Saturday, September 26, 2015

Negeri Kabut Asap

Sudah sekitar dua minggu ini kabut asap melanda kotaku, bahkan hampir satu provinsi. Meskipun tahun-tahun sebelumnya kabut asap juga datang, namun tahun ini kabut asap paling tebal yang pernah kutemui. Hari ini saja, jarak pandang kurang dari 50 meter. Sudahlah pekat, kabutnya bau pula. Setidaknya ada 3 efek buruk dari kemunculan kabut ini. Pertama dari segi kesehatan, yang paling berbahaya adalah yang punya riwayat penyakit pernafasan. Bisa kena ISPA atau asma akut. Bahkan orang yang sehat pun merasakan sesak yang sangat di tengah kabut yang demikian tebal.

pasangmata.detik.com

Efek yang  kedua dengan berkurangnya jarak pandang, risiko kecelakaan di jalan meningkat. Menyalakan lampu utama di sepanjang jalan saat berkendara adalah hal yang wajib dilakukan. Yang terakhir, kabut asap dapat menghambat aktivitas harian. Ada beberapa sekolah yang meliburkan siswanya karena khawatir dengan kesehatan anak-anak. Di sekolahku sendiri saat awal-awal kabut asap melanda, ada banyak anak yang kambuh asmanya. Belum lagi yang pusing atau muntah. UKS jadi penuh. Sehingga beberapa hari kemudian kebijakan dari yayasan keluar yaitu memulangkan anak-anak lebih cepat dari jam normal.

Kabut asap pekat adalah tamu tahunan di musim kemarau terutama di Kalimantan dan Sumatera. Dua pulau ini merupakan pulau dengan persentase hutan yang masih banyak. Sehingga ketika kebakaran melanda di lahan hutan atau perkebunan yang luas, kabut asap yang dihasilkan pun tidak sedikit. Bahkan ada yang sampai "ekspor" ke negara tetangga.

Semoga hujan segera turun. Sudah satu bulan lebih hujan tidak turun-turun. Pray for negeriku, negeri kabut asap.

Friday, September 25, 2015

My Memorable Song

Salah satu lagu yang menghiasi masa remajaku adalah lagu berjudul Mengenangmu dari Kerispatih. Lagu ini amat memorable waktu aku SMA dulu, dari judulnya saja sudah kelihatan. Ceritanya begini, waktu SMP aku punya kelompok teman dekat, semacam geng gitu. Nah diantara temanku tersebut ada cowok yang karakternya mendekati kriteria cowok idamanku. Mau tahu apa karakter utama yang membuatku jadi kagum sama cowok? Cuek. Yup, semakin cuek cowok makin menarik pula bagiku. Nah dia ini teman cowok terakrabku waktu itu karena menurutku kita nyambung. Padahal akrabnya geng kita ini baru sekitar satu tahun waktu kelas 3 SMP aja, karena sebelumnya kita beda kelas di kelas 1 dan 2. Mungkin karena saking banyaknya kegiatan yang dilakukan bersama-sama waktu kelas 3, kita jadi banyak ngumpul dan punya banyak cerita yang susah dilupakan.

Waktu kelulusan kita sedih banget harus pisah karena beberapa masuk di SMA yang berbeda. Aku sendiri masuk SMA tanpa ada teman dari SMP. Sedih binggo. Mana aku bukan makhluk yang pandai bersosialisasi pula. Aaak. Maka terbayang-bayanglah kenangan dengan teman satu geng waktu SMP, terutama dengan teman cowok yang cuek itu. Maklumlah remaja cewek suka baper. Jatuhnya aku seperti gak bisa move on di dunia sekolah. Aku cuma berangkat sekolah, belajar di kelas, nyelinap ke perpus sewaktu-waktu, lalu pulang. Itu aja. Ga ada kegiatan having fun dengan teman sepulang sekolah atau nongkrong di kantin waktu istirahat seperti yang kulakukan waktu SMP dulu.
...
Takkan pernah habis air mataku
Bila kuingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu kuputar
Kan kutunggu dirimu
...

demarcomusic.com

Bukan tidak beralasan lagu ini menjadi lagu kenanganku. Karena waktu SMP lagu ini (beserta grup band Kerispatih) sedang hits-hitsnya dan kita juga sering menyanyikannya sehingga ketika mendengar lagu ini otomatis berasa dejavu ke masa itu. Kata "di dunia berbeda" pada lagu itu kumaknai sebagai "sekolah yang berbeda". Hiks. Beruntunglah pada tahun kedua akhirnya aku bisa move on dari nestapa "kehilangan" teman dekat. Karena pada akhirnya waktu memang obat penyembuh dari segala luka. Eaaa.

Sekarang sih kalau mendengar lagu tersebut kenangan saat SMP masih ada. Namun bagian tentang roman picisannya sudah terhapus dengan sempurna. Kalau pun diingat-ingat, itu hanya membuatku jadi malu sendiri. Hahaha

Thursday, September 24, 2015

Serba-serbi Idul Adha

Alhamdulillah, tahun ini aku diberikan kesempatan bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Adha 1436 H. Seperi Hari Raya Idul Fitri kemarin, hari ini aku juga shalat iednya di masjid kampung suami. Setelah shalat, kita makan-makan di rumah mertua. Kemudian bersilaturahmi ke beberapa rumah handai taulan yang memang sudah lama tidak berjumpa.

www.binadarma.ac.id

Menjelang jam makan siang, kita ngumpul di rumah kakek dari pihak mama. Ini kebiasaan tahunan kita karena alhamdulillah saudara-saudara mama tidak ada yang tinggal terlalu jauh dari rumah kakek sehingga lebih fleksibel ngumpulnya. Sayang, hari ini sedikit menyedihkan karena adik mama paling bungsu (usianya setahun di bawahku) sakit keras. Awalnya cuma panas biasa lalu ternyata datang keluhan sakit di bagian perut dengan berbagai gejala. Komplikasi antara maag, kembung, sakit usus, dan dismenorhae. Sebenarnya sudah lama, namun selalu ditahannya. Hari ini dia mungkin tak sanggup lagi. Akhirnya tadi dibawa ke rumah sakit, namun belum sempat bertemu dokter yang bisa menangani penyakit tersebut (dokter kandungan), sehingga tadi hanya diberi suntikan pengurang rasa sakit.

Hal kedua yang membuat hari ini kurang enak adalah tebalnya kabut asap. Setelah sempat cerah kemarin, hari ini kabut asap kembali melanda. Tidak main-main, pekatnya luar biasa. Suami saja jadi susah bernapas karenanya, mata pun perih. Kabutnya sampai masuk ke rumah euy. Kabarnya sih kabut ini berasal dari kebakaran (atau pembakaran) lahan di daerah-daerah perbukitan atau hutan tadi malam. Alamak, kacaulah negara ambo 

Namun dibandingkan yang dua itu, nikmat yang kami rasakan tentu jauh lebih banyak. Salah satunya adalah nikmat dapat berkumpul dan menjalin silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Btw, nikmat dapat daging sapi qurban juga. Tadi suami dan adik bergotong royong membuat sate ala rumahan (sekalian nyoba panggangan yang baru dibeli). Lumayanlah rasanya.

Tuh, bikin satenya pakai masker. Kabut asap mak!

Ngomong-ngomong tentang qurban, aku berazzam ingin ikut berqurban tahun depan karena tahun ini belum bisa. Selain itu, karena di tv sedang musim-musimnya diberitakan ibadah haji. Aku juga bertekad ingin melaksanakan ibadah haji di umur 30 tahun. Masih ada waktu untuk mendaftar dan mengumpulkan uangnya selama 7 tahun. Mampukan aku ya Allah! Setidaknya aku punya mimpi. Jika untuk urusan dunia saja mimpi kita harus setinggi langit, urusan akhirat jangan mau kalah dong.

Oya, aku baru melihat berita di televisi mengenai tragedi di Mina. Banyak jamaah yang tewas pada musim haji kali ini karena berdesakan untuk melempar jumrah. Ya Allah, terimalah amal ibadah mereka dan catatlah mereka sebagai syahid/ah. Aamiin.

Tuesday, September 22, 2015

Jealous Bermanfaat

Salah satu manfaat dari media sosial yang aku rasakan adalah termotivasi untuk berprestasi. Ketika seorang teman memposting keberhasilannya di bidang tertentu di media sosial, tidak jarang aku akan termotivasi untuk melakukan hal serupa bahkan jika bisa melebihinya. Bidang tersebut tentu saja yang aku juga geluti, misalnya sains, pramuka, dan dunia tulis menulis. Mungkin berawal dari jealous lalu kemudian termotivasi.

maspeb.com

Blogwalking juga merupakan salah satu hal yang membuatku termotivasi. Aku jealous banget dengan teman-teman blogger yang update postingnya rutin. Sedangkan aku masih kadang-kadang  Aku juga jealous sama teman-teman yang menang lomba ngeblog. Sekarang aku ga pernah lagi punya waktu ikutan lomba-lomba tersebut, padahal waktu kuliah dulu aku lumayan sering ikut dan beberapa diantaranya menghasilkan hadiah yang dikirim pak pos ke depan pintu kos 

Rasa jealous tersebut kemudian memotivasiku untuk bisa rutin menulis dan menghasilkan karya (lagi). Caranya tentu saja dengan manajemen waktu yang lebih baik lagi, terutama untuk menulis. Menulis itu harus disempatkan bukan dilakukan kalau sempat. Benar ndak, sahabat blogger?

Oya, baru saja aku juga melihat status adik tingkat waktu kuliah dia berkesempatan untuk presentasi bahan penelitiannya di UGM. Jealous banget! Jadi pengen daftar kuliah lagi. Semoga ada kesempatan. Btw, yang harus kulakukan agak berat kurasa karena aku harus banyak prepare untuk keperluan akademik tersebut. Mungkin itu adalah project 1-2 tahun lagi. Sambil menunggu, aku fokus kerja dulu dan menstabilkan kehidupan keluarga dulu.

Jealous bermanfaat, ada ga sih? Ada ☺

Friday, September 11, 2015

Happy Job

Salah satu dari sedikit acara yang kufavoritkan di televisi adalah Hitam Putih di Trans 7. Waktu tayangnya yang pas dengan jam makan malam keluargaku adalah faktor utama yang membuatku "sempat" menonton acara tersebut, karena kebetulan ruang makan di rumahku juga berfungsi sebagai ruang keluarga yang ada televisinya. Selain itu konten acaranya yang kebanyakan inspiratif juga membuatku enggan melewatkan setiap episodenya. Mengapa kubilang "kebanyakan", karena ya selain bintang tamu yang inspiratif kadang di Hitam Putih juga diundang bintang tamu yang entertainer. Jenis bintang tamu yang seperti ini kadang kalau memang ga ada "isi"nya, bisa aku lewatkan dengan pindah channel atau melakukan aktivitas lain dengan tujuan berleha-leha. Ya, malam memang waktunya beristirahat bagiku.

Oke, itu sekilas tentang acara Hitam Putih. Aku ingin membahas tentang episode yang baru saja kutonton (episode 10 September 2015), mengenai pekerjaan unik yang berkaitan dengan makanan. Bintang tamu yang pertama merupakan pemilik warteg kreatif yang mendisplay makanannya seperti makanan kelas atas. Kebetulan aku ketinggalan pas segmen pertama waktu dia diwawancarai jadi kurang tahu detail bagaimana caranya memulai usaha warteg kreatif ini.


Bintang tamu yang kedua adalah seorang food displayer. Jadi mbak ini membuat minatur makanan dari bahan clay, gile mirip banget sama aslinya! Awalnya dari hobi yang bikin minatur bangunan atau kendaraan, lalu beralih khusus ke food display. Harganya wow banget lo, ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu porsi display makanan. Bintang tamu yang ketiga adalah food blogger. Hobi blogger yang satu ini memang makan. Namun hobi yang kelihatannya sepele dan menyenangkan ini rupanya menghasilkan rupiah yang tidak sedikit, sekitar 30 juta rupiah per bulan. Ckck. Padahal dia masih kuliah lho. Isi blognya bercerita tentang review makanan di ratusan restoran yang pernah ia datangi. Gak main-main lho, ternyata blognya mendapat reward dari beberapa media internasional.

Aku setuju dengan apa yang Deddy Corbuzier katakan, bukan tentang makanan yang banyak menghasilkan beragam pekerjaan tapi tentang jenis pekerjaan yang unik. Jenis pekerjaan yang tidak familiar di telinga anak-anak ketika ia mulai menyebutkan beragam profesi sebagai cita-citanya bahkan bagi masyarakat umum. Yup, ada banyak cara untuk bertahan hidup (baca: mencari uang) dan yang lebih penting adalah menyenangkan sekali ketika hobi kita dapat menghidupi kita. Melakukan hobi yang dibayar menurutku adalah tingkat kesuksesan tertinggi seorang manusia, karena hal ini menciptakan rasa bahagia lahir batin. Bukan begitu?

Tuesday, September 1, 2015

Bulan Nararya

Cukup lama aku tak membaca novel. Yah kesibukan kerja dan menjadi istri membuatku lupa dengan hobi yang satu ini. Bukan lupa sebenarnya, kekurangan waktu luang lebih tepatnya.

Kali ini aku membaca novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia. Novel ini bercerita tentang dunia skizophrenia. Jarang kujumpai novel dengan tema ini. Berikut ada beberapa kutipan kalimat yang keren menurutku di novel ini.

Kau bisa saja mengatakan mencintai pasanganmu dengan sangat, tapi apakah caramu sudah cukup ahli untuk membuatnya terkesan, atau justru menjauh dan tertekan? (Halaman 57)

Adagium survival of the fittest: Bukan yang terkuat yang dapat bertahan, yang paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam. (Halaman 230)

Rezeki dan uang itu berbeda. Uang gampang dicari, yang haram aja tinggal embat. Tapi rezeki, itu yang harus diupayakan berkahnya. (Halaman 250)

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates