Friday, November 28, 2014

Memoar Sekar Prembajoen

Judul: De Liefde
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Tahun terbit: 2010
Tak mudah menjalani pembuangan di sebuah negeri asing, meskipun negeri itu adalah negeri Belanda! Tempat ia pernah menyemai cita-cita menggali ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Sekar Prembajoen tertatih-tatih menyusuri kehidupan yang jauh dari dugaannya. Termasuk harus berurusan dengan Roesmini van de Brand, seorang perempuan indo yang dijual oleh “ayahnya” di rumah pelacuran dan menjalani affair dengan seorang anggota parlemen.

Tak mudah untuk tetap mempertahankan semangat juang, di saat badai menerpa dari segala penjuru. Membuat idealisme seperti barang tertawaan. Seperti yang dialami Everdine Kareen Spinoza, pengacara yang memperjuangkan nasib kliennya, Rinnah van de Brand yang ingin mendapatkan hak pengasuhan anaknya, meski ia hanya seorang nyai Belanda.

Sekar dan Everdine, di tengah perjuangannya melawan sistem hukum yang tak berpihak pada kaum inlander, harus pula memperjuangkan arti sebuah kesetiaan. Karena, cinta sejati memang begitu sulit diejawantahkan. Apakah Sekar, Everdine, dan yang lain berhasil meramu sebuah de liefde, cinta yang menginspirasi perjuangan mereka?

Dan, siapakah sebenarnya keluarga Van de Brand itu? Mengapa di satu sisi Richard van de Brand menjadi salah seorang yang sangat berkuasa di Hindia Belanda dan memiliki peluang menjadi gubernur jenderal, bahkan perdana menteri, namun di sisi lain ada Daalen van de Brand, kakaknya yang tergolek sebagai pecandu narkotika di salah satu kamar sempit di Rumah Bordir de Lente? Mengapa kakak-beradik yang sejak muda bermusuhan itu menempuh jalan hidup yang begitu berbeda? Dan apa hubungan mereka dengan Rinnah van de Brand yang gila dengan Roesmini van de Brand yang menjadi pelacur?
**

Fiuuh, membaca novel kedua dari tetralogi De Winst ini sangat menguras emosi. Ada terlalu banyak konflik yang tertera di sana. Meskipun judul kecil dari De Liefde ini adalah Memoar Sekar Prembajoen,  namun ada juga banyak cerita tentang kehidupan tokoh yang lain seperti Everdine dan Roesmini. Sedangkan tokoh utama dalam novel De Winst, Rangga Poeroehita, tidak diceritakan dalam buku ini.

Ada beberapa tokoh baru yang muncul dalam novel ini, seperti keluarga Van de Brand, John Piere Grijns, Garendi, dan Sophie. Secara pribadi aku menyukai tokoh baru yang bernama Joedhistira. Kehadirannya seperti jagoan-jagoan dalam film thriller.

Dalam novel ini terjawab rasa penasaranku tentang bagaimana reaksi ibunda Rangga ketika mengetahui suaminya memiliki anak di luar nikah. Meski bukan reaksi langsung, karena yang tertulis dalam novel ini adalah sang bunda memilih untuk merawat Pratiwi yang masih belum pulih total dari sakitnya. Entah karena kebesaran hati sang ibu atau karena rasa kesepian semenjak ditinggal meninggal sang suami dan Rangga, sehingga beliau memutuskan untuk hidup bersama anak tirinya tersebut di keraton.

Tema, setting, gaya penulisan, dan hal-hal teknis lainnya de Liefde masih sama dengan de Winst. Termasuk ketidkhadiran catatan kaki untuk istilah-istilah asing, seperti Tweede Kamer, ziekenhuis, dan ledhek. Namun perbedaan yang mencolok dari novel dengan tebal 454 halaman ini menurutku ada pada nuansanya. Nuansa cinta menghiasi hampir sebagian besar bagian dari novel ini. Nuansa cinta yang menggema dalam bilik-bilik hati para tokoh, pada Sekar, pada Joedhistira, pada Everdine, pada Garendi, pada Sophie, dan yang lainnya. Mungkin karena itulah novel ini berjudul de Liefde; cinta.

Thursday, November 27, 2014

Apa Kabar Masa Lalu?

Masih dalam suasana berduka -karena tidak bisa lulus sesuai target, aku ingin berjalan-jalan ke masa laluku. Tepatnya masa-masa ketika SMA.

Aku merasa masa-masa SMAku penuh tekanan. Ada terlalu banyak tugas sekolah yang tak bisa kuabaikan. Hari-hariku dijejali dengan berbagai macam ilmu pengetahuan sejak kelas X. Satu tingkat setelahnya, pelajaranku mulai berfokus pada lingkaran science. Bukannya lebih mudah, malah semakin rusuh. Catatan terjelek yang kuingat, aku pernah remedial matematika pada Bab Peluang dan dapat angka merah untuk pelajaran fisika yang membahas tentang gelombang.

Karena pada dasarnya hatiku rapuh, hal-hal semacam itu bisa membuatku terpukul. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menghindari hal tersebut kembali terjadi selain mempelajari benar-benar tentang pembahasan yang terkadang ingin membuatku muntah. Belum lagi jika teringat kalau harus "bersaing" dengan teman-teman di kelas yang notabene pelajar-pelajar terpilih karena berhasil masuk SMA terfavorit di kabupaten.

ryo-internisti.blogspot.com

Dari 24 jam sehari, waktu terbanyak kuhabiskan untuk meladeni tugas-tugas sekolah dan menyerap materinya. Jam 7 pagi aku berangkat dan pulang jam 2 siang. Belum lagi kalau misalnya sore ada ekskul, aku memilih sekalian tak pulang karena jarak rumahku dari sekolah memakan waktu setengah jam di perjalanan. Menjelang UN, tekanan akademik semakin menggila. Aku harus les selesai jam pelajatan sekolah. Jadilah aku pulang maghrib dan kembali berangkat besok paginya. Rumah hanya menjadi tempat singgah untuk tidur dan makan malam.

Jika dihubungkan dengan keadaanku sekarang, pressure masa-masa sekolah tersebut kecil saja. Mungkin sama kadarnya saat-saat aku menjalani semester 1-6. Kuliah-praktikum-organisasi-laporan-UAS-LPJ. Waktu 24 jam sehari rasanya kurang.

Puncak dari semua-semuanya itu ya ketika aku mulai mengambil mata kuliah skripsi. Tekanan tidak hanya datang dari dalam, tapi juga dari luar. Tidak hanya "menderita" fisik, tapi juga batin. Bukan hanya harus tahan raga, tapi juga harus kuat mental. Setidaknya, kunci yang harus dipegang ketika berada di posisiku sekarang adalah sabar.

Sepertinya masa lalu yang berat telah disiapkan Allah untukku agar tidak terlalu kaget menghadapi hari ini. Terima kasih masa lalu, kau membuatku sekuat ini.

Wednesday, November 26, 2014

Apa Kabar Masa Depan? II

Dear masa depan,

Sekarang tanggal 26 November 2014, pukul 21.30 WITA. Aku merasa sendirian dan sepi, sehingga ingin menyuratimu.

Apa kabar aku di masa depan? Sekarang usiaku 22 tahun 8 bulan 20 hari. Hari-hariku disibukkan oleh skripsi. Hal ini sudah terjadi sejak April 2013 lalu. Hei, sudah satu setengah tahun ya?

Kabar baiknya, sekarang aku sudah menikah. Tepat satu bulan yang lalu, aku menikah dengan seorang lelaki yang penyabar dan penyayang. Meski satu minggu setelah hari pernikahan, aku harus kembali lagi menjalani rutinitas bersama skripsi. Meski juga sebenarnya target waktu menikahku adalah setelah lulus kuliah. Tapi apa daya, target kelulusanku selalu meleset. Oktober 2014 merupakan final dari toleransi targetku. Ketika akhirnya belum lulus juga, dengan berhusnuzan aku mantap untuk menikah sekarang.

Lagipula siapa yang bisa menjamin aku bisa lulus sebentar lagi? Sekarang saja, sepertinya aku terancam gagal ikut wisuda yang akan datang, Februari 2015. Deadline waktu sidang dari sekarang sangat mepet, sedangkan progress naskahku selambat siput. Tiga sahabat dekatku dapat dipastikan bisa mengikuti wisuda tersebut. Sempurna sudah kesedihanku. Apa aku punya pilihan lain, selain bertahan?

Kamu pasti penasaran apa gerangan yang memperlambat jalanku menuju sarjana. Kamu boleh berpikir apa pun, tapi yang jelas aku menolak untuk mengakui kalau yang kau tuduhkan keterlambatan ini karena kemalasanku. Aku hadir 5 hari seminggu di lab. Itu cukup menjelaskan kalau aku tak ingin berlama-lama menjadi mahasiswa angkatan tua. Selain itu, aku juga tak terima kalau dibilang kuliah lama sekali. Aku kuliah hanya 7 semester, sisanya hingga sekarang kuhabiskan untuk berkutat dengan makhluk 6 sks bernama skripsi ini.

Well masa depan, jika di sana nanti aku mengeluh karena sesuatu ingatkan aku kalau aku pernah menghadapi ujian hebat seperti ini. Cobaan yang bukan hanya menyedihkanku, tapi juga orang-orang di sekitarku. Jika aku berhasil melewatinya, bukan tak mungkin aku juga cukup kuat untuk menghadapi ujian-ujian yang lain.


Seandainya pula di masa depan nanti aku mendapat berkah berlimpah, juga ingatkan aku untuk selalu bersyukur. Bahwa kenikmatan tersebut tak mungkin tiba dengan suka rela. Mungkin saja ia hadir sebagai ganti dari kesedihan yang kualami sekarang.

Masa depan, sungguh aku penasaran denganmu di sana. Meski begitu, keinginan untuk mengetahui keadaanmu tetap tak bisa dikalahkan oleh keinginanku untuk tetap kuat berada di jalan yang seolah tak berujung ini.

Monday, November 24, 2014

Apa Kabar Masa Depan?

Kehidupan macam apa yang menanti kita di masa depan?

Pertanyaan tersebut kuajukan pada sahabat-sahabatku pada suatu kesempatan. Aku dan mereka sama-sama mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, untuk kejadian satu hari ke depan pun sama sekali tidak bisa diprediksi 100% ketepatannya.

ryo-internisti.blogspot.com

Pertanyaan tersebut terlontar karena kita sedang berada di ambang pintu keluar dari dunia kampus ke dunia nyata. Masing-masing dari kita penasaran dengan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani di masa depan.
Aku pribadi sangat sangat sangat penasaran dengan Rindang 5 tahun ke depan. Bagaimana tidak, dengan segala kesulitan yang terjadi padaku sekarang (terutama mengenai skripsiku), aku curiga Allah akan memberikan kejutan yang sangat besar di depan nanti. Aku sih berharapnya kejutan tersebut berupa kebahagiaan. Karena bukankah setelah kesulitan terdapat kemudahan?

Meski begitu, pikiran suuzhonku juga ikut bereaksi tentang kira-mengira ini. Mungkin saja Allah akan memberikanku kesulitan yang lebih besar dari ini. Kesulitan sekarang merupakan bentuk latihan agar aku tidak kaget saat di "medan perang" nanti. Apa pun itu, aku selalu percaya apa yang terjadi adalah yang terbaik.

Demi apa pun yang paling kuinginkan di dunia ini, aku tak akan menukar hidupku dengan kehidupan orang lain yang mungkin terlihat lebih mujur dariku. Seperti yang pernah kukatakan, setiap orang membawa kehidupannya masing-masing. Berbahagialah dengan apa pun yang kamu punya sekarang ini. Masa depan? Mari kita bersabar untuk menunggu kedatangnnya.

Friday, November 21, 2014

Dilema si Kurus

Berat badanku sebenarnya ideal saja kalau dibandingkan dengan tinggi badanku. Tapi dari penampilan aku terlihat kurus (sekali) kata teman-teman. Hiks. Sampai Maya (sepupuku umur 4 tahun) bilang, coba ka Rindang makan banyak-banyak supaya bisa gemuk. Wkwk. Rata-rata sih di keluargaku, anak-anak perempuannya bongsor semua. Aku saja yang terlihat agak kerempeng.

Tidak minder sih aku. Tapi kadang ngenes juga lihat tubuh sendiri di cermin. Kayak anak kurang gizi. Aku bilang masih sekolah SMA pun kayaknya bakal ada yang percaya. Di sisi lain aku merasa cukup beruntung, tidak terlalu pusing mikir untuk menurunkan berat badan. Secara topik obrolan teman-temanku tidak jauh dari diet dan pola hidup sehat karena menurut mereka gemuk itu memperburuk penampilan. Hihi.

Sadar aja sih aku, faktor utama badan kurusku adalah selera makanku yang kurang. Bagaimana ya, sejak kecil aku memang tak suka makan apalagi dengan porsi banyak. Terkadang waktu makan bisa menjadi siksaan tersendiri buatku. Meski begitu aku selalu berusaha untuk makan teratur. Bukan untuk menambah berat badan, tapi untuk menghindari penyakit maag yang jamak menyerang mahasiswa.

Sekarang targetku sih naikin berat badan sekitar 5 kg. Whoho. Semangat!

Wednesday, November 19, 2014

Membangkitkan Idealisme Lewat Novel

Judul : De Winst
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2008
Usai menamatkan sarjana ekonomi dari Universiteit Leiden, RM Rangga Puruhita kembali ke Hindia Belanda, untuk mempraktekkan ilmu yang ia miliki demi kemajuan para pribumi. Akan tetapi, berbagai hal pelik harus ia hadapi. Mulai dari perjodohan paksa dengan Rr. Sekar Prembayun yang sulit ia lepaskan, hingga permasalahan ketidakadilan yang dialami para buruh pabrik gula yang digaji sangat rendah. Haru biru cintanya dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang Belanda totok pun ternyata terancam kandas.

Lantas, muncul Kresna, pemuda misterius yang mengaku kekasih Rr. Sekar Prembayun. Dengan sikapnya yang berandalan dan cenderung kurang ajar, Kresna justru memprovokasi Rangga untuk bangkit melawan imperialisme Belanda. Bersentuhan ideologis dengan Kresna dan Sekar Prembayun, ternyata justru memunculkan benih-benih simpati Rangga kepada perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil itu. Akankah Rangga memilih Sekar Prembayun sebagai pasangan hidupnya? Lantas, bagaimana dengan Everdine Kareen Spinoza? Apakah Rangga juga harus mengkhianati Kresna?
***

Ini adalah salah satu novel sejarah yang aku tak bosan membacanya. Bagaimana tidak, jalinan ceritanya seperti nyata, paduan yang apik antara fakta sejarah dan imajinasi penulis. Itu adalah salah satu kekuatan novel ini menurutku, penulis mampu meyakinkan pembaca bahwa cerita dalam novel ini sungguh terjadi. Seakan penulis memang pernah hidup di di zaman pra-kemerdekaan, setting waktu dalam novel ini.

Dengan tebal buku 336 halaman, penulis mampu merangkum peristiwa-peristiwa penting sekitar tahun 1930-1931 dengan Surakarta sebagai daerah yang paling mendominasi setting tempat dalam novel ini. Selain itu, selipan silsilah  keluarga kerajaan di Jawa yang sedang berkuasa saat itu juga merupakan informasi yang memperkaya wawasan sejarahku. Latar belakang penulis yang memang menyukai sejarah sepertinya ikut mewarnai novel ini. Kelihatan sekali novel ini ditulis dengan sepenuh hati.

Tema utama novel De Winst ini adalah tentang bagaimana keadaan Indonesia ketika Belanda berkuasa. Di novel ini digambarkan bagaimana sikap penjajah Belanda yang semena-mena dengan inlander –warga negara Indonesia yang dulunya bernama Hindia Belanda. Sikap para nederlander –warga negara Belanda, ini terutama sangat terlihat pada bumiputera yang miskin dan berpendidikan. Bahkan pada anak bangsawan atau pun para bumiputera yang berhasil sekolah, Belanda tetap menganggap bahwa inlander adalah warga golongan kelas tiga di dunia.

Amanat terselip yang ingin disampaikan penulis yaitu bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak terletak pada kekayaan sumber daya alam, tetapi terletak pada pendidikan yang maju. Selain itu, kegigihan para pejuang Indonesia pada masa penjajahan harus kita hargai. Besar sekali risiko yang mereka hadapi untuk mendapatkan kemerdekaan, diantaranya adalah dibuang ke pulau terpencil yang masih terisolir dengan dunia luar. Tidak salah sepertinya jika novel ini disebut sebagai novel pembangkit idealisme.

Namun melihat cita-cita yang sangat mulia dari para pendahulu kita, aku jadi risih sendiri. Pemuda zaman sekarang jangankan memperjuangkan nasib bangsa, yang peduli dengan lingkungan sekitar saja masih sedikit. Mereka (atau mungkin termasuk aku?) terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Hiks.

Cara penyampaian penulis yang mengalir membuat pembaca sangat menikmati novel ini Dibandingkan dengan novel sejarah yang pernah kubaca sebelumnya, seperti Mei Hwa dan Adriana, novel ini jelas lebih berat. Diperlukan riset yang tidak sembarangan untuk membangun setting yang bisa “dipercayai” pembaca seperti pada novel ini. Tidak heran jika novel ini disebut sebagai karya terbaik dari seorang Afifah Afra.

Kekurangan dari novel ini menurutku ada pada karakter Sekar dan Kresna. Bahwa mereka berdua adalah satu orang sudah terbaca sejak awal. Sehingga efek surprisenya tidak terasa ketika Sekar mengaku bahwa ia adalah Kresna. Kalimat yang membuatku langsung curiga terdapat pada halaman 51. Ada sedikit senyum congkak di sudut bibirnya yang indah –terlalu indah untuk seorang lelaki. Kalimat yang sama pun diulang kembali pada halaman 68. Tawa Rangga hampir meledak mendengar sapaan “anak muda” yang keluar dari bibir indah –terlalu indah untuk seorang laki-laki itu. “Petunjuk-petunjuk” yang lain juga terdapat di beberapa bab yang lain. Sayangnya juga setelah pengakuan Sekar, tidak dijelaskan meskipun sekilas bagaimana caranya Sekar yang dijaga ketat dalam keraton bisa seenak jidatnya beralih peran sebagai Kresna yang berkeliaran dengan santai.

Selain itu, dari segi cerita menurutku ada yang terlewat, yaitu bagaimana reaksi Ibunda Rangga yang mengetahui ternyata suaminya, KGPH Suryanegara, yang ia sangka setia tersebut ternyata mempunyai seorang anak –haram, dengan wanita lain. Keputusan Rangga untuk menikah dengan Kareen Spinoza juga cukup mengejutkan bagiku. Terlalu cepat.

Kekurangan teknis dari novel ini -yang kubaca terletak pada halaman peralihan antara halaman 73 dan 74. Ada kata atau kalimat yang hilang. Hal ini mungkin dikarenakan adanya penempatan foto yang ada di halaman 73. Well, meskipun ini hanya masalah tata letak tapi tetap mengganggu karena ada sedikit informasi yang terlewat. Beruntung, bagian yang terkena bukan bagian inti dari bab tersebut.

Oya, dari tata bahasa novel ini cukup banyak memuat istilah-istilah asing terutama dari Bahasa Belanda dan juga istilah-istilah dalam Bahasa Jawa. Kekurangan novel ini, tidak adanya catatan kaki tentang arti kata-kata tersebut pada kemunculan pertamanya dalam teks. Meskipun kalau dihubungkan dengan konteks, arti kata-kata tersebut sedikit-sedikit bisa dipahami.

Silent Killer

Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar, aku menyimpulkan bahwa kesepian merupakan sebuah silent killer. Kesepian membuat seseorang tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Sehingga jika bukan dalam arti sebenarnya, kematian juga akan datang pada hati orang yang kesepian.

hamzahankgis.wordpress.com
Bagaimana pun introvertnya seseorang, dia pasti tetap membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Sisi sosial kita membutuhkan hubungan-hubungan emosional dengan orang-orang di sekitar kita. Jika tidak terpenuhi, inilah yang berbahaya. Kesepian akan membunuh kita.

Betapa pun melimpahnya fasilitas kehidupan di sekitar kita, semua tak akan berarti tanpa kehadiran orang-orang yang kita sayang. Aku sendiri salut dengan orang yang hidup sebatang kara -tanpa keluarga, namun tetap eksis menjalani kehidupan dengan menjalin relationship yang baik dengan orang-orang di sekitar.

Kesepian itu bukan takdir. Bahkan jika kita tak punya siapa-siapa dalam hidup, kita masih tetap punya kesempatan untuk memilih orang(-orang) yang kita sayang untuk menemani sisa usia kita.

Tuesday, November 11, 2014

Rahasia Menjadi Bunda Bahagia

Judul: Happy Mom
Penulis: Fita Chakra
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2011
Kebahagiaan menjadi seorang ibu memang sebanding dengan kerepotan yang menyertainya. Begitu banyak tugas yang harus diselesaikan, begitu banyak masalah yang harus dihadapi, tapi begitu sedikit waktu dan dukungan yang didapat. Akibatnya, Bunda menjadi kelelahan, stress, dan tidak bahagia.

Bisakah Bunda berbahagia menjalani peran sebagai ibu? Bisakah Bunda terbebas dari stres? Bisakah Bunda kembali memiliki diri Bunda seperti dulu ketika belum direpotkan dengan urusan anak-anak dan rumah tangga?

Tentu saja bisa, Bunda. Buku ini akan mengajak Bunda menemukan kebahagiaan sebagai seorang ibu. Tips-tips dan ide-ide yang disajikan dalam buku ini dapat Bunda aplikasikan dengan mudah. Nah tunggu apa lagi, jadilah bunda yang berbahagia. Be a happy mom.
**

Ketika membeli buku ini aku sedikit ragu, apakah buku ini akan mudah kupahami dan menyenangkan ketika kubaca? Ternyata, satu bab, dua bab, tiga bab kubaca dengan cepat. Bab-bab selanjutnya sampai akhir kulahap dengan nikmat. Meskipun belum relevan dengan keadaanku saat ini -aku belum menjadi seorang ibu, tapi ternyata isi buku yang dibahas sangat menarik bagiku.

Di bagian awal, diceritakan bahwa menjadi seorang ibu itu sangat bahagia. Namun, ini sering terjadi hanya di awal. Pada fase selanjutnya, yang ada ibu tidak bisa lagi menikmati waktunya sendiri karena lebih sibuk memperhatikan anak(-anak). Belum lagi repotnya pekerjaan rumah tangga, membuat kebahagiaan ibu sepertinya hanya bersifat semu.

Di bagian selanjutnya dipaparkan apa-apa saja masalah yang menghinggapi seorang ibu, termasuk di dalamnya adalah terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dalam waktu yang terbatas. Bisa dibayangkan ya bagaimana repotnya menjadi ibu yang tidak mempunyai asisten rumah tangga atau baby sitter, ditambah pula suami tidak membantu meringankan beban misalnya. Selain kerikil-kerikil tersebut, dalam buku ini juga disebutkan apa saja yang dibutuhkan oleh seorang ibu untuk menenangkan diri. Ada tiga hal, yaitu waktu untuk sendiri, kegiatan lain sebagai sarana aktualisasi diri, dan perasaan dicintai dan dihargai.

Pada bab selanjutnya yang berjudul Menjalin Hubungan yang Hangat dipaparkan bagaimana seorang ibu bisa menjadi supermom yang disayangi oleh anak-anak dan dicintai oleh suami. Satu cara yang baru kuketahui adalah one-on-one time, yaitu menyediakan waktu khusus untuk setiap anak. Cara ini adalah cara untuk mengatasi kecemburuan anak terhadap anak lainnya, jika ibu memiliki lebih dari satu anak. Menurutku cara ini cukup efektif untuk mendekatkan ibu dan anak, sekaligus mencegah kecemburuan tersebut terjadi.

Jalan menuju kebahagiaan dibahas pada bab selanjutnya. Ada lima cara untuk mencapai kebahagiaan seorang ibu, yaitu menajemen waktu, mengelola stres, menjadwalkan waktu me-time, menumbuhkan kepercayaan diri, dan biarkan diri ketika merasa lelah.

Pada bagian akhir yang berjudul Memeluk Kebahagiaan, ada beberapa poin yang kugarisbawahi.

Kebahagiaan itu ada dalam diri sendiri. Bahagia itu tergantung pada persepsi setiap orang. Kebahagiaan sejati itu ada dalam syukur dan doa.

Asli, aku jadi berasa lapang setelah membaca buku ini. Setidaknya, belum menjadi ibu pun kehidupan zaman sekarang yang dinamis memang menuntut kita harus menciptakan kebahagiaan dari dalam diri sendiri baru selanjutnya menularkannya ke orang lain.

Kado Ulang Tahun untuk Suamiku

Dear tata,

Selamat ulang tahun :* 

Tak ada kado istimewa yang bisa kutemukan untukmu lebih spesial dari ini. Sebuah catatan. Ya, sebuah tulisan. Kamu tak akan menemukan kado ini di toko manapun, karena aku khusus membuatnya untukmu.

Aku tahu, kamu akan berkata bahwa tahun ini kado ulang tahun terindah adalah hadirnya aku dalam hidupmu. Abaikan, kalau aku terlalu geer. Setidaknya dengan mengatakan begitu, berarti aku yakin dengan besarnya rasa cintamu padaku.

Tanyakan sekali lagi, apakah aku juga mencintaimu? Jawabannya, sangat. Aku jatuh cinta berkali-kali padamu di awal pernikahan kita. Serius. Akad yang kau ikrarkan di hadapan penghulu 19 hari yang lalu mampu membuatku luluh. Janji suci tersebut juga otomatis menjadi pengunci hatiku untuk cerita-cerita dari masa lalu. You're the one.

Sejak aku mengenalmu sewindu yang lalu, aku tahu kita sangat berbeda. Kontradiktif. Aku tak pandai mengontrol emosi, kamu begitu penyabar. Kamu sosialis, aku individualis. Aku introvert, kamu ekstrovert. Kamu supel, aku kaku. Aku seriusan, kamu humoris. Bahkan hingga sekarang, hitam-putih itu masih ada. Beruntungnya kita, perasaan 'ajaib' itu menambal gap antara kita.

Kamu boleh bilang perasaan itu cinta. Tapi bagiku yang pemikir ini, butuh waktu (sangat) lama untuk memastikan itu. Dulunya, kupikir perasaan ini sementara saja. Pun kurasa, ini hanya sekedar kekaguman junior terhadap senior. Setelah menikah, aku menyadari ternyata ini bukan sekedar cinta. Tapi juga komplikasi seluruh perasaan bahagia yang kupunya; sayang, rindu, damai, tenang.

Hampir tiga minggu usia pernikahan kita sekarang, kupikir aku masih perlu banyak belajar untuk menjadi istri yang baik. Lagipula sepertinya waktu 1 minggu bersama, jauh dari cukup untuk merangkum seluruh tentangmu (juga tentangku). Ada masih banyak sisi masing-masing dari kita yang harus dipahami dengan bersama. Namun untuk sementara, biarlah jarak berkuasa atas segala investasi rindu kita. Kesabaran pasti akan berbuah manis.

Jangan terkejut jika di tengah-tengah perjalanan nanti kamu menemukan sisi diriku yang lain. Seperti yang pernah kamu bilang, sepertinya aku berbakat menjadi bunglon. Berubah 'warna' kapan pun aku suka. Beberapa hal yang random juga sulit dipahami di balik sifatku yang orderly. Yang jelas, aku yang selama ini kamu kenal bukanlah 'pencitraan'. Hanya, karena memang aku tak mungkin menggambarkan siapa aku sama jelasnya dengan ketika kau melihatnya langsung.

Meskipun kita pernah berkata bahwa akan menerima apa adanya tentang masing-masing kita. Aku tak ragu jika aku aku harus 'berubah' untuk menyenangkanmu. Siapa lagi yang bisa kubuat bahagia dengan balasan surga, selain kamu imamku? Bahkan menurut syara, prioritasku terhadapmu lebih tinggi dari pada prioritasku terhadap ayah-ibuku.

Kanda, mungkin saat ini kamu terlelap dengan tubuh yang letih karena seharian bekerja. Semoga ketika fajar membangunkanmu, badanmu akan kembali segar. Baca kado ini pagi-pagi dan bawa semangatnya hingga malam kembali.

Love you

Rindang

Tuesday, November 4, 2014

2 0 1 4

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa ngeblog lagi.  Ada terlalu banyak cerita yang kalian lewatkan tentangku. Hehe. Yang paling hits tentu saja adalah cerita tentang pernikahanku.


Tanggal 24 Oktober lalu aku resmi menjadi seorang Mrs. Tony. Alhamdulillah, halal. Tahun 2014 sepertinya memang tahun sakral bagiku. Lihat saja, tanggal pernikahanku pun terdiri dari unsur-unsur tahun tersebut, 24-10-2014.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates