Monday, June 30, 2014

Makna Hidup Bagiku

Setelah berkontemplasi cukup lama, memadukan pemikiran dari banyak penulis dari buku yang kubaca, dan merenungi perjalanan hidupku 22 tahun terakhir ini, aku membuat kesimpulan. Kesimpulan yang sejatinya memang harus sudah didapatkan oleh orang-orang yang berumur20-an. Kesimpulan tersebut berisi bahwa hidup yang kita lalui harus bermakna.

Hidup bukan hanya sebagai tempat singgah sebelum menuju keabadian. Hidup juga bukan sekedar waktu menikmati semua yang tersedia di alam. Pun, hidup juga bukan wahana untuk bersenang-senang semata. Ada yang lebih harus dikaji dari kehidupan ini. Ada sesuatu yang harus kita bawa pergi sekaligus kita tinggalkan ketika kita meninggalkan dunia ini nanti. Itulah “makna”.

Sejatinya, hidup kita bermakna ketika keberadaan kita mampu memberi perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik. Lebih jauh lagi, sebagai muslim, keberadaan kita harus meliputi 3 hal berikut. Pertama, kehadiran kita memberikan rasa nyaman terhadap orang di sekitar kita. Kedua, keberadaan kita memberikan rasa aman terhadap orang lain. Ketiga, eksistensi kita sebagai manusia harus bermanfaat bagi makhluk hidup lain terutama sesama manusia.


Ketika ketiga hal tersebut sudah kita penuhi, setidaknya kita telah melengkapi setengah dari makna hidup kita. Setengahnya lagi, urusan kita dengan Sang Khalik. Karena tak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk spiritual. Jiwa kita memiliki kebutuhan untuk dekat dengan Rabb-nya. Oleh karena itulah, orang jahat biasanya selalu merasa gelisah.

Bagiku sendiri, hidupku akan bermakna ketika aku mampu mencapai mimpi-mimpiku dan kemudian berkontribusi ke lingkungan dengan apa yang telah aku capai. Jadilah, beberapa tahun terakhir, ketika pencarian makna terhadap hidup ini kumulai, aku telah menghabiskan setidaknya tiga per empat energiku setiap harinya untuk memenuhi target-target yang telah kubuat.

Secara konkrit, bagiku hidup akan jauh lebih bermakna ketika keluarga -terutama orang tua, menjadi tempat kembali dalam berbagai hal. Tolak ukur baik buruk adalah apa yang akan keluarga rasakan, ketika kita memutuskan sesuatu. Bukan diri sendiri, apalagi orang-orang di sekitar kita yang hanya ngomong sesuai prasangka mereka.

Oleh karena itu, salah satu mimpi dalam hidupku adalah membersamai keluarga selama mungkin dalam hidup yang singkat ini. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kematian akan memisahkan kita. Dan aku tak ingin ketika hari itu tiba, aku baru menyadari betapa pentingnya menghabiskan waktu bersama keluarga.

7 comments:

Kang Nurul Iman said...

Kalau prinsip saya mah hidup akan bermanfaat apabila diisi dengan yang bermanfaat juga mbak dan apabila hidup mau berkah diisi juga dengan keberkahan.

yuli aenuropiq said...

iyahh..tentunya manfaatkan hidup ini dengan penuhh kebaikan dan kejujuran yang akan membawa kita hidup tenang dan bisa mempergunakan hidup dengan sebaik-baiknya..hehheh

salam blogger

Gustyanita Pratiwi said...

Maka dari itu semakin seseorang dewasa, pmikirannya uda bukan ke diri sendiri lagi ya, tetapi tindak tanduknya juga menjaga kehormatan keluarga

Rindang Yuliani said...

Benar Kang Nurul Iman, berkah itu kata kunci hidup yang bermakna.

Rindang Yuliani said...

Salam blogger juga Mas/Mbak Yuli. Semoga hidup kita sama2 bermanfaat ya.

Rindang Yuliani said...

Benar, Mbak. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang harus dipikirkan terutama keluarga.

agen pengiriman said...

thank infonya ya mba :)

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates