Sunday, May 29, 2016

4 Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi, senang dong ya? Eh, atau malah sedih karena bakal lemas di siang hari. Hehe. Jangan begitu atuh. Sebagai umat muslim, sudah selayaknya kita senang menyambut bulan Ramadhan karena di bulan ini dosa yang kita timbun selama 11 bulan yang lalu akan dihapus tanpa terkecuali. Itu jika kita mau "mematuhi aturan" yang berlaku. Kalau tidak, ya dosanya tetap saja atau bahkan bertambah.

Lalu bagaimana agar Ramadhan kita optimal dengan maksimal pahala yang kita dapat dan minimal dosa. Yuk, lakukan 4 persiapan ini. Mumpung Ramadhan masih sekitar seminggu lagi.

1. Persiapan Ruhiyah
Persiapan ruhiyah atau persiapan secara batin/mental sangat penting dilakukan dalam menyambut bulan Ramadhan agar kita dapat maksimal beribadah dengan perasaan bahagia. Berbagai cara yang dapat dilakukan dalam persiapan ruhiyah ini, yaitu:
- Berdo'a agar kita dapat dipertemukan dengan bulan Ramadhan
- Membuat target ibadah selama bulan Ramadhan
- Memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia
- Memperbanyak istighfar
- Bertekad melakukan banyak kebaikan dan mengurangi keburukan

2. Persiapan Fisik
Fisik juga harus dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan. Caranya yaitu dengan rutin berolahraga agar kesehatan kita terjaga sehingga ibadaha kita tidak terganggu karena sakit. Selain itu memperbanyak puasa sunah juga perlu dilakukan untuk membiasakan tubuh sehingga tidak kaget saat mulai bulan Ramadhan nanti.

3. Persiapan Ilmu
Amal tanpa ilmu itu berbahaya. Sehingga sangat penting bagi kita untuk menuntut ilmu sebelum melakukan ibadah. Baca lagi buku-buku bertema Ramadhan agar wawasan tentang puasa dan amalan lainnya fresh lagi. Aku sendiri punya buku yang kubaca setiap Ramadhan akan datang, judulnya Ramadhan Returns. Selain membaca, menambah ilmu juga dapat dilakukan dengan mendengarkan ceramah baik via tv, radio, atau media internet. Berkumpul dengan halaqah juga merupakan cara mendapatkan ilmu yang sangat diberkahi oleh Allah. Jadi, yuk aktif liqo.

4. Persiapan Dana
Nah jangan melupakan hal yang satu ini ya, karena dana merupakan faktor yang penting juga. Setidaknya bagi dana dalam 3 kelompok berikut saat menjelang Ramadhan:
- Kebutuhan pokok saat Ramadhan, termasuk dana untuk sahur dan berbuka
- Dana untuk kebutuhan lebaran, untuk membeli kue lebaran misalnya
- Sisihkan dana untuk sedekah semampu kita. Agar orang lain juga dapat menikmati Ramadhan dan Lebaran seperti kita. Berbagi itu nikmat lho.

Itu dia 4 persiapan yang kita lakukan untuk menyambut datangnya bulan yang mulia ini. Lakukan mulai sekarang yuk, agar Ramadhan kita tambah indah dan berkah.

Thursday, May 26, 2016

Yukenpa, Anjing yang Malang

Pada suatu hari Minggu, adik sepupuku dititipkan di rumahku. Namanya Maya, akhir April lalu dia baru berulang tahun yang ke-6. Waktu itu aku dan Maya hanya berdua di rumah. Aku yang sedang sibuk mencuci piring terkejut dengan suara isak tangis Maya yang sedang nonton tv di ruang sebelah.

"Maya ada apa?" Segera kudekati Maya untuk meredakan tangisannya

"Itu, anjingnya tidak bersalah tapi malah dilempari batu oleh orang-orang." Jawab Maya, tangisnya pun tambah kencang

Ya Allah, seruku dalam hati. Si adik kecilku yang masih lugu ini sangat halus hatinya. Sehingga ketika melihat ketidakadilan meskipun itu hanya cerita rekaan di televisi ia langsung bersedih dengan cara menangis. Duh dek, andai kamu tahu bahwa dunia memang kejam. Saat kamu besar nanti, kamu akan lebih banyak mendapati ketidakadilan seperti itu di dunia nyata.

Pikiran-pikiran tersebut hanya beterbangan di kepalaku, tidak kukatakan pada Maya. Karena jelas otak jernihnya tak menerima kenyataan buruk seperti itu. Sebaliknya aku hanya menenangkan Maya sambil mendengarkan ia sesekali bercerita tentang tokoh yang ia tangisi.

Sebenarnya tanpa mendengarkan cerita Maya pun aku sudah tahu jalan ceritanya karena tv dari tempatku berdiri mencuci piring bisa terlihat. Lagipula volume suara tv yang tidak bisa dibilang kecil membuatku mendengar persis keseluruhan cerita.

Jadi ceritanya Maya sedang menonton serial tv Doraemon, robot ajaib asal Jepang. Di awal diceritakan bahwa Nobita merasa tidak memiliki teman sejati jadi ia meminta pada doraemon untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh Doraemon kemudian dikeluarkanlah robot berbentuk anjing bernama Yukenpa dari kantong ajaibnya. Yukenpa telah disetting untuk selalu patuh terhadap permintaan tuannya alias Nobita.

Nobita dan Yukenpa
(www.doraemonfilm.xyz)

Nobita pun senang sekali ia memiliki "peliharaan" yang setia padanya. Maka berjalan-jalanlah ia bersama Yukenpa ke sebuah tempat antah berantah melewati pintu kemana saja. Di satu waktu tiba-tiba Yukenpa menggonggong keras pada Nobita. Tentu saja Nobita jadi takut dan segera berlari menyeberangi pintu kemana saja, kembali ke dunia aslinya. Dengan terengah-engah ia bercerita pada Doraemon bahwa Yukenpa ingin menyerangnya. Doraemon heran karena robot anjing tersebut tidak mungkin melakukan hal tersebut karena ia sudah diatur sedemikian rupa untuk selalu patuh pada perkataan tuannya.

Doraemon bersama Nobita kemudian melacak apa yang sebenarnya terjadi dengan alat ajaib semacam CCTV. Ternyata dari tayangan terlihat pada waktu Yukenpa menggonggong ke arah Nobita ternyata ada beruang besar di belakang Nobita. Ah, ternyata Yukenpa ingin melindungi Nobita!

Nobita pun menyesal dan mencari Yukenpa kembali. Sayang sekali selama pencariannya bersama Doraemon, Yukenpa belum ditemukan. Rupanya Yukenpa berlari sangat jauh saat ia mengejar beruang besar tersebut. Sambil menangis, Nobita terus mencari Yukenpa.

Di lain cerita, Yukenpa berjalan sendirian di sebuah pedesaan. Dari kejauhan ia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis ketakutan karena diganggu oleh 3 anjing besar. Yukenpa bergegas menolong anak itu dengan cara mengusir ketiga anjing yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari tubuhnya. Ia pun sempat berkelahi dengan salah satu anjing pengganggu tersebut, sebelum ketiganya melarikan diri.

Namun tak disangka orang-orang dewasa mulai berdatangan dan mengusir Yukenpa yang berada di dekat anak kecil yang sedang menangis tersebut. Mereka berteriak, "Ayo lempar saja anjing nakal pengganggu itu". Orang-orang rupanya salah mengira bahwa Yukenpa adalah anjing yang membuat anak kecil itu menangis. Mau tidak mau, Yukenpa pun berlari sambil menghindari hujan batu yang menimpanya. Sambil berlari, ia teringat pada perkataan Nobita bahwa ia harus selalu berbuat baik kepada semua orang agar orang-orang senang kepadanya. Tapi apa yang ia dapat? Ia malah dilempari batu setelah menolong seorang anak kecil, itu mungkin yang dipikirkan oleh Yukenpa.

Sementara itu pencarian Nobita dan Doraemon terus berlanjut. Kali ini mereka menggunakan baling-baling bambu untuk melihat lebih detail keberadaan Yukenpa. Tiba di suatu pagi yang cerah setelah hujan lebat semalaman. Nobita melihat sesuatu bergerak di rerumputan, ia pun mendarat di tanah untuk mengamati. Ternyata itu Yukenpa! Ia pun berlari untuk mendekati Yukenpa. Setelah dekat ia terkejut karena badan Yukenpa seperti barang rongsokan. Telinganya patah, pegas ekornya pun rusak terurai. Katanya ia sempat tertabrak mobil di perjalanan. Menyedihkan sekali kondisi Yukenpa.

Nobita pun memeluknya dengan erat dan meminta maaf telah meninggalkan Yukenpa sendirian. Doraemon mendekat dan berkata bahwa ia akan memperbaiki semua kerusakan yang terjadi pada tubuh Yukenpa.

Sampai disitu cerita berakhir. Namun isak tangis Maya masih terdengar satu-satu. Segera kuhibur dengan mengatakan bahwa ceritanya happy ending dan Doraemon akan memperbaiki Yukenpa agar tubuhnya bagus kembali. Namun Maya berkeras ia masih sedih dengan perlakuan orang-orang yang melempari Yukenpa dengan batu. Ingin sekali aku mengatakan pada Maya bahwa memang tak semua perbuatan baik itu bisa diterima dan dihargai oleh orang lain. Namun kuurungkan niat, biarlah Maya mengetahui kenyataan pahit ini sendiri saat ia mulai dewasa nanti.


Monday, May 23, 2016

Istana Kerajaan Rengganis

Pada awalnya aku salah mengira tentang novel ini. Kubeli sekaligus dengan novel dari penulis yang sama dengan judul Takhta Mahameru (Altitude 8888). Karena dari judul yang sama-sama berbau pendakian, aku kira novel ini merupakan sekuel lanjutan dari novel Takhta Mahameru. Setelah aku akhirnya menamatkan novel tersebut dan mendapati tak ada cerita yang bersambung, lunturlah harapanku karena sebenarnya aku mengharapkan lanjutan cerita dari Faras dan Ikhsan.

Judul: Rengganis (Altitude 3088)
Penulis: Azzura Dayana
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun terbit: 2014

Berbulan-bulan kemudian, barulah novel ini kubuka dan kubaca. Not bad. Tapi ada beberapa hal yang kucatat mengenai novel ini, yaitu:
1. Saat membaca judul Rengganis, aku kira itu adalah nama tokoh utama dalam novel ini. Well karena aku belum pernah mendengar cerita tentang Sang Dewi Putri Kerajaan Majapahit ini sebelumnya. Pegunungan Argoporo pun tak familiar di telingaku.
2. Hingga ke puncak pendakian yang pertama, itu sekitar setengah dari jumlah total halaman novel ini belum terdapat konflik yang berarti. Sehingga jalan cerita novel ini sangat datar hingga ke pertengahan.
3. Tidak ada tokoh yang diutamakan dalam novel ini, setidaknya itu yang kutangkap. Namun di akhir novel sedikit kelihatan bahwa Dewo adalah tokoh utama dari delapan sekawan dalam satu tim pendakian ini.
4. Detail cerita tentang persiapan pendakian dan saat pendakian yaitu tentang bekal dan konsumsi sangat detail dijabarkan oleh penulis.
5. Menurutku detail tentang tokoh utama yang terdapat pada bagian belakang novel ini sebaiknya diletakkan di awal sebelum bab awal pendakian. Aku sendiri sedikit kebingungan dengan jumlah tokoh utama yang agak banyak, 8 orang. Menghafal ciri dan karakter mereka satu-satu itu sedikit sulit.

Qoute yang kusukai dalam novel ini yaitu:

“Mereka mendaki karena mengaku mencintai alam. Tapi mereka sendiri yang mengkhianati cinta itu. Sesungguhnya bukan alam yang mereka cintai, tapi diri mereka sendiri.” (hal 113)


“Tapi begitulah, karena pada dasarnya tanah bersifat bersih dan membersihkan maka itu bukanlah masalah besar”(hal 75) 

Thursday, May 19, 2016

Grantia sp.

Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Porifera
Kelas               : Calcarea
Ordo                : Calcaronea
Famili              : Grantiidae
Genus              :Grantia
Spesies            : Grantia sp.

Deskripsi:
Grantia sp. merupakan salah satu spesies dari filum Porifera. Dikenal sebagai spons calcareous yang khas karena mempunyai spikula yang tersusun atas kalsium karbonat (CaCO3) dan serat spongin. Tubuhnya berukuran tidak lebih dari 10 cm. Tubuh spesies ini seperti pada kelas calcarea umumnya, mempunyai warna yang bervariasi yaitu: kuning cerah, merah dan ungu. Tipe susunan kanal tubuhnya adalah sikonoid.

Habitat:
Grantia sp. terdapatdi pantai laut yang dangkal. Hidup melekat pada batu, kayu atau cangkang Moluska.

Potensi:
Potensi Grantia sp. belum banyak ditemukanBeberapa ahli kini sedang meneliti tentang kemungkinan potensi Grantia sp. sebagai sumber obat untuk mengobati berbagai penyakit.

Sumber Pustaka:
Rita Rich.2009.Filum Porifera.
Diakses pada 10 Oktober 2011

UniProt.2010.Spesies Grantia sp.

Diakses pada 11 Oktober 2011

Sunday, May 15, 2016

What’s My Goals?

Adalah pertanyaan beberapa orang terdekat apa yang ingin kucapai dalam satu, dua hingga lima tahun ke depan. Dua orang yang paling maksa pengen tahun jawabannya adalah mama dan suami. Baiklah akan kujawab pada postingan kali ini. Meski aku juga tidak yakin mereka berdua bakal membaca blogku ini, karena mereka akan lebih senang mendengar aku bercerita langsung. Yah, setidaknya aku menulis ini dengan tujuan share mimpi dengan para pembaca blogku.

qoutesgram.com

Impian paling pertama yang ingin kuwujudkan adalah punya usaha sendiri. Meski aku dan suami sama-sama bekerja, tapi mempunyai usaha yang dikelola sendiri akan membuat finansial keluarga lebih aman. Lagipula jika aku berencana resign nantinya, akan lebih mudah karena tetap punya pemasukan. Bidang usaha yang ingin kugeluti masih kupikirkan matang-matang, tapi yang jelas adalah bidang yang aku dan suamiku sukai. Target waktuku untuk mencapai goal ini adalah tahun depan. Ya, mungkin butuh satu tahun lagi bagi kami untuk mengumpulkan modal dan belajar bisnis.

Impian kedua adalah studi lanjut dengan beasiswa ke luar negeri. Mengapa aku beg itu detail mendeskripsikan mimpiku? Karena aku ingin tercapai tepat seperti yang aku harapkan. Toh mimpi ga perlu bayar bukan? Negara yang ingin aku tuju adalah Jepang, karena disana jurusan impianku paling berkembang pesat. Sejak sekarang aku sudah mulai usaha belajar TOEFL dan cari info perihal beasiswa ke sana. Target waktuku, satu atau dua tahun ke depan aku sudah bisa berada di negara Sakura tersebut.


Wednesday, May 11, 2016

Blogging: Have Fun and Get The Money

Pertama kali melihat cover buku ini wara-wiri di timeline twitter, aku langsung ngiler meski belum tahu isinya. Judul dan blurb yang tercantum di cover adalah umpan yang menarik bagi kutu buku dan blogger sepertiku. Nama penulis yang juga tak asing di dunia perbloggeran -Carolina Ratri, membuatku tak ragu untuk segera membeli dan membaca buku ini. Dan inilah hasil reviewku tentang buku yang berjudul Blogging: Have Fun and Get The Money ini.

   
Buku yang berjumlah 245 halaman ini dibuka dengan pendahuluan yang berisi tentang alasan mengapa orang ngeblog dan apa yang bisa kita dapat lewat ngeblog. Karena judul buku ini terdapat kata get the money, maka di bagian pendahuluan ini juga terdapat ajakan dari penulis untuk para blogger agar serius ngeblog sehingga dapat menghasilkan uang. Meskipun penulis tetap menyarankan jangan menjadikan uang sebagai tujuan utama ngeblog.

Pada Chapter 2 yang berjudul Let’s Blogging, penulis menanyakan pada pembaca apa topik utama yang ingin kita sematkan pada blog kita. Apakah lifestyle blog atau niche blog. Aku sendiri menasbihkan diri sebagai lifestyle blogger yang mengisi blog dengan beragam tema. Sedangkan pada blog berniche, blogger hanya menuliskan fokus satu tema saja seperti travel, makanan, kecantikan, atau fashion. Ada 4 keuntungan blog berniche dibandingkan lifestyle blog yang dijabarkan penulis pada bagian ini. Penulis menekankan agar topik blog yang kita pilih adalah topik yang kita sukai dan kuasai.

Ada banyak printilan yang sangat penting untuk dibaca pada bagian ini selain menentukan tema blog, yaitu:
- Tips keceh untuk menentukan judul dan alamat blog (Hal 49)
- Perbandingan antar platform blog (Hal 51)
- Tips membuat password blog atau akun apapun (Hal 54)
- Bagaimana cara merapikan blog agar enak dikunjungi pembaca (Hal 58)
- Cara mendaftarkan blog ke search engine (Hal 64)
- Tips dasar SEO (Hal 69).

Mari mengenal SEO
source: www.supremeoptimization.com

Boleh dibilang inti dari blogging adalah menulis. Ya, seperti judul Chapter 3 buku ini, Blogging is Writing. Ada berbagai macam faktor penunjang agar tulisan yang kita posting di blog memiliki nilai lebih di mata pembaca, salah satunya adalah EYD. Yup, EYD itu penting, jangan asal tulis dan publish. Selain itu tulisan kita harus unik agar orang mau membaca postingan kita dibandingkan artikel dari blog lain dengan tema yang sama.

Blogger juga harus banyak membaca agar tulisannya semakin berisi. Tulisan yang berisi tidak harus tulisan yang berbelit-belit, keep it simple. Jika sejak awal tulisan kita sudah terlihat njelimet dan bertele-tele, maka bisa dipastikan orang akan ogah membaca artikel kita secara keseluruhan.

Self editing juga sangat perlu dilakukan oleh para blogger, termasuk typo dan ejaan. Selain itu tulisan yang baik adalah tulisan yang informatif. Meskipun tema juga tetap harus disesuaikan dengan niche blog. Pada halaman 95 penulis juga menyebutkan bahwa kategori blog harus rapi. Nah, ini adalah salah satu PR-ku untuk membenahi satu-satunya blog yang kupunya ini.

Salah satu ilmu penting yang kudapatkan dari buku ini adalah ilmu tentang plagiarisme yang terdapat pada hal 98. Di dunia maya yang memiliki jutaan artikel sangat mungkin kita terjebak dalam jerat plagiarisme meskipun kita tidak sengaja. Nah, di bagian ini terdapat tips bagaimana mengecek orisinalitas tulisan kita dan tips teknis agar terhindar dari plagiarisme.

Pada Chapter 4 yang berjudul Blogging for Job Review dijabarkan bagaimana memonitize blog yang kita punya. Ya, selain menyenangkan blogging juga membuat kita mendapat tambahan pemasukan. Siapa yang gak mau sih? Nah, di bagian buku inilah kita dapat informasi mengenai job review yang biasanya merupakan pemasukan terbesar para blogger selain iklan. Jangan khawatir, di bagian ini juga dijabarkan bagaimana cara memperoleh job review, cara menulis, dan mempublish artikel reviewnya. Bahkan setelah artikel reviewnya publish masih ada hal yang perlu kita lakukan agar para pengiklan puas dengan hasil review kita.

How to get job review?

Bagian paling menarik bagiku pribadi sepertinya ada pada chapter ke-5 yang berisi hasil wawancara dengan para headhunters (pencari job reviewers) dan para job revieweres itu sendiri. Well, ini menarik karena dengan membaca jawaban-jawaban mereka mengenai dunia blogging dan pekerjaan yang mereka geluti, ilmu kita tentang dunia perblogging-an menjadi bertambah. Ini penting bagi blogger ala-ala sepertiku. Beruntungnya mereka juga tidak pelit berbagi ilmu saat diwawancara.

Bonus dari buku ini terdapat di Chapter 6 yaitu bagaimana cara menghasilkan uang dari blog selain dengan job review. Yah, masih banyak jalan menuju Roma. Jalan yang paling familiar adalah dengan cara mendaftar program Google Adsense. Meskipun persentase diterimanya sedikit namun di buku ini dijabarkan tips agar pendaftaran kita tersebut dapat diterima oleh Google. Tipsnya langsung dari blogger yang sudah ber-Adsense lho. Selain itu juga ada program afiliasi lain di beberapa situs besar yang biasanya berupa toko online. Meskipun tak sebesar Google Adsense, namun rupiah yang bisa didapat juga lumayan jika kita berhasil menjual barang dari toko online mereka. Lagipula cara mendaftar afiliasinya jauh lebih mudah daripada di Google Adsense.

Sampailah kita di bagian penutup buku ini. Penulis menutup buku ini dengan menganjurkan para blogger agar rajin merawat rumah mayanya sehingga orang lain betah berkunjung. Selain itu meski sudah lama malang-melintang di dunia blogging, kita harus tetap update dengan perkembangan terbaru, terus belajar, dan berbagi di dunia maya. Juga seperti rumah fisik, kita harus rajin bergaiul dengan para tetangga blogger lain, baik melalui blog itu sendiri ataupun via akun media sosial yang kita punya.

Keep updated, keep learning, and keep sharing
source: www.bloggermuslimah.com

Secara umum buku ini sangat ramah bagi blogger gaptek sepertiku. Memang ada beberapa istilah khas internet, tapi itu no problem karena penulis menjelaskannya dengan sederhana sesuai kadar otak emak-emak yang kebanyakan mikir uang bulanan. Hehe. Pokoknya buku ini recomended banget dah buat para blogger yang ingin selalu merasa have fun sekaligus menghasilkan uang dari blog pribadinya.



Monday, May 9, 2016

Loksado: Petualangan 32 Jam (III)

Baca cerita sebelumnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (II)

Pagi menjelang dengan indahnya. Suasana di pagi hari di dominasi oleh suara deras air sungai. Eh, ternyata ada banyak orang yang berbamboo rafting melewati sungai di dekat area perkemahan kami.

Sebelum memulai petualangan, mari kita
sarapan pagi dulu

Sarapan pagi ini benar-benar disiapkan oleh para cowok. Mungkin karena faktor perut mereka lapar, jadilah acara memasak pun diselesaikan dengan tangkas khas para lelaki. Walaupun begitu masakannya kuakui enak, boleh jadi karena faktor perut yang lapar. Sisa nasi yang ada digoreng karena sayang dibuang dan dijadikan bekal bagi yang lapar di tengah petualangan hari ini.

Petualangan hari ini dimulai dengan menyambangi Air Terjun Barajang, tempat yang ternyata direncanakan sebelumnya akan dijadikan tempat berkemah kami. Oh oh tempatnya menurutku sedikit mistik karena terdapat kuburan disana dan pernah menjadi TKP gantung diri. Alamak apa jadinya malam kemarin jika kami berkemah disana dan mengetahui cerita tersebut? Pasti tidurku tak selelap tadi malam. Meski begitu, toh keindahan Air Terjun Barajang tak bisa ditutupi. Sejenak kami menikmatinya sembari duduk-duduk di batu, berfoto, atau bermain air yang sangat dingin dari tepi sungainya.

Air Terjun Riam Barajang

Dari Air Terjun Barajang, kami berjalan kaki menuju Air Terjun Hanai yang rutenya susyeh banget. Harus hati-hati dan mengandalkan pijakan kaki yang mantap di tebing curam. Di sebelah kanan ada sungai berair deras yang berasal dari air terjun yang akan kami datangi. Akhirnya tibalah kami di lokasi air terjun yang katanya pernah menjadi salah satu tempat syuting FTV di salah satu TV swasta. Well, dimana-mana air terjun memang selalu indah. Dari 3 air terjun yang kami datangi, semuanya sama tidak terlalu tinggi. Yang membedakan Air Terjun Hanai dengan 2 air terjun sebelumnya yaitu area “kolam” sungainya yang lebih luas. Otomatis, jarak antara kami berdiri dengan air terjunnya cukup jauh kecuali kalau kamu mau berenang mendekatinya. Suasana di sekitar air terjunnya pun sangat indah. Bonusnya lagi waktu kami kesana tak ada wisatawan selain kami. Jadilah air terjun ini seperti berada di lembah terpencil yang tepat untuk menenangkan diri.


Air Terjun Riam Hanai


Dari dua lokasi air terjun ini menuju ke tenda kami mampir sebentar ke rumah warga yang menjual oleh-oleh khas Loksado yaitu gelang dan cincin yang dianyam dari jenis tumbuhan yang aku lupa namanya. Kebetulan pula saat itu bapak penjualnya sedang menganyam, kami pun merubung untuk melihat proses pembuatannya. Sekalian minta izin mengambil foto. Beruntung bapaknya ramah, selain membiarkan kami melihat penganyaman beliau juga memperlihatkan bahan baku daun (atau bagian tumbuhan) yang dijadikan gelang. Selain gelang juga ada kalung dan cincin berbagai ukuran. Beberapa anak ada yang beli, aku sendiri kurang tertarik. Sebenarnya waktu di balai informasi kami hendak mampir, karena disana juga ada penganyam gelang. Tapi yang unik disana ukuran gelangnya disesuaikan dengan ukuran pergelangan tangan kita, karena dianyam langsung di tempat. Kita juga bisa memilih warna dan model. Sayang, waktu kita hendak mampir antrian yang ingin dibikinkan gelang banyak sekali jadilah kita hanya mampir ke rumah warga yang berjualan gelang sudah jadi.


Oleh-oleh khas Loksado, gelang anyaman

Bapak penganyam gelang
Dari lokasi perkemahan kami langsung mengangkut barang-barang yang sudah dipacking. Bye-bye Loksado. Keluar dari gerbang utama wisata alam Loksado, kami bertemu dengan jalan yang berkelok dan menanjak. View ini mengingatkanku dengan perjuangan kami dulu saat napak tilas. Kami saling membantu agar semua anggota tim dapat melewati tanjakan dengan sukses. Tangan berpegangan agar tak ada yang terjatuh, yang masih kuat bertugas menarik yang mulai kelelahan. Ya, meskipun di jalanan mulus tapi tenaga kami waktu itu sudah terkuras di medan hutan yang terjal. Ahh, nostalgia nan indah. Sekarang 5 anggota Tim Alfa Putri tersebut sudah terpisah kota domisili.

Kembali ke dunia nyata, perjalanan masih dilanjutkan dengan melewati jalan tanpa aspal kembali seperti kemarin. Kami yang jalan kaki merasa lebih enteng dan lebih cepat sampai. Tapi bagi para cowok yang membawa sepeda motor, inilah puncak petualangan kami selama 32 jam. Jika kemarin jalanan menurun, sekarang kami harus melewati tanjakan tanpa aspal nan becek tersebut agar sampai di perbatasan dengan sukses. Sekitar selama satu jam  adegan saling bantu tarik motor oleh para cowok berlangsung. Mengapa motornya harus ditarik? Fyi, di satu tanjakan yang sangat curam dan tinggi, ban motor tak mampu lagi menggelinding dengan baik karena telah tertutup tanah becek. Jalanan yang licin dan becek pun membuat motor seperti sapi dengan kaki patah. Satu-satunya jalan adalah dengan menariknya menggunakan tali tenda. Dua orang menarik, satu memegang stang motor agar ban terarah, dan dua lainnya mendorong dari belakang. Untuk menaikkan satu motor diperlukan waktu sekitar 20 menit. Hitung saja total waktu yang dibutuhkan dengan jumlah motor 6 buah, itu belum termasuk waktu istirahat karena nafas yang hampir habis.


Semangat vroh

Kami yang perempuan sebenarnya tidak menyaksikan adegan tersebut karena kami disuruh berjalan kaki terlebih dahulu dan beristirahat ketika sudah sampai di perbatasan. Namun saat melihat para cowok yang kelelahan saat beristirahat, terbayang kok bagaimana capeknya mereka berjuang melewati medan berat jalan pintas tersebut. Nasi sisa sarapan pagi yang digoreng dan dibawa sebagai bekal pun ludes dimakan tanpa lauk oleh para ksatria ini. Perjuangan yang setimpal untuk memangkas jarak. Kalau lewat Kota Kandangan ke Loksado dari Barabai boleh jadi kami menempuh dua kali lipat jarak yang kami tempuh sekarang.

Ngaso dulu setelah melewati medan berat

Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini setelah lewat jalan aspal di Desa Kindingan, masuk Desa Batu Panggung kami belok kanan, dimana aku pernah lewat saat pengambilan sampel dulu. Dari muara belokan desa tersebut sekitar 9 km menuju Desa Bulayak. Untuk sampai kesana kami melewati Desa Ambilik dan Desa Pasting yang tepat terletak di tengah-tengah pegunungan karst (batu kapur). Di Manggasang, kami mampir untuk memandikan sepeda motor yang berlumpur. Sama orangnya juga sih. Kami yang cewek duduk santai saja sambil menonton. Lagi-lagi karena hari libur, suasana yang semula sunyi, kemudian hingar bingar karena para pelancong mulai berdatangan.


Pegunungan Karst di Desa Pasting

Dari sana kami kembali ke sekolah lewat Desa Aluan dan Tanah Habang. Setelah selesai urusan beres-beres barang di sekolah, kita pun berpisah dengan anggota tim. Tapi aku dan suami tak ingin bergegas pulang karena kami ingin mengisi perut yang keroncongan terlebih dahulu. Jam 3 siang boleh dikatakan adalah akhir dari petualangan kami, meskipun sebenarnya jam 4 sore kami baru benar-benar tiba di rumah. Aku menghitung total perjalanan dari Loksado sampai ke rumah (hanya) sekitar 60 km.  Benar-benar 32 jam petualangan yang seru. Terima kasih suamiku telah memberikan kado menyenangkan di tanggal merah kali ini.


Motor dan pengemudinya mencuci diri

Loksado: Petualangan 32 Jam (II)

Baca cerita sebelumnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (I)

Agenda kami selanjutnya setelah survey lokasi perkemahan adalah menjajaki Air Terjun Haratai, air terjun paling kondang yang terdapat di Loksado. Barang-barang kami titip di balai informasi Desa Malaris, kesampingkan dulu masalah tempat kemping. Kami menuju Air Terjun Haratai dengan menggunakan sepeda motor. Arahnya menuju keluar pintu gerbang area wisata Loksado namun belok kanan saat di jembatan lalu berkelok mengikuti jalan, di pertigaan kami belok kanan. Nah disinilah dejavuku dimulai. Saat aku melihat SD Loksado aku merasa pernah menginap di tempat ini waktu napak tilas tahun 2010, ya tepat 6 tahun yang lalu karena napak tilas memang selalu dilaksanakan di bulan Mei.

Foto bareng di depan pintu gerbang Air Terjun Haratai

Trek menuju Air Terjun Haratai bisa dilewati dengan menggunakan sepeda motor, namun tentu dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Aku lupa menghitung berapa kilometer dari gerbang Desa Haratai menuju air terjun tersebut. Sekitar 8 km mungkin. Selain pakai sepeda motor, banyak juga yang memilih untuk berjalan kaki. Bisa jadi karena ke Loksadonya menggunakan transportasi mobil atau bus. Dua orang bule yang kami lihat sebelumnya naik pickup menuju loksado ternyata juga berjalan kaki menuju Air Terjun Haratai. Anak-anak langsung ribut dan antusias untuk berfoto dengan bule. Zamanku sudah lewat, dulu sering juga begitu sama teman-teman saat ketemu bule di tempat wisata. Haha.

Di jembatan gantung yang ke sekian di perjalanan
menuju Air Terjun Haratai

Ke lokasi air terjunnya sendiri tidak bisa menggunakan sepeda motor juga sih. Harus jalan dari parkiran sekitar 1 km. Sampai di lokasi waktu menunjukkan pukul 13.00. Lapar, jadilah kami makan pop mie dulu. Alamak nikmatnya makan mie di tengah udara sejuk loksado dengan suguhan pemandangan Air Terjun Haratai pula. Tapi sialnya aku tak berhati-hati saat mengecap kuah mie sotoku. Airnya panas banget dan lidahku rasanya terbakar hingga 2 hari kemudian. Oh my, rupanya ini adalah “jebakan batman” di balik indahnya Air Terjun Haratai karena ternyata suami dan temanku pun kena juga.

Iklan mie instan yang badai banget panasnya =D

Hasil fotonya ga maksimal ya?
Ini gegara derasnya percikan air
terjun di belakangku
Selesai ngaso, kami pun mendekati air terjun. Ya ampun deras sekali sampai-sampai percikannya seperti hujan. Tidak terlalu berani berfoto di sana karena kamera bakal basah. Pun kami tidak terlalu lama berada disana karena ada banyak orang yang juga ikut menyaksikan pemandangan alam nan indah ini. Beginilah risiko liburan di hari libur. Bakal ketemu banyak orang dan gagal bemesraan dengan alam.

Satu jam kemudian kami balik, di sepanjang perjalanan pulang itulah aku sibuk  mengkhawatirkan bensin yang sudah sekarat. Ohh. Satu-satunya orang yang jual bensin di tengah belantara Haratai malah tidak ada di tempat, padahal bensinnya ada. Alhamdulillah kami bisa sampai ke desa sebelum bensinnya habis. Sekalian mampir ke masjid, kami mengisi bensin dan belanja ransum untuk makan malam dan sarapan besok pagi. Hanya mie instan dan telur sih sebenarnya. Haha.

Oya saat menuju Haratai kami melihat area landai di salah satu tepi sungai tepat di samping SD Loklahung. Suamiku kemudian mengusullkan kalau kami berkemah disana saja. Semua setuju. Jadilah saat pulang dari Haratai kami survey dan ternyata tempatnya aman dan cocok untuk mendirikan tenda. Para cowok kemudian menuju Desa Malaris untuk mengambil tas. Kami yang cewek bersiap untuk memasak dengan bahan yang tersedia. Syukurlah aliran air sungai sangat dekat dengan lokasi perkemahan kami. Ini sangat membantu. Lagipula kami juga tidak terlalu terpencil dari peradaban. Tak jauh dari lokasi kami terdapat jembatan besi yang menghubungkan Desa Loklahung dengan Desa Loksado. Tak terhitung berapa banyaknya kami melihat turis domestik yang berjalan melewati jembatan tersebut untuk berwisata ke Desa Loklahung. Fyi, akses mobil terputus sampai sebelum jembatan saja.

Prewedding shoot di balai dekat Air Terjun Haratai


Kami membangun dua tenda. Satu untuk cewek di teras SD dan untuk cowok di bawah pohon dekat tungku api. Belum selesai memasak, hujan datang dengan sangat lebat. Hiks, kami lupa mengamankan kayu bakar pula. Jadilah kami hanya bisa berteduh di teras SD sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda beberapa cowok membeli kayu untuk memasak. Apa mau dikata karena kayu basah tak bisa digunakan untuk menghidupkan api. Eh ternyata tak ada kayu bakar yang dijual disini, yang ada hanyalah kayu manis yang memang merupakan komoditi utama daerah sini. Harganya? Tentu lebih mahal, karena dihitung per kg. Aroma dari kayu manis yang terbakar khas aroma masakan tradisional. Jadi tambah lapar.

Motorku di depan tenda kami

Malam tiba, acara memasak sudah selesai kami pun makan dengan peralatan seadanya. Piring yang kami gunakan adalah daun pisang. Alami banget. Selesai makan dan beres-beres, tak ada yang bisa dilakukan oleh para cewek selain rebahan dalam tenda. Kalau cowok-cowok mereka punya acara sendiri: main kartu.

Candid di dalam tenda

Aku tertidur jam setengah 9 malam dalam keadaan capek dan ngantuk. Pukul 4 subuh aku terbangun untuk menyelinap masuk ke dalam sleeping bag. Boleh dikatakan untuk ukuran perkemahan tidurku sukses dan lelap.

Bagaimana cerita kami selanjutnya? Masih ada 9 jam petualangan setelah aku terbangun pagi. Baca selengkapnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (III).

Loksado: Petualangan 32 Jam (I)

Petualangan dimulai jam 8 pagi hari Kamis, tanggal 5 Mei 2016. Setelah berangkat dari rumah, sekitar 5 km di jalan kami baru ingat kalau jas hujan dan tali untuk mengikat barang ketinggalan. Oh adalah kesalahan besar jika bepergian ke alam terbuka seperti ini meninggalkan jas hujan. Mau balik ngambil kepepet sekali karena kami sudah ditunggu anak-anak.

Sampai di sekolah semua personel sudah berkumpul. Setelah mengatur segala macam perbekalan kami langsung berangkat. Ada 7 sepeda motor dalam kelompok traveling kami, masing-masing dengan dua penumpang kecuali 1 motor yang sendiri. Dari Birayang kami berbelok ke Desa Paya, masuk ke Batali kemudian belok lagi berturut-turut ke Desa Pantai Batung, Taal, Mangunang, Haruyan, Mu’ui, terus menanjak ke daerah wisata Loklaga. Istirahat sebentar di sana kemudian kami melanjutkan perjalanan di jalan yang mulai menyempit dan berkelok naik turun tapi masih mulus melewati Desa Sungai Harang, Desa Batu Panggung, lalu masuk ke Desa Kindingan. Sejak Desa Kindingan jalan mulai berlubang-lubang tapi masih beraspal.


Perbatasan HST dan HSS

Karena sama-sama belum pernah ke arah sana, hanya mengandalkan petunjuk dari seorang teman suami kami tiba-tiba dikejutkan oleh putusnya jalan beraspal. Aku sendiri hanya pernah sampai di Desa Batu Panggung saat pengambilan sampel. Beruntung di perbatasan jalan beraspal dan jalan tanpa aspal plus becek tersebut ada orang yang bisa kami tanyai. Katanya sih panjang jalan tanpa aspal ini sekamir 1,5 km dan bisa kok dilewati dengan catatan penumpang harus jalan kaki. Di ujung jalan ini kami akan langsung sampai ke Loksado kata orang tersebut. Wah dekat sekali ya ke Loksado lewat jalan pintas ini, pikir kami.

Belum tahu saja kengerian yang menyambut kami di jalan pintas tanpa aspal ini. Sebenarnya kami sudah berasa ngeri awalnya karena ada bapak-bapak yang mengangkut kayu dan terjatuh di depan mata kami karena tanjakan jalan tanah liat yang becek. Oh ya kemungkinan area jalanan beraspal ini adalah milik Kabupaten Hulu Sungai Selatan karena terdapat gapura perbatasan ke arah Desa Kindingan dan secara administratif masuk ke dalam Kec. Hantakan Kab. Hulu Sungai Tengah. Wah, padahal dari sana kayaknya lebih dekat ke Kec. Haruyan. Lagipula desa sebelumnya yang kami lewati yaitu Desa Batu Panggung termasuk ke dalam Kec. Haruyan.


Welcome, jalan tanpa aspal!

Kembali ke petualangan kami, di jalanan tak beraspal inilah ternyata petualangan kami baru benar-benar dimulai. Dengan ransel dan barang bawaan masing-masing personel yang tak bisa dibilang ringan, kami pun menembus jalanan becek ini. Kami yang cewek-cewek jalan kaki sambil mengangkut barang yang bisa kami jinjing. Wahh, ternyata jalanannya tak bisa dianggap enteng meskipun jaraknya hanya sekitar 1 km lebih namun inilah medan terberat dari perjalanan yang harus kami lalui. Jalanannya menurun, beberapa sangat curam dan tentu saja licin dan becek. Motor kami yang hampir semuanya matic kebanyakan tersangkut di dalam lubang alur sepeda motor yang sebelumnya lewat. Para cowok saling membantu untuk mengeluarkan motor-motor yang terjebak.


Kakiku pun ikut terjebak di jalanan berlumpur 

Setelah mulai sedikit bosan berjibaku dengan licinnya jalanan, kami dihadapkan dengan jalanan aspal melintang di depan kami. Yeaay, kami bersorak kegirangan. Apalagi suamiku yang mulai mengenali daerah dimana kami “muncul”. Ini sudah dekat sekali dengan lokasi wisata Loksado yang akan kami tuju katanya, setelah kuhitung menggunakan spedometer ternyata hanya sekitar 7 km dari muara jalan pintas tersebut ke pintu gerbang lokasi wisata loksado. Wah, ternyata jalan pintas kami sangat efektif memperpendek jarak. Boleh kukatakan bahwa ternyata Loksado terletak di belakang Kota Barabai, tepatnya di belakang pegunungan Barabai daerah Hantakan. Well tapi memang secara umum pegunungan di Kalimantan Selatan itu bersatu dalam jejeran pegunungan Meratus.

Sebelum menuju Loksado. Kami terlebih dahulu menuju objek wisata Taman Pemandian Air Panas Tanuhi. Hanya melihat-lihat tidak sampai masuk ke dalam karena memang itinerary kami tidak kesana, karena kalau kesana minim tantangan. Haha, sombong betul yak. Btw, aku sendiri memang sudah pernah ke sana saat napak tilas tahun 2010 lalu. Kolam air panasnya memang mantap untuk merelaksasi tubuh yang capek. Dari Tanuhi kami bertolak menuju Loksado. Di perjalanan kami melewati area buper pramuka HSS yang sedang ramai karena sedang ada perkemahan yang dilaksanakan oleh DKC setempat.

Sampai di lokasi, kami tidak serta merta mampir di keramaian para turis yang berwisata yaitu dimana biasanya bamboo rafting dimulai. Ya, di Sungai Amandit bagian hulu Loksado. Oya, disana aku melihat spanduk tentang acara Loksado Festival tanggal 7-8 Mei. Oh tidak beruntungnya aku, kami kesini tanggal 5-6 Mei tepat sebelum acara tersebut berlangsung. Tapi tidak mengapa karena pengalaman yang kudapatkan saat traveling kemarin pun sungguh keren meski tanpa ikut festival.

Kami kemudian menuju Desa Malaris/Loklahung untuk survey lokasi perkemahan. Disini kami melewati Balai Adat Malaris yang sangat besar. Sayang tempatnya tidak dihuni lagi sekarang. Tahun 2008 ketika suamiku kesana katanya balai adat tersebut masih dihuni oleh keluarga besar Suku Dayak. Mungkin kalau aku tidak salah hitung bisa sampai 50 KK disana bisa tinggal, dilihat dari jumlah kamarnya sih. Saat ini mungkin balai adat tersebut hanya digunakan untuk upacara adat Suku Dayak setempat. Hal ini dapat terlihat dari ornamen di tengah-tengah ruangan yang sepertinya adalah padi kering sisa upacara untuk mensyukuri hasil panen padi mereka.


Balai informasi Malaris

Sampai di depan balai informasi desa kami berhenti dan bertanya apakah diizinkan untuk berkemah di lokasi yang sebelumnya pernah digunakan oleh suamiku dan teman-temannya dulu. Pihak desa mengizinkan namun suami dan dua cowok lainnya survey terlebih dahulu ke lokasi. Balik survey mereka mengatakan bisa saja kami berkemah disana. Namun suamiku bilang padaku kalau suasana disana sepertinya kurang nyaman, seperti ada atmosfir makhluk halus. Well, disana hal-hal seperti itu memang lumrah dijumpai. Lagipula katanya saat survey kesana tadi ada ular besar yang menghadang perjalanan mereka, beruntung ada yang melihat dan mereka berhasil menghindar sehingga tidak terinjak ular tersebut.

Apakah kami jadi menginap di tempat angker tersebut? Kemanakah destinasi kami selanjutnya untuk meneruskan petualangan selama 32 jam ini? Baca cerita selanjutnya di Loksado: Petualangan 32 Jam (II).

Monday, May 2, 2016

Fungia sp. (Jamur Karang)

Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Coelenterata
Kelas               : Anthozoa
Ordo                : Scleractinia
Famili              : Fungiidae
Genus              : Fungia
Spesies            :Fungia sp.

Deskripsi:
Fungia sp.(jamur karang) merupakan salah satu spesies dari filum Coelenterata. Tubuhnya berbentuk seperti bunga dan memiliki tentakel di sekeliling tubuhnya sebagai perpanjangan dari tubuh dan berfungsi sebagai penyimpan asupan air. Dari hasil pengamatan, tubuh Fungia sp. membesar sekitar sepertiga dari ukuran awalnya ketika kondisi di sekitarnya sedang optimal. Spesies ini mempunyai banyak warna dari hijau, ungu sampai oranye. Beberapa individu bahkan mungkin menunjukkan lebih dari satu warna. Sebagian besar spesiesnya berbentuk bulat, tetapi ada juga yang berbentuk oval, beberapa yang lainnya cekung dan berkubah. Fase hidup organisme ini sebagian besar berupa polip tunggal yang hidup soliter.Fungia sp. mampu melakukan regenerasi yang luar biasa dalam kondisi yang optimal.

Habitat:
Spesies ini memiliki distribusi yang luas, tetapi konsentrasi terbesar berada di laut Indo-Pasifik. Fungia sp.paling sering dilihat dan terdapat dalam jumlah yang banyak di laguna dangkal atau di karang datar.Cahaya terang biasanya ditoleransi dengan baik oleh Fungia sp., oleh karena itu habitat terbesarnya adalah perairan dengan pencahayaan yang melimpah.

Potensi:
Fungia sp. berpotensi merusak karang yang melakukan kontak dengannya.

Sumber Pustaka:
John Clipperton.2011.Fungia sp. (Jamur Karang).
www.reef-face.co.uk
Diakses pada 11 Oktober 2011
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates