Wednesday, April 30, 2014

Legenda, Ilmu Pengetahuan, dan Agama dalam Kata yang Hilang

Judul : The Lost Symbol
Penulis : Dan Brown
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : 2009
Karena novel ini merupakan novel yang sangat menarik bagiku, bahkan mungkin bagi sebagian besar kutu  buku di dunia, rasanya tak akan habis kata untuk mereviewnya. Sehingga aku mempartisinya dalam hal-hal yang paling ingin kusampaikan saja, mengenai pandanganku terhadap novel ini.

Judul
Oke, mari kita mulai dari judul. Judulnya mencerminkan sesuatu yang hilang. The Symbol. Meskipun ternyata bukan simbol. Yang benar adalah kata, kata yang menjadi simbol. Bahkan kata itu sendiri pun bukan kata, tapi kumpulan kata-kata. Bahkan bisa dianggap apa saja. Bingung? Abaikan saja, karena dengan membaca novel ini memang akan membuat bingung sejenak sebelum mendapatkan “pencerahan”.

Simbol Circumpunct
Simbol ini merupakan simbol terpenting di novel ini. Awalnya aku merasa, inilah simbol yang dicari. Bahkan tokoh antagonis utama pun merasa begitu. Saking pentingnya simbol yang hanya berbentuk lingkaran dengan satu titik ini di tengahnya, simbol ini disebut Simbol Sang Sumber, asal muasal segalanya (hal 636). Bahkan simbol ini juga terdapat pada sampul dan ditulis sebagai huruf O pada kata CODE di keterangan penulis “Penulis The Davinci Code” –novel Dan Brown sebelumnya yang juga best seller.

Bahasa dan Isi
Secara bahasa sebenarnya novel ini standar saja, mungkin karena aku membacanya dalam edisi terjemahan. Entah bahasa aslinya. Namun karena isi yang disampaikan lumayan berat, menyangkut fakta-fakta yang diramu secara apik bersama fiksi, maka sangat tidak disarankan, membaca novel ini sekali duduk. Aku saja, terkadang harus kembali lagi ke seratus halaman sebelumnya untuk memastikan setting atau bahkan kata yang diucapkan oleh tokoh tertentu.

Plot
Plotnya maju mundur, salah satu jenis plot yang kusukai dan menurutku novel bagus itu memang harus bisa menggabungkan plot ke depan dan ke masa lalu.

Karakterisasi Tokoh
Tokoh utama, Robert Langdon, sepertinya merupakan tokoh yang sama yang berada dalam novel-novel Brown sebelumnya, seperti The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Namun karena aku belum membaca keduanya, jadi aku pertama kali mengenal langdon di sini. Penokohonnya sangat detail menurutku. Bahkan untuk tokoh pendukung sebutlah si penjaga pintu gedung Capitol, ada cukup banyak karakterisasi yang brown ceritakan. Apalagi tokoh utama seperti Langdon, Mal’akh, Peter, dan Kathrine.

pict source
Setting
Untuk waktu, ini yang selalu kukagumi dari penulis senior seperti Brown. Ia bisa meramu novel satu malam dalam 705 halaman. Ckck. Sepertinya Tere Liye dalam Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk terinspirasi oleh Brown. Tempat para tokoh berada, berputar-putar di jantung Amerika Serikat yang ternyata menyimpan banyak kode-kode tersembunyi Freemason. Dari gedung Capitol, hingga pada akhirnya ke gedung tersebut lagi. Suasana yang disodorkan Brown adalah sedikit horor menurutku, thriller campur sejarah.

Pesan Moral
Banyak sekali pesan moral yang terdapat dalam novel ini. Tetapi menurutku novel ini cukup berbahaya bagi pembaca yang sebelumnya belum mengenal kelompok persaudaraan Freemason.  Karena menurutku, penulis dengan intrinsik menyampaikan bahwa kelompok persaudaraan Mason bebas itu tidak berbahaya, bukan aliran sesat dan suci. Sedangkan dari informasi yang telah kudapat sebelumnya, freemason adalah sekte aliran sesat penyembah setan. Wallahuallam, tapi aku lebih percaya informasi yang kuterima pertama kali.

Selain itu karena penulisnya beragama Kristen (mungkin) sehingga Tuhan yang mereka bicarakan adalah Yesus dan segala pernak-pernik Kristen lain. Jadi bagi pembaca muslim, mau tak mau harus menyaring berbagai informasi yang tersebar dalam novel ini. Karena ini jenis novel yang berat dari berbagai sisi. Satu kalimat dari novel ini yang kusukai adalah pencerahan akan memilih orang yang tepat untuk menemukannya.

Hal-hal yang Kusukai
Aku menyukai teka-teki. Novel ini memuaskanku dengan cerita pencarian dari sesuatu yang hilang. Apalagi dalam novel ini tidak terbilang sedikit fakta yang dikaburkan menjadi fiksi (atau sebaliknya? fiksi menjadi fakta), sehingga aku sangat penasaran saat membacanya. Aku juga menyukai berbagai legenda mengenai Freemason serta dunia ilmu pengetahuan yang terpapar dalam novel ini. Bahkan aku juga membaca buku petunjuk yang membahas tentang novel ini, 33 Kunci Menguak The Lost Symbol. Lupa makan, lupa waktu. Aku juga menyukai ilmu pengetahuan yang dipercayai Kathrine. Noetic. Semacam sihir kalau dilihat dari kacamata bisasa. menurut Brown yang ia tulis dalam novel ini, segala organisasi, semua ritual, ilmu pengetahuan, karya seni dan monumen dalam novel ini adalah nyata. Sehingga aku senang-senang saja membacanya, meskipun njelimet. Setidaknya aku mendapat ilmu pengetahuan baru,

Hal-hal yang Tidak Kusukai
Hal yang tidak kusukai dari novel ini adalah hal-hal yang mengerikan dan menjijikkan, terutama tentang Mal’akh yang penganut iblis, bahkan ia ingin menjadikan dirinya iblis itu sendiri. Pada bab pembuka pun aku sudah disodori hal mengerikan. Bagaimana tidak, tangan yang terpotong, terletak ditengah-tengah aula? Masih ada berkas darahnya pula. Ckck. Serba salah sebenarnya, hendak melewatkan detail tentang hal-hal yang mengerikan, malah ada feel yang kurang dan mungkin saja membuat tidak nyambung dengan cerita selanjutnya. Sehingga meski dengan perasaan mual aku tetap membaca detail setiap halaman, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan ini.

Bagian yang paling tidak menyenangkan dalam novel ini menurutku ada pada halaman 104, halaman yang nyaris membuatku berhenti untuk membaca kelanjutannya. Bagaimana tidak, pada halaman pembuka bab 104 tersebut tertulis sudah berakhir, untuk menggambarkan kematian Langdon. Bagaimana bisa aku bisa menyelesaikan membaca sebuah cerita ketika tokoh jagoan sudah binasa? Tapi tidak, rasa penasaranku lebih kuat, sehingga aku lebih memilih untuk menyelesaikan membacanya.


Oke, begitulah review singkatku (singkat? Ini pun sudah hampir 1000 kata ^^) mengenai The Lost Symbol. Tak sabar ingin membaca The Da Vinci Code dan Angels and Demons juga. Meski aku sudah pernah menonton kedua filmnya. Tapi pasti lebih asyik novelnya ;)

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates