Wednesday, April 30, 2014

Legenda, Ilmu Pengetahuan, dan Agama dalam Kata yang Hilang

Judul : The Lost Symbol
Penulis : Dan Brown
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : 2009
Karena novel ini merupakan novel yang sangat menarik bagiku, bahkan mungkin bagi sebagian besar kutu  buku di dunia, rasanya tak akan habis kata untuk mereviewnya. Sehingga aku mempartisinya dalam hal-hal yang paling ingin kusampaikan saja, mengenai pandanganku terhadap novel ini.

Judul
Oke, mari kita mulai dari judul. Judulnya mencerminkan sesuatu yang hilang. The Symbol. Meskipun ternyata bukan simbol. Yang benar adalah kata, kata yang menjadi simbol. Bahkan kata itu sendiri pun bukan kata, tapi kumpulan kata-kata. Bahkan bisa dianggap apa saja. Bingung? Abaikan saja, karena dengan membaca novel ini memang akan membuat bingung sejenak sebelum mendapatkan “pencerahan”.

Simbol Circumpunct
Simbol ini merupakan simbol terpenting di novel ini. Awalnya aku merasa, inilah simbol yang dicari. Bahkan tokoh antagonis utama pun merasa begitu. Saking pentingnya simbol yang hanya berbentuk lingkaran dengan satu titik ini di tengahnya, simbol ini disebut Simbol Sang Sumber, asal muasal segalanya (hal 636). Bahkan simbol ini juga terdapat pada sampul dan ditulis sebagai huruf O pada kata CODE di keterangan penulis “Penulis The Davinci Code” –novel Dan Brown sebelumnya yang juga best seller.

Bahasa dan Isi
Secara bahasa sebenarnya novel ini standar saja, mungkin karena aku membacanya dalam edisi terjemahan. Entah bahasa aslinya. Namun karena isi yang disampaikan lumayan berat, menyangkut fakta-fakta yang diramu secara apik bersama fiksi, maka sangat tidak disarankan, membaca novel ini sekali duduk. Aku saja, terkadang harus kembali lagi ke seratus halaman sebelumnya untuk memastikan setting atau bahkan kata yang diucapkan oleh tokoh tertentu.

Plot
Plotnya maju mundur, salah satu jenis plot yang kusukai dan menurutku novel bagus itu memang harus bisa menggabungkan plot ke depan dan ke masa lalu.

Karakterisasi Tokoh
Tokoh utama, Robert Langdon, sepertinya merupakan tokoh yang sama yang berada dalam novel-novel Brown sebelumnya, seperti The Da Vinci Code dan Angels and Demons. Namun karena aku belum membaca keduanya, jadi aku pertama kali mengenal langdon di sini. Penokohonnya sangat detail menurutku. Bahkan untuk tokoh pendukung sebutlah si penjaga pintu gedung Capitol, ada cukup banyak karakterisasi yang brown ceritakan. Apalagi tokoh utama seperti Langdon, Mal’akh, Peter, dan Kathrine.

pict source
Setting
Untuk waktu, ini yang selalu kukagumi dari penulis senior seperti Brown. Ia bisa meramu novel satu malam dalam 705 halaman. Ckck. Sepertinya Tere Liye dalam Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk terinspirasi oleh Brown. Tempat para tokoh berada, berputar-putar di jantung Amerika Serikat yang ternyata menyimpan banyak kode-kode tersembunyi Freemason. Dari gedung Capitol, hingga pada akhirnya ke gedung tersebut lagi. Suasana yang disodorkan Brown adalah sedikit horor menurutku, thriller campur sejarah.

Pesan Moral
Banyak sekali pesan moral yang terdapat dalam novel ini. Tetapi menurutku novel ini cukup berbahaya bagi pembaca yang sebelumnya belum mengenal kelompok persaudaraan Freemason.  Karena menurutku, penulis dengan intrinsik menyampaikan bahwa kelompok persaudaraan Mason bebas itu tidak berbahaya, bukan aliran sesat dan suci. Sedangkan dari informasi yang telah kudapat sebelumnya, freemason adalah sekte aliran sesat penyembah setan. Wallahuallam, tapi aku lebih percaya informasi yang kuterima pertama kali.

Selain itu karena penulisnya beragama Kristen (mungkin) sehingga Tuhan yang mereka bicarakan adalah Yesus dan segala pernak-pernik Kristen lain. Jadi bagi pembaca muslim, mau tak mau harus menyaring berbagai informasi yang tersebar dalam novel ini. Karena ini jenis novel yang berat dari berbagai sisi. Satu kalimat dari novel ini yang kusukai adalah pencerahan akan memilih orang yang tepat untuk menemukannya.

Hal-hal yang Kusukai
Aku menyukai teka-teki. Novel ini memuaskanku dengan cerita pencarian dari sesuatu yang hilang. Apalagi dalam novel ini tidak terbilang sedikit fakta yang dikaburkan menjadi fiksi (atau sebaliknya? fiksi menjadi fakta), sehingga aku sangat penasaran saat membacanya. Aku juga menyukai berbagai legenda mengenai Freemason serta dunia ilmu pengetahuan yang terpapar dalam novel ini. Bahkan aku juga membaca buku petunjuk yang membahas tentang novel ini, 33 Kunci Menguak The Lost Symbol. Lupa makan, lupa waktu. Aku juga menyukai ilmu pengetahuan yang dipercayai Kathrine. Noetic. Semacam sihir kalau dilihat dari kacamata bisasa. menurut Brown yang ia tulis dalam novel ini, segala organisasi, semua ritual, ilmu pengetahuan, karya seni dan monumen dalam novel ini adalah nyata. Sehingga aku senang-senang saja membacanya, meskipun njelimet. Setidaknya aku mendapat ilmu pengetahuan baru,

Hal-hal yang Tidak Kusukai
Hal yang tidak kusukai dari novel ini adalah hal-hal yang mengerikan dan menjijikkan, terutama tentang Mal’akh yang penganut iblis, bahkan ia ingin menjadikan dirinya iblis itu sendiri. Pada bab pembuka pun aku sudah disodori hal mengerikan. Bagaimana tidak, tangan yang terpotong, terletak ditengah-tengah aula? Masih ada berkas darahnya pula. Ckck. Serba salah sebenarnya, hendak melewatkan detail tentang hal-hal yang mengerikan, malah ada feel yang kurang dan mungkin saja membuat tidak nyambung dengan cerita selanjutnya. Sehingga meski dengan perasaan mual aku tetap membaca detail setiap halaman, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan ini.

Bagian yang paling tidak menyenangkan dalam novel ini menurutku ada pada halaman 104, halaman yang nyaris membuatku berhenti untuk membaca kelanjutannya. Bagaimana tidak, pada halaman pembuka bab 104 tersebut tertulis sudah berakhir, untuk menggambarkan kematian Langdon. Bagaimana bisa aku bisa menyelesaikan membaca sebuah cerita ketika tokoh jagoan sudah binasa? Tapi tidak, rasa penasaranku lebih kuat, sehingga aku lebih memilih untuk menyelesaikan membacanya.


Oke, begitulah review singkatku (singkat? Ini pun sudah hampir 1000 kata ^^) mengenai The Lost Symbol. Tak sabar ingin membaca The Da Vinci Code dan Angels and Demons juga. Meski aku sudah pernah menonton kedua filmnya. Tapi pasti lebih asyik novelnya ;)

Tuesday, April 29, 2014

Hantu Itu Bernama Blogger Copast

Jujur, aku baru tahu ternyata punya blog itu tidak semudah yang awalnya kubayangkan. Terutama tentang contentnya. Tak sembarang bisa copy paste dari blog atau halaman web lain tanpa mencantumkan sumber. Dicantumkan sumber pun belum tentu pihak yang menulis mengizinkan. Apalagi dicopy paste tanpa link ke sumber tulisan. Tidak hanya tulisan, dari pengamatanku, gambar yang kita masukkan ke blog juga harus ditulis sumbernya. Kecuali foto yang diambil sendiri. Ya, selama ini aku hanya mengamati, karena aku belum pernah menemukan undang-undang tertulis bagaimana etika dalam dunia blogging.

Tentu saja karena aku sudah mengetahui, aku berusaha menerapkannya. Meskipun masih pakai platform blog gratisan, belum pakai nama domain sendiri, aku selalu berusaha hanya mengisi postingan blog dari ide atau pemikiran sendiri. Kalaupun ada mengutip, tidak mengutip sampai titik koma dan pastinya mencantumkan sumber. Gambar atau foto juga begitu. Orisinalitas pokoknya kukedepankan dalam mengelola blog ini. Semoga konsistensiku tetap bertahan bahkan hingga nanti aku mendaftarkan domain sendiri ke Web Hosting Indonesia.

Kembali ke blogger copast, menurutku mereka ini merupakan momok bagi para blogger sejati. Kalau boleh dibilang, mereka ini hantu. Ada, tapi tak terlihat dan sedikit menakutkan bagi blogger yang takut tulisannya disalin mentah-mentah. Tak jarang aku membaca tulisan yang berisi kekesalan para blogger karena tulisannya dicopast tanpa sumber atau tanpa izin.

Kira-kira apa ya yang menyebabkan para blogger copast ini melakukan plagiarisme di dunia blogging? Disini aku akan mencoba membuat daftar penyebab blogger copast beserta cara mengatasinya.
1.        Ga bakat menulis
Bukan menjudge bakat orang lain ya, tapi memang kalau sudah tidak ada jiwa (baca: bakat) menulis, susah untuk konsisten mengisi blog dengan tulisan-tulisan terbaru. Saranku kalau memang tidak ada jiwa menulis, keputusan menjadi blogger perlu dipertimbangkan lagi (saran yang buruk ya?). Karena seorang blogger harus memiliki konsistensi yang kuat untuk mengeluarkan content orisinal langsung dari hati dan pikirannya.
2.        Mentok ide
Ini biasanya yang menyerang blogger, meskipun berjiwa penulis terkadang kekosongan ide, atau yang sering disebut writer block juga menyerang. Saranku jika mentok ide, ya istirahatlah dulu menulis. Jangan lantas copast tulisan orang lain, demi postingan jalan terus. Kalau tidak, ya tulis saja tentang kegalauan kamu kehabisan ide. Nah, jadi sebuah ide juga kan?
3.        Ingin terlihat mengerti segalanya
Ini biasanya terjadi pada blog dengan niche spesifik. Karena terlalu spesifik, mereka sangat mudah kehabisan ide. Ya jatuhnya copast dari blog lain sehingga blognya jadi kaya posting. Padahal isinya belum tentu orisinil. Saranku bisa saja kita mereview tulisan dari blog lain, tapi ulas dengan sudut pandang kita sendiri. Jangan lupa sertakan link tulisan yang kita review tersebut.

Kurang lebih itu yang terlintas di pikiranku alasan mengapa seorang blogger melakukan copast. Nah lalu bagaimana cara untuk memberantas blogger copast ini? Menurutku cara terefektif adalah mulai dari kita sendiri, mari anti untuk copast tulisan orang lain. Selanjutnya kita bisa menghalangi pergerakan hantu blogger ini dengan sering-sering menyebar tulisan di sosial media yang berisi ajakan untuk anti copast dan bangga dengan orisinalitas tulisan sendiri. Cara yang terakhir, jika menemukan blogger copast langsung laporkan ke Mr. Google agar blognya segera diblock. Untuk caranya bisa klik disini.   

Oke, segitu dulu unek-unekku mengenai hantu yang bernama blogger copast. Semoga kita dihindarkan menjadi blogger copast, dan tulisan kita juga terhindar dari aktivitas oknum dunia maya ini. Aamiin.


Lomba Blog by : andre.web.id

Sunday, April 27, 2014

Werewolf



Hari ini, dismenorhae menyerangku lagi. Sebenarnya tak ada masalah, karena setiap bulannya juga kena. Tapi tadi itu pas aku sedang ada di luar. Awalnya hanya sedikit nyeri, lama kelamaan keringat panas-dingin ikut keluar. Aah, ini yang tak bisa kutahan. Perasaan mual juga mulai kurasakan. Aku yang saat itu sedang membonceng mama, sepulang dari resepsi pernikahan temanku, lantas menghentikan motor dan bertanya apakah mama sanggup membonceng. Bisa kata mama. Meskipun begitu, sembari menahan komplikasi nyeri dan kawan-kawannya aku juga merasa khawatir dibonceng mama. Sudah lama sekali aku tidak dibonceng mama. Takut, kalau beliau tidak kuat atau kurang konsentrasi. Apalagi waktu itu kami di jalan besar yang ramai.

Lama-kelamaan dimenorhae makin tega mencabik-cabik perutku. Aku minta mama untuk mampir ke rumah tanteku yang kebetulan akan kami lewati menuju rumah. Mampirlah kami, ternyata tak ada orang. Aku yang tak tahan, langsung berbaring sembari memegang perut di teras yang kebetulan sedang dipenuhi kasur-bantal-guling yang sedang dijemur. Rasanya lama sekali menunggu tante yang ditelepon mama untuk pulang. Meski aku tahu, masuk rumah pun tak akan membuat nyeri itu berakhir. Tapi setidaknya, aku tak berada di luar dan aku bisa meringis sepuasku jika berada di dalam.

Saat berhasil masuk rumah, aku kembali rebah di sofa yang pertama kulihat. Minta mama mengambilkan air hangat. Tante yang nanya-nanya apakah memang begini aku setiap kali haid membuatku tambah pusing. Panas, gerah, air mataku keluar.

Memang, selama ini hanya dismenorhae yang mampu menumbangkanku. Ini kali ketiga serangan nyeri bulanan ini parah. Bukan parah karena rasa sakitnya, tapi karena aku berada di luar rumah atau kost. Kalau rasa sakitnya ya memang selalu begitu, nyeri.  Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku pernah tepar saat di jam pelajaran dan waktu praktikum semester 2.

Kalau kupikir-pikir, aku –atau beberappa cewek lainnya, mirip siluman serigala atau werewolf yang berubah tiap bulannya. Bedanya werewolf berubah dari manusia menjadi serigala pada saat bulan purnama, sedangkan aku “berubah” ketika awal masa menstruasiku tiap bulan.


Selama ini aku memang menghindari keluar rumah waktu haidku mulai mendekati tanggalnya. Seperti werewolf yang sengaja mengasingkan diri ke hutan jika bulan purnama hampir tiba. Beruntung siklusku cukup teratur, jadi biasanya tebakanku tepat. Aku tak menyusun jadwal untuk keluar rumah pada saat itu sehingga sesakit-sakitnya dismenorhae bisa kulewati sendirian tanpa tatapan panik orang-orang yang membuatku tambah tidak mood. Tapi ya terkadang begitu, ada saat dimana aku terjebak keadaan berubah menjadi serigala di tempat yang tidak tepat.

sumber gambar: disini


Friday, April 25, 2014

Trancendence, Ketika Dunia Kacau Akibat Teknologi

Bayangkan jika ternyata otak manusia dapat dihubungkan ke komputer dan jaringan internet yang notabene menampung semua informasi dari seluruh dunia. Pasti akan sangat luar biasa dampaknya. Manusia tentu dapat melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya masing-masing. Transendensi. Itulah istilah yang digunakan untuk menyebut kehebatan teknologi ini. Singkatnya transendensi adalah penyisipan bagian otak manusia (gen?) ke jaringan komputer dan menghubungkannya ke internet. Ini menurutku, karena aku tak menemukan kata transendensi atau pun trancendence dalam kamus.

Trancendence adalah film yang beberapa waktu lalu kutonton. Ini film kedua yang tak sengaja kutonton dan bagus. Tak sengaja karena sebelumnya tak ada rencana nonton dan tentu saja tak ada target film apa yang akan ditonton. Kemarin itu, hanya melihat judul dan aktor utamanya (Johnny Depp) saja, aku dan teman-temanku sudah bisa mengira kalau film ini keren.

http://www.thatsreallypossible.com/

Film ini bercerita tentang obsesi sepasang suami istri yang ingin menyempurnakan fungsi otak manusia dengan bantuan teknologi, dalam hal ini komputer dan internet. Pada awalnya yang paling terobsesi adalah si istri. Sang suami yang sangat genius hanya mengikuti obsesi istrinya untuk mengembangkan teknologi ini. Sesaat setelah mengadakan ceramah mengenai transendensi, si suami ditembak dengan peluru zat kimia yang menggerogoti setiap sel tubuhnya. Penembakan itu merupakan reaksi penentangan terhadap rencana transendensi suami-istri ilmuwan tersebut.

Sang suami akhirnya meninggal. Si istri bersedih, tentu saja. Ketika si istri ini putus asa dan memtuskan hendak mematikan total seluruh perangkat komputer mereka yang berada di laboratorim penelitian, tak dinyana komputer induk ternyata mengirimkan pesan. Komputer tersebut mengaku sebagai sang suami. Memang, ketika masa-masa kritis suaminya, si istri dan seorang sahabat suami-istri tersebut melakukan usaha agar otak jenius si ilmuwan bisa ditransendensi ke komputer. Si istri kemudian meyakini bahwa suaminya masih hidup. Lebih tepatnya, otak suaminya masih hidup dan tersambung ke jaringan internet dunia.

"Otak ajaib" si ilmuwan (pict source)

Masalah sesungguhnya baru dimulai. Kelompok yang tidak menyetujui ide transendensi mulai melakukan gerakan untuk mencegah berkembangnya trandensi. Dengan menyandera si sahabat suami-istri ilmuwan, kelompok ini melakukan pengejaran terhadap istri dan “otak ajaib” sang ilmuwan. Si istri ternyata membangun laboratorium bawah tanah di kota antah berantah. 

Pada titik ini, kami sebagai penonton dibimbangkan dengan penokohan. Siapa yang berperan sebagai tokoh antagonis, dan sebaliknya siapa yang berperan sebagai tokoh protagonis. Kebimbangan lain yang disebabkan oleh film ini adalah apakah “otak ajaib” tersebut milik sang ilmuwan atau bukan? Pada akhir film, sepertinya otak tersebut memang milik sang ilmuwan. Meski ada beberapa bagian yang menuntun penonton untuk meragukannya.

Keraguan muncul (pict source)

Kekacauan yang disebabkan oleh transendensi ini adalah terjawabnya semua permasalahan manusia di dunia. Lho, bukannya itu bagus? Seluruh penyakit ada obatnya, pohon bisa tumbuh dalam waktu yang singkat, kuatnya daya otot manusia, dan cepatnya kepulihan jaringan yang luka. Itu adalah sedikit dari efek yang terjadi dengan adanya transendensi. Tapi “otak ajaib” ini melupakan sesuatu. Alam memerlukan keseimbangan untuk terus bertahan. Jika seluruh manusia di dunia ini sehat maka pertambahan populasi akan terus terjadi, bayangkan sendiri bagaimana akibat globalnya.

Pada saat tersebut, sang istri merasakan kebimbangan, dia bingung dengan kesalah-benaran keadaan ini. Obsesi yang dulu dimilikinya, kini malah berpindah ke otak sang suami. Si suami yang marah karena ada kelompok penentang yang menghalangi aksinya, termasuk sahabat yang selama ini menjadi kepercayaan mereka, memproduksi virus massal. Virus-virus ini dapat membentuk apa saja yang dia inginkan, bahkan manusia. Ketika laboratorium dan segala perangkatnya dihancurkan bahkan dengan senjata meriam, bangunan tersebut akan kembali pulih dengan cepat. Mengerikan sekali.

Bangkit dari "kematian" (pict source)

Di akhir film, otak suami menjelma menjadi manusia utuh kembali! Tak dapat dibayangkan. Karena sebelumnya, saat kematiannya terlihat adegan bahwa si istri menabur abu tubuh suaminya di sungai. Terjadi pertentangan antara suami dan istri tersebut, yang mulai mempercayai kelompok penentang. Pada akhirnya ketika tubuh sang istri yang masih manusia kena tembakan, sang suami mengalah dan ia pun menyisipkan elemen (chip?) yang diminta sang istri ke tubuh istrinya. Dengan kendali yang sudah ada dalam tubuh sang istri, tubuh pasangan tersebut akhirnya hancur bersama-sama virus ganas yang tercipta akibat transendensi. Aku menitikkan air mata pada scene ini.

Setelah itu, kembali ke epilog yang diletakkan di awal film, dunia menjadi hancur karena ketiadaan teknologi. Karena kehancuran fisik sang ilmuwan juga menyebabkan musnahnya jaringan internet dan segala peradaban teknologi tinggi. Segala gadget dan perangkat komputer akhirnya hanya menjadi rongsokan pengganjal pintu. Miris sekali.

Aku tahu ini hanya fantasi dari sekelompok orang yang ngerti bioteknologi dan high tech. Tapi menurutku tak menutup kemungkinan, suatu saat nanti akan ada orang seperti pasangan ilmuwan ini yang terobsesi menjadikan manusia kendali terhadap alam. Tapi setidaknya film ini telah memberikan peringatan bahwa alam sekarang adalah alam yang sama sejak ia diciptakan bermilyar tahun yang lalu. Ia membutuhkan keseimbangan untuk tetap bertahan.

Empat jempol deh untuk film ini (y)











Thursday, April 24, 2014

The Kite

Jika kau tanya bagaimana perasaanku
Tentu saja aku akan menjawab dengan kata “lelah”
Siapa sih yang tidak lelah digantung kayak jemuran?
Atau ditarik-ulur seperti layang-layang?
Tak ada

http://www.sfkites.com/

Seandainya balas dendam itu boleh,
Aku hanya ingin kau merasa menyesal karena telah sempat membuatku merasa tak berarti

Wednesday, April 23, 2014

Kehilangan

Beberapa waktu yang lalu salah satu benda kesayanganku hilang. Sebuah gantungan kunci berupa boneka bekantan. Bukan harga atau rupa bendanya yang membuat aku sayang sehingga aku sangat sedih saat kehilangannya. Tapi karena nilainya. Itu  salah satu benda tanda persahabatan EliteSquare dan kenang-kenanganku waktu jalan-jalan ke Dufan pas OSN-Pertamina dua tahun yang lalu.


Yang menjadi masalah adalah area kehilangannya di luar kota. Dari suatu tempat ke rumah saudara, kuperkirakan boneka berukuran kecil itu jatuh. Waktu itu malam dan hujan, sehingga cukup membuatku tidak sadar kalau bonekanya hilang. Besok harinya, meski ada agenda yang penting aku sengaja berlambat-lambat di jalan karena melihat-lihat jalanan. Mungkin saja boneka tersebut ketemu pikirku. Padahal agak susah melihat-lihatnya karena terhalang median jalan, karena aku menyusurinya dari arah yang berlawanan. Hasilnya, nihil. Sedihnya aku.

Ini salahku juga sih. Sebenarnya aku sudah tahu tali gantungan boneka itu hampir putus karena udah cukup lama digantung. Terus aku udah coba ngejahitnya. Karena kualitas jahitanku buruk mungkin mengapa boneka tersebut bisa jatuh. Hikz.


Semoga dapat yang lebih baik. Aamiin.

Tuesday, April 22, 2014

Berdoa Terlalu Banyak?

Tak ada yang terlalu banyak bagi-Nya, termasuk doa.

Hari ini aku merasa terlalu banyak berdoa.

Aku merasa terlalu banyak masalah, dan hanya bisa diselesaikan dengan doa.

Sebutlah masalah ABCD.

Usaha telah kulakukan.

Mungkin hasil masih prematur untuk muncul sekarang.

Semoga, itu yang terbaik bagiku (doa lagi).

Selain itu, masalah orang-orang terdekatku juga masalahku juga.

Karena asli, aku sudah menasbihkan diri menjadi makhluk sosial.

Sedikit-dikitnya, empatilah yang kulakukan.

Allah, doaku terakhir ini mungkin merangkum semua doa.

Semoga semua doaku dan doa orang-orang terdekatku, Engkau kabulkan.

Aamiin.

Sunday, April 20, 2014

Piper Betle


Klasifikasi
Regnum           : Plantae
Divisi               : Spermatophytha
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Piperales
Famili              : Piperaceae
Genus              :Piper
Spesies            :Piper betle
Deskripsi:
Piper betle atau biasa yang disebut sirih ini (di Jawa disebut juga sebagai suruh /sedah sedangkan di Sunda kerap dinamai seureuh) termasuk jenis tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain. Tanaman sirih  panjangnya mampu mencapai puluhan meter.Bentuk daun sirih pipih menyerupai jantung dan tangkainya agak panjang.Permukaan daun berwarna hijau dan licin, sedangkan batang pohonnya berwarna hijau agak kecoklatan dengan permukaan kulitnya yang kasar dan berkerut-kerut.Buah sirih (Piper betle) merupakan buah buni yang berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan.Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

Habitat:
Tanaman sirih tumbuh tersebar diberbagai negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Selain di Indonesia sirih dijumpai tumbuh pula di India, Bangladesh, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Vietnam, Kamboja bahkan hingga ke Papua New Guinea.

Potensi:
Minyak atsiri dari daun sirih memiliki kandungan minyak terbang (betiephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya antioksidasi (mematikan kuman) dan fungisida (anti jamur).
Selain itu sirih juga mengandung bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap.Sirih juga mempunyai berbagai khasiat terutama sebagai obat-obatan herbal.Berbagai penyakit mulai batuk, sariawan, sakit mata, eksim, bau mulut, bau badan hingga keputihan, sakit jantung, dan sifilis dapat diobati dengan daun dan buah sirih.
Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan.Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan.
Berbagai penyakit dan gangguan kesehatan yang dapat diobati dengan memanfaatkan khasiat sirih antara sakit mata, eksim, bau mulut, kulit gatal, menghilangkan jerawat, pendarahan gusi, mimisan, bronkhitis, asma, batuk, sariawan, luka, keputihan, haid tidak lancar, produksi ASI yang berlebihan, sakit jantung, sifilis, alergi, diare, dan sakit gigi.

Sumber Pustaka:
Alamendah.2010.Sirih (Piper betle).
www.alamendah.wordpress.com

Diakses pada 31 Oktober 2011

Saturday, April 19, 2014

Gnetum gnemon


Klasifikasi
Regnum           : Plantae
Divisi               : Spermatophytha
Kelas               : Gnetopsida
Ordo                : Gnetales
Famili              : Gnetaceae
Genus              :Gnetum
Spesies            :Gnetum gnemon

Deskripsi:
Gnetum gnemon atau biasa yang disebut melinjo / belinjo termasuk ke dalam subdivisi Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka). Habitus berupa tumbuhan berkayu.Pohon berumah dua yang selalu hijau dan berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5-10 m. Daun berhadapan, berbentuk jorong, panjang 7.5-20 cm dan lebar 2.5-10 cm; urat daun sekunder saling bersambungan. Perbungaan majemuk soliter dan aksiler, melingkar di tiap nodus, panjang bunga 3-6 cm. Terdapat 5 - 8 bunga betina di tiap nodus, berbentuk bola. Buah seperti buah keras (nutlike), berbentuk jorong , panjang buah 1-3.5 cm, bagian ujungnya runcing pendek, ketika masak warna buah berangsur-angsur akan berubah dari kuning, merah hingga keunguan. Satu biji dalam satu buah, buah besar dan kulit tengahnya keras berkayu.

Habitat:
Melinjo tumbuh liar di hutan-hutan hujan pada ketinggian hingga 1200 m. Tempat-tempat beriklim kering umumnya membudidayakan tanaman ini. Tidak ada syarat tertentu terhadap faktor kualitas dan kedalaman tanah, namun kadar ikat air pada tanah atau irigasi perlu dilakukan selama musim kering.

Potensi:
Gnetum gnemon banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan.Pucuk daun, bunga jantandan buahnya dimasak untuk bahan sayur asam atau lodeh.Buah yang tua dibuat kerupuk emping sedangkanb uah yang muda dibuat makanan ringan yang renyah.

Sumber Pustaka:
Herbarium Bandungense.2011.Melinjo (Gnetum gnemon).
Diakses pada 31 Oktober 2011
Prosea.2011.Gnetum gnemon L.

Diakses pada 3 November 2011

Wednesday, April 16, 2014

Sapaan Kematian

Kemarin, sebuah kematian menyapaku. Mengingatkanku, betapa tak ada yang kekal di dunia ini. Meski sejak lama tahu, bahwa tak ada yang bisa mengelak dari jemputan Izrail, sang malaikat pencabut nyawa. Tapi tetap saja, terkadang diri ini lupa dan lebih mencondongkan hati pada dunia. Dunia yang sejatinya hanya merupakan tempat persinggahan menuju keabadian. 

Kemarin, seorang uak –kakak bapakku, meninggal. Siapa pun yang mengenal beliau, pasti akan terkejut dan tidak percaya. Betapa tidak, beliau tidak pernah dikabarkan sakit. Bahkan hingga sesaat sebelum kematiannya, beliau terlihat sangat sehat. Namun sekali lagi, kematian adalah hal yang paling tepat waktu di dunia ini. Ia akan datang, dengan cara yang tidak pernah kita duga. Bukankah rahasia terbesar dari hidup kita adalah bagaimana cara kita mati. Itu yang tertera dalam The Lost Symbol.

http://ter4ng.wordpress.com/2011/12/13/kematian-manusia/

Uak, seperti bapakku, juga bekerja di perusahaan yang jauh dari rumah dan hanya bisa pulang sebulan sekali. Pada saat beliau berada di kamp, tidak di lapangan, beliau mengeluh sakit dada. Diduga beliau kena serangan jantung. Ketika dalam perjalanan dibawa ke Banjarbaru setelah diinfus di rumah sakit setempat, nyawa beliau sudah tidak ada. Tak ada yang bisa memastikan dengan tepat kapan beliau “pergi”.

Kematian merupakan pelajaran bagi yang ditinggalkan. Itu jelas, karena sejatinya kita semua juga akan kembali pada-Nya. Tidak pandang usia. Buktinya, kakak-kakak uak masih hidup. Bahkan nenekku yang sudah 80 tahun lebih pun masih ada. Rahasia-Nya tergenggam erat hingga Ia memutuskan untuk membukanya. 

Oleh karena itu aku jarang mau jauh dalam waktu yang lama dari orang tua dan keluarga. Aku takut ada seseorang di antara kami yang “dipanggil” sedang kebersamaan kami masih sangat sedikit.

Monday, April 14, 2014

Mau Menjadi Backpacker yang Beruntung?


Judul : Lucky Backpacker
Penulis : Astri Novia
Penerbit : Imania
Tahun terbit : 2011
Peristiwa menyedihkan terjadi di hari-hari terakhir perjalananku di Eropa. Kututup mata dan telinga selama satu minggu memeras keringat di Girona. Tekadku kuat, nyaris nekat. Aku harus tegar menerima sikap mereka yang menganggapku sebagai manusia dari kalangan bawah, berasal dari negara dunia ketiga yang miskin. Selama kenekatanku mencari tambahan bekal di negeri orang, hukum karma atas kenakalan di masa kecil tertuai juga saat itu.

Suka duka dalam perjalanan tentunya menyertai siapa pun yang melakukannya. Begitu juga dengan diriku. Rasanya sedih sekali mengetahui kita kehabisan uang saat perjalanan belum berakhir. Rasa bingung dan kecewa kadang membuat frustasi, tetapi pertemanan dan rasa kekeluargaan yang besar antara aku dan keluarga Torrent telah membuatku kembali tersenyum. Akhirnya aku bisa menapakkan kakiku di tanah Alhambra, Granada.

Berpetualang ke negeri Eropa bukanlah hal yang tidak mungkin. Nothing is impossible! Ada banyak jalan menuju Roma, pepatah itu benar sekali dan ternyata aku bisa mencapai Kota Roma yang sebenarnya.
**

Buku ini merupakan catatan perjalanan seorang Astri Novia, si penulis, ke Eropa. Ia melakukannya dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan bekerja menjadi au pair. Au pair adalah sebutan bagi wanita dari negara asing yang bekerja di rumah sebuah keluarga di Eropa. Kalau di Indonesia mungkin pekerjaannya sama dengan pembantu rumah tangga. Penulis sendiri tidak malu dengan sebutan TKI, yang diremehkan oleh sebagian orang. Yang penting cita-citanya keliling Eropa dapat tercapai.

Via, nama panggilan penulis, menjadi aur pair di Spanyol selama satu setengah tahun. Setelah masa kerja dan kontraknya habis, mulailah ia melakukan tur solo keliling Eropa menggunakan uang yang susah payah ia kumpulkan selama menjadi aur pair. Wah, luar biasa ya perjuangannya? Negara-negara yang berhasil ia kunjungi adalah Spanyol, Prancis, Belgia, Jerman, dan Italia. Tur selama satu bulan penuh tersebut hanya menghabiskan uang sekitar 3 juta rupiah, tergolong murah menurut penulis.

Kelebihan buku ini tentu saja karena menyajikan beragam informasi mengenai kota-kota di lima negara yang dikunjungi penulis. Di sela-sela cerita tentang perjalanan penulis, terselip informasi mengenai kekhasan masing-masing negara dan kota yang dikunjungi. Hmm, bikin aku tambah ngebet aja pengen travelling ke luar.

Selain itu, di buku ini juga terselip resep makanan Eropa sederhana. Tapi sayang hanya ada dua resep yang tercantum di sini. Namanya juga buku travelling Rindang, kalau isinya banyak resep makanan namanya buku resep. Hihi. Meskipun begitu detail makanan khas Eropa lain juga tersaji meskipun tidak dalam bentuk resep masakan. Aku senang membacanya, kali aja bisa mempraktikkannya ^^

Bonus paling wah dalam buku ini adalah tips travelling dengan hemat dan cerdas di Eropa yang terdapat pada bagian belakang buku ini. Totalnya ada 70 buah tips. Tapi aku menemukan ada dua poin yang persis sama yakni poin ke-59 dan 65 yaitu jangan memberikan tip pada waitress di Spanyol karena biasanya harga makanan sudah termasuk tip dan servis. Jadi yang benar hanya ada 69 tips J.

Kekurangan buku ini menurutku terletak pada bahasa penulisan. Mungkin karena bentuknya catatan perjalanan, sehingga bahasa yang digunakan dalam buku ini monoton dan alurnya maju mengalir. Penulis terkesan sangat bercerita dalam buku ini. Kekurangan yang lain menurutku ada pada pembagian babnya. Setiap bab terdiri dari berpuluh-puluh halaman yang menjenuhkan. Sepertinya pembagian bab ini dimaksudkan untuk satu bab satu negara. Tapi menurutku juga tidak salah kalau setiap bab dipecah menjadi beberapa bab lagi. Sehingga pembaca tidak bosan dengan cerita perjalanan penulis yang benar-benar mengalir sesuai urutan waktu.

Terlepas dari semua itu, menurutku si penulis sangat beruntung dalam perjalanannya, cocok sekali dengan judul buku ini. Terutama perkenalannya dengan keluarga Torent di spanyol. Selain itu juga di Italia, ia bertemu dengan ibu yang kesepian sehingga ia bisa dengan gratis menumpang di rumahnya saat anaknya pergi ke luar kota.

Yah meskipun di setiap ada suka, tentu juga ada duka. Setiap keberuntungan juga disertai dengan kesialan. Kesialan penulis dalam perjalanannya adalah kehabisan uang saat di tengah perjalanan. Hal ini sebenarnya adalah kesalahan penulis sendiri yaitu memutuskan untuk menonton pertandingan antara AS Roma vs SS. Lazio. Harapan penulis sih melihat pemain idolanya, Francesco Totti, dengan mata kepala sendiri bermain di kandang. Meskipun harapan tersebut kemudian layu ketika penulis mendapati kenyataan bahwa Totti tidak ikut bermain karena cedera. Aih, uang melayang, Totti tak nampak di pandangan.

Penulis kemudian memutuskan untuk mencari uang tambahan di Spanyol dan menginap di rumah keluarga Torrent yang baik. Seperti yanag tertera di back cover synopsis, penulis merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan pada saat bekerja. Namun itu tak menyurutkan tekadnya untuk memperoleh uang agar bisa mengunjungi Alhambra, sebuah kompleks istana dan benteng Islam di Granada, Spanyol. Tempat ini merupakan tempat terakhir yang dikunjungi oleh penulis sebelum kembali ke Indonesia.


So, mau menjadi backpacker yang beruntung? Di buku ini kunci jawabanya ada dua, yaitu memiliki banyak teman di mana-mana dan selalu berbuat baik kepada siapa saja dan dimana saja.

Sunday, April 13, 2014

Tidur di Bawah Hujan

Eksis dulu di depan air terjun

Ini adalah pengalamanku akhir pekan lalu, saat mengunjungi kegiatan perkemahan yang diadakan oleh adik-adik pengurus himpunan. Sabtu sore kami berangkat dari Banjarbaru ke Mandiangin. Cuaca cerah ceria. Bahkan bisa dibilang panas, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sampai di sana setelah kurang lebih 45 menit perjalanan kami masih sempat jalan-jalan dan foto-foto di bawah air terjun di dekat lokasi perkemahan.

Sepulang dari sana, barulah kami mengikuti acara sebagai visitor. Acaranya berupa ospek jurusan yang diberi nama Malam Keakraban (Makrab). Semuanya berjalan lancar hingga waktu peserta tidur.

Visitor lagi ngerumpi
Menjelang tengah malam, peserta dibangunkan. Teriakan dan bunyi sirene menghiasi acara pembangunan. Aku ingat sekali dulu itu pas aku jadi peserta. Rasa takut dan terkejutku bercampur jadi satu. Terkejut karena ternyata kakak-kakak tingkat yang sehari-harinya kelihatan manis, malam itu berubah menjadi serigala yang sepertinya siap memangsa peserta jika melakukan kesalah sedikit saja *LOL

Sejak dua tahun yang lalu, berperan sebagai serigala ternyata cukup menyenangkan *eh. Seperti juga malam itu, aku bersama teman-teman ambil bagian jadi tim huru-hara bersama panitia.  Setelah sedikit pemanasan, para peserta kemudian diberangkatkan jurit malam yaitu menjelajah rute di dalam hutan dan melewati pos-pos panitia untuk menerima materi. Aku dan teman-teman visitor lain juga kebagian jaga pos. ketika kelompok ke-3 peserta diberangkatkan, aku dan teman-teman satu pos juga berangkat ke pos ke-4, dimana kami ditempatkan.

Yang kebagian jaga di posku ada sekitar 10 orang, aku dan teman-teman dari mahasiswa yang belum aktif tapi bukan panitia 4 orang, 4 orang kakak alumni, dan 2 orang panitia. Nama posnya adalah Pos Mental, yaitu pos yang bertugas menguji mental para peserta dengan cara-cara yang ekstrem. Cara-cara tersebut dilakukan dengan alasan kesalahan yang peserta lakukan, dari yang sepele hingga benar-benar yang menjengkelkan selama mereka menjadi mahasiswa.

Tiba-tiba ketika api unggun kecil kami baru saja menyala, hujan datang memadamkannya. Kami kira hujannya hanya kecil dan sebentar karena ada angin yang mungkin akan membawa awan mendung ke daerah lain. Selain itu kami juga yakin jurit malam akan tetap jalan karena para peserta sudah bawa jas hujan. Sehingga kami tetap meutuskan berada di sana meski mulai basah kuyup. Aku berdiri mepet ke batang pohon besar yang ada di sana, berharap kanopinya memayungiku. Saat mendongak ke atas, alamak, kanopinya bolong-bolong. Jaketku mulai basah. Rasa dingin mulai menyelinap. Beruntung tas dan segala isinya sudah diselamatkan dalam kantong plastik besar. Kurang lebih setengah jam sudah kami di bawah guyuran hujan, tiba-tiba ada panitia yang datang. Kak, jurit dipending, kembali ke tenda. *tepok jidat, sambil ngomel

Dengan melewati sungai kecil dan tanjakan curam kami kembali ke tenda. Ternyata peserta sudah dikumpulkan di tenda panitia. Ckck, tau gini  ga perlu nunggu dari tadi. Maklum, orang-orang di pos mental emosian semua =D

Kami kemudian rapat dengan panitia. Alasan mereka menghentikan jurit karena medan yang cukup berbahaya. Benar juga sih. Keputusan kemudian diambil. Acara dilanjutkan dengan perubahan jalur jurit. Medan yang diambil lebih aman dan lebih dekat dengan lapangan perkemahan. Untuk menghemat waktu, dua kelompok digabung menjadi satu kelompok. Dan mereka rolling di setiap pos sehingga tidak ada pos yang nganggur.

Selama menanti di pos yang baru kami menggigil kedinginan. Tak lama, hujan turun lagi dengan derasnya. Kami berinisiatif balik lagi ke tenda. Ternyata malah papasan dengan kelompok peserta yang akan ke pos kami. Cepat-cepatlah kami balik ke tempat sambil cekikikan di bawah hujan. Aksi kemudian dijalankan. Teriakan-teriakan kembali terdengar dari pos kami. Aku yang awalnya slow jadi sedikit naik darah melihat mental-mental tempe peserta.

Ada beberapa peserta yang berjatuhan, padahal mereka pakai jas hujan. Bagaimana kami yang sama sekali dari awal nggak pakai jas hujan? Brrrr. Setiap peserta tidak ada aku meringkuk jongkok. Asli dinginnya pakai banget. Tapi kalau peserta sudah datang, kami seakan lupa kalau saat itu hari sedang hujan. Teriakan-teriakan yang membuat mulut kami berasap menjadikan aura hangat di sekitar kami.

Jam setengah lima pagi, acara jurit malam selesai tapi hujan belum bersedia untuk reda. Seluruh manusia di bumi perkemahan tersebut langsung masuk ke tenda peleton milik panitia. Peserta, panitia, alumni, dan kakak tingkat jadi satu. Berdesak-desakan. Tak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu pagi (haa kayak judul lagu). Biarpun hujan berhenti tetap tak ada yang bisa dilakukan karena memang agendanya adalah tidur atau istirahat.

Lelah cerita-cerita, aku dan teman-teman memosisikan diri agar bisa melelapkan mata. Aaaa, sama sekali nggak enak. Seingatku aku berkali-kali ganti posisi. Tidak terlalu lelap, tapi cukup membuatku bermimpi. Aku sudah lupa mimpi apa, tapi sepanjang tidur aku sadar merasa dingin. Tentu saja, selimutku adalah jaket basah. Mencoba menghangatkan diri, aku mengoleskan minyak angin ke tangan dan kaki. Tapi ternyata kombinasi panas minyak angin dan kondisi dingin badan itu sama sekali nggak enak. Perih.

Aku merasa tidur di bawah hujan. Didukung pula posisiku tepat berada di bawah jendela tenda peleton yang terbuka. Meskipun hanya setetes-setetes air yang jatuh mengenai tubuhku, tapi tetap saja semakin lama semakin menambah dingin. Belum lagi ketika angin berhembus. Brrr, dingin sekali meski tenda sudah ditutup, hembusan angin tetap menembus tenda. Tak ada angin atau hujan saja cuaca di saat fajar itu udah horor dinginnya. Apalagi ini hujan, tubuh basah, ada angin, di pegunungan lagi. #Aaaaa

Ketika matahari muncul kami langsung ngacir ke motor masing-masing. Karena kami visitor, jadi bebas mau pulang kapan saja. Hihi. Kombinasi tubuh basah, rasa dingin, kepala pusing membuatku harus berhati-hati menembus jalanan pagi yang sepi di bawah gerimis. Aaah, benar-benar pengalaman tak terlupakan bersama hujan.

Peserta Makrab

Friday, April 11, 2014

Bagaimana 9 Aprilmu?

Ini pengalamanku tanggal 9 lalu. Aku berangkat ke TPS tempat keluargaku terdaftar bersama mama. Waktu itu sudah hampir jam 10 pagi. Ternyata waktu itu sedang banyak-banyaknya warga antri untuk memilih.

Bisa dimaklumi, meskipun oleh pemerintah tanggal 9 April 2014 ditetapkan sebagai hari libur nasional, sebagian besar penduduk di desaku tetap pergi ke tempat kerja mereka, kebun karet. Rata-rata waktu kerja mereka dari selepas shalat subuh hingga jam 9 pagi, tergantung banyak pohon karet yang mereka sadap getahnya. Setelah itu baru mereka melakukan aktivitas lain, termasuk mencoblos pada hari rabu yang lalu.

Selama menunggu, aku mengamati keadaan di TPS. Orang-orang yang bekerja sebagai petugas rata-rata kukenal semua, bahkan ada di antara mereka yang termasuk keluarga jauhku. Yang paling menarik perhatianku adalah orang yang bertugas menjadi saksi setiap partai.

Lima tahun yang lalu, aku juga pernah berperan sebagai saksi. Lupa, dulu aku jadi saksi untuk partai yang mana ^^ Dulu itu aku jadi saksi hanya sebagai pelengkap. Karena nggak ada lagi yang bisa, akulah yang ditunjuk, kebetulan mama juga jadi salah seorang saksi waktu itu.

Bedanya dengan dulu, sekarang aku lebih melek politik. Beberapa bulan menjelang pileg ini aku termasuk orang yang mengikuti perkembangan media. Sehingga tahu sebenarnya apa fungsi dari seorang saksi. Saksi adalah orang yang “mengawasi” ketransparanan sebuah proses pemungutan suara di suatu TPS, itu yang bisa kusimpulkan. Setiap partai memiliki saksi di setiap TPS untuk menghindari kejadian-kejadian yang merugikan bagi partai tersebut.

Yang menjadi fokusku tentang saksi di desaku ini adalah bahwa setiap saksi seperti tidak sedang bekerja untuk partai yang mereka wakili. Mereka lebih seperti orang yang numpang duduk di tenda TPS. Mereka tidak mengawasi, bisa seperti itu kalau boleh kubilang. Mereka lebih tertarik dengan uang honor yang akan mereka kantongi setelah duduk seharian menggantung tali id card di leher mereka. Bukan suudhzon, karena aku tahu beberapa dari mereka bahkan simpatisan dari partai yang berbeda dari partai yang mereka wakili sebagai saksi. Entah bagaimana peran mereka saat proses perhitungan suara, karena aku tidak hadir saat itu. Terlepas dari itu, semoga tidak terjadi kecurangan di TPS tempatku mencoblos.

Fenomena lain yang berhasil kutangkap saat pencoblosan tanggal 9 April lalu adalah ketika tim dari partai X mampir di TPS kami untuk memberi bungkusan makan siang kepada saksi yang bertugas. Setelah tim partai tersebut berlalu, spontan si saksi yang menerima kiriman logistik diledek oleh semua petugas dan calon pemilih yang berada di sana. Ciyee, diperhatikan sekali. Bagi-bagi nasi bungkusnya dong. Semacam itulah. Mungkin orang yang dapat logistik juga nggak enak, mana bisa dia makan sendiri sedangkan orang-orang lain yang ada di sana, yang notabene teman dan saudaranya belum makan.

Kejadian lain yang lumayan menggelitik adalah kesusahan beberapa pemilih dalam melipat surat suara. Beberapa dari mereka nenek-nenek atau kakek-kakek, tapi juga tak jarang yang muda pun terlambat dalam proses lipat-melipat. Mamaku sendiri, menghabiskan banyak waktu untuk melipat 4 surat suara. Mungkin lebih banyak dari waktu yang digunakannya untuk mencoblos. Padahal ketika membuka kertas suara, aku bisa melihat dengan jelas, ada petunjuk cara melipatnya. Ya bedalah, kata mamaku, anak muda dengan orang tua. Aku tergelak.

Selain cara melipat, yang membuat pemilih lambat keluar dari bilik suara adalah proses memilih caleg untuk dicoblos. Beberapa penduduk mungkin saja ada yang buta aksara dan kebanyakan orang tua memiliki mata tak awas lagi. Mereka hanya mengandalkan foto, sedangkan ada beberapa surat suara yang hanya terpampang nama. Penyebab lainnya mungkin juga karena tidak kenal dengan nama semua caleg yang tertera. Aku sendiri hanya mencoblos gambar partai pilihanku pada dua surat suara, karena minimnya pengetahuanku tentang setiap caleg.

Yang paling sering menjadi bulan-bulanan tertawaan di TPSku adalah warga yang salah memilih jalan keluar. Beberapa pemilih dengan santainya keluar melewati pintu masuk setelah menyerahkan surat untuk dimasukkan ke kotak suara. Padahal kan jalan keluar sudah diberi tanda dan sepaket dengan pencelupan jari kelingking kiri.

Secara keseluruhan hasil pengamatanku mengatakan bahwa proses pemilihan suara di desaku cukup lancar meski dengan TPS sederhana. Selain itu TPS juga berhasil menjadi ajang berkumpul sementara penduduk desa yang jarang bersua, aku misalnya. Tak jarang ada  penduduk yang menanyakan bagaimana kuliahku, sudah semester berapa, kapan lulus. Pertanyaan terakhir bikin nyesek =D


Nah, itu ceritaku tentang 9 April. Bagaimana dengan 9 Aprilmu?

Thursday, April 10, 2014

My Home, My Village, My Life

Rumahku seperti villa. Bukan karena bangunannya, tapi karena letak dan fungsinya. Letaknya terpencil, di ujung kampung, bahkan di ujung kecamatan. Fungsi rumahku lebih menyerupai tempat peristirahatan, daripada sebagai tempat tinggal. Sebagian besar penghuninya tidak menghabiskan banyak waktu di sana. Hanya mama yang selalu standby, sebagai penjaga vila. Sedangkan aku, adik, dan papaku berada di tempat-tempat berbeda dengan urusan kami masing-masing. Ya, kami keluarga yang terpencar di empat penjuru mata angin.

Ketika hari raya keagamaan atau libur nasional, kami akan beramai-ramai pulang kampung. Terkadang juga ada saat-saat dimana kami janjian pulang bareng di akhir pekan. Kalau tidak bisa diatur waktunya, maka kami akan pulang sendiri-sendiri. Oleh karena itu, urusan pulkam ini begitu penting bagiku. Bagi beberapa teman dekat, mereka sangat tahu kalau aku addicted dengan pulkam. Ya, karena sensasi berkumpul dengan keluarga sangat wah kurasakan pada saat pulkam.

Dari depan, rumahku hampir tak terlihat karena tertutup pohon rambutan

Rumahku menghadap ke utara, jalan kampung membentang dari barat ke timur. Di sebelah barat rumahku, diselingi satu rumah tetanggaku, terdapat SD yang menjadi sekolahku dulu. SD ini membuat suasana di sekitar rumahku agak ramai saat pagi hingga siang hari, tapi sepi luar biasa jika sore hingga malam hari. Apalagi di saat hari minggu atau hari libur. Hal ini karena jarangnya rumah di sekitar rumahku. Tambahan pula, jumlah orang yang menghuni rumah yang sedikit tersebut juga sedikit.

Di seberang SD ada tiga buah rumah, satu rumah dengan jarak terjauh dari rumahku dihuni oleh 4 orang. Geser ke sebelah timur, terdapat rumah yang dihuni oleh 3 orang, termasuk 1 bayi, di sebelahnya lagi rumah tanpa penghuni. Sebenarnya tiga rumah terakhir ini milik keluarga besar. Masing-masing memiliki anak minimal 4 orang. Sekarang sedikit penghuninya karena anak-anak mereka merantau ke luar daerah karena menikah, bekerja, atau sekolah. Lebih ke timur lagi, di seberang rumahku, tak ada rumah. Sebagai gantinya pepohonan rimbun rapat tumbuh di sana.

Di sebelah timur rumahku ada rumah nenek, yang kosong sejak dua bulan terkahir. Nenekku sedang berada di Samarinda, di rumah uwak, kakak bapakku. Nenek “dilarang” pulang sejak pengantinan sepupuku. Disini sangat sunyi, begitu alasan uwak. Meski nenek dari pihak papaku tersebut, sudah merengek mau pulang ke rumah tuanya. Fyi, umur nenekku lebih dari 80 tahun.

Di sebelah rumah nenekku terdapat rumah mendiang datu, nenek dari mamaku. Beliau meninggal satu tahun yang lalu. Hingga sekarang, rumah tersebut kosong. Terkadang nenek dari pihak mamaku menjenguk dan membersihkan rumah tersebut. Di seberang rumah datu ada rumah satu keluarga yang sekarang hanya ditempati oleh tiga orang penghuni rumah. Anak gadis keluarga tersebut berjualan pada saat malam hari di warung depan rumahnya. Suasana malam yang hening di sekitar rumahku terkadang terkoyak akibat suara-suara yang berasal dari warung malam tersebut.

Di sebelah timur warung tersebut terdapat rumah satu keluarga yang baru dibangun. Aku heran, kenapa ada keluarga yang mau membangun rumah di sana. Suasana desa yang sunyi terkadang membuat orang enggan mendirikan rumah di sekitar rumahku. Mungkin keluarga tersebut tidak berpikiran seperti orang kebanyakan. Di sebelah timurnya lagi, terdapat satu rumah dengan penghuni berjumlah 5 orang.



SD di dekat rumahku

Di sebelahnya lagi terdapat sebuah rumah kecil dengan jumlah anak 8 orang, laki-laki semua. Setengah dari anak-anak tersebut sudah tidak menghuni rumah itu lagi karena merantau ke luar daerah. Rumah ini merupakan rumah terakhir di bagian utara jalan. Sedangkan di bagian selatan jalan, yang artinya sejajar dengan rumahku masih ada satu rumah lagi. Rumah ini dipisahkan oleh tanah berpepohonan dengan jarak yang cukup jauh dari rumah datu. Penghuni rumah ini ada sekitar 5 orang, satu pasangan tua dan satu pasangan muda dengan satu anak kecil.

Selama aku tinggal di desa tersebut, rumah yang terakhir kusebutkan merupakan rumah paling ujung dari desaku. Tapi ternyata saat aku terakhir ke sana, ada satu rumah lagi yang dibangun tepat di dekat tanda perbatasan kecamatan. Rumah dari kayu tersebut masih setengah jadi. Bertingkat dua, dengan bagian atas tertutup rapat dan bagian bawah masih ada yang belum punya dinding.

Begitulah sekilas gambaran rumahku dan rumah-rumah di sekitar rumahku. Cukup sunyi, itu yang bisa kusimpulkan. Meskipun di bagian barat kampung agak lebih ramai. Tapi karena jaraknya jauh dan kami sekeluarga juga jarang keluar rumah, jadi berasa sekali sunyinya.

Tapi bagaimanapun, aku merasa nyaman tinggal di rumahku, di desaku. Suasana yang sunyi cocok dengan karakterku yang hampir anti-sosial. Meski aku belum mengambil keputusan jika aku menikah nanti dan membentuk sebuah keluarga sendiri, apakah aku akan membangun rumah di sana.

Wednesday, April 9, 2014

Silaturahmi, Pentingkah?


Judul : Keajaiban Silaturahmi
Penulis : Abdul Hakim Al-Kasyaf
Penerbit : Basmallah
Tahun terbit : 2011

Di era modern seperti sekarang ini, tingkat individualitas seseorang semakin tinggi. Kesibukan pekerjaan dan aneka kegiatan yang begitu padat, terkadang melenakan untuk tidak saling bersilaturahmi. Untuk bertegur sapa tetangga kadang lupa. Bahkan sangat menyedihkan, hubungan erat kekerabatan juga bisa terputus begitu saja.

Sungguh, realita sosial semacam ini seharusnya tidak sampai terjadi. Andai saja semua orang tahu, betapa pentingnya menjalin tali silaturahmi. Yang akan membuahkan beraneka kenikmatan dari Tuhan. Seperti akan dibukakan oleh-Nya pintu rezeki, dipanjangkan umur, diberi pahala berlipat yang bahkan melebihi pahala shalat dan puasa, dibukakan jalan menuju surga, mengurangi derita, membuat hidup semakin bahagia serta berbagai kenikmatan lainnya.

Andai saja mereka tahu betapa dampak buruk dari memutus tali silaturahmi. Sungguh mereka akan takut. Karena Allah akan melaknatnya, menulikan pendengarnanya, membutakan penglihatannya, dan mematikan hati nuraninya.

Mari kita senantiasa menjalin silaturahmi dengan siapa saja, agar kita bisa mendapatkan rahmat-Nya dan terhindar dari laknat-Nya. Amin.
**

Motivasi pertamaku untuk membeli dan membaca buku ini adalah untuk meningkatkan kualitas hubungan sosialku dengan orang lain. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, aku termasuk jenis orang yang cuek dengan keadaan sekeliling, meski belum hingga tahap anti-sosial. Aku hanya memiliki sedkiit hubungan yang benar-benar dekat dengan orang lain. Selebihnya hanya sebatas hubungan profesional yang tak lepas dari kepentingan hak dan kewajiban.

Buku ini memaparkan berbagai macam hal tentang silaturahmi. Mulai dari makna dan hakekat silaturahmi hingga keajaiban nyata yang dialami oleh orang-orang yang mengamalkan silaturahmi. Tingkatan silaturahmi juga dipaparkan dalam buku. Disebutkan bahwa tingkatan silaturahmi yang tertinggi itu ada pada orang tua. Seperti yang tercantum dalam Surat An-Nisa ayat 36, yaitu yang artinya sebagai berikut.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Bagian yang paling kusuka dari buku ini ada pada bab ketiga yaitu tentang etika bersilaturahmi. Di dalam bab ini dipaparkan etika-etika secara umum, lalu juga dipaparkan etika bagi pengundang, dan etika bagi yang diundang. Ada beberapa hal yang ternyata aku baru tahu, misalnya mengantarkan tamu sampai ke pintu saat pulang itu ternyata sunah.

Tentang kedahsyatan silaturahmi juga telah sering dibahas. Tapi aku paling suka dengan poin bahwa silaturahmi membuahkan pahala diluar pahala silaturahmi itu sendiri, misalnya pahala sedekah, pahala menyenangkan hati orang lain, pahala membantu orang lain, pahala tersenyum, pahala belajar, dan lain-lain. Seperti yang juga tertulis pada bagian akhir buku ini, keajaiban silaturahmi telah terbukti dalam banyak kisah nyata.

Dalam buku ini juga dipaparkan dampak buruk terputusnya silaturahmi dan bagaimana cara memperbaikinya. Lebih lanjut juga dibahas bagaimana cara bersilaturahmi di era teknologi. Menurut penulis, secanggih apapun teknologi tidak ada yang dapat menggantikan keutamaan bersilaturahmi dengan cara bertemu langsung. Jadi silaturahmi bertatap muka tetap diutamakn, apalagi sekarang telah didukung oleh kemudahan sarana transportasi.


Kekurangan buku ini menurutku terletak pada gaya bahasa yang digunakan. Terlalu formal dan berat, identik dengan buku keislaman yang sepertinya memang telah lekat dengan stereotip seperti itu. Namun, secara keseluruhan buku ini sarat dengan hikmah tentang silaturahmi. Setelah membaca buku ini, dijamin pembaca akan semakin menyadari pentingnya bersilaturahmi. Jadi, masih pentingkah silaturahmi di zaman modern ini? Jawabannya, tetap penting.

Monday, April 7, 2014

Caulerpa sertulariodes


Klasifikasi:
Regnum: Plantarum
Divisi   : Chlorophyta
Kelas   : Bryopsidophyceae
Ordo    : Bryopsidales
Famili  : Caulerpaceae
Genus  : Caulerpa
Spesies:Caulerpa sertulariodes
Deskripsi:
Caulerpa sertularioides adalah alga hijau kecil yang halus. Thallus membentuk stolon merambat dengan mempunyai akar penancap ke substrat dan ramuli timbul pada stolon antara perakaran, berbentuk menyirip teratur rapat dan tipis dengan ujung ramuli mendua arah. Warna hijau muda-hijau tua.

Habitat:
Tanaman ini biasanya ditemukan dalam perairan hangat yang tenang di kolam pasang surut atau berpasir serta terumbu karang. Tumbuh merambat pada substrat batu atau pasir di berbagai tempat mulai dari pinggir pantai rataan terumbu sampai ke sisi luar terumbu. Jenis ini adalah umum didapat dan memiliki sebaran tumbuh yang luas di perairan Indonesia.

Potensi:
Sistem rhizoid Caulerpa sertularioides membantu dalam akuisisi nutrisi dari sedimen. 

Sumber Pustaka:
-            Ismail Nur Hidayat.2011.Caulerpa sertulariodes
Diakses pada 5 Oktober 2011
-            University of Hawai`i Botany Department.2010.Caulerpa sertulariodes

Diakses pada 7 Oktober 2011
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates