Saturday, March 28, 2015

Ada Apa dengan Sabtu Terakhir Bulan Maret?

Ya, ada apa dengan hari Sabtu terakhir di bulan Maret? Ada Earth Hour! Earth hour sendiri adalah gerakan mematikan listrik selama 1 jam, dari jam 20.30 sampai dengan 21.30. Harapan dengan adanya gerakan ini, akan mengurangi pemakaian energi listrik pada waktu beban puncak. Meski hanya satu jam, tapi kalau 1 miliar rumah di bumi yang melaksanakan earth hour kan berpengaruh juga.


Pesan yang disebarkan gerakan ini yaitu mulai dari 1 jam menjadi gaya hidup. Yup, diharapkan tidak hanya satu jam saat moment earth hour saja kita mematikan listrik, tapi juga selanjutnya kita bisa bijak menggunakan energi listrik jika tidak terpakai. Selain listrik, di moment sayang bumi ini juga digembor-gemborkan untuk mengurangi pemakaian kantong plastik dengan cara selalu membawa tottebag. Kemasan plastik juga perlu dihindari, bagi para pengusaha mungkin bisa berpikir kreatif untuk mengemas produknya dengan bahan yang ramah lingkungan. Bahan yang mencemari bumi dan susah terurai diantaranya adalah plastik dan styrofoam, sehingga yok mulai dari diri sendiri untuk mengurangi penggunaannya.

Hari ini kebetulan di daerahku, Kota Banjarbaru terjadi pemadaman listrik dari jam 9 pagi sampai 4 sore. Berasa udah earth hour aja, hehe. Berasa sekali kalau kita memerlukan listrik karena ada banyak kegiatan yang didukung oleh sumber energi yang satu ini. Nah tidak ingin kan listrik kita terbuang sia-sia sedang kita sangat butuh dan energinya tidak dapat diperbaharui? Mari kita hemat listrik mulai sekarang. Matikan lampu dan peralatan listrik yang tidak terpakai, terutama pada waktu beban puncak yaitu dari jam 5 sore sampai 12 malam.

Sekarang pukul 20.16 di kamarku. Siap-siap berteman dengan gelap ahh...


Friday, March 27, 2015

Mari Menulis dan Berkeliling Museum!

My ID Card
Hari Minggu yang lalu tanggal 21 Maret 2015, aku menemani siswa dari Sekolah Menulis Pena Cahaya kunjungan ke Museum Lambung Mangkurat. Sang cik gu, mbak Nurul Asmayani, berhalangan sehingga diwakilkan padaku. Kunjungan ini dilakukan sebagai sesi terakhir dari kelas menulis khusus anak di Sekolah Pena Cahaya. Hanya ada 4 anak yang datang, yang lain tidak bisa ikut.

Saat itu hujan deras jam 10 pagi, waktu berkumpul yang telah ditentukan. Sebelum itu aku sudah standby di depan gerbang museum. Setelah semua anak datang, kita pun masuk setelah membayar karcis 1.500 rupiah untuk setiap anak dan 2000 rupiah khusus aku yang dikategorikan sebagai orang dewasa.

Jelajah museum

Pertama-tama aku mengumpulkan mereka semua dulu, memberi pengarahan tentang apa yang dilakukan, dan membantu meletakkan tas mereka di loker. Selanjutnya, kita berkeliling museum. Adik-adik ini terkadang bertanya padaku apa ini apa itu mengenai benda-benda yang terpajang di etalase museum. Berasa jadi guide. Hehe. Padahal waktu kutanya, mereka semua sudah pernah ke museum ini sebelumnya. Begitulah anak-anak, rasa ingin tahu mereka besar meski telah melihat lebih dari sekali. Ada satu anak laki-laki di rombonganku ini, namanya Husin. Dia tampak risih menjadi satu-satunya anak laki-laki di antara anak perempuan dan aku. Jadilah dia sering memisahkan diri dari rombongan. Karena dia sudah besar dibandingkan anak yang lain (kelas 6), sehingga aku tidak terlalu khawatir dia sering menghilang dari rombongan.

Pose dulu sambil nunggu anak-anak nulis

Setelah kedua ruangan utama, lantai bawah dan atas kami jelajahi, inilah saatnya menulis! Ya, sebelumnya adik-adik juga sudah dibrief tentang ini sehingga mereka sudah siap dengan alat tulis mereka. Tema cerita yang harus ditulis tentu saja tentang kunjungan ke museum. Lucu-lucu pose mereka saat menulis. Hehe.

Dua sahabat dengan gaya menulis masing-masing

Husin semangat sekali nulisnya sambil berdiri

Aduh, mau nulis apa ya?

Najma nulisnya menyendiri, malu dilihat ya?

Setelah kurang lebih setengah jam mereka akhirnya mengumpulkan tulisan mereka. Agenda terakhir dari acara ini adalah bertukar kado. Yup, karena ini juga merupakan pertemuan terakhir dari kelas menulis di Pena Cahaya sehingga mereka diharapkan saling memberi kenang-kenangan berupa kado yang saling ditukar. Ada satu kado yang paling diincar oleh ketiga anak lain selain si pemilik kado karena sudah ketahuan isinya adalah buku cerita anak. Namun karena sistem tukar kadonya acak, jadi tidak bisa dipilih sekehendak hati. Akhirnya semua anak mendapatkan kado dari temannya.

Kumpulan kado
Anak-anak dan kado yang didapatnya

Setelah foto bersama, acara hari itu pun selesai. Orang tua masing-masing anak pun sudah siap menjemput mereka. Aku cukup senang bisa mendampingi mereka berkeliling museum dan writing on the spot. Lumayan mengisi hari minggu yang kosong.


Foto bareng anak-anak



Thursday, March 26, 2015

Autumn Changes My Heart

Judul : Autumn Changes My Heart
Penulis : Rin Akizakura
Penerbit : PING!!!
Tahun terbit : 2013
Novel yang berjudul Autumn Changes My Heart ini berlatar negara Jepang dan budayanya. Tema yang diangkat tidak terlalu berat, sesuai dengan genre novelnya yaitu Japanese Teenlit. Namun cerita tentang si tokoh utama yang bernama Rin Aoki sebenarnya cukup berat. Hanya saja karena dibahas dari sudut pandang remaja, sehingga tidak terlalu terasa. Kehilangan seorang ibu bagi seorang remaja bukanlah hal yang mudah.

Boleh dibilang novel ini merupakan novel tanpa konflik karena sepanjang cerita datar saja meskipun terdapat emosi naik turun dari para tokohnya. Latar belakang Jepang membuat novel ini memiliki nilai plus di mataku. Namun dengan semua istilah Jepang yang terdapat di dalamnya, tak urung membuatku bingung juga. Harus sering melihat glosarium yang beruntungnya diletakkan di bagian awal buku. Point of view oleh banyak tokoh juga cukup memusingkanku. Belum lagi nama Jepangnya yang mirip-mirip itu.

Well, bagaimana pun novel ini cukup menghibur. Cukup untuk bacaan sekali duduk. Meskipun ending yang diisi oleh epilog tidak benar-benar menutup cerita ini menurutku. Karena scene tersebut hanyalah ulangan dari beberapa sebelumnya. 

Ada qoute yang bisa kucatat dari novel ini.

Kesedihan biasanya diciptakan oleh kesendirian dan sebaliknya kebahagiaan dapat diciptakan bersama-sama.

Misteri Apartemen Lantai 7

Judul : Apartemen Lantai 7
Penulis : V. Lestari
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2007
Aaahh, senang akhirnya aku bisa membaca novel misteri lagi. Sejak SMP dulu, "makanan"ku memang novel-novel misteri. Sekarang saja yang jarang karena aku lebih banyak membaca buku non-fiksi atau kalau pun fiksi bukan genre misteri. Buku ini kutemukan di rak perpustakaan kampus cabang. Morfologinya sudah tidak fresh lagi. Namun ketika membaca judul dan blurb di cover belakangnya, aku tertarik untuk membacanya.

Nyatanya, isi novel ini ternyata memang memuaskan rasa dahagaku terhadap novel misteri. Setting tempat dan suasana yang Indonesia banget juga membuatku senang, karena biasanya aku membaca novel misteri terjemahan. By the way, aku kok baru ngeh ya ada penulis sehebat V. Lestari? Di bagian belakang buku juga tidak ada biodata penulis. Membuat aku penasaran saja.

Secara umum novel ini bercerita tentang pembunuhan seorang pembantu di lantai 7 sebuah apartemen. Dengan kronologis yang lumayan mengerikan menurutku, tragedi tersebut membuatku penasaran dengan pelaku dan bagaimana caranya melakukan kejahatan tersebut. Tidak butuh waktu lama, aku bisa dengan cepat "melahap" seluruh isi novel ini. Kebetulan saat membaca novel ini, tubuhku sedang kurang fit. Jadi bed restku ditemani oleh novel ini.

Sang pelaku yang ternyata sangat tidak terduga membuatku geleng-geleng kepala sekaligus bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia berpikir dan melakukan hal sejahat itu? Ada 3 tokoh "detektif" di novel ini, yaitu Barata, Nadia, dan Robin. Dengan latar belakang, yang kataku Indonesia banget tadi, aku merasa 3 karakter ini pas dan tidak dibuat-buat oleh penulis.

Dalam novel ini juga ada bagian mistiknya. Yah meskipun pada awalnya sebutan Setan Item hanya untuk menggambarkan pelaku, tapi juga ada hal-hal lain yang tidak bisa dilogikakan. Seperti "tamparan" pada tangan Evita saat ingin membuka pintu, lalu hadirnya burung gagak di penglihatan Barata, dan juga cerita Agung tentang teman-temannya saat koma. Teman-temannya tersebut adalah anak Evita dan Barata yang sudah meninggal.

Well secara keseluruhan, novel ini cukup menghibur. Aku jadi ketagihan pengen baca novel misteri made in Indonesia.

Saturday, March 21, 2015

Ketinggalan Kereta

Hari ini aku tersadarkan oleh seorang teman yang bertanya tanggal berapa wisuda. Aku mengecek jadwal yudisium dari kampus, ternyata wisuda untuk yudisium II yang inshaallah akan kuikuti dijadwalkan tanggal 22 Juni 2015. Tepat 3 bulan dari hari ini. Ayeye. Tentu saja bagiku 3 bulan dari total waktu yang kugunakan untuk menunggu (dan mengusahakan) hari itu tiba terasa sebentar saja lagi. Aku pun bisa mengatakan, akhirnya...

Meskipun sebenarnya perjalananku belum usai. Masih ada satu langkah lagi yang harus aku ambil. Sidang akhir skripsi. Maha dari segala ujian mahasiswa S1. Aku harus mengikat kepala kencang-kencang untuk menghadapi ini (sudah dari awal skripsi kalee, hehe). Sekarang sih masih proses revisi-revisi gitu. Plus aku sedang memaksa diriku untuk lebih banyak belajar. Karena di sidang akhir waktunya ujian komprehensif ilmu dari semester 1. Huhu.

Kilas balik perjalanan skripsiku yang luar biasa (Menurutku sih ya, kalian yang sekedar melihat atau mendengar ceritanya mungkin tidak merasa selebay aku. Hehe). Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyelesaikan mata kuliah 6 sks pamungkas syarat sarjana ini. Bayangkan saja aku berusaha sangat maksimal saat kuliah dan berhasil selalu mengambil SKS penuh tiap semester. Bahkan sejak semester 7 aku sudah mulai menggarap skripsi karena kuliahku hanya beberapa mata kuliah saja lagi, yang lain sudah kubabat habis di semester-semester sebelumnya.  Well, sekarang aku sudah semester 10 dengan 6 sks skripsi setia menemani.

Aku senang menganalogikan perjalanan skripsiku ini dengan perjalanan menuju kereta. Aku bekerja keras mengumpulkan koin untuk ditukarkan dengan tiket kereta. Berkat kerja kerasku aku bisa mendapatkan jumlah yang kutargetkan dengan cepat. Selanjutnya aku pun bergegas berangkat dari rumah menuju stasiun, naik bus, dan berdesakan dengan banyak orang ketika sampai di stasiun. Sayangnya, antrian untuk membeli tiket keretanya sangat panjang. Sangat sangat sangat panjang. Aku perlu menunggu dua tahun untuk menukar uang yang kuperoleh dengan tiket yang akan membuatku berhak duduk di kursi kereta yang membawaku ke perjalanan selanjutnya.

Yah, disinilah aku sekarang sedang menunggu antrian mendapatkan tiket kereta. Aku pernah oleng, merasa tak sanggup lagi berdiri dan melanjutkan maju menuju loket pembelian tiket. Tapi nyatanya aku masih berada di sini, bertahan. Terima kasih untuk semua pihak yang mendukungku.

flasmaweb.blogspot.com

Bukan hal yang mudah ketika aku dihadapkan pada fakta bahwa target kelulusanku selalu delay. Aku yang waktu itu masih sangat bersemangat menargetkan mampu lulus awal tahun 2014. Nyatanya, 4 kali targetku meleset. Tidak mungkin aku merasa baik-baik saja. Namun, tak semua kesedihan harus diumbar bukan?

Apalagi saat mengetahui bahwa awal tahun kemarin, 3 sahabat dekatku wisuda. Sedih. Sejak awal menjalin persahabatan dengan mereka, aku sudah membayangkan kita akan merayakan acara pelepasan bersama-sama, memegang trofi kelulusan dalam frame foto yang sama, menerima ijazah dan mengenakan toga di waktu dan tempat yang sama. Ah, sayangnya hal itu tidak dapat terjadi. Foto kami berempat terlihat ganjil dengan aku tanpa make up, trofi kelulusan, dan map berisi surat pernyataan lulus. Sekali lagi, ini mungkin terdengar lebay bagi yang tidak merasakannya sendiri.

Pertanyaan mengapa aku belum lulus pun menjadi begitu akrab satu tahun terakhir ini. Aku sudah terbiasa menjawabnya dengan senyuman. Hanya pertanyaan dari satu orang yang menggelisahkanku, dari mama. Meskipun pertanyaannya sama dengan yang lain, tapi jlebb nya di hati itu beda. Mungkin mama sudah tak sabar melihat anaknya diwisuda, begitu pikirku. Tentu saja aku tak bisa menjawabnya dengan hanya sekedar senyum, kujelaskanlah dengan pelan dan sesederhana mungkin apa yang menjadi rintangan kelulusanku selama ini agar beliau tahu keadaanku dan dapat mengerti posisiku. Bukankah wajar jika orang tua ingin tahu tentang perkembangan studi anaknya?

Ada banyak hikmah yang bisa kuambil dari sepotong episode akhir kuliahku ini. Bahwa manusia hanya dapat berencana, Tuhan yang menentukan. Bahwa mungkin aku memang belum selayak teman-teman yang sudah menyandang gelar di akhir nama mereka. Bahwa mungkin aku perlu ditempa lebih keras untuk kehidupan yang lebih baik. Bahwa orang-orang yang sayang padaku akan tetap mendukungku saat aku berada di titik terendah. Bahwa aku lebih banyak diberi waktu (sampai bosan) untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Kembali, aku disini sekarang sedang mengantri tiket naik kereta. Mungkin aku telah melewatkan banyak kereta yang telah berangkat, tapi bukankah selalu ada kereta selanjutnya yang bersedia membawamu ke tempat tujuan?

Jurus-jurus Menghasilkan Uang dari Blog

Judul: Jurus-jurus GoBlog
Penulis : Team Cyber
Penerbit : HP Cyber Community
Tahun terbit : 2010

Setiap blogger profesional tentu berharap dapat menghasilkan uang dari blognya dalam jangka panjang. Nah buku ini adalah buku yang wajib dibaca jika kamu pun berpikir demikian. Dalam buku ini dibahas cara-cara membuat blog, mempercantik blog, mengolah blog, promosi blog, menghasilkan uang dari blog, dll.

Pembahasan setiap poin tersebut singkat dan padat serta disertai screen capture tutorialnya. Pokoknya buku mini berisi 120 halaman sangat bergizi dikonsumsi oleh para blogger. Nilai plus yang lain adalah buku ini juga dilengkapi dengan VCD tutorial. Meskipun terbit 5 tahun yang lalu, setelah menyelesaikan membaca buku ini menurutku cara-cara di dalam buku ini sebagian besar masih relevan dengan masa sekarang. Karena boleh dibilang, blog merupakan sosial media sepanjang zaman.

Friday, March 20, 2015

Gift Wrapping Rumah Buku Shady

Kabar gembira!

Kamu lagi bingung mau ngasih kado apa ke orang tersayang (ortu/ saudara/ sahabat/ pasangan/ tetangga) di hari spesial (ulang tahun/pernikahan/kelahiran)?

Kasih buku aja! Bermanfaat dan tak lekang dimakan waktu. Rumah Buku Shady kini menyediakan jasa gift wrapping. Hanya dengan 3 ribu rupiah diluar harga buku, kamu sudah mendapatkan bingkisan cantik untuk orang spesial. Fasilitas: kertas kado dan kartu ucapan.

Kamu tinggal pilih jenis bukunya sesuai selera orang kesayanganmu di Rumah Buku Shady. Chat 7C9D6FED untuk order kado cantik sekarang juga :)

Wednesday, March 11, 2015

Kapuas


Salah satu tugu di bundaran Kapuas

Hari ini aku berkesempatan untuk berkeliling kota Kapuas. Temanku bilang aku terlalu berlebihan senangnya, wong Kapuas hanya sebuah kota kecil. Bagiku yang berjiwa traveling, jalan-jalan ke kota kecil sekali pun merupakan hiburan tersendiri. Setidaknya aku jadi tahu dan melihat lebih banyak tentang kota tersebut.

Kota Kapuas adalah ibukota kabupaten Kuala Kapuas, sebuah kabupaten di ujung provinsi Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dijuluki sebagai Kota Air ini merupakan kota tempat tinggal sahabatku yang sekarang mengurus kepindahannya ke Banjarbaru. Untuk itulah aku diajaknya kesana hari ini. Menemaninya mengurus berkas-berkas dan setelah itu tentu saja dia membawaku berkeliling kota yang kurasa luas area perkotaannya kurang lebih sama dengan Barabai, kota tempat tinggalku sekarang. Jauh lebih kecil memang kalau dibandingkan dengan Banjarbaru.

Disebut Kota Air, karena Kapuas di lewati oleh sebuah sungai besar yaitu Sungai Barito. Menuju ke kotanya pun, aku harus naik fery penyeberangan selama kurang lebih 5-10 menit. Sekarang sudah dibangun jembatan penghubung di atas sungai besar tersebut, namun jika lewat sana maka akan membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam karena jalan menuju jembatan sedikit memutar.


Ikon pariwisata di Kota Kapuas sepertinya adalah taman di samping sungai yang juga dekat dengan dermaga. Selain itu juga terdapat kafe yang berada di atas kapal serta guesthouse dengan bentuk unik menyerupai rumah adat di tepi sungai. Di trotoar sekitar sana tentu saja dipenuhi oleh pedagang makanan yang menawarkan berbagai jenis cemilan dan minuman.

Meskipun hanya sebentar, perjalananku ke Kota Kapuas hari ini sangat berkesan. Selain menapaktilasi kehidupan sahabatku yang tumbuh di kota tersebut, aku benar-benar mendapatkan something new. Well, apapun cerita yang disampaikan oleh sahabat tentu membekas di hati kita. Aku juga senang bisa shalat di masjid agungnya kota Kapuas dan tentu saja makan siang dengan menu ayam bakar di rumah makan dekat lampu merah perempatan tak sempurna (istilah yang terakhir aku yang buat).

Karena waktunya yang terbatas dan ketika sesi jalan-jalan cuaca lagi gerimis jadilah tidak banyak foto yang bisa diambil. Tapi dengan sedikit foto yang kudapat, aku sudah cukup puas. Lagipula, cerita tak semuanya bisa diabadikan lewat foto bukan? Cukuplah kepingan pengalaman di otakku tentang kota tersebut yang menjadi memori pengingat bahwa aku pernah kesana.

Tuesday, March 10, 2015

Seribu Lima Ratus Kilometer

Judul : Menjemput Kenangan
Penulis : Melvi Yendra
Penerbit : PT. Lingkar Pena Kreativa
Tahun terbit : 2004

Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Melvi Yendra, seorang penulis yang menyabet penghargaan sebagai Penulis Terbaik Tahun 1998. Ada 15 cerpen di dalam novel ini. Sebagai buku terbitan sepuluh tahun yang lalu, aroma fiksi islami dalam setiap cerpen dalam buku ini tercium sekali.

Aku langsung jatuh hati pada cerpen pertama yang berjudul Seribu Lima Ratus Kilometer. Cerpen ini bercerita tentang pasangan muda yang istrinya baru saja dianugerahi kehamilan pertama. Bagaimana jarak 1.500 km yang memisahkan mereka mampu menjadi konflik cerita, membuat aku tersenyum ketika cerita pendek ini berakhir.

Cerpen lain yang membuat hatiku tergugah adalah cerpen yang berjudul Bro. Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana seorang gay menjalani hidupnya. Cerpen ketiga yang berjudul Disebabkan Telur membuatku merasa tertampar dengan fakta bahwa aroma religius di desa sudah berkurang. Bahkan kalah jika dibandingkan dengan upaya-upaya pemakmuran masjid-masjid di kota. Selain itu, pada cerpen ini kutemukan pesan tersirat bahwa hal-hal sepele bisa berakibat fatal jika tidak disikapi dengan bijak.

Cerpen Menjemput Kenangan yang sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen ini menurutku biasa saja. Entah karena memang idenya yang jamak atau karena sebenarnya aku sudah pernah membaca cerpen ini di sebuah majalah bertahun-tahun silam. Secara umum, cerpen ini menceritakan tentang seorang anak muda yang pulang setelah merantau dalam waktu lama dengan niat membawa kebahagiaan pada keluarganya.

Over all, cerpen-cerpen dalam buku ini kunilai sangat oke. Ah, aku jadi rindu dengan zaman saat aku menanti terbitnya majalah Annida demi membaca cerpen-cerpen sejenis ini di dalamnya.

Trinity Tersesat di Byzantium

Judul : Duo Hippo Dinamis Tersesat di Byzantium
Penulis : Trinity, Erastiany, Sheila Rooswitha
Penerbit : B-First
Tahun terbit: 2010

Trinity memang tak ada matinya! Petualangan serunya keliling dunia dalam The Naked Traveler 1 dan The Naked Traveler 2 membuat orang tak pernah puas membacanya jika hanya sekali. Orang tetap kagum dan tertawa ngakak membaca pengalaman serunya.

Kali ini, Trinity bersama Nina pamer pengalaman seru mereka. Mereka menjelajah Turki! Duet antihero, KK (Nina/Erastiany) dan DD (Trinity) ini dinamai Duo Hippo Dinamis. Dua-duanya perempuan gembul yang doyan berenang dan jalan-jalan.

Digambar dengan sangat telaten oleh Lala (Sheila Rooswitha), dalam episode Tersesat di Byzantium ini, KK dan DD melakukan perjalanan impulsif ke Turki, yang -meskipun tetap berisi pengalaman wisatawan pada umumnya- penuh dengan berbagai insiden tak terduga, yang membutuhkan nyali petualang, semangat, nekat, dan humor yang tinggi untuk melaluinya.

Menikmati bangunan bersejarah yang terawat baik, mencoba mandi ala Turki dan bermalam di kereta berkabin hanyalah segelintir peristiwa seru dari graphic travelogue ini. Yah, ini adalah graphic travelogue, buku catatan perjalanan ke Turki yang diwujudkan dalam bentuk gambar, bukan sekadar tulisan. Mau tahu serunya perjalanan Duo Hippo Dinamis? Baca buku ini!

Happy Hippos Traveling!
***


Cerita dalam buku ini sebenarnya sudah disajikan di buku The Naked Traveler 2, namun membaca buku ini semakin memperjelas imajinasi kita tentang apa yang Trinity lakukan selama traveling di Turki. Selain itu, gambar yang dibuat oleh Lala juga ciamik. Latar belakang kota Byzantium pun jadi terpampang di depan mata.

Pengalaman yang paling kusukai dari buku ini adalah pengalaman Trinity dan Nina yang menginap di rumah Tezar yang asli Turki. Traveling memang menawarkan banyak pengalaman.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat renyah, cenderung lucu. Duo Hippo Dinamis sepertinya rela-rela saja jadi bahan bulan-bulanan lelucon tentang tubuh gendut. Motto mereka saja, berjaya di lautan tapi mandeg di daratan. Hoho.

Buku cerita rasa komik yang berjumlah 130 halaman ini amat ringan dibaca. Sangat pas dibaca setelah ujian skripsi. Hiks, curcol. Aku saja habis sekali duduk dan mau tak mau membuka kembali koleksi The Naked Travelerku.

Saturday, March 7, 2015

Nikah Muda Yuk!

Ada banyak orang yang kaget waktu aku menyerahkan undangan resepsi pernikahanku. Hah, Rindang nikah? Memangnya dia punya pacar? Well, di kehidupan pribadiku yang misterius *plak, tak banyak memang yang tahu kalau aku sudah punya calon. Serius pula. Jadi, pengumuman kalau aku sudah ada yang punya itu ya seminggu sebelum resepsi.

Di usia yang tergolong masih muda (ngakunya), keputusanku untuk menikah mungkin memang mengejutkan semua orang. Masih belum wisuda pula. Rindang aneh, begitu mungkin pikir orang-orang. Meski agak tidak nyaman pada awalnya, lama-lama aku terbiasa juga dengan anggapan orang. Toh sejauh ini hidupku memang sepertinya out of the box, sering berbeda dengan kebanyakan orang. Selama masih dibenarkan agama, aku sih mencoba enjoy aja.

Ngomong-ngomong tentang agama, menikah tentu lebih disukai daripada hubungan tanpa ikatan (baca: pacaran). Apa bedanya antara nikah dan pacaran? Ada yang jawab, keduanya sama aja yang membedakan hanya akad nikah. Bukankah ada banyak pasangan yang "melewati batas" saat masih pacaran? Naudzubillah. Mengingat betapa repotnya kemarin aku dan keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan, hal ini memperlihatkan bahwa menikah dan hidup bersama itu sesuatu yang agung. Bukan sesuatu yang bisa didapatkan hanya dengan ungkapan "I Love You". Pun dengan mereka yang melewati batas, bukankah harusnya ada banyak proses untuk menghalalkan segalanya. Bukan hanya karena bujuk rayu setan yang terkutuk. Percaya saja, pacaran itu berbahaya. Sebaliknya, menikah itu membahagiakan.


Banyak teman yang bertanya bagaimana perasaanku setelah menikah. Perasaanku jadi lebih tenang, itu jawabanku. Segala keresahan yang kukhawatirkan sebelum menikah sirna. Tertutupi dengan awan-awan kebahagiaan. Menikah juga bagiku menjalin persahabatan dengan intens. Aku jadi punya teman diskusi. Suamiku bilang, dia senang karena dia tidak kesepian lagi. Dia memang anak tunggal. Jadi apa bedanya menikah dan pacaran? Kali ini jawabannya yang satu halal yang satu haram. Bukankah kegiatan mereka yang pacaran juga sama saja dengan yang menikah? Jalan bersama, makan bersama, nonton bersama, dan parahnya kita tidak pernah bisa memastikan apakah yang pacaran belum pernah tidur bersama. Sekali lagi, pacaran itu berbahaya.

Jadi yang muda-muda, hayuk segera menikah. Apalagi yang sudah dapat pasangan. Terlalu lama pacaran, kalau janur kuning belum melengkung masih ada kemungkinan dia bukan jodohmu. Galau masalah rezeki? Allah Maha Kaya. Dengan menikah, rezekimu akan bertambah. Wong kamu memuliakan sunnah nabi kok. Malah sebaliknya bukankah pacaran menghambur-hamburkan rezeki dengan sering traktir makan atau nonton?

Menikahlah. Kekhawatiran terhadap hal baik biasanya berasal dari setan. Karena akan berkurang jumlah manusia yang bisa dia goda untuk melakukan perbuatan zina. Hal-hal yang kau khawatirkan setelah menikah mungkin saja tak terjadi. Kamu perlu mencoba untuk mengetahuinya. Learning by doing. Percaya saja, aku sudah membuktikan.

Jangan menunggu sukses baru menikah, jangan menunggu mapan baru melamar anak orang, jangan menunggu kaya baru akad. Karena sesungguhnya menikah adalah awal dari perjalanan bukan akhir. Jika menikah adalah akhir, mati saja setelah menikah pun artinya tak apa bukan? Lagipula, kasihan anak-anakmu nanti jika kamu terlalu lambat untuk memutuskan menikah. Jarak antara kamu dan mereka terlalu jauh nanti. Kamu udah 40 tahun misalnya, anakmu baru SD. Bukan apa-apa, lingkungan dan sekolah pertama seorang anak adalah orang tuanya. Kalau orang tuanya kurang dekat dengan si anak atau tidak memahami kemajuan zaman gegara zaman kalian berbeda jauh dengan zaman perkembangan anak, ya itu tadi kasihan anak-anak.

Jadi yuk, yang sudah punya calon pasangan, restu, dan pekerjaan (untuk laki-laki), cepat disegerakan nikahnya. Membahagiakan hati, dapat pahala pula.

Nikah muda, inshaallah sukses!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary The Sultonation
 

#MengejaRindu

1. Kubaca cinta keras-keras agar kepak sayap merpati terdengar hingga ke ujung sana. #MengejaRindu

2. Kueja rindu kuat-kuat agar bibirku tak salah melafalkan namamu. #MengejaRindu

3. Kusimpan tangis rapat-rapat agar luka abadi dalam diam. #MengejaRindu

4. Kutakar doa tepat-tepat agar sebelum purnama bertemu muka. #MengejaRindu

5. Riak rasaku muncul pelan-pelan, mencipta gelombang bernama rindu. #MengejaRindu

6. Daun cintaku jatuh satu-satu, luruh menujumu. #MengejaRindu

7. Rinai hujan menetes lambat-lambat, membentuk gerimis bernama jarak. #MengejaRindu

8. Detik pun berganti muka, kupanggil namanya lama. #MengejaRindu

9. Adalah alasan yang tak bisa dikalahkan demi secarik rindu ini, mengekang sua bertempo jauh. #MengejaRindu

10. Adalah logika yang tak bisa menang atas rindu ini, menyadarkanku kamulah hidupku. #MengejaRindu

11. Mari berteman, rindu. Agar tak lelah hatiku, agar tak resah hariku. #MengejaRindu

12. Demi cerita yang manis ini, jangan siksa aku dengan sajak rindumu yang menggema. #MengejaRindu

13. Aku rindu padamu, aku rindu padamu, aku rindu padamu. #MengejaRindu

Friday, March 6, 2015

Happy New Year!

Well, bagi kebanyakan orang tahun baru mungkin dimulai tanggal 1 Januari. Tapi tidak bagiku, tahun baru dimulai setelah 6 Maret setiap tahunnya. Hari ini tepat 23 tahun umurku. Mulai besok aku akan menjalani tahun yang baru, tahunku ke-24 hidup di dunia.

Welcome in the real world! Harusnya aku mengucapkan ini setelah wisuda. Tapi sekarang pun aku sudah mencium aroma-aroma itu. Di usia yang sudah terlalu tua untuk disebut masih remaja, tentu saja segala sesuatunya kini jadi serius bagiku.

Tak ada yang wah di hari ini. Selain ucapan dari teman-teman dan keluarga yang menghiasi seluruh lini akun sosial media (beberapa ada yang memberi ucapan langsung). Aku juga tidak menggelar acara ultah dan semacamnya. Boleh dibilang hari ulang tahunku tahun ini terjepit di keadaan genting, di situasi dimana aku bagai telur di ujung tanduk. Di kondisi ketika aku merasa belum berhak tertawa lebar karena masih ada yang harus dilewati untuk itu. Yah, minggu-minggu terakhir ini sepertinya merupakan klimaks dari sebuah perjalanan yang kumulai hampir 2 tahun yang lalu.

Semoga selalu, aku dikuatkan. Tetap berpikir optimis untuk setiap ketidaknyamanan yang tercipta. Tetap bersiap untuk semua kemungkinan yang bisa terjadi.

Beruntungnya, aku dilingkari oleh makhluk-makhluk yang selalu mendukungku di kehidupan yang keras ini. Tidak banyak memang, tapi cukup. Curahan-curahan hati juga tidak meluber ke sosial media karena adanya mereka.

Thanks to Allah SWT untuk #SetahunLagi nya. Mama untuk kesabarannya. Papa untuk support dana dan cermin dirinya. Adik untuk sumbangan masalahnya. My lovely untuk seluruh kehidupannya yang kini kumiliki. Sahabat untuk joke dan air matanya. Guru untuk segala ilmunya. Teman dan orang-orang yang pernah kutemui dan kukenal meski hanya di sosial media, untuk gesekan peristiwa yang terjadi di antara kita.

Demi kalian yang sudah hadir di kehidupanku, aku berjanji untuk menjalani tahunku yang baru dengan lebih bahagia.

Tuesday, March 3, 2015

Quiz Milad Rindang


Alhamdulillah, aku masih hidup sampai hari ini. Sebagai syukuran kecil dari bertambahnya usiaku, aku mengadakan quiz dengan 3 buku dari Rumah Buku Shady sebagai hadiahnya. Mau? Ikuti syarat di bawah ini ya.

1. Follow blog ini
2. Follow twitterku @Ryu_keren
3. Jawab pertanyaan 'Apa yang biasa kamu lakukan di hari ulang tahunmu?' di kolom komentar
4. Sertakan nama, akun twitter, dan kota domisili di bawah jawaban
5. Tweet dengan format '[ajakan untuk ikut quiz ini] @Ryu_keren [link info quiz ini] #HappyMiladRindang'
6. Quiz berlangsung sampai tanggal 17 Maret 2015
7. Pemenang dipilih berdasarkan komentar yang paling membuatku terkesan
8. Hadiah 3 buku untuk 3 orang pemenang


Yuk, buruan ikutan!

Monday, March 2, 2015

Keindahan Tiada Batas di Bukit Batas

Hari Minggu, tanggal 1 Maret 2015 aku bersama dengan pengurus dan anggota Forum Lingkar Pena Banjarbaru trekking satu hari ke Bukit Batas. Ada acara penyerahan piala untuk pemenang lomba yang kami adakan beberapa waktu sebelumnya. Selain itu juga dalam rangka rihlah karena boleh dibilang selama ini kegiatan FLP hanya pertemuan, menulis, ngobrol tentang penulis saja.

Dengan dua taksi carteran kami berangkat dari Banjarbaru menuju Desa Aranio. Sekitar satu jam perjalanan, sampailah kami di Desa Aranio yang menjadi pintu gerbang menuju Bukit Batas. Waktu kami sampai di sana Desa Aranio sedang ramai dikunjungi wisatawan. Weekend memang waktu terbaik untuk melepaskan penat dengan rekreasi di tempat wisata. Suasana di pelabuhan tepi danau sangat ramai karena aktivitas para pelancong yang ingin benyeberang menuju Pulau Pinus. Selain wisatawan, juga ada terlihat beberapa warga sekitar yang akan memancing atau menjala ikan dengan menggunakan perahu. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang yang telah pulang dari Bukit Batas. Kebanyakan dari mereka adalah yang camping di atas sana sejak Jumat atau Sabtu dan turun gunung pada hari Minggu.
Pelabuhan Aranio

Perahu di atas danau

Danau yang memisahkan daratan Desa Aranio dan Pulau Pinus yang menyatu dengan daratan Bukit Batas, sebenarnya adalah waduk buatan sebagai sumber air bagi PLTA Kalsel. Namun karena keindahan yang terdapat di sekitar danau, maka seringkali orang-orang pun datang kesana untuk berwisata. Entah itu berwisata dengan keluarga di Pulau Pinus, memancing ikan di atas danau dengan perahu, atau menikmati keindahan danau dari Bukit Batas, titik tertinggi yang terdapat di pulau tersebut. Secara administratif, Bukit Batas termasuk ke dalam Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.

Setelah proses tawar menawar harga sewa perahu menuju pulau pinus, kami pun berangkat dan naik ke kapal. Pemandangan di danau sangat indah. Danau ini dikelilingi oleh hutan-hutan lebat yang membuat bayangan air di danau menjadi hijau. Di kejauhan jejeran pegunungan menjadi latar belakang yang cantik bagi danau ini. Di satu tepian danau, terdapat bukit kecil yang rindang namun ditempati oleh manusia. Rumah-rumah warga tersusun rapat disana, bahkan dari kejauhan terlihat menara masjid. Amboi benar, ada pemukiman di tepi danau, di atas bukit, dan dikelilingi hutan.

Perkampungan di tepi danau

Lebih mencengangkan lagi bagiku yang belum pernah melihat, ada beberapa rumah yang dibangun di atas danau. Benar-benar rumah, bukan sekedar pondok. Otomatis alat transportasi warga disini hanyalah sampan atau perahu bermesin meski hanya untuk "berkunjung" ke rumah di sebelahnya. Mata pencaharian warga di sini sebagian besar adalah beternak ikan dengan keramba. Keramba adalah  tempat budi daya ikan yang terbuat dari bambu atau papan, yang diletakkan di badan air. Agar aktivitas beternak ikan mudah maka beberapa warga membuat rumah di dekat keramba yang miliki. Baik rumah sementara ataupun permanen yang ditempati bersama anggota keluarga lainnya.

Rumah di atas danau

Rumah dan keramba ikan

Sekitar 40 menit kemudian sampailah kami di Pulau Pinus yang merupakan daratan tempat kami harus turun dari perahu untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Batas. Seperti namanya, pulau yang tidak terlalu luas ini dipenuhi dengan tumbuhan pinus di seluruh permukaannya. Membuat pulau ini sangat rindang dan sejuk, sangat cocok sebagai tempat rekreasi keluarga. Di Pulau ini kami makan bekal bersama yang dibawa dari Banjarbaru. Setelah itu trekking menuju Bukit Batas resmi dimulai!

Foto bareng di Pulau Pinus

Untuk menuju Desa Tiwingan Baru yang merupakan kaki Bukit Batas, dari Pulau Pinus kami harus menyeberangi jembatan yang terbentang di antara keduanya. Di pos masuk -yang sebenarnya adalah rumah warga- area pendakian Bukit Batas kami berhenti untuk membayar retribusi sebesar 5000 rupiah per orang. Sekitar 1 km kemudian, kami masih melewati perkampungan dengan jalan setapak yang berlapis paving block. Di sebuah mushala, kami berhenti untuk shalat karena sudah masuk waktu zuhur.

Jembatan menuju Bukit Batas

Di depan "pos" masuk Bukit Batas

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Rumah warga mulai berganti dengan pepohonan, jalan mulus kini mulai menanjak, dan benar-benar setapak tanpa paving block. Sepuluh menit, dua puluh menit, kami mulai ngos-ngosan. Namun tetap berjalan dengan kecepatan sedang. Ketika terdapat spanduk yang isi tulisannya berbunyi bahwa puncak Bukit Batas tinggal 1,5 km lagi, kami pun berhenti sejenak untuk beristirahat. 

Tenang saja, ada yang jualan kok ;)

Ketika perjalanan kembali dilanjutkan, tanjakan semakin sering hadir dengan kecuraman yang wow. Di sebuah titik ketika jalan mulai landai kami melihat sebuah pondok peristirahatan (atau pondok penginapan?). Pemandangan di sekitar pondok menunjukkan bahwa puncak bukit tidak jauh lagi, karena view danau mulai kelihatan meski masih terdapat beberapa pohon yang menghalangi pandangan untuk melihat ke bawah.


Jalan landai menuju puncak

Akhirnya sampai juga

Puncak pun akhirnya tiba di kaki kami. Subhanallah, itulah yang dapat kami desiskan setelah menatap hamparan bukit yang dipenuhi rumput. Nun jauh di bawah sana, terdapat gugusan pulau yang tersebar di permukaan danau. View inilah yang membuat banyak orang mengatakan bahwa Bukit Batas adalah Raja Ampatnya Kalsel. Mata dapat leluasa memandang sejauh apapun karena tak lagi terhalang rindangnya pepohonan. Gugusan awan, jejeran pegunungan, hamparan danau, dan pulau-pulau kecil di bawah sana adalah perpaduan yang sangat memukau untuk dinikmati dengan mata telanjang. Sungguh keindahan tanpa batas.


Keindahandari puncak Bukit Batas

Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Kami pun berlama-lama di sana untuk memanjakan mata. Setelah acara formal selesai, saatnya sesi foto-foto. Adalah hal wajib mengabadikan keindahan melalui lensa kamera. Spot paling banyak ditempati untuk berfoto adalah di tepi bukit, sehingga gugusan pulau di bawah sana terlihat apik menjadi latar foto diri. Padang rumput yang menghijau pun menjadi objek yang empuk untuk. Keindahan ala savana di luar negeri sana membentang di depan mata. Ada beberapa ternak berupa kambing dan sapi yang terlihat sedang merumput di salah satu sudut bukit. View yang menarik dan membuat otak kritisku bertanya. Lewat manakah ternak-ternak tersebut menuju puncak bukit? Apakah lewat jalur yang sama dengan yang baru saja kami lewati. Sepertinya tidak. Mungkin lewat bagian lain dari bukit ini.


Alhamdulillah

Peserta rombongan pendakian

Waktunya pulang, waktunya meninggalkan segala keindahan yang terdapat di atas sini. Semoga nanti bisa kembali lagi dalam momen yang lebih baik dan lebih lama, camping mungkin. Perjalanan turun bukit terasa lebih cepat namun dengan tenaga yang tak kalah besarnya dengan yang dikeluarkan saat mendaki tadi, karena turun bukit itu memerlukan keahlian. Kami harus hati-hati untuk tidak jatuh terguling dengan berpegangan ke pohon. Aku sendiri memungut kayu di perjalanan pulang untuk kujadikan tongkat saat gaya gravitasi terlalu besar dibanding kendali kaki.

Turun gunung
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates