Thursday, October 30, 2014

Sakinah di Dunia, Bahagia di Akhirat

Judul : Doa-Doa untuk Pengantin
Penulis : Sita Simpati
Penerbit : Mizania
Tahun terbit : 2012
Selain buku Sebelum Aku Menjadi Istrimu, buku ini juga merupakan salah satu buku penuntunku menuju ke jenjang pernikahan. Ada banyak hal yang dibahas dalam buku ini, dari kiat menemukan pasangan hidup terbaik, tuntunan menjalani proses pernikahan yang halal dan berkah, sampai doa-doa untuk suami istri dalam menjalani pernikahan.Intinya buku ini bertujuan agar kita bisa membangun keluarga yang sakinah di dunia dan bahagia di akhirat.

Di bab pertama, yang berjudul Karena Aku Ingin Bahagia dipaparkan penjelasan bahwa menikah itu merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya. Ada banyak alasan mengapa kita harus menikah, antara lain karena menikah adalah separuh dari agama, menikah dapat menjauhkan kita dari buasnya nafsu syahwat, derajat orang yang menikah lebih tinggi daripada orang, menikah juga merupakan salah satu jalan agar Allah memberikan pertolongan, di setiap detik pasangan yang menikah bernilai ibadah jika diniatkan dan dilakukan dengan benar, menikah juga merupakan kunci untuk membuka pintu surga, menikah merupakan salah satu cara berjihad di jalan Allah, serta menikah merupakan jalan untuk mendapatkan limpahan rezeki.

Bab kedua yang berjudul tentang Wanita yang Baik untuk Laki-laki yang Baik berisi tentang bagaimana cara menemukan pasangan terbaik. Berdasarkan hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa wanita dipilih karena empat perkara yaitu kecantikan, keturunan, harta, dan agamanya. Maka pilihlah yang paling baik agamanya. Setidaknya yang paling harus kita pahami adalah ketika kualitas diri kita baik, maka inshaallah kita juga akan mendapatkan pasangan yang baik. Ingin mencari pasangan terbaik? Yuk perbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Selanjutnya terdapat pembahasan tentang bagaimana cara agar membuat cinta dapat bertahan. Karena seperti yang umum kita ketahui, cinta jauh lebih susah dipertahankan daripada didapatkan. Ssst, ada pembahasan tentang adab-adab untuk malam pengantin juga lho.

Buku-buku ini juga dilengkapi dengan kisah-kisah pengantin pilihan. Pengantin dengan kehidupan pernikahan yang mesra hingga akhir hayat, termasuk di dalamnya adalah kisah tentang cinta sejati mantan presiden kita pak Habibi dan sang istri, ibu Ainun. Kisah-kisah tersebut tak ada tandingannya, sekali pun dengan cerita cinta sejuta umat, Romeo dan Juliet yang sad ending.

Nah seperti judul bukunya, di bagian penutup buku ini terdapat doa-doa untuk pengantin. Ada banyak doa-doa pendek yang ditujukan khusus untuk pengantin. Contohnya doa agar diberi anak yang saleh, doa malam pertama, doa agar keluarga bertakwa, doa mendapatkan rezeki yang berkah, serta doa-doa yang lainnya.

Dari segi bahasa, buku dengan tebal 194 halaman ini mudah dipahami dan enak dibaca. Informasi yang terdapat dalam buku ini juga sangat berguna bagi pasangan yang akan menikah, pasangan yang sudah menikah, atau bahkan bagi jomblo yang belum menemukan pasangan juga boleh membacanya. Hihi.

Dibandingkan dengan buku Sebelum Aku Menjadi Istrimu, buku ini lebih mengandung konsep dasar dari pernikahan. Sedangkan buku Sebelum Aku Menjadi Istrimu, selain konsep juga terdapat beberapa tips praktis yang berkaitan dengan persiapan pra-nikah.

Thursday, October 16, 2014

Super Bride yang Mengalahkan Bidadari Surga

Judul : Sebelum Aku Menjadi Istrimu
Penulis : Deasylawati P.
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2013
Buku ini merupakan salah satu buku yang kubaca sebagai “bekal” pernikahanku. Menurutku isinya lumayan lengkap, karena beberapa hal yang berhubungan dengan persiapan sebelum pernikahan, saat pernikahan, dan pasca pernikahan dibahas dalam buku ini. Termasuk serba-serbi kehamilan dan bagaimana cara mengasuh anak.

Pada bagian awal buku ini menjelaskan bagaimana caranya agar kita bisa bersaing dengan bidadari. Ya, bidadari surga yang akan merebut suami-suami saleh kita di akhirat nanti. Kita bisa saja mengalahkan mereka dalam "persaingan" merebut lelaki saleh di surga nanti jika kita bertakwa pada Allah dan taat pada suami kita saat di dunia. Gak kebayang kan betapa indahnya kalau kita bisa terus bersama dengan suami yang kita cinta di dunia dan di akhirat. Di bab selanjutnya, buku ini juga menegaskan bahwa lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Jika ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik, maka kita perlu memperbaiki diri kita terlebih dahulu.

Di bab selanjutnya yang berjudul Ilmu Sebelum Amal dituliskan hal-hal apa saja yang perlu diketahui sebelum menjalani pernikahan. Seperti ilmu tentang pernikahan, ilmu manajemen keuangan buat calon istri, ilmu tentang bagaimana memahami kepribadian pasangan, ilmu tentang kehamilan, persalinan, dan menyusui, ilmu pendidikan anak, serta ilmu gizi. Whuaaa, keren kan? Pembahasan masing-masing ilmu tersebut cukup singkat tapi lengkap dan padat.

Lalu penulis juga mengajak kita para calon istri untuk siap-siap action. Ya, ilmu tanpa amal kan percuma. Action yang pertama adalah menyiapkan mental kita. Dalam pernikahan, kita dituntut dewasa dalam menjalani kehiduapan. So, persiapan mental sangat penting. Apalagi perubahan status dari seorang gadis menjadi seorang nyonya itu bukan perkara sepele. Selanjutnya adalah persiapan fisik. Yup, untuk menghadapi hari H kamu harus mempunyai fisik yang prima. Kebayang dong saat resepsi kita harus full tampil ekstra menarik dan murah senyum melayani tamu-tamu yang datang. Jangan sampai kita jatuh sakit. Malah kasihan keluarga yang menyiapkan segala sesuatunya.

Di bab lima, terdapat penjelasan tentang latihan-latihan penunjang yang harus dilakukan calon istri sebelum menghadapi pernikahan. Contohnya nih kita harus bisa beres-beres rumah, memasak, mengasuh anak, dan jahit menjahit. Di akhir bab, penulis mengajak kita untuk meluruskan niat agar kita menjadi super bride yang didambakan oleh para lelaki saleh.

Hal yang kusuka dari buku ini adalah pembahasannya yang teknis sehingga bisa diaplikasikan langsung dalam keseharian kita. Selain itu, bahasa yang digunakan penulis juga cenderung rame sehingga tidak membuat bosan pembaca.

Sejauh ini menurut seleraku, buku ini masih tanpa kekurangan. Jadi, aku tak segan untuk merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh kamu-kamu yang bersiap melaksanakan separuh diennya. Ayo baca buku ini!


Sunday, October 12, 2014

Sekaca Cempaka

Dua bulan yang lalu (hiks, late post banget ya), aku mengikuti diskusi novel karya Nailiya Nikmah yang berjudul Sekaca Cempaka. Sampai sekarang, aku belum baca novelnya sih. Tapi dari diskusi tersebut aku tahu inti cerita dalam novelnya.

Ada dua orang yang pernah menjalin hubungan percintaan, kemudian sama-sama menikah dengan orang lain. Di suatu ketika, setelah beberapa tahun umur perkawinan mereka masing-masing, si tokoh perempuan menemukan sebotol bunga cempaka di gudang rumahnya. Ia ingat yang memberikan sekaca cempaka tersebut adalah seorang "mantan"nya yang kini juga sudah menikah. Entah apa gerangan, kenang-kenangan tersebut membuatnya risau bermalam-malam. Dengan kebetulan yang sedemikian rupa, ia pun akhirnya bertemu dengan lelaki masa lalunya tersebut yang juga memiliki sekaca cempaka yang lain, pasangannya. 

Hubungan nostalgia pun terjadi, membuat rumah tangga kedua belah pihak terancam kandas. Apakah sepasang cempaka mempunyai nilai mistis serupa guna-guna? Dengan berbagai jalinan cerita akhirnya, kata yang pernah membaca, novel ini berakhir dengan win-win solution.

Sekaca Cempaka sendiri dalam kultur orang Banjar merupakan bunga cempaka yang dimasukkan dalam botol kaca yang berisi cairan-entah-apa, yang jelas bunga cempaka tersebut menjadi awet meskipun bertahun-tahun berlalu. Mitosnya, pasangan yang memegang sepasang cempaka ini hubungannya juga akan awet seawet cempaka dalam botol.

Novel ini berlatar belakang budaya Banjar, sehingga pantaslah jika menjadi pemenang lomba novel di Aruh Sastra -event sastra tahunan di Kalimantan Selatan. Selain itu, latar belakang penulis yang orang pahuluan asli juga menjadikan novel ini sangat kental dengan budaya Banjar.

Di diskusinya sendiri yang lebih banyak dibahas adalah bagaimana patriarki dalam kehidupan masyarakat Banjar. Novel ini -katanya, mencoba menentang "kebiasaan" orang Banjar yang biasanya perempuan yang nrimo, dalam novel ini perempuannya yang berselingkuh.


Aku sendiri berpendapat, meskipun belum membaca, novel ini cukup keren. Dengan setting tempat dan budaya di tempat sendiri, bukan tidak mungkin memperkaya khazanah wawasan pembaca bahkan untuk orang Banjar sepertiku yang mungkin tidak tahu detail budaya Banjar yang kaya.

Saturday, October 11, 2014

Bagaimana Hidupku Tanpa Internet?

Jangan tanya tanpa internet, jaringan internet lelet saja bisa membuatku badmood. Heuu. Nggak kebayang deh kalau beberapa bulan ke depan aku bakal lulus dan balik ke kampung halaman. Tahu sendirilah, sinyal di kampung tak ada sama sekali untuk kartu seluler yang kugunakan internetan. Untuk kartu yang kugunakan untuk telpon-sms saja byar pet.

Padahal aku bukan termasuk yang kecanduan internetan. Aku menggunakan internetan untuk hal-hal yang lebih penting dari sekedar sosmed-an. Jadwal internetanku pun tidak 24 jam sehari, hanya pada waktu-waktu tertentu. Tapi mengapa aku bisa menjadi badmoood kalau koneksi internet lelet, karena yang kuakses biasanya memang penting. Tahu sendirilah, di zaman sekarang internet sudah menjadi kebutuhan primer.

Kalau kamu bagaimana?

Wednesday, October 8, 2014

Bedah Tikus


Tikus putih pada gambar di atas adalah objek observasi penelitian teman-temanku. Sebelumnya pada praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan kami juga sudah pernah melakukan pembedahan mencit.

Pembedahan ini bertujuan untuk melihat secara utuh organ-organ dalam tikus/mencit, seperti hati, paru-paru, dan jantung. Tikus atau mencit yang digunakan berfungsi sebagai gambaran umum mamalia, khususnya manusia. Penelitian yang menggunakan tikus atau mencit biasanya adalah penelitian yang menguji-coba suatu senyawa atau obat-obatan apakah dapat bermanfaat atau bisa merusak organ dalam tubuh hewan. Ketika senyawa tersebut berpengaruh pada mencit, maka diasumsikan senyawa tersebut juga memiliki pengaruh yang sama pada organ tubuh manusia.

Gak kebayang kan kalau kita ingin meneliti kerusakan yang diakibatkan rokok pada hati manusia misalnya, kita menggunakan hati manusia beneran. Dalam kurun waktu satu tahun penelitian saja, ada berapa banyak manusia yang dikorbankan sebagai objek. Hiiiy. Mungkin saja sih menggunakan manusia sebagai objek penelitian, tapi itu jika si manusianya memang berniat menyumbangkan tubuhnya untuk ilmu pengetahuan (seperti di novel The Lost Symbol). Lagian, proses perizinannya tentu tidak semudah donor darah. Nyawa bray.

Untuk metode pembedahannya sendiri, kita harus menggunakan peralatan bedah yang biasanya ada dalam set, termasuk di dalamnya ada gunting, pisau, pinset, dan lain-lain. Ukurannya beragam tergantung objek yang kita bedah. Memulai bedahan biasanya dari bagian tubuh ventral bawah. Pertama-tama ditusuk sedikit agar kulitnya terbuka, baru dengan perlahan digunting hingga bagian atas dan arah guntingan ke dua arah sehingga bagian dalam tubuh bisa terlihat dengan jelas. Supaya tidak merusak organ tubuh yang akan diamati, mengguntingnya harus hati-hati. Mau mencoba? Jangan lupa pakai sarung tangan ya...

Tuesday, October 7, 2014

Manusia Setengah Robot

Kali ini aku bercita-cita ingin menjadi manusia setengah robot. Bolehlah semacam doraemon, punya kantong ajaib yang dapat mengeluarkan semua benda yang dipinta oleh Nobita. Tapi kali ini aku aku hanya berharap punya pintu bahagia yang selalu bisa kubuka ketika ada yang memerlukan rasa bahagia.

moneter.co

Benar, aku ingin menjadi robot pemberi rasa bahagia bagi orang-orang di sekitarku. Mengapa hanya setengah robot? Karena setidaknya masih kusisakan setengah rasa manusiaku untuk menikmati kehidupanku sendiri. Aku sadar, sesadar-sadarnya, selama ini keputusan-keputusan yang kuambil dalam hidupku hanya berdasar pada kebahagiaanku sendiri. Saatnya memberi kebahagiaan pada orang lain.

Bismillah.

Friday, October 3, 2014

Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Judul : Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2014
Membaca judulnya, Mei Hwa, tentu kita akan mencium bau-bau chinese dalam novel ini. Apalagi ada “penampakan” lampion berwarna ungu perlambang kebangsawanan di sampulnya. Ya, Mei Hwa memang seorang gadis berdarah tionghoa. Dia memiliki keberuntungan hidup yang berlimpah. Orang tua dan saudara-saudara laki-laki yang sayang padanya, kemapanan harta keluarga, kecerdasan otak, dan kecantikan fisik yang didambakan setiap gadis pada zamannya. Sayangnya, ia hidup di zaman yang salah. Di zaman ketika etnisnya dianggap musuh oleh pribumi.

Dengan tebal 368 halaman, novel ini sangat apik merangkum cerita dan sejarah dalam rentang waktu dari tahun 1936 hingga tahun 1999. Hingga pantaslah kalau si tokoh kedua, Sekar Ayu disebut sebagai Sang Pelintas Zaman.

Ada beberapa kata yang terdengar sangat scientist dalam novel ini, seperti katarsis dan neuron. Ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakang penulis yang latar pendidikannya juga scientist. Meskipun terkesan "maksa" untuk ukuran novel yang berbalut sejarah, istilah-istilah tersebut menjadikan ragam bahasa yang digunakan semakin kaya, karena selain nyastra juga ada banyak istilah-istilah dalam Bahasa Jawa.

Penggambaran bagaimana orang yang terganggu kejiwaannya pun menurutku digambarkan baik oleh penulis. Bagaimana ternyata orang sakit jiwa itu melihat dirinya yang bisa berubah wujud menjadi burung kutilang, elang, atau bahkan kera sakti!

Membaca novel ini perlu kefokusan yang tinggi. Karena alurnya yang cepat dan perpindahan waktu dari zaman pra-kemerdekaan ke zaman reformasi berganti-ganti pada setiap bab. Jadi berasa main lompat-waktu. Deuuh. Perjalanan ceritanya juga sangat panjang. Sampai ke Negeri Sakura segala. Kalau novel ini dijadikan film, pasti seru.

Kekurangan novel ini dari segi cerita menurutku adalah tidak diceritakannya bagaimana kabar kakek-nenek Sekar Ayu dari pihak ibunya pasca kedatangan tentara Jepang. Jika bagian ini diceritakan, kemungkinan perubahan plot bisa saja terjadi. Kehidupan Sekar Ayu mungkin tak segetir yang ada di novel ini. Hiks, *efek terlalu menghayati.

Buku ini cocok dibaca oleh orang yang suka maupun tidak suka sejarah. Melalui novel ini, sebagian pelajaran sejarah Indonesia bisa terangkum dengan baik. Entah mengapa, kebetulan aku membaca novel ini juga di rentang waktu 30 September yang notabene adalah hari G30S-PKI yang juga merupakan salah satu poros sejarah dalam novel ini.

Pesan moral yang bisa kuambil dari novel ini adalah betapa perbuatan jahat manusia bahkan belum di akhirat, di dunia pun kita sudah menerima balasannya. Meski itu dalam bentuk sebab akibat atau karma. Itu pesan terpenting novel ini menurutku, amanat-amanat lain tentunya juga banyak. Kamu harus membaca sendiri untuk mendapatkannya.

Thursday, October 2, 2014

Emisi Gas dari Sapi

Kali ini aku ingin bercerita tentang proyek penelitian punya dosenku yang aku ikut membantu pengerjaannya. Tema penelitiannya adalah emisi gas rumah kaca dari sapi. Hah, sapi? Yup bener, sapi! Di dunia akademik, sapi merupakan salah satu sumber terbesar yang menyumbang emisi gas rumah kaca di bumi. Yang artinya, sapi adalah salah satu penyebab terjadinya global warming yang berasal dari efek rumah kaca.

Ribet ya kalau udah ngomong tentang hal-hal ilmiah. Mari kupermudah, aku hanya ingin bercerita tentang bagaimana cara pengambilan sampel gas dari si sapi tersebut. Ada beberapa ekor sapi yang diambil sampel gasnya. Satu-persatu mereka dimasukkan ke dalam chamber kedap udara yang terbuat dari mika/kaca. Kemudian pada menit-menit tertentu, gas diambil menggunakan syiringe yang terhubung ke bagian dalam chamber.


Untuk membuat sapi ini tetap tenang di dalam chamber tertutup, tentu saja dia harus dikasih makan terlebih dahulu dan rumput pun harus tersedia di dalam chamber tersebut. Selain itu, ada kipas kecil (tenaganya dari aki) di atas punggung sapi yang dilekatkan pada langit-langit chamber untuk membuat udara dalam chamber berputar agar si sapi tidak merasa terlalu kepanasan.


Setelah sampel gas diambil, baru deh sampel gas tersebut dianalisis di laboratorium dengan alat yang bernama chromatography gas. Dari hasil analisis tersebut kemudian baru dihitung menggunakan rumus-rumus tertentu dan bisa diambil kesimpulan apkah benar gas dari sapi berbahaya bagi lingkungan dan dapat meningkatkan efek rumah kaca di bumi. 

Segitu dulu deh ya ceritaku mengenai persapian dan gas ini. Nanti kuceritakan lagi hal-hal menarik dari penelitian-penelitian yang kulakukan, baik penelitianku ataupun penelitian proyek dosen yang aku ikut serta di sana.




 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates