Monday, September 8, 2014

Lampau; Masa Lalu yang Menyeruak

Judul : Lampau
Penulis : Sandy Firly
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2013
Novel ini menceritakan tentang seorang anak Suku Dayak Meratus bernama Sandayuhan. Ayuh, nama panggilannya, terlahir dari seorang perempuan sakti bernama Uli Idang. Uli Idang adalah seorang balian kampung di pegunungan Meratus. Kesaktiannya sebagai satu-satunya balian perempuan terkenal ke seluruh penjuru gunung, sekaligus diiringi desas-desus tak mengenakkan mengenai suami Uli Idang, ayah Ayuh.

Ayuh bukanlah seorang anak yang pintar secara akademis. Kehidupannya lebih banyak dilingkupi oleh dunia mistis dan perdukunan kampung. Meskipun begitu ia tetap bersekolah ke SD kampung di bawah gunung, seperti lazimnya anak-anak yang berada di kampungnya. Namun setelah lulus SD ia memutuskan untuk melakukan hal yang tidak lazim, yaitu melanjutkan sekolah di kota.

Bagaimanakah jalan hidup Ayuh selanjutnya, setelah ia “mengintip” dunia? Bagaimana ia bisa sampai di Jakarta dan bertemu dengan dua gadis yang menarik hatinya? Satu diantaranya adalah gadis berkepang dua miliknya di masa lalu. Lalu bagaimana pula akhir cerita dari kisah-kasih orang tua Ayuh yang penuh teka-teki? Cerita sebagian yang Ayuh terima dari Amang Dulalin, sepupu ibunya, membuatnya banyak bertanya dalam diam selama ia mengembara.

Karena bagaimanapun, masa lalu akan selalu menyeruak, mencari jalan keluar(Kaled Hosseini).

Kekuatan novel ini menurutku terdapat pada setting yaitu pegunungan Meratus, suku Dayak Meratus, dan budayanya. Penulis dengan lihai menuangkan mitos-mitos yang berkembang di pegunungan Meratus menjadi sebuah cerita fiksi yang apik. Novel ini tepat dibaca oleh orang-orang yang ingin mengetahui kehidupan suku Dayak Meratus dan Banjar, yang notabene hidup bersisian.

Kelemahan novel ini menurutku adanya beberapa logika cerita yang kurang masuk akal. Misalnya mengapa Sandayuhan begitu cepat keluar dari pesantren hanya karena dituduh mencuri sedangkan sebelumnya ia digambarkan sebagai seseorang yang berprinsip kuat. Alasan mengapa ayah Ayuh pergi meninggalkan istrinya yang sedang mengandung pun menurutku terlalu lemah. Betapa ringankah cintanya pada Uli Idang sehingga ketika dihembus gosip saja sudah terbang melayang. Beberapa kejadian juga digambarkan berlalu begitu cepat. Seperti proses kehidupan Ayuh di rantau yang pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pula proses ketika ia menulis dan berhasil menerbitkan bukunya. Aroma perjuangannya kurang terasa.

Namun bagaimana pun, novel ini tetap keren secara keseluruhan. Tidak banyak penulis yang mampu menceritakan budaya secara rinci di sela-sela cerita fiksi yang ditulisnya. Selingan-selingan cerita seperti kelakuan Amang Dulalin yang jatuh cinta dengan seorang bule wanita gara-gara bekas poster celana jeans, membuat novel ini semakin “lezat” untuk dinikmati.

Novel dengan ketebalan 345 halaman ini mempunyai plot maju-mundur. Gaya bahasa penulis yang apik membuat novel ini nyaman dibaca oleh penikmat diksi sepertiku. Sama seperti beberapa novel yang bertema kehidupan anak desa yang merantau ke kota, novel ini memiliki pesan tersirat bahwa untuk menggapai kesuksesan kita harus berusaha tanpa kenal lelah.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates