Wednesday, January 28, 2015

Bolehkah Aku Meninggalkanmu?

Sebuah pertanyaan yang tak kau ucapkan. Tapi aku tahu, itu yang tersirat di balik penjelasan panjang lebarmu.

Mungkin tak ada yang mengangguk jika orang yang dicintai bertanya seperti itu. Namun, kau tak menanyakannya. Kau menggantinya dengan pernyataan, “aku akan meninggalkanmu”.

Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu karena aku mencintaimu. Aku yakin kau akan lebih bahagia jika kau pergi meninggalkanku, menuju tujuan hidupmu.

Telah berkali-kali aku merasa kehilangan. Awalnya terasa sakit. Tapi pada kehilangan yang kesekian, aku telah mati rasa. Terbiasa. Seseorang yang lain–yang kucintai, bahkan meninggalkanku tanpa kata. Ia hanya menyunggingkan senyum dalam diam sebagai tanda perpisahan. Pertanda ia bahagia saat meninggalkanku.
**

Aku baru selesai membaca cerpenku yang ke-100 yang masuk media kali ini. Ya, aku bertahan hidup dari tulisan sekarang. Honornya cukup untuk menopang hidupku. Tapi tetap saja, itu tak membuatku bahagia. Adakah bahagia dalam sepi?

Awalnya aku menulis hanya untuk mengisi kekosongan hidup yang kujalani. Hingga sekarang, aku menulis karena kebutuhan. Menghabiskan waktu bersama tinta dan kertas yang menjadi saksi bisu kesendirianku.
**
rdtaautari.blogspot.com

Isak tangis mengelilingiku. Aku terdiam.

Bolehkah aku meninggalkanmu?” Mungkin ini saatnya giliranku yang mengucapkan kalimat itu.

“Ibu, kami tak bermaksud meninggalkanmu” kata Desy –si sulung, di sela isak tangisnya. Mungkin ia telah membaca buku harianku.

Kini kalian pergi meninggalkanku. Aku kesepian sekarang. Satu-persatu menghilang dari kehidupanku.

“Maafkan kami bu, kami bukan anak yang berbakti padamu” Derra –gadis keduaku, air mata deras mengalir di pipi cantiknya.

Aku tak melarang kalian pergi. Hanya saja jenguklah aku sesekali. Tak hanya saat lebaran tiba. Itu lebih berarti dari uang yang kalian kirimkan tiap bulan sayang-sayangku.

“Aku berjanji mulai sekarang, aku akan selalu di sampingmu. Menemani dan merawatmu bu” Ditto –bungsuku, satu-satunya yang masih lajang pun ikut menyeka air matanya.

Kalian hebat, nak. Cita-cita kalian sungguh tinggi dan kalian mampu mencapainya. Aku bangga mempunyai putra-putri seperti kalian. Hanya saja, mengapa aku merasa kalian meninggalkanku? Meninggalkanku demi cita-cita dan kehidupan yang lebih baik.

“Kami tak pernah tahu kalau selama ini ibu kesepian setelah kepergian ayah. Maafkan kami bu” Daru –anak keduaku, terlihat paling tegar karena tangisnya tak nampak dimataku.

Aku tak perlu mengatakan ini pada kalian. Karena mungkin kalian memang jauh lebih bahagia di tempat yang jauh dariku.

Lidahku seperti tak mampu mengeluarkan suara, mengatakan semua kata yang tertulis di buku harianku. Mereka sudah tahu, itu cukup bagiku.

“Bolehkah aku meninggalkanmu?”

Tak butuh jawaban, aku pun akan pergi sekarang seperti kalian dulu meninggalkanku.

Selamat tinggal, dunia.

Cerita ini diikutkan giveaway contest  www.doddyrakhmat.com

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates