Wednesday, April 9, 2014

Silaturahmi, Pentingkah?


Judul : Keajaiban Silaturahmi
Penulis : Abdul Hakim Al-Kasyaf
Penerbit : Basmallah
Tahun terbit : 2011

Di era modern seperti sekarang ini, tingkat individualitas seseorang semakin tinggi. Kesibukan pekerjaan dan aneka kegiatan yang begitu padat, terkadang melenakan untuk tidak saling bersilaturahmi. Untuk bertegur sapa tetangga kadang lupa. Bahkan sangat menyedihkan, hubungan erat kekerabatan juga bisa terputus begitu saja.

Sungguh, realita sosial semacam ini seharusnya tidak sampai terjadi. Andai saja semua orang tahu, betapa pentingnya menjalin tali silaturahmi. Yang akan membuahkan beraneka kenikmatan dari Tuhan. Seperti akan dibukakan oleh-Nya pintu rezeki, dipanjangkan umur, diberi pahala berlipat yang bahkan melebihi pahala shalat dan puasa, dibukakan jalan menuju surga, mengurangi derita, membuat hidup semakin bahagia serta berbagai kenikmatan lainnya.

Andai saja mereka tahu betapa dampak buruk dari memutus tali silaturahmi. Sungguh mereka akan takut. Karena Allah akan melaknatnya, menulikan pendengarnanya, membutakan penglihatannya, dan mematikan hati nuraninya.

Mari kita senantiasa menjalin silaturahmi dengan siapa saja, agar kita bisa mendapatkan rahmat-Nya dan terhindar dari laknat-Nya. Amin.
**

Motivasi pertamaku untuk membeli dan membaca buku ini adalah untuk meningkatkan kualitas hubungan sosialku dengan orang lain. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, aku termasuk jenis orang yang cuek dengan keadaan sekeliling, meski belum hingga tahap anti-sosial. Aku hanya memiliki sedkiit hubungan yang benar-benar dekat dengan orang lain. Selebihnya hanya sebatas hubungan profesional yang tak lepas dari kepentingan hak dan kewajiban.

Buku ini memaparkan berbagai macam hal tentang silaturahmi. Mulai dari makna dan hakekat silaturahmi hingga keajaiban nyata yang dialami oleh orang-orang yang mengamalkan silaturahmi. Tingkatan silaturahmi juga dipaparkan dalam buku. Disebutkan bahwa tingkatan silaturahmi yang tertinggi itu ada pada orang tua. Seperti yang tercantum dalam Surat An-Nisa ayat 36, yaitu yang artinya sebagai berikut.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Bagian yang paling kusuka dari buku ini ada pada bab ketiga yaitu tentang etika bersilaturahmi. Di dalam bab ini dipaparkan etika-etika secara umum, lalu juga dipaparkan etika bagi pengundang, dan etika bagi yang diundang. Ada beberapa hal yang ternyata aku baru tahu, misalnya mengantarkan tamu sampai ke pintu saat pulang itu ternyata sunah.

Tentang kedahsyatan silaturahmi juga telah sering dibahas. Tapi aku paling suka dengan poin bahwa silaturahmi membuahkan pahala diluar pahala silaturahmi itu sendiri, misalnya pahala sedekah, pahala menyenangkan hati orang lain, pahala membantu orang lain, pahala tersenyum, pahala belajar, dan lain-lain. Seperti yang juga tertulis pada bagian akhir buku ini, keajaiban silaturahmi telah terbukti dalam banyak kisah nyata.

Dalam buku ini juga dipaparkan dampak buruk terputusnya silaturahmi dan bagaimana cara memperbaikinya. Lebih lanjut juga dibahas bagaimana cara bersilaturahmi di era teknologi. Menurut penulis, secanggih apapun teknologi tidak ada yang dapat menggantikan keutamaan bersilaturahmi dengan cara bertemu langsung. Jadi silaturahmi bertatap muka tetap diutamakn, apalagi sekarang telah didukung oleh kemudahan sarana transportasi.


Kekurangan buku ini menurutku terletak pada gaya bahasa yang digunakan. Terlalu formal dan berat, identik dengan buku keislaman yang sepertinya memang telah lekat dengan stereotip seperti itu. Namun, secara keseluruhan buku ini sarat dengan hikmah tentang silaturahmi. Setelah membaca buku ini, dijamin pembaca akan semakin menyadari pentingnya bersilaturahmi. Jadi, masih pentingkah silaturahmi di zaman modern ini? Jawabannya, tetap penting.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates