Sunday, December 27, 2015

Barabai Expo 2015

Welcome to Barabai Expo 2015


Barabai Expo mungkin tidak semegah Banjarbaru atau Kalsel Expo. Tapi tetap saja aku antusias untuk menyambanginya karena minimnya hiburan di kota kecilku ini. Hiks. Sedih rasanya kalau ingat Banjarbaru yang penuh dengan hiburan itu. Mau apa aja ada.

Mama, 2 tanteku plus krucil di stand batalyon

Barabai Expo rutin digelar satu tahun sekali di penghujung tahun untuk memperingati hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang jatuh pada tanggal 24 Desember. Exponya lebih mirip dengan pasar malam, banyak orang yang berjualan dan menggoda untuk membeli. Lumayanlah cuci mata meski seringnya toh aku tidak tertarik dengan barang-barang yang dijual. Standnya sendiri juga kurang menarik membuat aku lewat begitu saja. Tidak seperti di Banjarbaru Expo yang aku benar-benar datangi one by one standnya.  Paling aku mampir di stand yang petugas jaganya kukenal.

Foto bareng om-om tentara pasukan khusus

Selama expo kemaren, terhitung aku dua kali mengunjunginya. Sekali dengan suamiku, sekali lagi dengan keluarga besar. Adik-adik sepupuku sih yang paling senang. Namanya juga anak-anak, senang sekali melihat keramaian apalagi di malam hari.

Monday, December 21, 2015

Sebuah Lagu di Hari Ibu

Sekitar satu minggu yang lalu, mama bilang kalau Lesti (finalis ajang kompetisi Dangdut Akademi Asia) membuat semua juri menangis saat ia tampil. Mama memang penonton setia ajang pencarian bakat tersebut, bahkan sejak DA 1 baru diadakan. Kami yang serumah pun akhirnya mau tak mau juga mengikuti perkembangan acara tersebut. Memangnya lagu apa yang dia nyanyikan, tanyaku sekedar merespon "info" dari mama tersebut. Aku memang kurang menyukai lagu dengan musik dangdut. Lagu "Keramat", jawab mama. Ohh, sahutku kemudian.

Hari ini saat gak ada kerjaan di kantor, aku membuka youtube saat Lesti menyanyikan lagu tersebut. Alasanku membuka lebih karena ingin melihat bagaimana hebatnya penghayatan Lesti hingga semua juri menangis dibuatnya. Ternyata setelah menonton baru kutahu bahwa lagu Keramat itu adalah lagu dengan tema Ibu. Ya, tema Ibu memang dapat mengusik naluri siapa saja hingga tak heran semua yang mendengar Lesti menyanyikan lagu tersebut menjadi tersentuh. Terlebih pembawaan panggung Lesti memang memukau dan cocok dengan isi lagunya. Sebenarnya lagu tersebut sudah pernah kudengar (tapi aku tidak tahu judulnya) karena memang sering diputar di banyak tempat. Wajar saja lagu Sang Raja Dangdut Rhoma Irama ini memang mengandung pesan moral yang tinggi.

Tepat di hari ini, tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu. Lagu ini terasa pas sekali menghiasi gendang telinga. Agar kita selalu mengutamakan Ibu, seseorang yang amat berkeramat dalam hidup kita.

Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya
Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja
Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua

Catatan Ayah Tentang Cintanya Kepada Ibu

Novel ini merupakan lanjutan dari novel Lampau yang sekitar satu tahun lalu kubaca. Kali ini isinya bercerita tentang Ayuh, sang tokoh utama yang pulang kampung karena ibunya sakit -lalu meninggal dunia. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri di kampung sebelum kembali menyambung hidup di kota. Tak disangka rentetan kejadian di kampungnya membuat keberangkatannya tertunda lebih lama dari yang ia bayangkan.

Dalam buku ini juga diceritakan tentang kepastian tentang cinta sejati Ayuh yang awalnya terbagi menjadi dua. Meskipun aku masih kurang yakin, karena bisa jadi novel lanjutan akan muncul lagi setelah ini. Mengingat tokoh ayah belum muncul sejak buku pertama.

Judul: Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu
Penulis: Sandy Firly
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2015

Ada beberapa tokoh baru dalam kisah Ayuh yang ditulis oleh Sandi Firly -asal Kalimantan Selatan ini, diantaranya yaitu Radam, Juntang, dan Katuy. Katuy sebenarnya pernah disinggung dalam novel pertama, namun tidak terlalu banyak diceritakan.  Hingga di novel kedua ini ia merupakan orang yang kemunculannya amat tidak disukai Ayuh. Ya, tokoh Katuy memang berhubungan erat dengan dendam masa silam orang tuanya. Namun dari beberapa tokoh baru tersebut, Radamlah yang menarik perhatianku. Pertama karena nama Radam di daerahku adalah nama seorang (semacam) nenek moyang atau biasa yang disebut Datu. Kedua karena dikisahkan dalam novel ini bahwa pekerjaannya adalah berburu anggrek di belantara pegunungan Meratus. Selain itu, karakternya sendiri cool digambarkan oleh penulisnya.

Sedikit kekurangan yang terdapat dalam buku ini menurutku terdapat pada halaman 261. Mungkin hanya karena faktor kekurangtelitian saja. Pada satu paraghraf dituliskan bahwa Ayuh masuk ke dalam WARNET untuk menelepon Ranti. Bukankah seharusnya ia menuju ke WARTEL untuk menggunakan fasilitas telepon umum? Kecuali warnetnya juga menyediakan fasilitas telepon. Entahlah. Ini hanya sedikit koreksi dariku sebagai pembaca. Kekurangan lain yang kudapati juga terdapat pada khayalan Genta sebagai ayah Ayuh dalam catatannya pada halaman 266-271, entah aku yang kurang imajinatif atau memang khayalan Ayuh yang ketinggian. Sebuah telaga dan sebuah rumah seorang penulis novel di tepi yang berlawanan dengan rumahnya. Itu membingungkan bagiku yang sudah terlanjur menikmati khayalan tentang rumah berloteng di tepi sungai dalam hutan dan dihuni bersama istri tercinta, seperti yang dituliskan sebelumnya.

Satu hal yang kusukai dari novel ini yaitu pesan moral bahwa seburuk apapun keadaanmu saat ini, jangan takut untuk bermimpi tinggi. Hal ini dibuktikan oleh tokoh Amang Dulalin yang meraih mimpinya setelah belasan tahun hanya memandang mimpinya melalui sebuah poster, peta, dan mengembara lewat buku-buku.

Amanat lain yang disampaikan penulis melalui novel ini adalah agar kita, seluruh lapisan masyarakat peduli dan menjaga lingkungan. Adalah kecemasan bersama jika hutan yang menjadi paru-paru kehidupan manusia rusak akibat keserakahan sebagian golongan saja. Di halaman 297-298 novel ini, terdapat kutipan syair seorang Burhanuddin Soebely, penyair asal Kandangan yang menggambarkan keresahan para pecinta lingkungan.

"Awas jangan papas hutan kami
Jangan ganggu sorga kami
Aku ada di sukma burung, di sukma gunung
Aku ada di sukma bayu, di sukma kayu
Aku ada di sukma batu, di sukma datu
Mengintai selalu!"

Sangat direkomendasikan sebelum membaca novel ini, sebaiknya membaca novel pertamanya terlebih dahulu. Agar tidak terjadi missing link. Secara keseluruhan aku memberi 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

Sunday, December 20, 2015

Home Sweet Home

Ini adalah sketsa rumah impian kami yang dibuat oleh suamiku. Dia memang senang mengutak-atik program corel dkk yang memfasilitasi desain grafis. Aku sendiri lebih senang mengutak-atik bagian dalam rancangan rumah impian kami, desain interiornya lah kalau bisa dibilang. Meski belum benar-benar punya, namun merencanakannya tetap harus dilakukan ya kan?

Denah ruangan-ruangannya pun telah kubuat di kertas coret-coret. Ruangan yang paling harus ada itu adalah perpustakaan sekaligus ruang baca. Nyiahaha, efek book addict. Untuk ukurannya sendiri, aku dan suami sepakat tidak ingin mempunyai rumah yang luas. Paling banyak terdiri 3 kamar, 1 kamar utama, 1 kamar anak laki-laki, dan 1 kamar anak perempuan.

Itu sedikit tentang home sweet homeku, bagaimana rencana rumah impian kalian para pasangan muda?



Thursday, December 17, 2015

Taman Labirin dan Kompleks Wisata Tambang Ulang

Di depan gerbang taman labirin

Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2015, aku dan suami mengunjungi Taman Labirin. Satu-satunya taman labirin yang ada di Kalimantan Selatan ini terletak di Kabupaten Tanah Laut, tepatnya di kompleks agrowisata Tambang Ulang, Pelaihari.

Menurutku area labirinnya kecil -mungkin hanya sekitar 50x50 meter persegi dengan sebuah menara di tengahnya, namun pemandangan di sekitarnya yang wow. Ada hamparan rerumputan dan dibatasi dengan barisan pegunungan yang memanjang di ujung pandangan bertepian dengan kaki langit. Lapangan ini biasanya digunakan sebagai tempat perkemahan berbagai organisasi. Beberapa kelompok pecinta alam terlihat sedang mengadakan acara, ditandai dengan tenda-tenda yang mereka dirikan. Beberapa keluarga juga tak mau kalah, mereka menghamparkan alas duduk di atas rumput dan mengeluarkan bekal sehingga aroma rekreasi amat kental di tempat ini. Jangan khawatir bagi yang tidak membawa bekal ke sini, karena ada satu kantin yang berdiri tepat di tengah-tengah area wisata.

Selfie dari atas menara di tengah-tengah labirin

Selain itu juga terdapat area peternakan sapi dan pelestarian rusa. Btw, rusanya hanya 1 ekor. Sebelumnya aku sudah pernah ke sini sekitar satu atau dua tahun yang lalu dalam rangka penelitian seorang kakak tingkat. Seingatku setidaknya ada dua ekor sapi di area ini. Entah benar atau aku yang lupa. Sebuah danau juga terdapat tak jauh dari Taman Labirin. Dilengkapi dengan beberapa pendopo untuk tempat bersantai dan berfoto, tempat ini tepat sekali dijadikan sebagai tempat rekreasi bersama keluarga atau pasangan.

Selfie di depan peternakan sapi

Secara keseluruhan, kompleks wisata Tambang Ulang ini amat indah dan memukau. Dihiasi dengan deretan pohon cemara disana-sini, area yang luasnya mencapai hektaran ini merupakan destinasi wisata yang tepat saat akhir pekan.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates