Monday, June 22, 2015

Perpisahan

Layaknya hukum alam, setelah pertemuan pasti ada perpisahan. Aku sedang berada di titik kedua ini. Setelah hampir 5 tahun menjalani masa kuliah di Kota Banjarbaru, akhirnya aku harus pulang ke kampung halaman, Kota Barabai.

Ada banyak hal yang tertinggal menjadi kenangan selama berada disini. Terlebih di Banjarbarulah aku sebenarnya lahir, meskipun yang tertulis di ijazah tempat lahirku adalah Barabai. Kenangan yang paling manis tentang Banjarbaru adalah orang-orangnya, terutama teman-teman kuliah dan para dosen. Beberapa orang diantaranya melekat sangat kuat di ingatan karena interaksiku yang intens dengan mereka. Sebut saja 3 sahabatku, berempat kami mencetuskan "geng persaudaraan" bernama Elite Square. Boleh dibilang kita dekat sejak semester awal, tepatnya semester 2 ketika kita sama-sama 'pecah' dengan geng sebelumnya. Selain itu ada juga orang-orang yang berperan dalam proses pengerjaan skripsiku. Karena masa pengerjaan skripsiku cukup lama jika dibandingkan teman-teman seangkatan, 2 tahun bro sist. Sehingga siapa pun yang terlibat di dalamnya merasa seperti keluarga. Yang paling berperan tentu saja dosen pembimbing dan partnerku setim.

Tim Mikro

Teman-teman di organisasi juga merupakan orang-orang yang tidak bisa kulupakan kehadiran mereka dalam jejak pendek kehidupanku di sini. Ada FLP, Himpunan Mahasiswa Biologi "Apidae", dan Divisi Sastra Science goes to Opera. Ada pula lingkaran saudara seiman dalam grup liqo. Well mereka merupakan cerminan muslimah-muslimah hebat yang pernah kukenal, terutama para murabbi. Anak-anak yang satu kost denganku di Asrama 37 juga adalah salah satu dari orang-orang yang sering kutemui di Banjarbaru. Bagaimana tidak, kita hidup satu atap. Boleh dibilang, mereka saudaraku selama ada di sini.

Anak Asrama 37

Selain orang-orangnya, Banjarbaru juga menyisakan kenangan tentang tempat-tempat yang sering kukunjungi terutama kampus, laboratorium, perpustakaan daerah, lapangan Murjani (tempat berbagai event besar diadakan), taman hutan raya Mandiangin (tempat perkemahan paling jamak se-Banjarbaru), pasar, warung makan langganan, kantor pos, rumah murabbi, dan lain-lain. Rekaman tentang jalan-jalan yang terdapat di Banjarbaru pun menjadi salah satu bentuk kenangan yang manis ketika perpisahan itu tiba.

Sejak resmi dinyatakan lulus 18 Mei lalu dan mengikuti acara wisuda tanggal 16 Juni lalu, sejak itu pula boleh dikatakan aku sudah pindah alamat. Hari minggu kemarin, sebagian besar barang-barangku sudah dibawa pulang ke rumah. Aku masih tinggal disini untuk beberapa hari ke depan, menunggu selesainya legalisir ijazah.

My Bestiest, minus Maria

Satu persatu acara perpisahan dengan orang-orang disini terlaksana. Dengan 3 sahabatku sebenarnya sudah lama waktu mereka lulus Februari kemarin. Tapi besok 3 diantara kami ingin meet up sekali lagi sebelum aku benar-benar pulkam. Dengan keluarga besar himpunan dan jurusan kemarin diadakan acara buka bersama sekaligus farewell day bagi yang baru sarjana. Tim skripsiku, kami menyebutnya Tim Mikro(biologi), rencananya akan berbuka bersama besok dengan dosen dan teknisi laboratorium mikrobiologi. Saudara-saudara akhwat di halaqah juga jam 10 besok pagi akan mengadakan acara say good bye buatku. Dan sore ini, aku mengadakan buka bersama dengan anak-anak kost, kebetulan sebagian besar masih belum pulkam.

Alhamdulillah untuk segala pertemuan yang terjadi. Semoga keberkahan menyertai jalanku dan orang-orang yang pernah mengitariku. Perpisahan bukan waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal atau selamat jalan, tapi saat yang tepat untuk berkata "sampai jumpa lagi".

Farewell Day

PS: Foto-foto ditambahkan setelah acara dilaksanakan

Friday, June 19, 2015

Seeking for Job

Alhamdulillah, hari ini tadi aku mendapat kabar bahwa aku diterima menjadi pengajar di sebuah yayasan Islam setelah melewati rangkaian seleksi beberapa waktu yang lalu. Senang sekali mendengarnya, tentu saja. Di hari ketiga pasca wisuda aku sudah mendapatkan pekerjaan pertamaku.

Untuk freshgraduate sepertiku, mencari pekerjaan memang merupakan prioritas kegiatan. Aku beruntung sudah mendapatkannya. Teman-teman yang lain bahkan yang sudah terlebih dahulu wisuda, masih ada yang belum bekerja. Mendapatkan pekerjaan pasca kuliah biasanya merupakan impian setiap mahasiswa, sebagian yang lain mungkin ingin meneruskan kuliah atau menikah (bagi perempuan). Titel sebagai pekerja sepertinya merupakan harga mati agar ketika bertemu dosen atau teman kuliah enak menjawab pertanyaan setipe, "kamu kerja dimana?".

Istilah seeking for job pun muncul. Para sarjana baru mulai menyebar lamaran ke beberapa perusahaan atau instansi impian. Ketika jawaban berupa penolakan mulai berdatangan, idealis mulai bergeser. Tidak apalah bekerja di tempat yang bukan menjadi incaran semasa kuliah, asal mendapat pekerjaan. Akhirnya ada banyak pekerja yang bekerja tidak sesuai bidang dan passionnya. That is fact. Bagiku sendiri, ini bukan masalah besar asal si pekerja tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya apapun itu.

www.canstockphoto.com

Sebagai contoh, ada banyak kakak tingkat di jurusanku yang akhirnya bekerja di bank. Mana hubungannya coba urusan keuangan dan biologi? Tapi toh banyak dari mereka yang bertahan dan menikmati pekerjaan sebagai bankir. Aku sendiri sebenarnya tidak berharap menjadi guru. Meskipun sebelumnya juga mengambil kerjaan part time sebagai tentor bimbingan belajar dan guru les privat. Kata teman-teman dan orang di sekitar, aku berbakat dalam mengajar. Tapi aku lebih tahu diriku, aku yang perfeksionis sebenarnya tidak cocok menjadi pengajar. Berhadapan dengan banyak siswa yang karakter yang berbeda merupakan suatu tantangan tersendiri bagiku. Aku sebenarnya lebih senang bekerja di laboratorium atau di depan laptop, yeah bekerja dengan benda-benda mati membuatku leluasa menentukan target dan kemungkinan besar bisa mencapainya. Tapi tak apalah pekerjaan pertama sebagai pengajar juga mungkin bukan hal yang buruk bagiku, semoga bagus sebagai batu loncatan di karirku. Hehe.

Untuk para calon freshgradute yang bermimpi mendapatkan pekerjaan cepat setelah lulus kuliah, aku punya sedikit tips disini. Mengapa hanya untuk para calon, bukan freshgraduatenya. Karena sudah terlambat mempraktikkannya kalau terlanjur lulus, predikat pengangguran mungkin akan melekat pada dirimu selama beberapa waktu. Check it guys!

1. Bangun link seluas mungkin saat berkuliah. Pengalaman pribadi nih, berbagai kesempatan (bukan hanya pekerjaan) seringkali datang dari orang-orang di sekitar meskipun tidak dekat.

2. Ikut organisasi di kampus ataupun di luar kampus. Ini penting banget untuk mengasah softskillmu dalam menghadapi masalah dan berinteraksi dengan berbagai karakter manusia. Ada banyak manfaat dari organisasi, diantaranya adalah menambah linkmu dengan orang-orang baru.

3. Targetkan pekerjaan impian. Mulai cari info mengenai instansi atau perusahaan yang ingin kamu masuki. Persiapkan diri untuk membangun bisnis impian juga boleh mulai saat ini bagi kamu yang ingin berwiraswasta.

4. Bekali diri dengan pengalaman kerja. Meskipun hanya pekerjaan part time, pengalaman sebagai pekerja biasanya merupakan nilai plus bagi dirimu di mata calon stakeholder.

5. Sebarkan lamaran pekerjaan secepat mungkin setelah yudisium, bahkan jika memungkinkan sebar lamaran setelah sidang skripsimu selesai. Hal ini juga berguna untuk mengisi waktu panjang selama menunggu acara wisuda dilaksanakan.

Well, itu tadi sharingku mengenai seeking for job. Semoga bermanfaat ya.

Wednesday, June 17, 2015

Marhaban ya Ramadhan

Alhamdulillah bertemu dengan Ramadhan lagi. Sekarang baru sekitar 2 jam masuk di bulan yang mulia ini. Ya Allah terima kasih banyak atas anugerah usia yang Kau berikan sehingga aku masih berkesempatan bertemu Ramadhan.

ipmasad.blogspot.com

Hari pertama rencananya kuhabiskan di rumah orang tua suami. Ini lagi menunggu suami dan mertua tarawih. Kebetulan aku sedang haid jadi tidak bisa ikut shalat isya dan tarawih berjamaah di mushala depan rumah suami. Yeah, ini Ramadhan pertamaku bersama suami. Kebahagiaan lain yang kurasakan, kemarin aku wisuda. Masih terasa perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga ke Banjarmasin, ditemani suami juga tentunya. Alhamdulillah sempat bertemu teman-teman juga meskipun sebentar.

Resolusiku Ramadhan kali ini adalah memperbanyak ibadah dan membaktikan diri pada suami. Oya, selain itu juga mau konsisten nulis lagi. Aamiin. Huss jauh-jauh sana rasa malas =D

Resolusi selanjutnya aku bersiap menyongsong kehidupan yang baru pasca wisuda. Alhamdulillah kemarin berkesempatan ikut seleksi pengajar di sebuah yayasan sekolah islam terpadu. Tinggal nunggu pengumuman. Semoga lolos. Selain itu aku juga ingin mempersiapkan diri untuk ikut tes CPNS bulan Juli nanti.

Segitu dulu ya share ceritaku di awal Ramadhan ini. Semoga momen Ramadhan tahun ini membuat pribadi kita menjadi lebih baik. Aamiin.

Thursday, June 11, 2015

Angry Attack

Kemarin aku marah sama mama karena ada hal yang kita tak sepaham. Seperti biasa, kalau marah aku hanya diam, boikot bicara sama mama. Dan seperti biasa juga, setiap aku marah, meskipun yang salah itu adalah orang lain, ada perasaan menyesal diiringi oleh perasaan sesak tak tenang. Kemarin setelah shalat maghrib aku menangis sesegukan sambil bercerita pada suamiku kalau tadi siang aku marahan sama mama. Alhamdulillah, sekarang sudah baikan.

Kadar emosiku dari dulu memang tinggi, mudah tersulut. Hanya beberapa tahun terakhir ini saja ketika sudah banyak belajar tentang pengendalian emosi, angry attackku mulai berkurang. Dulu aku sering sekali ngambek sama mama. Hiks. Begitulah, sampai akhirnya penyesalan datang di akhir kemarahan. Dengan adik juga dulu aku sering cekcok mulut.

Sekarang aku sudah "panjang napas". Sering menghela napas kalau ada masalah, tidak langsung menanggapi kalau tersulut emosi. Karena aku sadar efek dari kemarahanku tersebut merugikan. Satu, menyakiti hati orang yang bersangkutan. Dua, hatiku jadi tak tenang. Apalagi beberapa hari yang lalu aku mendengar kisah teladan dari ustadzah Oki Setiana Dewi di sebuah acara tv, bahwa marahnya orang-orang bijaksana itu berkelas.

www.mirajnews.com

Contohnya ketika sayyidina Ali RA marah saat ia hampir menghunuskan pedangnya ke musuh Islam, ia diludahi oleh sang musuh tersebut. Apa yang dilakukan oleh sayyidina Ali kemudian? Kalau seperti aku yang orang biasa ini mungkin akan bertambah marah dan langsung membunuh musuh tersebut. Namun sayyidina Ali segera mengurungkan niatnya untuk membunuh, ia simpan pedangnya dan meninggalkan musuhnya yang bingung bercampur senang karena nyawanya batal tercabut. Apa yang ada di benak sayyidina Ali? Ternyata ia tidak ingin kemarahannya karena diludahi oleh sang musuh tersebut menjadi alasan ia membunuh musuh Allah. Bukan lagi karena ia marah dengan musuh tersebut yang memerangi agama Allah. Subhanallah.

Satu cara yang ampuh untuk meredakan atau mengendalikan rasa marahku adalah dengan mengingat bahwa musuh kita yang nyata, yaitu syaitannirajim, sangat bersuka cita ketika dia berhasil membuat seorang manusia marah dengan manusia lainnya.

Semoga kita selalu bisa mengendalikan amarah kita. Aamiin.

Wednesday, June 10, 2015

Menemukan Pola

Cukup lama aku vakum dalam mengisi blog ini. Menulis pun begitu. Awalnya dulu bisa setiap hari posting tulisan, lalu mengendur jadi 3 sampai 4 hari 1 tulisan, kemudian molor hingga 1 minggu sekali. Sekarang sudah hampir 1 bulan aku tidak update blog. Aih, maafkan aku ;(

Briliaagung.com

Aku mungkin boleh saja beralasan vakumku dikarenakan perubahan status dari mahasiswa kos-an dengan aktivitas utama kampus-lab yang terjadwal menjadi ibu rumah tangga dengan aktivitas utama mengurus rumah dan ikut kegiatan PKK yang jadwalnya masih belum teratur. Perubahan status yang cukup jauh ini menyebabkanku sedikit memerlukan penyesuaian dari sisi psikologis, jam biologis, bahkan perilaku. Mengenai jam biologis ini yang menurutku sekarang bermasalah. Dulu aku masih bisa menyisihkan waktu untuk menulis setiap malam sebelum tidur. Sekarang jangankan menulis, mendapatkan me time saja susah. Selalu ada yang harus dikerjakan, pekerjaan seolah datang silih berganti. Benar ya kata orang, jadi IRT itu adalah karir utama seorang wanita (harusnya). 

Faktanya ketika waktu tidur menjelang, yang ada hanya ngantuk sehingga cepat sekali terbuai dalam mimpi. Mana sempat nulis. Belum lagi kalau masalah jaringan internet. Jangan tanya bagaimana senangnya aku kalau ada kesempatan "keluar kampung", entah karena ada keperluan apa, lumayan bisa nengok sosial mediaku yang terpaksa nganggur kalau lagi di rumah. Hiks. Jadilah ketika sinyal internet berlimpah ruah, aku hanya sibuk dengan sosial media. Blog tak tertengok, macam rumah tak berpenghuni je.

Namun terlepas dari berbagai alasan di atas. Aku tak mau terlena. Mimpi tetaplah mimpi jika tak ada action, bukan? Sekarang, keadaan mulai stabil. Lebih tepatnya aku yang menyesuaikan diri dengan keadaan agar lebih stabil. Aku mulai mengatur pola menulisku lagi. Sebenarnya ada banyak pola yang ingin kuatur dan kuterapkan. Tapi paling tidak, untuk yang pertama kali ini cukuplah menulis dulu. Semoga bisa. Aamiin.

Menemukan pola untuk membiasakan diri melakukan aktivitas apapun memang sulit, namun bukan berarti tak bisa. Ketika pola sudah terbentuk, maka proses selanjutnya lebih mudah. Kita hanya perlu mengikuti pola yang sudah kita bentuk atau temukan tersebut. Trust me ^^
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates