Monday, May 9, 2016

Loksado: Petualangan 32 Jam (II)

Baca cerita sebelumnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (I)

Agenda kami selanjutnya setelah survey lokasi perkemahan adalah menjajaki Air Terjun Haratai, air terjun paling kondang yang terdapat di Loksado. Barang-barang kami titip di balai informasi Desa Malaris, kesampingkan dulu masalah tempat kemping. Kami menuju Air Terjun Haratai dengan menggunakan sepeda motor. Arahnya menuju keluar pintu gerbang area wisata Loksado namun belok kanan saat di jembatan lalu berkelok mengikuti jalan, di pertigaan kami belok kanan. Nah disinilah dejavuku dimulai. Saat aku melihat SD Loksado aku merasa pernah menginap di tempat ini waktu napak tilas tahun 2010, ya tepat 6 tahun yang lalu karena napak tilas memang selalu dilaksanakan di bulan Mei.

Foto bareng di depan pintu gerbang Air Terjun Haratai

Trek menuju Air Terjun Haratai bisa dilewati dengan menggunakan sepeda motor, namun tentu dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Aku lupa menghitung berapa kilometer dari gerbang Desa Haratai menuju air terjun tersebut. Sekitar 8 km mungkin. Selain pakai sepeda motor, banyak juga yang memilih untuk berjalan kaki. Bisa jadi karena ke Loksadonya menggunakan transportasi mobil atau bus. Dua orang bule yang kami lihat sebelumnya naik pickup menuju loksado ternyata juga berjalan kaki menuju Air Terjun Haratai. Anak-anak langsung ribut dan antusias untuk berfoto dengan bule. Zamanku sudah lewat, dulu sering juga begitu sama teman-teman saat ketemu bule di tempat wisata. Haha.

Di jembatan gantung yang ke sekian di perjalanan
menuju Air Terjun Haratai

Ke lokasi air terjunnya sendiri tidak bisa menggunakan sepeda motor juga sih. Harus jalan dari parkiran sekitar 1 km. Sampai di lokasi waktu menunjukkan pukul 13.00. Lapar, jadilah kami makan pop mie dulu. Alamak nikmatnya makan mie di tengah udara sejuk loksado dengan suguhan pemandangan Air Terjun Haratai pula. Tapi sialnya aku tak berhati-hati saat mengecap kuah mie sotoku. Airnya panas banget dan lidahku rasanya terbakar hingga 2 hari kemudian. Oh my, rupanya ini adalah “jebakan batman” di balik indahnya Air Terjun Haratai karena ternyata suami dan temanku pun kena juga.

Iklan mie instan yang badai banget panasnya =D

Hasil fotonya ga maksimal ya?
Ini gegara derasnya percikan air
terjun di belakangku
Selesai ngaso, kami pun mendekati air terjun. Ya ampun deras sekali sampai-sampai percikannya seperti hujan. Tidak terlalu berani berfoto di sana karena kamera bakal basah. Pun kami tidak terlalu lama berada disana karena ada banyak orang yang juga ikut menyaksikan pemandangan alam nan indah ini. Beginilah risiko liburan di hari libur. Bakal ketemu banyak orang dan gagal bemesraan dengan alam.

Satu jam kemudian kami balik, di sepanjang perjalanan pulang itulah aku sibuk  mengkhawatirkan bensin yang sudah sekarat. Ohh. Satu-satunya orang yang jual bensin di tengah belantara Haratai malah tidak ada di tempat, padahal bensinnya ada. Alhamdulillah kami bisa sampai ke desa sebelum bensinnya habis. Sekalian mampir ke masjid, kami mengisi bensin dan belanja ransum untuk makan malam dan sarapan besok pagi. Hanya mie instan dan telur sih sebenarnya. Haha.

Oya saat menuju Haratai kami melihat area landai di salah satu tepi sungai tepat di samping SD Loklahung. Suamiku kemudian mengusullkan kalau kami berkemah disana saja. Semua setuju. Jadilah saat pulang dari Haratai kami survey dan ternyata tempatnya aman dan cocok untuk mendirikan tenda. Para cowok kemudian menuju Desa Malaris untuk mengambil tas. Kami yang cewek bersiap untuk memasak dengan bahan yang tersedia. Syukurlah aliran air sungai sangat dekat dengan lokasi perkemahan kami. Ini sangat membantu. Lagipula kami juga tidak terlalu terpencil dari peradaban. Tak jauh dari lokasi kami terdapat jembatan besi yang menghubungkan Desa Loklahung dengan Desa Loksado. Tak terhitung berapa banyaknya kami melihat turis domestik yang berjalan melewati jembatan tersebut untuk berwisata ke Desa Loklahung. Fyi, akses mobil terputus sampai sebelum jembatan saja.

Prewedding shoot di balai dekat Air Terjun Haratai


Kami membangun dua tenda. Satu untuk cewek di teras SD dan untuk cowok di bawah pohon dekat tungku api. Belum selesai memasak, hujan datang dengan sangat lebat. Hiks, kami lupa mengamankan kayu bakar pula. Jadilah kami hanya bisa berteduh di teras SD sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda beberapa cowok membeli kayu untuk memasak. Apa mau dikata karena kayu basah tak bisa digunakan untuk menghidupkan api. Eh ternyata tak ada kayu bakar yang dijual disini, yang ada hanyalah kayu manis yang memang merupakan komoditi utama daerah sini. Harganya? Tentu lebih mahal, karena dihitung per kg. Aroma dari kayu manis yang terbakar khas aroma masakan tradisional. Jadi tambah lapar.

Motorku di depan tenda kami

Malam tiba, acara memasak sudah selesai kami pun makan dengan peralatan seadanya. Piring yang kami gunakan adalah daun pisang. Alami banget. Selesai makan dan beres-beres, tak ada yang bisa dilakukan oleh para cewek selain rebahan dalam tenda. Kalau cowok-cowok mereka punya acara sendiri: main kartu.

Candid di dalam tenda

Aku tertidur jam setengah 9 malam dalam keadaan capek dan ngantuk. Pukul 4 subuh aku terbangun untuk menyelinap masuk ke dalam sleeping bag. Boleh dikatakan untuk ukuran perkemahan tidurku sukses dan lelap.

Bagaimana cerita kami selanjutnya? Masih ada 9 jam petualangan setelah aku terbangun pagi. Baca selengkapnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (III).

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates