Wednesday, May 20, 2015

Catatan Hati Ibu Bahagia

Buku ini berisi tentang catatan-catatan penulis mengenai kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Beragam tema dibahas oleh Leyla Hana, penulis yang juga kukenal sebagai emak-emak blogger. Mulai dari dilema seorang ibu pekerja, pengalaman menjadi ibu baru, serba-serbi mengenai asisten rumah tangga, serba-serbi pasangan jiwa, keresahan tentang buah hati, kesejatian seorang ibu meskipun anaknya telah pula menjadi ibu, hingga tentang perbaikan diri sebagai pribadi di mata-Nya.

Judul : Catatan Hati Bahagia
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Jendela
Tahun terbit : 2012

Ada beberapa tulisan yang menohok dan itu kubenarkan dalam hati. Pertama tentang dilema seorang ibu pekerja. Pada halaman 51 di buku ini tertulis pertanyaan yang tajam sekali. Bekerja itu untuk apa, mencari uang atau gengsi? Dua, tentang susahnya mendidik anak perempuan di dunia yang tak lagi "ramah" ini. Berbagai kasus yang banyak sekali bertebaran di layar kaca menunjukkan bahwa banyak dari korban kejahatan adalah perempuan. Jika salah mendidik, bahkan anak perempuan itulah yang jika dewasa menjadi sebab segala kejahatan. Ya Allah, jauhkanlah kami dan keturunan kami dari godaan setan yang terkutuk. 

Ketiga, tentang betapa banyak sekali sekarang ini orang yang menjadikan ibunya seperti pembantu. Sudahlah dari kecil hingga dewasa diurus, setelah menikah pun sang ibu "disuruh" untuk mengasuh cucu. Sang nenek tak kuasa menolak karena rasa sayang tak terhingga untuk anak dan cucunya. Penulis memberikan jalan tengah agar kita tidak menjadikan ibu laksana asisten rumah tangga. Semoga aku pun bisa memperlakukan ibuku semulia mungkin. Semoga aku tak membebani beliau di masa tuanya kelak. Jikapun pada akhirnya ia ingin mengasuh cucu, kuizinkan hanya untuk memenuhi rasa memiliki dan bahagianya saja, bukan untuk memanfaatkan tenaganya.

Jenis buku seperti buku ini adalah buku yang kusuka, yaitu buku yang ditulis based on writers experience. Sehingga ilmu dan informasi yang kubaca tidak hanya berupa teori tapi juga telah "teruji" di kehidupan penulis itu sendiri. Bukankah pepatah terkenal mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, bukan hanya pengalaman yang kita alami sendiri tapi juga dari pengalaman orang lain. Kita tidak harus merasakan sakitnya kejedot tembok dulu baru tahu kalau itu ternyata sakit, kan? Hanya melihat dan mendengar dari pengalaman orang lain pun cukup. Oleh karena itu aku tidak pernah merasa rugi untuk membeli dan membaca jenis buku seperti ini. Oya salah satu buku dengan tipe seperti ini adalah buku-buku travelingnya Trinity.


Pada akhirnya dari buku ini aku mendapat banyak renungan yang dalam. Kontemplasi. Lebih dari itu, aku pun ingin menulis jenis tulisan seperti pada buku ini. Tulisan yang sederhana namun menginspirasi.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates