Sunday, May 11, 2014

Bermain Cantik

Hari ini seorang teman yang cukup tertutup tak sengaja memulai obrolan senstif tentang keluarganya. Ia mengatakan, bahwa ia sering mengucilkan diri karena dibesarkan dalam judge mamanya yang selalu pesimis dan negatif padanya. Awalnya kukira ini hanya sesi curhat sejenak, eh ternyata pembicaraan tersebut berlanjut menjadi acara 3 jam curcol bersama =D 

Yang menjadi tema pembicaraan kita adalah bagaimana pola asuh orang tua kita ternyata berpengaruh terhadap kepribadian kita saat dewasa. Seperti temanku yang pertama curhat tersebut, kasihan sekali dia. Dia malah banyak menarik diri dari pergaulan karena merasa takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika ia bersosialisasi terlalu banyak. Salah bicara, menyinggung atau tersinggung misalnya.

Yah, kami yang notabene adalah teman-temannya selama 3 tahun terakhir ini akhirnya tahu hal apa yang melatarbelakangi mengapa ia begitu soliter selama ini. Kata-kata bijak kemudian bermunculan dari mulut kami yang awalnya sebagai pendengar dan kemudian juga sebagai pembicara dengan menceritakan masalah masing-masing.

Secara garis besar isi pembicaraan kami tadi siang adalah sebagai berikut. Orang tua sangat menyayangi anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian besar dari mereka rasa sayangnya bercampur dengan ketakutan akan hal-hal yang terjadi di luar rumah sehingga melarang anaknya melakukan apa saja. Seorang teman yang lain mencontohkan dirinya mengapa ia telat bisa mengendarai sepeda motor, hal tersebut karena perkataan mamanya tentang judge bahwa menaiki sepeda motor itu adalah hal yang susah dan mengerikan.

http://socmedfreakz.blogspot.com/
Seorang teman yang lain, sering dilarang orang tuanya tanpa alasan atau jika pun ada tanpa alasan yang jelas. Misalnya ketika ia masih remaja, ia dilarang pacaran. Tapi tidak tahu kenapa ia harus dilarang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia malah melakukan larangan orang tuanya. Begitulah gambaran anak-anak, rasa penasarannya tinggi. Setidaknya di masa depan nanti, jika kita harus melarang anak-anak kita, kita harus menyertakan alasan yang masuk akal. Logis.

Teman yang lain lagi, awalnya memilih menurut dengan orang tuanya yang berpandangan konservatif. Namun lama-kelamaan, ia pikir ia memang butuh melakukan hal-hal yang dilarang orang tuanya untuk mengembangkan dirinya. Ia kemudian mendekati orang tua, terutama mamanya dan menceritakan secara perlahan kenyataan apa yang ia hadapi sebagai pemuda di dunia yang dinamis ini. Bahwa keluar malam tidak selalu identik dengan nakal. Bahwa mencoba sesuatu yang baru itu tidak selamanya membahayakan. Bahwa mengikuti organisasi itu tidak akan mengganggu akademik, misalnya. Yah, jika bisa kuistilahkan bermain cantiklah. 

Definisi bermain cantik disini maksudnya, kita harus bersikap baik ke mereka. Terus dengan perlahan menceritakan apa yang kita inginkan. Lama-kelamaan, orang tua pasti akan luluh juga. Asal kita berkata dengan jujur dan sama sekali jangan pernah menghilangkan kepercayaan orang tua kita. Itu saja.

Bagiku yang tidak memiliki terlalu banyak masalah mengenai hubungan dengan orang tua lebih banyak mendengarkan dan (sok) memberi nasihat saja. Misalnya ketika seorang teman mengeluarkan pernyataan yang pernah dia baca bahwa kesehatan dan mental orang tua kita sekarang ini adalah gambaran kesehatan dan mental kita di masa depan. Kupikir itu bisa saja keliru jika kita tidak hanya memiliki input dari orang tua. Oleh karena itu di sisi ini beruntunglah orang-orang perantauan yang membuka wawasan selain dari pandangan dan judge orang tuanya.

Poinnya sih, nanti jika kita sudah berperan menjadi orang tua. Jangan lakukan kesalahan-kesalahan yang orang tua kita lakukan kepada kita. Terlalu banyak melarang, kurang mengapresiasi atau malah menghambat bakat anak misalnya. Setidaknya kita sudah melihat bukti nyata pada diri kita sendiri, bagaimana kita dibesarkan dengan kesalahan dan bagaimana hasilnya. Sebaliknya, nilai-nilai kebaikan universal yang orang tua tanamkan kepada kita tentu saja tetap harus kita transfer ke keturunan kita.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates