Wednesday, July 29, 2015

Hari Pertama Aktif Bekerja

Dapat surat cinta dari siswa di hari pertama kerja

Meskipun sudah bekerja dari sejak satu bulan yang lalu, beberapa hari terakhir terasa sangat melelahkan. Maklum saja sejak tanggal 27 yang lalu, sekolah resmi "dibuka" kembali. Sejak hari Senin itulah energiku seolah terkuras habis jika jam pulang tiba. Bukan main-main, aku dapat "jatah" mendampingi kelas bawah yang notabene adalah kanak-kanak dan boleh dibilang mereka sedang masa aktif-aktifnya. Sebagai guru damping, mau tak mau keterlibatanku dalam kelas 50:50 bersama wali kelas.
 
Berbaris di dalam kelas

Hari ini hari ketiga tahun ajaran baru dimulai. Aku masih menyesuaikan diri dengan anak-anak dan proses pembelajaran di dalam kelas. Ada beberapa mata pelajaran, yel-yel, dan pembiasaan khas sekolah islam terpadu. Well, learning by doing lah. Beruntungnya aku, wali di kelasku tidak pelit ilmu dan tidak mendominasi. Alhamdulillah, hal ini membuat proses belajarku juga semakin mudah.

Kegiatan shalat berjamaah

Kenikmatan yang saat ini aku syukuri juga adalah aku bisa pulang lebih cepat dari yang kukira dulu. Karena jatahku adalah kelas rendah otomatis pulangnya pun bisa jam 14.30, meskipun tetap sampai ke rumahnya jam 15.30 karena menunggu anak-anak dijemput terlebih dahulu. Daripada pengajar-pengajar kelas tinggi, yang pulangnya boleh jadi sampai ke rumah jam 17.30. Alamak. Aku yang datang jam setengah empat sore saja sudah merasa sangat capek. Rutinnya sih langsung kubawa tidur, lalu bangun setengah atau satu jam kemudian baru shalat ashar dan ngemil =D

Alhamdulillah pula, kesibukanku ini diridhoi oleh suami. Makan siang baginya kini bukan masalah lagi. Karena sekarang aku selalu membuatkannya bekal untuk dimakan saat siang hari waktu istirahat kerja. Dulu hal tersebut sedikit masalah karena dia kadang jam pulangnya tidak bisa ditebak dan ingin makan siang di rumah saja karena aku standby di rumah. Sekarang alhamdulillah, risiko maagnya kambuh mulai bisa diminimalisir. Semoga sembuh total. Aamiin.

Well, begitulah "laporan singkat"ku mengenai hari-hari pertama jam aktif bekerja. Lumayan capek tapi puas sih karena pada dasarnya setiap manusia harus melakukan sesuatu sebagai eksistensi dirinya.

Wednesday, July 22, 2015

Nagara, Peradaban Tua yang Kaya

Hari ini aku berjalan-jalan sambil bersilaturahmi di daerah hulu sungai. Hulu sungai merupakan daerah di Kalimantan Selatan yang terbagi menjadi 3 kabupaten yaitu Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU). Aku sendiri tinggal di kabupaten HST, tepatnya di Kecamatan Batang Alai Utara yang ibukotanya adalah Ilung.

Sesuai rencana aku, suami, dan temannya sekeluarga menuju ke Nagara, ke rumah seorang teman suamiku. Yeaay, aku senang sekali karena memang sudah lama ingin jalan-jalan kesana. Hal yang menarik dari Nagara yang ingin aku lihat sendiri adalah budaya dan kekhasan lokasinya yang terkenal hingga ke seluruh penjuru Kalimantan Selatan. Sejak dulu aku memang senang mencari informasi mengenai daerah yang satu ini. Seorang teman kuliah yang berasal dari Nagara pun tak lepas dari rentetan pertanyaanku tentang Nagara. Nagara merupakan dataran rendah di samping sungai sehingga ketika musim hujan sering banjir. Nagara adalah "kota" yang bersejarah karena konon katanya cikal bakal Banjarmasin dan Kalimantan Selatan berawal dari sana yang dahulu bernama Nagara Dipa. Cerita ini masuk akal karena setiap peradaban biasanya berasal dari tepi sungai.

Pasar Rakyat Nagara

Nagara menurutku merupakan peradaban tersendiri, terpisah dengan kabupaten yang menaunginya yaitu HSS. Jalan masuk kesana panjang dan lurus tanpa rumah-rumah di kanan kirinya. Sekitar 30 km kemudian barulah terdapat rumah satu persatu. Karena Nagara merupakan dataran rendah bahkan sebagian adalah rawa sehingga setiap rumah yang dibangun terbuat dari kayu dan dibangun jauh tinggi di atas tanah dengan tiang yang panjang. Jenis kayu yang digunakan adalah ulin, jenis kayu yang kuat dan sekarang termasuk langka. Namun Nagara merupakan penghasil SDA yang melimpah sehingga kayu ulin cenderung mudah didapatkan disana. Bahkan atap tradisional dari kayu yang disebut "sirap" pun masih terlihat di rumah-rumah pemotongan kayu yang terletak di tepi jalan. Tidak hanya sumber daya alam seperti ulin, buah-buahan dan jenis pangan lainnya saja yang menjadi komoditas Nagara, namun juga beragam kerajinan dari gerabah, perhiasan emas, amban (cincin untuk tempat batu akik), dan banyak jenis barang lain juga diproduksi dari sana. Bahkan dulu kata nenek, semua peralatan yang ada di dapur merupakan barang "impor" dari Nagara. Warga Nagara juga pandai membuat perahu karena bentang alam yang meliputi sebagian wilayahnya adalah sungai. Sehingga transpostasi primer disana pada zaman dahulu adalah perahu. Wah wah wah, hebat yang bangsa kita. Mampu "menciptakan" barang-barang sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.

Perahu yang belum selesai dibuat oleh warga Nagara

Saking berdikarinya ada desas-desus, Nagara ingin memisahkan diri dari kab HSS, menjadi kabupaten Daha yang terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Daha Selatan, Daha Utara, Daha Timur, dan Daha Barat. Namun hingga saat ini belum terealisasi juga. Meskipun Nagara merupakan daerah yang kaya dengan SDA, namun melalui pandangan sekilas aku melihat masyarakatnya belum sejahtera dalam bidang ekonomi. Entah faktanya seperti apa. Oya ada satu yang minus dari Nagara, di semua wilayahnya yang menurutku cukup luas, tidak terdapat satupun tempat pengisian bensin atau bahan bakar lainnya. Hal ini cukup menyulitkan masyarakat di sana menurutku, karena sekarang transportasi yang paling umum digunakan adalah kendaraan bermotor yang membutuhkan bahan bakar, termasuk kelotok atau perahu sungai yang dapat berlayar hingga ke Banjarmasin.

Kubah di dalah kubah
Tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana ada beberapa, salah satunya adalah pelabuhan utama. Disini selain sebagai stasiun tempat naik penumpang kapal, juga sebagai tempat nongkrong sore-sore atau cuaca sedang bagus sambil menikmati pemandangan sungai dan kota di seberangnya. Tempat wisata yang kedua adalah mesjid jami, yang ada di tepi sungai dan di seberang pasar. Daerah dekat mesjid ini sepertinya adalah tempat teramai di Nagara. Alhamdulillah, kemarin sempat shalat zuhur disana. Oya di dalam mesjid ini ada kubah kecil lho, entah apa fungsinya. Hanya sebagai hiasan atau sebagai tempat apa, karena di bagian atasnya terdapat ruangan yang dapat dicapai dengan tangga. Kubah ini dinamakan kubah kedua, kubah pertama adalah kubah yang menjadi puncak atap masjid ini. Tempat wisata lain mungkin adalah kubah, yang disini diartikan sebagai makam para alim ulama. Cukup banyak makam yang dialihfungsikan menjadi tempat wisata oleh masyarakat. Well, ini merupakan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat. Ada beberapa makam yang sempat kulihat, yaitu makam ulama yang ada di samping masjid, kubah dingin, dan satu lagi makam yang cukup menarik yaitu makam yang berada di pinggir jalan dan di dekat jembatan.

Makam di pinggir jalan

Kubah Dingin (Aku penasaran dengan namanya)

Ketika pulang kami memutar lewat jalan belakang yang bermuara di Alabio. Alabio sendiri termasuk ke dalam kabupaten HSU yang terkenal dengan hewan itik yang berkualitas bagus. Bahkan di Alabio ada pasar khusus yang memperjual-belikan hewan yang daging dan tulangnya ini enak dimakan serta menjadi kuliner khas Amuntai. Bahkan simbol kota Amuntai -ibukota HSU, pun adalah itik sehingga ada beberapa patung hewan ikon tersebut yang dibangun di Kota Amuntai. Kemudian kami mampir sebentar di pusat kota Amuntai, yaitu di taman kota yang berada di samping sungai dan di depan pusat perbelanjaan terbesar di Amuntai. Taman kota tersebut juga dilengkapi dengan deretan warung untuk wisata kuliner. Sebelum pulang kembali ke Ilung, kami mampir lagi di rumah seorang teman suami.  Pengalaman yang cukup mengesankan untuk hari ini karena boleh dibilang kami telah berkeliling hulu sungai, HST-HSS-HSU. Aku puas dan senang. Yeayy.

Salah satu gapura Kota Amuntai

Wednesday, July 15, 2015

Kepo, Privasi, dan Gosip

Aku termasuk tipe introvert yang tidak terlalu suka jika kehidupanku dicampuri oleh orang lain. Bagiku salah satu indikator hidup nyaman adalah ketika seseorang tidak mengganggu urusan orang yang lain. Ada batas-batas tertentu jika ingin ikut campur dengan kehidupan orang lain. Nah, batas inilah yang berbeda-beda pada setiap orang. Aku menyebutnya privasi. Bagi tipe orang sepertiku, privasi itu penting sekali. Aku tak nyaman berada di lingkungan yang tidak menjunjung tinggi privasi.

Sifat ingin selalu tahu urusan orang lain (baca: kepo) tidak terbatas tempat dan waktu. Dari dulu sampai sekarang, sifat tersebut tetap eksis. Begitu pun tempat, tidak hanya di desa di kota pun sifat kepo ini menjamur. Hanya saja caranya yang berbeda. Sifat kepo ini di zaman sekarang didukung pula oleh hobi orang-orang yang mengekspos setiap kegiatan yang ia lakukan di media sosial. Hal ini memudahkan si kepo untuk "memantau" aktivitas atau update kabar dari si target. Tidak berhenti sampai disana, kabar tersebut biasanya akan menjadi menu yang sedap ketika makan siang, makan malam, atau bahkan saat ngopi sore-sore.

ask.fm

Ya intinya aku tidak menyukai sifat orang kepo dan gosip-gosip serta mengagungkan privasi. Itulah mengapa aku tidak senang bertanya-tanya pada orang meskipun status media sosial seseorang terlihat menarik. Kecuali jika yang bersangkutan meminta pendapat lewat jalur pribadi, ini oke. Ya setidaknya kita diizinkan untuk ikut campur terhadap hidupnya. Selain itu aku juga tidak senang update status terlalu sering terutama tentang kegiatanku sehari-hari. Mengapa? Tentu saja aku tak ingin hari-hariku menjadi konsumsi publik. Kecuali ada hal-hal luar biasa atau sesekali itu tak apa. 

Well, ini kembali ke sifat masing-masing orang. Tinggal memilih orang yang sesuai karakter untuk menjadi "lingkaran" kita. 

Sunday, July 12, 2015

Selamat Datang di Taman Kanak-kanak!

Masa kanak-kanakku sangat menyenangkan, ya bahkan dengan hanya secuil ingatanku saat itu. Aku terlahir di Banjarbaru, sebuah kota dimana mama dan bapa merantau setelah menikah. Sebelum adik lahir tentu saja aku menjadi ratu di keluarga kecil mereka berdua. Bahkan setelah adik terlahir pun aku merasa tak kekurangan kasih sayang dari keduanya hingga sekarang.

Usia TK pun tiba, aku disekolahkan di sebuah TK yang letaknya cukup jauh dari rumah. Setiap pagi mama mengantarku kesana dengan sepeda dan menungguku sampai pulang. Kalau bukan mama yang mengantar dan menungguiku adik mama yang melakukannya, beliau waktu itu tinggal di rumah karena membantu mama mengurus dua balita.

bsmbanjarbaru.wordpress.com

Di TK tersebut ada beberapa serpihan kenangan yang tak kulupa. Masih ada beberapa nama teman yang kuingat. Salah satunya adalah Febra, aku ingat rambutnya ikal kriwil-kriwil. Belasan tahun kemudian ketika acara himpunanku mengadakan lomba mewarna untuk TK, seorang teman seangkatan menyelutuk. TKku ikut ga ya, katanya sambil celinguk-celinguk. Emang TKmu dimana, tanyaku. Disebutkannyalah nama TK dan alamatnya. Astaga ternyata itu TKku dulu! Hei langsung kubilang kalau kita seangkatan sekarang, mungkin pula kita juga satu kelas waktu TK. Benar juga katanya, tapi dia lupa apakah pernah punya teman TK dengan namaku. Nah aku kemudian teringat dengan si Febra dulu, padahal nama teman kuliahku ini adalah Febri, laki-laki pula. Mungkinkah itu kamu, tanyaku? Bisa jadi katanya sambil mengacak-acak rambutnya yang ikal. Aku tak bisa memastikan karena tak punya foto angkatan. Ya dulu itu aku keburu pindah ke kampung halaman mama dan bapa sebelum acara perpisahan TK dilaksanakan. Hiks.

My face at 5th years old ^^

Ada pula dulu itu seorang kakak tingkat kelas B, waktu aku masih kelas A, yang sok banget. Ya ampun waktu TK aja sikap senioritas sudah eksis ya. Wajahnya sombong banget, ckck. Hal lain yang kuingat adalah perayaan ulang tahun setiap siswa ketika tanggal lahirnya di hari sekolah. Aku ingat kado yang paling sering kuberikan pada teman yang sedang berulang tahun adalah satu paket jelly yang berisi 4 cup. Aih, manis sekali kenangannya. Dulu kalau jam pelajaran olahraga, kita sering jalan-jalan ke taman kota yang memang tidak terlalu jauh lokasinya dari TK. Seragamnya kuning-hijau, masih sama dengan sekarang.

Di awal tahun 2010 ketika aku mulai kuliah aku sengaja berkunjung ke TKku tersebut. Sayang waktu itu siswa-siswanya sudah pada pulang, tinggal beberapa anak yang menunggu jemputan orang tuanya. Jadilah beberapa kali jepretan di sana mewakili kenangan yang tersisa.




Saturday, July 11, 2015

Cerita Kematian

Beberapa malam yang lalu di jalan menuju pulang ke rumah, suami bercerita tentang kematian orang-orang yang ia kenal. Mulai dari teman dekatnya yang meninggal karena sakit berkepanjangan sampai siswanya yang meninggal karena kecelakaan. Ya Allah, merinding aku mendengar cerita-cerita tersebut. Di tengah-tengah ceritanya, suami kemudian mendapat telepon. Otomatis, motor pun menepi karena dia harus mengangkat telepon tersebut. Yang agak menakutkan kita mampirnya tepat di depan kuburan kampung. Hiyyy, mana barusan dengar cerita tentang kematian. Lagipula suami ngobrol di teleponnya juga lama banget, mana sadar kalau aku sedang ketakutan di boncengan.

Kebetulan sore sebelumnya aku melihat di salah satu talkshow di TV ada artis Zhizhi Syahab yang bisa melihat makhluk halus. Katanya dia sangat ketakutan kalau lewat kuburan karena ada banyak penampakan-penampakan yang tidak bisa dilihat secara kasat mata di sana.

Selain karena tidak ingin melihat hal-hal gaib, melihat kuburan juga membuatku teringat pada kematian yang pasti datang suatu saat nanti. Ya, bukankah kematian adalah hal yang paling pasti dalam hidup kita? Hanya waktu dan caranya saja yang tidak kita ketahui. Hari ini, waktu berangkat kerja aku melewati dua rumah yang mengibarkan bendera berwana hijau melambangkan kematian. Tidak kenal dengan kedua keluarga tersebut sih. Tapi itu semakin mengingatkanku bahwa kematian itu dekat. Semoga kedua orang tersebut meninggal khusnul khatimah, setidaknya karena waktunya di bulan mulia ini. Aamiin.


Teringat ceramah seorang ustadz bahwa mereka yang sudah meninggal itu sangat menyesal karena amal-amal mereka belum banyak. Mereka menangis dan menjerit minta kembali ke dunia dan memperbanyak ibadah. Namun tentu saja tak bisa, tidak ada kesempatan kedua. Oleh karena itu, sudah saatnyalah bagi kita yang masih hidup menyadari akan pentingnya memperbanyak ibadah dan meningkatkan kualitasnya agar kita tidak menyesal seperti mayat-mayat tersebut. Semoga kita selalu istiqamah di jalan yang lurus. Aamiin.

Merry Riana

Sekitar satu bulan yang lalu aku baru menonton film Merry Riana. Suka banget sama filmnya  Pertama, karena 2 pemeran utamanya yang notabene di mataku bukan artis ecek-ecek. Alasan sukaku yang kedua yaitu motivasi dari film ini bikin semangat untuk "berbuat sesuatu" menjadi lebih besar. Jadi pengen beli bukunya yang Mimpi Sejuta Dolar itu. Soalnya kalau di film detail perjuangan Merry tidak terlalu kelihatan. Aku ingin mengetahui how to nya Merry dalam menggapai cita-cita. Biasanya sih cerita di buku lebih lengkap daripada dalam film. Mungkin ini karena durasi film yang terbatas.

Ada satu kalimat motivasi dari Alva, pasangan Merry dalam film tersebut yaitu hidup itu harus berhitung. Bukan hanya tentang uang, tapi segalanya. Perjuangan Merry yang paling berat menurutku adalah ketika dia menahan lapar hanya dengan makan roti keras. Lagipula di film ini ada bumbu konflik tentang persahabatan dan cinta, sehingga perjuangan Merry tambah terlihat berat.

Beberapa hari yang lalu aku membaca satu e-booknya Merry Riana yang berjudul Dare to Dream Big. Di bukunya ini Merry berbagi cerita bagaimana perjuangannya saat kuliah dan setelah lulus. Ya, ternyata perjuangannya tidak berhenti saat ia lulus kuliah seperti dalam film. Tapi berlanjut setelah ia lulus, bahkan lebih berat daripada saat kuliah. Berkat kegigihannya ia berhasil mendapatkan satu juta dolar pertamanya di usia 26 tahun, 4 tahun setelah ia lulus.

www.slideshare.net

Di buku tersebut ia juga memotivasi kita semua agar jangan takut bermimpi besar karena perjuangan yang berat akan menjadi lebih mudah ketika bahan bakarnya adalah mimpi yang besar. Banyak pengalaman orang-orang sukses juga menunjukkan bahwa mimpi besar merupakan langkah pertama mereka dalam mencapai tujuan.

Salut deh sama Merry Riana, selain pekerja keras dia juga tidak pelit berbagi tips suksesnya dengan orang lain. Bahkan resolusinya sebelum menginjak usia 40 tahun adalah menginspirasi satu juta orang untuk menuju kesuksesan. Ini sudah mulai dijalankannya dengan melakukan seminar-seminar motivasi dan mendirikan Merry Riana Center sebagai tempat konsultasi permasalahan bisnis dan lain-lain yang bisa ditangani oleh manajemennya. Ckck, luar biasa ya.

Friday, July 10, 2015

Satu Minggu Pra-Lebaran

Tepat dari hari ini, lebaran akan tiba seminggu lagi. Meskipun belum diadakan sidang isbat oleh Kementrian Agama, tapi banyak orang yakin Jumat minggu depan adalah tanggal 1 Syawal.

Apa yang sudah kusiapkan untuk lebaran seminggu ke depan? Biasanya sih aku melakukan beberapa hal sebagai "ritual" penyambutan lebaran. Klik postinganku yang ini ya. Yang jelas lebaran tahun ini sedikit berbeda karena aku sudah punya pendamping hidup dan keluarga baru ;). Alhamdulillah, bakal ada tambahan list rumah yang bakal dikunjungi untuk silaturahmi.

dakwahmuslimah.tumblr.com

Btw, aku baru libur kerja mulai dari Senin minggu depan. Ya, besok aku masih masuk kerja, hari terakhir. Jadi ceritanya hari Kamis kemarin, sekolah kedatangan tim assesor untuk akreditasi. Hari ini aku mengikuti rapat evaluasi akreditasi. Semua yang dibicarakan disana benar-benar baru di telingaku. Kukatakan hal tersebut ke teman yang lebih senior tapi satu angkatan waktu lolos seleksi kemarin, tentu saja sahutnya, latar belakang kuliahmu kan bukan pendidikan. Benar juga, hanya aku dan satu orang teman yang tidak tahu apa-apa seluk beluk pengajaran di kelas.  Yah tapi bukan aku namanya kalau tidak mau belajar tentang sesuatu yang baru, hari ini aku benar-benar menjadi silent reader. Sebisanya segala pemaparan ustadz/ah yang menjadi PJ setiap Standar kuserap dan kucatat. What a new world!

Tanggal 27 nanti, tahun ajaran baru dimulai. Tapi sejak tanggal 23 aku sudah harus masuk karena ada rapat kerja untuk satu tahun pelajaran. Aku harus lebih banyak belajar, tentu saja.

Kondisi di rumah juga sedang asyik-asyiknya. Alhamdulillah, Bapa dan Aif bisa pulkam lebih cepat dari biasanya sehingga waktu kumpul-kumpul kita jadi lebih lama. Ini menyenangkan :)

Berhubung satu minggu lagi lebaran akan tiba, sudah saatnya kita membersihkan jiwa dan raga dari hal-hal buruk. Lagipula, ini termasuk 10 malam terakhir Ramadhan yang berlimpah ampunan-Nya. Sehingga sudah sepatutnya kita meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Mohon maaf lahir batin ya untuk semua pembaca blog ini :)

Thursday, July 2, 2015

Kehidupan baru telah dimulai ...

Kehidupan baru benar-benar telah dimulai ...

Hari ini tepat sudah seminggu aku masuk kerja. Hah, udah masuk kerja aja? Kan masih Ramadhan, belum tahun ajaran baru lagi? Ya, semuanya benar. Aku sudah masuk kerja meski sekarang Ramadhan dan belum mulai tahun ajaran baru. Jadi ceritanya hari Rabu seminggu yang lalu aku baru balik dari Banjarbaru, membereskan legalisir ijazah dan sebagainya (meskipun ternyata sampai hari ini ada beberapa hal yang masih nyangkut disana). Hari Kamis pagi aku langsung ke sekolah tempatku diterima sebagai pengajar untuk mendapatkan pengarahan kerja (briefing), harusnya sih hari Senin sebelumnya, tapi aku dapat dispensasi karena alasanku berhalangan juga cukup penting karena ke Banjarbaru itu tadi. Ternyata eh ternyata, teman-teman yang sama-sama diterima waktu seleksi kemarin itu sudah mulai masuk dari hari Senin. Ya, jadi bukan hanya briefing, tapi juga langsung masuk kerja. Bolong 3 hari dong aku :(

Sebenarnya kata ustadzah (oya semua guru panggilannya adalah ustadz/ah) disana, kalau Ramadhan biasanya kita tidak setiap hari masuk kerja. Tapi karena tingkat SMPnya akan ada akreditasi jadi para ustadz/ahnya sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan penilaian tim assesor nanti. Kami yang anak baru ini cuma bisa bantu beres-beres ruangan, nyusun-nyusun buku di perpustakaan, atau nempel-nempel struktur dan hiasan untuk display ruangan. Lumayan juga lho beratnya, lagi puasa soalnya. Disamping itu kita kan juga sedang dalam masa adaptasi dengan lingkungan baru, terutama aku. Beda sekali perubahan lingkungannya, dari suasana kampus ke suasana sekolah dengan hawa pesantren. Hehe.

Sebagian penampakan "sekolah baru"ku

Yeah, disinilah aku sekarang dengan kehidupan baruku. Alhamdulillah, tidak sempat menjadi pengangguran. Meski kadang suka nyelutuk juga dalam hati, kok ga ada santai-santainya ya hidupku. Belum sempat puas dengan rutinitas bangun siang dan leyeh-leyeh. Astaghfirullah, manusia emang suka lupa bersyukurnya ya? Maafkan aku ya Allah.

Alhamdulillah, jam kerja di Ramadhan ini cuma beberapa jam dari 08.30-12.00. Namun jarak rumah-sekolah yang memakan waktu sampai dengan setengah jam terkadang membuat aku kelimpungan juga waktu mau berangkat dan lelah maksimal saat pulang. Bagaimana nanti ya ketika proses belajar mengajar dimulai? Fullday lho, dari jam 07.30-16.30. Semangat, Rindang! Oya, untuk jobdeskku belum tahu karena memang belum dirapatkan. Katanya sih nanti diumumkan beberapa hari sebelum masuk ba'da lebaran.

Alhamdulillah, kuucapkan syukur atas segala nikmat-Mu ya Allah. Semoga aku bisa memikul amanah ini. Lagipula meskipun terlihat berat, ini mungkin sarana belajar yang tepat bagiku. Karena jujur aja kalau ga ada faktor "pemaksa" seperti rutinitas dan lingkungan yang inshaallah baik seperti ini aku mungkin akan malas belajar dan mengembangkan diri, terutama di bidang agama.

So, kehidupan baruku telah benar-benar dimulai sejak tanggal 25 Juni 2015 yang lalu. Kehidupan yang sesungguhnya. Keep spirit, ustadzah Rindang ^^

unikonselor.blogspot.com

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates