Monday, June 30, 2014

Jurus Ampuh Ramadhan Gak Garing

Judul : Ramadhan Returns
Penulis : Shofwan Al-Banna
Penerbit : Pro-U Media
Tahun terbit : 2007
Ngapain sih ada bulan Ramadhan segala? Bikin lemes aja. Coba bayangin: puasa sebulan penuh , nggak boleh aneh-aneh, disuruh ngaji sama ortu (padahal juga biasanya nggak pernah ngaji), apalagi kalo’ malem wih, sholat tarawehnya lama banget! Mana imam di masjid sebelah rumah bacanya panjang dan lambat-lambat lagi, bikin pegel. Akibatnya, kerjaan jadi nggak beres, belajar nggak konsen, maunya tidur mulu! Seperti rahib ngantuk di malam hari dan singa tidur di siang hari. Yang asyik dari Ramadhan paling cuma main petasan, waktu makan (soalnya menunya biasanya cukup istimewa dibanding hari-hari biasa), sama waktu pergi ke mall buat beli baju baru.

Kamu termasuk orang yang berpikir seperti itu? Atau paling nggak pikiran model begitu pernah mampir di batok kepala kamu beberapa menit? Atau kamu termasuk ok-ok aja sama Ramadhan, tapi Ramadhan yang kamu jalanin terasa garing, sampai-sampai yang rambutnya lurus jadi keriting? Atau kamu jalanin Ramadhanmu begitu aja tanpa makna yang mendalam, sekedar tradisi yang ‘taken for granted’?

Kalau iya, kamu beruntung ngedapetin buku ini, entah beli sendiri atau barangkali dikasih buku ini sama teman kamu, atau barangkali ada orang ninggal buku ini di suatu tempat lalu kamu jadi penemunya, atau barangkali ada orang yang iseng yang ngelempar kamu pake buku ini (coba itung ada berapa kata ‘barangkali’! –yah dunia memang penuh kebarangkalian). Apapun alasan kamu membaca buku ini, buku ini mencoba memberi kita cara buat membuat Ramadhan jadi menyenangkan, berkesan, dan tepat sasaran.

Pokoknya, kalau Ramadhanmu garing dan bikin keriting, gak perlu rebonding. Baca aja buku ini sampai tuntas!

Buku ini membahas ramadhan dengan sudut pandang yang berbeda: hasil kolaborasi antara teknik-teknik baru yang mengejutkan, menyenangkan, sekaligus menyenangkan, sekaligus menegangkan dan didesign yang full power. Sesuai prinsip pembelajaran: smile, set relax, think positive! Isinya macem-macem: mulai dari pembahasan teoritis yang dikupas sampai bikin meringis; sampai dengan tips-tips praktis yang nggak bikin nangis.
**

Buku ini keren. Itu yang bisa kusimpulkan. Dengan kemasan mirip majalah, buku ini mampu menyedot perhatianku yang kurang suka dengan bacaan-bacaan berat. Dengan nama Bookmagz, buku rasa majalah, buku ini menjadi asyik banget buat dibaca meskipun isinya berat.

Sebenarnya materi dalam buku ini pernah kudapatkan dalam suatu kajian di SMA sekitar tahun 2007/2008. Dulu judul bukunya masih Ramadhan is Dead?!. Oleh karena itulah waktu membaca cover buku kalo buku ini merupakan reborn of Ramadhan is Dead?!, aku langsung tak ragu lagi membeli buku ini. Meski terbitan lama, isi tentang Ramadhan tak akan pernah pudar bukan? Sehingga pas banget momennya dibaca sebelum Ramadhan tiba setiap tahunnya.


Bagian yang paling kusuka dari buku ini adalah persiapan-persiapan sebelum Ramadhan dan bagaimana menentukan target yang dilengkapi dengan contoh. Buku ini membantuku menyusun buku Ramadhan Rindang yang inshaallah akan selalu kuisi setiap tahun. Berisi bagaimana kondisiku sebelum Ramadhan dan kemajuan-kemajuan yang kucapai usai Ramadhan. Karena selama ini, seperti yang tertulis blurb di belakang buku ini, aku termasuk orang yang selama ini ok-ok saja dengan Ramadhan tapi Ramadhanku terasa garing dan miskin makna.

Aku merasa membaca buku ini agak terlambat karena seharusnya aku membacanya saat bulan Rajab atau Sya’ban. Sehingga saat Ramadhan tiba, aku sudah benar-benar siap menghadapinya. Warming up kalau kata buku ini. Tapi tak ada kata terlambat untuk belajar bukan? Beruntung, itulah yang bisa kukatakan ketika aku menyadari Dia-lah yang menggerakkkan kakiku ke toko buku sehari sebelum Ramadhan dan membeli buku keren ini.

Ramadhanmu terasa garing? Baca buku ini!

Makna Hidup Bagiku

Setelah berkontemplasi cukup lama, memadukan pemikiran dari banyak penulis dari buku yang kubaca, dan merenungi perjalanan hidupku 22 tahun terakhir ini, aku membuat kesimpulan. Kesimpulan yang sejatinya memang harus sudah didapatkan oleh orang-orang yang berumur20-an. Kesimpulan tersebut berisi bahwa hidup yang kita lalui harus bermakna.

Hidup bukan hanya sebagai tempat singgah sebelum menuju keabadian. Hidup juga bukan sekedar waktu menikmati semua yang tersedia di alam. Pun, hidup juga bukan wahana untuk bersenang-senang semata. Ada yang lebih harus dikaji dari kehidupan ini. Ada sesuatu yang harus kita bawa pergi sekaligus kita tinggalkan ketika kita meninggalkan dunia ini nanti. Itulah “makna”.

Sejatinya, hidup kita bermakna ketika keberadaan kita mampu memberi perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik. Lebih jauh lagi, sebagai muslim, keberadaan kita harus meliputi 3 hal berikut. Pertama, kehadiran kita memberikan rasa nyaman terhadap orang di sekitar kita. Kedua, keberadaan kita memberikan rasa aman terhadap orang lain. Ketiga, eksistensi kita sebagai manusia harus bermanfaat bagi makhluk hidup lain terutama sesama manusia.


Ketika ketiga hal tersebut sudah kita penuhi, setidaknya kita telah melengkapi setengah dari makna hidup kita. Setengahnya lagi, urusan kita dengan Sang Khalik. Karena tak bisa dipungkiri, manusia adalah makhluk spiritual. Jiwa kita memiliki kebutuhan untuk dekat dengan Rabb-nya. Oleh karena itulah, orang jahat biasanya selalu merasa gelisah.

Bagiku sendiri, hidupku akan bermakna ketika aku mampu mencapai mimpi-mimpiku dan kemudian berkontribusi ke lingkungan dengan apa yang telah aku capai. Jadilah, beberapa tahun terakhir, ketika pencarian makna terhadap hidup ini kumulai, aku telah menghabiskan setidaknya tiga per empat energiku setiap harinya untuk memenuhi target-target yang telah kubuat.

Secara konkrit, bagiku hidup akan jauh lebih bermakna ketika keluarga -terutama orang tua, menjadi tempat kembali dalam berbagai hal. Tolak ukur baik buruk adalah apa yang akan keluarga rasakan, ketika kita memutuskan sesuatu. Bukan diri sendiri, apalagi orang-orang di sekitar kita yang hanya ngomong sesuai prasangka mereka.

Oleh karena itu, salah satu mimpi dalam hidupku adalah membersamai keluarga selama mungkin dalam hidup yang singkat ini. Kita tidak akan pernah tahu, kapan kematian akan memisahkan kita. Dan aku tak ingin ketika hari itu tiba, aku baru menyadari betapa pentingnya menghabiskan waktu bersama keluarga.

My Target in Ramadhan


Secara garis besar, target setelah Ramadhan tahun ini yang ingin kucapai yaitu:
1. Keimananku semakin kuat
2. Ibadahku maksimal, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas
3. Hubunganku dengan orang di sekitar semakin baik
4. Wawasanku semakin luas
5. Diriku menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain

Secara umum, visi Ramadhanku tahun ini adalah

“Mengoptimalkan Ramadhan agar menjadi Rindang yang salehah, meneduhkan, dan bermakna  bagi orang lain”

Semoga tercapai semuanya. Aamiin.

Bagaimana denganmu?

#30HariNgeblogTemaRamadhan


Sunday, June 29, 2014

6 Cara Menghemat Uang Ala Anak Kost

Sedang ada program menghemat uang karena mau membeli barang idaman? Atau memang harus berhemat karena uang yang masuk ke rekening kita tiap bulan sedikit? Coba deh, cara-cara menghemat uang yang kutulis dibawah ini. Khususnya untuk para mahasiswa yang sedang ngekost nih.

1. Kurangi frekuensi makan di luar
Memang sih makan diluar itu praktis, tidak repot dan menghemat waktu. Tapi ruginya, saku jadi cepat tipis. Setidaknya jangan setiap hari makan di luar. Berselang-seling atau kalau bisa hanya 2x seminggu.

2. Masak sendiri
Yup, masak sendiri. Apalagi bagi cewek nih, dengan masak sendiri di kost, selain menghemat uang juga belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik. Eaaa. Gak apa-apa menunya sederhana atau bahkan gak enak, toh kita juga yang makan. Kalau gak bisa sama sekali, paling tidak masak nasi lah ya, beli lauknya di luar.

3. Bawa bekal
Hah, bawa bekal? Kayak anak TK saja. Terserah saja, mau atau tidak. Lebih baik menjaga gengsi atau menjaga keamanan dompet setiap bulan? Yang jelas, bagaimana pun kita tetap harus makan siang. Dengan membawa bekal, kita tidak perlu pulang saat makan siang, tapi juga tidak menghabiskan uang dengan makan di kantin.  Selain itu, dengan membawa bekal dari kost yang dimasak sendiri, makanan yang kita makan pasti terjamin kebersihannya.

4. Berteman dengan orang yang sepaham
Nah, cs-an dengan teman-teman yang juga punya paham berhemat penting lho! Tentunya untuk membangun kondisi pergaulan yang hemat mat mat. Misalnya saat makan siang, kita janjian bawa bekal dan makan bareng di gazebo kampus. Irit plus rame kan?

Jika kita berteman dengan orang yang berperilaku konsumtif, kemungkinan besar kita juga akan tergoda untuk sering berbelanja. Mungkin mereka tidak punya masalah dengan uang bulanan. Sedangkan kita? Selain itu, bersikap berlebihan juga tidak baik. Menghambur-hamburkan uang untuk hal yang mubazir juga dilarang dalam agama.

finansial.com

5. Buat prioritas pengeluaran
Hal yang paling penting dalam pos pengeluaran adalah pengeluaran tentang makanan. Jadi atur baik-baik pos ini, tidak berlebihan tapi juga tidak perlu terlalu ketat. Selanjutnya untuk yang kuliah, tentu saja jatah untuk keperluan akademik harus dianggarkan setiap bulannya. Misalnya membeli kertas HVS dan tinta, memotokopi materi kuliah, atau membeli alat-alat yang mendukung akademik kita.

Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai pengeluaran untuk “hiburan” lebih banyak daripada pos-pos penting seperti makan dan akademik. Ada banyak mahasiswa yang lebih fokus mengisi “nyawa” gadget mereka daripada membelanjakan uang untuk kepentingan kuliah. Bahkan kebanyakan dari mereka, jika mendapat beasiswa berupa dana pendidikan, malah dibelikan gadget. *tepok jidat

6. Menambah pemasukan
Jika uang bulanan kita memang sangat seret meskipun sudah dihemat. Mungkin perlu mencoba cara yang terakhir ini. Menambah pemasukan. Tentunya tidak dengan minta tambah transferan ke orang tua ya. Cari kerja part time yang tidak mengganggu kuliah kamu. Misalnya mengajar, jualan pulsa, menjadi reseller dari produk tertentu, dan menjaga toko.

Demikian, 6 cara yang patut dicoba jika kamu sedang dalam misi berhemat. Inshaaallah ke-6 cara tersebut sudah teruji keampuhannya oleh penulis sendiri. Selamat mencoba!

Tips Agar Semangat Berpuasa

Tips-tips di bawah ini sudah teruji keampuhannya melalui pengalaman pribadiku selama bertahun-tahun *eaaa (maksudnya, selama menjalani Ramadhan setiap tahun). So, kali ini aku akan berbagi mengenai cara apa saja yang mampu membuatku selalu bersemangat berpuasa meski banyak godaan dan tantangannya. Check this out!

1. Berniat puasa untuk ibadah
Yup, yang paling pertama yang harus kamu lakukan agar selalu bersemangat berpuasa di bulan Ramadhan adalah niat yang bener. Tahu kan maksudnya niat yang bener? Yaitu niat berpuasa semata untuk ibadah karena Allah. Hey, keren nggak tuh? 

Nggak perlu tua untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dengan niat yang bener ini, inshaaallah kamu bakal tambah semangat puasanya. Tentu dong, karena kita berharap ridha dan pahala dari-Nya yang seabrek-abrek di bulan Ramadhan ini.

2. Mengingat keuntungan-keuntungan berpuasa
Selain baik secara agama, berpuasa juga mendatangkan keuntungan-keuntungan (baca: hikmah) lainnya lho. Diantaranya adalah membuat tubuh kita sehat dan kita tambah keren karena mampu mengendalikan nafsu. 

Tentang hikmah puasa, lebih banyak bisa dibaca disini. Nah, dengan mengingat keuntungan-keuntungan tersebut pasti dong kita jadi lebih semangat puasa. Hal ini sama kasusnya, ketika kita diiming-imingi ayah dibelikan sesuatu jika nilai sekolah kita bagus.

http://dzarrien.blogspot.com/

3. Membaca buku-buku tentang puasa
Banyak kan ya sekarang buku-buku yang bertema Ramadhan dan tentunya tentang puasa wajib di bulan penuh berkah ini. Paling tidak, kamu harus baca satu dari buku tersebut sebelum atau selama bulan Ramadahan ini. Dengan begitu, pemahaman kita menjadi lebih baik tentang puasa dan Ramadhan. Sehingga seharusnya kita tidak loyo lagi ketika harus berperang melawan nafsu di siang hari saat berpuasa.

4. Rencanakan aktivitas yang oke selama Ramadhan
Terutama yang bisa dikerjakan siang hari lho ya. Sehingga waktu puasamu tidak hanya dihabiskan dengan melototin jam dinding menunggu beduk maghrib atau tidur kelewat batas (ingat lho ya, yang benar itu “tidurnya orang berpuasa itu ibadah” bukan “ibadahnya orang berpuasa itu tidur”). Aktivitas ini misalnya silaturahmi ke rumah teman yang lama tidak bertemu, membaca buku, berlomba tilawah mengkhatamkan Al-Qur’an bersama sahabat, de el el.

5. Beri reward untuk diri sendiri
Nah jika selama sebulan penuh kita selalu bersemangat untuk puasa (tidak sekedar full berpuasa),  sebaiknya kita memberi penghargaan kepada diri kita sendiri. Terserah penghargaannya dalam bentuk apa. Misalnya, aku sedang pengen banget buku tetralogi A. Boleh dong sebelum atau setelah Idul Fitri nanti, aku membelinya untuk diri sendiri. Kita jadi seneng karena akan dapat reward, trus semangat berpuasa kita juga nambah.

Nah itu dia tips dariku supaya bersemangat menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Bagaimana denganmu, apakah ada tips selain yang kutuliskan di atas untuk mengobarkan api puasamu?

#30HariNgeblogTemaRamadhan

Saturday, June 28, 2014

Sired Bond, Sebuah Ikatan yang Tak Sehat

Sebuah hubungan dengan dominasi satu orang di dalamnya bagiku itu tidak sehat. Aku menamai hubungan ini dengan sebutan sired bond, ikatan kekuasaan. Bagaimana tidak menguasai namanya, jika setiap orang yang mendominasi dalam hubungan tersebut mengatakan sesuatu, maka orang lain yang terdapat dalam hubungan tersebut –mau tidak mau, harus selalu mengikuti “perintah”nya.

Aku menuliskan ini karena aku menonton, membaca, mendengar, dan melihat sendiri fenomena ini di berbagai media bahkan di kehidupan nyata di sekitarku. Meski orang yang menjalani ikatan tersebut bahkan tidak sadar, mereka “dikuasai” atau “menguasai” yang lain. Ini bukan hanya tentang hubungan tak halal antara dua jenis manusia, namun juga hubungan pertemanan di luar hubungan keluarga dan hubungan profesional (atasan-bawahan).



Evaluasi lagi apakah hubungan pertemananmu semacam sired bond. Karena yang jelas, hubungan seperti ini tidak sehat. Selalu ada yang diuntungkan dan dirugikan. Semacam parasitisme dan predasi.

Bukankah sejatinya, dalam sebuah hubungan itu terdapat timbal balik. Saling membantu, saling melengkapi, saling memaksimalkan, saling membahagiakan.

Sangat berbahaya jika hubungan seperti ini diteruskan. Siklus yang sama akan selalu terulang. Dimana ketika seseorang memerintah atau menyakiti, yang lain menuruti atau kecewa, namun kemudian memaafkan. Kesalahan kemudian diulangi, diterima, kecewa, lalu dimaafkan. Begitulah, hal-hal yang tak sehat akan terus berlanjut jika lingkaran setan seperti itu tak segera diputus.

Friday, June 27, 2014

Tiga Kelebihan Orang-orang yang Suka Membaca

Ada banyak sekali keuntungan yang didapat oleh orang-orang yang suka membaca. Tiga kelebihan di bawah merupakan hal-hal yang paling kurasakan sebagai efek dari hobiku nomor satu ini.

Lebih bijaksana
Serius, orang yang suka membaca biasanya lebih bijaksana. Aku tidak mengatakan ini setelah membaca jurnal penelitian dari siapa pun. Aku menulis ini karena dari hasil pengamatanku, orang-orang yang suka membaca diberi kelebihan berpikir dengan matang, menimbang sesuatu dengan cermat, dan berhatihati dalam membuat setiap keputusan.

Secara logika, hal ini bisa diterima. Karena dengan banyak membaca buku, seseorang akan banyak “mendengarkan” pemikiran orang lain, akan banyak menemukan berbagai kasus yang tidak ia alami sendiri, dan akan banyak melihat perhitungan-perhitungan cermat sebuah penyelesaian masalah. Bahkan dari buku fiksi sekali pun, unsur-unsur kebijaksanaan akan tetap terselip di sana. Sehingga secara tak sadar, seorang pembaca akan selalu belajar mengarifkan pikirannya dan meletakkan nilai-nilai kebijaksanaan tersebut dalam hatinya.



Ilmu terus bertambah
Ini juga tentu dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak, karena setiap kita membaca sebuah buku, tentu akan ada sesuatu yang baru kita ketahui. Hal tersebut adalah ilmu. Sehingga secara tidak sadar, dengan membaca sejatinya kita terus belajar, terus menambah pundi-pundi ilmu pengetahuan kita.

Terhindar dari pekerjaan yang sia-sia
Kerentanan untuk melakukan hal yang sia-sia, terutama bagi remaja dan pra-dewasa, cukup besar. Oleh karena itu, dengan membaca kita telah menghindarkan diri dari kesia-siaan. Jelas, membaca jauh lebih baik daripada menonton drama korea yang menghabiskan setengah hari kita untuk menyelesaikan satu drama. Membaca juga lebih bermanfaat daripada nongkrong-nongkrong tanpa alasan. Pun, membaca lebih bagus daripada tidur melewati batas

Thursday, June 26, 2014

[Jangan] Menggugat Tuhan

Pernah tidak kita merasa seperti ini. Saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun ternyata hasilnya tidak sebagus hasil yang orang lain dapatkan. Padahal yang kita lihat mereka tidak berusaha sekeras kita. Aku sudah mengamati ini dalam banyak hal. Dari pengalaman orang-orang di sekitarku, ataupun dari pengalamanku sendiri.

Hal yang dapat kusimpulkan dari hasil pengamatanku tersebut adalah bahwa tak ada yang sia-sia dari usaha kita. Bahkan sesuatu yang kita lihat tak ada artinya. Kita tak menyadarinya selama ini karena kita melihat secara kasat mata, tidak menelisik ke nilai-nilai kesejatian.

Sebagai contoh, kita telah mengerjakan suatu pekerjaan lebih awal dari orang lain. Dengan kombinasi kerja tak kenal lelah dan doa yang tak pernah putus, kita berharap bisa mengerjakan pekerjaan tersebut dengan waktu yang relatif singkat. Setidaknya, selesai lebih dahulu daripada orang yang belum memulainya sama sekali.

credit

Namun, sepertinya doa kita tak berjawab. Orang lain yang baru memulai pekerjaan semacam kita, justru telah menjejeri langkah kita. Dan dapat dipastikan beberapa saat kemudian, mereka telah melewati kita. Bahkan titik terang akhir dari pekerjaan mereka tersebut sudah kelihatan.

Sedangkan kita, bagaimanapun kita berusaha menyibak tirai masa depan di lorong waktu, kita masih belum melihat titik cahaya tersebut yang menandai kita akan keluar dari gerbong gelap pekerjaan kita. Sepertinya kita masih cukup lama terjebak dalam kereta yang telah kita huni sejak lama. Kebosanan pun melanda, kemudian kita mulai merasa pantas untuk menggugat Tuhan.

“Lihatlah, mengapa mereka yang Kau mudahkan jalannya, sedangkan aku masih saja terseok-seok hanya untuk menggapai setengah dari jalur tol lapang yang mereka lewati?”

Namun kawan, ada banyak rencana Tuhan yang tak kita kuasai. Seberapa pun bodohnya kita, seberapapun kita sulit memahami jalan pikiran Tuhan, menggugat Tuhan bukan salah satu jalan yang pantas dilakukan seorang hamba kepada tuannya. Yakin saja, ada keuntungan yang kita dapatkan dari berbagai kesulitan yang mendera kita. Ada berbagai kelebihan yang kita punya daripada mereka yang mulus menjalani rintangan. Setidaknya kita memiliki lebih banyak pengalaman untuk menghadapi situasi sulit. Di masa depan, siapa tahu, pengalaman inilah yang kita perlukan, bukan akses mudah yang kita cemburui saat ini.

Yakin saja, Tuhan memberi beban sesuai kemampuan hambanya. Setidaknya, berarti kita lebih kuat daripada teman kita yang tidak diberi beban seberat kita. Soal keberhasilan, rahasia Tuhan tentu yang terbaik. Setiap orang akan memiliki waktu untuk menggapainya. Mungkin sekarang bukan waktu terbaik bagi kita untuk menikmatinya. Nikmati saja prosesmu untuk menggapainya.

Wednesday, June 25, 2014

Cepatlah Berbuah



Beberapa bulan yang lalu, aku membeli dua bibit pohon mangga dan kutanam di halaman samping rumahku. Sekarang, besarnya seperti yang terlihat pada foto. Sayang, hanya satu yang berhasil tumbuh. Satunya lagi, hampir "mati", karena salah tempat menanam kemarin. Pas dipindahkan, susah lagi deh dia beradaptasi.

Tak apa, semoga yang satu ini aja cepat besar dan tentu saja cepat berbuah! Agar aku tak perlu mencari dan membeli kemana-mana lagi saat aku ingin makan buah mangga. Ahh enaknya, membayangkan tinggal memetik di halaman rumah. Oh pohon, cepatlah berbuah ...

Tuesday, June 24, 2014

Gadis Cilik di Jendela

Judul: Totto-chan,
Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2011
Totto-chan adalah seorang anak yang nakal, begitulah anggapan orang-orang dewasa yang “normal”. Namun tidak bagi Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi, Totto-chan adalah anak yang baik. Buktinya dia sanggup mendengarkan Totto-chan bercerita selama 4 jam penuh tanpa jeda di hari ia mendaftar di sekolah Tomoe.

Sebelumnya, di sekolah yang lama, Totto-chan sering sekali berbuat ulah. Pada saat guru menjelaskan di depan kelas, Totto-chan lebih suka berdiri di jendela, memandang keluar dan menungu para pemusik jalanan lewat. Jika mereka lewat, maka Totto-chan akan memanggil dan menyuruh mereka memainkan lagu sehingga teman-teman Totto-chan yang sedang belajar akan mendekat ke jendela dan gurunya merasa terganggu.

Menurutku, Totto-chan sebenarnya adalah anak yang hiperaktif. Dia akan tumbuh dengan baik di lingkungan yang tepat, yang bisa menerimanya dengan baik. Sekolah Tomoe adalah jawabannya. Ketika ia dikeluarkan dari sekolah lamanya, mama kemudian mendaftarkan ke sekolah Tomoe yang benar-benar unik. Kelas sekolah ini terbuat dari gerbong kereta api. Pelajaran boleh dimulai dari pelajaran apa saja, pelajaran yang mereka sukai. Selain itu, sang kepala sekolah sangat memahami anak-anak dengan baik, dengan perilaku mereka yang tidak bisa dibilang menyenangkan untuk sebagian besar orang dewasa.

Di buku ini diceritakan berbagai pengalaman Totto-chan kecil. Bagian yang paling kusuka adalah ketika Totto-chan sangat percaya diri bahwa teman-temannya akan terkesan dengannya ketika ia mempraktikkan gerakan orang dewasa –menurutnya, saat memasak yaitu menempelkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanannya ke kedua cuping telinganya. Ternyata teman-temannya sama sekali tidak merasa terkesan dengan gerakan yang ia pelajari dari ibunya dan sejak lama ia persiapkan untuk dipraktikkan saat momen masak bersama di Ngarai Petir. Aku tergelak ketika membaca bab ini.

Totto-chan ternyata adalah Testsuko Kuroyanagi, si penulis itu sendiri. Jadi, cerita yang tertulis dalam buku ini adalah cerita nyata. Dengan setting masa perang, cerita-cerita di dalam buku ini punya rasa nano-nano. Terlihat disini bahwa dunia anak kecil itu begitu indah, bahkan pada masa perang sekalipun! Perang mampu merenggut segalanya, namun tak akan menghapus kenangan tentang sekolah Tomoe Totto-chan yang ikut terbakar musnah ketika bom-bom Amerika dilemparkan dari seluruh penjuru langit Jepang.

Buku ini, meski dikemas dengan “bahasa anak-anak”, mempunyai nilai-nilai yang bagus untuk diketahui anak-anak. Misalnya bagaimana beleajar menghargai orang lain, bagaimana belajar mencintai sekolah sendiri, atau bahkan bagaimana cara mencintai pelajaran. Buku ini sangat menginspirasi. Tidak heran jika telah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia dan menerima banyak penghargaan. Bahkan bab “Guru Pertanian” dan “Sekolah Tua yang Usang”, telah resmi menjadi materi pengajaran di sekolah di Jepang!

Ingin membaca buku “bergizi” tanpa merasa digurui? Bacalah Totto-chan!

Monday, June 23, 2014

Beberapa Makanan, Jamu, dan Kosmetik Berbahaya

Berikut ini adalah foto-foto yang aku ambil ketika berkunjung ke stand Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) saat Kalsel Expo tahun lalu.


Cek lagi ya makanan yang kamu makan, kosmetik yang kamu pakai, dan jamu yang kamu minum. Cermati. Jika di kemasannya terdapat nomor registrasi dengan format seperti foto di atas, maka makanan, kosmetik, atau jamu tersebut sudah terdaftar di BPOM dan artinya itu aman untuk dikonsumsi atau digunakan. Kalau tidak ada nomor registrasinya, lebih baik jangan digunakan.


Hayoo, siapa yang tidak tahu dengan Rhodamin B? Kalau di kampungku, biasanya disebut kesumba. Itu lho, pewarna makanan yang sering digunakan untuk kue atau kerupuk tradisional. Ternyata Rhodamin B, berbahaya lho. Baca deh di leaflet pada foto di atas.


Ada yang suka mengonsumsi jamu? Orang tuanya mungkin. Dilihat-lihat juga ya merk jamunya. Pada foto di atas, terlihat beberapa merk yang telah diuji di BPOM dan diputuskan untuk tidak boleh dikonsumsi.


Nah, kosmetik kamu juga perlu diwaspadai nih girl. Cek juga deh pada gambar di atas. Kali aja ada salah satu jenis dari produk kecantikanmu yang terpajang di sana. BPOM melarang semuanya beredar lho, karena zat-zat berbahaya yang dikandung kosmetik-kosmetik tersebut.

Sunday, June 22, 2014

3030, Masa Depan Sudah di Sini

Satu minggu yang lalu, aku menonton 3030, sebuah event dari provider layanan telekomunikasi 3 (Tri). Awalnya aku agak bingung juga, bentuk event ini apa. Karena baru sekali ini Banjarbaru kedatangan tim acara dengan tenda-tenda mirip kubah Suku Eskimo. Ternyata inti dari acaranya adalah show yang bertujuan untuk promosi kartu tri sebagai kartu tercangggih saat ini.


Waktu kesana pertama kali, aku dan teman-teman rombongan lebih dari sepuluh orang. Karena datang cepat, kita harus nunggu lama diluar dome tempat show. Show berikutnya baru dimulai sekitar 1 jam lagi. Mengisi kekosongan waktu, kita yang cewek berfoto-foto di depan tulisan 3030 raksasa. Yang cowok, mereka cuci mata di sekitar venue karena banyak mbak-mbak SPG yang cantik =D. Sayang, foto-foto kita nggak bisa kebaca memori kamera salah seorang teman yang dipakai waktu itu T.T

Lama-lama, kita bete juga ngantri lama. Karena kita juga harus mulai maju, antri bo! Sialnya waktu antrinya lagi macet, kita tepat di bawah speaker yang memperdengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Soundtracknya 3030. Aku dan teman-teman cewek jadi hafal dan ikut-ikutan nyanyi saking seringnya terulang-ulang. 

Hei hei hei, life is good, hidupi hari ini, terlalu indah untuk dilewati, masa depan sudah di sini, ...

Ada teman yang saking betenya ingin menekan tombol off yang ada di belakang speaker gede tersebut. Beruntung, dia masih waras untuk tidak melakukan hal yang bisa membuatnya digebukin panitia satu dome.

Akhirnya, kita berhasil masuk ke dalam dome. Sayang dapat tempat duduk di bagian samping, meski di depan, tapi tetap kata teman yang sudah nonton kurang maksimal kalau nonton dari samping panggung. Apa boleh buat. Penonton yang lain bahkan ada yang gak kebagian tempat duduk. Nikmati sajalah.

Hologram Dewi Drupadi

Show dibuka dengan efek digital yang sangat canggih, membuat penonton yang gaptek seperti aku terkagum-kagum. Cerita dimulai saat Kota Banjarmasin (harusnya Banjarbaru ya?) sedang merayakan ulang tahunnya yang ke sekian pada tahun 3030. Diceritakan bahwa pada tahun tersebut, dunia sudah sangat maju. Si pemimpin kota, memanggil kedua prajurit(?)nya untuk membantu kesulitan-kesulitan yang dirasakan oleh manusia-manusia di masa lalu. Kedua prajurit tersebut bernama Satria dan Triana yang berpakaian putih-putih ala astronot. Lalu, terbanglah keduanya ke tahun 2014.



Di tempat pertama, mereka menemukan 4 orang dancer yang bergerak lamban sekali.  Duo saTRIana kemudian memberi mereka solusi dengan kartu 3. Setelah itu, para dancer bergerak semakin lincah.

saTRIana dan para dancer

Di tempat kedua, Dewi Drupadi sedang gelisah karena pacar-pacaranya, Pandawa Lima, punya banyak keinginan yang tidak bisa ia penuhi secara bersamaan. Lalu datanglah Semar yang menawarkan bantuan. Semar memangggil ketiga anaknya, yaitu Petruk, Gareng, dan Bagong untuk membantu menyelesaikan permasalahan Dewi Drupadi ini. Akhirnya Satria dan Triana kembali muncul dengan kartu 3 di tangan mereka sebagai solusi.

Di tempat ketiga, seorang pertapa utusan Batara Guru sedang mencari asisten bagi Batara Guru yang bisa ngapain aja. Petruk, Gareng, dan Bagong menawarkan seorang wanita (jadi-jadian) sebagai asisten tersebut. Tapi ditolak karena kelakuannya yang jijay. Akhirnya, saTRIana kembali datang dengan membawa kartu 3 yang dapat berfungsi sebagai asisten yang dicari Batara Guru. Di akhir show, para talent membawa produk-produk sponsor mereka berupa tas dan kaos.

Begitulah sekilas cerita dari show acara 3030 ini. Bagian yang paling rame tentu saja ketika kehadiran BCL, si wanita jadi-jadian yang ngakunya Bohay, Cantik, dan Laki =D. Didukung pemeran Punakawan Brothers yang gila kocaknya, bagian ini semacam Overa van Java, situational comedy. Meski inti dari lawakan mereka tetap sama. Aku tahu ini, karena aku menonton dua kali. 

Semar dan ketiga anaknya, Punakawan Brothers


Seorang sahabat belum sempat menonton, jadilah kami menonton lagi. Karena dia besoknya mau ke Palangkaraya, sedangkan 3030 lusanya sudah usai juga. Kali ini hanya berempat, Elite Square. Kami gak menyangka ketika sampai di gerbang menuju venue, penontonnya membludak! Meskipun tidak malam minggu. Awalnya, kami ingin menonton show yang jam 20.30, tapi ternyata kita kegeser jadi nonton yang jam 10 malam. Hampir dua jam kami antri berdesak-desakan. Kondisi ketiga temanku waktu itu padahal lagi capek banget. Mereka baru pulang dari Banjarmasin, rela nggak pulang dulu langsung ke kostku. Demi nonton 3030. Sayang, gak sempat foto-foto di sana.

Oya, beberapa teman=teman cewekku yang lain bahkan ada yang menonton lebih dari 3 kali! Yang mereka lihat tentu saja para talent cowok yang memang good looking semua. Ada temanku yang berhasil foto bareng salah satu dari mereka, dia senang banget.

Begitulah sekilas my feature about 3030, yang notabene hiburan semacam ini jarang hadir di Kota Banjarbaru. Gratis pula =D

Saturday, June 21, 2014

Menembus Batas dengan Mimpi

Judul : Berjalan Menembus Batas
Penulis : Ahmad Fuadi, dkk
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : 2012
Buku ini sangat inspiratif. Berisi tentang kisah-kisah nyata bagaimana orang-orang meraih impiannya di tengah keterbatasan. Keterbatasan harta, keterbatasan fisik, dan keterbatasan kondisi. Semua cerita dalam buku ini membuktikan bahwa mantra man jadda wajada itu benar adanya. Siapa yang sungguh-sungguh dia akan berhasil.

Seperti pada tulisan Bernando J. Sujibto tentang betapa lelahnya berjuang untuk menuntut ilmu. Bernando mengalami sendiri apa yang ia ceritakan dalam tulisannya yang berjudul “Dari Sumenep ke Kolombia” tersebut. Terlahir di keluarga yang papa, tidak menyurutkan mimpi dan semangat Bernando untuk menuntut ilmu. Dari belajar di pesantren terbesar di Madura dengan “mengencangkan tali sarung” hingga berjuang di Yogyakarta saat ia kuliah sambil membanting tulang mencari sesuap nasi. Lalu kesempatan itu datang, tentu saja bukan karena kebetulan, ia berhasil mendapatkan beasiswa belajar bahasa dan budaya ke Amerika! Subhanallah.

Ada pula cerita dari seorang penulis bernama Rina Shu. Sejak lahir, ia menderita muscullar distrophy yaitu kelainan genetik yang menyebabkannya lumpuh seumur hidup. Satu hal yang memotivasinya tetap semangat untuk melanjutkan hidup adalah kehadiran orang tuanya yang bermental nrimo. Mereka memasukkannya ke SLB jenjang SD, namun setelah memasuki SMP dan SMA ia dimasukkan ke sekolah umum. Tidak banyak teman di sekolah yang mengganggunya, karena Rina Shu juga merupakan pribadi yang percaya diri dan senang membantu ketika temannya kesulitan dalam belajar.

Namun, kenikmatan bersekolah ini harus ia lepaskan saat kelas 2 SMA karena kelelahan fisik dan mental yang dideritanya sebagai pelajar tak sebanding dengan kemampuan tubuhnya. Dalam ketidakberdayaannya dirawat di rumah sakit, Rina Shu melakukan hobinya yaitu menulis dengan tekun. Sayang, ketika novel pertama terbit ayahnya telah tiada. Kini, Rina Shu bertekad membantu teman-temanya sesama penyandang disabilitas agar mereka tetap semangat melanjutkan hidup. Ia berharap ia bisa membantu menyemangati mereka dengan tulisan-tulisannya. Rina Shu berkata, “Yang Kubutuhkan semangat, Bukan Kaki”, seperti judul tulisannya tersebut.

Lain lagi cerita tentang seorang Setiawan Chogah. Ia menulis betapa ia harus melebihkan usaha untuk menggapai cita-citanya menjadi sarjana. Terlahir di sebuah nagari (desa), 125 kilometer dari Kota Padang, ia melihat bahwa cita-citanya menjadi sarjana sangatlah mustahil. Betapa tidak, jarak sekolah dengan gubuk reyotnya jauh sekali. Ketika SD, ia harus berjalan kaki menyusuri tepi sungai dan pematang sawah sejauh 3 kilometer. Amaknya yang mengantar selalu bilang pada tetangga yang menyapa mereka di perjalanan, bahwa ia sedang mengantar calon sarjana untuk sekolah. Subhanallah, jlebb sekali.

Ketika SMP, ia mendapatkan beasiswa. Meskipun ia juga tetap harus bekerja untuk menambah uang saku. Ketika SMA, ia harus merantau ke Kota Padang dan menjadi karyawan toko fotokopi milik tetangganya di kampung. Di tengah-tengah semangat belajar dan bekerjanya, terdengar pula berita perih dari kampung, amak-abaknya bercerai! Meski begitu, ia tak patah semangat. Kini ia berhasil kuliah di Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Ia siap menembus mimpinya, menjadi sarjana.

Itulah beberapa contoh cerita dari mereka yang berusaha menembus batas. Batas yang berupa kemiskinan, ketidaksempurnaan fisik, serta tak adanya dukungan dari lingkungan. Cerita tentang perjuangan Ahmad Fuadi sendiri untuk menggapai kesuksesannya yang sekarang sudah kubaca di trilogi novelnya; Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara.

Seperti yang kubaca dalam pengantar bukunya, 13 tulisan di dalam buku ini terpilih dari 80 lebih tulisan lainnya yang dikirim oleh penulis dari seluruh penjuru tanah air. Setelah kucermati, aku mengira faktor pertimbangan dimuat tidaknya tulisan dalam buku ini adalah dari seberapa menginspirasi tidaknya kejadian yang dialami oleh penulis atau orang-orang di dekatnya. Karena ada beberapa tulisan yang secara bahasa sangat sederhana, namun isinya sangat menyentuh.

Bagi kamu yang masih terlena dengan segala kelebihan yang dimiliki atau pun bagi kamu yang masih terpuruk oleh keterbatasan yang diciptakan oleh dunia, wajib membaca buku ini. Mari belajar menembus batas dengan buku ini!

"Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka." (Eleanor Roosevelt)

Friday, June 20, 2014

My Favorite Fungi


Ini adalah salah satu isolat murni fungi (jamur) yang berhasil kukulturkan di penelitianku. Isolat ini merupakan salah satu dari jenis fungi favoritku. Belum teridentifikasi jenisnya apa, tapi suka aja kerna bentuknya yang unyu-unyu. Yang lain sih, apalagi isolat bakteri, bentuknya menurutku mengerikan.

Thursday, June 19, 2014

Banjarbaru and My Memory

Banjarbaru adalah kotamadya di Kalimantan Selatan selain Banjarmasin. Menurutku kotanya tenang dan nyaman, tidak salah rasanya kalau diberi julukan sebagai Kota Idaman. Banjarbaru sendiri merupakan salah satu kota yang memiliki kesan spesial di hatiku, karena Banjarbaru adalah kota tempat kelahiranku. Meski kini aku tidak mencantumkan Banjarbaru sebagai tempat lahir, karena kesalahan guru SD-ku menulis tempat lahirku di ijazah.

Hingga berumur 5 tahun, sejak lahir aku tinggal di Banjarbaru. Setelah itu, aku ikut orang tua pindah ke kampung halaman mereka di sebuah desa pedalaman Kalimantan Selatan. Kini saat kuliah, aku kembali ditakdirkan berada di kota ini. Senang, tentu saja. Hal ini pulalah yang membuatku tidak terlalu homesick, padahal aku orangnya sering tidak suka jauh dari rumah dalam waktu yang lama.

My Beloved Home

Menyusuri Banjarbaru setiap harinya merupakan energi tersendiri bagiku. Kepingan-kepingan nostalgia berserakan di sini, terutama jika aku melewati daerah tempat tinggalku dulu. Barisan pohon pinus yang menyejukkan mata, irigasi yang dulu terkadang kukunjungi bersama mama, TK dimana aku pertama kali belajar di luar rumah dulu, atau taman tempatku bermain setiap hari libur. Kenangannya indah sekali.

Kenangan yang paling nyata terlukis adalah ketika aku melihat “mantan” rumahku, dimana aku menghabiskan masa balitaku di sini bersama adik, mama, dan bapa. Meskipun keadaannya sekarang sangat bobrok, tak ada yang menempati. Namun kenangannya kuat sekali. Aku mengingat jelas bagian dimana aku belajar membaca di rumah ini, menonton tv bersama adik, atau ketika salah satu kasur kami terbakar. Pohon rambutan yang tumbuh di halamannya juga mengingatkanku bagaimana dulu aku memandang pohon tersebut sangat tinggi sekali sehingga aku bercita-cita bisa memanjatnya ketika sudah besar. Selain itu, di halaman belakang rumah tersebut terdapat pohon belimbing yang aku suka sekali mengambil buahnya sebagai bahan masak-masakan.

Jadi terpikir, mungkinkah di masa depan aku akan tinggal di sini lagi?

Wednesday, June 18, 2014

Angin, Laut, dan Sunyi

Judul : Wanita di Lautan Sunyi
Penulis : Nurul Asmayani
Penerbit : Quanta
Tahun terbit : 2014
“Jika dirimu adalah angin, boleh jadi engkau akan bertemu badai.”

Tiara, ingin menjadi angin. Ia ingin bertiup, berputar, dan bergerak sesukanya. Ia ingin mandiri, jauh dari bayang-bayang kesuksesan kedua kakaknya. Tiara lalu mengabdikan dirinya sebagai guru, jauh di desa terpencil. Apakah ia akan bertemu badai?

Yan, seorang lelaki laut yang kehilangan sosok bapak. Tempaan keras kehidupan membuat wataknya keras dan kasar, padahal ganasnya ombak di lautan tak bisa dikalahkan dengan kemarahan dan kekerasan. Terbukti! Yan diberhentikan karena memukul sang nakhoda, lalu diturunkan ke daratan. Sanggupkah Yan mengubah dirinya di daratan?

Latifah, seorang wanita sunyi. Bisu dan tuli sejak lahir. Dalam kesunyiannya itulah ia berusaha menaklukkan badai demi badai dalam hidupnya. Kehilangan ayah, kehilangan anak, lalu kehilangan suami. Ah, mampukah ia terus bertahan?

Wanita di Lautan Sunyi adalah jalinan kisah ketiganya. Tiara, latifah, dan yan dengan balutan maslah masing-masing. Mereka bertemu pada satu titik, lalu terjadilah berbagai peristiwa yang mengubah garis hidup mereka.
**

Setelah membaca blurb novel ini di atas, aku menyangka akan membaca sebuah novel dengan jalinan cerita cinta segitiga. Namun setelah menyelesaikan membaca novelnya, aku tersadar aku salah. Mereka bertiga memang berhubungan dalam pola segitiga, tapi dengan jalinan sedemikian rupa yang sama sekali bukan tentang cinta antara dua wanita dan satu pria. Tiara adalah angin, Yan adalah lautan, dan kesunyian adalah milik Latifah. Ketiganya melebur dalam novel ini.

Novel ini dipenuhi dengan diksi tentang lautan dan kawan-kawannya. Di setiap bab, terdapat kata-kata mutiara yang menggambarkan judul bab dan cerita di dalamnya. Judul-judul babnya sendiri terdiri atas unsur-unsur lautan seperti pantai, angin, laut, dan badai. Novel yang filosofis sekali. Hal ini juga terlihat pada judul novelnya, Wanita di Lautan Sunyi. Aku menyukai jenis-jenis novel seperti ini.

Setting Kecamatan Sangkulirang yang notabene adalah tempat terpencil di Kalimantan Timur membuatku juga betah membaca novel ini. Aku benar-benar senang bisa membayangkan suasana desa di tepi pelabuhan dimana Tiara mengabdi, mencium aroma asin lautnya, merasai angin yang menerpa wajah Latifah, dan bagaimana kehidupan masyarakat pantai di “paruh” Kalimantan tersebut.

Tema yang diangkat dalam novel 356 halaman ini sebenarnya sederhana, yaitu berjuang menghadapi keterbatasan. Namun dalam balutan kisah cinta dan setting yang terjalin rapi, tema yang sederhana ini malah membuat novel ini mempunyai “rasa” yang berbeda. Lagipula, dengan label inspired by true story pada covernya, novel ini semakin terasa hidup.

Tentang isi novelnya sendiri, ada banyak pesan yang bisa kita serap dari novel ini. Dari kata-kata mutiara di awal bab, dari perilaku tokoh, serta dari bagaimana penulis menggambarkan bahwa keterbatasan bukanlah hal yang tercipta untuk ditangisi. Seperti yang terjadi pada Latifah, meski tuna rungu dan tuna wicara ia tetap berniat untuk menjadi orang yang baik dan berguna. Saat membaca betapa putih hatinya, aku menjadi malu sendiri. Bagaimana dengan kita yang setidaknya sempurna secara fisik?

Hanya ada satu hal yang mengganggu mataku pada novel ini, yakni pada sampul novel tertulis “novel islami”. Dengan latar belakang pink ngejreng, tulisan tersebut tampak “terpaksa” ditempelkan. Menurutku tanpa label tersebut pun, setelah membaca para pembaca akan tahu itu, novel ini mengusung nilai-nilai spiritual keislaman. Meski tanpa selipan hadist ataupun ayat Al-Qur’an secara eksplisit.

Tuesday, June 17, 2014

Inspirasi dalam Sebuah Buku

Judul : Transform Your Life
Penulis : Anton Kuswoyo
Penerbit : Pustaka Puitika
Tahun terbit : 2013
Sangat menginspirasi, itulah yang bisa kukatakan tentang buku ini. Transform Your Life merupakan sebuah buku motivasi yang menurutku sangat “berisi”. Buku ini terdiri atas dua bagian besar, yaitu yang pertama tentang bagaimana cara meraih sukses di waktu muda. Bagian ini memaparkan cara-cara dan motivasi mendapatkan ilmu dan menghindarkan diri dari perbuatan menghabiskan waktu dengan sia-sia saat muda. Bagian ini dilengkapi pula berbagai cerita motivasi yang diambil penulis dari internet. Aku paling termotivasi oleh tulisan yang berjudul “Merubah Rintangan Menjadi Peluang” dalam buku ini. 

Bagian kedua, berisi tentang bagaimana cara meraih cinta yang berbuah surga. Bagian kedua ini  khusus dipersembahkan penulis bagi yang jomblo namun sudah mempunyai calon (calon gebetan ataupun calon istri). Penulis lebih menekankan bagaimana cara menaklukkan hati wanita bagi pria dan agar sesegera mungkin si pria tersebut melamarnya. Tentang bagaimana menjadikan keluarga harmonis setelah menikah juga dibahas dalam buku ini. Terdapat beberapa do and dont’s yang perlu diperhatikan pasangan. 

Saratnya motivasi dan inspirasi dalam buku ini menurutku dikarenakan penulis memang menjalani sendiri apa yang disebut dengan perjuangan. Di dalam buku, beliau menuliskan berbagai rintangan yang menghalangi beliau untuk menuntut ilmu. Rintangan terbesar adalah biaya dan jarak. Beliau meladeni segala rintangan tersebut dengan usaha pantang menyerah disertai do’a. Terbukti, sekarang beliau sudah sukses untuk ukuran seorang anak desa di daerah transmigrasi pedalaman Kalimantan Tengah. Beliau berhasil sekolah hingga S2 dan kini menjadi dosen di salah satu politeknik negeri di Kalimantan Selatan.

Penulis sendiri, Anton Kuswoyo merupakan alumnus fakultas yang sama denganku. Fmipa Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. Beliau jurusan Fisika, beberapa tahun di atasku. Di fakultas, beliau memang terkenal sebagai sumber inspirasi bagi adik tingkat dan mahasiswa kesayangan dosen-dosen karena kegigihan beliau dalam menuntut ilmu dan bekerja mencari uang untuk membiayai kuliahnya.

Dari segi bahasa, bahasa buku bergenre non-fiksi ini menurutku cukup mengalir. Tidak terlalu rumit, pilihan kata-katanya pun sederhana. Hanya saja, buku dengan tebal 160 halaman ini memiliki halaman dengan banyak kata-kata di dalamnya. Seandainya terdapat beberapa gambar sebagai ilustrasi di dalam buku ini, tentu akan lebih menyenangkan pembaca. Terkadang, membaca buku motivasi memang membosankan jika bukunya tidak dilengkapi dengan layout yang menarik mata.

Monday, June 16, 2014

Rumah Kosong

Beberapa waktu yang lalu aku membaca hadist berikut di facebook

حدثنا أبي، حدثنا هشيم بن إسماعيل بن أبي خالد عن قيس بن أبي حازم قال:

ما من فراش يكون في بيت مفروشا لا ينام عليه أحد إلا نام عليه الشيطان...

"Tidak ada satu kasur pun tergelar dalam suatu rumah yg tidak ditiduri oleh seorang manusia, kecuali SETAN AKAN TIDUR DI ATAS KASUR ITU..." (Akamul Marjan fi ahkamil Jaan hal.150)

Aku belum tahu sahih atau tidaknya hadist ini. Aku menulis ini hanya ingin berbagi cerita. Jika memang benar begitu, pantas saja nenek enggan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong hingga lama. Mama juga pernah bilang kalau rumah kosong bisa ditempati jin. Wong tempat tidur kosong saja ternyata ada yang menempati.

www.vemale.com

Tetangganku juga pernah bercerita. Ketika sebuah gedung kosong di belakang rumah anaknya di kota dibongkar, para penunggu gedung tersebut malah pindah ke rumah-rumah di sekitar gedung tersebut termasuk rumah anaknya. Mereka tidak mengganggu sih, hanya saja kan menakutkan sekali kalau mengetahui bahwa kita tinggal serumah dengan makhluk halus.

Tidak dapat dipungkiri, kita memang harus mempercayai bahwa dunia gaib itu ada. Jika tidak percaya, perlu diragukan keimanannya. Allah saja bersifat gaib kok.

Sunday, June 15, 2014

Silaturahmi

Aku baru saja membaca buku tentang silaturahmi, serta baru saja bertemu dengan orang yang sangat menjunjung tinggi silaturahmi. Meski mungkin, beliau bahkan tidak terlalu mengerti dengan arti kata silaturahmi. Beliau memang sudah tua, dan jika dilihat dari kacamata modern (baca: menurut pandanganku) beliau sangat kolot, cerewet, dan menyebalkan. Tapi aku melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, sehingga membuahkan kekaguman pada akhirnya.

salamdakwah.com

Kata beliau, bertemu atau berkumpul dengan keluarga yang jauh (apalagi yang dekat) itu sangat penting. Dulu beliau rela berjalan kaki jauh-jauh "hanya" untuk bertamu ke rumah saudara, sampai-sampai ketika di rumah saudara tersebut kehilangan sebuah senter ia dituduh mengambilnya. Meski hal tersebut tidak menghalangi niat beliau untuk tetap bersilaturahmi.

Apalagi di zaman sekarang ini, ketika beragam macam alat telekomunikasi sudah bisa mengganti kehadiran fisik seharusnya silaturahmi menjadi lebih mudah. Sekarang karena saking banyaknya silsilah keluarga yang mulai rumit, silaturahmi semakin diperlukan. Silaturahmilah yang membuat kita bertemu dengan sepupu-tantenya-mama kita, misalnya. Ada banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan ketika bersilaturahmi, meski manfaat tersebut mungkin kurang bernilai dari sudut pandang materi.


Aku pribadi sedikit tersindir saat menulis tulisan ini, karena merasa aku bukanlah orang yang supel dalam bersilaturahmi. Tapi semoga aku bisa mengusahakannya mulai hari ini. Terlebih terhadap orang yang sudah memutuskan atau mengabaikannya. Aamiin. 

Saturday, June 14, 2014

Bintang Pamungkas

Ada banyak orang yang bertanya-tanya mengapa blog ini diberi nama Bintang Pamungkas. Setidaknya, sebelum aku memberitahukan ini, hanya ada 3 orang yang mengetahui artinya. Mama, bapa, dan seorang sahabat SD-ku.

Bukan untuk keren-kerenan aku memakai brand ini. Ada sejarahnya. Dulu, ketika mama sedang mengandungku, konon katanya bapaku berkata kalau anak yang lahir dari perut mama tersebut berjenis kelamin laki-laki maka akan diberi nama Bintang Pamungkas. Yah, setidaknya aku menghormati nama (laki-laki) pemberian bapakku untuk diabadikan dalam blog ini. 

star and tree

Tentang mengapa ternyata namaku sekarang adalah Rindang, selain karena Bintang notabene merupakan nama anak laki-laki, juga ada ceritanya. Akan kuceritakan lain kali. Yang jelas Bintang atau Rindang sama-sama punya tugas mulia. Bintang itu menerangi dan Rindang itu menaungi. 

Friday, June 13, 2014

Nisfu Sya'ban dan Shalat Tasbih

Petang tanggal 12 Juni 2014 kemarin bertepatan dengan awal tanggal 15 Sya’ban 1435. Seperti yang disunahkan Nabi, banyak umat islam yang melaksanakan shalat tasbih di pertengahan bulan ini setelah shalat isya.

Tak ingin ketinggalan momen, kemarin itu aku juga melaksanakan shalat tasbih. Dengan temanku, sejak siang kami berniat shalatnya di Masjid Al-Karomah Martapura. Tapi setelah ashar tiba-tiba dia mengirimiku sms, dia tiba-tiba “dapet” katanya. Yah, langsung deh aku kecewa. Ke sana sendirian pun rasanya tidak asyik. Jadilah rencanaku diubah menjadi shalat tasbih di surau dekat kost saja.

Tapi ketika aku siap-siap ingin berangkat ke surau, aku diajak kakak di kamar bawah ke Martapura untuk shalat di Al-Karomah, dia bersama teman-teman akhwatnya. Yeaay. Aku langsung girang dan setuju. Jadilah kami berkejaran dengan waktu. Karena jarak yang cukup jauh, akhirnya kami tertinggal shalat maghrib berjamaah.

Belum lagi ternyata pas kami datang ke sana, kami tidak kebagian tempat di dalam masjid. Ya Allah, aku benar-benar berdecak kagum. Betapa banyak orang yang antusias untuk shalat di masjid yang menjadi ikon Kota Martapura ini. Martapura, selain dikenal sebagai Kota Intan juga memang dikenal sebagai kota yang religius, Serambi Mekah begitu julukannya. Bahkan, ibu muda di samping aku berasal dari Kabupaten Balangan. Saat lewat Martapura dari Banjarmasin menuju Balangan, dia dan suami serta anaknya sengaja mampir di masjid yang megah tersebut. Mumpung, katanya. Au pun melihat ada satu bus yang parkir di depan, entah dari rombongan mana.

Melihat jamaah shalat yang tumpah ruah hingga ke halaman parkir rasanya sperti mengikuti Shalat Ied di malam hari. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami menggelar sajadah di bawah pohon di samping masjid. Tepat di depan kami terdapat parkiran, jadi pandangan ke depan setelah shalat itu bukan hijab atau jamaah tapi mobil-mobil yang berbaris rapi =D

seputaraceh.com
Setelah shalat maghrib dan sunnah rawatibnya dilaksanakanlah pembacaan Surat Yaasin 3 kali diselingi do’a. Di bawah remang cahaya rembulan yang tertutup pohon, plus sedikit mencuri cahaya dari lampu sorot di sekitar masjid, aku membaca surat tersebut dari Al-Qur’an saku yang kubawa. Dulu, sewaktu kecil saat nenek mengajariku shalat tasbih aku berpikir aduh capeknya membaca Surat Yaasin 3 kali, manalah mungkin aku sanggup. Sekarang, untunglah pikiran itu sudah lenyap. Hehe.

Setelah shalat isya dan shalat sunah rawatibnya. Beberapa orang mulai beranjak pulnag. Aku heran, sayang aja karena shalat tasbihnya setelah ini. Shalat tasbih kemudian kuikuti sebanyak 4 rakaat. Subhanallah, rasanya hatiku semakin lapang.

Di kampungku dulu shalat tasbih dilaksanakan di mushalla atau langgar di desa kami, setelah shalat tasbih ada ceramah sedikit. Terus setelah itu ada pembagian nasi bungkus dari ibu-ibu yang membawa dari rumah. Peraturannya memang begitu, setiap rumah membawa nasi bungkus untuk dikumpulkan dan kemudian dibagikan lagi ke orang-orang yang berhadir saat shalat tasbih. Kalau ada lebih bisa dibawa pulang untuk dimakan saat sahur subuh esok harinya.


Begitulah, sedikit ceritaku tentang shalat tasbih pada momen nisfu sya’ban tahun ini. Oya, artikel mengenai keduanya bisa dibaca disini. Dari beberapa referensi yang kubaca, artikel tersebut yang paling kupahami baik.

Wednesday, June 11, 2014

Bilik Sunyi yang Tidak Sunyi

Judul : Urang Banua di Banua Urang
Penulis : Randu Alamsyah
Penerbit : Minggu Raya Press
Tahun Terbit : 2011
Aku sedikit terkejut setelah membaca pengantar buku ini, pengantar yang disampaikan oleh Dewa Pahuluan, dedengkotnya komunitas MGR (Minggu Raya) ini ternyata membuka mataku bahwa don’t judge a book by its cover benar-benar berlaku dalam kasusku ini. Bagaimana tidak, cover buku ini biasa saja, tidak menarik hati(ku). Tapi ternyata isinya, seperti pada kata pengantar, sangat aku banget.

Ketertarikanku membaca buku ini pertama dari nama penulisnya, dia urang banua –sebutan bagi warga asli Kalimantan Selatan dan bersuku Banjar. Meskipun entah Randu, si penulis, bersuku Banjar atau tidak karena dari biodata yang kubaca di belakang buku beliau lahir di Manado. Tapi yang kutahu beliau memang bermukim lama di sini. Kedua, karena endorsernya menyebutkan bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan kumpulan tulisan Randu di Radar Banjarmasin, sebuah koran lokal Kalimantan Selatan dimana beliau bekerja sebagai wartawan. Ketiga, karena sebelumnya aku pernah membaca novel Randu yang berjudul Galuh Hati dan novel tersebut lumayan berkesan di hatiku.

Setelah membaca pengantarnya, aku menyadari bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini memang berkualitas. Tulisan-tulisannya singkat namun jlebb. Beragam tema diusung dalam kolom khusus tiap minggunya yaitu Bilik Sunyi, sebelum dijadikan buku ini. Tema yang paling kugarisbawahi adalah tema tentang sastrawan Banua yang kekurangan perhatian dari pemerintah. Hiks.

Membaca buku ini seperti membaca sebagian isi pikiran Randu. Begitu transparan dan nyelekit. Setelah membaca keseluruhan isi bukunya, aku menyadari ada banyak lipatan yang kubuat untuk menandai paragraf atau kalimat yang menarik hatiku. Entah itu aku berarti setuju atau kalimat itu sangat tidak biasa dan aku baru mendengarnya sekali. Seperti pada dua potongan paragraf berikut.

Kita dirikan lembaga-lembaga sosial, kemasyarakatan, HAM, agama, dan berteiak keras-keras demi hukum dan keadilan katakan tidak pada korupsi! Sambil diam-diam kita zikirkan dalam hati: kecuali saya kecipratan, kecuali saya kecipratan, …” (halaman 48)

Sepak bola telah menempati hal-hal yang mestinya ditempati oleh agama dalam peta kejiwaan manusia. Para fans sepak bola bersedia memberikan seluruh energi romantiknya dengan kadar  yang hanya seperselisihan rambut cinta pada sufi kepada Tuhan” (halaman 122)

Randu, dalam esai-esainya tersebut memosisikan diri sebagai orang kebanyakan, pelaku kekhilafan. Adalah tokoh protagonis namun malang yang sering ditulisnya, entah ada atau tiada sebenarnya -yaitu si Ustadz Marjinal. Randu menggambarkan “teman”nya tersebut dengan kalimat-kalimat seperti di bawah ini yang tertera pada halaman 42.

Abad ini bukanlah milik orang-orang kayak teman saya itu. Ia dengan pandangan idealnya telah terlempar jauh. Zaman ini bukan milik orang-orang yang tidak praktis, tak prospektif, tak dinamis. Orang macam teman saya itu jumud, baku, mandeg. Tak heran ia tidak dikunjungi bakal calon pemimpin.

Ia memperhatikan borok-borok zaman kemudian menumpahkan dalam sunyi bilik bersama Allahnya, tempat dimana ia sandarkan kesepian sosialnya dan kesepian ekonominya yang benar-benar total.”

Ada satu tulisan bertema politik yang benar-benar relevan dengan suasana sekarang. Saat itu Randu menulisnya karena musimnya memang tidak jauh beda dengan kondisi saat ini, yaitu pesta demokrasi tahun 2010. Tulisan ini menjadi seperti lelucon ketika Randu menuliskan bahwa para calon pemimpin tersebut sangat berniat tulus untuk menyejahterakan rakyatnya. Sehingga ketika tidak terpilih, mereka berpikir lebih baik saya gila daripada tidak dapat menyejahterakan rakyat saya … (halaman 16).

Sedangkan Urang Banua di Banua Urang, yang merupakan salah satu judul dalam kumpulan esai ini, secara harfiah berarti seseorang bersuku Banjar berada di perantauan (banua urang). Ini esai paling menyedihkan dalam buku ini menurutku. Bagaimana tidak, tersebutlah ustadz kawan si Randu yang tetap keukeh bertahan mengabdi membagi ilmu agama di pulau kecil dan terpencil. Namun suatu ketika di tanah tersebut ditemukan emas di dalamnya, orang-orang yang mengaji di suraunya kemudian hilang satu-satu untuk ikut menggali tanah mereka sendiri, berharap mendapat bongkah-bongkah berkilauan tersebut. Tinggallah si ustadz yang secara ekonomi sangat memprihatikan karena tak pernah dililirik oleh pemerintah.

Yang punya pikiran kritis setengah idealis harus baca buku ini.

Tuesday, June 10, 2014

Petir dan Cerita-ceritanya

Beberapa hari yang lalu aku sedang di rumah. Petir menyambar-nyambar disertai angin kencang dan hujan lebat. Mama berkata, “coba kalau Rindang nggak ada, pasti mama akan merasa ketakutan banget sendiri dengan cuaca seperti ini di rumah”. Padahal sudah Mei pikirku kenapa ada hujan selebat ini. Hari-hari sebelumnya juga sering hujan.

Oke, aku sedang tidak membahas tentang mama yang sepi sendirian di rumah, atau tentang anomali cuaca akibat pemanasan global. Aku sedang ingin membahas tentang petir dan beberapa cerita yang pernah kudengar tentang petir.

blogculla.blogspot.com

Seorang tetanggaku pernah tersambar petir. Jadi sangat trauma cuaca sedang berpetir apalagi jika disusul oleh suara guruh yang menggelegar. Bersama dengan tetanggaku tersebut juga ada orang di kampung kami yang meninggal saat tersambar petir di sawah. Pantas saja tetanggaku begitu trauma.

Di keluargaku biasanya kalau ada petir langsung disuruh menyalakan api. Begitu mitosnya. Entah apa penjelasan ilmiahnya. Sedangkan di keluarga teman-temanku katanya kalau ada petir disarankan jauh-jauh dari kaca dan jendela. Kalau yang pernah kudengar sih kalau ada petir jangan pernah mengaktifkan gadget. Seorang teman katanya pernah bandel, dia tetap main laptop saat petir terjadi dan langsung “dihukum” saat itu juga. Ada kilat yang menyambar di dekat kamarnya, beruntung tidak menyambar laptopnya. Untuk yang terakhir ini, aku percaya. Karena secara ilmiah juga sudah dibuktikan bahwa petir akan menyambar benda-benda yang memiliki aliran listrik.

Aku juga pernah bandel dengan petir ini. Sedikit menyepelekan. Aku menyesal banget untuk itu. Waktu itu aku di jalan menuju kost dari rumah. Pas maghrib gitu hujan berpetir. Tapi aku bandel tetap nerusin perjalanan. Gara-gara mau cepat sampai. Mana jalan gelap banget lagi. Mati lampu. Horor dah pokoknya. Jera aku malam-malam di jalan. Harusnya aku berhenti, paling tidak shalat maghrib baru melanjutkan perjalanan. Tapi beruntungnya aku tidak kenapa-napa.

Bagi teman-teman, jangan ditiru ya kebandelanku tersebut. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sabar sebentar, beruntung selamanya. Alhamdulillah, aku sudah sadar tanpa diberi teguran terlebih dahulu dari Allah.

Monday, June 9, 2014

Agama Menyempurnakan Segalanya

Sering sekali aku membaca “ramalan” karakter berdasarkan bulan lahir, golongan darah, zodiak, tahun lahir, dan sebagainya. Dari beberapa yang disebutkan tersebut, hanya satu yang kupercaya, yaitu karakter berdasarkan golongan darah. Selain karena setelah aku membaca sifat yang tertulis di golongan darahku banyak cocoknya dengan sifatku, tapi juga karena kupikir ada peran faktor genetiknya juga. Mungkin.

Sekarang ada yang lebih canggih lagi di internet yaitu pembacaan karakter dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan. Aku juga percaya ini, karena jelas jawaban yang kita berikan pasti sesuai dengan karakter kita. Ada lagi pembagian karakter berdasarkan tipe otak, apakah sensing atau thinking. Aku juga percaya ini.


Permasalahannya adalah dari berbagai macam karakter yang dikategorikan oleh para ahli tersebut, tak ada satu pun yang sempurna. Semua karakter mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Misalnya ada yang pemalas namun kreatif, ada yang rajin namun kaku. Nobody is perfect memang benar

Namun sebagai manusia, usaha untuk mendekati kesempurnaan itu tetap penting dilakukan. Sempurna di mata Tuhan tentunya. Kalau di mata manusia, sempurna itu relatif. Tentang karakter alami dan usaha untuk menyempurnakannya, menurutku ketika individu memiliki pemahaman agama yang kuat, apapun jenis karakter dasarnya maka ia akan terlihat lebih perfect. Bahkan sampai tidak terlihat lagi karakter aslinya (yang jelek).

Misalnya orang yang mempunyai karakter malas, ketika ia memahami agamanya dengan baik maka ia akan segera mereduksi rasa malas tersebut. Begitu pula ketika orang yang tidak bisa mengendalikan diri ketika ajaran agama teraplikasi dalam hidupnya, maka ia akan terlihat sangat pandai menahan emosi. Kelebihannya menjadi maksimal dan kekurangannnya akan tereduksi.

Tidak mudah memang mengubah nature, sifat bawaan. Perlu latihan untuk menjadi ahli di segala bidang. Seribu jam pengulangan, itu rumus matematis. Ditambah dengan pancaran cahaya iman yang tulus dari dalam hati, semakin sempurnalah pribadi. Baiknya dapat, berkahnya dapat. Sebab itulah, agama menyempurnakan segalanya.

Sunday, June 8, 2014

Cinta yang Menyembuhkan Luka

Judul : Jasmine
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit : 2013
Jasmine, ibarat sekuntum melati yang tercampakkan. Dalam gersangnya kehidupan, keindahan parasnya jusru mengandung luka. Dean, The Prince, dedengkot jaringan Cream Crackers, ibarat pangeran misterius dari kegelapan. Menebar petaka, meski begitu, sejatinya masih tersisa sepenggal nurani di dalam jiwanya.

Mereka bertemu, dalam kerasnya gelombang kehidupan. Dalam luka-luka yang perih. Namun, dalam badai yang gencar mendera, cinta telah mendatangi mereka. Cinta yang membebat luka. Cinta yang secara ajaib, justru mengajarkan mereka tentang putihnya nurani dan indahnya cahaya.
**

Ibarat kopi, Jasmine adalah novel dengan rasa sangat pahit. Komplikasi masalah dalam kehidupan Jasmine, si tokoh utama, membuat novel ini begitu menyedihkan di mataku. Namun kepahitan itu sendirilah yang membuat novel ini “beda” dengan novel lainnya. Dengan kompilasi masalah antara human trafficking, cyber crime, dan HIV/AIDS novel ini menjadi sangat “berisi”. Informasi yang terangkum secara singkat mengenai ketiga permasalahan utama tersebut di sela-sela cerita mampu membuka mataku betapa malangnya orang-orang yang mengalami hal tersebut dan beruntungnya aku, hidup jauh dari masalah serupa.

Selain itu, penjelasan penulis mengenai setting kota utama novel ini yaitu Batam, sangat memukau. Tidak detail, tapi cukup memberi gambaran betapa kota di Provinsi Kepulauan Riau tersebut cukup indah untuk dijelajahi. Ya, naluri petualangku segera terpantik untuk mengunjungi Batam, kota yang katanya mempunyai 2 matahari dan merupakan salah satu gerbang ke luar negeri.

Kelebihan lain dari novel ini adalah pilihan katanya yang tidak biasa. Kaya diksi, sehingga harus membuat pembaca yang tukang telaah sepertiku harus perlahan membacanya. Di sisi lain, hal ini membuat novel ini menjadi cukup berat disamping beban tema yang disandangnya.

Ada beberapa pilihan kata (yang tidak biasa) yang menurutku terlalu sering muncul, misalnya “visual”. Pertama-tama membaca, aku masih bingung apa makna harfiahnya. Tapi karena frekuensi kemunculannya sering sehingga aku kemudian menyadari bahwa penulis menggambarkan kata tersebut sebagai “mata”.

Dibandingkan dengan Hati Memilih -novel yang juga ditulis oleh Riawani Elyta, cerita romantis dalam novel ini terasa kurang. Dean dan Jasmine terlihat hanya bertemu di saat-saat sulit. Hanya saja sub judul novelnya memang pas, cinta mampu menyembuhkan luka. Aku berharap, di luar sana masih banyak Jasmine-Jasmine yang lain yang mampu bangkit dari kelamnya dunia hitam.

Kekurangan kecil lainnya menurutku adalah pemilihan beberapa judul bab yang kurang menarik. Misalnya “Misi yang Mulai Terlaksana” dan “Pertemuan yang Gagal”. Ada pula judul bab yang terlalu menggambarkan isi, misalnya “Kabur”. Di dalam bab padahal belum dijelaskan mengenai kaburnya Jasmine tapi dengan membaca judul dan beberapa masalah yang terjadi di dalam bab, membuat pembaca jadi mudah menebak bahwa yang keluar mengendap-ngendap pada pagi hari di asrama adalah Jasmine, bukan pencuri.

Terlepas dari secuil kekurangan (dari sudut pandangku) di atas, novel ini memiliki banyak kelebihan. Tidak heran jika novel ini terpilih sebagai Pemenang Lomba Menulis Inspiratif Indiva Tahun 2010. Aku sendiri menyelesaikan membaca novel ini dengan cepat, karena penasaran dengan cerita lanjutan setelah satu bab berlalu. Istilahku, novel ini terkategori sebagai novel sekali duduk.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates