Friday, May 23, 2014

Ayah, Ayah, dan Ayah

Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
**

Hiks, membaca pengantar di cover belakang novel ini saja sudah membuat hatiku gerimis. Apalagi mengingat bagaimana hubungan aku dan ayahku yang tidak bisa dibilang dekat.

Novel ini bagiku adalah jenis novel yang bisa dbaca sekali duduk. Tidak sampai 24 jam sejak memulai halaman pertama, aku telah tiba di halaman terakhir setelah beberapa jeda dengan seabrek kegiatan. Jam 1 malam aku baru tertidur dengan mata merah karena menangis akibat isi novel ini.

Sedih. Asli. Di satu sisi aku mendukung Dam, tokoh anak dengan ketidakpercayaannya pada cerita ayahnya yang memang terdengar mustahil. Di satu sisi, aku pun merasa kasihan dengan tokoh sang ayah yang terlihat merasa didurhakai oleh anak semata wayangnya. Apalagi saat Dam sudah menikah. Asli aku paling sensitif dengan tema-tema keluarga seperti ini.

Kutipan dalam novel ini yang paling kusuka adalah “Cerita-cerita ayah adalah cara ia mendidikku agar tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki pemahaman hidup yang berbeda”. Menurutku si ayah tersebut berhasil, hanya saja Dam dikalahkan oleh kesombongan logikanya.

Satu pesan yang bisa kupetik dari novel ini adalah bahwa tidak semua hal di dunia ini diketahui oleh internet. Misalnya ketika kita mengetikkan nama nenek kita, dan mesin pencari terbesar sekalipun ternyata tidak menemukan sosok yang kita maksud. Bukan berarti nenek kita tidak pernah ada di dunia bukan?

Cerita yang paling kusuka dari dongeng-dongeng ayah Dam adalah cerita tentang danau para sufi. Betapa benar bahwa kebahagiaan itu datang dari dalam hati kita. Bukan dari luar, bukan dari dunia. Seburuk apapun keadaan dunia, ketika hati kita merasa lapang dan jernih maka tak ada yang bisa mengeruhkannya.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates