Wednesday, March 11, 2015

Kapuas


Salah satu tugu di bundaran Kapuas

Hari ini aku berkesempatan untuk berkeliling kota Kapuas. Temanku bilang aku terlalu berlebihan senangnya, wong Kapuas hanya sebuah kota kecil. Bagiku yang berjiwa traveling, jalan-jalan ke kota kecil sekali pun merupakan hiburan tersendiri. Setidaknya aku jadi tahu dan melihat lebih banyak tentang kota tersebut.

Kota Kapuas adalah ibukota kabupaten Kuala Kapuas, sebuah kabupaten di ujung provinsi Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dijuluki sebagai Kota Air ini merupakan kota tempat tinggal sahabatku yang sekarang mengurus kepindahannya ke Banjarbaru. Untuk itulah aku diajaknya kesana hari ini. Menemaninya mengurus berkas-berkas dan setelah itu tentu saja dia membawaku berkeliling kota yang kurasa luas area perkotaannya kurang lebih sama dengan Barabai, kota tempat tinggalku sekarang. Jauh lebih kecil memang kalau dibandingkan dengan Banjarbaru.

Disebut Kota Air, karena Kapuas di lewati oleh sebuah sungai besar yaitu Sungai Barito. Menuju ke kotanya pun, aku harus naik fery penyeberangan selama kurang lebih 5-10 menit. Sekarang sudah dibangun jembatan penghubung di atas sungai besar tersebut, namun jika lewat sana maka akan membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam karena jalan menuju jembatan sedikit memutar.


Ikon pariwisata di Kota Kapuas sepertinya adalah taman di samping sungai yang juga dekat dengan dermaga. Selain itu juga terdapat kafe yang berada di atas kapal serta guesthouse dengan bentuk unik menyerupai rumah adat di tepi sungai. Di trotoar sekitar sana tentu saja dipenuhi oleh pedagang makanan yang menawarkan berbagai jenis cemilan dan minuman.

Meskipun hanya sebentar, perjalananku ke Kota Kapuas hari ini sangat berkesan. Selain menapaktilasi kehidupan sahabatku yang tumbuh di kota tersebut, aku benar-benar mendapatkan something new. Well, apapun cerita yang disampaikan oleh sahabat tentu membekas di hati kita. Aku juga senang bisa shalat di masjid agungnya kota Kapuas dan tentu saja makan siang dengan menu ayam bakar di rumah makan dekat lampu merah perempatan tak sempurna (istilah yang terakhir aku yang buat).

Karena waktunya yang terbatas dan ketika sesi jalan-jalan cuaca lagi gerimis jadilah tidak banyak foto yang bisa diambil. Tapi dengan sedikit foto yang kudapat, aku sudah cukup puas. Lagipula, cerita tak semuanya bisa diabadikan lewat foto bukan? Cukuplah kepingan pengalaman di otakku tentang kota tersebut yang menjadi memori pengingat bahwa aku pernah kesana.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates