Friday, October 30, 2015

Dini

Namanya Dini, ia adalah teman sebangkuku saat kelas 1 SMA. Sekarang kita sudah hampir lulus kuliah di universitas yang berbeda namun tetap saling memberi kabar. Salah satu hal yang paling kusuka dari Dini adalah kepribadiannya yang ceria dan terbuka. Sebagai teman, Dini sangat menyenangkan ketika aku bersamanya. Kepribadiannya yang open minded membuatku nyaman meski 180 derajat berbeda denganku yang introvert.

Sembari menyeruput es jeruk yang baru saja dibawakan oleh waiter aku memandang pintu masuk, menunggu Dini yang berjanji menemuiku di kafe bandara ini. Tak perlu menunggu lama, karena aku tahu Dini akan selalu tepat waktu seperti saat SMA dulu, sosoknya muncul dari balik pintu. Kepalanya celingukan menelanjangi isi kafe, sebagai jawaban aku melambaikan tangan pada matanya. Ketika matanya dan tanganku bertemu dalam pandang, secepat kilat ia langsung menghampiri kursiku secepat jalan yang ia bisa.

"Lala!", ia menyalami dan memelukku erat

"Hei Din, ingat ini tempat umum lho", gurauku sambil membalas pelukannya.

Akhirnya setelah empat tahun yang kosong tanpa pertemuan, kami bisa bertemu kembali di kota tempat Dini menimba ilmu. Dini dengan gayanya yang tak berubah, tetap merindukan untuk tidak ditemui. Meskipun di sela-sela waktuku yang sempit di sini.

Rambutnya yang ikal bergoyang-goyang ketika ia menggelengkan kepala takjub melihat perubahan (katanya) yang terjadi padaku. Aku tambah kurus katanya, tentu saja ini berkat asupan skripsi 24 jam sehari selama setahun terakhir ini. Aku kesini pun dalam rangka untuk melengkapi data untuk hasil penelitianku.

Sebaliknya, kulihat Dini tampak lebih gemuk. Makmur sekali rupanya ia disini. Selain karena hobinya memang makan sejak SMA dulu, membuat badannya bongsor sekali untuk remaja seusianya. Ketika kami berjalan bersama, teman laki-laki kami yang usil biasanya mengoloki kami dengan julukan Duo 10. Aku 1 si cungkring dan Dini angka nol nya. Ish ish.

Tak akan ada habisnya mengobrol dengan Dini. Jika tak ingat waktu, ingin rasanya aku bertukar cerita lebih banyak dengannya. Namun, apa daya aku harus segera check in dan berangkat pulang menuju kampung halaman di seberang.

"Harusnya kamu lebih lama di sini," katanya sambil pura-pura merajuk.

Aku tersenyum, "Semoga lain waktu kita bisa bertemu lebih lama ya Din."

Selamat tinggal Dini dan sampai jumpa di kesempatan b

Thursday, October 29, 2015

Top Ten

Ini adalah sepuluh tema yang ingin aku tulis dalam waktu dekat. Baik dalam bentuk cerpen, buku nonfiksi, ataupun novel.

1. Wisata kalsel

2. Hobi yang menghasilkan uang

3. Bidadari langit dan lelaki penuh luka

4. Hidup bersama luka

5. Pengantar susu dan tanaman lidah buaya

6. Pohon musik

7. Saintis dan kisah cintanya

8. Lampu merah

9. Empat bantal

10. AG, seorang anak yang malang (based on true story)
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates