Saturday, January 30, 2016

I'm Proud to be Book Addict

Sejak kecil, aku sudah terbiasa berbeda dengan teman-teman sebaya dan lingkungan sekitar. Mungkin tidak secara fisik, tapi lebih kepada selera. Aku seorang kutu buku dan aku bangga dengan itu. Berawal dari sikap papa yang selalu mendukung hobi membacaku sejak kecil. Beliau sering membelikanku buku jika sedang bepergian atau ke pasar. Meskipun di lain pihak, mama tidak pernah mengerti mengapa aku bisa begitu addict dengan buku. Bahkan hingga sekarang, mama kadang menanyakan apa gunanya koleksi bukuku yang bejibun memenuhi rumah itu. Pemikiran mama sama persis dengan pikiran banyak orang, mereka heran mengapa aku begitu kecanduan buku yang melihatnya saja dapat membuat pusing, alih-alih membaca.

Dulu aku hanya bisa membeli dan membaca majalah anak, itupun jika papa ada di rumah karena beliau bekerja di luar kota dan hanya pulang sekitar 1 bulan sekali.  Beranjak remaja, genre bacaanku mulai berubah. Aku mulai senang membaca majalah-majalah remaja milik kakak sepupu yang sekolah di kota. Hingga suatu hari aku dibelikan papa sebuah majalah remaja Islam. Aku jatuh cinta dengan majalah ini karena cerpen-cerpennya yang bagus dan berisi, selain itu nilai-nilai Islaminya pun sepaham dengan apa yang kupelajari selama ini. Dari majalah ini jugalah akhirnya aku bertekad untuk menjadi penulis yang menyampaikan kebenaran dan memberi manfaat. Hal tersebut bertambah kuat saat aku mengenal sebuah forum kepenulisan islami dari majalah tersebut. Bertahun kemudian ketika aku kuliah, aku menemukan "fisik" forum ini di kota tempatku berkuliah. Alhamdulillah forum kepenulisan tersebut membuatku lebih aktif membaca dan menulis, bahkan aktit lagi ngeblog di rumah mayaku ini yang sebelumnya mati suri. Tidak dapat kukatakan betapa berpengaruhnya sebuah majalah dalam fase kehidupanku. Meski kini majalah tersebut sudah berubah wujud menjadi majalah online sehingga aku tidak perlu membelinya lagi, hanya perlu paket kouta internet.

This is mine 
Ketika kuliah, rasanya "dendam"ku terhadap hobi ini terbalas puas. Pasalnya saat masih sekolah, aku hanya bisa melihat katalog buku di cover bagian dalam majalah yang kubaca serta membayangkan andai aku dapat membaca buku-buku tersebut. Namun apa daya uang untuk membelinya tak punya, hanya sekadar uang saku. Paling keren ya aku meminjam buku di perpustakaan sekolah atau perpustakaan kota. Sesekali membeli buku pas ke Banjarmasin (karena toko buku hanya ada di sana), sekalian ada acara keluarga. Nah saat kuliah, aku tinggal di kota yang akses untuk membeli bukunya mudah. Tambahan pula, saat itu aku sudah punya uang sendiri yang kusisihkan dari beasiswa. Mulai deh aku berani cuci mata ke toko buku (offline dan online) dan membeli beberapa buku yang kuinginkan. Terlebih jika ada acara book fair tahunan. Aku semacam kerasukan untuk memborong semua buku incaran. Aish. Tidak sampai disana saja, kecintaanku pada buku juga mendorongku untuk berjualan buku online. Sebagai cara untuk menyebarkan virus membaca di lingkungan sekitarku yang notabene masih jauh dari toko buku dan menambah penghasilan, maka di tahun 2012 terbentuklah sebuah toko buku online kecil yang kuberi nama Rumah Buku Shady. Alhamdulillah, dari segi keuntungan lumayan karena banyak juga ternyata peminat buku di sekitarku, hanya tidak kelihatan karena memang fasilitas seperti toko buku disini masih minim. Namun tentu saja bisnis ini juga diimbangi dengan keribetannya, banyak printilan yang harus diurus. Awal tahun ini kuputuskan untuk break dulu karena masih penyesuaian dengan tempat kerja baru, rencananya akan kuaktifkan lagi setelah semuanya stabil dan konsepku sudah matang.

Aku menyukai genre buku fiksi dan non-fiksi. Hanya saja, untuk menghemat uang aku lebih sering meminjam novel atau jenis bacaan fiksi lainnya di perpustakaan atau pinjam dengan teman. Hehe. Ya, hingga kini koleksi novelku masih jauh kalah lebih banyak daripada koleksi buku non-fiksiku. Aku berpikir kalau novel paling cuma dibaca satu kali, setelah itu tidak dibuka lagi. Nah kalau nonfiksi menurutku bukunya dapat berguna sepanjang masa karena ilmunya suatu saat mungkin akan kita butuhkan, dengan memiliki bukunya sendiri kita akan lebih mudah membuka-bukanya kembali. Tema yang sedang kugandrungi untuk buku non-fiksi sekarang ini adalah manajemen keuangan, bisnis, dan motivasi. Beruntunglah sejak sekitar 2 tahun yang lalu aku mengenal Stiletto Book, buku-buku dari penerbit ini dapat mengcover minatku terhadap bacaan nonfiksi dan juga buku-bukunya berguna untuk kehidupan perempuan. Sehingga tak salah jika penerbit ini dikenal dengan jargonnya sebagai Penerbit Buku Perempuan. Koleksi pertamaku dari penerbit ini adalah buku hadiah dari menang GA di sebuah blog. Dari sana kemudian aku memfollow twitter Stiletto dan akhirnya lama-kelamaan menjadi pembeli buku jika ada buku yang menarik hati (dan ada diskon) dari penerbit ini. Selain itu aku juga lumayan sering hunting buku di toko buku online. Ya aku lebih sering beli buku online, karena cara ini kuanggap lebih praktis daripada harus ke toko buku atau sekalian aku membelinya kalau ada bazar buku. Lulus kuliah, tak terasa buku-buku hasil belianku semasa kuliah sudah hampir melewati kapasitas rak bukuku. Saatnya menabung untuk beli rak buku baru. Hehe.
Koleksi bukuku dari Penerbit Stiletto Book
Hingga bersuami sekarang pun kecintaanku pada buku tak memudar. Terlebih aku punya penghasilan sendiri sehingga lebih mudah menyisihkannya. Ada banyak manfaat yang didapat dari hobiku ini sehingga aku tak malu menyebut diriku sebagai book addict, meski bagi sebagian orang di sekitarku hal tersebut sedikit aneh dan hanya membuang-buang uang. Sounds familiar? But, I'm proud to be book addict!

Wednesday, January 27, 2016

OSN Pertamina 2012 dalam Kenangan

Suasana pada acara pembukaan di Aula UI
Supaya otak dan tubuh fresh, olahraga dulu yuk di depan Asrama MAKARA UI.
Seleksi tahap pertama.

Semuanya pada serius menaklukkan soal olimpiade.

Malam Pensi nih, Kelompok 9 siap-siap mau tampil.

Yee, akhirnya Kelompok 9 menang di dua kategori.

Foto bareng kelompok 9 sebelum studytour di TMII
Foto bareng di dalam Museum Migas TMII

Saatnya having fun di Dufan!
Baris yang rapi dulu per kelompok ya
Windy, Rindang, dan Kak Fani. Antara Maluku, Banjarmasin, dan Ambon.
Sekali jepret lagi di bundaran Dufan

Ngegames dulu yuk, kelompok 9 serius banget nih.
Foto bareng gabungan beberapa kelompok.
Foto bareng gabungan beberapa kelompok lagi
Kelompok 9 serius banget diskusi untuk membuat yel-yel
Brainstroming ala kelompok 9
"Saya, saya bisa menjawab kakak panitia", teriak Kak Jo

Membentuk lingkaran dalam games seru

Hendra dan Windy berebut menghitung jumlah anggota kelompok 9
Yuhuu, kelompok 9 dapat doorprize
Snack time
Malam perpisahan nih. Foto di samping Kantor Pusat Pertamina. Keliatan gak Monas sedikit nyempil di belakang?

Monday, January 25, 2016

Prambanan, 3 Tahun Lalu

Yup, boleh dikatakan ini semacam late post. Tapi postingan ini kubuat sebenarnya lebih kepada aku ingin mengenang masa-masa waktu di Jogja dulu, termasuk ketika aku mengunjungi Candi Prambanan bersama Maria dan 2 teman baruku, Tika dan Nani.

Tour di Candi Prambanan kami habiskan dengan banyak berfoto-foto di depan Candi (dan mengajak bule untuk foto bersama, hehe). Kebetulan waktu itu kami menemui bule cewek nyentrik yang kepalanya plontos. Bulenya juga ramah dan enak diajak foto.

Oya, waktu itu ada tragedi kami kehilangan payung (pinjaman pula) di kawasan candi. Karena tempatnya luas dan juga banyaknya payung yang disewakan, kami tak dapat menemukan payung berwarna pink yang dimaksud. Pada waktu di foto payung tersebut masih ada, namun ketika sadar kalau payung tersebut sudah hilang waktunya sudah lama dari kami berfoto itu. Terpaksalah pulangnya kami mampir ke Mirota untuk membeli payung yang hilang milik tetangga kamar kostnya Tika. Hehe

Sunday, January 24, 2016

7 Things About My Grandma

Kali ini aku akan bercerita tentang nenekku, ibu dari papaku. Sebagai ringkasan, berikut adalah 7 fakta tentang beliau.

1. Umur nenek sudah sangat tua namun kesehatan tubuh beliau terjaga. Tidak ada yang tahu dengan pasti tahun berapa beliau lahir namun kuperkirakan hingga tahun ini umur beliau sekitar 85-90 tahun. Masalah kesehatan yang beliau keluhkan paling sekadar sakit kepala. Untuk panca indra sendiri masih berfungsi dengan baik. Kalah pokoknya orang-orang yang lebih muda dari beliau.

2. Nenek tidak mau tinggal di rumah orang lain, meskipun itu rumah anak sendiri. Alasannya di rumah sendiri beliau bebas mau ngapain aja, tidak menyusahkan anak-cucu. Keempat anak beliau sudah berusaha membujuk agar nenek tinggal di rumah salah satu dari mereka. Nenek tidak mau dan memilih tinggal sendiri di rumah tua peninggalan kakek. Oleh karena itulah papa sebagai anak bungsu yang waktu aku berumur 5 tahun belum punya rumah sendiri memutuskan untuk membangun rumah di sebelah rumah nenek agar bisa menjenguk nenek setiap saat.

3. Meskipun secara umum nenek terlihat sehat, namun secara fisik tak dapat dipungkiri bahwa tubuh beliau sudah lemah karena faktor usia. Oleh karena itu sekitar sejak 10 tahun yang lalu beliau sangat jarang menginjakkan kaki ke tanah, karena dilarang oleh anak-anaknya. Toh semua kebutuhan beliau sudah disediakan termasuk makanan 3 kali sehari. Bahkan beliau dilarang untuk pergi shalat ied meski beliau ingin sekali. Bukan apa-apa, itu untuk kebaikan nenek sendiri. Sekitar 5 tahun yang lalu, tangan beliau patah karena terjatuh dari teras. Beruntungnya masih bisa diurut dan diberi pin lalu dilepas lagi. Aih kulit beliau padahal sudah tipis sekali lho. Waktu resepsi pernikahanku, nenek digendong oleh papa ke panggung resepsi. Hal itu merupakan sebuah keharuan sendiri di tengah pesta kebahagiaan keluarga.

Nenek bersama mama dan papa di pesta pernikahanku

4. Nenek adalah guru mengajiku. Selepas maghrib anak-anak seumuranku akan ramai-ramai datang ke rumah nenek untuk mengaji. Kadang-kadang juga mengaji waktu siang atau sore. Aku bandel dulu waktu mengaji. Beruntunglah masih lancar mengaji hingga sekarang. Sedikit pengakuan dosa, dulu aku senang iseng memindahkan penanda batas bacaan Al-Quran punya teman ke halaman yang lain. Ketika nenekku membaca dan ingat bahwa bukan halaman itu yang dibacanya kemarin, aku terkikik geli mendengarnya. Aih jahatnya aku dulu.

5. Nenek itu kuat, secara mental. Terbukti ketika nenek ditinggal meninggal terlebih dahulu oleh anak beliau yang ketiga (kakaknya papa) padahal beliau tidak sempat melihat jenazahnya langsung. Beliau ada di Samarinda di rumah kakak papa yang kedua saat kejadian. Jadi saat penerbangan menuju rumah duka, jenazah sudah dikebumikan. Beliau hanya berkata bahwa setiap orang pasti akan "kembali".

6. Akhir-akhir ini beliau sering melihat bayangan-bayangan orang yang sudah meninggal dan menceritakannya seolah-olah itu adalah hal biasa. Bahkan jika ada kejadian besar semisal tong air pecah beberapa waktu yang lalu. Itu pertanda bahwa "seseorang" ingin berbicara padanya.

7. Kegiatan beliau sehari-hari adalah bangun-shalat-makan-duduk-baca Alquran-tidur. Itu saja. Beliau juga kadang duduk-duduk di depan pintu rumah. Aku mungkin sudah mati kebosanan dengan rutinitas seperti itu. Beda usia, beda pemikiran memang. Selain kami, kadang ada tetangga-tetangga yang duduk menemani sambil ngobrol dengan beliau. Dua tahun terakhir di rumah nenek sudah ada tv sehingga kadang-kadang suara tv juga menemani beliau, itupun jika beliau mau menonton atau televisinya kami hidupkan.

Itulah 7 fakta terpenting dari seorang nenekku yang bernama Siti Aliyah. Fakta-fakta yang lain mungkin sama saja dengan sifat nenek-nenek pada umumnya. Semoga hingga akhir hidup beliau sehat walaafiat. Aamiin.

Friday, January 22, 2016

Kenangan Manis Permainan Masa Kecil

Masa anak-anak adalah masa emas dalam pertumbuhan dan kenangan. Hampir semua orang mempunyai kenangan manis di masa ini. Terutama ketika zaman dulu, masa anak-anak masih dipenuhi dengan beragam permainan tradisional yang seringnya dimainkan ramai-ramai. Hal ini tentu meninggalkan jejak kenangan tersendiri di hati setiap orang yang mengalaminya. Bagiku sendiri, ada 3 permainan masa kecil yang mempunyai kenangan manis hingga kini.

1. Basingki
Basingki atau dalam bahasa Indonesia disebut permainan Patok Lele adalah permainan ketangkasan dengan 2 buah kayu dan lubang berbentuk segitiga sama kaki di tanah. Dua buah kayu tersebut berbeda ukurannya, satu kayu dengan panjang sekitar 50 cm sebagai "mamanya" dan satu kayu pendek sebagai "anaknya". Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang berlainan. Satu tim bisa terdiri dari banyak orang tidak terbatas asal masih seimbang jumlah masing-masing tim. Tim yang mendapat poin adalah tim yang dapat menangkap kayu pendek yang dilemparkan oleh tim lawannya. Permainan ini memang cukup berbahaya. Kalau lengah dan tidak hati-hati bisa terkena lemparan kayu saat berusaha menangkapnya. Ada 3 babak dalam permainan ini. Setiap babak berbeda dalam cara melemparkan kayu dan jumlah poinnya, aku lupa nama babak pertama dan kedua. Tapi aku ingat betul nama babak ketiga yaitu "kihong". Karena jarang sekali tim bisa sampai babak terakhir ini. Dulu, ada satu orang teman laki-laki yang hebat sekali dalam "kihong-mengihong" ini. Aku sampai kagum waktu itu. Ehm.
fannyseptria.blogspot.com

2. Rumah-rumahan atau Masak-masakan
Normalnya permainan ini dimainkan oleh anak perempuan. Tapi tidak pada waktu aku kecil dulu. Anak perempuan dan laki-laki bergabung memainkan peran apa saja yang mereka suka dalam permainan ini. Saking banyaknya anak yang ikut, kami membangun sebuah "desa" dengan nama Desa Tumaritis. Nama tersebut kami ambil dari nama desa tempat tinggal Petruk-Gareng, tokoh cergam yang paling ngetren zaman aku masih kecil dulu. Lokasinya di sebuah tanah kosong yang kebetulan berseberangan dengan rumahku. Di bawah sebuah pohon sawo besar nan rindang, sehingga saat terik pun kami tak takut kepanasan (lagipula mana ada anak-anak zaman dulu yang takut kepanasan?). Anak perempuan tentu saja berperan sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya paling sering adalah memasak. Tidak hanya bohong-bohongan, bahkan kami juga memasak beneran. Dulu temanku punya satu set permainan masak-masakan dari besi sehingga kalau diletakkan di atas api pun tidak apa-apa. Mie instan semuatnya kami "goreng" di dalam wajan mini dan benar-benar dimakan lho. Dulu kami juga sering membuat agar-agar atau jelly dari daun kacakpiring yang diremas-remas dalam air. Airnya kemudian dipanaskan di bawah sinar matahari. Jika sudah beku, bisa dipotong dan disajikan. Namun tentu saja tidak dapat dimakan. Oya, anak laki-laki biasanya berperan sebagai penjaga "taman bermain". Taman bermain alami yang terbentuk dari semak belukar di sekitar pohon sawo. Ceritanya anak perempuan berperan sebagai pengunjungnya dan membeli tiket kepada anak laki-laki untuk dapat bermain disana. Kenangan yang indah sekali.
kebudayaanindonesia.net

3. BPan
BP (atau dulu kami menyebutnya GPan) adalah permainan "boneka" dari kertas untuk anak perempuan. Sama seperti rumah-rumahan tapi pemerannya adalah tokoh kertas yang punya rumah dan dapat berganti-ganti baju. Rumahnya terdiri atas barang-barang yang disusun. Dulu aku senang mengatur letak kamar, ruang makan, dan ruang-ruang lainnya dalam permainan ini. Tidak salah kalau hingga sekarang aku menyukai desain interior. Kegiatan yang dilakukan para boneka BP itu kalau tidak urusan rumah tangga ya pergi ke acara ulang tahun teman, pesta, atau mengunjungi rumah teman. Dulu aku dan teman-teman perempuan maniak sekali bermain BP. Sampai-sampai dulu setelah mengganti seragam sekolah, aku rela balik lagi ke sekolah (rumahku dekat dengan SD) untuk menunggu temanku yang kelasnya lebih tinggi dan belum pulang sambil menenteng "harta karun" berupa peralatan BP di dalam kresek hitam. Guru yang mengajar di kelas itu pun sudah tahu maksudku karena aku menunggu di depan kelasnya setiap hari. Bahkan kami pernah menginap di salah satu rumah teman dan semalaman suntuk kami terus bermain BP hingga tertidur dengan peralatan main yang belum dibereskan. Itu waktu aku sekitar kelas 2 atau 3 SD. What a memorable!
mantraitemdoeloe.blogspot.com

Ya dulu sepertinya tidak ada permainan yang bisa dimainkan sendirian. Semuanya harus berkawan-kawan. Sekarang, teman-temanku waktu kecil telah berpencar di banyak tempat mengikuti jalan hidup. Bahkan yang masih tersisa di desa ini pun tak dapat mengulang kebahagiaan masa kecil tersebut. Waktu telah mendewasakan kita dan merubah semuanya. Terima kasih untuk teman-teman yang telah bersama mengukir kenangan manis saat kita masih kecil dulu. Aku merindukan masa-masa itu. Jika anakku lahir nanti, akan kuceritakan bahkan kuajari permainan-permainan dulu yang pernah mewarnai masa kecilku.

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa.
 

Wednesday, January 20, 2016

[Giveaway] Mari Berkreasi


Seperti yang sudah pernah kutulis sebelumnya, aku sedang senang-senangnya membuat DIY. Nah kali ini aku akan mengajak kalian semua untuk ikut berkreasi membuat barang yang berguna dengan bahan dasar barang bekas. Barang yang aku ingin kalian kreasikan ada 3, yaitu alat cukur bekas, botol bekas minyak wangi, dan kartu kredit/member/ATM bekas. Kalian boleh pilih satu, dua, atau ketiganya. Uraikan DIY kalian dengan jelas agar pembaca dapat membayangkan hasilnya. Dilengkapi dengan foto hasil DIY lebih bagus. Penilaian  DIY terbaik berdasarkan keunikan dan fungsi dari produk DIY yang kalian buat.
Berikut ketentuan lengkap dari giveaway ini:
1. Follow blog ini melalui Google Friend Connect
2. Follow akun twitter @Ryu_keren
3. Share info GA ini dan mention @Ryu_keren serta 2 teman kami dengan hastag #GADIY
4. Share salah satu postingan di blog ini dan mention @Ryu_keren
5. Kirim jawaban kreasi DIYmu beserta nama, akun twitter, nama blog, dan kota domisili di kolom komentar di bawah postingan ini
6. Deadline GA ini yaitu tanggal 30 Januari 2016

Sebagai penyemangat, berikut adalah hadiah-hadiah yang sudah terkumpul untuk 1 kreasi terbaik:

1. Buku Tips Remaja
Buku ini cocok sekali dibaca bagi yang ingin gaul tapi tetap berada di "koridor yang benar". Berisi 14 tips asyik yang mudah dipraktikkan.



2. Kaos kaki Soka
Kaos kaki berkualitas tinggi ini dilengkapi dengan kemasan ramah lingkungan, sehingga dapat digunakan kembali sebagai tempat alat tulis atau barang-barang kecil lainnya.


3. Pouch Etnik
Pouch mungil ini cocok sekali sebagai tempat handphone atau peralatan makeup minimu lho girls.

Bagi yang mau menambahkan macam hadiahnya juga bisa dengan berpartisipasi sebagai sponsor GA ini, supaya peserta tambah semangat dan pemenangnya tambah banyak. Langsung email aku di ryu.keren@gmail.com atau mention di twitter @Ryu_keren yak.

Selamat berkreasi ^,^

Tuesday, January 19, 2016

DIY Mode On

Hiasan dinding plus pigura dari kertas karton pelangi
"Bakat" terpendamku selama ini mungkin adalah reuse dan recycle barang-barang bekas. Bahasa kerennya zaman sekarang adalah DIY (Do It Yourself). Mengapa kubilang terpendam? Karena aku sendiri kurang percaya diri dengan hasilnya. Hanya sebagai kepuasan pribadi dan koleksi diri sendiri. Belum benar-benar kuseriusi, hanya kukerjakan sebagai pengisi waktu luang.

Sudah sejak lama sebenarnya, hobi DIY ini kulakoni. Sejak masih SMP dulu. Mulai dari membuat kotak pensil, sarung ponsel, storage bros, kotak charger, kotak kaos kaki, dan lain-lain. Awalnya ini kulakukan hanya karena gemas melihat barang-barang tak terpakai dan tak berguna lagi. Mau dibuang juga sayang, karena kondisinya masih cukup bagus. Misalnya seperti kotak sepatu yang berbahan keras, biasanya kukumpulkan dulu. Jika ada waktu luang kemudian, barulah kusulap menjadi barang yang akhirnya berguna. Plastik kresek biasanya juga kumpulkan yang kondisinya layak pakai, jika diperlukan sewaktu-waktu bisa digunakan kembali. Aku juga senang mengumpulkan kertas kado (bekas). Bisa kugunakan sebagai pembungkus kado, sampul buku, atau bahan DIY barang-barang yang perlu dipercantik dengan kertas kado.
Papan quote dari kertas undangan bekas
Aku juga rajin mengunjungi website yang menampilkan DIY, termasuk memfollow akun IG bertema DIY. Menyimpan beberapa foto dan jika ada waktu kucoba sendiri di rumah. Oya akhir-akhir ini juga ada beberapa acara televisi yang bertema DIY, meskipun aku sering ketinggalan menontonnya karena saat jam tayang aku mungkin sedang tidak di rumah.
Rak buku dadakan waktu dulu masih ngekost
Besok-besok mungkin hobi ini akan kuseriusi dan kujabani secara profesional. Asyik kali ya punya hobi juga sekalian profesi. Menyenangkan memang punya hobi yang membuat puas diri sendiri dan dompet. Hehe.

Celengan dari botol bekas
Kotak kaos kaki dari kotak sepatu

Monday, January 18, 2016

Tips Menulis Novel by Riawani Elyta

Aku suka membaca kultwit tentang tulis menulis, terutama dari penulis senior seperti mbak Riawani Elyta. Nah beberapa waktu yang lalu aku menemukan kultwit beliau di timeline twitterku. Kali ini kultwitnya tentang tips menulis novel, khususnya untuk yang diikutsertakan dalam lomba. 
Supaya mudah mengingat, aku menyimpan beberapa screenshoot kultwitnya. 
Dengan maksud berbagi, maka foto-foto tersebut kupost lewat blog ini. 
Jangan lupa, bacanya sesuai nomor dan dari bawah ya. 



Nah, bagaimana guys sudah selesai semua baca kultwitnya? Ada 3 poin penting yang bisa kusimpulkan dari pemaparan singkat dari mbak Riawani Elyta di atas, yaitu:
1. Penulis baru harus pe-de ikut lomba menulis novel
2. Novel yang dikirim harus rapi secara konsep
3. Perhatikan hal-hal teknis dalam lomba

Tertarik mengirimkan novel untuk lomba menulis yang selalu ada digelar setiap tahunnya? Yuk, kita persiapkan dari sekarang dengan mengikuti tips-tips dari mbak Riawani Elyta di atas.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates