Wednesday, May 20, 2015

Karang dan Melati

Novel ini sedih sekali. Membuat mataku sembab dan akhirnya bengkak setelah bangun pagi. Tidak perlu menunggu esok hari untuk menyelesaikan novel setebal 306 halaman ini. Ceritanya yang memikat membiusku sejak bada maghrib hingga tengah malam. Kemalangan para tokoh dan pemahaman atas hidup yang dirasa tak adil membuatku tak kuasa menutup katup saluran air mataku hingga merembes berkali-kali dan membuat tisu berantakan di sekitar "singgasana"ku.


Cerita ini berawal dari tiga doa yang melingkar berpilin di angkasa pada suatu malam. Tiga doa itu milik Bunda HK, Kinasih, dan seorang ibu-ibu gendut tertuju untuk dua orang yang menjadi tokoh utama novel ini; Karang dan Melati. Sejak tiga doa tersebut terjawab dengan anggukan-Nya, kisah ini membawa Karang untuk menemui Melati. Satu minggu berlalu tanpa hasil yang diharapkan dari pertemuan itu. Hingga akhirnya Tuan HK yang tak senang dengan kehadiran Karang yang kasar dan pemabuk di rumahnya, mengusir Karang. Ketika Tuan HK harus pergi ke Jerman selama 3 minggu, kesempatan kedua itu datang. Namun setelah 19 hari terlewati, kemajuan tak nampak di mata Karang. Sisa 2 hari lagi peluit panjang akhir dari permainan akan berbunyi. Karang benar-benar stress bagaimana seharusnya "menghadapi" Melati. Stress sempurna tercipta ketika peluit itu berbunyi prematur. Di hari ke-20, Tuan HK hadir di tengah-tengah sarapan yang menyenangkan. Alih-alih membuat orang lain terkejut dengan kedatangannya, ia yang kaget dengan kehadiran Karang di tengah keluarga yang ia sayang. Perang pun pecah. Ruah. Hingga keajaiban itu datang.

Judul : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2006

Di akhir buku ini, penulis menambahkan catatan bahwa buku ini terinspirasi oleh kisah hidup Hellen Keller, seorang penderita buta, tuli, dan sekaligus bisu yang melakukan banyak hal positif dalam hidupnya. Seperti yang penulis katakan dalam buku ini, kisah hidup Keller seharusnya membuat kita yang "sempurna" ini malu dan berpikir untuk membuat lebih banyak "keajaiban" bagi dunia. Hiks.

Melalui Karang dan Melati, Tere Liye berhasil menggambarkan bahwa Tuhan itu sangat adil. Jika kita merasa bahwa Ia tak adil, maka kitalah sebenarnya yang bebal dalam mencerna kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Buku ini juga menyisipkan pesan betapa keinginan yang kuat itu dapat mengubah segalanya. Terutama jika keinginan itu positif, berubah ke arah yang lebih baik. Maka Tuhan pun akan menggerakkan semesta untuk mendukung perubahan tersebut.

Kekurangan buku ini menurutku ada pada judulnya. Tidak mencerminkan keseluruhan isinya, apalagi doa ini hanya tertulis di akhir cerita. Judul yang semacam ini juga bisa ditemui pada novel Tere Liye yang berjudul Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Tapi pada novel tersebut, cerita tentang betapa sang tokoh utama amat mengagumi rembulan tersebar di beberapa bab sehingga masih sesuai dengan kesimpulan di akhir cerita bahwa ternyata Rey, si tokoh ternyata menyapa Tuhannya melalui rembulan. Sedangkan pada novel ini kurasa fokus ceritanya bukan pada Bunda HK yang menjadi judul ini, tapi pada Melati dan tentu saja Karang. Ah Karang, aku kagum dengan kemampuan "merasakan"mu.

Mari Menggapai Mimpi!

Judul : Menggapai Mimpi
Penulis : Herlina P. Dewi, Reni Erina, dkk
Penerbit : Stiletto Book
Tahun terbit : 2012

Aku mendapatkan buku ini dari seorang teman blogger yang memilih aku sebagai pemenang dalam give away yang ia adakan. Sama sekali tidak rugi mendapatkan buku ini, setelah selesai membacanya aku merasakan semangat yang berkobar-kobar untuk menggapai list impianku.

Buku ini merupakan buku antologi yang berisi 20 pengalaman dari masing-masing kontributor. Ada yang bercerita tentang bagaimana membangun tempat bimbingan belajar, ada yang berjuang bagaimana susahnya mencapai gelar Drg. karena berasal dari keluarga pas-pasan, ada pula yang berjuang bagaimana menjadi seorang penulis yang akhirnya bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor, bahkan ada cerita tentang bagaimana perjalanannya membuat sebuah usaha penerbitan! Benar-benar menginspirasi.

Bahkan cerita "sepele" seperti mengumpulkan 64 seri komik detektif Conan pun ada di buku ini. Yeah, mungkin mimpi kita terdengar kecil di mata orang lain. Namun bagi kita yang memang benar-benar menginginkannya, kita tak akan pernah terganggu hanya karena pandangan orang lain tentang mimpi kita. Karena ada banyak tantangan untuk menggapai impian yang lebih pantas untuk diladeni selain cibiran para "pekerja mulut".


Buku yang berjumlah 209 halaman ini merupakan salah satu buku dari Seri  A Cup of Tea yang diterbitkan oleh Stiletto Book. Ada 2 cerita yang menjadi favoritku dalam buku ini yaitu cerita yang berjudul "Let's Be A Mompreneur" dan "Adikku dan Impiannya".


Catatan Hati Ibu Bahagia

Buku ini berisi tentang catatan-catatan penulis mengenai kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Beragam tema dibahas oleh Leyla Hana, penulis yang juga kukenal sebagai emak-emak blogger. Mulai dari dilema seorang ibu pekerja, pengalaman menjadi ibu baru, serba-serbi mengenai asisten rumah tangga, serba-serbi pasangan jiwa, keresahan tentang buah hati, kesejatian seorang ibu meskipun anaknya telah pula menjadi ibu, hingga tentang perbaikan diri sebagai pribadi di mata-Nya.

Judul : Catatan Hati Bahagia
Penulis : Leyla Hana
Penerbit : Jendela
Tahun terbit : 2012

Ada beberapa tulisan yang menohok dan itu kubenarkan dalam hati. Pertama tentang dilema seorang ibu pekerja. Pada halaman 51 di buku ini tertulis pertanyaan yang tajam sekali. Bekerja itu untuk apa, mencari uang atau gengsi? Dua, tentang susahnya mendidik anak perempuan di dunia yang tak lagi "ramah" ini. Berbagai kasus yang banyak sekali bertebaran di layar kaca menunjukkan bahwa banyak dari korban kejahatan adalah perempuan. Jika salah mendidik, bahkan anak perempuan itulah yang jika dewasa menjadi sebab segala kejahatan. Ya Allah, jauhkanlah kami dan keturunan kami dari godaan setan yang terkutuk. 

Ketiga, tentang betapa banyak sekali sekarang ini orang yang menjadikan ibunya seperti pembantu. Sudahlah dari kecil hingga dewasa diurus, setelah menikah pun sang ibu "disuruh" untuk mengasuh cucu. Sang nenek tak kuasa menolak karena rasa sayang tak terhingga untuk anak dan cucunya. Penulis memberikan jalan tengah agar kita tidak menjadikan ibu laksana asisten rumah tangga. Semoga aku pun bisa memperlakukan ibuku semulia mungkin. Semoga aku tak membebani beliau di masa tuanya kelak. Jikapun pada akhirnya ia ingin mengasuh cucu, kuizinkan hanya untuk memenuhi rasa memiliki dan bahagianya saja, bukan untuk memanfaatkan tenaganya.

Jenis buku seperti buku ini adalah buku yang kusuka, yaitu buku yang ditulis based on writers experience. Sehingga ilmu dan informasi yang kubaca tidak hanya berupa teori tapi juga telah "teruji" di kehidupan penulis itu sendiri. Bukankah pepatah terkenal mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, bukan hanya pengalaman yang kita alami sendiri tapi juga dari pengalaman orang lain. Kita tidak harus merasakan sakitnya kejedot tembok dulu baru tahu kalau itu ternyata sakit, kan? Hanya melihat dan mendengar dari pengalaman orang lain pun cukup. Oleh karena itu aku tidak pernah merasa rugi untuk membeli dan membaca jenis buku seperti ini. Oya salah satu buku dengan tipe seperti ini adalah buku-buku travelingnya Trinity.


Pada akhirnya dari buku ini aku mendapat banyak renungan yang dalam. Kontemplasi. Lebih dari itu, aku pun ingin menulis jenis tulisan seperti pada buku ini. Tulisan yang sederhana namun menginspirasi.

Felix Wants to be Rich #1 dan #2

Judul : Felix Wants to be Rich #1 & #2
Penulis : Nikolaus Piper & Song Dong Geum
Penerbit : Bentang Belia
Tahun terbit : 2013

Genre buku ini adalah ekonomi. Ralat, ini bukan buku tapi komik. Yup, genrenya adalah komik ekonomi untuk anak-anak. Mengapa aku rela "menghabiskan waktu" untuk membaca komik anak-anak, tema ekonomi pula. Pertama, aku tidak suka teori ekonomi yang njelimet sehingga komik ekonomi dengan tokoh anak-anak ini dapat membuatku belajar sekaligus terhibur. Kedua, karena aku mulai tertarik dengan bisnis tentu saja pengetahuan tentang ekonomi dan peristilahannya yang terdapat dalam buku ini harus kuketahui. Ketiga, buku ini merupakan investasi yang bagus untuk anak-anakku kelak sehingga mereka tidak buta bisnis seperti ibunya ini.

Komik ini sebenarnya terdiri dari 4 seri. Tapi aku hanya membeli dan membaca 2 seri pertama saja, karena kulihat pembahasannya semakin rumit dan tidak (atau belum?) relevan dengan kondisi bisnisku sekarang. Seri 1 dan 2 membahas tentang uang dan investasi. Sedangkan seri 3 dan 4 membahas tentang uang, inflasi, ekspor, dan impor. Dalam komik ini sebenarnya juga ada "kolom pelajaran"nya yang memuat penjelasan mengenai hal-hal yang diceritakan dalam komik. Itupun pada beberapa bagian masih ada yang kulewati, karena penjelasannya yang cukup panjang dan rumit. Hehe.

Komik ini pada awalnya adalah sebuah buku yang ditulis oleh Nikolaus Piper, seorang ekonom dari AS. Song Dong Geun, seorang ilustrator dari Korea kemudian mengubahnya menjadi sebuah komik yang ditujukan untuk anak-anak agar mereka lebih tertarik untuk mengetahui perekonomian dunia.

Tokoh utama dalam komik ini tentu saja bernama Felix, Felix Blum tepatnya. Temannya bernama Peter Walser. Bersama Janna Jampiere, mereka mendirikan sebuah "perusahaan" yang mereka beri nama Heinzelkids yang memiliki proyek "menjadi orang kaya". Yeah, mereka melakukan berbagai usaha untuk mengumpulkan uang. Mulai dari mengantarkan roti, memotong rumput, sampai membuka peternakan ayam. Wah-wah. Keren sekali yak. Anak-anak memang perlu membaca buku ini. Agar mereka terinspirasi dan tidak hanya memikirkan untuk menghabiskan waktu dengan bermain-main.

Monday, May 18, 2015

Penyewa Kamar Misterius

Judul : Sherlock Holmes, Si Penyewa Kamar Misterius
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit : Narasi
Tahun terbit : 2010

Apa jadinya bila pemilik kamar sewa tak pernah melihat wajah penyewa kamarnya? Nyonya Merrilow dari South Brixton mengalami hal tersebut. Tujuh tahun lamanya ia tak pernah melihat wajah Nyonya Ronders, si penyewa kamar, karena selalu ditutup-tutupi. Ketika melihatnya pada suatu waktu, ia begitu terkejut. Wajah Nyonya Ronders begitu menakutkan. Oleh karena itulah, ia memanggil detektif kondang kita, Sherlock Holmes, untuk menanganinya. Dengan metode-metode hebatnya misteri tentang siapa sebenarnya Nyonya Ronders berhasil terkuak.
***

Itu adalah sinopsis dari Si Penyewa Kamar Misterius, salah satu cerita dari tiga cerita yang ada di dalam buku ini. Dua cerita lainnya berjudul Vampire dari Sussex dan Misteri Patung Napoleon. Entah ini buku Sherlock Holmes yang keberapa yang pernah kubaca. Kesanku selalu sama untuk setiap ceritanya, amazing! Pemecahan masalah yang dilakukan Holmes selalu diluar dugaan.

Membaca judul buku ini sebenarnya membuatku parno duluan, takut jika ternyata cerita ini melibatkan hal-hal yang mengerikan. Apalagi judul cerita kedua yang langsung menunjuk pada salah satu makhluk mitos mengerikan di dunia. Namun setelah dibaca, tidak semengerikan itu kok.

Karena buku ini cukup tipis yaitu 112 halaman untuk 3 cerita, sehingga tidak butuh waktu lama untuk melahap buku ini. Lumayan untuk meregangkan otak bagi kita para Sherlockian ^^

Review Bianglala Cinta Lima Jomblo


Judul : Bianglala Cinta 
            Lima Jomblo
Penulis : Tasaro
Penerbit : Syaamil
Tahun terbit : 2005
Buku ini bercerita tentang lima jomblowan yang tinggal dalam satu rumah kontrakan bernomor 335 di Jalan Dago, Bandung. Tidak, mereka bukan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kembang. Tapi benar-benar pemuda tanpa pasangan yang sedang mencari rezeki di sana. Adalah Guyudasa seorang komedian, Laa Tahzan si pemilik toko buku, Sibijeh Mato seorang kolumnis surat kabar, Garudeya si pebisnis MLM, dan Benua seorang pengisi suara film atau drama terjemahan.

Setiap malam minggu, mereka berlima punya acara apel yang luar biasa. Yup, meskipun jomblo mereka juga tidak mau kalah dengan tidak merayakan malam minggu. Tapi, sabtu malam mereka berbeda dengan jomblo ngenes atau pemuda pacaran yang ngakunya asik. Mereka tidak keluyuran, mereka ada di Dago 335 melakukan ritual rahasia yang mereka nikmati bersama.

Beberapa kejadian belakangan mengacaukan ritual tersebut. Mulai dari Guyu yang sedang kebingungan karena kehadiran perempuan misterius di meja nomor 13 kafe tempat dia manggung. Garu yang mulai menghilang dalam waktu yang lama dan bahkan mengunci pintu kamarnya, padahal sebelumnya tidak pernah. Laa Tahzan ikut pusing ketika Benua memutuskan untuk minta dicarikan perempuan dan menikah! Sampai Sibi yang akhir-akhir ini sering mendapat email aneh dari salah seorang pembacanya.

Tidak perlu menyediakan otak yang jenius untuk membaca buku dengan tebal 240 halaman ini. Cukup seduh kata-katanya dan nikmati dengan neuron syarafmu.

Thursday, May 14, 2015

Prakarya dari Barang Bekas

Di sekolah, suamiku selain mengajar Bahasa Inggris, dia juga mengajarkan mata pelajaran prakarya (entah apa nama formalnya). Boleh dibilang, dia memang punya jiwa seni sehingga tidak salah-salah amat kalau mengampu mata pelajaran ini. Berikut adalah barang-barang hasil kerajinan dari barang bekas yang berhasil dibuat oleh murid-muridnya.

Sepeda dari koran bekas
Miniatur sekolah dari kardus bekas

Miniatur sekolah view dari atas

Ini dia nih pembuatnya

Sandal dari kardus bekas yang dibungkus kertas kado

Tuesday, May 12, 2015

Plus Minus Tinggal di Desa

Well, setelah perjuangan 5 tahun kuliah, akhirnya aku kembali ke rumah lagi. Meskipun sebenarnya dalam 5 tahun itu tak berarti tak pernah pulang, tapi rasanya beda antara liburan dan benar-benar kembali menetap di rumah.

Setelah sidang skripsi kemarin, kesibukanku di kampus otomatis berkurang. Jadilah aku memutuskan untuk pulang agak lama, selain karena memang ingin mengurus pembuatan KTP. Baru 3 hari di rumah, sudah terasa aroma kehidupan di kampung. Yah maksudku situasi kehidupan di kampung yang statis mulai terasa. Kehidupanku sendiri di sini sedikit membosankan kalau tidak ada hajatan apa-apa. Apalagi sinyal sekarat kalau sampai rumah. Berasa terisolir banget dah.

Pintu gerbang masuk ke desaku

Tapi bukan aku namanya kalau tak bisa menikmati hidup ;) Ada banyak whislist yang telah kutulis sejak awal-awal penulisan skripsi dulu. Sehingga nantinya tak ada kata bosan kalau harus ngendon di rumah sebelum masuk kerja. Sekarang karena masih mobile rumah-kost jadi barang-barangku masih bersebaran di 2 tempat tersebut, sehingga cukup menyulitkan untuk melaksanakan misi. Hehe. Nantilah kalau pasca wisuda, tentu lebih mantap aku berkreasinya.

Plus minus tinggal di kampung itu pasti ada. Plusnya, suasana tenang dan kemana-kemana ada keluarga jadi berasa gak hidup sendiri. Lagipula kehidupan di kampung itu ramai, orang-orang suka berkelompok kalau sudah selesai urusan mencari nafkah. Minusnya ya itu tadi, kehidupan di desa itu statis. Sinyal juga jelek, sehingga arus informasi terbatas. Boro-boro mau sosmed-an, sinyal untuk telpon saja kadang putus-putus. Akses terhadap beberapa kebutuhan juga susah, kampungku lumayan jauh dari kecamatan apalagi kota kabupaten.

Yeah tapi secara keseluruhan aku senang tinggal di desa. Sesuai dengan karakterku yang introvert dan tidak menyukai hiruk pikuk kota.

Tuesday, May 5, 2015

Haul Guru Sekumpul ke-10

Well, mungkin ini latepost karena sebenarnya acara yang kuceritakan ini telah berlangsung lebih dari 1 minggu yang lalu. Tepatnya pada hari Minggu, tanggal 26 April 2015. Tahun ini merupakan haulan yang ke-10. Aku masih ingat 10 tahun yang lalu ketika Guru Sekumpul meninggal, aku masih kelas 2 SMP. Tanggal hari itu pun aku masih ingat, 10 Oktober 2005 karena bertepatan dengan tanggal lahir salah satu temanku.

Gambaran jalan raya yang macet menjelang haul
Menyaksikan sendiri bagaimana ramainya perayaan haul Guru Sekumpul berbeda dengan hanya mendengar dari cerita orang lain. Berhubung selama hampir 5 tahun aku di Banjarbaru, aku tak pernah sekalipun ikut acara ini dan kupikir karena tahun ini aku terakhir di Banjarbaru, jadi aku memutuskan untuk ikut.

Bersama dua orang sepupuku, aku pun berangkat bada ashar sore Minggu padahal acaranya baru mulai setelah Maghrib. Kami berangkat cepat karena menurut pengalaman orang-orang tahun sebelumnya jalan bakal macet banget dan tentu saja kemungkinan duduk dekat kubah (makam) guru sekumpul sangat tipis. Benar saja, meski sekitar 3 jam lagi acara baru mulai, kami sudah melewati antrian kendaraan yang panjang. Parkiran kami capai susah payah, itu pun berjarak jauh sekali dari kubah. Mungkin sekitar 7 km.


Ada banyak orang yang rela duduk di tanah (becek) beralas koran

Demi niat dapat tempat yang strategis dan dekat dengan kubah kami berjalan dengan semangat meskipun berbanjir peluh. Selip sana selip sini. Masuk gang ini, masuk gang itu. Akhirnya seluruh tempat semakin penuh dan orang-orang mulai membentangkan sajadah yang dialasi koran di teras-teras dan bahkan di atas aspal jalan. Ketika pada akhirnya mentok, aku dan 2 sepupu kemudian duduk di teras rumah orang. Beruntung kami masih muat.

Foto dari tempat dudukku di teras rumah orang

Setelah shalat maghrib berjamaah, acara haulan dimulai. Berbagai macam bacaan dilantunkan, shalawat nabi, dan doa-doa untuk Guru Sekumpul serta seluruh umat muslim dipanjatkan. Segelintir orang berpendapat mengenai hukum haul ini. Aku yang memang kurang paham pada bagian itu menyimpulkan bahwa haul ulama-ulama besar seperti ini merupakan bidah hasanah. Wallahualam.

Penampakan bagian dalam makam yang tidak dibuka untuk umum

Ternyata setelah rangkaian doa selesai dibacakan, semua jamaah dapat konsumsi lho. Alhamdulillah. Lumayan nasi kotak isi daging plus 1 gelas air mineral. Aku membayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai konsumsi beratus ribu jamaah yang datang dari berbagai pelosok Kalimantan ini. Mbak-mbak di sebelahku mengaku datang dari Kintap, sebuah kecamatan kecil kabupaten Batu Licin di ujung Kalsel. Pun jamaah dari luar Kalsel seperti Samarinda, tak terhitung berapa banyak bus yang mengangkut para jamaah tersebut. Subhanallah.

Dua putra Guru Sekumpul yang memimpin haul
Ketika di jalan pulang, macet benar-benar total. Ini bukan karena panitia yang tak becus tapi memang karena benar-benar membludaknya jumlah orang dan kendaraan  yang ada. Bahkan jalan pulang kita sudah melewati jalur alternatif yang diatur panitia, tetap saja kayak siput. Aku menghitung kami menghabiskan waktu dijalan selama 45 menit waktu pulang. Padahal normalnya hanya sekitar 15 menit. Tapi aku harus mengacungkan jempol untuk para panitia, kerja keras mereka luar biasa. Tanpa mereka jalanan mungkin akan jauh lebih semrawut.


Penampakan dengan foto udara saat haul berlangsung. (Sumber: Facebook)

Sunday, May 3, 2015

Thanks to ...

Alhamdulillah, akhirnya minggu-minggu yang berat telah berlalu. Sejak hari ini semuanya terasa lebih ringan. Aku tidak akan bercerita detail tentang peperangan yang terjadi Rabu lalu. Namun yang jelas hasilnya memuaskan 80% dan itu membuatku cukup lega.

Satu minggu ke depan mungkin masih ada beberapa berkas yang harus dipenuhi serta tentu saja revisi akhir naskah pun masih harus kulakukan saat ini. Tapi tentu saja itu tak berarti apa-apa dibandingkan beban beberapa bulan ke belakang. Setelah ini aku tinggal menunggu celebration saja. Sembari menunggu, ada banyak hal yang ingin kulakukan. Listnya sudah menumpuk di kepala.

Beberapa diantaranya adalah aku ingin rutin ngeblog lagi, menulis buku lagi, fokus jualan buku, dan tentu saja menghabiskan waktu semaksimal mungkin dengan my hubby. Ada banyak hal yang kukorbankan untuk mata kuliah 6 sks ini, kini saatnya membayar lubang-lubang kesempatan yang dulu kutinggalkan karena terpaksa.

Sebagai pelengkap kebebasanku kemarin waktu weekend aku menghabiskan waktu di bumi perkemahan bersama teman-teman dalam rangka ospek angkatan muda di jurusanku. Moment yang luar biasa! Di saat-saat seperti ini, aku berhasil merenung ada banyak sekali nikmat Tuhan yang kudapatkan. Thanks to Allah :*

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates