Saturday, March 1, 2014

Yang Mengambang di antara Cahaya dan Kegelapan

“Kamu familiar. Bau darahmu familiar.”
“Aku sama sekali tidak mengenalmu.”
“Kamu tahu siapa aku, Putri.”
Judul : Aerial
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : Gramedia
Tahun terbit : 2009

Sadira si Putri Matahari dan Hassya sang Pangeran Kegelapan merupakan musuh bebuyutan dari dua negeri yang saling bertolak belakang; yang satu menjadikan matahari sebagai sumber hidupnya, satu lagi akan terbakar apabila terpapar langsung oleh sinarnya. Awalnya Sadira berpikir Klan Kegelapan adalah sekumpulan monster sampai tanpa sengaja ia diselamatkan oleh Hassya yang berkulit pucat, tampan, dingin, seenaknya sendiri, namun memiliki sorot mata yang jujur.

Menurut ramalan kuno, apabila mereka bersatu maka kedua bangsa tersebut akan menghadapi kehancuran. Namun Hassya bertekad akan melawan apa pun yang menghalangi mereka dan menjadi pelindung bagi Sadira.

Untuk mencegah kehancuran tersebut, Antya, adik Sadira, dan Linc, si kuda terbang putih, berusaha memanggil penolong dari dunia lain –Laskar dan Sashika, pelajar SMU Surya Ilmu- dunia yang hutannya tidak seindah di negeri mereka serta dipenuhi bangunan pencakar langit. Dunia yang akan mendukung cinta Sadira dan Hassya sepenuhnya.
**

Pada awalnya aku memilih buku ini untuk dibaca karena melihat nama penulisnya. Sitta Karina. Wah kayaknya nih nama familiar di dunia kepenulisan, kupikir. Meskipu sama sekali belum terbayang di otakku siapa sebenarnya dia. Ternyata benar dugaanku, dia orang “besar” di dunia literasi Indonesia, setidaknya dari yang kubaca di profil penulis di bagian belakang buku ini. Faktor lain yang membuatku tertarik untuk membaca buku ini adalah judulnya, Aerial -biologi banget. Kukira aku akan menemukan unsur semacam science fiction dalam buku ini.

Sedetik sebelum memulai membaca, aku baru menyadari keberadaan logo teenlit di sampul depannya. Setelah membaca halaman pertama, kesadaranku yang lain juga muncul. Novel ini termasuk genre fantasi. Dan perlu diketahui, aku jarang menyukai novel-novel semacam ini. Tapi ternyata aku tidak bisa berhenti membaca Aerial hingga halaman terakhirnya. Mungkin karena cerita fantasinya yang ringan –semacam dongeng, cocok untukku yang cenderung berpikir realistis.

Selain itu, kisah cinta antara Sadira dan Hassya adalah salah satu daya tarik sendiri. Seperti biasa, aku hanya akan tertarik membaca novel atau menonton film yang genrenya tidak aku sukai jika ada sisi romantismenya. Contohnya saja Tetralogi Twilight Saga dan Drama Vampire Diaries.

Novel ini secara garis besar menceritakan perjuangan beberapa tokoh utama untuk mewujudkan perdamaian antara dua klan yang saling bertikai, dua bangsa yang berasal dari Bangsa Viking dan Bangsa Atlantis. Bahkan sejak nenek moyang mereka sudah berperang, perang warisan seperti itulah. Pesan positif yang tersirat dari novel ini adalah jangan memandang perbedaan sebagai suatu alasan untuk berperang tetapi buatlah perbedaan menjadi warna, menjadi alasan untuk saling melengkapi.

Yang membuatku terpikat dengan novel ini adalah istilah-istilah asingnya, yang kuasumsikan dari Bahasa Yunani. Aku senang saja membacanya, aneh –tapi keren. Nama-nama tokohnya pun terdengar aneh –setidaknya di telingaku. Hassya, Sadira, Antya, Toireann, Isla, Nenna, Jedidah, Micchal, Blath, Kaien, Rhona, dan lain-lain.

Terdapat beberapa hal dalam novel ini yang membuatku salah fokus. Salah satunya adalah penggunaan kata resisten. Menurutku kemungkinan makna yang penulis maksudkan berbeda dengan makna kata seharusnya, yang memang sering kudengar dalam perkuliahan. Resisten artinya mampu bertahan setelah melawan. Seperti itulah kira-kira. Tapi lihatlah potongan kalimat berikut yang tertulis dalam novel. Bangsa kegelapan memiliki kulit serta sistem organ yang resisten terhadap sinar matahari. Padahal maksudnya, kulit dari Klan Kegelapan tidak tahan kena cahaya matahari, seperti vampire, mereka akan tersiksa, kesakitan, bahkan meleleh. Lihat lagi potongan kalimat (ganjil) yang lainnya. Sorot mata menakutkan yang membuat Laskar berhenti ngedumel walau masih resisten. Padahal maksudnya adalah si Laskar masih bertahan dengan pendapatnya yang menentang pendapat si lawan bicara yang mengeluarkan sorot mata menakutkan tersebut. Kurang pas saja kupikir kata resisten diletakkan pada kalimat yang kedua ini. Entah, apa aku yang salah mengartikan kata resisten selama ini atau proses pengeditan bukunya saja yang kurang jeli.

Salah fokusku yang lain adalah ketika aku terlalu senang berada di dunia dongeng. Ketika penulis tiba-tiba menghadirkan tokoh dari dunia nyata, Laskar dan Sashika, aku jadi tidak senang. Aku tidak menyukai latar belakang dunia nyata, dalam hal ini Kota Jakarta yang merupakan asal kedua tokoh tersebut. Beruntung tidak terlalu lama, mereka telah bertransisi ke negeri dongeng melewati Porta Ilusia, Pintu Ilusi.


Lalu apa itu Aerial? Aerial adalah kunci dari semua cerita, daratan yang mengambang di antara Negeri Cahaya dan Negeri Kegelapan.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates