Wednesday, July 22, 2015

Nagara, Peradaban Tua yang Kaya

Hari ini aku berjalan-jalan sambil bersilaturahmi di daerah hulu sungai. Hulu sungai merupakan daerah di Kalimantan Selatan yang terbagi menjadi 3 kabupaten yaitu Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU). Aku sendiri tinggal di kabupaten HST, tepatnya di Kecamatan Batang Alai Utara yang ibukotanya adalah Ilung.

Sesuai rencana aku, suami, dan temannya sekeluarga menuju ke Nagara, ke rumah seorang teman suamiku. Yeaay, aku senang sekali karena memang sudah lama ingin jalan-jalan kesana. Hal yang menarik dari Nagara yang ingin aku lihat sendiri adalah budaya dan kekhasan lokasinya yang terkenal hingga ke seluruh penjuru Kalimantan Selatan. Sejak dulu aku memang senang mencari informasi mengenai daerah yang satu ini. Seorang teman kuliah yang berasal dari Nagara pun tak lepas dari rentetan pertanyaanku tentang Nagara. Nagara merupakan dataran rendah di samping sungai sehingga ketika musim hujan sering banjir. Nagara adalah "kota" yang bersejarah karena konon katanya cikal bakal Banjarmasin dan Kalimantan Selatan berawal dari sana yang dahulu bernama Nagara Dipa. Cerita ini masuk akal karena setiap peradaban biasanya berasal dari tepi sungai.

Pasar Rakyat Nagara

Nagara menurutku merupakan peradaban tersendiri, terpisah dengan kabupaten yang menaunginya yaitu HSS. Jalan masuk kesana panjang dan lurus tanpa rumah-rumah di kanan kirinya. Sekitar 30 km kemudian barulah terdapat rumah satu persatu. Karena Nagara merupakan dataran rendah bahkan sebagian adalah rawa sehingga setiap rumah yang dibangun terbuat dari kayu dan dibangun jauh tinggi di atas tanah dengan tiang yang panjang. Jenis kayu yang digunakan adalah ulin, jenis kayu yang kuat dan sekarang termasuk langka. Namun Nagara merupakan penghasil SDA yang melimpah sehingga kayu ulin cenderung mudah didapatkan disana. Bahkan atap tradisional dari kayu yang disebut "sirap" pun masih terlihat di rumah-rumah pemotongan kayu yang terletak di tepi jalan. Tidak hanya sumber daya alam seperti ulin, buah-buahan dan jenis pangan lainnya saja yang menjadi komoditas Nagara, namun juga beragam kerajinan dari gerabah, perhiasan emas, amban (cincin untuk tempat batu akik), dan banyak jenis barang lain juga diproduksi dari sana. Bahkan dulu kata nenek, semua peralatan yang ada di dapur merupakan barang "impor" dari Nagara. Warga Nagara juga pandai membuat perahu karena bentang alam yang meliputi sebagian wilayahnya adalah sungai. Sehingga transpostasi primer disana pada zaman dahulu adalah perahu. Wah wah wah, hebat yang bangsa kita. Mampu "menciptakan" barang-barang sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.

Perahu yang belum selesai dibuat oleh warga Nagara

Saking berdikarinya ada desas-desus, Nagara ingin memisahkan diri dari kab HSS, menjadi kabupaten Daha yang terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Daha Selatan, Daha Utara, Daha Timur, dan Daha Barat. Namun hingga saat ini belum terealisasi juga. Meskipun Nagara merupakan daerah yang kaya dengan SDA, namun melalui pandangan sekilas aku melihat masyarakatnya belum sejahtera dalam bidang ekonomi. Entah faktanya seperti apa. Oya ada satu yang minus dari Nagara, di semua wilayahnya yang menurutku cukup luas, tidak terdapat satupun tempat pengisian bensin atau bahan bakar lainnya. Hal ini cukup menyulitkan masyarakat di sana menurutku, karena sekarang transportasi yang paling umum digunakan adalah kendaraan bermotor yang membutuhkan bahan bakar, termasuk kelotok atau perahu sungai yang dapat berlayar hingga ke Banjarmasin.

Kubah di dalah kubah
Tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana ada beberapa, salah satunya adalah pelabuhan utama. Disini selain sebagai stasiun tempat naik penumpang kapal, juga sebagai tempat nongkrong sore-sore atau cuaca sedang bagus sambil menikmati pemandangan sungai dan kota di seberangnya. Tempat wisata yang kedua adalah mesjid jami, yang ada di tepi sungai dan di seberang pasar. Daerah dekat mesjid ini sepertinya adalah tempat teramai di Nagara. Alhamdulillah, kemarin sempat shalat zuhur disana. Oya di dalam mesjid ini ada kubah kecil lho, entah apa fungsinya. Hanya sebagai hiasan atau sebagai tempat apa, karena di bagian atasnya terdapat ruangan yang dapat dicapai dengan tangga. Kubah ini dinamakan kubah kedua, kubah pertama adalah kubah yang menjadi puncak atap masjid ini. Tempat wisata lain mungkin adalah kubah, yang disini diartikan sebagai makam para alim ulama. Cukup banyak makam yang dialihfungsikan menjadi tempat wisata oleh masyarakat. Well, ini merupakan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat. Ada beberapa makam yang sempat kulihat, yaitu makam ulama yang ada di samping masjid, kubah dingin, dan satu lagi makam yang cukup menarik yaitu makam yang berada di pinggir jalan dan di dekat jembatan.

Makam di pinggir jalan

Kubah Dingin (Aku penasaran dengan namanya)

Ketika pulang kami memutar lewat jalan belakang yang bermuara di Alabio. Alabio sendiri termasuk ke dalam kabupaten HSU yang terkenal dengan hewan itik yang berkualitas bagus. Bahkan di Alabio ada pasar khusus yang memperjual-belikan hewan yang daging dan tulangnya ini enak dimakan serta menjadi kuliner khas Amuntai. Bahkan simbol kota Amuntai -ibukota HSU, pun adalah itik sehingga ada beberapa patung hewan ikon tersebut yang dibangun di Kota Amuntai. Kemudian kami mampir sebentar di pusat kota Amuntai, yaitu di taman kota yang berada di samping sungai dan di depan pusat perbelanjaan terbesar di Amuntai. Taman kota tersebut juga dilengkapi dengan deretan warung untuk wisata kuliner. Sebelum pulang kembali ke Ilung, kami mampir lagi di rumah seorang teman suami.  Pengalaman yang cukup mengesankan untuk hari ini karena boleh dibilang kami telah berkeliling hulu sungai, HST-HSS-HSU. Aku puas dan senang. Yeayy.

Salah satu gapura Kota Amuntai

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates