Wednesday, November 19, 2014

Membangkitkan Idealisme Lewat Novel

Judul : De Winst
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2008
Usai menamatkan sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden, RM Rangga Puruhita kembali ke Hindia Belanda, untuk mempraktekkan ilmu yang ia miliki demi kemajuan para pribumi. Akan tetapi, berbagai hal pelik harus ia hadapi. Mulai dari perjodohan paksa dengan Rr. Sekar Prembayun yang sulit ia lepaskan, hingga permasalahan ketidakadilan yang dialami para buruh pabrik gula yang digaji sangat rendah. Haru biru cintanya dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang Belanda totok pun ternyata terancam kandas.

Lantas, muncul Kresna, pemuda misterius yang mengaku kekasih Rr. Sekar Prembayun. Dengan sikapnya yang berandalan dan cenderung kurang ajar, Kresna justru memprovokasi Rangga untuk bangkit melawan imperialisme Belanda. Bersentuhan ideologis dengan Kresna dan Sekar Prembayun, ternyata justru memunculkan benih-benih simpati Rangga kepada perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil itu. Akankah Rangga memilih Sekar Prembayun sebagai pasangan hidupnya? Lantas, bagaimana dengan Everdine Kareen Spinoza? Apakah Rangga juga harus mengkhianati Kresna?
***

Ini adalah salah satu novel sejarah yang aku tak bosan membacanya. Bagaimana tidak, jalinan ceritanya seperti nyata, paduan yang apik antara fakta sejarah dan imajinasi penulis. Itu adalah salah satu kekuatan novel ini menurutku, penulis mampu meyakinkan pembaca bahwa cerita dalam novel ini sungguh terjadi. Seakan penulis memang pernah hidup di di zaman pra-kemerdekaan, setting waktu dalam novel ini.

Dengan tebal buku 336 halaman, penulis mampu merangkum peristiwa-peristiwa penting sekitar tahun 1930-1931 dengan Surakarta sebagai daerah yang paling mendominasi setting tempat dalam novel ini. Selain itu, selipan silsilah  keluarga kerajaan di Jawa yang sedang berkuasa saat itu juga merupakan informasi yang memperkaya wawasan sejarahku. Latar belakang penulis yang memang menyukai sejarah sepertinya ikut mewarnai novel ini. Kelihatan sekali novel ini ditulis dengan sepenuh hati.

Tema utama novel De Winst ini adalah tentang bagaimana keadaan Indonesia ketika Belanda berkuasa. Di novel ini digambarkan bagaimana sikap penjajah Belanda yang semena-mena dengan inlander –warga negara Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda. Sikap para nederlander –warga negara Belanda, ini terutama sangat terlihat pada bumiputera yang miskin dan berpendidikan. Bahkan pada anak bangsawan atau pun para bumiputera yang berhasil sekolah, Belanda tetap menganggap bahwa inlander adalah warga golongan kelas tiga di dunia.

Amanat terselip yang ingin disampaikan penulis yaitu bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak terletak pada kekayaan sumber daya alam, tetapi terletak pada pendidikan yang maju. Selain itu, kegigihan para pejuang Indonesia pada masa penjajahan harus kita hargai. Besar sekali risiko yang mereka hadapi untuk mendapatkan kemerdekaan, diantaranya adalah dibuang ke pulau terpencil yang masih terisolir dengan dunia luar. Tidak salah sepertinya jika novel ini disebut sebagai novel pembangkit idealisme.

Namun melihat cita-cita yang sangat mulia dari para pendahulu kita, aku jadi risih sendiri. Pemuda zaman sekarang jangankan memperjuangkan nasib bangsa, yang peduli dengan lingkungan sekitar saja masih sedikit. Mereka (atau mungkin termasuk aku?) terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Hiks.

Cara penyampaian penulis yang mengalir membuat pembaca sangat menikmati novel ini Dibandingkan dengan novel sejarah yang pernah kubaca sebelumnya, seperti Mei Hwa dan Adriana, novel ini jelas lebih berat. Diperlukan riset yang tidak sembarangan untuk membangun setting yang bisa “dipercayai” pembaca seperti pada novel ini. Tidak heran jika novel ini disebut sebagai karya terbaik dari seorang Afifah Afra.

Kekurangan dari novel ini menurutku ada pada karakter Sekar dan Kresna. Bahwa mereka berdua adalah satu orang sudah terbaca sejak awal. Sehingga efek surprisenya tidak terasa ketika Sekar mengaku bahwa ia adalah Kresna. Kalimat yang membuatku langsung curiga terdapat pada halaman 51. Ada sedikit senyum congkak di sudut bibirnya yang indah –terlalu indah untuk seorang lelaki. Kalimat yang sama pun diulang kembali pada halaman 68. Tawa Rangga hampir meledak mendengar sapaan “anak muda” yang keluar dari bibir indah –terlalu indah untuk seorang laki-laki itu. “Petunjuk-petunjuk” yang lain juga terdapat di beberapa bab yang lain. Sayangnya juga setelah pengakuan Sekar, tidak dijelaskan meskipun sekilas bagaimana caranya Sekar yang dijaga ketat dalam keraton bisa seenak jidatnya beralih peran sebagai Kresna yang berkeliaran dengan santai.

Selain itu, dari segi cerita menurutku ada yang terlewat, yaitu bagaimana reaksi Ibunda Rangga yang mengetahui ternyata suaminya, KGPH Suryanegara, yang ia sangka setia tersebut ternyata mempunyai seorang anak –haram, dengan wanita lain. Keputusan Rangga untuk menikah dengan Kareen Spinoza juga cukup mengejutkan bagiku. Terlalu cepat.

Kekurangan teknis dari novel ini -yang kubaca terletak pada halaman peralihan antara halaman 73 dan 74. Ada kata atau kalimat yang hilang. Hal ini mungkin dikarenakan adanya penempatan foto yang ada di halaman 73. Well, meskipun ini hanya masalah tata letak tapi tetap mengganggu karena ada sedikit informasi yang terlewat. Beruntung, bagian yang terkena bukan bagian inti dari bab tersebut.

Oya, dari tata bahasa novel ini cukup banyak memuat istilah-istilah asing terutama dari Bahasa Belanda dan juga istilah-istilah dalam Bahasa Jawa. Kekurangan novel ini, tidak adanya catatan kaki tentang arti kata-kata tersebut pada kemunculan pertamanya dalam teks. Meskipun kalau dihubungkan dengan konteks, arti kata-kata tersebut sedikit-sedikit bisa dipahami.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates