Thursday, May 29, 2014

Journey of Finding Giganto

Judul : Giganto,
Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo
Penulis : Koen Setyawan
Penerbit : Edelweiss
Tahun terbit : 2009
Serangkaian kejadian misterius berlangsung di jantung rimba Kalimantan. Seorang bocah hilang yang mengaku diselamatkan raksasa mitologi, seorang peneliti orang utan yang kehilangan jejak objek penelitiannya, seorang antropolog yang ambisius, seorang pemburu legenda yeti dari Vietnam, dan seorang bekas pemburu liar yang telah bertobat. Semuanya bersatu dalam dalam sebuah tim gabungan. Tujuannya adalah menemukan kembali seorang peneliti orang utan yang hilang secara misterius di Hutan Larangan, hutan hujan tropis alami yang tersembunyi dari mata dunia luar selama ribuan tahun oleh larangan kuno yang melibatkan perjanjian zaman batu antara ras manusia dan ras primata raksasa, Gigantopithecus blacki, kera raksasa setinggi 3 meter yang dianggap punah seratus ribu tahun yang lalu.

Dipimpin oleh Chaudry Teja dan dipandu oleh Erwin Danu, tim itu menantang tabu kuno, menyusuri sungai berarus liar, menjejak bukit karang nan terjal, berdebar menembus jnatung Hutan Larangan. Ketika menginjakkan kaki di sana, mereka bukan saja menemukan sebuah dunia yang hilang, melainkan juga harus berhadapan langsung dengan sang makhluk mitologi itu sendiri. Peristiwa-peristiwa selanjutnya merubah masa depan surga Kalimantan terakhir itu untuk selamanya.
**

Aku suka novel-novel jenis ini. Science fiction, atau novel-novel yang perbedaan antara fakta dan fiksinya tipis. Aku menyukai itu. Apalagi novel ini juga berlatar belakang hutan Kalimantan yang notabene tempat dimana aku tinggal.

Kekuatan novel ini terletak pada tema yang diangkat serta banyaknya informasi paleontologi yang termuat dalam novel ini. Sehingga membuatku penasaran dengan latar belakang penulisnya, Koen Setyawan. Sayang sekali, setelah kucari-cari tidak terdapat catatan tentang penulis pada novel ini. Baru pertama kali kutemui buku tanpa catatan tentang penulisnya selain Tere Liye pada beberapa bukunya.

Pada beberapa haalaman, buku ini juga dihiasi oleh sketsa yang narasinya mungkin tidak bisa dibayangkan oleh pembaca. Ini sangat membantu sekali. Misalnya pada halaman 110 terdapat sketsa binatang bernama binturong, bagi pembaca yang baru mendengar binatang jenis ini pasti akan sangat terbantu membayangkan penampakan binatang ini seperti. Tema mitos tentang Hutan Larangan dan kera mitologi pun merupakan kekuatan yang dapat membuat pembaca yang haus bacaan ilmiah namun menghibur sepertiku tertarik. Entah benar atau tidak tentang Hutan Larangan itu sendiri di dunia nyata. Setahuku di wilayah-wilayah konservasi, mitos-mitos seperti itu sengaja diturunkan ke setiap generasi sebagai usaha melestarikan alam. Agar tidak ada yang berani menjamah keperawanan hutan tersebut, itu tujuannya.

Kekurangan novel ini menurutku terdapat pada tata bahasanya yang sedikit aneh dan kalimat-kalimat yang menurutku lumayan susah untuk dipahami. Jadi harus pelan-pelan membacanya. Selain itu isi back cover synopsisnya menurutku ada yang tidak sesuai dengan isi novelnya sendiri. Mau tahu apa? Silakan baca sendiri isi novelnya J


Meskipun terdapat beberapa kekurangan tersebut dan ending yang terjadi pada novel ini sedikit menyedihkan, namun novel ini merupakan salah satu novel yang akan kurekomendasikan bagi pembaca cerdas. Karena temanya yang tidak biasa dan rangkuman antara pengetahuan dan mitos yang cukup apik ada pada novel ini.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates