Monday, March 17, 2014

Ragam Cerita di Dunia yang Renta


Judul : Red Jewel of Soul
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Zikrul Remaja
Tahun Terbit : 2006
Pada awalnya kukira Red Jewel of Soul ini adalah novel. Karena sama sekali tidak tertulis di sampul depan atau belakang termasuk jenis apa buku cerita fiksi ini. Aku masih mempertahankan anggapan tersebut hingga akhir cerita pertama. Memasuki cerita kedua, aku mulai ragu. Tapi masih percaya kalau buku ini novel, karena bisa saja terdapat setting waktu, tempat, dan tokoh yang berbeda dalam satu novel. Seperti novel-novel sekarang yang banyak menggunakan lintas setting –baik ruang mau pun waktu. Tambahan pula, akhir cerita pertama masih menggantung.

Nah, aku baru nyadar setelah membaca awal cerita ketiga. Ini kumpulan cerpen. Cerpen yang menjadi unggulan adalah Red Jewel of Soul. Cerita tentang kompetisi peragaan busana memperebutkan permata Mirah Berjiwa, Red Jewel of Soul. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa setiap wanita yang mengenakannya akan memancarkan cahaya jiwa yang luar biasa sehingga menjadi kiblat fashion dunia. Marie Antoinette, Josephine Napoleon, serta Bouilhete adalah pemilik-pemilik leher yang pernah mengenakan kalung tersebut. Adalah Vi –nama panggilan tokoh utama, yang berambisius memenangkan kompetisi ini. Apalagi setelah dipanas-panasi oleh Bang Harli, lelaki pemimpin korporasi model tempat ia bekerja. Bang Harli mengatakan bahwa saingan terberatnya adalah gadis tuan rumah bernama Namie Chou yang memiliki semua kriteria untuk menang. Akankah Vi melakukan segala cara untuk mendapatkan Red Jewel of Soul? Mirah yang kabarnya mampu “memakan” jiwa pemakainya.

Begitulah, ada hal-hal yang mulai berubah di dunia ini. Berubah ke arah yang lebih buruk terutama. Sebuah permata mampu membuat beberapa orang melupakan hitam-putih hukum Tuhan. Kebutuhan akan pengakuan, harta, dan kesenangan duniawi lainnya menjadi hal terpenting di atas segalanya. Di atas kebutuhan ruhani yang semakin sepi dan jauh dari-Nya. Selain dalam cerpen “Red Jewel of Soul”, tema senada juga menghiasi cerpen lain dalam buku ini. Seperti dalam “Akhir Jahanam” dan “Yang Tak Berubah”.

Dalam cerita yang lain, Sinta Yudisia juga menggambarkan betapa mudahnya anak manusia melupakan Tuhannya bahkan setelah diselamatkan dari proses pencabutan nyawa massal. Matahari sendiri menjadi saksinya. Cerita ini terdapat dalam cerpen “Turbulensi”. Membaca cerpen ini membuat aku merasa ngeri, karena ceritanya tentang kecelakaan pesawat. Kejadian yang sekarang ini ramai dibicarakan dunia, gara-gara jatuh dan hilangnya pesawat milik Malaysia tanggal 15 Maret lalu yang belum juga ditemukan.

Tema yang paling banyak melekat dalam kumcer ini adalah kemiskinan dan kukufuran. Seperti pada cerpen “Duit!”. Bahkan di pesantren pun tak lepas dari duit pikir Aji, tokoh utama dalam cerpen ini. Dalam cerpen “Naga dan Bidadari”, setting tempat yang digunakan penulis adalah Vietnam, yang notabene merupakan negara bekas jajahan perang. Betapa dalam cerpen ini digambarkan perang telah meluluhlantakkan segala yang baik. Kemiskinan menjadi efek utama yang membelit masyarakatnya. Menjadikan gadis-gadis di bawah umur mereka menjadi bidadari pemuas naga.

“Peri Baik Hati” bercerita tentang rasa malu yang diemban seorang anak karena kemiskinan yang menimpa keluarganya. Ia juga malu karena ibunya berbeda dengan orang tua teman-temannya yang lain. Kemiskinan yang sama juga dirasakan oleh tokoh dalam cerpen “Sekerat Cinta”. Kemiskinan yang membuat tokoh bersedia menjadi apa saja asal mendapatkan uang. Usaha menghalalkan segala cara ini juga terdapat dalam cerpen “Akhir Jahanam”. Namun pada cerpen yang terakhir, sang tokoh telah memiliki segala harta, tahta, dan wanita. Tapi tetap saja jiwanya tak tenang, ia ingin selalu lebih dan lebih.

Kemiskinan juga terkadang mampu menutup hati untuk melihat kemiskinan orang lain. Bahkan bisa saja kemiskinan dan penderitaan yang kita alami tidak apa-apanya dibandingkan yang orang lain rasakan. Misalnya saja para pengemis. Pesan ini tergambar kuat dalam cerpen “Pertemuan” dan “Yang Tak Berubah”. Selain itu, “Yang Tak Berubah” juga bercerita tentang segala yang berubah dan tetap selama sang tokoh meninggalkan kampung halaman. Segala yang fana akan berubah, segala yang hakikat akan tetap sama.

Tema yang agak berbeda dari semua cerpen di buku ini adalah cerita pertama. Berlatar abad XV, cerpen ini menceritakan sudut kecil dari peperangan tentara Turki dan Yunani dalam memperebutkan kekuasaan dan tanah untuk menyebarkan agama masing-masing.


Secara keseluruhan kumpulan cerpen ini sangat menggugah. Memaparkan aneka kejadian di zaman yang kini telah renta. Segala ketidakadilan yang terasa sangat mustahil, kini dengan mudahnya menjadi nyata di zaman duniawi ini.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates