Tuesday, May 12, 2015

Plus Minus Tinggal di Desa

Well, setelah perjuangan 5 tahun kuliah, akhirnya aku kembali ke rumah lagi. Meskipun sebenarnya dalam 5 tahun itu tak berarti tak pernah pulang, tapi rasanya beda antara liburan dan benar-benar kembali menetap di rumah.

Setelah sidang skripsi kemarin, kesibukanku di kampus otomatis berkurang. Jadilah aku memutuskan untuk pulang agak lama, selain karena memang ingin mengurus pembuatan KTP. Baru 3 hari di rumah, sudah terasa aroma kehidupan di kampung. Yah maksudku situasi kehidupan di kampung yang statis mulai terasa. Kehidupanku sendiri di sini sedikit membosankan kalau tidak ada hajatan apa-apa. Apalagi sinyal sekarat kalau sampai rumah. Berasa terisolir banget dah.

Pintu gerbang masuk ke desaku

Tapi bukan aku namanya kalau tak bisa menikmati hidup ;) Ada banyak whislist yang telah kutulis sejak awal-awal penulisan skripsi dulu. Sehingga nantinya tak ada kata bosan kalau harus ngendon di rumah sebelum masuk kerja. Sekarang karena masih mobile rumah-kost jadi barang-barangku masih bersebaran di 2 tempat tersebut, sehingga cukup menyulitkan untuk melaksanakan misi. Hehe. Nantilah kalau pasca wisuda, tentu lebih mantap aku berkreasinya.

Plus minus tinggal di kampung itu pasti ada. Plusnya, suasana tenang dan kemana-kemana ada keluarga jadi berasa gak hidup sendiri. Lagipula kehidupan di kampung itu ramai, orang-orang suka berkelompok kalau sudah selesai urusan mencari nafkah. Minusnya ya itu tadi, kehidupan di desa itu statis. Sinyal juga jelek, sehingga arus informasi terbatas. Boro-boro mau sosmed-an, sinyal untuk telpon saja kadang putus-putus. Akses terhadap beberapa kebutuhan juga susah, kampungku lumayan jauh dari kecamatan apalagi kota kabupaten.

Yeah tapi secara keseluruhan aku senang tinggal di desa. Sesuai dengan karakterku yang introvert dan tidak menyukai hiruk pikuk kota.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates