Friday, November 28, 2014

Memoar Sekar Prembajoen

Judul: De Liefde
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun terbit: 2010
Tak mudah menjalani pembuangan di sebuah negeri asing, meskipun negeri itu adalah negeri Belanda! Tempat ia pernah menyemai cita-cita menggali ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Sekar Prembajoen tertatih-tatih menyusuri kehidupan yang jauh dari dugaannya. Termasuk harus berurusan dengan Roesmini van de Brand, seorang perempuan indo yang dijual oleh “ayahnya” di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan seorang anggota parlemen.

Tak mudah untuk tetap mempertahankan semangat juang, di saat badai menerpa dari segala penjuru. Membuat idealisme seperti barang tertawaan. Seperti yang dialami Everdine Kareen Spinoza, pengacara yang memperjuangkan nasib kliennya, Rinnah van de Brand yang ingin mendapatkan hak pengasuhan anaknya, meski ia hanya seorang nyai Belanda.

Sekar dan Everdine, di tengah perjuangannya melawan sistem hukum yang tak berpihak pada kaum inlander, harus pula memperjuangkan arti sebuah kesetiaan. Karena, cinta sejati memang begitu sulit diejawantahkan. Apakah Sekar, Everdine, dan yang lain berhasil meramu sebuah de liefde, cinta yang menginspirasi perjuangan mereka?

Dan, siapakah sebenarnya keluarga Van de Brand itu? Mengapa di satu sisi Richard van de Brand menjadi salah seorang yang sangat berkuasa di Hindia Belanda dan memiliki peluang menjadi gubernur jenderal, bahkan perdana menteri, namun di sisi lain ada Daalen van de Brand, kakaknya yang tergolek sebagai pecandu narkotika di salah satu kamar sempit di Rumah Bordir de Lente? Mengapa kakak-beradik yang sejak muda bermusuhan itu menempuh jalan hidup yang begitu berbeda? Dan apa hubungan mereka dengan Rinnah van de Brand yang gila dengan Roesmini van de Brand yang menjadi pelacur?
**

Fiuuh, membaca novel kedua dari tetralogi De Winst ini sangat menguras emosi. Ada terlalu banyak konflik yang tertera di sana. Meskipun judul kecil dari De Liefde ini adalah Memoar Sekar Prembajoen,  namun ada juga banyak cerita tentang kehidupan tokoh yang lain seperti Everdine dan Roesmini. Sedangkan tokoh utama dalam novel De Winst, Rangga Poeroehita, tidak diceritakan dalam buku ini.

Ada beberapa tokoh baru yang muncul dalam novel ini, seperti keluarga Van de Brand, John Piere Grijns, Garendi, dan Sophie. Secara pribadi aku menyukai tokoh baru yang bernama Joedhistira. Kehadirannya seperti jagoan-jagoan dalam film thriller.

Dalam novel ini terjawab rasa penasaranku tentang bagaimana reaksi ibunda Rangga ketika mengetahui suaminya memiliki anak di luar nikah. Meski bukan reaksi langsung, karena yang tertulis dalam novel ini adalah sang bunda memilih untuk merawat Pratiwi yang masih belum pulih total dari sakitnya. Entah karena kebesaran hati sang ibu atau karena rasa kesepian semenjak ditinggal meninggal sang suami dan Rangga, sehingga beliau memutuskan untuk hidup bersama anak tirinya tersebut di keraton.

Tema, setting, gaya penulisan, dan hal-hal teknis lainnya de Liefde masih sama dengan de Winst. Termasuk ketidkhadiran catatan kaki untuk istilah-istilah asing, seperti Tweede Kamer, ziekenhuis, dan ledhek. Namun perbedaan yang mencolok dari novel dengan tebal 454 halaman ini menurutku ada pada nuansanya. Nuansa cinta menghiasi hampir sebagian besar bagian dari novel ini. Nuansa cinta yang menggema dalam bilik-bilik hati para tokoh, pada Sekar, pada Joedhistira, pada Everdine, pada Garendi, pada Sophie, dan yang lainnya. Mungkin karena itulah novel ini berjudul de Liefde; cinta.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates