Thursday, July 31, 2014

Koleksi Kucing Keluarga

Keluargaku -terutama bapa, kecuali mama- suka memelihara kucing. Berikut adalah beberapa kucing peliharaan kami. Kucing-kucing ini datang dan pergi, tidak kemana-mana, tapi karena lahir dan mati. Sekarang, di rumah hanya ada 3 ekor kucing.









Wednesday, July 30, 2014

Rindang Humoris?

Beberapa orang menganggapku punya sense of humor yang bagus dibalik sifat seriusku. Yang benar saja, pikirku. Tapi kesini-kesini, setelah kupikirkan kembali, sepertinya benar juga.

credit

Sebenarnya aku hanya bisa mengeluarkan joke di depan orang-orang yang membuatku nyaman, yang jumlahnya relatif sedikit. Jadi yah ini semacam sifat parsial yang melekat di karakterku, humoris.

Tuesday, July 29, 2014

Makanan Khas Lebaran

Berikut adalah makanan-makanan khas lebaran di keluargaku.

1. Soto Banjar
Dimasak dengen resep keluargaku, soto ini sangat mantap untuk dinikmati pagi-pagi sebelum atau setelah shalat Ied. Dijadikan suguhan buat tamu juga oke. Ayam yang dimasak biasanya dipotong sendiri dari kandang di belakang rumah. Apalagi ditambah dengan perasan limau kuwit. Aih., sedapnya.


2. Bubur Ayam
Bubur ayam masakan mamaku beda dengan bubur yang dijual sama penjual bubur pagi-pagi. Bubur ayam Banjar, kalau boleh kusebut. Rasa ayamnya terasa banget berpadu dengan rasa lemak yang khas karena ditambah santan.


3. Nasi Kuning Masak Habang
Nasi kuning ini juga khas Banjar. Dengan warna kuning asli dari ekstrak kunyit yang diparut dan rasa lemak santan yang nggak setengah-setengah, nasi kuning  resep keluargaku berasa banget yummynya. Lauknya kalau nggak ayam ya telur rebus dimasak dengan kuah masak habang, semacam bumbu dari cabai merah besar yang dimasak.

4. Tape Ketan Hijau
Tape ketan hijau juga merupakan penganan khas lebaran di keluargaku, bahkan di kampungku. Membuat tape ini tidak bisa sembarangan, pembuatnya harus benar-benar steril lahir dan batin. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa membuatnya. Mama biasanya minta bikinkan dengan tetangga yang jago dan berpengalaman dalam membuat tape ini. Rasanya enak (bagi yang suka) dan hangat di perut. Asal jangan kelamaan menyimpannya karena kandungan alkohol yang terdapat di tape akan semakin meningkat dan menimbulkan rasa yang nyelengit.


5. Kue Apam
Nenekku jago sekali membuat kue apam khas Barabai,daerahku. Sama seperti apam, membuat kue apam juga tidak semua orang bisa. Kalau tidak bisa, hasil kuenya akan aneh. Entah rasa yang kurang mantap, atau tekstur yang kurang bagus. Di keluarga besar mamaku, kue apam buatan nenek jadi penganan best seller yang paling dicari-cari.

Monday, July 28, 2014

Tujuh Persiapan Menyambut Lebaran

Tujuh hal yang harus disiapkan menjelang lebaran, yaitu:

Persiapan hati
Yup, ini yang paling perlu disiapkan nih. Persiapan hati artinya kita harus memahami benar-benar, apa sih esensi sebenarnya dari lebaran itu. Apakah benar kita sudah menang di lebaran kita kali ini? Apakah target-target ramadhan kita sudah tercapai semua? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggiring kita pada satu kesimpulan bahwa kita telah siap menyambut lebaran. Yang paling penting adalah kita harus berniat bahwa setelah Ramadhan tahun ini, kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari pribadi sebelum Ramadhan.

Meminta maaf
Meskipun kita merasa tidak pernah melakukan kesalahan kepada orang lain, minta maaflah terlebih dahulu. Karena bisa saja kita tidak sengaja melakukan sesuatu dalam setahun terakhir ini yang  menyakiti hati orang lain. Selain itu, jika ada orang yang meminta maaf, maafkan dengan tulus. Lebaran akan semakin indah dengan hati bersih karena telah dicuci dengan puasa dan saling memaafkan kesalahan.

Membayar zakat fitrah
Sebenarnya zakat fitrah boleh diantar kapanpun selama bulan Ramadhan sebelum shalat Idul Fitri. Tapi biasannya di kampung-kampung, mengantar zakat fitrah dibarengkan ketika malam lebaran. Siapkanlah barang yang akan dizakatkan sesuai jumlah atau takarannya dengan jumlah anggota keluarga. Pastikan pula orang yang diberi zakat benar-benar membutuhkan.

kerockan.blogspot.com

Menyiapkan perlengkapan shalat Idul Fitri
Perlengkapan shalat ini meliputi mukena, peci, sajadah, dan baju yang digunakan ke masjid. Tidak perlu baru, asal bersih, rapi, dan wangi. Tak akan ada orang yang mencela kok jika kita tidak memakai baju baru (beli).

Menyiapkan mudik
Yang rumahnya di kota dan akan berlebaran di kampung, siapkan segala sesuatu untuk perjalanan mudiknya. Bagi yang rumahnya akan didatangi sebagai tempat mudik, siapkan tempat senyaman mungkin untuk keluarga yang akan menginap di rumah kita.

Membersihkan rumah
Bersih-bersih rumah wajib dilakukan ketika menyambut lebaran, karena akan ada lebih banyak tamu yang datang ke rumah saat lebaran dibandingkan hari-hari biasa. Ga mau kan, rumah terlihat tidak bersih ketika tamu datang berkunjung?

Menyiapkan penganan
Selain untuk disuguhkan ke tamu-tamu yang datang, penganan tentunya juga bisa dinikmati oleh keluarga di rumah. Tidak ada salahnya memasak sesuatu yang beda dan istimewa di hari yang juga istimewa tersebut.

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Sunday, July 27, 2014

Mudik Kemana?

Aku tidak mudik kemana-mana. Maksudku, keluargaku tidak mudik kemana-mana. Aku sih ngekost sekarang, tentu saja pulkam ke rumah.

nutrisiuntukbangsa.org

Rumah tempat tinggalku di kampung, yang berdekatan dengan rumah nenek, menjadi tempat mudik keluarga besar terutama keluarga dari pihak bapa. Kalau dari pihak mama, hampir semua keluarga tinggal di daerah yang tidak jauh dari rumah, sehingga tidak ada yang ditunggu mudik. 

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Saturday, July 26, 2014

Kegembiraan Orang Berpuasa

Ada banyak sekali hikmah puasa. Salah satunya adalah mendatangkan kegembiraan di hati orang yang menunaikannya. Kegembiraan tersebut ada dua, yaitu gembira ketika waktu berbuka dan gembira ketika bertemu dengan-Nya suatu hari nanti. Oleh karena itulah, puasa bagi sebagian orang bukan beban tapi sebuah kenikmatan tersendiri.


Gembira saat berbuka
Saat seseorang berpuasa, hal yang paling ditunggu adalah waktu berbuka. Bagaimana tidak gembira, setelah dilarang menjamah makanan dan minuman sejak subuh, ketika waktu berbuka tiba kita dihalalkan untuk makan, minum, dan melakukan hal-hal yang dilarang saat berpuasa. Bandingkan jika seseorang tidak puasa, tak ada kegembiraan yang ia dapat saat bedug tiba. Karena ia sudah merasakan makan dan minum pada siang hari.

Gembira saat bertemu dengan Allah
Kelak di hari akhirat seseorang yang rajin berpuasa akan berseri-seri wajahnya saat berjumpa dengan sang Rabb. Karena ia telah membawa pahala puasa sebagai ganjaran atas kesediaannya menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya fitrah namun diharamkan saat berpuasa. Hal lain yang membahagiakan orang ini adalah ia dipersilakan oleh Allah masuk surga melewati pintu Ar-Royyan yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.

Semoga kita bisa merasakan kedua kebahagiaan tersebut. Satu kebahagiaan di dunia dan satu lainnya kebahagiaan saat di akhirat nanti.

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Friday, July 25, 2014

Puasa, si Kambing Hitam?

Ada nggak nih yang beranggapan, kalau lagi puasa, kita boleh males-malesan? Ayo ngaku, hehe.

Yup, yang benar puasa bukan alasan untuk malas beraktivitas. Puasa juga bukan si kambing hitam yang bisa disalah-salahin ketika kita loyo, nggak bersemangat, dan rasanya ingin merem terus saat siang hari.

pemikir-cerdas.blogspot.com

Ada beberapa mindset yang keliru nih tentang puasa. Apa saja? Check this out.

Saat puasa boleh malas-malasan
Jika saat puasa, otak kita diisi oleh pemikiran seperti ini jadilah hari-hari puasa dihabiskan dengan acara malas-malasan, seperti main game dan tidur seharian. Badan jadi lemes, muka lesu dan kurang gairah karena nggak banyak gerak, rugi banget kan?

Produktivitas menurun saat puasa
Alasannya sih karena asupan energi berkurang. Bahkan ada yang mengambinghitamkan puasa dengan tidur seharian karena alasan ibadah. Padahal kalau dimaknai dengan benar, jika tidur saja bernilai ibadah apalagi berkegiatan positif?

Puasa artinya absen berolahraga
Bagi yang punya jadwal olahraga, di bulan puasa jadwalnya jangan dipangkas. Tinggal pilih jenis olahraga dan  manajemen waktunya saja lagi agar tidak mengganggu ibadah puasa.

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Thursday, July 24, 2014

Apa Kabar, Kartu Lebaran?

Aku tidak pernah mendapatkan kiriman kartu lebaran. Dulu, ketika zaman kartu lebaran booming, aku belum eksis =D Di masaku, ucapan selamat lebaran sudah bisa disampaikan lewat kecanggihan telekomunikasi bernama telepon atau sms. Berkembang hingga kini, via berbagai macam media sosial dengan internet sebagai induknya.

Meski begitu, aku pernah melihat wujud kartu lebaran di rumah seorang kerabat. Kartu tersebut cantik sekali dan dipajang di lemari kaca ruang tamu.

anekacontoh.wordpress.com

Meski tujuannya sama, ucapan selamat lebaran dengan perantara kartu lebaran dan telepon/internet menurutku ada perbedaannya. Beda di feelnya itu lho. Kalau kartu lebaran, sesuai dengan zaman keberadaannya, cara pengirimannya sedikit ribet dan tidak efisien. Harus beli kartu lebarannya ke toko dulu, trus ditulisin, baru dikirim via pos. Sebaliknya pesan via internet atau telepon, satu detik saja setelah dikirim sudah bisa dibaca oleh penerima.

Yang mendapatkan pesan dari kartu lebaran pasti merasa sangat istimewa sekali, karena sang pengirim rela berlelah-lelah demi mengirim pesan selamat lebaran. Di zaman sekarang lho ya, jarang ada orang yang mau ribet-ribet melakukan hal-hal “kecil” seperti itu. Sedangkan pesan via telepon atau internet, akan banyak sekali orang yang bisa dikirimi satu pesan yang sama dengan memilih fitur send to all atau copy paste pesan.

Diam-diam aku berharap mendapat sebuah kartu lebaran di lebaran kali ini ^^

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Nyelfie Bareng Maya

Wednesday, July 23, 2014

No Marah-marah!

Jujur, aku termasuk orang yang kurang bisa mengendalikan emosi. Ketika emosi marah muncul, rasanya langsung ingin kuluapkan saat itu juga. Karena biasanya cara ini cukup efektif untuk menghilangkan dongkol di hati(ku). Setelah marah-marah, beban hilang. Plong, hati lega.


Tapi tidak seenak itu mengeluarkan unek-unek, selain memperhatikan perasaan target orang yang akan kumarahi, juga karena saat ini sedang Ramadhan. Memang sih, puasa kita nggak batal. Tapi siapa yang bisa menjamin, nilai puasa kita hari ini sama besarnya dengan hari ketika kita tidak marah-marah? Karena wallahualam ya, tentang puasa ini perhitungan pahalanya hanya Dia yang tahu.

Oleh karena itu, dalam moment Ramadhan seperti ini aku juga sekalian belajar untuk menahan emosi. Harus sering-sering menahan diri. Syukur-syukur, pasca-Ramadhan pun aku bisa begitu. Sehingga pribadiku, tidak hanya season Ramadhan ^^

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Tuesday, July 22, 2014

Mari Saling Memahami

Lebaran sebentar lagi, seminggu lagi *lirik kalender.  Yeayy!

Bakal ada perbedaan lagi nggak ya seperti awal Ramadhan kemarin? Jika pun nanti ada perbedaan hari lagi, sebaiknya tidak perlu dibesar-besarkan ya teman.

myanon.wordpress.com

Seperti kata seorang dosenku, perbedaan seperti itu sama-sama benar asal bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tinggal keyakinan masing-masing saja lagi. Setuju pak!

Dan yang paling penting, setiap pihak harus saling menghormati pihak yang lain. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, kita ini satu lho, saudara seiman. Perbedaan bukan hal yang bisa memecah belah kita. Sebaliknya, perbedaan harusnya mampu memperkuat kita dengan pilar saling memahami.

Oke bro sist? ^^

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Monday, July 21, 2014

Sleeping Beauty in Ramadhan

Apa kabar hobi tidurku di bulan Ramadhan ini? Yang jelas, quantitynya lebih berkurang dan polanya berubah. Sekarang aku tidur jam 10 malam hingga 4 pagi. Setelah itu kalau lagi khilaf, tidur lagi habis subuh jam 6-7 pagi. Ketika siang, waktu tidur tidak bisa dipastikan ada karena sehari-harinya aku ngelab (normalnya) sampai jam 3.

Untuk tidur pagi setelah subuh, sebenarnya aku pengen menghilangkannya. Tapi gimana ya, mata setelah shalat subuh selalu ngantuk seberat-seberatnya. Apalagi jika shalat subuhnya di surau dekat kos, wiridannya panjang dan sukses bikin ngantuk. Penyebab lainnya, sama dengan pikiran temanku, kok rasanya sayang sekali ya kalau tidak tidur sehabis subuh? Lain waktu memangnya bisa menjamin punya waktu tidur seharian ini?

Begitulah, meskipun aku tahu jeleknya tidur setelah subuh tapi bisa dihitung dengan jari jumlah aku tidak tidur setelah shalat subuh. Di awal-awal Ramadhan, aku memarahi diriku yang tertidur sehabis subuh, tapi kesini-kesini aku berpikir ah biarlah toh waktu siang aku produktif juga. Semoga logika ini benar. Hehe. Aamiin.

Yang jelas, aku tidak menjadikan alasan bahwa tidur itu ibadah di bulan Ramadhan. Yah, merubah sedikit mindset orang-orang kebanyakan. Semoga bernilai ibadah.




#30HariNgeblogTemaRamadhan

Sunday, July 20, 2014

5 Kegiatan Paling Asyik Saat Ngabuburit

Ngabuburit (mengerjakan sesuatu sambil menunggu waktu berbuka puasa) bagiku tidak pernah menjadi agenda utama ketika bulan Ramadhan. Tidak pernah dengan sengaja mengagendakan, lebih tepatnya begitu. Apalagi sekarang dengan jadwal seabrek-abrek, tiba-tiba saja waktu berbuka sudah tiba tanpa sempat aku berleha-leha.

Tapi ada beberapa kegiatan yang asyik menurutku untuk dilakukan ketika menunggu waktu berbuka, yaitu:

1. Tilawah
What, tilawah asyik? Yup, karena aku tidak punya banyak waktu luang di lain waktu setiap harinya. Jadilah ketika ngabuburit tilawahku kenceng, supaya bisa khatam 1 bulan.

2. Membaca buku
Untuk hobiku yang satu ini tak pernah ada matinya dah. Mau saat ngabuburit kek atau siang bolong, tetap asyik untuk dijabanin.

3. Ngenet
Membuka sosial media sudah pasti atau mencari referensi tentang sesuatu. Jika sudah mulai ngenet aku biasanya malah kelewatan waktu berbuka karena tidak mendengar tanda waktu berbuka saking asyiknya.

escribtionis.blogspot.com

4. Ngumpul bareng teman
Kalau yang ini asyik juga, tapi jarang bisa kulakuin. Tahulah, sama-sama sibuk kita sekarang. Ngumpulnya bisa di kost aja atau sambil jalan karena mau bukber di luar.

5. Nonton film
Nonton film juga asyik. Tinggal pilih film sesuai genremu. Dijamin, mata tidak gelisah melirik jam dinding lagi =D

Yup, itulah lima kegiatan ngabuburit asyik versiku. Berurutan dari 1 smpai 5 dari yang paling recomended hingga yang kurang disarankan, berdasarkan manfaat dan mudharatnya. 

Tapi semuanya itu, kecuali nomor satu, kulakukan kalau di kost saja. Kalau di rumah, waktu ngabuburit biasanya kuhabiskan dengan menemani mama ngobrol, bersih-bersih rumah, dan lain sebagainya. Ada banyak pekerjaan nak di rumah =D

#30HariNgeblogTemaRamadhan 

Muslimah Cerdas, Saatnya ke Dapur

Judul : Muslimah Cantik Cerdas di Dapur
Penulis : Ar-Royyan Dwi Andini
Penerbit : Pro-U Media
Tahun terbit : 2012
Haha, judul postingan kali ini sebenarnya kutujukan pada diriku. Dengan sedikit geer karena menyebut diri sebagai muslimah cerdas, dan campuran malu karena harus mengajak diri sendiri ke dapur. Tahulah, aku orangnya sama sekali tidak suka bereksperimen di dapur. Urusan masak-memasak bukan keahlian dan kesukaanku.

Namun, kesadaran bahwa memasak adalah keahlian yang harus wanita miliki telah menggerakkan hatiku untuk membeli buku bersampul kuning terang ini. Pada awalnya aku tertarik karena membaca judulnya. Terus, membaca beberapa bait tulisan kecil di bawahnya membuat hatiku tambah kepincut.

Bukan saatnya berkata: “Buat apa kuliah kalau akhirnya ke dapur?”

Bukan waktunya lagi berkata: “Buat apa sudah diberi paras cantik, tapi masih juga ke dapur?”

Muslimah cerdas, cantik, dan kreatif justru mendamba dapur terbaik di rumahnya

Setelah kubaca, buku tipis yang hanya berjumlah 163 halaman ini ternyata memang sangat memotivasi cewek anti-dapur sepertiku agar mulai mencoba bereksperimen. Mumpung belum bersuami ini. Hehe.

Dengan tulisan pembuka berjudul Ada Pahala di Dapur Kita, buku ini telah menguatkan “dirinya” dengan label islami. Selanjutnya pula terdapat beberapa kutipan hadis dan ayat Al-Qur’an yang menguatkan kita bahwa di dalam agama makanan itu penting terutama sebagai bahan bakar energi untuk melakukan ibadah.

Di bab-bab selanjutnya, dimulailah “perjalanan memasak" di buku ini. Mulai dari menengok keadaan dapur rumah yang terabaikan, lalu melihat alasan-alasan mengapa beberapa perempuan enggan beraktivitas di dapur, selanjutnya pemahaman bahwa ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari memasak.

Sampai di situ, aku menghela napas sebentar. Terlalu menohok sekali, seluruh isi buku ini sepertinya mengulitiku. Ah, malunya. Lanjut melongok ke isi buku, ternyata aku juga mendapati penjelasan mengenai beragam fungsi dapur dan interiornya. Wah, cukup menambah pengetahuan nih.

Buku ini ternyata juga memuat segudang tips mengenai dunia perdapuran. Mulai dari tips agar betah di dapur (untuk aku banget ini), tips agar dapur sehat bebas penyakit, trik menyiasati waktu agar efektif di dapur dan tidak mengganggu pekerjaan kita yang lainnya, tips mengolah kembali makanan yang salah masak atau tersisa, tips agar tetap cantik meski ada di dapur, hingga tips agar cerdas berbelanja bahan makanan.

Wah wah, banyak juga ya isi buku ini. Mini-mini tapi bergizi. Ada banyak topik lainnya lho yang dibahas di buku ini terutama kaitan antara memasak, makanan, agama, dan keluarga. Hmm, ternyata dapur tidak sesempit yang kita bayangkan yah?

Dengan bahasa penulisan yang ringan, penulis berhasil membuat buku ini tambah enak dibaca. Apalagi, buku ini cocok untuk setiap perempuan. Baik yang sudah berkeluarga ataupun belum. Bagi yang telah terbiasa ke dapur atau pun yang belum. Oya, ada bonus beberapa resep masakan dari penulis juga lho. 

Saturday, July 19, 2014

Tantangan Terberat

Apa sih tantangan terberat saat puasa bagiku? Cuaca panas sepertinya. Karena ketika panas, berbagai perasaan tidak nyaman akan datang tanpa diundang. Haus, gerah, loyo, dan sebagainya.

Oleh karena itu, ketika hujan datang seharian aku merasa puasa menjadi sangat enteng dan tidak berasa. Tiba-tiba saja sudah waktu berbuka.


Satu lagi yang menjadi tantangan terbesarku ketika puasa yaitu menahan amarah. Yup, kalau menemui hal-hal yang menjengkelkan aku biasanya langsung ngedumel mengeluarkan emosiku. Di Ramadhan ini, tentunya hal tersebut harus kuminimalisir. Fighting!

Hal-hal yang lain, seperti ngiler dengan makanan yang dimakan oleh anak kecil sih tidak berlaku bagiku. No problemo. Hehe.

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Friday, July 18, 2014

Buka Bersama Bray ...

Buka puasa bersama (bukber) merupakan agenda rutin yang selalu kuikuti pada Ramadhan setiap tahunnya. Ada bermacam-macam komunitas bukber yang kuikuti. Yang pertama dan terdekat, bukber bersama keluarga besar. Kakekku sebagai pemimpin keluarga besar biasanya akan mengundang kami, anak-anak dan cucunya untuk berbuka bersama di rumahnya setidaknya dua kali selama bulan Ramadhan.

Bukber biasanya juga kulakukan di Banjarbaru dengan teman-teman dekat di kampus, program studi, teman-teman seangkatan, plus juga organisasi yang kuikuti. Waktunya biasanya ada di awal-awal Ramadhan, ketika semua anak perantau masih menginjakkan kaki di Banjarbaru.


Selain itu juga ada bukber sekalian reuni dari alumni seangkatan SMP, SMA, dan organisasi pramuka. Karena komunitas ini berada di tempat asalku, biasanya diadakan minggu terakhir bulan Ramadhan untuk mengondisikan agar semua member sudah pulang kampung. Sehingga diharapkan semuanya bisa ikut.

Bukber ini punya cerita dilema tersendiri bagiku. Di sisi pertama seneng bisa ngumpul dengan teman-teman apalagi dengan yang jarang bertemu. Tapi sayangnya kalau datangnya agak mepet dengan waktu buka (karena biasanya gitu), waktu bertemunya jadi sebentar saja. Karena setelah berbuka, bergegas hendak shalat maghrib, isya, dan tarawih. Pahitnya lagi, untuk anak kost seperti aku, dengan komunitas segitu banyaknya dompet jadi bocor karena biasanya makan-makan di tempat elite yang harganya juga elite tanpa ada yang mentraktir ^^.


#30HariNgeblogTemaRamadhan

Thursday, July 17, 2014

Warung Sakadup

Secara pribadi, aku tidak suka kalau mendengar ada warung makan yang masih buka ketika siang Ramadhan. Warung sakadup, kata orang Banjar. Hanya alas kaki yang kelihatan karena badan dan kaki yang naik ke atas bangku tertutup tenda yang menutupi warung. Apalagi rumah makan-rumah makan yang ada pintunya. Tinggal tutup saja. Beres. Tak ada yang melihat aksi makan di siang hari bolong ini.

www.republika.co.id

Aku sendiri belum pernah melihat warung makan yang buka ketika siang hari Ramadhan. Namun di sebuah pasar, aku pernah melihat beberapa gerobak penjual minuman dingin berjualan dengan bebas. Aku geregetan sekali. Pertama karena berpikir apakah mereka tidak mengetahui larangan berjualan makanan/minuman saat puasa. Kedua, karena saat itu rasa haus sampai ke ubun-ubun. Panas bray, melihat es siapa yang tidak tergoda? Bayangkan jika ada yang nekat membeli. Nah siapa yang berdosa?

Sebenarnya kategori pelanggaran aturan ini juga kena bagi para penjual makanan untuk berbuka yang menggelar dagangannya sebelum jam 2 siang. Setahuku sih begitu. Ketika aku SMA dulu, para polisi berjaga-jaga di sekitar pasar Ramadhan untuk mencegah para penjual untuk membuka dagangan mereka sebelum jam 2. Ngapain juga siang-siang mulai berjualan sedangkan waktu berbuka jam setengah 7 petang?

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Wednesday, July 16, 2014

Nasib Anak Rantau

Berpuasa jauh dari keluarga kualami 5 tahun terakhir ini. Setidaknya setengah bulan pada setiap bulan Ramadhan aku selalu berada di kost.

mememaker.net

Nggak ada enak-enaknya puasa jauh dari orang tua atau keluarga. Sepi, jadi kurang nafsu makan dan kurang terlalu bersemangat untuk menyiapkan hidangan buka dan sahur. Belum lagi feelnya yang beda. Jadi kurang semangat.

Tapi ya mau gimana lag, memang panggilan hidup harus jauh dari orang tua *eaaa. Untunglah selalu masih bisa pulang setidaknya seminggu sebelum Idul Fitri sehingga suasana Ramadhan bersama keluarganya masih dapet.

#30HariNgeblogTemaRamadhan


Tuesday, July 15, 2014

Ads in Ramadhan

Masih tentang season Ramadhan. Kali ini membahas iklan. Iklan apa ya yang paling sering muncul di media cetak atau elektronik saat bulan Ramadhan?

polhukam.kompasiana.com

Dari hasil pengamatanku, kalau di media cetak seperti koran iklan season Ramadhan yang paling sering muncul itu adalah iklan rumah makan besar yang menyediakan paket berbuka atau santap sahur. Sedangkan di majalah-majalah, iklan yang paling ngetop itu tentu saja iklan hijab atau baju-baju longdress yang bisa dipakai saat lebaran nanti.

Nah kalau di media elektronik, iklan season Ramadhannya sangat beragam. Di tv misalnya, iklan season Ramadhan yang mendominasi menurutku adalah iklan kartu seluler. Masing-masing provider menggunggulkan produknya masing-masing. Entah itu bonusnya ditambah ketika waktu sahur atau qouta internetnya diperbesar agar tidak bete saat berpuasa (katanya).

Selain itu, iklan salah satu merk mie instan juga senang sekali berwara-wiri ketika Ramadhan. Ceritanya saat sahur dan berbuka, “wajib” makan mie ini. Iklan minuman dingin apalagi, sering muncul juga saat Ramadhan. Kalau melihat iklan minuman dingin ini saat siang, wih asli rasanya dehidrasi di kerongkongan semakin bertambah-tambah.

Ketika Ramadhan hampir berakhir, maka iklan yang paling banyak muncul menurut penglihatanku adalah iklan sirup yang sering digunakan untuk menjamu tamu ketika Idul Fitri serta biskuit-biskuitnya dengan berbagai merk.

Selain makanan dan minuman, iklan TV yang bertebaran di bulan Ramadhan menurutku juga ada iklan sarung. Mungkin ajakan supaya para pria membeli sarung buat dipakai ke masjid saat shalat lima waktu jamaah, tarawih, atau pun shalat Ied nanti.

Oya, iklan pribadi dan golongan juga melimpah seperti jamur di musim hujan ketika Ramadhan tiba. Di semua media, entah koran, radio, TV, bahkan media sosial semacam facebook, iklan ucapan "Selamat Menjalankan Ibadah Puasa" dan "Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri" bergentayangan dengan embel-embel dari pihak mana atau siapa. Tidak ada produk yang dijual dalam iklan semacam ini, hanya menjual nama (asal jangan menjual diri, hehe). 

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Monday, July 14, 2014

Pribadi Season Ramadhan

Di Indonesia, Ramadhan seperti musim yang harus dirayakan. Berbagai pihak menyambutnya dengan tendensi yang berbeda-beda. Ada yang seneng banget Ramadhan datang karena bonus pahalanya yang melimpah ruah. Ada pula yang yang riang gembira datangnya bulan puasa ini karena artinya bakal libur satu bulan lebih. Yang lain bahkan ada yang bersuka ria karena Ramadhan artinya hujan uang.

Nah, yang terakhir ini biasanya ada di otak para kaum kapitalis, pebisnis duniawi. Di media elektronik atau pun cetak misalnya, banyak terdapat acara dan rubrik khusus mereka persembahkan di bulan Ramadhan. Sebut saja “season Ramadhan”. Sinetron season Ramadhan, ajang pencarian bakat season Ramadhan, acara lawak season Ramadhan, ulasan season Ramadhan, puisi season Ramadhan, bahkan para artis pun menjadikan tampilan mereka season Ramadhan.

3ejo.com

Bagaimana dengan pribadi kita? Apakah season Ramadhan juga? Kalau bisa sih jangan. Karena jika ada embel-embel “season Ramadhan”nya, berarti ada pula pribadi “season di luar bulan Ramadhan”. Aih, jangan sampai seperti para artis yang bertutup kepala ketika Ramadhan, namun ketika Ramadhan usai hijabnya pun usai.

Contohnya, semangat berbagi kita hanya saat Ramadhan. Kelar Ramadhan, kelar pula aksi berbagi kebahagiaannya. Atau ketika Ramadhan, tilawahnya bisa satu juz sehari, namun ketika Ramadhan berlalu, tilawahnya kembali hanya selembar. Kadang itu pun terlewat. Begitu juga amalan-amalan kebaikan yang lain. Shalat berjamaah, puasa, sedekah, tidak mengghibah, atau pun tidak berbohong.

Sebaiknya, setelah Ramadhan selesai, hidup kita menjadi lebih baik dari sebelum Ramadhan. Jangan malah kembali menjadi “buruk” di luar Ramadhan. Sungguh merugi orang-orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Sebaiknya, kita meramadhankan hidup kita sepanjang tahun, hingga bertemu Ramadhan berikutnya.


#30HariNgeblogTemaRamadhan

Mendampingi Orang Tua di Usia Senja

Judul : Bersahabat dengan Orang Tua
Penulis : Nurul Asmayani
Penerbit : Quanta
Tahun terbit : 2012
Cinta orang tua yang tulus dan menumbuhkan. Bunda yang mengandung, melahirkan, dan merawat dengan kasih sayang. Ayah yang menjaga dan mendidik dengan segala cinta dan perlindungan. Ah, adakah yang tega membalas dengan keburukan? Mungkin kita akan segera mengatakan, “Tentu tidak ada!” Tapi yakinkah kita?

Sungguh, berbuat baik dan tetap ikhlas merawat orang tua di saat kemampuan mereka sudah menurun bukanlah perkara yang mudah. Seluruh kebutuhan fisik mereka disandarkan kepada kita. Makan disuapi, membersihkan tubuh dilayani. Terkadang, mereka kesal dengan pelayanan kita yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Semua perubahan ini mungkin sulit kita terima dengan lapang dada. Beragam keluhan dan penyakit yang menggerogoti pula kesabaran kita hingga ke titik nadir.

Duhai… apa yang sesungguhnya terjadi dengan orang tua kita? Apakah yang harus kita lakukan untuk mendampingi hari tua mereka? Bagaimana caranya agar kita menjadi anak-anak yang  berbakti pada mereka?

**

Buku ini baik dibaca oleh setiap anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, terlebih ketika usia orang tua mereka telah beranjak senja. Dengan pemaparan bahwa menjadi tua itu adalah sebuah kepastian sebagai bab pembuka buku ini, menyadarkan kita bahwa semakin tua orang tua kita semakin mereka lemah dan membutuhkan kita.

Pada bagian kedua dipaparkan tentang penyakit-penyakit degeneratif yang banyak menyerang manula. Di sini juga dipaparkan bagaimana cara mencegah penyakit-penyakit tersebut datang atau setidaknya mengurangi akibat yang ditimbulkan jika penyakit tersebut telah terlanjur menyerang kita. Selanjutnya juga dijelaskan bagaimana cara merawat tubuh orang tua pada bagian-bagian tubuh seperti kulit, rambut, mata, gigi, tubuh, dan mulut.

Dalam buku ini juga terdapat cerita-cerita mengenai kisah-kisah anak durhaka dalam bab Tuba untuk Cinta. Selain itu, cerita tentang anak yang berbakti juga dimuat dalam buku ini yaitu dalam bab Cinta Mereka Melegenda.

Tips-tips mengenai bagaimana sebaiknya berlaku kepada orang tua, baik untuk orang tua yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal dituliskan pada bab terakhir buku ini. Sebagai penutup buku ini, terdapat sebait doa agar kita semua menjadi anak yang berbakti pada masing-masing orang tua kita.

Cara penyampaian penulis yang terkesan “halus” membuat buku ini sangat ringan dibaca. Hanya saja, cover buku dengan warna gelap menurutku membuat orang yang ingin membaca kurang tertarik pada awalnya. Seperti yang kurasakan sebelumnya.

Buku dengan tebal 165 halaman ini ditulis oleh penulis asal Kalimantan Selatan, yaitu mbak Nurul Asmayani. Beliau adalah seorang penulis yang produktif menulis buku-buku non-fiksi dengan beragam tema. Namun secara umum, buku-buku beliau selalu bermuatan islami. Seperti pada buku ini, beliau ingin agar setelah membaca buku ini para pembaca bisa menjadi penghuni surga dengan cara berbakti kepada orang tua.

Sunday, July 13, 2014

“Kemajuan” Selama Ramadhan

Karena setiap tarawih aku selalu shalat di tempat yang sama, aku jadi bisa mengamati perkembangan jumlah jamaah di surau dekat kosku. Tepat di malam ke-7 Ramadhan, surauku mulai mengalami “kemajuan”. Saf (perempuan) menjadi lebih maju karena kehilangan satu saf paling belakang. Dari empat baris (kadang lebih) menjadi tiga baris saja. Miris.

Hingga sekarang, jumlah jamaah cenderung stabil. Kadang kurang sedikit dari 3 baris, kadang lebih dari 3 baris. Semoga nggak sampai satu baris deh. Aamiin.

supriadiumar.blogspot.com

Seperti yang pernah kubaca, Ramadhan itu mengajarkan kekuatan dan merupakan kompetisi menggapai takwa. Siapa yang paling bertahan, dia yang menang. Semogal kita termasuk yang bertahan hingga malam terakhir Ramadhan. Aamiin.


#30HariNgeblogTemaRamadhan

Saturday, July 12, 2014

Ditampar Orang Gila, Siapa Mau?

Ini cerita seorang temanku yang menurutku lucu meskipun sekaligus juga aku kasihan dengannya. Suatu hari, temanku sebut saja si De, bersepeda motor dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba di depannya berjalan seorang pemuda yang dia ketahui gila (tidak waras). Karena tidak memiliki syak wasangka apa pun, De memperlambat laju motornya di belakang orang gila tersebut. Juga karena untuk melewati orang gila tersebut pun saat itu sedang tidak memungkinkan karena jalan sempit dan dari arah berlawanan ada beberapa motor yang sedang melewati jalan tersebut.

Tak disangka, orang gila tersebut berbalik badan dan merentangkan tangan kanannya ke arah belakang dengan keras sehingga mengenai wajah dan lengan kanan De. De tentu saja kaget dan sedikit oleng, meski alhamdulillah tidak sampai jatuh. Setelah kagetnya reda, De langsung melewati orang gila tersebut dan menggas motornya dengan kencang. Takut. Hihi. Kalau aku tidak salah ingat, De bercerita saking shocknya air matanya sampai menetes di jalan setelah kejadian tersebut. Rasanya campur aduk katanya, kaget, sakit, dan takut jadi satu. Bahkan menurutnya, sesaat setelah kejadian tersebut waktu terasa berhenti. Hingga ia bahkan tidak bisa berkata atau melakukan apapun, sesaat sebelum menggas motornya kencang-kencang, menjauhi si pelaku.

Kenapa kamu nggak memarahi orang gila tersebut atau balik memukulnya, tanyaku iseng. Ih, ngapain juga orang gila dilawan, jawabnya. Aku tambah ngakak. De cemberut kutertawakan, aku segera minta maaf. Benar juga, orang gila mana bisa dihakimi. Wong dia juga mungkin nggak sengaja, atau mungkin saja bahkan lupa dengan apa yang dilakukannya. Namanya juga orang gila. Kemungkinan saat itu sih menurutku si orang gila ini merasa terganggu dengan bunyi motor De yang melambat tepat di belakangnya. Atau dia menyangka De akan menyakitinya, sehingga terjadilah “kasus” tersebut. Entahlah. Yang jelas kasihan De, tangan dan bagian pipinya sedikit membiru lebam. Saat kejadian, kaca helm De memang sedang terbuka saat itu katanya. Memang sedang apes dia saat itu.

Sejak kejadian De tersebut, aku dan teman-teman yang lain berhati-hati jika bertemu dengan orang gila yang De maksud, yang memang sering berkeliaran di jalanan sekitar kampus. Siapa sih yang mau ditampar orang gila?  Pasti nggak ada ^^

**

Diikutkan dalam "The Silly Moment Giveaway" Nunu el Fasa dan HM Zwan


Pesantren Kilat

Di bulan Ramadhan, istilah “pesantren kilat” santer terdengar di kalangan anak-anak sekolah. Karena pada bulan puasa ini, banyak sekolah yang mewajibkan para siswanya (yang muslim/ah) untuk berhadir di sekolah mengikuti pesantren kilat.

Kegiatan ini paling tidak berjalan selama 3 hari berturut-turut di minggu pertama atau kedua Ramadhan. Isi kegiatannya biasanya tilawah bersama, (mendengarkan) ceramah agama, dan shalat dhuha bareng.

Aku sendiri selalu mengikuti pesantren kilat sejak SD hingga SMA. Kegiatannya kurang lebih sama saja. Tapi karena kegiatannya kilat alias sebentar, ya ilmunya juga sebentar. Hehe.

pai-rizal.blogspot.com

Ada satu kegiatan di bulan Ramadhan yang berkesan di hatiku. Menurutku semacam pesantren kilat, tapi bukan. Nama kegiatannya adalah mabit (malam ibadah), yang diadakan oleh organisasi IQRO Club di sekolah, jadi tidak wajib semua ikut. Aku memutuskan untuk ikut karena aku merasa ini bakal banyak manfaatnya buatku dari segi agama.

Kegiatannya dari sore hingga pagi hari berikutnya. Bentuk kegiatannya antara lain ada semacam seminar motivasi, kajian islam, tilawah, buka bersama. shalat (maghrib, isya, tarawih, tahajud, subuh, dan dhuha) berjamaah) serta senam bersama. Yang paling berkesan bagiku adalah isi kajian dan motivasinya itu, sangat mencerahkan.

Menurutku sebaiknya bentuk pesantren kilat ya seperti itu. Lebih membekas, daripada “hanya” ke sekolah 3 hari berturut-turut.

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Friday, July 11, 2014

Tamu Bulanan di Tamu Agung Kita

Rasanya agak sedih ketika datang bulan saat Ramadhan. Karena tidak bisa mengerjakan puasa dan amalan-amalan lain yang mengharuskan kesucian badan. Tapi mau bagaimana lagi? Memang fitrahnya wanita.

Yang paling terganggu dengan kedatangan tamu bulanan ini sih adalah target tilawahku. Dengan asumsi selama haid akan memakan waktu 7 hari. Maka aku harus membaca Al-Qur’an sebaiknya sepuluh juz setiap pekannya agar bisa 1 kali khatam dalam satu bulan penuh. Untuk satu juz satu hari saja aku sudah keteteran, bagaimana dengan satu juz lebih dalam sehari. Apalagi, di Ramadhanku kali ini jadwalku tumplek-blek.

Untuk ketinggalan puasa, ini tidak terlalu menggangguku lagi. Dulu saat pertama kali dapet, aku uring-uringan. Maklum masih abg labil. Duh puasaku jadi ketinggalan. Gimana dong pahalanya? Belum lagi kalau puasa di luar bulan Ramadhan, pasti lebih banyak godaannya. Itu pikirku dulu. Sekarang udah dewasa (?), so no problem.

Yang paling penting sih kalau bisa jangan sampai datang bulan pada saat Idul Fitri tiba. Kalau iya, waaaah bakalan rugi banget deh nggak bisa ikut shalat sunah ied yang cuma satu tahun sekali itu. Tapi sekali lagi, ini fitrahnya perempuan. Kita sama sekali tidak bisa mengatur dan nggak boleh marah kalau tidak sesuai dengan harapan kita.

Selain itu yang perlu diingat adalah meski kita sedang datang bulan di tamu agung (bulan Ramadhan), kita tidak boleh putus beribadah. Tetap ada beberapa amalan yang bisa kita lakukan. Seperti yang tertera pada gambar berikut.

muzir.wordpress.com

Thursday, July 10, 2014

Silly Moment at Taraweh

Malam kedua Ramadhan tahun ini, aku dapat tempat tarawih di sebelah kiri seorang ibu yang membawa anak kecil berumur sekitar 3 tahun. Anaknya cantik, sangat menggemaskan. Apalagi ketika dia pakai mukena. Lucu banget. Aku jadi senang memandanginya ketika diantara dua salam. Tapi orangnya tidak bisa diam, kalau nggak ngajak ngomong mamanya (meski mamanya sedang shalat), dia jalan-jalan di sekitar saf kami. 

Pada suatu sujud, dia menaiki punggung mamanya. Tentu saja mamanya tidak bisa bangkit untuk melanjutkan shalat. Tapi dengan sebelah tangan, masih dalam posisi shalat, sang mama akhirnya menurunkan si kecil yang lucu. Beruntung Icha (nama si kecil, aku tahu karena dia sering berbicara dengan menggunakan kata ganti orang pertama dengan namanya), tidak terjatuh keras ke lantai. 

Sekilas kulihat, karena tepat di dekat kakiku, adik kecil ini jatuh dengan posisi duduk. Setelah salam, mamanya sibuk membisiki Icha dengan lembut agar tidak lagi mengulangi hal tersebut. Tapi tentu saja yang namanya anak kecil, mereka suka melakukan hal yang dilarang oleh orang dewasa di sekitarnya. Jadilah, beberapa kali adegan jatuh si Icha menyibukkan pikiranku ketika tarawih pada malam itu. Tapi akhirnya Icha berhenti sendiri, mungkin karena capek dan bosan.

Kukira “kehebohan” berhenti sampai di sana, ternyata tidak. Ibu-ibu di samping kiriku ternyata juga membawa anak perempuan yang agak sedikit lebih tua dari Icha, namanya Ayu. Ternyata sebelum mendekati mamnaya, Ayu ini bermain-main di barisan paling belakang surau. Ketika dia capek dan mendekati mamanya, direbahkanlah si Ayu di sajadah mamanya di sisi yang dekat sajadahku. Icha yang juga sudah capek, juga rebahan di sajadah mamanya disisi dekat sajadahku.

lifestyle.kompasiana.com

Mungkin karena sama-sama anak kecil dan rebahan berdekatan. Maka berbicaralah mereka dengan sajadahku sebagai perantara. Yang lucu itu ketika aku sujud, aku jadi jelas mendengar mereka sedang membicarakan apa. Meski aku tak ingin menangkap isinya (mau khusyu’ ceritanya). 

Alamak, dua anak kecil ini ada-ada saja. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh Totto-chan si hiperaktif, jika dia ikut tarawih. Kelakuan dua anak ini sepertinya tidak ada apa-apanya.

Secara pribadi, kehadiran anak-anak di surau yang dibawa orang tuanya saat tarawih tidak membuatku terganggu. Aku hanya perlu memperbesar rasa permaklumanku. Toh mereka anak-anak. Orang tua mereka juga tidak ingin ketinggalan mendapatkan pahala tarawih. Begitu pikirku.

Namun ada seorang bapak-baapak yang menulis status di facebook bahwa sebaiknya para orang tua harus yakin anaknya tidak nakal di masjid atau surau ketika akan membawa mereka saat tarawih. Kerena jika tidak,  bukan pahala yang didapat sebaliknya malah dosa karena mengganggu kekhusyuan ibadah jamaah yang lain. Mungkin pendapat ini benar juga. Tinggal kebijakan masing-masing orang tua saja.

Wednesday, July 9, 2014

My Election Day

Hari ini 9 Juli 2014. Salah satu tanggal bersejarah di Indonesia pada tahun ini. Bangsa Indonesia memilih (kembali) siapa pemimpinnya. Namun kali ini lebih alot, lebih panas karena hanya ada 2 capres dan cawapres. Perang di sosial media dan televisi semakin gencar meski telah memasuki masa tenang. Kedua kubu saling membanggakan jagoannya masing-masing, bahkan tak sedikit yang "usil" membongkar aib kubu lawan. Astaghfirullah, Ramadhan ini. Ada pula isu yang mengatakan akan terjadi chaos di beberapa kota. Namun hingga saat ini, belum ada. Semoga tak akan pernah terjadi.


Pagi ini sesaat setelah shalat subuh aku mulai "berenang" di dunia maya. Ada dua berita besar selain pemilu hari ini. Yakni kekalahan Brazil atas Jerman 7-1 di Piala Dunia, secara Brazil tuan rumah dan termasuk tim yang dijagokan banyak orang plus yang paling menggerkan skornya itu lho. 

Yang kedua, ada kabar dari Palestina. Israel Jahanam menyerang Gaza (lagi), kali ini korban yang berjatuhan sangat banyak. Foto-foto yang dibagikan oleh mereka yang kebetulan berada di sana cukup menggambarkan bahwa keadaan Gaza jauh lebih chaos daripada dunia perpolitikkan di Indonesia. Semoga para syahid/syahidah diterima di sisi-Nya. Juga semoga Israel segera dihancurkan oleh Allah. Aamiin. #PrayForGaza

Well, kembali ke copras-capres dan pencoblosan. TPS terdekat dengan kostku ternyata berada tepat di depan kostku! So, aku bisa "memantau" seluruh kegiatan pemilu di sana hari ini hanya dari jendela kamarku yang berada di lantai 2. Dari sumpah jabatan, proses pencoblosan, hingga perhitungan suara. Yang kudengar waktu perhitungan suara itu "satu sah, dua sah, dua sah, satu sah, satu sah, dua sah". Begitu berulang-ulang. Alhamdulillah, artinya tidak banyak suara yang batal.


Hingga siang kemarin sebenarnya aku masih belum pasti bisa memilih atau tidak. Soalnya, aku sedang berada di kost, bukan di rumah di mana alamat dalam KTPku. Dengar-dengar kabar dari teman-teman, para perantau tidak akan bisa nyoblos tanpa membawa form A5 yang sudah ditandatangani dan distempel oleh PPS di TPS asal. Ternyata itu benar ketika kutanyakan pada ibu-ibu PPS di TPS dekat kostku.

Beruntung, sore kemarin, aku sempat minta tolong minta kirimkan scann A5 yang sudah lengkap dari TPS tempatku terdaftar di desaku. So, hari ini bisa milih. Yang kasian, ada banyak teman-teman perantau dan adik-adik di kostku yang nggak bisa milih gara-gara masalah teknis ini.

Entah ini salah siapa. Apakah KPU yang kurang sosialisasi, atau kami -mahasiswa ini, yang keterlaluan kupernya. Yang jelas ada banyak suara yang terbuang. Semoga presiden yang terpilih nanti, benar-benar merupakan refleksi dari pilihan sebagian besar rakyat Indonesia. Aamiin.

Petasan Oh Petasan

Aku tidak punya kenangan apa-apa tentang petasan. Tapi menurutku, petasan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Terutama dari segi ekonomi. Menyalakan petasan sama dengan membakar gulungan uang. Bukan begitu?

thecrowdvoice.com

Totalitas Seorang Nenek


Nenek ini kujumpai ketika aku shalat di Masjid Al-Karomah Martapura, H-1 Ramadhan, 10 hari yang lalu. Ketika kutanya, beliau bercerita bahwa beliau berasal dari desa di gunung Kabupaten Balangan. Aku tahu daerah tersebut, ratusan kilometer dari Martapura. 

Beliau datang ke Martapura, tepatnya ke Masjid Al-Karomah ini semata-mata karena ingin lebih khusyuk beribadah kepada Allah hingga sebelum lebaran nanti. Hari Raya Idul Fitri dia akan kembali ke kampungnya. Ketika kutanya apakah beliau sudah mulai berpuasa hari ini, beliau menjawab bahwa beliau sudah berpuasa sejak 2 bulan yang lalu, Rajab-Sya’ban. Subhanallah



Jika kau ingin tahu apa itu totalitas, tanyakanlah pada nenek ini.

***

Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer




Tuesday, July 8, 2014

Ramadhanku Tahun Ini

Sejak kuliah empat tahun terakhir, aku tak pernah melewatkan Ramadhan satu bulan penuh di rumah bersama keluarga (khususnya mama). Pada Ramadhan tahun 2010, aku baru masuk kuliah sehingga menjalani ospek dan awal perkuliahan di kampus saat bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan tahun 2011, sepertinya merupakan Ramadhanku terlama berada di rumah. Namun aku tetap ada ke Banjarbaru, untuk membayar SPP dan mengurus tetek bengek konsultasi KRS dengan dosen pembimbing.

Ramadhan tahun 2012, aku mengambil Program Alih Tahun (PAT) atau semester pendek untuk mengulang nilai satu mata kuliahku yang jeblok. Ramadhan tahun 2013 (tahun lalu), aku mulai mengerjakan proyek dosen dan melakukan uji pendahuluan skripsi. And then this year, aku kembali berkecimpung di laboratorium untuk mengerjakan penelitianku.

sahabatdarihati.blogspot.com

Selain kesamaan aku tak pernah full melewatkan Ramadhan di rumah, Ramadhanku tahun ini agak berat dari sisi psikologisku. Eaaa. Sedikit lebay jika kamu tidak mengetahui detailnya. Tapi percaya saja, Ramadhan sambil mengerjakan penelitian yang under pressure sama sekali tak ada damai-damainya.

Selain itu yang lebih berbeda untuk Ramadhan tahun ini aku lebih bersiap-siap dan memprogramkan diri untuk menyukseskan Ramadhanku. Setidaknya, dengan berada di kost aku lebih fokus ke dua hal: penelitian dan ibadah. Yup, "kebutuhan" ibadahku makin meningkat sekarang. Alhamdulillah. Maklum, udah tambah tua sepertinya. Hihi.

Dari jam 8 pagi hingga maksimal jam 4 sore aku berjibaku bersama bakteri dan fungi di lab. Malam hingga paginya, kumaksimalkan dengan ibadah khusus Ramadhan. Itupun rasanya waktuku masih kurang. Aku masih belum menemukan pola yang tepat, dimana seharusnya meletakkan waktu khusus untuk memperbaiki naskah proposal dan menyicil bab hasil serta pembahasan. Belum lagi proyek nulisku. Aaaaa…

betterwordforlife.blogspot.com

Dan yang paling beda, tentu saja jatah tidurku di Ramadhan tahun ini tidak semelimpah tahun-tahun sebelumnya, dengan sebegitu banyak targetku.

Ganbatte, Rindang!

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Monday, July 7, 2014

10 Hal yang Menjadikanmu Pecundang

Judul : Kamu Bukan Bintang
Penulis : Ragil Romli
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun terbit : 2009
Buku dengan tebal 170 halaman ini bergenre motivasi dan pengembangan diri. Penulis, Ragil Romli, seperti yang kubaca di biodata merupakan orang yang memang tertarik dengan dunia pengembangan diri. Sesuai dengan isi buku yang berjudul Kamu Bukan Bintang Ini. Buku ini ditulis untuk orang-orang yang merasa dirinya pecundang, bukan bintang.

Banyak pesan dan makna yang bisa kita ambil dari buku ini. Dengan membaca buku ini seakan-akan kita telah membaca beberapa buku dengan tema pengembangan diri best seller karena semuanya dirangkum dengan cermat oleh penulis. Hanya saja cara penyampaian penulis dengan bahasa yang formal menurutku menjadi nilai minus.

Aku menghabiskan untuk membaca buku ini hampir seminggu, karena pusing duluan dengan bahasanya yang tinggi. Seandainya gaya bahasa yang diangkat penulis sedikit lebih ringan, tentu akan membuat buku ini semakin kece karena tema yang digarap juga cukup berat dan serius.

Ada beberapa cerita di buku ini yang memotivasi dan menginspirasi. Hanya saja pada cerita yang entah keberapa aku kecele karena kukira ceritanya sudah selesai tapi aku belum mendapatkan inti ceritanya. Jadi heran. Eh ternyata di belakang ada lanjutan ceritanya.

Bagian yang paling kusuka dari buku ini yaitu pada pengandaian waktu hidup menjadi waktu shalat dalam sehari semalam. Waktu-waktu tersebut adalah:
Lail (jam 1-3) : usia 3-9 tahun
Subuh (jam 4-5) : usia 12-16 tahun
Dhuha (jam 6-12) : usia 19-38 tahun
Dzuhur (jam 13-14) : usia 40-44 tahun
Asar   (jam 15-17) : usia 47-53 tahun
Maghrib (jam 18) : usia 56 tahun
Isya (jam 19-24) : usia 59-75 tahun

Misalnya sekarang aku berusia 22 tahun, berarti aku sedang memasuki waktu dhuha. Waktu dhuha sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu jam 6-8, jam 8-10, dan jam 10-12. Anggap saja aku sedang berada dalam waktu dhuha yang pertama, yaitu usia sekitar 19-25 tahun. Pada jam 6-8 pagi ini, orang-orang biasanya belum “berangkat” ke tempat aktivitas hingga jam 8 pagi. Namun bagi yang menyadari, mereka akan berangkat lebih pagi sebelum jam 8. Beberapa orang yang beruntung menikmati masa kuliah di waktu ini, sebagai aktivitas sebelum benar-benar “berangkat” ke dunia kerja. Namun bagi sebagian orang lain yang telah memperhitungkan, mereka sudah mulai “berangkat” dengan kerja keras untuk menuju ke “tempat kerja”.

Jadi apa 10 hal yang menjadikan kita pecundang? Inilah karakter-karakter pecundang yang harus kita hindari, yaitu berpikir gagal, bertindak asal, tak berani mengkhayal, berotak bebal, sering kesal dan merasa menyesal, berpihak netral, tak berkeinginan kekal, berperilaku nakal, bercita-cita dangkal, dan tak punya mental.

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates