Thursday, March 31, 2016

Crossroad: Roadtrip ke Toraja dan Love Crush

Judul : Crossroad, Tentang Roadtrip,
Toraja, dan Pilihan Hati
Penulis : Rossa Indah
Penerbit : Qanita
Tahun terbit : 2014
Penyebab aku membeli buku ini adalah kata "roadtrip"nya yang memikat. Saat membaca judulnya aku sudah curiga bahwa novel ini bertema traveling. Meskipun sama sekali belum pernah mendengar nama penulisnya dan tidak familiar dengan penerbitnya, alih-alih membaca resensinya. Yeah, buku ini salah satu buku yang kubeli dari hasil cuci mataku ke toko buku.

Setelah kubaca, aku menyimpulkan bahwa novel berjumlah 336 halaman ini isinya bukan hanya tentang traveling tapi juga tentang perjalanan dua hati. Poin yang terakhir benar-benar bikin aku baper. Entah karena jarang baca teenlit lagi, atau karena jarang baca cerita cinta dalam traveling, atau karena si penulis memang piawai menyusun kata-kata sehingga aku bisa merasakan kegalauan yang dialami oleh tokoh cewek dalam novel ini.

Secara umum novel ini bercerita tentang liburan 4 hari seorang cewek Jakarta ke Sulawesi Selatan dengan tujuan utama ke Toraja. Di Makasar, Rossa (nama cewek bankir ini) ditemani oleh Teddy, seorang teman blogger (dan chatting) yang bekerja di sana. Kebetulan si Teddy diberi pinjaman mobil oleh bosnya di kantor sehingga dapat digunakan selama ngetrip ke Toraja. Sempurna banget ya kedengarannya?

Eitts, tapi tunggu di tengah perjalanan kedua teman (baru) ini ternyata sama-sama mengalami konflik batin. Bukan masalah yang sepele jika kemudian hati kita jatuh di tempat yang tidak seharusnya, itu satu untuk Rossa. Terlebih Teddy pun sudah punya Ibu Negara di dalam hatinya. Crush macam apa yang akhirnya mereka ciptakan dalam 4 hari kebersamaan mereka?

Aku cukup puas dengan cerita yang tersaji dalam novel ini. Meski kuyakin novel ini berangkat dari kisah nyata penulis. Entah berapa persen fiksinya. Kalaupun semuanya fakta, tidakkah Rossa seharusnya merasa was-was kalau akhirnya buku ini sampai ke tangan Dewy, Sang Ibu Negara-nya Teddy?

Bagian yang paling berkesan bagiku dari novel ini adalah ketika mereka berdua menonton bareng final Liga apalah. Rossa yang sama sekali nol soal bola rela ikut duduk di bangku penonton kafe. Pembicaraan di jalan pulang setelah acara itu adalah hal yang paling melting bagiku.

Kelebihan utama dari buku ini adalah informasi perjalanan ke Toraja yang lengkap dan real. Terlebih, penulis juga memberikan bonus tips perjalanan di bagian belakang novel dengan judul One Day Trip in Toraja. Kekurangannya mungkin ceritanya kurang lama. Hehe. Oke ini subjektif banget. Aku terlalu terbawa dengan drama yang terjadi antara Rossa dan Teddy yang hanya terjadi selama 4 hari.


Wednesday, March 30, 2016

Count Down before Death


Kematian adalah sesuatu yang pasti. Hanya saja kita tidak tahu kapan pastinya kita akan meninggal. Seandainya waktu kematian itu kita ketahui, di hari-hari terakhir kita tentu akan semakin giat menyiapkan bekal-bekal untuk di akhirat kelak. Namun tentu ada hikmah mengapa waktu kematian setiap manusia dirahasiakan oleh Allah, yaitu agar kita selalu merasa was-was dan beramal saleh setiap waktu. Karena boleh jadi pada saat itulah jadwalnya Malaikat Izrail mengunjungi kita.

Jika ditanya apa saja yang akan kulakukan seandainya diberi waktu 8 hari sebelum hari kematianku tiba. Maka aku akan mengisi delapan hari sisa umurku dengan kegiatan-kegiatan berikut.

H-8: Menanam Pohon
Yup, aku akan menanam pohon. Lebih tepatnya pohon buah dan jenis pohon yang jika sudah tumbuh besar nanti lebat daunnya. Aku berharap dapat menanam 99 jenis pohon pada hari kedelapan sebelum kematianku. Mengapa 99? Karena pada setiap pohon yang kutanam akan kusematkan lafadz Asmaul Husna yang totalnya 99 nama/sifat. Aku berharap semoga pohon-pohon yang kutanam dapat bermanfaat bagi generasi di bawahku dan lebih penting untuk bumi tempatku selama ini menghabiskan hidup. Semoga buahnya dapat dinikmati orang banyak, lebat daunnya dapat memberikan keteduhan, dan oksigen yang dihasilkan oleh semua pohon-pohon tersebut dapat menyejukkan bumi yang semakin hari kian panas.

H-7: Bersilaturahmi
Di hari ketujuh sebelum kematianku aku akan mengkhususkan diri untuk bersilaturahmi ke keluarga jauh, teman yang telah lama tak berjumpa, tetangga yang selama ini mungkin jarang kusapa, dan orang-orang yang bersinggungan dengan kehidupanku meski peran mereka selama ini sedikit di mataku. Tak hanya bersilaturahmi secara langsung, aku juga akan menghubungi kerabat dan teman-teman yang tempatnya tak bisa kudatangi lewat telepon, sms, dan beragam media sosial yang kupunya. Tujuannya sama yaitu bertukar kabar dan meminta keridhaan mereka atasku yang mungkin pernah melakukan khilaf saat berinteraksi. Aku ingin kepergianku ke alam baka diiringi oleh kerelaan oleh manusia lain.

H-6: Berwakaf
Pada hari keenam sebelum kematian aku akan mewakafkan hartaku pribadi untuk kemaslahatan kaum muslim, misalnya tanah yang kemudian digunakan untuk membangun masjid, sekolah, pesantren, atau taman baca. Setengah dari harta bendaku juga akan kubagikan kepada orang yang membutuhkan. Sedangkan kekayaan berupa uang setengahnya akan kusumbangkan pada yayasan yang memelihara anak yatim piatu. Hal ini kulakukan karena ingat salah satu hadits Rasul yang berbunyi tentang amalan yang tak pernah putus yaitu salah satunya adalah sedekah jariyah berupa wakaf.

H-5: Membagikan Ilmu
Aku mengkhususkan hari kelima sebelum kematianku ini untuk membagi ilmu yang kupunya. Tidak mesti dalam bentuk mengajar di kelas. Bisa hanya dengan sharing dengan teman tentang sesuatu, membagikan pengetahuan di media sosial, menulis hal-hal yang bermanfaat di blog, atau memberi tahu resep masakan andalan kepada teman. Semoga ilmu-ilmu yang kubagikan bermanfaat bagi orang lain dan dapat menjadi salah satu amal jariyahku kelak.

mazanwar.pun.bz

H-4: Menghasilkan Karya
Pada sebuah hidup karya berutang. Mengingat kata mutiara tersebut aku akan menghasilkan karya pada hari keempat sebelum kematianku. Karya yang ingin kubuat adalah buku dan scrapbook. Bukuku berisi kumpulan tulisan di blogku dan/atau aku akan menerbitkan buku tentang suatu tema khusus yang kucicil menulisnya terlebih dahulu. Aku juga ingin membuat scrapbook tentang semua cerita kehidupanku dan orang-orang di sekitarku.

H-3: Menyiapkan Kematian
Semakin dekat dengan hari kematianku, aku akan benar-benar menyiapkan diri untuk menghadapinya. Tidak hanya secara mental, namun juga secara teknis. Aku akan membeli perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengurus jenazahku nanti, seperti kain kafan, kapas, atau bahkan tanah pemakaman serta batu nisannya. Aku tak ingin keluarga terlalu repot mengurusku nanti, biarkan aku mengurangi sedikit beban mereka.

H-2: Q-Time Bersama Keluarga
Ini adalah hari kedua sebelum kematianku. Aku akan mengisinya dengan berkumpul dengan keluarga dekat atau kalau bisa juga dengan sahabat. Hari ini akan kuisi dengan kegiatan-kegiatan menyenangkan bersama mereka. Tak lupa aku juga akan memberi beberapa wasiat mungkin berupa nasihat atau peruntukan harta pribadiku setelah meninggal nanti. Selain itu yang lebih penting aku juga akan memberi tahu username dan password semua akun media sosialku pada keluarga terdekat agar dapat digunakan secara bijak. Boleh ditutup atau dibiarkan saja dengan pengawasan.

H-1: Kontemplasi Diri
Hari terakhirku di dunia akan kuisi dengan menyendiri, bertafakur merenungi apa saja yang telah kulakukan selama hidup. Bersyukur atas semua nikmat hidup yang telah Dia berikan. Terlebih aku juga akan banyak mengucap istighfar atas dosa-dosaku. Dan juga mengucap dzikir agar saat rohku dicabut nanti lidahku dalam keadaan menyebut nama-Nya.


Itulah delapan hal yang akan kulakukan di sisa hariku. Namun karena aku tidak tahu kapan hariku meninggal, maka idealnya aku akan melakukan hal-hal tersebut sejak sekarang. Hitung-hitung menyicil kebajikan sejak sekarang. Terima kasih mbak Desi telah mengadakan giveaway yang sangat bermanfaat, membuat diriku pribadi lebih mengingat kematian dan merencanakan hal-hal apa saja yang perlu kulakukan untuk menyambutnya.

Tuesday, March 29, 2016

Banjir Barabai

Memasuki bulan Februari-Maret pada setiap tahun, biasanya Barabai selalu dikunjungi banjir. Namun sampai hari ini pada tahun 2016 banjir belum menampakkan hidungnya di kotaku tercinta. Bukan berarti aku berharap banjir ya. 

Sebenarnya tidak banjir total tidak juga, ada sih beberapa daerah yang jalanannya tergenang sedikit dan tidak lama. Well, itu tak dapat dikategorikan banjir bukan?

Boleh jadi banjir tak datang tahun ini karena drainase dan sungai telah dikelola dengan baik oleh dinas terkait. Pernah sih beberapa waktu kedalaman sungainya maksimum, namun tidak sampai tumpah ke jalan.

Berikut adalah beberapa foto waktu banjir di Barabai tahun lalu. 

Salah satu daerah yang terkena banjir di Barabai
Lapangan Dwiwarna Kota Barabai tak luput dari banjir

Sepeda motor suamiku pun tenggelam sebagian

Malam Lebaran di Kotaku

Malam sebelum lebaran tahun lalu aku diajak suami untuk mengelilingi Kota Barabai. Well, boleh dibilang ini momen langka karena biasanya aku menghindari datang ke tempat orang banyak seperti pada setiap malam lebaran. Ya, di kotaku malam lebaran dirayakan dengan menyalakan beragam petasan. Mulai dari petasan kecil hingga yang ukurannya besar, mulai dari yang harganya belasan ribu sampai yang harganya jutaan. Tumpah ruah orang-orang turun ke jalan, mulai anak-anak kecil hingga kakek-nenek yang ingin menyaksikan keramaian kota.

Jalanan macet euy


Pak Polisi bersiaga untuk keamanan jalan

Pusat letusan kembang api ditempatkan di Lapangan Dwi Warna, lapangan kebanggaan warga Barabai. Jalanan macet merayap di seputar lapangan. Alih-alih parkir dan turun ke lapangan, orang-orang yang mengendarai sepeda motor sengaja memperlambat laju motornya di jalanan untuk menyaksikan kembang api yang merona di atas lapangan. Belum lagi mobil yang juga seakan ikut pawai di malam lebaran. Yang mampu menyaingi keriuhan malam lebaran ini adalah malam tahun baru dan malam tanglong. Untuk acara yang terakhir biasanya diadakan pada malam ke-21 Ramadhan, malam salikur kata orang tua zaman dulu. Acaranya biasanya perlombaan hiasan bertema Islami yang diarak di sepanjang jalan-jalan utama Kota Barabai semacam Karnaval Ramadhan. 

Suasana tahun baru di Kota Barabai

Jembatan Sulaha pun dipenuhi warga

Masyarakat memenuhi tepi jalan untuk menyaksikan kembang api


Pada malam tahun baru itu aku dan suami hanya sekedar ikut lewat dan mampir untuk makan malam di sebuah warung. Setelah itu dengan santai pulang berkendara menuju rumah dengan mencari jalan pintas yang tidak banyak dilewati orang banyak.

Friday, March 25, 2016

Burung Rangkong Badak (Buceros rhinocerus)

Klasifikasi
Kingdom :Animalia
Filum    : Chordata
Kelas   : Aves
Ordo    : Coraciiformes
Famili   : Bucerotidae
Genus   :Buceros
Spesies:Buceros rhinocerus


Deskripsi:
Buceros rhinocerus (Rhinoceros hornbill) adalah salah satu jenis burung enggang atau rangkong yang terbesarDengan bungkal atau tonjolan di kepala yang menyerupai cula badak, maka burung ini disebut dengan nama Rangkong Badak. Terbang dari satu pohon buah ke pohon lain, rangkong badak  ibarat 'petani hutan' yang menebarkan biji-bijian hutan yang sangat penting untuk regenerasi dan menjamin keberlanjutan ekosistem hutan. Rangkong badak yang merupakan burung penetap dan dilindungi di Indonesia ini, cukup umum ditemukan terutama di kawasan Taman Nasional.Rangkong badak mempunyai paruh yang besar menyerupai tanduk dan berwarna cerah.Ukuran tubuh rangkong ini sekitar 40–150 cm, dengan rangkong badak terberat mencapai 3.6 kg. Umumnya warna bulu rangkong badak didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi.

Habitat:
Rangkong ini merupakan burung penghuni puncak kanopi hutan.Buceros rhinocerus banyak terdapat di hutan hujan tropis, berada di atas pohon tinggi.

Potensi:
Buceros rhinocerusberpotensi sebagai penyebar biji-bijian yang menebarkan biji-bijian hutan yang sangat penting untuk regenerasi dan menjamin keberlanjutan ekosistem hutan.Oleh sebagian orang rangkong badak juga dapat dijadikan makanan dan hiasan.

Sumber Pustaka:
Macro.2008.Buceros rhinocerus(Rhinoceros hornbill).
Diakses pada 2 Desember 2011

Monday, March 21, 2016

Monday after "Holiday"

Rasanya kayak baru habis ambil cuti. Sejak seminggu yang lalu, tepatnya hari Selasa pagi subuh aku berangkat ke Banjarbaru. Ada pelatihan untuk teknisi laboratorium tentang ISO 17025. Dijadwalkannya sih mulai Selasa pagi, mundur sehari dari jadwal sebelumnya. Eh waktu sampai di Kantor BLHD Provinsi yang menjadi tempat pelatihan sekitar jam 9 pagi, ternyata pematerinya belum landing. Pelatihan baru bisa dimulai besoknya, Rabu pagi. Ya sudah kita santai dulu seharian itu setelah sowan sebentar dengan perangkat laboratorium BLHD.

Sebenarnya pelatihan tersebut merupakan In House Training dalam rangka persiapan akreditasi lab provinsi. Tapi karena kita masih ada yang belum mendapatkan pelatihan tentang ISO 17025, termasuk aku, sehingga kita nebeng jadi peserta. Alhasil akomodasi tidak disediakan oleh panitia. Beruntungnya salah seorang rekan di kantor punya rumah di Banjarbaru, nah disanalah aku dan teman menginap. Jaraknya dari kantor lumayan jauh sehingga harus pinjam motor yang juga milik teman punya rumah.

Pemateri Training ISO 17025 yang duduk tepat di depanku

Selama pelatihan yang efektifnya hanya 2 hari kerja, Rabu-Kamis, aku banyak menyerap ilmu baru. Terlebih karena aku analis baru. Meskipun materi yang diberikan terutama pada hari kedua tentang audit internal lebih khusus kepada lab BLHD provinsi, tapi aku dan kawan-kawan tidak segan untuk "mencuri" ilmu. Selain itu karena sertifikat dari pelatihan ini sangat berguna untuk mendukung pekerjaan sebagai analis di laboratorium manapun.

Karena seharusnya pelatihan sampai hari Jumat, sehingga aku dan kawan-kawan sepakat untuk tidak masuk kantor pada hari Jumat tersebut meskipun hari Kamis sore pelatihannya sudah selesai. Ada banyak kepentingan dari masing-masing kami, terutama untuk tinggal beberapa saat di Kota Banjarbaru yang notabene adalah kota tempat kami berkuliah. Ada sih satu orang yang pulang ke Barabai tapi tetap tidak masuk kantor pada hari Jumatnya.

Aku sendiri langsung minta jemput sahabat dekatku waktu kuliah untuk menginap di rumahnya. Beruntung dia memang berdomisili dan bekerja di Banjarbaru sekarang. Selama 2 malam aku menginap di rumahnya. Sebenarnya bisa sih hari Jumat itu aku pulang, tapi aku menunda sehari kepulanganku karena suamiku juga sedang ada acara di Kota Banjarmasin sehingga kita berencana untuk pulang bareng hari Sabtu sore.

Foto bareng dengan beberapa peserta training

Di Banjarbaru, aku puas menjelajah tempat-tempat kenangan selama aku kuliah dulu. Mulai dari laboratorium, warung makan, salon, hingga toko buku. Sayang aku ga sempat ke Perpustakaan Daerah Banjarbaru karena hari Sabtu itu cepat tutupnya. Selain itu aku juga mengunjungi rumah keluarga dan teman yang mudah diakses tempat dan waktunya. Btw, aku juga jalan-jalan ke Taman Origami, sebuah tempat wisata baru di tepi Kota Banjarbaru.

Puas deh pokoknya. Berasa habis ambil cuti karena efek refreshnya itu lho. Hari Minggu kemaren aku istirahat di rumah aja setelah menghadiri pernikahan tetangga sekampung. Padahal sebenarnya ada acara dengan suami dan teman-temannya, aku menolak ikut. Selain karena ingin mencuci tumpukan pakaian yang seminggu terakhir belum sempat dicuci, juga karena ingin mengistirahatkan badan setelah lelah berjalan-jalan di Kota Banjarbaru. Harapannya sih supaya waktu mulai masuk kerja lagi pada hari ini, badanku tidak terlalu kelelahan. Dan rasanya memang hari ini aku lebih semangat menyambut hari Senin karena rasanya baru pulang dari liburan panjang.

Saturday, March 19, 2016

Taman Origami Banjarbaru



Sore Jumat, 18 Maret 2016 kemaren aku diajak sahabatku ke Taman Origami. Taman Origami merupakan tempat wisata baru di Kota Banjarbaru. Tempatnya sih agak jauh ke luar kota kalau tidak bisa disebut ke arah perkampungan penduduk. Lebih tepatnya di daerah Palem Banjarbaru. Letaknya sih di dalam semacam kompleks perumahan, entah apa nama perumahannya karena papan nama di samping gerbangnya belum diberi tulisan.

Dermaga Taman Origami


Saat memasuki gerbang kami disambut dengan jalan aspal yang lebar serta interior mewah khas perumahan elit. Median jalan "ditumbuhi" jejeran patung kuda dengan berbagai pose. Dengan membayar uang parkir sebesar Rp. 2000,- kita bisa langsung masuk ke area wisata. Di sebelah kiri jalan dekat dengan tempat parkir terdapat sebuah danau dengan beberapa perahu sebagai aksesorisnya. Taman di sekitar danau membuat pemandangan semakin indah. Dari papan yang kubaca tulisannya, kemungkinan besar danau ini akan diubah menjadi sebuah pasar apung meskipun waktu aku datang kemarin perahu-perahunya masih kosong. Well, karena keterbatasan waktu kami sebenarnya tidak mendekat ke danau tersebut kemaren. Hanya melihat sekilas dan berlalu menuju destinasi utama yaitu Taman Origami.

Landscape danau

Panglima Burung?
Taman Origami terletak di samping kanan jalan agak jauh dari gerbang kompleks. Median jalan menuju Taman Origami kali ini ditumbuhi oleh pohon-pohon Palem raksasa. Sedangkan sebelah kanan jalan yang membatasi kompleks Taman Origami dengan jalan dibangun pagar dengan hiasan jejeran patung pemuda dayak yang sedang menerbangkan seekor burung (Aku mengira sih pemuda tersebut adalah Panglima Burung yang terkenal dalam legenda Suku Dayak itu).

Memasuki komples Taman Origami, mata kami dimanjakan dengan berbagai patung binatang yang sengaja dibentuk mirip dengan hasil origami menggunakan kertas. Selain itu tanaman-tanaman di atas semacam bukit yang dibentuk piramid juga menambah pesona taman ini. Ada frame kawat yang digantungi dengan "gembok-gembok cinta" juga lho. Beberapa nama anak alay dan pacarnya tertera di gembok-gembok yang tergantung manis di sebuah frame berbentuk hati.

Tidak ketinggalan unsur danau juga ada di kompleks Taman Origami ini. Ditambah dengan ornamen jembatan, dermaga, dan taman bebatuan taman ini merupakan tempat yang cocok buat dijadikan tempat hangout dan foto-foto. Sedang asyiknya foto-foto kami didatangi oleh satpam penjaga taman. Beliau mengatakan kalau jam 6 tamannya sudah harus tutup. Yeah boleh dibilang kami dan pengunjung lain diusir halus saat itu. Mau tak mau dong ya kita harus cabut segera.

Taman Origami



Kalau ada waktu lain kali aku mau datang lagi kesini karena belum menjelajah Pasar Apoeng nya. Waktu kuamati juga masih banyak pembangunan-pembangunan yang terus dilakukan oleh pengelola. Semoga waktu aku datang lagi kesana tamannya sudah semakin cantik dan berfungsi sebagai mana mestinya, yaitu sebagai tempat refreshing warga Kota Banjarbaru (dan pendatang seperti aku).

View Gembok Cinta

Selfie with my close friend



Sunday, March 13, 2016

Palangkaraya Family Trip

Awal bulan Februari yang lalu, tanggal 5-7 aku dan keluarga mengadakan family trip ke Palangkaraya sekalian menghadiri undangan perkawinan keluarga juga. Ada banyak pertimbangan sebelumnya untuk melakukan trip ini, salah satunya adalah jarak yang lumayan jauh. Namun karena hari Senin tanggal 8 Februari itu tanggal merah, dengan asumsi minggu malam sudah sampai balik ke rumah lagi jadi trip tetap dilaksanakan. Sehingga masih ada satu hari libur untuk beristirahat sebelum kembali masuk kerja hari Selasanya. Lagipula sebagian besar anggota keluarga belum pernah berkunjung ke Kota Palangkaraya.

Jumat siang sekitar jam 3 meluncurlah kita dengan tujuan pertama Banjarmasin, ke rumah keluarga yang ada disana. Tujuannya sih silaturahmi sekaligus menginap dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Palangkaraya pada Sabtu pagi. 

Foto bareng di salah satu monumen berciri khas dayak di Bundaran Kapuas

Sabtu pagi rombongan kita kembali berangkat. Di beberapa tempat kita mampir untuk foto-foto, diantaranya yaitu di Jembatan Barito dan Bundaran Kapuas. Di Bundaran Kapuas memang banyak terdapat monumen khas dayak yang sayang kalau dilewatkan. Kota Kapuas yang dijuluki Kota Air ini adalah ibukota kabupaten Kuala Kapuas yang merupakan kota pertama di Kalteng yang dilewati jika menuju Palangkaraya dari Banjarmasin. 

Sesaat setelah berangkat dari Bundaran Kapuas, mobil kita melewati pos polisi. Ternyata disana sedang ada razia. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak kita kena razia karena waktu itu Papa yang sedang nyetir SIM A-nya belum diperpanjang. Sekitar setengah jam kami meluncur kembali menuju Palangkaraya. Anggota keluarga banyak yang antusias saat melewati Jembatan Tumbang Nusa yang panjangnya 10 km. Jembatan ini berada di atas rawa gambut yang jika musim hujan tergenang air.

Di Jembatan Tumbang Nusa

Lukisan naga di bawah jembatan Kahayan
Tengah hari kami kemudian sampai di rumah keluarga tempat kami menginap di Palangkaraya. Setelah ngobrol-ngobrol dan beristirahat, ba'da Ashar kami jalan-jalan dengan tujuan berkeliling Kota Palangkara. Aku sendiri sudah dua kali sebelumnya ke sana jadi boleh dibilang kemaren itu aku jadi guide di sepanjang jalan. Tempat pertama yang kami datangi adalah Jembatan Kahayan, ikon Kota Palangkaraya. Di bawah jembatan banyak terdapat lukisan khas dayak sehingga merupakan background yang cocok sebagai tempat foto-foto.

Dari jembatan kami kemudian berkunjung ke rumah adik teman tanteku. Kita ngobrol-ngobrol disana sampai Maghrib. Ba'da Maghrib kita kemudian mengunjungi sebuah galeri lukisan milik anak tetangganya tante. Semua lukisan yang dijual disana adalah buatan tangan dari suami anak tetangga tante. Lukisannya sungguh hidup, hingga rasanya ngeri membayangkan bahwa tokoh dalam lukisan-lukisan tersebut mungkin saja kalau malam-malam keluar dari bingkainya. Ada Nyi Roro Kidul, Putri Nilam Sari (konon itu adalah putri dari Kerajaan Banjar yang berhijab), 7 bidadari dalam cerita Jaka Tarub, hingga Soekarno bahkan tokoh agama seperti Guru Sekumpul.

Besok harinya kita mengunjungi rumah sebuah keluarga lagi, kali ini rumahnya di luar kota di jalan menuju Kota sampit. Setelah itu kita langsung menuju Pulang Pisau untuk menghadiri acara perkawinan. Acara perkawinannya ternyata pakai adat Jawa karena waktu itu acara diadakan di rumah mempelai wanita yang keturunan Jawa. Sedangkan mempelai laki-laki keturunan suku Banjar, yaitu keluarga kita.

Keluargaku tanpa papa (Papa memang sulit sekali kalau diajak foto)
Dari acara perkawinan tersebut kita langsung pulang menuju Barabai. Beberapa kali kita melewati hujan. Di Martapura kita mampir di Bincau untuk makan-makan masih terhitung milik keluarga juga sih. Aku senang sekali bisa trip bareng keluarga. Semoga nanti ada rezekinya lagi kita jalan-jalan, bahkan ke luar pulau mungkin.

Makan-makan

Wednesday, March 9, 2016

This is Me, Rindang.



Nama
Nama lengkapku Rindang Yuliani. Arti nama Rindang sendiri secara harfiah bermakna lebat. Lebat daun pepohonan pinus yang kala itu banyak di sekitar rumah masa kecilku memberi ilham pada papa untuk memberi nama Rindang. Selain itu saat aku lahir, kondisi di luar sedang hujan lebat. Itu juga membuat papa makin yakin kalau Rindang adalah nama yang tepat untuk putri pertamanya. Yuliani sendiri berasal dari gabungan nama kedua orang tuaku. Adikku juga diberi nama belakang yang sama, tapi karena dia laki-laki sehingga memakai kata Yulian. 

Keluarga
Aku dilahirkan di sebuah keluarga bahagia meskipun secara ekonomi tidak bisa disebut kaya. Mama papaku masih lengkap dan aku dikaruniai seorang adik yang jarak umurnya denganku hanya 3 tahun. Karena dia laki-laki, perkembangan tubuhnya jauh melesat melampauiku. Kadang aku juga dapat mengandalkannya sebagai seorang kakak karena kemampuannya memecahkan masalah, terutama dalam hal-hal teknis. Btw, sekarang aku sudah menikah sehingga mempunyai tambahan lelaki kesayangan selain papa dan adik.

Pendidikan dan Karir
Pendidikanku boleh dibilang lancar dari TK hingga kuliah. Aku termasuk orang yang perfeksionis kalau menyangkut nilai akademik. Adalah suatu pukulan bagiku saat mengetahui waktu wisudaku molor dari yang direncanakan, gara-gara skripsi dan dosen pembimbing yang rumit membuatku menyelesaikan kuliah selama 4,8 tahun. Oya jurusan kuliahku adalah MIPA Biologi, sehingga ketika lulus gelar yang kusandang adalah S.Si (a.k.a Sarjana Sains). Sebelum lulus kuliah aku diterima dalam seleksi calon guru di sebuah SDIT di kota tempat tinggalku. Bertahan hingga 6 bulan setelahnya aku menjadi guru damping anak-anak kelas 2 SD. Ada banyak pelajaran yang kudapatkan selama menjadi pengajar. Alasanku berhentiku mengajar yaitu karena aku diterima menjadi analis di laboratorium lingkungan. Setelah melewati 2 tahap seleksi, per 1 Desember 2015 aku mulai menjadi analis laboratorium hingga sekarang. Aku sangat menyukai pekerjaanku ini. Karena sesuai bidang keahlian, minat, dan latar belakang pendidikanku. Sehari-hari aku meneliti sampel air yang datang dari berbagai customer.

Rindang's Family

Passion
Aku punya beberapa passion, antara lain buku, blog, sains, traveling, dan crafting (DIY). Membaca adalah hobiku sejak kecil. Sehingga boleh dikatakan aku tak dapat terpisahkan dengan buku. Aku bisa lupa daratan kalau sedang membaca. Menurutku novel lebih menghibur daripada film.
Aku baru aktif ngeblog (lagi) pada awal tahun 2014. Sejak membuat blog pada tahun 2008, isinya hanya berupa curhatan remaja labil. Beberapa tahun ini aku mulai bertekad untuk mengisi blog dengan postingan-postingan yang bermanfaat bagi pembaca. Dari blog www.bundafinaufara.com aku mendapat inspirasi kalau menulis blog itu harus ada tujuannya. Dari beberapa postingan yang aku baca di blog milik mbak Ika Puspitasari ini aku menyimpulkan bahwa blog ini merupakan kumpulan review pribadi mbak Ika tentang semua hal yang beliau alami dan perhatikan. Semoga aku juga bisa serapih beliau dalam blogging.
Minatku pada sains sudah terwakili dengan bekerja di laboratorium. Traveling adalah passionku yang paling mengasyikkan. Ketika sudah menikah, intensitas travelingku malah makin meningkat karena ada suami yang bisa diajak kesana-kemari tanpa membuat keluarga lainnya khawatir seperti waktu masih gadis dulu. Sedangkan minatku pada DIY tidak didukung bakat. Aku suka mengubek-ubek barang tak terpakai menjadi sesuatu yang berguna, meskipun hasil akhirnya tidak sebagus DIY yang ada di youtube.

Dream
Yeah, aku adalah seorang pemimpi yang selalu berusaha mewujudkan semua impiannya. Semua yang kudapatkan hari ini 90% adalah mimpi-mimpiku di masa lalu. Setapak demi setapak garis kehidupan kujalani untuk menggapai impianku. Salah satu impian terbesarku sekarang adalah kuliah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Namun mimpi tersebut belum kurencanakan dalam waktu-waktu dekat ini karena sekarang aku sedang menjalankan program kehamilan pertama.


Eclipse Tour

Ini adalah pengalaman yang mungkin hanya akan kudapatkan beberapa kali atau bahkan 1 kali dalam hidup. Mengejar bayangan, meminjam  tagline dari Dinas Pariwisata dan Wonderfull Indonesia. Tapi kalau aku sendiri sih lebih senang dengan istilah Berburu Gerhana atau Eclipse Tour pada pengalamanku hari ini. Ya tanggal 9 Maret adalah waktu terjadinya gerhana matahari total (GMT) di sebagian wilayah Indonesia. Kerennya GMT kali ini hanya ada di Indonesia sebagai negara dan daratan yang terkena lintasan bertemunya bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis sejajar. Di Indonesia sendiri kalau tidak salah hanya ada 12 provinsi termasuk Kalimantan Selatan. Itupun hanya ada di 3 Kabupaten yaitu Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong.

Hari ini aku dan suami "menjelajah" ketiga kabupaten tersebut. Itulah mengapa perjalanan hari ini kunamai Eclipse Tour. Sejak mendengar akan terjadinya GMT dan pusatnya di 3 kabupaten tersebut, aku mulai merencanakan perjalanan hari ini. Ya, aku mengorbankan pagi hari liburku dengan bersibuk ria. Bahkan sejak tadi malam aku sudah mulai preparing. Tadi pagi, sebelum jam 5 aku sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dan bekal perjalanan kami. Target berangkat sih jam 6 teng. Tapi apa daya aku sibuk ini itu, saat berangkat jam sudah menunjukkan 06.20 WITA. Beruntunglah sampai di Islamic Center Tanjung, Kabupaten Tabalong masih pukul 07.40. Dengan waktu perkiraan puncak GMT jam 8.30 aku dan suami punya bnayak waktu untuk menikmati pemandangan di IC yang memang indah. Ada banyak sekali orang yang datang untuk menyaksikan gerhana matahari disana. Ada juga Mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin yang katanya berasal dari Jurusan Ilmu Falaq lengkap dengan peralatan mereka. Selain itu aku juga bertemu dengan rombongan teman satu kampus beda jurusan. Bahkan aku juga bertemu dengan teman kantor yang juga bersama istrinya.

Suasana di Islamic Center Tanjung sebelum terjadi GMT

Sebelum sampai di Tanjung, kami melewati Balangan dengan ibukota Paringin. Pengamatan di Balangan dipusatkan di Masjid Al-Akbar yang letaknya di samping jalan raya. Ada beberapa polisi yang mengawal kelancaran pengamatan disana. Waktu kami lewat orangnya masih kurang banyak, hanya sekitar 100 orang. Mungkin karena masih terlalu pagi ya. Selain itu titik pusat pengamatan GMT juga ada di Bandara Warukin yang sudah masuk kabupaten Tabalong.

Sebelum terjadi gerhana, di IC dilaksanakan shalat gerhana. Selain itu ada acara lomba habsy tingkat sekolah. Aku sendiri kurang menonton acaranya. Kegiatanku disana hanya mengelilingi IC dan foto-foto. Haha. Ternyata di komplek IC tersebut ada minatur kabah untuk latihan manasik haji. Setelah shalat gerhana, GMT mulai terjadi. Aku dan suami mencari posisi yang tepat untuk melihat GMTnya langsung. Well, tidak kelihatan sih lingkaran bulan mataharinya karena tertutup awan. Tapi redupnya itu lho terasa sekali hingga gelap sampai berangsur terang kembali. Subhanallah banget, bisa menyaksikan fenomena alam yang hanya terjadi 375 tahun sekali di tempat yang sama. Beruntung juga aku bisa mengabadikannya dalam kamera video.


Setelah puas menikmati wisata gerhana di Masjid Al-Abrar alias Islamic Centernya Tanjung, aku dan suami melanjutkan petualangan dengan menyusuri Kota Tanjung. Jalannya lebar-lebar dan serupa dengan Balangan kota ini hidup mayoritas dari pertambangan batu bara sehingga debu dan bus karyawan perusahaan tambang banyak berkeliaran di jalan utama. Oya, Tugu Api yang menjadi ikon Kota Tanjung ternyata api obornya sudah padam. Wah, apakah bahan bakar di buminya sudah habis ya?

Perjalanan kami lanjutkan melewati Kelua lalu tembus ke Amuntai, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara yang juga menjadi salah satu pusat pengamatan GMT. Alhamdulillah bisa merasakan trip melewati 3 kabupaten. Ternyata sebagian besar wilayah Amuntai sedang kebanjiran. Di sisi kanan kiri jalan berupa sungai dan rawa, hal itu membuat jalanan terendam air. Sebuah langgar dan beberapa warung makan di tepi sungai dekat Pasar Amuntai ambruk karena longsor. Jalanan  menjadi macet. Di taman kota Amuntai kami beristirahat sambil makan bekal dan jajan-jajan. Dari sana kami melanjutkan perjalanan pulang. Di Desa Haur Gading kami belok melewati jalan hutan kebun karet. Hanya sekitar 4 km masuk ke dalam eh ternyata tembus ke Desa Mungkur Panjang, desa terisolir di tengah hutan yang masih masuk desaku, Desa Labunganak. Benar-benar trip yang mengesankan. Pulangnya kita langsung beristirahat dan menghabiskan sisa hari libur bersama keluarga.


Banjir di Amuntai

Monday, March 7, 2016

My Job, My Passion.

Sejak Desember 2015 lalu aku resmi menjadi seorang analis di UPT Laboratorium Lingkungan HST. Betapa senangnya aku saat dihubungi oleh tim seleksi bahwa aku lolos dan diterima menjadi analis bersama satu orang lagi, yang juga kakak tingkatku satu fakultas tapi beda jurusan. Padahal waktu dihubungi itu statusku masih sebagai pengajar di SDIT Al-Khair. Senang sekaligus sedih karena harus meninggalkan anak didik yang antusias belajarnya tinggi. Hei, aku jadi cengeng waktu berpamitan dengan para ustadzah pengajar, staff TU dan terutama dengan rekan sekelasku yang menjadi wali kelas. Di depan anak-anak, aku cuma bilang, ustadzah cuma pindah tempat kerja tapi masih berdomisili satu kota dengan mereka. Jadi kami masih bisa dan mudah bertemu. Lagi pula aku ikut kajian pekanan (liqo) yang seringnya diadakan di SDIT pada hari Minggu. Sehingga aku juga kadang masih bisa bertemu dengan beberapa ustadzah eks rekan kerjaku.

Analisis di laboratorium
Kembali ke pekerjaanku sekarang sebagai seorang analis di laboratorium. Boleh dibilang ini semacam dreams comes true. Sejak kuliah dulu setiap ditanya orang (bahkan dosen) aku akan bekerja dimana nantinya, jawabanku pasti aku mau bekerja di BPLH (Badan Pengelola Lingkungan Hidup) -badan yang menaungi laboratoriumku sebagai kantor induk. Bangganya lagi, waktu masuk kesini aku melewati proses yang tidak mudah. Aku harus menjalani 2 tahap tes dengan rentang waktu sekitar 2-3 bulan. Alhamdulillah, selama itu aku menyibukkan diri dengan mengajar sehingga tidak merasa lama. Sekitar satu bulan setelah aku mengantar berkas lamaran, aku dihubungi untuk ikut tes tertulis. Nah disini aku yang agak kagok. Materi testnya tentang uji kimia dan manajemen laboratorium, jujur aku minim ilmu soal itu. Tapi sebelumnya aku memang belajar mati-matian karena tahu sebelumnya search materi laboratorium lingkungan. Tes selanjutnya sekitar 1 bulan setelah tes tertulis hanya diikuti oleh 3 peserta yang lolos pada seleksi tes pertama. Aku deg-degan pada seleksi ini, wawancaranya biasa aja sih tidak terlalu formal tapi yang jelas aku harus menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Qadrallah akhirnya aku dinyatakan berhasil masuk dan bekerja disini.

Sekarang sudah 3 bulan lebih sedikit aku menikmati rutinitas kerjaku disini. Pada awalnya aku memang harus banyak belajar tentang bagaimana pengoperasian alat dan metode kerja. Sekarang aku sudah mulai bisa sedikit-sedikit mengerjakannya dan tanpa pengawasan. Kesibukan bekerja di laboratorium itu tidak menentu, beda setiap harinya. Aku dan kawan-kawan sangat sibuk jika ada sampel yang datang dan harus diuji. Mau tidak mau selama beberapa hari, pengerjaan sampel tersebut harus dilakukan. Karena kalau lewat masa ujinya akan berpengaruh terhadap hasil pengujian. 

Sampling time!
Secara periodik, aku juga ke lapangan untuk sampling air di seluruh daerah HST. Bulan lalu contohnya, aku dan tim sampling yang lain melewati jalan pegunungan untuk memotong jalur menuju salah satu titik sampel pengambilan air sungai. Hanya ada satu kecamatan yang tidak kita lewati, yaitu kecamatan Limpasu karena sungainya sudah terwakili oleh yang lain. Kecamatan lainnya sudah semua kita kunjungi selama 2 hari untuk diambil data lapangan dan sampel air sungainya untuk diuji di laboratorium.

Hal lain yang membuatku betah bekerja disini adalah rekan-rekan kerja yang menyenangkan. Sebagian besar perempuan dan mempunyai kesamaan yaitu  suka pencok. Sehingga kalau ada waktu kosong kita biasanya akan mencok dengan berbagai macam buah dan sambalnya. 

Dan yang terpenting adalah waktu kerja di sini hanya 4,5 hari. Ya, hari Jumat hanya sampai jam 11. Sisanya bisa kugunakan untuk acara weekend dan mengistirahatkan tubuhku yang mudah lelah ini.

Bagaimana dengan pekerjaanmu girls? Semoga juga menyenangkan.


 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates