbisa sepertiku? =D

Friday, July 22, 2016

Badatang

Dalam adat Banjar, badatang itu artinya melamar atau dalam istilah arab adalah khitbah. Ada lagi istilah lain dalam bahasa Banjar yaitu basusuluh, artinya mengenal keluarga dan diri calon mempelai lebih dekat atau kalau dalam istilah bahasa Arab adalah taaruf.

Rabu, tanggal 20 Juli yang lalu. Diadakan acara badatang di rumah kakekku. Putri bungsu beliau, yaitu adik mama yang setahun lebih muda dariku dikhitbah oleh laki-laki yang beberapa waktu terakhir memang dekat dengannya.

Acara badatang di rumah kakek

Dalam acara ini ditentukan kisaran waktu mereka akan melaksanakan acara akad nikah dan resepsi pernikahan. Dan biasanya perbincangan yang paling utama adalah masalah berapa uang mahar yang diminta oleh keluarga perempuan dan disanggupi oleh keluarga laki-laki. Terkadang prosesnya membutuhkan waktu lama karena diselingi pembicaraan ngalor ngidul. Bahkan ada proses tawar menawar. Kemarin saja, acara badatang di rumah kakek baru selesai ketika azan maghrib tiba, padahal sudah dimulai sejak bada ashar.

Foto bareng perwakilan kedua calon mempelai

Alhamdulillah acaranya lancar. Nominal uang mahar sudah diputuskan dan waktu akad nikah sudah disepakati yaitu sekitar 2 bulan lagi, setelah Hari Raya Idul Adha. Barakallah.

Tuesday, July 19, 2016

Membongkar Diary Lama

Semua blogger yang aktif sekarang, sebagian besar pasti punya diary di masa remajanya. Hobi menulis di diary memang mengasyikkan. Tak pandang gender, cerita kegiatan sehar-hari dan perasaan tercurah dengan begitu sempurna di atas kertas. 

Aku pun begitu. Saat beres-beres beberapa waktu lalu, aku menemukan kumpulan diaryku saat remaja. Struktur dan isi tulisannnya kalau dibaca sekarang, aih membuat malu. Tapi sayang juga kalau dibuang atau dimusnahkan. Dibalik kealaian dan kelabilan isi diaryku tersimpan kenangan masa remaja yang hanya sekali aku alami seumur hidup. Sekarang kumpulan diary tersebut sudah aman di tempat persembunyiannya. 

Berikut adalah berapa isi diary yang sempat kufoto.

Wih, begini nih tulisanku di zaman menurutku pertemanan adalah segalanya.

   


Waktu SMP nih, aku pernah jadi ketua OSIS.

Anehnya dulu aku nempel foto Taufik Hidayat di diary.
Padahal ngerti bulu tangkis aja enggak. Haha

Ini adalah beberapa kutipan kalimat dari buku atau majalah yang kubaca.

Oh oh kondisi satu diaryku sampai kucel banget kayak gini.

Ihiyy, diarynya pakai biodata. Disebelah kirinya ada surat yang terlampir di kado ultah.

Ini ucapan selamat ulang tahun dari sahabatku

Ini juga

Ini surat cinta. Ahaha

Thursday, July 14, 2016

Mengunjungi Merapi, Mengenang Sosok Mbah Maridjan

Sebenarnya ini bukan pengalamanku mendaki Gunung Merapi. Karena aku sama sekali belum pernah menginjak puncak gunung terkenal di Jogja tersebut. Waktu itu berawal dari rasa penasaranku dengan cerita tentang (alm) Mbah Maridjan yang meninggal saat Gunung Merapi meletus, maka aku mengajak temanku yang kuliah di Jogja untuk menemaniku kesana. Aku mengajak satu orang teman SMA-ku dan dia mengajak dua orang temannya juga. Jadi berlima kami bersepeda motor menuju Merapi.

Jalan terus menanjak ketika kami mengarahkan sepeda motor kami ke arah utara Kota Yogyakarta. Lama kelamaan kami mulai memasuki perkampungan. Saat itu hujan gerimis sehingga kondisi jalan basah dan kami harus berhati-hati karena jalan jadi licin. Sesampainya di kaki Gunung Merapi kami disuguhi pemandangan yang indah sekali. Meskipun saat itu cuacanya mendung, tapi puncak Merapi terlihat sangat jelas karena jaraknya yang dekat. Terdapat sedikit kabut yang menutupinya tapi tetap saja kegagahan puncak Merapi tak dapat disamarkan. Subhanallah. Tempat yang paling tepat untuk menikmati keindahan puncak merapi adalah menara pandang yang terdapat di kaki gunung tersebut. Menaranya tidak terlalu tinggi tapi lokasinya sangat strategis sehingga puncak merapi terlihat sangat jelas dari sana.

Gerimis, dingin, licin
Puncak Merapi dari menara pandang

Kami memang tidak berniat untuk mendaki hingga ke puncak. Pertama, cuaca sedang tidak bersahabat. Kedua, kami tidak membawa peralatan mendaki apapun. Terakhir, kami hanya punya waktu sebentar. Jadi kami hanya berwisata di kawasan kaki gunung Merapi dengan tujuan utama adalah bekas pondoknya mbah Maridjan.

Di sana aku melihat bekas rumah atau pondok mbah Maridjan yang bertugas sebagai Juru Kunci Gunung Merapi. Bangunan rumahnya sih sudah tidak ada, kemungkinan besar sudah hancur karena terkena lahar panas yang pada tahun 2010 memang banyak mengalir dari Puncak Merapi. Dari spanduk yang terpasang di area sekitar bekas rumah beliau tertulis bahwa mbah Maridjan ini adalah orang yang taat beribadah dan sangat bertanggung jawab hingga akhir hayatnya ia abdikan untuk menjaga Gunung Merapi. Aku tidak tahu persis bagaimana kronologis kematiannya. Dari kabar yang kudengar bahwa saat itu Merapi “mengamuk”. Tim evakuasi menyuruh semua orang yang tinggal di kaki gunung Merapi untuk mengungsi, tapi mbah Maridjan bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya. Hingga akhirnya ia meninggal dalam bencana lahar panas.

Situs bekas rumahnya Mbah Maridjan

Situs Kali OPak Watu Tumpeng
di dekat bekas rumah Mbah Maridjan
Selain Mbah Maridjan, juga terdapat korban lain. Dari spanduk yang didirikan di dekat area tempat tinggal mbah Maridjan tertulis bagaimana kronologi meletusnya Merapi dan para tim relawan yang “gugur” dalam tugas penyelamatan korban bencana Merapi. Semoga mereka diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Di depan spanduk kronologi bencana Merapi


Sekarang, tiga tahun berlalu setelah bencana tersebut, kawasan Gunung Merapi merupakan tempat yang cukup aman bagi yang ingin berwisata sekaligus mengenang sosok Mbah Maridjan dan orang-orang yang telah berjasa pada waktu terjadinya bencana tersebut. Di area lapang di kaki gunung merapi tersebut didirikan masjid dan halamannya dapat digunakan sebagai tempat parkir. Terdapat juga warung yang menyediakan minuman hangat, cocok dikunjungi karena udara di sekitar merapi sangat dingin. Sambil menunggu hujan reda saat itu aku dan kawan-kawan berteduh sekaligus memesan minuman disana.

Suatu hari nanti, aku akan kembali kesana lagi. Mungkin lengkap dengan carrier dan peralatan mendaki lainnya. Semoga. 

Monday, July 11, 2016

Idul Fitri 2016 [I]

Setiap tahun, bagi keluargaku lebaran adalah momen yang paling ditunggu. Karena pada beberapa hari itulah anggota keluarga inti kami lengkap. Selain itu kami juga dapat bertemu dengan keluarga besar yang beberapa tinggal di luar kota. Seperti tahun ini, rasanya bahagia sekali ketika di rumah kita lengkap berkumpul sejak H-3 lebaran. Alhamdulillah. Meskipun kita hanya bisa merasakan nikmatnya bersahur dan berbuka beberapa kali saja, karena terpotong dengan beberapa agenda bukber di luar rumah. Momen menyambut lebaran tambah lengkap dengan adanya Maya, my little cousin yang memang suka menginap di rumah ketika Papa pulang. Tidak tanggung-tanggung, dia menginap dari H-3 sampai hari H. Keberadaannya mewarnai rumah kami dengan tingkah laku khas anak-anaknya.

Foto bareng suami, adik, dan Maya.

Pada hari pertama lebaran, aku dan keluarga shalat Ied di masjid dekat rumah. Tahun lalu, aku shalat Ied di Masjid di kampung suami. Gantian. Maya tentu saja menguntit aku kemana pun aku pergi jadi dia ikut shalat di sampingku. Ini kali kedua ia berlebaran di kampung kami, kalau tidak salah Idul Adha 2 tahun yang lalu saat masih suka digendong ia juga di sini. Yah bagi Maya, Kupang (nama kampung tempat tinggal keluargaku) adalah rumah kedua baginya setelah Kapar dimana orang tuanya bermukim.

Bada shalat Ied, aku dan suami sowan ke rumah orang tua suami. Di sepanjang perjalanan kita seringkali mampir untuk bersalam-salaman dengan kerabat atau orang yang dikenal. Beginilah rasanya berlebaran di kampung. Suasana pada hari itu sangat akrab dan meriah dengan salam dan sapa. Dari rumah mertua, kita ke rumah kerabat suami. Silaturahmi, bertukar kabar dan cerita. Sekitar jam 11 siang lewat kita balik lagi ke rumah karena di rumah nenek di sebelah rumahku diadakan acara mehaul, yaitu peringatan kematian kakek dari pihak Papa. Karena lebaran, ada banyak saudara dan tetangga yang bisa datang. Alhamdulillah.

Suasana di halaman rumah nenek saat selamatan

Setelah acara beres-beres selesai, keluarga dekat dari pihak mama ngumpul di rumah. Saatnya bagi zakat. Hehe. Dari mama dan tante, adik-adik sepupuku dapat uang zakat. Aku sendiri menghadiahi mereka dengan paket buku dan alat tulis. Mereka senang sekali. Acara selanjutnya setelah shalat zuhur adalah silaturahmi ke rumah acil Fuah, sahabat dekat tanteku (mama Maya) yang sekarang sedang menderita penyakit jantung.

Alhamdulillah, waktu kita kesana acil Fuah dan keluarga lengkap ada di rumah. Mereka senang sekali kita kunjungi. Acil Fuahnya juga terlihat sehat-sehat saja dari luar meski tidak boleh terlalu capek. Suami beliau bercerita bahwa sudah beberapa kali mereka ke Surabaya dalam rangka check up kesehatan acil Fuah. Sempat akan dioperasi namun kondisi tubuh acil Fuah tidak memenuhi syarat, sehingga hanya dilakukan rawat jalan. Waktu pun berjalan tak terasa saat mendengarkan cerita acil Fuah. Kebetulan di depan rumah orang tua acil Fuah ada yang jual soto dan gado-gado, maka keluarlah dua jenis makanan tersebut sebagai suguhan untuk kami. Alhamdulillah, rezeki lebaran. Meskipun sudah makan siang saat acara mehaul, santapan selingan macam gado-gado sayang untuk dilewatkan. Hehe.

Karena rumah acil Fuah berada dekat dengan kawasan wisata, jadilah dari sana kami meluncur ke Manggasang. Manggasang adalah sebuah tempat wisata yang menawarkan keindahan alam berupa sungai berbatu yang airnya mengalir deras dan tentu saja jernih. Anak-anak (dan orang dewasa) dapat menyewa ban dalam mobil sebagai pelampung untuk mengarungi derasnya arus sungai. Aku tak ingin kalah dengan dua sepupu kecilku, Maya dan Sudja, sehingga aku pun ambil bagian dalam permainan mengarungi sungai yang mengasyikkan tersebut. Anggota keluarga yang lain hanya duduk-duduk menyaksikan dari pinggir sungai. Ada banyak keluarga lainnya yang juga berpiknik kesana pada hari itu. Sehingga Manggasang ramai sekali.

Siapa mau ikut?

Pulangnya kita mampir di rumah saudara dari pihak ayahnya Maya yang berjualan bakso. Alhasil, satu piring bakso plus tetelan masuk lagi ke perut kita. Alhamdulillah. Malamnya kita makan lagi, kali ini menunya adalah ketupat, oleh-oleh dari jalan-jalan ke rumah mertua tadi pagi. Alhamdulillah rezeki perut. Hari raya pertama sukses silaturahmi dan kenyangnya. Tidur pun jadi tenang.

Sunday, July 10, 2016

Grebeg Muludan di Yogyakarta

Grebeg Muludan atau Sekaten adalah acara tahunan di Yogyakarta, diadakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat tinggal di Jogja dulu, aku beruntung bisa menyaksikan acara Grebeg Muludan. Hari itu bertepatan dengan tanggal 25 Januari 2013, tanggal merah. Tentu saja aku antusias menyaksikan acara yang tak mungkin ada di kampung Aku kesana dengan sahabatku. Kami berdesakan di antara kerumunan warga yang antusias menyaksikan upacara tradisional ini. Tidak hanya masyarakat Jogja yang ada di sana, namun juga turis dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri menyaksikan puncak acara Sekaten ini. Tak ketinggalan, wartawan dari berbagai macam media juga banyak lalu lalang di antara keramaian saat itu, mereka mudah dikenali karena atribut pers mereka serta kamera yang tergantung di leher.


Suasana di depan Keraton saat Grebeg Muludan

Seorang turis sedang berbicara dengan warga lokal

Sialnya waktu itu, pas lagi asyik-asyiknya menikmati acara kami bertemu dengan seorang rekan di kantor tempat kami magang yang tidak terlalu kami sukai. Karena dia gaje, gayanya sok cool dan caper gitu. Lagipula dia sepertinya tipe lelaki penggoda, ohoho dia memang masih single sih. Tapi demi tata krama kami tetap ngobrol baik-baik dengan dia. Dia sebenarnya baik sih, bahkan sangat berguna sebagai guide dadakan yang menjelaskan berbagai macam hal saat upacara berlangsung. Tapi saat ada kesempatan kami melarikan diri dari Mas gaje ini di tengah keramaian acara. Haha. Kenangan yang lucu kalau diingat-ingat sekarang.

Satu lagi “kenangan” bersama mas ini yaitu ketika seekor kuda yang menjadi salah satu pengisi rombongan Grebeg Muludan mengamuk, sahabatku ketakutan. Si mas ini dengan gaya capernya yang sigap menolong temanku ini. Oh oh, ini kenangan tak menyenangkan sepertinya bagi sahabatku tapi aku dengan tega saat itu menertawakan ketakutannya dan menertawakan gaya si mas yang sok penolong itu. Astaghfirullah, suudzon betul kami ya kalau diingat-ingat. Tapi mau gimana lagi, kalau sudah ilfiil memang susah dihilangkan.

Salah satu kuda peserta rombongan Grebeg Muludan

Secara garis besar acara ini menurutku semacam pawai yang dimulai dari alun-alun Keraton Jogja, ada berpuluh-puluh (atau beratus-ratus) prajurit keraton yang mengarak sebuah nampan besar berisi hasil panen warga tahun ini yang disebut Gunungan. Ada dua buah gunungan, yang pertama Gunungan Lanang (Pria) yang diarak menuju Masjid Besar Kauman. Yang kedua adalah Gunungan Wadon (Wanita) yang diarak menuju Puro Pakualaman.

Rombongan prajurit (seragam hitam) yang mengiringi Gunungan
Di akhir acara isi gunungan tersebut diperebutkan oleh warga yang mengikuti atau berada di sekitar arak-arakan tersebut. Mereka percaya, jika mendapatkan sedikit bagian dari sayur atau buah tersebut maka rezeki satu tahun ke depan akan lancar.

"Polisi" Keraton yang bertugas menjaga kondisi
 tetap stabil saat acara berlangsung
Ada banyak orang yang menjadi peserta arak-arakan tersebut. Beragam seragam yang mereka pakai. Selain seragam prajurit juga terdapat ada seragam berwarna putih, hitam, merah, dan hijau. Menurut penuturan Mas Gaje, anggota arak-arakan tersebut diantaranya yaitu prajurit Bugis, prajurit Keraton, Lombok Abang, dan rombongan alim ulama. Binatang yang menyertai arak-arakan tersebut ada kuda dan gajah. Setidaknya ada 4 ekor gajah yang aku lihat. Di atas kuda, ada dua orang yang katanya merupakan panglima perang dan pangeran dari Keraton Jogjakarta.

Aku cukup puas menyaksikan acara ini. Ada banyak hal yang pertama kali aku lihat disana. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan tradisi di Jogja. Semoga nanti bisa kembali lagi ke kota budaya yang ramah ini. Aamiin. 

Wednesday, July 6, 2016

Ucapan Selamat

Ulang tahun dan pernikahan adalah dua dari sedikit momen penting bagi setiap orang. Begitupun bagiku. Perhatian dari orang-orang terdekat dengan memberi ucapan selamat adalah hal yang membahagiakan. 

Aku suka mengabadikan ucapan-ucapan tersebut dengan fasilitas screenshoot yang ada di smartphoneku. Dulu, karena hp masih jadul, ucapan selamat dikirim via sms. Ada banyak sms ucapan selamat ulang tahun yang juga dulu kusimpan. Tapi lama-lama jadi memenuhi folder penyimpanan. Akhirnya kuhapus dengan rasa sayang. 

Berikut beberapa foto screenshoot ucapan selamat dari beberapa  orang terdekat di beberapa momen 2 tahun ke belakang.

Ucapan Selamat Ultah




  



Ucapan Ultah untuk Suami



Ucapan Perpisahan dari Sahabat



Ucapan Selamat Mendapatkan Pekerjaan Pertama dari Adik



Komentar Sahabat tentang Suami



Ucapan Terima Kasih setelah Resepsi Pernikahan



Doa yang Belum Terkabul

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates