Monday, February 29, 2016

Menanti Mati

Adalah mati yang bernama ketakutan
Juga aroma keheningan dan wewangian kamboja
Hujan makna mengaliri sungai kepasrahan
Sedia kafan sebelum mati
Menanti ujung waktu dengan kesadaran

Duhai pencabut nyawa
Adakah jeda di setiap tarikan belati
Adakah masa dalam dimensimu
Hingga keheningan itu datang dengan tenang
Hingga mati begitu dinanti

annida-online.com

Lembayung merona jingga
Usia bukan milik kita
Mati itu pasti
Jaraknya dekat
Sedekat lidah api menjilat kayu bakar

Rayakan kematian dengan ikhlas
Bersua Tuhan tentu menyenangkan
Kisi-kisi akhirat pun harusnya tak hitam
Binarnya cerah menanti kita

Duhai mati,
Hidup kami menantimu

Nephrolepis exaltata

Klasifikasi
Regnum: Plantarum
Divisi  : Pteridophyta
Kelas   : Pteriopsida
Ordo    : Polypodiales
Famili : Dryopteridaceae
Genus  : Nephrolepis
Spesies: Nephrolepis exaltata


Deskripsi
Nephrolepis exaltata memiliki ciri-ciri tidak mempunyai batang sesungguhnya, akar rimpang tegak dan bersisik, daun lebat, tangkai daun bersisik jarang. Umumnya tumbuhan ini memiliki akar yang tumbuh di bawah permukaan tanah, bersifat non fotosintesis, berfungsi menyerap air dan nutrisi dari tanah. Batang Nephrolepis exaltata berbentuk bulat, terdapat seperti lekukan di permukaannya sepanjang batang tersebut. Warna batang kecoklatan, permukaan halus akan tetapi terdapat rambut-rambut yang sangat halus pada batangnya.

Helaian daunnya agak kaku, anak daun duduk atau hampir duduk, kerap kali bersisik dengan kapur. Bentuk daun menjorong dan ujungnya terbelah, sedangkan pada tepi daunnya bergerigi. Daun menyirip tunggal, anak daun tidak berlekuk menyirip atau berbagi menyirip. Perkembangbiakan dengan spora, bentuknya bulat tertutup selaput, letaknya agak ke dalam karena tepi daun menggulung.

Habitat
Nephrolepis exaltata berhabitat di hutan belukar, rimba, rumput, pagar dan tepi air. Pada umumnya hidup secara epifit pada pohon-pohon tropik.

Potensi
Selain sebagai tanaman hias, Nephrolepis exaltata juga memiliki manfaat yang istemewa yaitu sebagai penyerap paling efektif, terutama formaldehid, xylene, trichlloroethylen dan karbon monoksida.

Sumber Pustaka
Arifbio.2009.Nephrolepis sp.
Diakses pada 15 Oktober 2011

Sunday, February 28, 2016

Yuk, Move On dari Kantong Plastik!

Jadi ceritanya tanggal 21 Februari kemarin mulai diberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar di beberapa kota. Kebetulan hari Minggu itu aku ke Banjarbaru dan mampir di Matahari. Banjarbaru ternyata salah satu kota yang memberlakukan kebijakan tersebut. Untungnya saat pagi atau malam sebelum itu aku sudah mendengar dari berita di tv kalau ada uji coba ini, sehingga waktu kasir bertanya -apakah menggunakan kantong plastik, kalau ya akan ada biaya tambahan 200 perak- aku tidak terlalu kaget. Sebenarnya aku bawa goodie bag tapi ketinggalan di mobil, karena sebenarnya ga ada niat belanja (okeh, aku lapar mata).


Bagi yang ketergantungan dengan kantong plastik, ini saatnya move on dari barang yang satu ini. Karena tumpukan plastik di bumi semakin banyak, sedangkan proses penguraiannya (amat) lama. Aku pribadi sangat mendukung aksi uji coba yang dilakukan oleh KemenLH ini, hitung-hitung sebagai latihan green living style seperti di beberapa negara maju. Aku pernah membaca bagaimana ribetnya aturan membuang sampah di Jepang. Bagi kita yang tidak terbiasa, aturan (apapun) sepertinya memang ribet padahal tujuan dibuatnya aturan adalah untuk memudahkan hidup.

Aku sendiri cukup bingung dengan banyaknya tumpukan kantong plastik layak pakai di rumah. Dengan adanya kebijakan ini semoga aku jadi lebih rajin bawa kantong plastik dari rumah ketika berbelanja. (Emak-emak biasanya perhitungan ya, meski cuma 200 rupiah tapi tetap lebih milih gratis kalau bisa). Meskipun kebijakan ini masih berlaku di ritel modern, semoga ini juga sudah menjadi warning awarness bagi kita yang lebih sering belanja di pasar tradisional.

Bagaimanapun, membiasakan hal baik ke banyak orang itu tidak mudah. Namun kita bisa mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Mencontohkan lalu kemudian mengajak orang-orang terdekat kita. Yuk, move on dari kantong plastik sekarang juga untuk Indonesia lebih ramah lingkungan. 


Tuesday, February 23, 2016

Anak Tangga Kehidupan(ku)


Masa sekolah ibarat anak tangga dalam kehidupanku. Aku tidak terlalu ingat masa-masa ketika aku sebelum bersekolah di TK. (Seseorang dapat mengingat masa balitanya hingga di umur berapa ya? Ketika TK yang kuingat adalah bangunan sekolahku, permainan yang diajarkan ibu guru (dulu aku paling tidak suka ikut permainan ayam dan musang, alasanku karena takut menjadi yang mengejar atau si musang. Takut kalau tidak dapat menangkap si ayam karena lariku kurang cepat), hari Sabtu dimana semua anak mengenakan baju olahraga, serta kakak kelas yg sok (Hah, baru TK sudah sok-sokan? Suer, ini benar terjadi dalam kehidupan TKku). 

Ketika SD, aku pindah ke kampung halaman papa dan mama. Selain kakek nenek, ada banyak keluarga yang juga bermukim disana. Sehingga aku pun tak kekurangan teman sebaya yang juga masih keluarga. Merekalah teman-teman pertamaku saat baru datang di desa dan belum masuk SD. Ketika SD hal-hal yang paling kuingat adalah pertemanan (masih SD aku sudah mulai masuk gen, haha), permainan (aku masih belum berani ikut permainan kejar-kejaran), cinta monyet (whuaa, aku mengalaminya dari SD!), dan menggambar (salah satu guruku senang sekali menyuruh siswanya menggambar ketika guru tersebut berhalangan mengajar). Btw, SD itu masa sekolah terlama ya? Andai SMA juga 6 tahun, oh aku pasti stres.  

Ketika SMP teman-temanku masih banyak dari SD yang sama, namun ada juga teman yang baru kukenal dari sekolah lain. Sebelum aku masuk SMP, aku pernah ngintip perpustakaannya, wah aku langsung ngiler saat lihat buku-bukunya. Dan benar saja ketika SMP, perpustakaan adalah tempat yang paling sering kukunjungi selain kelas dan kantin. Aku ingat, novel yang paling senang kubaca dulu itu adalah Trio Detektif dan Matahari Tengah Malam-(kalau tidak salah)-nya Marga-T. Sekarang aku jadi kangen sama ibu perpusnya yang judes tapi baik hati :). Teman-teman dan genkku dulu sering ganti-ganti, ahaha. Bahkan dulu aku gaulnya lebih banyak sama kakak kelas. Waktu kelas 7, aku punya genk namanya "Five the Girls" dan "Nicornces". (Di postingan yang lain mungkin akan kuceritakn personel lengkap dan asal-usul nama genk-genk tersebut). Pramuka adalah ekskul yang paling kugemari saat itu. Jangkauan pertemananku pun meluas setelah masuk pramuka. Boleh dibilang, masa SMP adalah masa-masa terindah dalam dunia sekolahku (meskipun orang banyak yang bilang bahwa masa-masa terindah adalah saat SMA). Salah satunya karena ada cinta monyet dengan sahabat sendiri (uhuk).

twitajeng.blogspot.com
 
Saat SMA, aku mulai serius. Belajar dan berteman. Jarak sekolah dengan rumahku yang cukup jauh membuat aku sempat ngekost dan tinggal di rumah keluarga. Tapi tak bertahan lama karena selalu homesick (sekarang pun masih). Teman-temanku saat SMA semakin banyak karena bukan hanya dari teman sekolah tapi juga dari teman-teman di pramuka dan sekolah lain. Sempit sekali rasanya dunia, dimana-mana ketemu teman. Dalam masalah akademik jujur saja ketika SMA, aku merasa menjadi siswa yang bodoh. Aku belajar mati-matian namun rasanya susah sekali masuk ke otak. Apalagi ketika aku sempat terlempar dari 5 besar. Aku merasa guru-guru SMAku killer dan tidak cocok dengan metode belajarku. Begitulah akhirnya aku merasa atmosfernya jauh berbeda dengan saat SMP. Padahal dulu waktu SD aku sangat ingin masuk SMA. Saat dulu berlibur ke kota kelahiranku dan  saat melewati SMA papaku, terbersit angan bahwa sekolah SMA itu asyik sekali. Ternyata berbeda sekali ketika kualami sendiri. Aku jarang santai, tiap hari belajar keras (meski sedikit yg 'masuk'). Beruntung aku punya teman-teman akrab yang kadang kala bikin acara pelepas lelah, seperti nginapan, ngerujak or masak2.

Sekarang, masanya Kuliah. Ternyata kerja kerasku lebih d'haruskn d'sini. Brntg aq agk trbiasa ktka SMA d'teka sm dosen2 killer, jd pas kuliah ga smpe stress ktka d'press oleh tumpukan laporan praktikum. Yah, beginilah anak tangga yang sekarang kujajaki. Ngampus, mngerjakn tugas, ngelab, bikin laporan, organisasi, n tak lupa sosial network jg. Aku selalu brsha nyempatin dri buat ikut ngumpul2 d'kos dan bruntung aq pnya tmn2 kuliah yg sgt mngerti aq. Luar biasa, salam buat mereka bertiga. Kita d'panggil 4 setangkai sm org2 d'sekitar kita. Btw, boleh jg d'jdkn nama genk, krna smpai skrg kt blm nemu nm yg pas buat persahabatan kita :).

Membahas semuanya seakan tak ada habisnya. Ketika kilas balik diri kita terbuka dan terlihat oleh org lain, aq brharap agar smuanya dpt mmberi manfaat dan yg plg penting adalah 'introduction my self' scra tak langsung. 

Wednesday, February 17, 2016

Tas Favorit dan Penghuninya

Aku punya sebuah tas favorit. Tidak perlu menggunakan polling sms untuk menentukannya. Hanya dengan rasa nyaman saat memakainya dan kemudian berlanjut pada kebiasaan menggunakan tas tersebut ke sebagian besar acara yang kudatangi, membuatku tak ragu untuk menasbihkan bahwa tas tersebut adalah tas favoritku.

Tas favoritku dan isinya
Percaya tidak percaya harga tas ini hanya 35k. Well, uang memang tak dapat membeli rasa nyaman. Kubeli tepat 3 tahun yang lalu di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Warnanya coklat netral sehingga dapat digunakan saat pakai baju warna apapun. Ukurannya sedang, tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar, yang jelas cukup mengakomodasi benda-benda pentingku saat bepergian. Apa sajakah benda-benda tersebut? Setidaknya ada 10 benda yang menjadi penghuni tetap tas favoritku ini, yaitu:

1. Kipas tangan
Seringkali di tempat acara, fasilitas pendingin ruangannya tidak memadai sehingga membuatku gerah. Di saat-saat seperti ini kipas tangan sangat dibutuhkan. Tidak perlu kipas tangan yang cantik, kipas tangan eks undangan pernikahan seperti milikku pun boleh juga. Yang penting dapat mengusir gerah dengan cara manual.

2. Pulpen
Alat tulis yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Kali aja di tengah jalan ada yang mau minta tanda tangan :p. Aku sendiri biasanya menggunakannya ketika sedang kepepet ingin menulisakan sesuatu (no hp, alamat web, informasi penting, dll) di tengah jalan atau di tengah orang banyak, media tulisnya bisa jadi robekan kertas bekas atau bahkan telapak tangan =D

3. Flashdisk
Ada banyak moment ketika flashdisk sangat diperlukan. Aku biasa membawanya untuk berjaga-jaga dari kemungkinan ada data yang harus dicopy mendadak atau bisa jadi ada teman yang punya film terbaru, kita bisa dengan mudah menyimpannya dulu di flashdisk sebagai pengisi waktu senggang saat weekend.

4. Parfum
Di saat aktivitas harian tidak mengizinkan kita untuk mandi, persediaan parfum dalam tas itu wajib. Cukup satu dua olesan di pergelangan tangan, parfum (milikku) sudah cukup membuatku kembali percaya diri.

Barang-barang ""keramat"
5. Bedak
Perlu juga nih buat cantik-cantik di saat sibuk. Selain bedaknya, cermin yang terdapat di bagian penutupnya merupakan penolong utama saat aku merasa wajah sudah mulai kusam. 

6. Smartphone (dan charger)
Ini adalah senjata wajib para blogger. Nulis, edit, posting, dan share tulisan bisa dilakukan sambil menunggu dengan mudah menggunakan smartphone. Selain itu, smartphone juga sangat berguna sebagai alat komunikasi dan media sosial.

7. Dompet
Isi dompetku hanya terdiri dari beberapa kartu identitas dan uang secukupnya. 

8. Botol minum
Aku termasuk orang yang ketergantungan air putih. So every moment and every where, air putih dalam botol minum yang selalu kubawa merupakan penyelamat utama dari rasa dahagaku.

Nah itu dia barang-barang yang ada dalam tasku dan berperan penting dalam aktivitas keseharianku. Oya, satu hal yang selalu kulakukan pada barang-barang tersebut adalah membeli label namaku. Ada banyak kasus barang-barang pribadi tertukar atau bahkan hilang tercecer tanpa pernah kembali lagi. Tentu saja aku tak ingin hal tersebut terjadi pada barang-barang kesayanganku. Bagaimana dengan barang-barang dalam tasmu ladies?



Legenda Yogyakarta

Ini hanya kisah
Entah ada atau tiada dalam sejarah
Tentang sebuah kota
Sebuah legenda

Adalah merapi
Sebuah puncak dari sang kota
Di tepian utara
Kokoh meneguh
Angkuh

Adalah si parangtritis
Muara cerita sang ratu kidul
Dengan deru ombak
Pengantar riak

Dan sang tokoh utama
Bernama keraton
Di tengah-tengah berdiri anggun
Siap menyambut tamu
Dari lor juga selatan
Dengan pengawal beringin suci

primbondonit.blogspot.com

Si benang merah bernama tugu
Menjahit cerita antara 3 tokoh
Mencetak garis bujur di globe dunia

Entah apa sebab
Apa awalnya
Si merapi marah dengan erupsinya
Membanjiri sang kota dengan laharnya
Ada pula sang pantai
Mulai juga beringas
Dengan gempa dan ombaknya
Maksud hati mencapai keraton
Tapi belum jua berhasil
Dan mereka tak kan berhenti
Tutur si kota
Hingga keraton lenyap dan tinggal sejarah

190213

Tuesday, February 16, 2016

Abstrak


Dunia itu abstrak 
Penghuninya juga 
Bahagia bisa jadi sedih 
Teratur pun tak tentu rapi 
Ada celah ada lubang 
Tak pelak meresapkan kepingan cerita 
Kepingan hati 

Do'a adalah racun 
Untuk abstraknya dunia 
Likunya labirin 
Do'a adalah pedang 
Bagi rancunya perjalanan 
Untuk keringnya hati 

id.hrhwalls.com

Sejak semalam 
Do'a ini tak berhenti 
Untuk keabstrakan hidup 
Walau belum jua hadir 
Fakta abstrak itu 

Ini labirin 
Ini pandora 
Aku tersesat 
Bingung 
Dalam proses 
Dalam obsesi 
Dalam keabstrakan

Tuesday, February 9, 2016

N Story to be Continue

Pada postingan sebelumnya aku sudah menceritakan tentang cerita memilukan si N yang terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena menderita komplikasi gizi buruk, liver, dan tipes akut. Kali ini aku akan melanjutankan ceritanya. Meski boleh dibilang ini late post, seharusnya aku menulis ini setelah menjenguk N di rumah sakit. Tapi sebuah musibah kecil menimpaku, S4 kesayangan drop tidak bisa dicash. Bahkan ketika dibelikan baterai baru pun tetap tidak bisa menyala. Long weekend kemaren pun aku belum sempat membawanya ke tempat servis karena ikut ke Palangkaraya, jalan-jalan bersama keluarga hingga minggu malam. Oleh karena itu semua sosmedku seperti mati suri, nothings update.

Kembali ke N, waktu kami kunjungi ternyata dia dirawat di selasar Ruang Safir RS Damanhuri Barabai. Ada banyak pasien lain yang juga terpaksa dirawat inap dengan peralatan sederhana dan di selasar yang notabene tempat orang lalu-lalang. Hal ini dikarenakan membludaknya jumlah pasien melebihi kapasitas kamar inap yang disediakan oleh rumah sakit. Ketika melihat N pertama kali, keadaan yang sebenarnya 90% sama dengan imajinasiku berdasarkan gambaran yang diceritakan oleh suamiku. Menurut suamiku, wajah N yang kami lihat saat itu lebih cerah dibandingkan dengan wajahnya sehari-hari, mungkin karena dia sudah menerima transfusi darah. N dijaga oleh bibinya yang masih muda. Ketika kami tanya mengapa neneknya tidak ikut ke rumah sakit, N menjawab kalau neneknya sedang mengurus cucu yaitu anak si bibi yang menemaninya di rumah sakit.

Di sinilah N dirawat
Saat kufoto, dia sedang ke toilet

N ternyata membutuhkan transfusi darah sebanyak 6 kantong. Hingga kami menjenguk kemarin, baru tersedia 4 kantong. Sebenarnya sudah ada 6 orang bergolongan darah O yang dicarikan oleh kepala desa N, tapi ternyata ada 2 orang yang tidak memenuhi syarat untuk mendonorkan darah karena bertekanan darah tinggi. Kebetulan suamiku bergolongan darah O sehingga waktu itu dia bisa menyumbangkan darah 1 kantong, 1 kantong lainnya didonorkan oleh suami ibu guru teman mengajar suamiku.

Suamiku saat transfusi darah

Ada banyak faktor ternyata yang menyebabkan kondisi N seburuk saat ia dibawa ke rumah sakit. Salah satunya adalah faktor perceraian orang tuanya. Menurut cerita bibinya, N sempat tinggal dengan ayahnya di Mataraman, Kab. Banjar. Namun kondisi ekonomi dan kekurangperhatian sang ayah membuatnya sering makan mie instan sebagai pengganti makanan pokok. Ketika pindah kembali ke rumah neneknya disini, gejala penyakit tipes mulai muncul. Asupan makanan kurang bergizi yang dikonsumsinya pun menambah drop tubuhnya. Sang bibi tidak ada menyinggung atau menyebut-nyebut tentang ibunya N, sehingga aku pun tidak berani menanyakannya. Meski sebenarnya aku penasaran tentang ibu si N ini.

Alhamdulillah sudah terkumpul sekian ratus ribu sumbangan dari teman-teman yang membaca postingan Balada Si N. Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada bibi N. Beberapa bantuan juga ada yang menyusul dan disalurkan melalui sekolah. Kabar terakhir katanya N sudah boleh dibawa pulang ke rumah, meski masih belum bisa bersekolah. Semoga tidak ada kejadian seperti ini lagi. Juga semoga N dan anak-anak lain yang tengah berjuang menuntut ilmu selalu dimudahkan. Aamiin.

Update: Akhir Mei 2016 akhirnya N menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit yang ia derita. Semoga Allah memberikan kelapangan di akhiratmu, Dek. Tak seperti di dunia yang kejam ini.

Wednesday, February 3, 2016

Balada Si N

Di sekolah tempat suamiku mengajar ada seorang siswi bernama N dengan postur tubuh kurus, kalau tidak bisa dibilang ceking. Tulangnya yang kecil hanya dilapisi oleh daging tipis. Seragam yang dikenakannya menunjukkan bahwa size S pun masih terlalu kecil untuk ukuran badannya. Sekilas dia nampak sama saja dengan siswa-siswi lainnya, kecuali dia tidak pernah terlihat berkunjung ke kantin sekolah pada jam istirahat. Awalnya para guru tak menaruh curiga apa pun terhadap anak ini. Namun setelah ada teman si N ini bercerita tentang kondisi yang sebenarnya tentang N, maka kepsek dan para guru berinisiatif membawa N ke rumah sakit. Setelah diperiksa, dokter mengatakan bahwa N menderita penyakit gizi buruk. Allahurabbi, aku yang mendengar ceritanya saja rasanya lemas apalagi para guru yang mendampingi N saat di rumah sakit. Di zaman modern dan serba canggih seperti sekarang ini serta lokasi yang tidak bisa dikatakan terpencil sekali, masih ada anak yang menderita penyakit gizi buruk? Aku terbayang pada foto anak-anak di Benua Afrika yang juga menderita kasus serupa.

Ternyata kehidupan N sehari-hari sangat memprihatinkan. N tinggal bersama saudara neneknya yang masih hidup (nenek aslinya sudah meninggal) dan juga 4 anak lain yang merupakan sepupu-sepupu N. Ayah-ibu yang tidak bertanggung jawab atas kelima anak ini (termasuk N) entah dimana rimbanya, mereka tidak peduli dengan nasib si buah hati. Boleh jadi karena faktor ekonomi, namun bisa pula karena keegoisan pribadi. Terlebih ayah-ibu N telah bercerai dan keduanya sudah menikah lagi. Gemas sekali rasanya melihat fakta ada orang tua yang seperti itu. Nenek N sehari-hari mendapatkan penghasilan dari manurih (menyadap karet), uang hasil penjualan karet yang tak seberapa tersebut digunakan untuk memberi makan cucu-cucunya. Tak heran kalau N tidak pernah membawa uang saku saat sekolah. Jauh pula jangkauan tangannya dari susu, vitamin, atau makanan bergizi lainnya. Namun aku salut dengan semangat bersekolahnya N, semoga dia tetap bertahan hingga tamat SMA.


Kembali ke kondisi N, teman-temannya bercerita saking kurusnya si N dia tidak bisa duduk seperti orang kebanyakan karena tubuhnya tidak seimbang. Jika duduk kakinya ditekuk dan disangga dengan tangan supaya tidak jatuh. Sebagai remaja berusia sekitar 16 tahun (kelas X SMA), periode datang bulannya kacau sekali. Dua bulan terakhir malah N tidak pernah haid. Dokter sendiri mengatakan bahwa untuk memulihkan kesehatan N setidaknya membutuhkan 3 kantong transfusi darah bergolongan darah O. Kondisi terakhir N saat kutulis ini masih dalam perawatan dokter, hasil sementara menunjukkan ada kerusakan liver akibat makan mie instan berkepanjangan. Nilai Hb-nya hanya sekitar 7.5. Rencananya sore ini atau malam nanti aku akan menjenguknya bersama suami. (Jika teman-teman ada yang berminat ikut membantu N, bisa inbox akun fbku. Inshaallah akan disampaikan ke N langsung)

Dari kejadian ini aku dapat memetik pelajaran, ada banyak orang yang mengeluhkan hal sepele dan tidak bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki. Di sisi lain beberapa orang tak beruntung bahkan tidak mempunyai hal yang kita keluhkan. Khusus untuk anak-anak yang malas bersekolah hanya karena faktor sepele, contohlah si N. Bahkan tanpa uang saku, ditambah fisik yang tidak seperti orang kebanyakan, ia tetap rajin hadir ke sekolah. Anak-anak sekarang kadang hanya karena tidak dibelikan hp atau motor baru, sudah merajuk tidak mau masuk ke sekolah. Jika Anda orang tua yang mempunyai anak yang berperilaku demikian, ceritakanlah tentang N kepada anak Anda. Semoga dapat menjadi pelajaran dan membuka sisi kemanusiaan kita yang selama ini mungkin terlanjur beku.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates