Friday, February 6, 2015

Asma Nadia!

Siapa yang tidak kenal dengan Asma Nadia? Mereka yang tidak suka membaca pun mungkin pernah paling tidak sekali dua kali mendengar nama mbak penulis yang satu ini. Aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan "mbak" daripada "bunda". Rasanya lebih dekat saja.

Tadi sore, akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Aih senangnya. September 2013 lalu aku ikut Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena dengan harapan bertemu dengannya yang notabene "sesepuh"nya FLP. Eh ternyata waktu itu dia tidak hadir karena ada kegiatan lain. Jadi aku belum beruntung bisa bertemu dengan mbak Asma Nadia.

Hari ini dengan segala campur tangan Yang Maha Kuasa, aku pertama kali melihat mbak Asma Nadia memasuki ruangan dengan anggun menggunakan rok dan jaket warna hitam serta kemeja dan kerudung warna pink. Subhanallah. Bagaimana pun aku pernah melihatnya di foto dan di televisi, tetap saja rasanya beda kalau melihat langsung.

Oya, aku bertemu mbak Asma Nadia hari ini di acara Pelatihan Menulis dengan Asma Nadia yang diadakan oleh Perpustakaan Daerah Banjarbaru dalam rangka Banjarbaru Bookfair III. Inti dari pemaparan mbak Asma Nadia adalah bahwa yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah harus banyak membaca dan ikut komunitas serta menulis itu sendiri. Kesalahan yang umum menghinggapi para penulis yaitu sering terlalu khawatir dengan hasil tulisannya. Sedangkan kenyataannya dia belum pernah menulis. Selain itu, langkah berat seorang penulis pemula adalah menyelesaikan naskah. Bener banget ini aku mengalaminya juga. Sedangkan karya tidak bisa disebut karya kalau belum selesai. Begitu kata mbak Asma Nadia. Jlebb banget.



Setelah itu mbak Asma Nadia juga menjelaskan beberapa kesalahan para penulis pemula. Lebih lengkap katanya bisa dibaca pada buku 101 Dosa Penulis Pemula karya suami mbak Asma Nadia, Isa Alamsyah. Meski tanpa slide presentasi (karena kesalahan teknis), penjelasan mbak Asma Nadia tetap menarik perhatian peserta. Karena memang beliau sendiri yang membuat presentasinya jadi tetap ingat materinya dan juga menurutku mbak Asma ini jago ngeguyon juga. Aih, padahal awalnya mbak Asma Nadia tipe penulis yang serius.


Mbak Asma Nadia katanya miris dengan pemikiran ibu-ibu yang memandang buku dengan sebelah mata. Jika 1 rok seharga 50 ribu rupiah disebut murah, maka sebaliknya jika 1 buku harga 50 ribu rupiah dikatakan mahal. Padahal membeli buku itu investasi lho kata mbak Asma Nadia. Benar. Aku sependapat dengannya. Sudah tak terhitung berapa orang yang mengernyitkan dahi kalau melihatku sedang berbelanja buku. Apalagi di bookfair yang notabene harganya lebih murah dari harga normal. Tahun ini saja aku berhasil memboyong 12 buku ke kos. Bukankah investasi itu tak selalu harta. Ilmu dan wawasan dari buku juga penting. Bahkan lebih penting dari harta yang bisa hilang kapan saja.

Dulu ketika aku masih minta uang (sekarang juga kadang masih), mama pun tak terlalu suka aku beli buku. Mending beli makanan kata beliau. Aish. Sejak kuliah aku dapat beasiswa, gaji dari kerja parttime, dan sedikit honor dari berbagai kegiatan, aku jadi punya kebebasan menggunakannya untuk membeli buku. Beda dengan cewek lain yang akan senang shopping baju dan aksesoris, fashion dan passionku adalah buku. Meskipun ya itu tadi sering dianggap aneh.

Satu yang kugarisbawahi dari celoteh mbak Asma Nadia tadi adalah bahwa penulis itu harus rajin olahraga. What? Apa hubungan olahraga dengan menulis? Waktu aku bertanya bagaimana manajemen waktu menulis ala Asma Nadia. Dia menjawab, beliau menulis pada malam hari ketika semua orang di rumah tertidur. Jika mau, dia bisa mengetik naskah hingga pagi karena dia pengidap insomnia akut. Begadang sebenarnya kurang sehat. Tapi kalau mau waktu tambahan ya tak ada cara lain. Harus mengurangi waktu tidur. Agar selalu bugar maka kita harus rajin olahraga. Menulis membutuhkan raga yang sehat. Itulah makanya penulis tidak boleh sakit (dan harus banyak makan, bisikku pada diri sendiri).


Waktu acara berakhir ada sesi foto untuk setiap peserta bersama mbak Asma Nadia. Panitianya keren juga. Acara jadi tertib, tidak rebutan untuk foto bareng. Tidak seperti beberapa tahun lalu ketika ada penulis yang lain juga datang ke Banjarbaru. Ketika giliranku tiba, mbak Asma Nadia titip salam dengan anak-anak FLP Banjarbaru. Alhamdulillah, salamnya sudah kusampaikan, mbak.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates