Sunday, December 27, 2015

Barabai Expo 2015

Welcome to Barabai Expo 2015


Barabai Expo mungkin tidak semegah Banjarbaru atau Kalsel Expo. Tapi tetap saja aku antusias untuk menyambanginya karena minimnya hiburan di kota kecilku ini. Hiks. Sedih rasanya kalau ingat Banjarbaru yang penuh dengan hiburan itu. Mau apa aja ada.

Mama, 2 tanteku plus krucil di stand batalyon

Barabai Expo rutin digelar satu tahun sekali di penghujung tahun untuk memperingati hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang jatuh pada tanggal 24 Desember. Exponya lebih mirip dengan pasar malam, banyak orang yang berjualan dan menggoda untuk membeli. Lumayanlah cuci mata meski seringnya toh aku tidak tertarik dengan barang-barang yang dijual. Standnya sendiri juga kurang menarik membuat aku lewat begitu saja. Tidak seperti di Banjarbaru Expo yang aku benar-benar datangi one by one standnya.  Paling aku mampir di stand yang petugas jaganya kukenal.

Foto bareng om-om tentara pasukan khusus

Selama expo kemaren, terhitung aku dua kali mengunjunginya. Sekali dengan suamiku, sekali lagi dengan keluarga besar. Adik-adik sepupuku sih yang paling senang. Namanya juga anak-anak, senang sekali melihat keramaian apalagi di malam hari.

Monday, December 21, 2015

Sebuah Lagu di Hari Ibu

Sekitar satu minggu yang lalu, mama bilang kalau Lesti (finalis ajang kompetisi Dangdut Akademi Asia) membuat semua juri menangis saat ia tampil. Mama memang penonton setia ajang pencarian bakat tersebut, bahkan sejak DA 1 baru diadakan. Kami yang serumah pun akhirnya mau tak mau juga mengikuti perkembangan acara tersebut. Memangnya lagu apa yang dia nyanyikan, tanyaku sekedar merespon "info" dari mama tersebut. Aku memang kurang menyukai lagu dengan musik dangdut. Lagu "Keramat", jawab mama. Ohh, sahutku kemudian.

Hari ini saat gak ada kerjaan di kantor, aku membuka youtube saat Lesti menyanyikan lagu tersebut. Alasanku membuka lebih karena ingin melihat bagaimana hebatnya penghayatan Lesti hingga semua juri menangis dibuatnya. Ternyata setelah menonton baru kutahu bahwa lagu Keramat itu adalah lagu dengan tema Ibu. Ya, tema Ibu memang dapat mengusik naluri siapa saja hingga tak heran semua yang mendengar Lesti menyanyikan lagu tersebut menjadi tersentuh. Terlebih pembawaan panggung Lesti memang memukau dan cocok dengan isi lagunya. Sebenarnya lagu tersebut sudah pernah kudengar (tapi aku tidak tahu judulnya) karena memang sering diputar di banyak tempat. Wajar saja lagu Sang Raja Dangdut Rhoma Irama ini memang mengandung pesan moral yang tinggi.

Tepat di hari ini, tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu. Lagu ini terasa pas sekali menghiasi gendang telinga. Agar kita selalu mengutamakan Ibu, seseorang yang amat berkeramat dalam hidup kita.

Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya
Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu

Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja
Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua

Catatan Ayah Tentang Cintanya Kepada Ibu

Novel ini merupakan lanjutan dari novel Lampau yang sekitar satu tahun lalu kubaca. Kali ini isinya bercerita tentang Ayuh, sang tokoh utama yang pulang kampung karena ibunya sakit -lalu meninggal dunia. Dia perlu waktu untuk menenangkan diri di kampung sebelum kembali menyambung hidup di kota. Tak disangka rentetan kejadian di kampungnya membuat keberangkatannya tertunda lebih lama dari yang ia bayangkan.

Dalam buku ini juga diceritakan tentang kepastian tentang cinta sejati Ayuh yang awalnya terbagi menjadi dua. Meskipun aku masih kurang yakin, karena bisa jadi novel lanjutan akan muncul lagi setelah ini. Mengingat tokoh ayah belum muncul sejak buku pertama.

Judul: Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu
Penulis: Sandy Firly
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2015

Ada beberapa tokoh baru dalam kisah Ayuh yang ditulis oleh Sandi Firly -asal Kalimantan Selatan ini, diantaranya yaitu Radam, Juntang, dan Katuy. Katuy sebenarnya pernah disinggung dalam novel pertama, namun tidak terlalu banyak diceritakan.  Hingga di novel kedua ini ia merupakan orang yang kemunculannya amat tidak disukai Ayuh. Ya, tokoh Katuy memang berhubungan erat dengan dendam masa silam orang tuanya. Namun dari beberapa tokoh baru tersebut, Radamlah yang menarik perhatianku. Pertama karena nama Radam di daerahku adalah nama seorang (semacam) nenek moyang atau biasa yang disebut Datu. Kedua karena dikisahkan dalam novel ini bahwa pekerjaannya adalah berburu anggrek di belantara pegunungan Meratus. Selain itu, karakternya sendiri cool digambarkan oleh penulisnya.

Sedikit kekurangan yang terdapat dalam buku ini menurutku terdapat pada halaman 261. Mungkin hanya karena faktor kekurangtelitian saja. Pada satu paraghraf dituliskan bahwa Ayuh masuk ke dalam WARNET untuk menelepon Ranti. Bukankah seharusnya ia menuju ke WARTEL untuk menggunakan fasilitas telepon umum? Kecuali warnetnya juga menyediakan fasilitas telepon. Entahlah. Ini hanya sedikit koreksi dariku sebagai pembaca. Kekurangan lain yang kudapati juga terdapat pada khayalan Genta sebagai ayah Ayuh dalam catatannya pada halaman 266-271, entah aku yang kurang imajinatif atau memang khayalan Ayuh yang ketinggian. Sebuah telaga dan sebuah rumah seorang penulis novel di tepi yang berlawanan dengan rumahnya. Itu membingungkan bagiku yang sudah terlanjur menikmati khayalan tentang rumah berloteng di tepi sungai dalam hutan dan dihuni bersama istri tercinta, seperti yang dituliskan sebelumnya.

Satu hal yang kusukai dari novel ini yaitu pesan moral bahwa seburuk apapun keadaanmu saat ini, jangan takut untuk bermimpi tinggi. Hal ini dibuktikan oleh tokoh Amang Dulalin yang meraih mimpinya setelah belasan tahun hanya memandang mimpinya melalui sebuah poster, peta, dan mengembara lewat buku-buku.

Amanat lain yang disampaikan penulis melalui novel ini adalah agar kita, seluruh lapisan masyarakat peduli dan menjaga lingkungan. Adalah kecemasan bersama jika hutan yang menjadi paru-paru kehidupan manusia rusak akibat keserakahan sebagian golongan saja. Di halaman 297-298 novel ini, terdapat kutipan syair seorang Burhanuddin Soebely, penyair asal Kandangan yang menggambarkan keresahan para pecinta lingkungan.

"Awas jangan papas hutan kami
Jangan ganggu sorga kami
Aku ada di sukma burung, di sukma gunung
Aku ada di sukma bayu, di sukma kayu
Aku ada di sukma batu, di sukma datu
Mengintai selalu!"

Sangat direkomendasikan sebelum membaca novel ini, sebaiknya membaca novel pertamanya terlebih dahulu. Agar tidak terjadi missing link. Secara keseluruhan aku memberi 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

Sunday, December 20, 2015

Home Sweet Home

Ini adalah sketsa rumah impian kami yang dibuat oleh suamiku. Dia memang senang mengutak-atik program corel dkk yang memfasilitasi desain grafis. Aku sendiri lebih senang mengutak-atik bagian dalam rancangan rumah impian kami, desain interiornya lah kalau bisa dibilang. Meski belum benar-benar punya, namun merencanakannya tetap harus dilakukan ya kan?

Denah ruangan-ruangannya pun telah kubuat di kertas coret-coret. Ruangan yang paling harus ada itu adalah perpustakaan sekaligus ruang baca. Nyiahaha, efek book addict. Untuk ukurannya sendiri, aku dan suami sepakat tidak ingin mempunyai rumah yang luas. Paling banyak terdiri 3 kamar, 1 kamar utama, 1 kamar anak laki-laki, dan 1 kamar anak perempuan.

Itu sedikit tentang home sweet homeku, bagaimana rencana rumah impian kalian para pasangan muda?



Thursday, December 17, 2015

Taman Labirin dan Kompleks Wisata Tambang Ulang

Di depan gerbang taman labirin

Sekitar 2 minggu yang lalu, tepatnya tanggal 12 Desember 2015, aku dan suami mengunjungi Taman Labirin. Satu-satunya taman labirin yang ada di Kalimantan Selatan ini terletak di Kabupaten Tanah Laut, tepatnya di kompleks agrowisata Tambang Ulang, Pelaihari.

Menurutku area labirinnya kecil -mungkin hanya sekitar 50x50 meter persegi dengan sebuah menara di tengahnya, namun pemandangan di sekitarnya yang wow. Ada hamparan rerumputan dan dibatasi dengan barisan pegunungan yang memanjang di ujung pandangan bertepian dengan kaki langit. Lapangan ini biasanya digunakan sebagai tempat perkemahan berbagai organisasi. Beberapa kelompok pecinta alam terlihat sedang mengadakan acara, ditandai dengan tenda-tenda yang mereka dirikan. Beberapa keluarga juga tak mau kalah, mereka menghamparkan alas duduk di atas rumput dan mengeluarkan bekal sehingga aroma rekreasi amat kental di tempat ini. Jangan khawatir bagi yang tidak membawa bekal ke sini, karena ada satu kantin yang berdiri tepat di tengah-tengah area wisata.

Selfie dari atas menara di tengah-tengah labirin

Selain itu juga terdapat area peternakan sapi dan pelestarian rusa. Btw, rusanya hanya 1 ekor. Sebelumnya aku sudah pernah ke sini sekitar satu atau dua tahun yang lalu dalam rangka penelitian seorang kakak tingkat. Seingatku setidaknya ada dua ekor sapi di area ini. Entah benar atau aku yang lupa. Sebuah danau juga terdapat tak jauh dari Taman Labirin. Dilengkapi dengan beberapa pendopo untuk tempat bersantai dan berfoto, tempat ini tepat sekali dijadikan sebagai tempat rekreasi bersama keluarga atau pasangan.

Selfie di depan peternakan sapi

Secara keseluruhan, kompleks wisata Tambang Ulang ini amat indah dan memukau. Dihiasi dengan deretan pohon cemara disana-sini, area yang luasnya mencapai hektaran ini merupakan destinasi wisata yang tepat saat akhir pekan.

Sunday, November 29, 2015

Family Fish Day

Hari Minggu, tanggal 29 November 2015 aku dan keluarga mengadakan piknik ke sebuah tempat pemancingan di Desa Tandilang, Kecamatan Batang Alai Timur. Sekitar 1,5 jam dari rumah kami berada. Sebenarnya pemancingan tersebut bukan tempat pemancingan yang dibuka untuk umum, tapi milik seorang teman suamiku. Oya sebelumnya aku juga pernah menyambangi tempat ini pada beberapa waktu yang lalu.


Mancing dulu yok!

Sambil bakar jagung juga.
Piknik kali ini dalam rangka "perpisahan" dengan Papa yang akan berangkat ke Bandung. Btw, aku juga sedang menunggu pengumuman kelulusan dari tes yang aku ikuti di Laboratorium Lingkungan sebagai analis. Yang ikut acara piknik kali ini yaitu aku sekeluarga tanpa adik, karena dia ada di Banjarmasin, tante Maida sekeluarga, adik mama yang paling bungsu bersama pacarnya, dan kakak-beradik sepupuku. Total jumlahnya ada 10 orang, 11 bersama pemilik kolam ikan.

Seru sekali pokoknya suasana waktu kita memancing. Ikan-ikan hasil pancingan kemudian dibakar dan dimakan bersama nasi dan lalapan. Nikmatnya. Oya letak kolam ikan ini tepat di lembah yang diapit beberapa bukit. Sehingga viewnya indah sekali. Ditambah pula terdapat bangunan pondok 2 tingkat dari kayu yang menjadi tempat beristirahat bagi pemiliknya saat letih berkebun di sekitar pemancingan.

Saatnya makan!

Saat di jalan pulang kami mampir ke bendungan di Desa Batu Tangga. Bendungan ini cukup besar dan memiliki aliran air yang sangat deras. Pemandangannya pun indah. Jadilah beberapa saat kami bermain air, bahkan ada yang mandi di sungainya yang dangkal dan berbatu.


View pemancingan dan anggota piknik

Benar-benar pengalaman piknik yang menyenangkan. Lain kali aku akan mengajak keluarga besarku lagi untuk piknik ke tempat baru. Semoga bisa terwujud.


Selfie di tepi bendungan bersama suami


Wednesday, November 25, 2015

Hari Guru Nasional 2015

Sebenarnya setiap tahun aku tak pernah ingat peringatan Hari Guru itu tanggal berapa. Paling tahunya kalau ada yang bilang dan upload di media sosial. Maknanya pun "hanya" kuejawantahkan dengan doa untuk seluruh guru (formal dan non-formal) yang ada di hidupku agar mereka diberikan yang terbaik oleh-Nya karena telah memberikan ilmu yang berguna buatku.

lacusyamatoo.deviantart.com

Namun berbeda dengan hari ini. Hari ini tepat tanggal 25 November 2015, kicau tentang hari guru ramai sekali di dunia maya mau pun di tempat kerjaku. Tak terbayang sebelumnya aku akan berprofesi menjadi seorang guru formal. Mendapat ucapan selamat dari siswa, itu sesuatu yang amazing karena latar belakang dan waktu mengajarku yang baru seumur jagung. Terlebih aku pun masih merasa berstatus siswa di usia 23 ini.

Betapa menjadi guru itu tak ternilai pahalanya karena menjadikan seorang siswa pandai dan bermoral adalah bukan perkara mudah. Itulah yang kurasakan enam bulan terakhir ini. Satu hari peringatan bukanlah imbalan yang tepat untuk menghargai jasa mereka. Namun dengan adanya Hari Guru Nasional setidaknya kita bisa menjadi ingat bahwa di dunia ini kita tidak terlahir langsung pandai atau bergelar, namun ada yang menjadi perantaranya terlebih dahulu agar kita mendapatkan ilmu.

Sunday, November 22, 2015

Hari Ikan Nasional

Peringatan Hari Ikan Nasional

Hari Ikan Nasional diperingati setiap tanggal 21 November. Hari peringatan ini baru saja ditetapkan oleh Bapak Presiden SBY dan ditandatangani pada tanggal 24 Januari 2013. Tahun ini aku menyaksikan acara peringatannya karena mama sebagai pengajar PAUD desa mendapat undangan bersama guru dan anak didiknya.

Maya makan eskrim
Maya makan ikan

Mama mengajak aku dan Maya ke acara ini karena ada acara melukis. Maya kan suka sekali melukis. Acara ini diperingati serempak di Indonesia. Di Barabai dilaksanakan di Lapangan Dwi Warna dan diikuti oleh seluruh PAUD dan TK di Kab HST. Setelah acara melukis, acara dilanjutkan dengan makan bekal dengan ikan bersama yang dibawa dari rumah. Momen yang agak heboh adalah ketika pak bupati, istri dan para stafnya berkeliling dari tiap stand ke stand kecamatan yang lain.

Maya melukis ikan

Maya diantara para peserta lain

Maya saat akan mengeringkan hasil karyanya

Kunjungan Bupati ke stand kami

Foto bersama Ibu Bupati HST

Komitmen Menulis

Komitmen dalam hal apapun harus kuat agar tujuan yang diidamkan tercapai. Beberapa minggu terakhir aku terpikir untuk mulai menulis lagi. Karena sudah cukup lama dunia ini kutinggalkan. Meskipun aku merasa kualitas tulisanku masih jauh di bawah standar. Namun aku merasa di sanalah passionku.

Selama ini hal yang menghalangiku untuk menulis adalah waktu luang yang sedikit. Apalagi setelah menyandang gelar sebagai istri, waktu 24 jam rasanya kurang. Tambahan pula aku kerja fulltime 5 hari seminggu. Bikin waktu di rumah nggak produktif untuk nulis.


Memutuskan untuk resign dari pekerjaan pun aku tak bisa. Karena aku juga perlu interaksi dengan orang-orang di dunia nyata dan kebutuhan akan diakuinya eksistensi adalah hal yang mutlak bagi orang tipikal sepertiku. Yang bisa kulakukan sekarang adalah mengurangi jam kerja di luar dan memaksimalkan weekend.

Selama ini aku menulis hanya untuk mengisi blog agar tidak kosong dan selalu update. Isinya pun semacam daily activity saja. Sudah lama aku tak menulis artikel, fiksi, atau review buku. Kangen masa-masa aku aktif ngeblog dulu. Sekarang ingin kumulai lagi. Supaya bikin semangat aku mulai dengan ikut GA. Alhamdulillah, ada rezeki menang satu minggu yang lalu.

Aku berharap ada tema yang benar-benar klop untuk aku tulis sebagai buku pertamaku. Karena sudah beberapa kali aku menyerah di tengah jalan dengan beberapa tema yang semula kugarap. Aku kepikiran menulis hal ini setelah membaca buku Draft 1: Taktik Menulis Fiksi dari Winna Efendi. Btw, buku ini juga hadiah GA sekitar satu tahun yang lalu dan baru kebaca sekarang. Hiks. (Lihat, intensitas membacaku saja kedodoran apalagi menulis.)

Seperti yang ditulis pada pembuka buku tersebut, kita harus punya komitmen yang kuat untuk menjadi penulis yang produktif. Adalah sebuah impianku punya buku solo yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Aku tahu persis, bayaran untuk mendapatkan hal tersebut adalah komitmen yang kuat. Semoga dengan coretan yang sedikit ini dapat memperkuat komitmenku dalam menulis. Aamiin.

Petualangan Hari Ini

Pagi minggu tiba, ada beberapa rencana yang  ingin kulakukan bersama suami. Setelah beres-beres rumah dan mandi, berangkatlah kami ke undangan resepsi keponakan teman suami. Sampai disana, kita makan dan berbincang dengan tuan rumah serta tamu lain yang juga teman suami. Setelah dirasa cukup, meluncurlah kami ke rumah acil (tante, adik mama) dengan tujuan aku mampir disana dan suami mau ke rumah temannya sebentar ada barang yang diantar. Setelah urusan suami selesai, aku pun dijemput kembali.

Dimulailah petualangan kita sebenarnya, dari rumah acil kita menuju Birayang dan terus naik ke atas ke desa daerah pegunungan, tepatnya ke Desa Tandilang ibukota Kecamatan Batang Alai Timur. Sekitar 20 km dari Birayang, ibukota Kecamatan Batang Alai Selatan. Jalan menuju ke sana menanjak dan berkelok-kelok persis seperti di pegunungan, hanya saja jalannya sudah beraspal. Meskipun aspalnya pun mulai terkoyak di sana-sini membuat medan perjalanan makin sulit. Sebenarnya kami sudah ke daerah sini bulan lalu, tanggal 14 Oktober bertepatan dengan peringatan 1 Muharam. Kali ini tujuan kami adalah memenuhi undangan masak-makan teman suami yang punya kolam ikan di gunung.


Ketika baru memasuki Desa Tandilang, cobaan pertama datang. Ban depan motor kami bocor, bisa dibayangkan di tengah jalan yang di sampingnya tak ada rumah penduduk apalagi tukang tambal ban kami mengalami hal itu. Tak ada pilihan lain selain tetap mengendarai hingga perkampungan terdekat dan menemukan tempat tambal ban. Parahnya lagi, kami berpapasan dengan proyek pengaspalan jalan yang sedang berjalan. Jadilah motor terpaksa melewati tumpukan aspal yang belum kering. Aku, yang ngeri kalau tetap dibonceng memilih untuk turun dan berjalan di tepi jalan. Kesulitan lainnya kurasakan karena pakaian yang kupakai adalah gaun untuk menghadiri undangan resepsi, memakai wedges pula!

Sekitar 1 km kami berkendara, sampailah di tempat tambal ban. Beruntunglah paman tambal bannya ramah dan suka berbicara. Topik pembicaraan beliau dengan suamiku adalah tentang pemilihan bupati yang satu bulan lagi dilaksanakan. Beres menambal ban, kami pun langsung melanjutkan perjalanan. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih hujan turun dengan derasnya. Kami memilih untuk berteduh di tepi jalan yang ada semacam pondoknya, entahlah pondok apa. Sepertinya baru saja selesai dibangun. Dan yang terpenting itu sangat berguna bagi kami, musafir buntung =D Dengan gaya piknik, kami pun membentangkan jas hujan sebagai alas duduk dan mulai mengemil keripik yang untungnya sempat beli di jalan. Lumayan buat mengisi perut, soalnya perut mulai lapar karena waktu sudah menunjukkan jam 12 lewat.

Ketika hujan mulai berkurang derasnya kami pun memakai jas hujan sebagai pelindung di jalan. Lokasi yang dituju pun sebenarnya belum kami ketahui dengan pasti karena suami belum pernah ke sana. Berbekal peta arah yang dikirim temannya via sms kami mulai menerka-nerka dan mencoba jalan. By the way, di sana tidak ada sinyal sama sekali. Makin runyamlah urusan. Setelah terlewat sekali, jalan masuk menuju kolam ikan tersebut pun kami temukan. Di samping kolam tampaklah sebuah pondok bertingkat dua yang kokoh dan banyak oranh bernaung di dalamnya. Rupanya mereka adalah peserta acara masak-masak hari itu, dan tentu saja mereka sudah makan. Kami pun langsung disuguhi menu masakan hari itu, nikmat sekali makan saat lapar, hari hujan dan di tengah gunung. Eh lebih tepatnya di lembah karena kolamnya terletak di antara beberapa bukit. Indah banget.

Acara selanjutnya yang paling dinanti-nanti suami adalah memancing. Yeayy, dia memang suka mancing. Aku pun ikutan, yuhuuu lumayanlah menyumbang 2 ekor. Hehe.

Pengennya sih acara kayak gini bisa kontinu kami lakukan untuk refreshing jiwa dan otak yang lelah bekerja seminggu penuh.

Sunday, November 8, 2015

Minicamp

Widegame anak kelas rendah
Minggu lalu, di sekolah tempatku mengajar ada kegiatan minicamp. Disebut mini, karena perkemahannya tidak dilaksanakan di lapangan atau bumi perkemahan tapi di lingkungan sekolah saja. Selain itu tempat menginapnya pun di ruangan kelas, bukan di tenda. Meskipun begitu, hal tersebut tidak mengurangi "rasa" perkemahan, terlebih karena peserta minicamp adalah anak-anak kota yang jarang jauh dari rumah dan hampir tidak pernah main di alam bebas.

Sebagian besar anak-anak antusias mengikuti kegiatan ini, terutama  bagi kelas 1 dan 4. Kegiatan menginapnya hanya untuk anak kelas 4-6, sedangkan untuk anak kelas 1-3, minicampnya hanya setengah hari saja dan tidak menginap. Bagi kelas 1 mereka senang karena pertama kali ikut widegame, sedangkan kelas 4 mereka antusias karena ini pertama kali pengalaman mereka menginap pada saat  minicamp.

Aku waktu jaga di pos 2
Peserta akhwat tilawah sebelum tidur
Acara inti dari minicamp tersebut adalah wide game. Anak-anak berjalan menjelajah alam bebas bersama teman satu regunya dan menyelesaikan berbagai tantangan yang ada di lima pos dari keberangkatan hingga kembali lagi ke sekolah. Seru sekali! Kebetulan aku kena jaga di pos 2 yang berisi materi tentang Dasa Dharma dan PBB, senang banget bisa terjun kembali ke dunia scouting.


Hal yang membedakan minicamp di sekolah ini dengan perkemahan lainnya yang pernah kualami adalah sisi keagamaannya yang amat dijaga. Alhamdulillah, aku berada di lingkungan yang agamis seperti ini. Untuk wide gamenya ada selipan tugas hafalan surat Al-Quran, doa harian, dan hadits. Keren. Pada saat kegiatan belajar di sekolah pun mereka dibiasakan murajaah (mengulang hafalan) seperti itu, sehingga minicamp dapat dijadikan ajang evaluasi pembelajaran agama. Kebetulan aku juga ikut mendampingi anak-anak kelas 6 akhwat (perempuan) di ruangan kelas saat tidur, sebelum tidur mereka tilawah dulu untuk menyelesaikan tantangan membaca Al-Quran 1 juz selama minicamp berlangsung. Subhanallah.

Upacara Api Unggun

Monday, November 2, 2015

Bye, October!

Well, hari ini sudah hari keempat di bulan November. Selamat tinggal Oktober 2015, ada banyak aktivitas outdoor yang kulakukan selama sebulan terakhir sehingga Oktober tahun ini begitu melelahkan.

Dimulai dengan awal bulan, hari Minggu tanggal 4 Oktober ada acara nikahan sepupu mama yang seumuran denganku. Aku sama suami bela-belain datang pas acara nikahan soalnya pas resepsi, seminggu kemudian, suami ada acara lain. Kita berangkat hari sabtu sore pakai motor, sekaligus nyantai dolan ke Banjarmasin. Awalnya memang terasa menyenangkan, acara pun dipenuhi oleh silaturahmi keluarga yang notabene jauh-jauh tempat tinggalnya. Namun, waktu perjalanan pulang, berasalah capeknya. Belum sampai di rumah, kita udah ngantuk banget. Sampai di rumah, jam sudah menunjukkan angka 12. Fiuhhh.

www.jarofquotes.com

Sepuluh hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Oktober aku dan suami melakukan perjalanan lagi. Kali ini karena bertepatan dengan tanggal merah yang memperingati tahun baru 1 Muharam kita punya waktu libur seharian, oleh karena itu kita gunakan untuk hiking ke Air Terjun Tumaung di Kecamatan Batang Alai Timur sekitar 30 km dari rumah. Jalan menuju air terjunnya dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 2 jam. Bisa sih pakai motor tapi harus yang tipe trail dan pengemudinya juga harus lihai dan berpengalaman. Kalau tidak, ada kemungkinan motor dan penumpangnya menggelinding ke jurang. Yup, medannya menanjak dan berliku.

Tanggal 25 Oktober, aku kembali ke Banjarmasin. Kali ini untuk satu hari saja, menghadiri resepsi pernikahan teman masa kecilku sekaligus tetangga yang kini tinggal di Banjarmasin. Fiuhh betapa melelahkannya perjalanan 10 jam pulang pergi dalam satu hari, dan di tempat acara hanya tak lebih dari 2 jam.

Puncaknya tanggal 28-29 Oktober lalu aku ikut ke Banjarmasin lagi dengan keluarga yang menghadiri wisuda tanteku sekaligus aku ada yang diurus di kampus. Meskipun capek, tapi perjalanan tersebut menyenangkan. Kita sempat silaturahmi dan menginap juga di rumah keluarga sahabat tanteku yang bertahun-tahun tidak ketemu.

Beberapa jadwal padat dan melelahkan tersebut membuat tubuhku kurang fitnya. Sekarang aku sedang dipijat oleh mbok pijat langganan. Alhamdulillah, bisa melewati semuanya. Oktober tahun ini begitu mengayakan pengalamanku.

Friday, October 30, 2015

Dini

Namanya Dini, ia adalah teman sebangkuku saat kelas 1 SMA. Sekarang kita sudah hampir lulus kuliah di universitas yang berbeda namun tetap saling memberi kabar. Salah satu hal yang paling kusuka dari Dini adalah kepribadiannya yang ceria dan terbuka. Sebagai teman, Dini sangat menyenangkan ketika aku bersamanya. Kepribadiannya yang open minded membuatku nyaman meski 180 derajat berbeda denganku yang introvert.

Sembari menyeruput es jeruk yang baru saja dibawakan oleh waiter aku memandang pintu masuk, menunggu Dini yang berjanji menemuiku di kafe bandara ini. Tak perlu menunggu lama, karena aku tahu Dini akan selalu tepat waktu seperti saat SMA dulu, sosoknya muncul dari balik pintu. Kepalanya celingukan menelanjangi isi kafe, sebagai jawaban aku melambaikan tangan pada matanya. Ketika matanya dan tanganku bertemu dalam pandang, secepat kilat ia langsung menghampiri kursiku secepat jalan yang ia bisa.

"Lala!", ia menyalami dan memelukku erat

"Hei Din, ingat ini tempat umum lho", gurauku sambil membalas pelukannya.

Akhirnya setelah empat tahun yang kosong tanpa pertemuan, kami bisa bertemu kembali di kota tempat Dini menimba ilmu. Dini dengan gayanya yang tak berubah, tetap merindukan untuk tidak ditemui. Meskipun di sela-sela waktuku yang sempit di sini.

Rambutnya yang ikal bergoyang-goyang ketika ia menggelengkan kepala takjub melihat perubahan (katanya) yang terjadi padaku. Aku tambah kurus katanya, tentu saja ini berkat asupan skripsi 24 jam sehari selama setahun terakhir ini. Aku kesini pun dalam rangka untuk melengkapi data untuk hasil penelitianku.

Sebaliknya, kulihat Dini tampak lebih gemuk. Makmur sekali rupanya ia disini. Selain karena hobinya memang makan sejak SMA dulu, membuat badannya bongsor sekali untuk remaja seusianya. Ketika kami berjalan bersama, teman laki-laki kami yang usil biasanya mengoloki kami dengan julukan Duo 10. Aku 1 si cungkring dan Dini angka nol nya. Ish ish.

Tak akan ada habisnya mengobrol dengan Dini. Jika tak ingat waktu, ingin rasanya aku bertukar cerita lebih banyak dengannya. Namun, apa daya aku harus segera check in dan berangkat pulang menuju kampung halaman di seberang.

"Harusnya kamu lebih lama di sini," katanya sambil pura-pura merajuk.

Aku tersenyum, "Semoga lain waktu kita bisa bertemu lebih lama ya Din."

Selamat tinggal Dini dan sampai jumpa di kesempatan b

Thursday, October 29, 2015

Top Ten

Ini adalah sepuluh tema yang ingin aku tulis dalam waktu dekat. Baik dalam bentuk cerpen, buku nonfiksi, ataupun novel.

1. Wisata kalsel

2. Hobi yang menghasilkan uang

3. Bidadari langit dan lelaki penuh luka

4. Hidup bersama luka

5. Pengantar susu dan tanaman lidah buaya

6. Pohon musik

7. Saintis dan kisah cintanya

8. Lampu merah

9. Empat bantal

10. AG, seorang anak yang malang (based on true story)

Saturday, September 26, 2015

Negeri Kabut Asap

Sudah sekitar dua minggu ini kabut asap melanda kotaku, bahkan hampir satu provinsi. Meskipun tahun-tahun sebelumnya kabut asap juga datang, namun tahun ini kabut asap paling tebal yang pernah kutemui. Hari ini saja, jarak pandang kurang dari 50 meter. Sudahlah pekat, kabutnya bau pula. Setidaknya ada 3 efek buruk dari kemunculan kabut ini. Pertama dari segi kesehatan, yang paling berbahaya adalah yang punya riwayat penyakit pernafasan. Bisa kena ISPA atau asma akut. Bahkan orang yang sehat pun merasakan sesak yang sangat di tengah kabut yang demikian tebal.

pasangmata.detik.com

Efek yang  kedua dengan berkurangnya jarak pandang, risiko kecelakaan di jalan meningkat. Menyalakan lampu utama di sepanjang jalan saat berkendara adalah hal yang wajib dilakukan. Yang terakhir, kabut asap dapat menghambat aktivitas harian. Ada beberapa sekolah yang meliburkan siswanya karena khawatir dengan kesehatan anak-anak. Di sekolahku sendiri saat awal-awal kabut asap melanda, ada banyak anak yang kambuh asmanya. Belum lagi yang pusing atau muntah. UKS jadi penuh. Sehingga beberapa hari kemudian kebijakan dari yayasan keluar yaitu memulangkan anak-anak lebih cepat dari jam normal.

Kabut asap pekat adalah tamu tahunan di musim kemarau terutama di Kalimantan dan Sumatera. Dua pulau ini merupakan pulau dengan persentase hutan yang masih banyak. Sehingga ketika kebakaran melanda di lahan hutan atau perkebunan yang luas, kabut asap yang dihasilkan pun tidak sedikit. Bahkan ada yang sampai "ekspor" ke negara tetangga.

Semoga hujan segera turun. Sudah satu bulan lebih hujan tidak turun-turun. Pray for negeriku, negeri kabut asap.

Friday, September 25, 2015

My Memorable Song

Salah satu lagu yang menghiasi masa remajaku adalah lagu berjudul Mengenangmu dari Kerispatih. Lagu ini amat memorable waktu aku SMA dulu, dari judulnya saja sudah kelihatan. Ceritanya begini, waktu SMP aku punya kelompok teman dekat, semacam geng gitu. Nah diantara temanku tersebut ada cowok yang karakternya mendekati kriteria cowok idamanku. Mau tahu apa karakter utama yang membuatku jadi kagum sama cowok? Cuek. Yup, semakin cuek cowok makin menarik pula bagiku. Nah dia ini teman cowok terakrabku waktu itu karena menurutku kita nyambung. Padahal akrabnya geng kita ini baru sekitar satu tahun waktu kelas 3 SMP aja, karena sebelumnya kita beda kelas di kelas 1 dan 2. Mungkin karena saking banyaknya kegiatan yang dilakukan bersama-sama waktu kelas 3, kita jadi banyak ngumpul dan punya banyak cerita yang susah dilupakan.

Waktu kelulusan kita sedih banget harus pisah karena beberapa masuk di SMA yang berbeda. Aku sendiri masuk SMA tanpa ada teman dari SMP. Sedih binggo. Mana aku bukan makhluk yang pandai bersosialisasi pula. Aaak. Maka terbayang-bayanglah kenangan dengan teman satu geng waktu SMP, terutama dengan teman cowok yang cuek itu. Maklumlah remaja cewek suka baper. Jatuhnya aku seperti gak bisa move on di dunia sekolah. Aku cuma berangkat sekolah, belajar di kelas, nyelinap ke perpus sewaktu-waktu, lalu pulang. Itu aja. Ga ada kegiatan having fun dengan teman sepulang sekolah atau nongkrong di kantin waktu istirahat seperti yang kulakukan waktu SMP dulu.
...
Takkan pernah habis air mataku
Bila kuingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu kuputar
Kan kutunggu dirimu
...

demarcomusic.com

Bukan tidak beralasan lagu ini menjadi lagu kenanganku. Karena waktu SMP lagu ini (beserta grup band Kerispatih) sedang hits-hitsnya dan kita juga sering menyanyikannya sehingga ketika mendengar lagu ini otomatis berasa dejavu ke masa itu. Kata "di dunia berbeda" pada lagu itu kumaknai sebagai "sekolah yang berbeda". Hiks. Beruntunglah pada tahun kedua akhirnya aku bisa move on dari nestapa "kehilangan" teman dekat. Karena pada akhirnya waktu memang obat penyembuh dari segala luka. Eaaa.

Sekarang sih kalau mendengar lagu tersebut kenangan saat SMP masih ada. Namun bagian tentang roman picisannya sudah terhapus dengan sempurna. Kalau pun diingat-ingat, itu hanya membuatku jadi malu sendiri. Hahaha

Thursday, September 24, 2015

Serba-serbi Idul Adha

Alhamdulillah, tahun ini aku diberikan kesempatan bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Adha 1436 H. Seperi Hari Raya Idul Fitri kemarin, hari ini aku juga shalat iednya di masjid kampung suami. Setelah shalat, kita makan-makan di rumah mertua. Kemudian bersilaturahmi ke beberapa rumah handai taulan yang memang sudah lama tidak berjumpa.

www.binadarma.ac.id

Menjelang jam makan siang, kita ngumpul di rumah kakek dari pihak mama. Ini kebiasaan tahunan kita karena alhamdulillah saudara-saudara mama tidak ada yang tinggal terlalu jauh dari rumah kakek sehingga lebih fleksibel ngumpulnya. Sayang, hari ini sedikit menyedihkan karena adik mama paling bungsu (usianya setahun di bawahku) sakit keras. Awalnya cuma panas biasa lalu ternyata datang keluhan sakit di bagian perut dengan berbagai gejala. Komplikasi antara maag, kembung, sakit usus, dan dismenorhae. Sebenarnya sudah lama, namun selalu ditahannya. Hari ini dia mungkin tak sanggup lagi. Akhirnya tadi dibawa ke rumah sakit, namun belum sempat bertemu dokter yang bisa menangani penyakit tersebut (dokter kandungan), sehingga tadi hanya diberi suntikan pengurang rasa sakit.

Hal kedua yang membuat hari ini kurang enak adalah tebalnya kabut asap. Setelah sempat cerah kemarin, hari ini kabut asap kembali melanda. Tidak main-main, pekatnya luar biasa. Suami saja jadi susah bernapas karenanya, mata pun perih. Kabutnya sampai masuk ke rumah euy. Kabarnya sih kabut ini berasal dari kebakaran (atau pembakaran) lahan di daerah-daerah perbukitan atau hutan tadi malam. Alamak, kacaulah negara ambo 

Namun dibandingkan yang dua itu, nikmat yang kami rasakan tentu jauh lebih banyak. Salah satunya adalah nikmat dapat berkumpul dan menjalin silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Btw, nikmat dapat daging sapi qurban juga. Tadi suami dan adik bergotong royong membuat sate ala rumahan (sekalian nyoba panggangan yang baru dibeli). Lumayanlah rasanya.

Tuh, bikin satenya pakai masker. Kabut asap mak!

Ngomong-ngomong tentang qurban, aku berazzam ingin ikut berqurban tahun depan karena tahun ini belum bisa. Selain itu, karena di tv sedang musim-musimnya diberitakan ibadah haji. Aku juga bertekad ingin melaksanakan ibadah haji di umur 30 tahun. Masih ada waktu untuk mendaftar dan mengumpulkan uangnya selama 7 tahun. Mampukan aku ya Allah! Setidaknya aku punya mimpi. Jika untuk urusan dunia saja mimpi kita harus setinggi langit, urusan akhirat jangan mau kalah dong.

Oya, aku baru melihat berita di televisi mengenai tragedi di Mina. Banyak jamaah yang tewas pada musim haji kali ini karena berdesakan untuk melempar jumrah. Ya Allah, terimalah amal ibadah mereka dan catatlah mereka sebagai syahid/ah. Aamiin.

Tuesday, September 22, 2015

Jealous Bermanfaat

Salah satu manfaat dari media sosial yang aku rasakan adalah termotivasi untuk berprestasi. Ketika seorang teman memposting keberhasilannya di bidang tertentu di media sosial, tidak jarang aku akan termotivasi untuk melakukan hal serupa bahkan jika bisa melebihinya. Bidang tersebut tentu saja yang aku juga geluti, misalnya sains, pramuka, dan dunia tulis menulis. Mungkin berawal dari jealous lalu kemudian termotivasi.

maspeb.com

Blogwalking juga merupakan salah satu hal yang membuatku termotivasi. Aku jealous banget dengan teman-teman blogger yang update postingnya rutin. Sedangkan aku masih kadang-kadang  Aku juga jealous sama teman-teman yang menang lomba ngeblog. Sekarang aku ga pernah lagi punya waktu ikutan lomba-lomba tersebut, padahal waktu kuliah dulu aku lumayan sering ikut dan beberapa diantaranya menghasilkan hadiah yang dikirim pak pos ke depan pintu kos 

Rasa jealous tersebut kemudian memotivasiku untuk bisa rutin menulis dan menghasilkan karya (lagi). Caranya tentu saja dengan manajemen waktu yang lebih baik lagi, terutama untuk menulis. Menulis itu harus disempatkan bukan dilakukan kalau sempat. Benar ndak, sahabat blogger?

Oya, baru saja aku juga melihat status adik tingkat waktu kuliah dia berkesempatan untuk presentasi bahan penelitiannya di UGM. Jealous banget! Jadi pengen daftar kuliah lagi. Semoga ada kesempatan. Btw, yang harus kulakukan agak berat kurasa karena aku harus banyak prepare untuk keperluan akademik tersebut. Mungkin itu adalah project 1-2 tahun lagi. Sambil menunggu, aku fokus kerja dulu dan menstabilkan kehidupan keluarga dulu.

Jealous bermanfaat, ada ga sih? Ada ☺

Friday, September 11, 2015

Happy Job

Salah satu dari sedikit acara yang kufavoritkan di televisi adalah Hitam Putih di Trans 7. Waktu tayangnya yang pas dengan jam makan malam keluargaku adalah faktor utama yang membuatku "sempat" menonton acara tersebut, karena kebetulan ruang makan di rumahku juga berfungsi sebagai ruang keluarga yang ada televisinya. Selain itu konten acaranya yang kebanyakan inspiratif juga membuatku enggan melewatkan setiap episodenya. Mengapa kubilang "kebanyakan", karena ya selain bintang tamu yang inspiratif kadang di Hitam Putih juga diundang bintang tamu yang entertainer. Jenis bintang tamu yang seperti ini kadang kalau memang ga ada "isi"nya, bisa aku lewatkan dengan pindah channel atau melakukan aktivitas lain dengan tujuan berleha-leha. Ya, malam memang waktunya beristirahat bagiku.

Oke, itu sekilas tentang acara Hitam Putih. Aku ingin membahas tentang episode yang baru saja kutonton (episode 10 September 2015), mengenai pekerjaan unik yang berkaitan dengan makanan. Bintang tamu yang pertama merupakan pemilik warteg kreatif yang mendisplay makanannya seperti makanan kelas atas. Kebetulan aku ketinggalan pas segmen pertama waktu dia diwawancarai jadi kurang tahu detail bagaimana caranya memulai usaha warteg kreatif ini.


Bintang tamu yang kedua adalah seorang food displayer. Jadi mbak ini membuat minatur makanan dari bahan clay, gile mirip banget sama aslinya! Awalnya dari hobi yang bikin minatur bangunan atau kendaraan, lalu beralih khusus ke food display. Harganya wow banget lo, ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu porsi display makanan. Bintang tamu yang ketiga adalah food blogger. Hobi blogger yang satu ini memang makan. Namun hobi yang kelihatannya sepele dan menyenangkan ini rupanya menghasilkan rupiah yang tidak sedikit, sekitar 30 juta rupiah per bulan. Ckck. Padahal dia masih kuliah lho. Isi blognya bercerita tentang review makanan di ratusan restoran yang pernah ia datangi. Gak main-main lho, ternyata blognya mendapat reward dari beberapa media internasional.

Aku setuju dengan apa yang Deddy Corbuzier katakan, bukan tentang makanan yang banyak menghasilkan beragam pekerjaan tapi tentang jenis pekerjaan yang unik. Jenis pekerjaan yang tidak familiar di telinga anak-anak ketika ia mulai menyebutkan beragam profesi sebagai cita-citanya bahkan bagi masyarakat umum. Yup, ada banyak cara untuk bertahan hidup (baca: mencari uang) dan yang lebih penting adalah menyenangkan sekali ketika hobi kita dapat menghidupi kita. Melakukan hobi yang dibayar menurutku adalah tingkat kesuksesan tertinggi seorang manusia, karena hal ini menciptakan rasa bahagia lahir batin. Bukan begitu?

Tuesday, September 1, 2015

Bulan Nararya

Cukup lama aku tak membaca novel. Yah kesibukan kerja dan menjadi istri membuatku lupa dengan hobi yang satu ini. Bukan lupa sebenarnya, kekurangan waktu luang lebih tepatnya.

Kali ini aku membaca novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia. Novel ini bercerita tentang dunia skizophrenia. Jarang kujumpai novel dengan tema ini. Berikut ada beberapa kutipan kalimat yang keren menurutku di novel ini.

Kau bisa saja mengatakan mencintai pasanganmu dengan sangat, tapi apakah caramu sudah cukup ahli untuk membuatnya terkesan, atau justru menjauh dan tertekan? (Halaman 57)

Adagium survival of the fittest: Bukan yang terkuat yang dapat bertahan, yang paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam. (Halaman 230)

Rezeki dan uang itu berbeda. Uang gampang dicari, yang haram aja tinggal embat. Tapi rezeki, itu yang harus diupayakan berkahnya. (Halaman 250)

Sunday, August 30, 2015

Kurang Percaya Diri

Kali ini aku akan bercerita tentang kelemahanku. Semoga tidak termasuk menyebarkan aib karena tujuanku hanya sekedar sharing. Perlu diketahui kelemahanku yang satu ini tak pernah kuceritakan pada siapapun selain di postingan ini. Kelemahanku tersebut adalah kurang percaya diri. Jika ini kusampaikan dengan orang-orang yang kenal denganku di dunia nyata mungkin saja ada yang tidak percaya. Karena secara umum aku dikenal sebagai pribadi yang penuh percaya diri, setidaknya ini dibuktikan dengan seringnya aku tampil di depan khalayak ramai.

theglobalsuccessacademy.com

Tapi percaya tidak percaya ada sebagian dari diriku yang merasa kecil di saat-saat tertentu. Misalnya ketika berada di lingkungan baru, saat memperkenalkan karyaku, atau ketika mempromosikan dagangan. Di satu sisi aku bersikap begitu untuk menghindari pamer diri, tapi setelah dipikir-pikir sepertinya sifat tersebut lebih cenderung ke rasa kurang percaya diri atau mungkin juga malu. Meskipun dalam kenyataannya aku sama sekali tidak cocok untuk disebut pemalu. Ya ada beberapa sifatku memang yang kontradiktif, oleh karena itu di akun instagram dulu kutulis ambivert sebagai bio-ku.

Sifat rendah diriku ini memang tidak pernah kuperlihatkan secara terang-terangan. Aku hanya berperang melawan diriku sendiri. Ketika sifat positifku menang maka aku akan muncul ke permukaan, namun jika kalah aku akan menyudut bersama rasa maluku.

Adakah yang punya sifat begini juga? Jika ada, share bagaimana cara mengatasinya ya.

Saturday, August 29, 2015

Investasi bagi Pemula

Aku dan suami sepakat untuk menyisihkan sebagian uang bulanan kami untuk investasi. Sebagai orang yang benar-benar baru di dunia investasi (bahkan sekarang masih di pintu gerbang, belum berani masuk), tentu bentuk investasi yang akan kami pilih masih yang sederhana saja. Belum kebayang tentang saham dan surat-surat obligat, sekarang masih harus banyak belajar tentang hal-hal tersebut. Ada 3 bentuk investasi yang salah satunya akan kami pilih menjadi bentuk investasi pertama kami.

1. Beli Emas
Yang terbayang di benakku mekanisme untuk pilihan pertama ini adalah yang paling mudah. Setiap bulan, kami hanya perlu menyisihkan uang sekian rupiah untuk dibelikan emas (batang/perhiasan) untuk kemudian disimpan di rumah atau di bank selama sekian tahun tergantung tujuan finansial keluarga.

2. Ikut Program Cicilan Emas
Di bank tempat rekening suami terdaftar, ada program cicilan emas dengan jangka waktu 2-5 tahun. Nasabah membayar 20% uang muka dari total harga emas saat ini, selanjutnya cicilan perbulan disesuaikan dengan waktu yang diinginkan oleh pembeli. Ketika cicilan sudah lunas, emas batangan sekian (kilo)gram dapat kita ambil atau disimpan di bank tersebut atau juga boleh dijual

3. Ikut Asuransi
Meskipun asuransi identik dengan program perlindungan jiwa, namun sekarang ini ada berbagai produk asuransi yang bentuknya investasi. Ada satu perusahaan asuransi yang sudah ku-kepo-in produknya dan aku tertarik dengan asuransi pendidikan untuk anak. Tahu sendiri kan ya biaya pendidikan makin lama makin mahal, mempersiapkannya sejak dini adalah salah satu solusi sekaligus investasi juga karena ada sistem bagi hasil disana.

Sekali lagi kami benar-benar baru dalam dunia investasi, jadi masih belum bisa memutuskan diantara ketiga bentuk investasi tersebut mana yang akan kami pilih. Btw, jika kamu punya rekomendasi atau tips tentang investasi bagi pemula silakan bagi di komentar di bawah ya. . .

Thursday, August 20, 2015

Tips Menjaga Kesehatan

Beberapa minggu terakhir aku sedang tidak fit. Dua minggu yang lalu aku demam plus batuk-batuk sampai muntah. Perlu berobat ke dua dokter yang berbeda baru benar-benar sembuh. Setelah sembuh, eh nyambung lagi dengan flu ringan hingga sekarang. Aih, udara memang sedang tidak sehat. Musim kemarau sedang melanda, otomatis debunya menjadi sumber penyakit bagi yang punya riwayat penyakit pernapasan sepertiku. Lagipula sepertinya imunitas tubuhku juga sedang jelek. Aktivitasku padat tapi jarang minum suplemen.

Berikut ada beberapa tips untuk menjaga kesehatan ala aku. Boleh dibilang aku jarang sakit karena disiplin menerapkan tips-tips berikut.

1. Makan teratur
Idealnya sih 3 kali sehari, tapi jika terbiasa hanya 2 kali sehari juga tidak apa-apa asal waktunya sama setiap hari. Makan teratur meskipun tidak dalam porsi banyak membuat pencernaan kita sehat. Setidaknya kita terhindar dari sakit maag.


2. Banyak minum air putih
Jangan pusing mengenai jumlah gelas atau berapa liter air yang harus dikonsumsi. Yang jelas, tubuh punya alarm sendiri ketika ia butuh air. Saat kita haus, usahakan sesegera mungkin kita harus minum. Oleh karena itu sebaiknya kita harus selalu sedia botol minum berisi air di dekat tubuh kita.



3. Minum suplemen
Suplemen dapat berupa susu, vitamin, atau obat penambah tenaga yang terbukti sehat dan cocok untuk tubuh kita. Di masa pancaroba seperti ini, dimana cuaca sering berubah-ubah adalah saat yang tepat untuk mengonsumsi suplemen. Aku pribadi sih biasanya mengonsumsi vitamin C dan minum madu.


4. Olahraga dan jangan malas gerak
Olahraga adalah hal yang cukup susah diteraturkan bagiku. Rutinnya sih aku olahraga cuma 2 minggu sekali, itu pun karena ikutan jadwal di tempat kerja. Cara menyiasatinya adalah dengan banyak bergerak setiap hari. Meskipun hanya berjalan kaki itu juga kan sebenarnya olahraga, tinggal dipanjangin waktunya aja.


5. Pijat
Nah biasanya kalau mulai ada gejala mau sakit seperti pegal, suhu tubuh meningkat, atau sakit kepala aku minta dipijat dulu sama mbok pijat langganan. Sakit-sakit ringan yang biasanya langsung hilang tanpa harus ke dokter. Selain itu pijat juga membantu merilekskan urat dan syaraf yang kaku karena kesibukan rutinitas.


Itu adalah tips menjaga kesehatan dariku. Ingin menambahkan? Silakan tulis di kolom komentar ya ...

Sunday, August 16, 2015

Pawai Obor dan Upacara Taptu


Tadi malam, tanggal 16 Agustus 2015 telah dilaksanakan pawai obor dan upacara taptu yang diikuti oleh anggota pramuka sekecamatan Batang Alai Utara. Aku beruntung bisa ikut menyaksikan karena diajak suamiku kesana, maklumlah kami berdua sama-sama eks anggota Dewan Kerja Cabang (DKC) yang aktif juga dulu pada zamannya.

Ketemu teman lama

Biasanya perayaan taptu digelar setiap tanggal 14 Agustus sekaligus memperingati Hari Pramuka. Tahun ini diselenggarakan tanggal 16 Agustus, mungkin karena pemilihan hari yang bertepatan dengan hari minggu. Sedangkan tanggal 14 yang lalu jatuh pada hari kamis sehingga kalau dilaksanakan jadinya pas malam jumat.

Aku kurang tepat mungkin dalam mengira-ngira, tapi untuk memperjelas gambaran kegiatan kurang lebih tadi ada 30 anggota pramuka yang ikut sebagai peserta. Selain itu ada pula para peninjau, seperti aku dan suami yang tidak ikut acara hanya menonton. Tak pakai seragam sih kemaren.

Apel di depan Koramil

Pawai obor dilakukan melewati jalur yang memutar dari jalan raya Ilung, masuk ke daerah Sungai Nangka, lalu tembus ke lapangan sepak bola dan kembali lagi ke titik start yaitu di depan Koramil Ilung. Ramai juga acara pawainya karena yang bukan peserta pun ikut-ikutan berarak di belakang rombongan yang memegang obor. Belum lagi antusias warga yang rumah mereka dilewati oleh rombongan.

Foto di depan tugu pahlawan
Acara kemudian diilanjutkan dengan upacara taptu atau upacara renungan suci dan ziarah makam pahlawan. Taptu kemarin malam diadakan di depan tugu pahlawan di Desa Telang, lumayan jauh dari Koramil sehingga peserta diangkut menggunakan mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran. Acara taptu sendiri di dalamnya meliputi pembacaan sejarah singkat mengenai perjuangan pahlawan yang bersangkutan, doa bagi mereka, dan pembacaan Tri Satya Pramuka. Aih, jadi nostalgia waktu dulu masih aktif-aktifnya menjadi anggota pramuka.

Sekitar pukul 10 malam, acara pun selesai. Setelah berbicara dengan beberapa teman senior di DKC, kami berdua pun pulang ke rumah.

Upacara di depan tugu pahlawan

Monday, August 10, 2015

Tertampar

Hari ini aku merasa tertampar ketika seorang siswa berjalan mendekat kepadaku di tengah-tengah pelajaran sedang berlangsung di kelas.

Dia berkata, "Ustadzah, ustadzah, abah ulun kada suah sembahyang*"

Jlebb. Itu jlebb banget nak, kena di hatiku. Bagaimana tidak, aku pun seringkali galau melihat orang-orang dekat yang tidak shalat. Menyuruh mereka shalat kadang tak enak, karena sudah pasti mereka pun tahu kewajiban shalat. Tidak diingatkan, aku sendiri jadinya resah. Jalan terbaik biasanya nama mereka kumasukkan di urutan teratas dalam doaku agar diberi hidayah untuk ringan mengerjakan shalat 5 waktu. Bukankah lebih nikmat rasanya ketika shalat didasari oleh kesadaran kita sendiri, bukan karena disuruh orang lain?

Bagaimana dengan "pengaduan" si anak tadi? Kukatakan saja padanya supaya dia berbicara pada ayahnya agar mau mengerjakan shalat. Eh, si anak malah menyahut "Sudah ustadzah, tapi waktu aku ke toko ternyata Ayah tetap tidak shalat". Ya, keluarganya memang punya sebuah toko. Rasa jlebb di hatiku semakin bertambah. Ya sudah kataku dengan mencoba bijak dan berbagi tips untuk mengatasi masalah tersebut, "Kamu doakan saja setiap selesai shalat agar ayah segera sadar ya". Dia pun mengangguk. Saat dia kembali ke tempatnya lah aku merasa bekas tamparan itu masih ada, hingga sekarang.

honeyizza.wordpress.com

Aku tertampar dengan kenyataan bahwa ada sebagian orang tua yang ingin anaknya saleh namun dia sendiri tidak mencontohkan hal saleh ketika berada di rumah. Sekolah tempatku mengajar boleh dibilang sebagai sekolah unggulan di kabupaten karena memadukan ilmu pengetahuan dan agama secara seimbang. Orang tua rela membayar lebih daripada sekolah di tempat lain agar anaknya mendapatkan pengetahuan umum dan agama yang bagus. Namun melihat faktanya aku jadi ragu dengan tujuan tersebut, mungkin saja ada tujuan lain. Misalnya karena orang tua memang tidak bisa mengajari ilmu-ilmu tersebut di rumah atau karena mereka ingin sekolah sekaligus sebagai tempat penitipan anak karena mereka pun bekerja seharian. Ya, rata-rata orang tua dari siswaku adalah pekerja di luar rumah.

Sebaik-baiknya sebuah sistem di sekolah berjalan jika tidak didukung oleh peran orang tua maka hasilnya tidak akan maksimal. Ketika si anak kembali ke rumah ternyata konsep kehidupan di rumah bertentangan dengan yang ada di sekolah, anak akhirnya akan kebingungan dengan adanya standar ganda yang ia lihat. Hasilnya anak mungkin akan lebih menerapkan sistem di rumah karena lebih longgar dan itu adalah sifat alami manusia yaitu ingin menghindari hal yang lebih berat. Perlu diketahui bahwa siswa yang berbicara denganku tersebut bukanlah siswa yang termasuk the best di antara teman-temannya, bahkan termasuk dalam kategori "sangat aktif". But see, dia memikirkan hal tersebut dan akhirnya memilih untuk mengungkapkannya padaku. Dia bingung, itu saja.

(Semoga engkau dapat menjadi jalan hidayah bagi orang tuamu)

*Ayah saya tidak pernah shalat

Monday, August 3, 2015

Tips Panjang Umur

Di setiap perayaan ulang tahun, seringkali kita berdoa agar diberi umur yang panjang. Pertanyaannya adalah bolehkah kita berdoa seperti itu dan yang lebih penting lagi adalah bisakah Allah memperpanjang umur kita sedang kabarnya usia kita telah ditentukan bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Berikut tips dari aku agar umur terasa panjang.

1. Kurangi Waktu Tidur
Mengapa tidur harus dikurangi waktunya agar kita mendapat umur yang panjang? Karena tidur mengurangi waktu produktif kita, sedang saat tidur waktu tetap berjalan. Jika dalam sehari kita tidur 10 jam, maka kita hanya hidup 14 jam dalam sehari. Bukankah ketika tidur, kita sedang "tidak hidup"? Kalikan saja andai batas usiamu 63 tahun, dikurangi 10 jam setiap hari sehingga usia berkurang hingga hampir separonya, hanya sekitar 40 tahunan saja lagi.


www.slideshare.net

2. Perbanyak Kegiatan Positif
Pernah tidak merasa ketika dalam satu hari kita banyak melakukan kegiatan, terutama yang positif maka waktu terasa lebih panjang? (Bukan lama, karena kalau terasa lama itu artinya kamu sedang bosan menunggu). Berbeda halnya ketika kamu berleyeh-leyeh atau tiduran saja tanpa melakukan aktivitas positif, maka waktu terasa pendek dan berlalu tiada arti. Maka berkegiatanlah, agar waktumu lebih maksimal, agar umurmu lebih panjang. Apa yang bisa kita peroleh dengan bermalasan sedang waktu tetap berjalan? Tak ada, kecuali umur yang semakin menua. Hendaknya semakin tua umur kita, semakin banyak hal yang kita hasilkan atau dapatkan.


3. Berdoa Agar Umur Berkah
Ini yang paling penting, buat apa umur panjang tapi tak berkah? Tentang batas umur itu adalah hak prerogatif Allah. Apakah bisa diperpanjang atau diubah, itu pun kehendak Allah. Berdoa agar umur panjang pun tak ada salahnya, tapi sebaiknya tambahkanlah doa agar umur kita yang panjang tersebut juga diberi keberkahan. Salah satu cara mendapat keberkahan adalah dengan menggunakan umur kita untuk melaksanakan ibadah dan perintah-Nya.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates