Monday, March 31, 2014

Anthurium plowmanii

Klasifikasi
Regnum           : Plantae
Divisi               : Spermatophytha
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Alismatales
Famili              : Araceae
Genus              :Anthurium
Spesies            :Anthurium plowmanii
Deskripsi
Anthurium plowmanii atau biasa yang disebut dengan tanaman “gelombang cinta” (wave of love) merupakan salah satu tanaman dari kelas liliopsida. Tumbuhan ini mempunyai daun yang panjang (10-30 cm) dengan ujung meruncing. Susunan daun kompak dan tebal dengan tepi bergelombang. Permukaan hijau mengkilap dengan gurat daun jelas. Salah satu variannya 'fruffles' bergelombang kecil, rapat dan seragam dianggap lebih baik ketimbang yang bergelombang besar. Tumbuhan ini mempunyai seludang yang berwarna ungu. Di Indonesia disebut raffles.

Habitat
Anthurium plowmanii dapat ditemukan di mana-mana terutama pada media batang pepohonan yang telah membusuk atau tumbuh di pepohonan dan bersifat epifit. Tanaman Anthurium berkembang pesat di daerah yang beriklim tropis, seperti di sebagian Benua Amerika dan Benua Asia termasuk di Indonesia.

Potensi
Anthurium plowmanii banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Tanaman Anthurium termasuk jenis tanaman primadona di kalangan pecinta tanaman hias, karena Anthurium memiliki kesan yang mewah dan eklusif.

Sumber Pustaka
Plantamor.2008.Gelombang Cinta (Anthurium plowmanii).
          www.plantamor.com
          Diakses pada 18 November 2011
Prosea.2011.Spesies Anthurium.
          www.duniaflora.com
          Diakses pada 18 November 2011

Sunday, March 30, 2014

Wonderful Woman

Aku mengagumi nenek dari pihak ibuku. Bagiku, beliau pantas disebut patriot dalam keluargaku. Efek kepahlawanannya mungkin tidak langsung sampai padaku, tapi aku tahu kehebatannya merupakan salah satu alasan mengapa aku bisa merasakan kehangatan keluarga. Beliau sangat keren. Aku selalu terkaget-kaget dengan keluar-biasaannya, bahkan hingga di usiaku yang ke-22 ini. Aku tak berhenti mengaguminya.

Sebutan patriot yang kuselipkan bukan karena ia berjuang di medan perang atau melindungi negara dan keluarga dari bencana besar. Kata hebat juga bukan untuk menggambarkan bahwa ia bisa dalam segala hal. Kata keren yang kugunakan pun bukan untuk menunjukkan betapa modisnya ia di usia yang tak lagi muda, seperti penampilan oma-oma dalam sinetron. Luar biasa juga bukan kata yang kumaksudkan untuk menggambarkan betapa beliau memiliki banyak kelebihan dibandingkan wanita-wanita lain. 

Dari cerita yang kudengar dari mama, nenek menikah dengan kakek pada saat usianya 15 tahun. Pada saat itu seorang gadis dengan umur belasan memang sudah lumrah untuk menikah. Mungkin waktu itu sekitar tahun  1965an, mamaku anak pertama mereka yang lahir pada tahun 1970. Kakek sendiri berusia 5 tahun di atas nenek dan ia baru saja bercerai dari istri pertamanya. 

Kehidupan saat itu tidak bisa dibilang mudah. Seluruh negeri sedang bergelut dengan kemiskinan pasca perang. Sambil mengasuh mama dan adik-adik mama, nenek juga ikut bekerja untuk mendapatkan uang tambahan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Selain gigih mengurus rumah, anak, dan membantu mencari nafkah, nenek juga harus sabar dengan perangai kakek yang seringkali keras. Keputusan kakek tak bisa dibantah. Bagi nenek, kakek adalah imamnya yang terbaik sehingga tak ada sedikit pun niat untuk melawan. Ia sangat tabah dalam menghadapi sikap kakek tersebut. 

Nenek juga merupakan anak yang sangat berbakti bagi orang tuanya. Dia anak satu-satunya yang tinggal dekat dengan ibunya karena saudara-saudara yang lain tinggal jauh di rantau. Ayah nenek sudah lama meninggal, sehingga ibu nenek (aku memanggilnya datu) tinggal sendiri di rumah tua berjarak kurang lebih 1 km dari rumah nenek. Hampir setiap hari di sela kesibukannya, nenek menjenguk datu dan sering membawakan makanan. Hingga datu meninggal setahun lalu, nenek tak pernah absen menengok dan merawat datu.

Nenek juga seorang yang baik hati. Di seluruh kampung, ia terkenal sebagai orang yang ramah dan rendah hati. Jujur saja, aku bangga dengan status menjadi cucunya. Semoga kami cucu-cucunya bisa mewarisi sifat baiknya. Aamiin. 

Ia juga sangat sayang dengan cucu-cucunya. Perhatiannya tak pernah luntur pada setiap cucu meski terbagi untuk 12 orang. Bahkan pada cucu dari anak kakek pernikahan sebelumnya, ia tak membedakan besar kasih sayangnya. Anak-anak nenek, yang sekarang sudah berkeluarga kecuali tanteku yang terakhir, selalu ringan langkah untuk mengadukan masalah padanya. Karena kakek orang yang sangat keras, biasanya jika ada masalah mama dan adik-adiknya berbicara dengan nenek terlebih dahulu. Apabila mood kakek sedang bagus, maka nenek akan pelan-pelan bercerita. Bahkan hingga tua, nenekku tetap menjadi tumpuan yang nyaman bagi anak-anaknya


Sekarang, meski tidak dituntut oleh kebutuhan, nenek tetap bekerja. Seperti kebanyakan penduduk di desaku, beliau menyadap karet untuk dijual kepada pengepul karet. Membunuh sepi, mungkin itu yang menjadi alasan beliau. Karena sekarang ia hanya berdua di rumah besarnya dengan kakek. Beliau juga masih setia merawat kakek yang terkadang sakit-sakitan. 

Seiring bertambahnya usia, nenek sekarang sering lupa dan cerewet dalam segala hal. Beberapa cucu bahkan kakek terkadang meledeknya, dia tersenyum sebagai balasan. Mama dan tante-tanteku sering mengingatkan kami, jangan menertawakan nenek. Beliau berjuang keras dulu untuk kami. Sekarang saatnya kami membahagiakannya dengan menghormati beliau. Beliau adalah teladan hidup dari sebuah kerja keras tak kenal lelah.

Beliau menjadi patriot keluarga karena tanpa ketabahannya dan kasih sayangnya yang besar pada anak-anaknya di kehidupan yang begitu sulit, mungkin keluarga besar kami tidak sebahagia ini. Beliau hebat karena mampu mempertahankan keutuhan keluarga dengan sikap kakek yang menjengkelkan. Beliau keren karena sifat beliau yang low profile meski kini kesulitan tak menghampirinya lagi. Beliau luar biasa karena sikap beliau yang bersahaja dan baik hati pada semua orang.  Pokoknya nenekku adalah wonderful woman.
**


Saturday, March 29, 2014

Bagaimana Cara Menulis dengan Gembira?

Judul : Happy Writing
Penulis : Andrias Harefa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2010

Happy writing. Apa yang terlintas di kepalamu jika mendengar kata tersebut? Menulis dengan gembira artinya menulis tanpa terpaksa, menulis dengan sukacita. Bagaimana bisa? Bisa saja. Andrias Harefa, penulis buku ini, mengatakan begitu. Di dalam buku ini terdapat 50 chapter yang secara singkat mengulas bagaimana kita bisa menulis dengan asyik tanpa terpaksa.

Mulai dari definisi menulis, tips menulis, latihan menulis, strategi menulis, metode menulis hingga siasat menulis dibahas dalam buku ini. Semuanya sudah dipraktikkan sendiri oleh penulis. Bagian favoritku adalah chapter ke-43, yang membahas tentang Metode 12 Pas. Metode ini adalah metode menulis dengan jangka waktu 12 pekan untuk satu buku. Keren kan? Untuk mengaplikasikan metode ini harus ada 5 syarat yang harus dipenuhi, yaitu komitmen, disiplin untuk menulis minimal 30 menit sehari, menguasai 80% bahan yang akan ditulis, tebal buku 100-200 halaman, dan ada yang mengawasi (mentor). Mau mencoba? Penuhi syaratnya, insyaallah bisa.

Nama Andrias Harefa sendiri sudah lama aku dengar, sebagai motivator dan trainer. Tapi baru kali ini aku membaca bukunya. Buku yang kubaca ini adalah bukunya yang ke-38. Wow, kemana aja aku selama ini? Kok nggak pernah sama sekali menemukan (apalagi membaca) buku beliau yang katanya sebagian besar best seller tersebut. Oya, saat pertama kali mendengar nama Andrias Harefa aku salah asumsi kalau Andrias Harefa itu adalah Andrea Hirata, penulis novel tetralogi Laskar Pelangi. Mirip kan nama mereka? Jangan salahkan aku kalau salah duga. Hehe. 

Buku yang berjudul Happy Writing ini berisi catatan-catatan facebooknya. Setiap catatan mengulas hal-hal yang terkait dengan proses menulis dengan singkat. Menurutku untuk penulis buku-buku best seller sekelas beliau, catatan-catatan tersebut terlalu singkat. Bahkan pada beberapa tulisan hanya berisi kutipan dari buku-buku lain atau pendapat para ahli ditambah beberapa kalimat pembuka atau penutup. Menurutku, akan lebih baik lagi jika diulas lebih dalam oleh penulis seprofesional beliau. 

Di bawah setiap catatan, ditambahkan komentar-komentar dari pembaca. Sehingga membaca buku ini seperti membaca sebuah postingan catatan di facebook. Aku tidak tahu komentar-komentar tersebut apakah disunting atau tidak, dipilah atau tidak. Ada beberapa komentar yang menurutku tidak perlu dimasukkan. Layaknya komentar di dunia maya, ada yang bagus dan berisi, ada pula yang bagus tapi ringan tak berbobot (baca: tidak nyambung dengan tulisan yang dikomentari). Nah, yang terakhir ini menurutku sebaiknya tidak perlu dimasukkan. Masalahnya adalah halaman-halaman komentar ini sepertinya menghabiskan halaman lebih banyak dari isi tulisannya itu sendiri. Mungkin bisa diasumsikan bahwa setengah dari 284 halaman, yaitu total halaman buku ini adalah komentar pembaca.

Terlepas dari beberapa kekurangan tersebut, menurutku buku ini cukup membangun. Jenis buku seperti ini sangat cocok dibaca oleh penulis pemula sepertiku, untuk mempertahankan semangat menulis yang terkadang kembang-kempis.

Jadi, bagaimana caranya agar kita bisa menulis dengan gembira? Kamu harus membaca buku ini untuk menemukan jawabannya.

Friday, March 28, 2014

Textbook VS Novel

Postingan ini dalam rangka bosan menyusun proposal skripsi ^^

Tidak sampai satu jam, kepalaku sudah pening kalau memelototi barisan-barisan kalimat dalam textbook yang menjadi referensi proposal skripsiku. Mataku juga panas, berpindah-pindah menatap layar laptop dan halaman buku untuk mencocokkan data. Otakku apalagi, jalinan syarafnya mungkin mulai kusut gara-gara harus bermain dalam dua bahasa.


Berbalik 180 derajat, membaca novel membuatku menjadi happy girl. Terkadang bahkan menjelma menjadi expressive reader. Aku tertawa-tawa sendiri, bahkan menangis haru sesuai cerita dalam novel yang kubaca. Tak terasa jam malam berdentang 12 kali. Ya, hanya novel yang membuatku rela bergadang, mensubstitusi waktu tidurku dengan membaca novel.



Sama halnya dengan membaca, menulis 2 hal berbeda juga memunculkan 2 reaksi yang berbeda pada otak bawah sadarku. Jika saat menulis skripsi perasaan yang datang adalah muak campur mual hampir muntah, maka ketika aku menulis hal-hal lain yang aku senangi aku akan merasa damai, tenteram, dan sentosa (oke, ini hiperbola).

Bagaimana denganmu? Apakah ada yang mempunyai masalah terbalik denganku? Senang menulis skripsi tetapi kacau ketika disuruh menulis hal-hal yang lain. ^^

Wednesday, March 26, 2014

My Blog, My Heart


Judul : Nge-Blog dengan Hati
Penulis : Ndoro Kakung
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2009
Judul postingan kali ini mungkin agak lebay. Tapi setelah membaca isinya, kelebayan tersebut mungkin akan dapat dimaklumi. Di sini aku akan mereview sebuah buku berjudul Ngeblog dengan Hati. Buku ini ditulis oleh seseorang yang bernama alias Ndoro Kakung. Aku tidak kenal dia siapa. Tapi yang jelas, beliau ini adalah salah satu blogger terkenal di Indonesia. Dapat dilihat dari isi bukunya dan dari apa yang ditulis di kolom Tentang Penulis. Nama asli beliau adalah Wicaksono. Umurnya masih muda, masih seumuran bapak-bapak. Tapi entah kenapa nama penanya memperlihatkan bahwa dia seorang kakek-kakek.

Melalui Mat Bloger sebagai tokoh bayangan dalam buku ini, Ndoro Kakung menulis apa saja yang berkaitan dengan blog. Tulisan beliau ringan saja. Ya, buku dengan tebal 142 halaman ini sangat ringan dibaca dengan bahasa yang bagiku sangat halus karena penulis menggunakan kata ganti sampeyan ke pembaca.

Ada kutipan yang sangat kusuka dari buku ini yang juga terpampang di cover belakang buku ini. Mengisi blog bukan seperti ikut lomba lari jarak pendek; melejit begitu bendera start dikibaskan untuk berhenti segera dalam tempo singkat. Mengelola blog itu ibarat lari maraton, mungkin lebih jauh lagi. Begitu mulai, kita tak perlu bergegas. Atur kecepatan dan napas, juga irama. Perjalanan begitu panjang. Kita tak perlu buru-buru berhenti.

Dalem ya. Jlebb banget gitu. Sangat memotivasi bagi aku yang bangkit dari kubur kematian blog. Hihi. Buku ini sangat cocok dibaca oleh para blogger yang ingin berkomitmen sehidup semati dengan blognya. Karena ngeblog adalah urusan hati. *tsaah

Buku ini memang menekankan pentingnya mengisi blog dengan sepenuh hati. Tidak hanya asal copy-paste atau melakukan trik-trik yang membuat blog kita berada dalam peringkat yang tinggi dalam daftar mesin pencari. Buku ini lebih mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas. Seperti yang kukutip dari halaman 50 buku ini: Tugas kita adalah membuat para pengunjung datang lagi ke blog kita. Caranya adalah membuat content yang baik, gampang ditautkan, dan berkaitan dengan content lain. Bukan lantaran trik, taktik, atau akal-akalan semata.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara merawat blog yang berkualitas. Bukan dengan cara jalan pintas. Tapi dengan memperbaiki isi tulisan yang kita postingkan. Tulislah hal-hal yang ingin Anda bagikan dengan hati. Maka hal tersebut juga akan sampai ke hati. Jika ternyata banyak yang menyukai blog kita, maka pengunjung akan datang dengan rutin. Jika ada pihak yang berniat memasang iklan di blog kita, itu bonus.

Buku ini kukategorikan cukup lengkap membahas blog dengan pernak-perniknya. Mulai dari blogisme yaitu semangat untuk berekspresi melalui blog sampai prinsip mengambil dan membagi. Ya, aktivitas ngeblog adalah membagi (apapun) di dunia maya, bayaran yang pantas setelah kita mengambil (apapun) di internet. Cukup adil bukan?

Hal lain yang juga diselipkan dalam buku ini yaitu tentang kode etik dunia maya, termasuk di dalamnya kode etik isi blog. Hukum-hukum yang berkaitan dengan pelanggaran hak di dunia maya juga dibahas di buku ini. Pembahasan juga meluas ke ranah citizen journalism –yang juga blogger, yang ternyata meresahkan jurnalis-jurnalis formal. Menarik bukan?

Untuk lebih lengkapnya, sebaiknya Anda segera mencari buku ini dan membacanya. Selamat membaca!


Tuesday, March 25, 2014

The Golden Years

Ini cerita tentang sepupuku, yang begitu sangat-sangat menggemaskan. Lihat foto-fotonya, lucu kan? Bukan hanya wajahnya yang innocent, sikapnya –seperti kebanyakan batita- pun menggemaskan. Apa pun yang kami –keluarganya- ajarkan, ia bisa menangkap dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, biasanya ketika aku bertugas menemani dia, sembari mengajaknya bermain atau bicara aku menyelipkan beberapa unsur pendidikan –yang sesuai umurnya, dalam permainan atau pembicaraan kami. Kapan lagi waktu yang tepat mengajari seorang anak tanpa kemungkinan membangkang? Kalau tidak di usia emasnya sekarang, umur ketika seorang anak selalu memandang baik dan benar apa pun yang dia terima. Umur tersebut, menurutku sekitar 2 hingga 5 tahun, entah menurut para ahli. So, benar sekali ungkapan yang mengatakan bahwa seorang anak akan menjadi seperti apa lingkungannya.


Contohnya saja, ia kubiasakan menyanyikan lagu Bintang Kecil cs –lagu anak-anak yang mulai kehilangan popularitasnya semenjak lagu-lagu remaja dan orang dewasa bebas berkeliaran di ruang pendengaran anak-anak. Memprihatinkan. Kusediakan –bersama sepupu yang lain, video lagu anak-anak tersebut supaya ia senang melihat dan menyanyikannya. Di lain waktu kubelikan ia poster bergambar binatang-binatang yang ada tulisan nama bintangnya serta terjemahan versi englishnya, lalu kubelikan pula ia puzzle yang jika tersusun menjadi gambar dan nama-nama buah. Ketika ia ingin tidur kadang kudongengkan cerita dari majalah Bobo, atau bahkan jika ia mau kita membaca komik anak sambil rebahan –kalau yang ini, tentu saja dia hanya senang melihat gambarnya saja. Baru-baru ini sering ditayangkan iklan di layar kaca yang berisi anak-anak kecil yang menyanyikan lagu dalam lirik bahasa inggris secara bergantian. Dia suka, aku juga. Jadi ketika iklan sebuah produk susu bubuk anak-anak itu muncul di sela-sela acara yang kami tonton, langsung ia serius menyimaknya dan aku berusaha menuntunya mengikuti lirik lagu dalam iklan tersebut, lumayan buat pronouncenya, hehe. My First, My last, My Everything. And the answer to, all my dream. You're my sun, my moon, my guiding star. My kind of wonderful, that's what you are. My everything....

Akan tetapi, tak perlu rintangan dari luar, cobaan untuk kami dalam mengajari sepupu termuda dalam keluarga ini juga ada yang datang dari dalam lingkungan keluarga. Sebut saja sepupuku yang lain, baru kelas dua SD, sudah hafal lagu Iwak Peyek. Dia malah menularkan kehebatannya tersebut pada sepupu kami yang kecil itu. Jadilah sejak suatu hari sepupuku yang lucu, yang belum meniup lilin ketiganya, senang menyanyikan refrain lagu dari salah satu grup musik yang tidak kusuka tersebut. Oh my good. Waktu itu ia kutegur, “Jangan nyanyi lagu itu, Bintang Kecil aja”, ia geleng-geleng kepala tanda tak mau. Ah, perjuangan menuju kebaikan memang susah. Berkali-kali, berhari-hari kutegur setiap ia menyanyikan lagu itu, akhirnya dia menurut juga. Tapiii, kadang sikap isengnya muncul (kecil-kecil kok iseng?), kalau ada aku dia akan bersenandung, “iwa peye, iwa peye”. Tapi, kata mamanya kalau tak ada aku, ia tak melakukan itu. Dasar, dia memang ingin menggodaku. Sekarang lagu favoritnya adalah Burung Hantu, kalau dulu Bintang Kecil. Dengan otaknya yang kritis, ia pernah protes kenapa aku hanya membolehkan ia menyanyikan Bintang Kecil saja, waktu itu kujawab; boleh juga kok menyanyikan Pelangi-pelangi, Potong Bebek Angsa, Tik-tik Hujan, Naik-naik ke Puncak Gunung. Selain lagu-lagu itu, lagu yang lain susah. Ia diam kemudian. Suatu hari, mungkin ketika ia sudah menikmati tahun kelimanya di dunia aku bisa menjelaskan bahwa ada setiap tingkatan usia mempunyai dunia sendiri-sendiri, dan inilah dunianya sekarang dunia balita.



        Aku jadi berpikir, apa yang dilakukan ibu dan ayahku ketika aku berada dalam masa-masa emas tersebut?

Sunday, March 23, 2014

Kisah Seorang Petarung Sejati


Judul : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2012
Aku bisa menyebut novel ini memiliki genre thriller. Karena novel dengan latar waktu selama dua hari ini sangat penuh dengan aksi kejar-kejaran, tembak menembak, pukul memukul. Padahal secara umum, novel ini bercerita tentang dunia keuangan. Sistem ekonomi dunia dengan detail dijelaskan di sini, meskipun tetap saja aku kurang mengerti dengan istilah ekonomi yang banyak bertebaran di setiap halaman.

Diceritakan bahwa tokoh utama, seorang petarung yang merupakan konsultan keuangan. Ia baru saja tiba dari London, mengisi sebuah konferensi ekonomi ketika kejutan besar menantinya di tanah air. Sebuah bank besar hampir rubuh, pailit. Selain perannya sebagai konsultan keuangan ia juga berperan sebagai anggota keluarga yang memperjuangkan nasib keluarganya. Jadilah aksi 2x24 jam terangkum sempurna dalam 433 halaman.

Luar biasa. Itulah yang bisa kukatakan setelah selesai membaca novel ini. Bagaimana tidak, banyaknya istilah keuangan yang bertebaran seharusnya membuatku pusing dan segera membuatku memutuskan untuk menutup novel ini. Tetapi tidak, karena aku telah terbius plot cerita novel ini yang cocok sekali jika dijadikan film aksi.

Selingan cerita masa lalu juga menambah kesempurnaan novel ini. Dimana cerita-cerita tersebut akan membangun masa kini tokoh utama. Tak ada bagian cerita yang sia-sia ditulis oleh Tere Liye, semuanya menjadi pembangun keutuhan novel ini. Kekurangan dari novel ini menurutku hanya satu, sang tokoh selalu mujur. Mungkin karena ia seorang petarung.

Sepertinya aku tahu darimana ide cerita ini didapat. Kasus besar sebuah bank di Indonesia yang mencuat beberapa tahun yang lalu. Tapi jelas, novel ini bukan kisah nyata. Lha wong kasus bank besar tersebut belum tuntas diusut hingga sekarang.


Ada banyak pesan yang terselip dalam novel ini. Seperti biasa dalam setiap bukunya, Tere Liye menitipkan prinsip-prinsip yang diyakininya melalui karakter tokohnya. Dalam novel ini juga terlihat bagaimana keadaan Bangsa Indonesia sesungguhnya. Negeri ini dipenuhi oleh orang-orang bedebah. Namun yakinlah, bahwa setidaknya di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat.

My Lovely Dictionary



Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah kamus. Yup, kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia dan sebaliknya.Kamus ini dibelikan papaku saat aku masih SD (lupa kelas berapa). Bersama sebuah atlas, kamus ini menjadi koleksi buku pertamaku. Aku senang-senang saja. Meskipun waktu itu kamus belum diperlukan dalam kehidupanku. Maklum, SD zamanku dulu belum ada mata pelajaran Bahasa Inggris. 

Ternyata, bahkan hingga saat ini, saat aku semestar akhir kuliah S-1 kamus ini masih sering kubolak-balik untuk mencari arti kata asing. Meski aku juga sudah punya instalan kamus elektronik di laptop dan di hape, tapi fungsi kamus berukuran miniku ini tidak berkurang.

Karena usianya yang sudah tua dan aku sangat sering menggunakannya, akibatnya keadaan kamusku jadi mengenaskan. Persis novel-novel tua di rak rumah kosong. Sehingga pada awal masuk SMA, aku berinisiatif untuk menyampulinya dengan sampul yang eye catching. Tarra... akhirnya sebuah kertas kado berwarna pink bergambar hati mennyelimuti cover depan dan belakang kamusku, menghilangkan judulnya yang sangat bombastis. Kamus Lengkap 850.000.000 ^^

Kini seiring berjalannya waktu, meskipun sudah disampuli, tetap saja perubahan usia tak bisa ditutupi. Kamusku tetap kelihatan tua. Tapi tentu saja aku sangat menyayanginya, karena kamus ini adalah salah satu buku yang menemani perjalanan akademikku :)

Saturday, March 22, 2014

Give Away Tips Skripsi

Salam Blogger!

Hallo, semuanya. Aku mau bagi-bagi pulsa nih, khusus blogger. Mau? Ikuti syarat di bawah ya …
1. Punya akun blog
2. Memfollow blog ini
3. Mengomentari postingan ini dengan tips mengerjakan skripsi. Bisa tips menaklukkan dosen pembimbing         yang susah ditemui, tips sukses seminar skripsi, tips mempertahankan semangat skripsi, dll. Pokoknya            yang berhubungan dengan cara menaklukkan skripsi. Di bawah tips sertakan akun twitter ya.
4. Membagikan info ini di akun twitter dengan mention @Ryu_keren

Komentar kamu ditunggu hingga tanggal 15 Mei 2014. Pengumumannya satu minggu setelah deadline di kolom terakhir komentar postingan ini.

Ada hadiah untuk 4 orang yang memberikan tips terbaik (dan mengikuti persyaratan 1-4):
1 Orang Tips terbaik 1 : Pulsa senilai Rp. 50.000,-/orang
1 Orang Tips terbaik 2 : Pulsa senilai Rp. 25.000,-/orang
2 Orang Tips terbaik 3 : Pulsa senilai Rp. 10.000,-/orang

Yang kalah nanti, jangan kecewa. Karena aku akan memfollow balik halaman blog semua peserta ^^

Salam mahasiswa tingkat akhir!


Dengan Kamu, Duniaku Utuh Kembali …


Judul : Be Mine
Penulis : Sienta Sasika Novel,
Monica Anggen, Kezia Evi Wiadji
Penerbit : Cakrawala
Tahun terbit : 2014
Kumpulan novela dengan nuansa pink ini ditulis khusus untuk memperingati Hari Valentine tanggal 14 Februari lalu. Novela ini ditulis oleh tiga orang penulis fiksi cewek, yaitu Sienta Sasika Novel, Monica Anggen, dan Kezia Evi Wiadji. Masing-masing penulis “menyumbang” satu novelanya. Benang merah dari ketiga novela ini adalah hari kasih sayang yang digunakan sebagai salah satu setting waktunya. 

Pada novela pertama, ada sosok Bintang yang bersinar sangat terang. Juara kelas, tampan, cool, pokoknya semua yang diinginkan cewek ada di dia deh. Perfect banget yak? Tokoh utama dalam novel ini, Sienta -seperti nama penulisnya- adalah salah satu dari sekian cewek yang menggilai Bintang. Hingga pada suatu hari ia nekat menyatakan cintanya dan memberi Bintang sekotak coklat. Kira-kira Bintang bakal nerima Sienta nggak ya? Kenapa Sienta begitu nekat?

Selain Bintang dan Sienta, dalam novela yang berjudul In Love With You ini ada banyak tokoh lain yang ikut membangun cerita. Tokoh ketiga yang paling membuat Sienta merasa tersaingi adalah Kinan, cewek yang selalu berada di samping Bintang dalam akademik atau pun dalam kesempurnaan. Siapa yang akhirnya jatuh cinta pada siapa? 

Kamu harus membaca novela ini untuk mengetahui bahwa kegigihan dapat mengalahkan apa pun. Kamu juga bakal melihat pesan tersirat bahwa akademik adalah hal terpenting yang perlu dipikirkan oleh seorang pelajar. Sienta sebagai penulis sangat bagus dalam membuat kesimpulan tidak langsung tersebut. Apalagi dalam bab terakhir, semua belum berakhir. Kekurangan dari novela ini menurutku adalah ceritanya yang mudah ditebak, karena dunia remaja yang menjadi latar nuansa novela ini sudah sangat sering digarap oleh penulis-penulis fiksi remaja.

Novela kedua bercerita tentang perjalanan cinta dua mahasiswa. Dari perkenalan tidak sengaja, hubungan mereka semakin dekat. Meskipun kemudian tidak mudah untuk cepat mengumumkan bahwa mereka saling mencintai, ada halangan yang sulit ditembus. Lebih tepatnya mereka tak ingin menembus halangan tersbeut. Karena ini menyangkut perasaan seseorang yang mempertemukan mereka. 

Sebuah buku cerita anak-anak kemudian mengurai cerita mereka yang ternyata sudah terjalin sejak lama. Selain romantis, novela Tink for Peter (Pan) yang ditulis oleh Monica ini juga lucu. Pesan tersiratnya juga bagus, yaitu bahwa dunia tidak hanya dihuni oleh orang-orang yang sempurna secara fisik saja. Banyak juga orang-orang yang kurang oke secara fisik namun lebih menyenangkan daripada orang yang memiliki kelebihan fisik. Kekurangan dari novela ini menurutku adalah lemahnya tokoh ketiga. Jika saja karakter tokoh ketiga diperkuat lagi, tidak mudah menyerah untuk melepaskan orang yang ia sayangi, niscaya novela ini akan lebih “menggigit” lagi.

Novela yang menjadi favoritku adalah Second Love yang ditulis oleh Kezia. Tidak seperti cerita cinta dalam dua novela sebelumnya –bahkan dalam cerita teenlit penulis fiksi kebanyakan, Second Love menghadirkan kisah cinta yang serius. Bukan cerita cinta ala remaja, anak SMA, atau pun kuliahan. Tapi cerita tentang orang-orang dewasa yang masing-masing telah memiliki satu anak! Nah lho?

Meskipun usia tokoh utama tidak lagi remaja. Namun suasana romantis tidak kalah kuatnya meliputi cerita ini. Emosi yang naik turun dalam novela ini menunjukkan pada kita bahwa cinta tidak kenal usia. Asmara akan membuat seorang dewasa pun bertingkah layaknya ABG labil. One’s first love is always perfect, until one’s meets second love (Elizabeth Aston).

Sangat sulit untuk menemukan kekurangan dalam novela ini. Namun menurutku ada hal kecil yang dilupakan penulis ketika masuk ke tengah-tengah cerita. Kehadiran anak-anak kedua tokoh utama tidak lagi diceritakan. Seakan-akan anak-anak hanyalah alasan mereka bertemu dan bersenang-senang, namun ketika masuk ke konflik cerita mengenai masing-masing anak hilang bahkan hingga akhir cerita. Oya, selain itu proses jatuh cinta keduanya sangat cepat menurutku. Hari pertama bertemu, malamnya sudah bergetar-getar. Besoknya ketemuan lagi, belanja bareng, makan malam pula. Mungkin yang penulis maksudkan di sini adalah love at  the first sight.

Terlepas dari sedikit kekurangan dalam novela-novela ini, percayalah ketiga ceritanya sangat manis. Mampu membuatku kembali menyusuri sudut-sudut merah jambu dalam kehidupanku di masa lalu (eaaa). Bagi yang menginginkan cerita ringan tentang cinta cocok sekali membaca ketiga novela ini. Dijamin, tak akan berhenti hingga halaman 234, halaman terakhir. Be Mine. Jadilah milikku, maka duniaku akan utuh selamanya.


Friday, March 21, 2014

Siapa yang Bersabar akan Beruntung

Judul: Ranah 3 Warna
Penulis: Ahmad Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011
Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam Bahasa Arab dan Inggris.
Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai ke Amerika.

Dengan semangat menggelegak dia pulang kampung ke Maninjau dan tak sabar ingin segera kuliah. Namun kawan karibnya, Randai, meragukan Alif mampu lulus UMPTN. Lalu dia sadar, ada satu hal penting yang dia tidak punya. Ijazah SMA. Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tanpa ijazah?

Terinspirasi semangat tim dinamit Denmark, dia mendobrak rintangan berat. Baru saja dia tersenyum, badai lain menggempurnya silih berganti tanpa ampun. Alif letih dan mulai bertanya-tanya: “sampai kapan aku harus teguh bersabar menghadapi semua cobaan hidup ini?” Hampir saja dia menyerah.

Rupanya “mantra” man jadda wajada saja tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup.  Alif teringat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Berbekal kedua mantra itu dia songsong badai hidup satu persatu. Bisakah dia memenangkan semua impiannya?

Ke mana nasib membawa Alif? Apa saja 3 ranah berbeda warna itu? Siapakah Raisa? Bagaimana persaingannya dengan Randai? Apa kabar Sahibul Menara? Kenapa sampai muncul Obelix, orang indian, Michael Jordan, dan Kesatria Berpantun? Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

Ranah 3 warna adalah hikayat tentang bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan, walau hidup digelung nestapa tak berkesudahan, Tuhan sungguh bersama orang yang beruntung.
**

Benar sekali kata back cover synopsis tersebut, novel Ranah 3 Warna adalah sebuah hikayat. Sebuah perjalanan panjang anak manusia. Menjelajah 3 ranah, sedikit dari bagian bumi yang luas ini.

Kali ini aku akan lebih banyak membahas tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel ini. Tokoh-tokoh yang secara tidak langsung menginspirasiku.

Bang Togar. Kenapa tokoh ini tidak disebutkan dalam back cover synopsis ya? Padahal menurutku tokoh ini sangat berperan penting dalam kehidupan Alif. Guru menulis Alif yang sangat keras dan galak. Mampukah alif bertahan dengan cara didikan Bang Togar? Aku jadi membayangkan punya mentor menulis seperti Bang Togar, keras tapi menghasilkan.

Rusdi. Inilah nama teman alif yang digelari Ksatria Berpantun. Pada setiap kesempatan yang memungkinkan, dia akan berpantun. Pantun spontan. Asli Kalimantan, bagian selatan pula. Provinsi asalku. Jadi aku tahu persis gambaran Alif tentang Rusdi, khas orang banjar. Entah apakah ini benar atau tidak, sepertinya kebiasaan menekuk-nekukkan jari hingga berbunyi hanya dimiliki oleh orang Banjar. Seperti kebiasaan Rusdi yang membuat teman-teman Alif dari berbagai daerah ngeri melihatnya. Aku juga sering menekuk-nekukkan jari hingga mengeluarkan jari dalam kondisi tertentu.

Banyak tingkah laku Rusdi –yang notabene anak kampung, yang membuatku tertawa-tawa membaca novel ini. Ketika diolok oleh temannya tentang ke”katro”annya tersebut, ia menjawab dengan pantun.
Ikan tenggiri masuk ke kubu
Dimakan kering di atas kereta
Mari anak negeri saling bersatu
Bukan saling hina saling cela
Seketika, teman tersebut diam demi mendengar pantun Rusdi. Aku terkesan dengan isi pantun tersebut.

Randai.  Ya ampun sepertinya nama ini akan terus muncul bahkan hingga novel ketiga trilogi ini. Ya, Randai bagi Alif adalah kawan sekaligus lawan. Seseorang yang menjengkalkan namun secara tidak langsung yang juga menyemangatinya untuk selalu maju. Dengan caranya sendiri, Randai membuat Alif seperti sekarang. Ketika kehadiran gadis bernama Raisa misalnya, hubungan Alif semakin panas dengan Randai. Ya, mereka tidak hanya bersaing dalam bidang akademik ternyata, tetapi juga masalah cinta. Jadi siapakah yang beruntung mendapatkan Raisa, si gadis berkilau?

Menilik hubungan Alif dan Randai aku jadi senyum-senyum sendiri. Karena aku juga merasa memiliki hubungan ini dengan seorang teman. Entah teman tersebut merasakannya atau tidak. Bersaing secara sehat. Hingga sekarang persaingan tetap berjalan meskipun arah dan tujuan kami mulai jauh berbeda antara satu sam lain.

Seperti pada novel sebelumnya, “mimpi” tetap menjadi tonggak utama dalam pesan cerita. Jangan takut bermimpi. Kali ini Randai menambahkan man shabara zhafira dalam rumus hidupnya. Ia yakin bahwa keberuntungan akan menghampiri orang-orang yang sabar, setelah bersungguh-sungguh dalam usaha. Seperti yang tersurat dalam “mantra” man jadda wajada. Diceritakan dalam novel ini, kehidupan Alif sangat keras. Hidupnya benar-benar terlibat susah, mulai dari kehilangan seseorang yang ia cintai, kekurangan uang untuk kuliah, kerja banting tulang, dirampok, dan lain-lain. Namun pada akhirnya, keberuntungan tetap menyertainya.


Intinya, novel ini benar-benar pas dibaca oleh orang yang menginginkan motivasi melalui cerita di tengah kehidupan yang tak pernah sepi rintangan ini. Selamat membaca!

Monday, March 17, 2014

Nyampah di Timeline/Beranda, Kok Bisa Ya?

Beberapa waktu yang lalu aku membaca status seorang teman di facebook. Isinya mengarah ke "penembakan", pernyataan rasa suka ke seseorang. Sebelumnya teman ini memang sering bikin status galau tentang perasaannya. 

Terganggu sih tidak. Tapi merasa kasihan saja. Bagiku yang introvert ini, buka-bukaan masalah hati di media sosial itu pelanggaran berat. Bikin malu sendiri. Bolehlah bikin status galau dikit. Tapi juga bikin kata-katanya yang ambigu dan hanya dipahami oleh beberapa orang terdekat. Memang, manusia itu hidup sebagai makhluk sosial. Tak bisa lepas dari kebutuhan akan orang lain. Kebutuhan ingin didengarkan salah satunya. Tapi bercerita pada seluruh dunia, menurutku juga tak tepat. Hanya akan menambah masalah.

infinfo-dunia-maya666.blogspot.com
Teringat tweet seseorang yang isinya kurang lebih begini. Buanglah sampah pada tempatnya, jangan di timeline. Hehe. Kalau di twitter, halamanku lebih aman. Karena aku bisa memilih hanya untuk mengikuti akun yang benar-benar kuyakini dapat memberi informasi yang bermanfaat. Beda dengan halaman facebookku. di berandaku lewat berseliweran hal-hal yang sebaiknya disimpan sendiri. Foto baru ganti picture profil, update foto tiap habis makan, update status tiap habis ketemu gebetan, update status tentang hal-hal biasa yang sama sekali tak bersifat memorial. Bukannya sirik. Sama sekali bukan. Tapi kasihan mata aja. Melihat nama yang itu-itu saja muncul di beranda. Mau menghapus pertemanan juga nggak enak, karena terkadang penting juga untuk hubungan pertemanan di dunia nyata. Kalau yang kelewatan, barulah kublock.

Kalau aku sayang dengan orangnya biasanya kuperingatkan. Itu pun ada yang menerima, ada yang tidak. Bisa pula malah merajuk. Tak apa, yang jelas aku sudah mewakili perasaanku. Bahkan mungkin juga beberapa perasaaan orang lain yang menjadi temannya di facebook. Kalau kurang peduli, atau memang tidak terlalu dekat. Ini yang susah. Mau mengingatkan takut dibilang sok. Jadi untuk sementara abaikan saja. Dan yang lebih penting adalah untuk menjaga diri sendiri untuk tidak nyampah di timeline atau beranda orang lain.

Salam Damai ^^

Ragam Cerita di Dunia yang Renta


Judul : Red Jewel of Soul
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Zikrul Remaja
Tahun Terbit : 2006
Pada awalnya kukira Red Jewel of Soul ini adalah novel. Karena sama sekali tidak tertulis di sampul depan atau belakang termasuk jenis apa buku cerita fiksi ini. Aku masih mempertahankan anggapan tersebut hingga akhir cerita pertama. Memasuki cerita kedua, aku mulai ragu. Tapi masih percaya kalau buku ini novel, karena bisa saja terdapat setting waktu, tempat, dan tokoh yang berbeda dalam satu novel. Seperti novel-novel sekarang yang banyak menggunakan lintas setting –baik ruang mau pun waktu. Tambahan pula, akhir cerita pertama masih menggantung.

Nah, aku baru nyadar setelah membaca awal cerita ketiga. Ini kumpulan cerpen. Cerpen yang menjadi unggulan adalah Red Jewel of Soul. Cerita tentang kompetisi peragaan busana memperebutkan permata Mirah Berjiwa, Red Jewel of Soul. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa setiap wanita yang mengenakannya akan memancarkan cahaya jiwa yang luar biasa sehingga menjadi kiblat fashion dunia. Marie Antoinette, Josephine Napoleon, serta Bouilhete adalah pemilik-pemilik leher yang pernah mengenakan kalung tersebut. Adalah Vi –nama panggilan tokoh utama, yang berambisius memenangkan kompetisi ini. Apalagi setelah dipanas-panasi oleh Bang Harli, lelaki pemimpin korporasi model tempat ia bekerja. Bang Harli mengatakan bahwa saingan terberatnya adalah gadis tuan rumah bernama Namie Chou yang memiliki semua kriteria untuk menang. Akankah Vi melakukan segala cara untuk mendapatkan Red Jewel of Soul? Mirah yang kabarnya mampu “memakan” jiwa pemakainya.

Begitulah, ada hal-hal yang mulai berubah di dunia ini. Berubah ke arah yang lebih buruk terutama. Sebuah permata mampu membuat beberapa orang melupakan hitam-putih hukum Tuhan. Kebutuhan akan pengakuan, harta, dan kesenangan duniawi lainnya menjadi hal terpenting di atas segalanya. Di atas kebutuhan ruhani yang semakin sepi dan jauh dari-Nya. Selain dalam cerpen “Red Jewel of Soul”, tema senada juga menghiasi cerpen lain dalam buku ini. Seperti dalam “Akhir Jahanam” dan “Yang Tak Berubah”.

Dalam cerita yang lain, Sinta Yudisia juga menggambarkan betapa mudahnya anak manusia melupakan Tuhannya bahkan setelah diselamatkan dari proses pencabutan nyawa massal. Matahari sendiri menjadi saksinya. Cerita ini terdapat dalam cerpen “Turbulensi”. Membaca cerpen ini membuat aku merasa ngeri, karena ceritanya tentang kecelakaan pesawat. Kejadian yang sekarang ini ramai dibicarakan dunia, gara-gara jatuh dan hilangnya pesawat milik Malaysia tanggal 15 Maret lalu yang belum juga ditemukan.

Tema yang paling banyak melekat dalam kumcer ini adalah kemiskinan dan kukufuran. Seperti pada cerpen “Duit!”. Bahkan di pesantren pun tak lepas dari duit pikir Aji, tokoh utama dalam cerpen ini. Dalam cerpen “Naga dan Bidadari”, setting tempat yang digunakan penulis adalah Vietnam, yang notabene merupakan negara bekas jajahan perang. Betapa dalam cerpen ini digambarkan perang telah meluluhlantakkan segala yang baik. Kemiskinan menjadi efek utama yang membelit masyarakatnya. Menjadikan gadis-gadis di bawah umur mereka menjadi bidadari pemuas naga.

“Peri Baik Hati” bercerita tentang rasa malu yang diemban seorang anak karena kemiskinan yang menimpa keluarganya. Ia juga malu karena ibunya berbeda dengan orang tua teman-temannya yang lain. Kemiskinan yang sama juga dirasakan oleh tokoh dalam cerpen “Sekerat Cinta”. Kemiskinan yang membuat tokoh bersedia menjadi apa saja asal mendapatkan uang. Usaha menghalalkan segala cara ini juga terdapat dalam cerpen “Akhir Jahanam”. Namun pada cerpen yang terakhir, sang tokoh telah memiliki segala harta, tahta, dan wanita. Tapi tetap saja jiwanya tak tenang, ia ingin selalu lebih dan lebih.

Kemiskinan juga terkadang mampu menutup hati untuk melihat kemiskinan orang lain. Bahkan bisa saja kemiskinan dan penderitaan yang kita alami tidak apa-apanya dibandingkan yang orang lain rasakan. Misalnya saja para pengemis. Pesan ini tergambar kuat dalam cerpen “Pertemuan” dan “Yang Tak Berubah”. Selain itu, “Yang Tak Berubah” juga bercerita tentang segala yang berubah dan tetap selama sang tokoh meninggalkan kampung halaman. Segala yang fana akan berubah, segala yang hakikat akan tetap sama.

Tema yang agak berbeda dari semua cerpen di buku ini adalah cerita pertama. Berlatar abad XV, cerpen ini menceritakan sudut kecil dari peperangan tentara Turki dan Yunani dalam memperebutkan kekuasaan dan tanah untuk menyebarkan agama masing-masing.


Secara keseluruhan kumpulan cerpen ini sangat menggugah. Memaparkan aneka kejadian di zaman yang kini telah renta. Segala ketidakadilan yang terasa sangat mustahil, kini dengan mudahnya menjadi nyata di zaman duniawi ini.

Sunday, March 16, 2014

Mimpi Teraneh

Ada banyak mimpi aneh mampir dalam dunia tidurku. tapi dari semua mimpi yang aneh. Mimpi ini menurutku mimpi teraneh yang pernah mendatangiku.

Tiba-tiba saja aku berada dalam belahan dunia yang lain dalam mimpi tersebut. Aku berada di Mekah untuk menjalankan ibadah haji. Alhamdulillah banget ya seharusnya. Tapi yang membuat aneh adalah aku bersama sahabat-sahabatku. Lengkap, kami berempat. Belum menemukan point anehnya? Sini kuberi tahu, dua dari sahabatku adalah noni.

goodhousekeeping.com

Yah mau kukatakan bagaimana lagi. Mimpi ini memang aneh. Bahkan mereka juga memakai pakaian untuk berhaji. Keanehan kedua, dalam mimpi tersebut kami berbicara dalam Bahasa Inggris. Keren kan? Tapi tetap saja aneh, karena tempatnya di Timur Tengah. Kalau pakai Bahasa Arab mungkin level anehnya sedikit berkurang. =D

Entah pertanda apa atau hanya bunga tidur, tapi aku tetap ingat mimpi itu. Biasaya setelah aku bermimpi -aneh atau tidak, aku akan segera lupa dalam hitungan maksimal sepuluh menit setelah membuka mata.

Saturday, March 15, 2014

Sebuah Cerita tentang Rasa


Judul: Hati Memilih
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Bukune
Tahun terbit: 2011
Open your heart to unexpected love

Sebaris lirik lagu Anggun yang selalu terngiang di telinga Hazri dalam renungan panjangnya tentang hidup yang sedang ia dijalani. Tentu bukan karena iseng Tuhan mempertemukannya dengan Icha, yang membuatnya kembali merasakan rasa yang tak biasa pada perempuan. Meski pada kenyataannya, hubungan Hazri dengan Icha adalah sebuah hubungan yang aneh dan tak lazim, hubungan yang terikat oleh seorang bocah perempuan bernama Camelia.

Awalnya, Camelia adalah alasan Hazri menemui Icha. Namun ketika matahari semakin sering berganti, Camelia bukan satu-satunya lagi alasan. Ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa yang tak terduga.

“Kamu setuju dengan Anggun?”
“Maksudmu?”
“Benarkah kita bisa membuka hati pada cinta yang nggak terduga?”
“Kenapa enggak? Cinta bukan sesuatu yang bisa lahir dari rencana. Justru cinta yang kemudian menjadi alasan bagi manusia untuk menyusun berbagai rencana. Rencana untuk menikah, punya anak, mengubah penampilan, berperilaku lebih baik, dan sebagainya. Semua itu baru bisa bergerak dengan antusias saat cinta yang menjadi akar sebabnya”

Hati Memilih merupakan sebuah novel yang mengharu-biru, dilengkapi dengan nuansa merah jambu, meskipun cover bukunya hijau muda –warna favoritku. Yup, beragam warna ada dalam novel ini. Warna kehidupan. Ada kesedihan, kebahagiaan, kebimbangan, kesalahan, ketidak-percayaan, dan segala kata benda yang mewakili kehidupan nyata.

Novel ini menyajikan kisah cinta dengan cara yang berbeda. Berbeda pada setting masalahnya, yang menjadi inti cerita. Jujur saja, perasaan sentimentalku tersentuh saat membaca novel ini. Aku seperti merasakan kebimbangan Icha tentang sosok Hazri yang misterius, namun menyita perhatiannya. Kompleksitas masalah juga membuat novel ini keren. Riawani Elyta dengan cermat membangun konflik dengan latar belakang keluarga dan menyimpulkan cerita –tentang rasa, pada dua orang tokoh utama.

Beberapa hal yang menjadi kunci cerita ini juga tersimpan baik hingga akhir cerita. Membuat novel ini sempurna ketika aku membacanya hingga halaman 258, halaman terakhir. Jadi bagaimana ending dari novel ini? Hazrikah yang dipilih oleh Icha dari sekian banyak pilihan? Lalu siapa Camelia? Bagaimana hubungan segitiga antara Icha, Hazri, dan Camelia? Kamu hanya bisa mengetahuinya dengan emosi yang sempurna saat membaca keseluruhan novel ini.

Pesan yang ingin disampaikan novel ini menurutku sederhana. Sesederhana hidup itu sendiri, seharusnya. Bahwa kesalahan yang seseorang lakukan akan membuat orang-orang lain di sekitarnya ikut menderita. Penderitaan yang mempunyai efek domino, takkan berhenti hingga kartu terakhir juga ikut rubuh. Karena itu, kesalahan sama sekali tak patut kita mulai. Jika terlanjur, segeralah berbalik arah kembali menuju-Nya.

Friday, March 14, 2014

Tentang Pinjam-Meminjam

Meminjam itu bisa lebih berbahaya daripada meminta. Begitu kita meminta, apa pun objeknya, pasti telah diputuskan untuk diberikan oleh yang punya. Semua terang benderang. Ada ijab dan kabul. Ada yang ikhlas memberi dan ada yang ikhlas menerima. Tapi ketika sesuatu dalam status dipinjam, tidak ada kata putus di sana. Mungkin selalu ada benih konflik yang ikut tertanam bersama meminjam. Dia bisa beracun dan laten.

Itu yang tertulis di halaman 172 novel Ranah 3 Warna. Aku sendiri biasanya mengalami masalah dalam hal pinjam-meminjam buku. Lebih sering aku berada di posisi sebagai pihak yang bukunya dipinjam. Yang jadi masalah, si peminjam ada yang lupa mengembalikan sehingga ketika dia mengembalikan aku sudah lupa kalau punya buku itu. Masalah yang lain seiring dengan lamanya waktu pengembalian buku, kualitas morfologi bukuku juga menurun. Ini yang biasanya membuatku berang. Meminjam lama masih kumaafkan asal dikembalikan dan selama dipinjam bukuku membawa manfaat. Tapi kalau sudah menyangkut “keselamatan” bukuku, aku sama sekali tidak toleransi.

Untuk menghindari masalah-masalah tersebut, kini aku membuat daftar peminjam buku. Lengkap dengan tanggal pinjamnya. Jika sudah lama, satu bulan misalnya, aku akan dengan sedikit tega bertanya apakah bukuku sudah selesai dibaca. Kalau sudah, aku minta dikembalikan. Selain daftar peminjam buku, aku juga membuat daftar tidak tertulis tentang orang-orang yang cenderung melupakan pinjaman mereka atau membahayakan keselamatan bukuku. Setidaknya jika aku mengetahui bukuku berada di tangan orang yang terpercaya, aku akan merasa sedikit lega meski berapa pun lamanya. Mengimbangi hal ini, aku pun juga bersikap sama dengan buku-buku orang lain yang kupinjam. Persis kuperlakukan seperti milikku sendiri.

Sebenarnya metode mencatat barang pinjaman tersebut bisa dilakukan untuk semua barang, tidak hanya sebatas buku. Bahkan meskipun barangnya sepele, seharusnya tetap dicatat. Bagaimanapun, akad yang terlisan saat pemindah-tanganan barang adalah meminjam bukan meminta atau memberi. Tapi karena barang-barang berhargaku yang sering dipinjam adalah buku jadi hingga sekarang aku baru mempraktikkannya untuk peminjaman buku.

http://naldzgraphics.net/

Selain barang, yang tak kalah pentingnya untuk dicatat adalah peminjaman uang atau lebih kerennya disebut utang. Baik kita sebagai pengutang ataupun pemberi utang, seberapa pun kecilnya, kita tetap harus mencatat jumlah, nama peminjam, beserta tanggal pinjam. Karena sekali lagi tidak ada akad serah-terima kepemilikan dalam meminjam. Jika suatu hari kita ingin membayar tapi orangnya sudah merelakan utang kita, urusan kita sudah selesai. Karena pernah kudengar bahwa urusan utang ini dapat menghalangi seseorang masuk surga.

Selain urusan akhirat, dampak lain dari proses peminjaman tidak sehat adalah berkurangnya kepercayaan orang lain kepada kita. Kepercayaan bukan hal yang murah lho di zaman sekarang. Mungkin saja suatu saat di masa depan ketidakpercayaan mereka itu menghalangi kita mendapatkan kesempatan besar. Rugi banget kan?

Jadi yuk, mari bersama-sama kita menjadi peminjam yang baik mulai dari sekarang.

Yuk Berwisata Murah ke Dua Pulau Paling Terkenal di Indonesia


Judul: Wisata Murah Bali Lombok
Penulis: Nyoman Surya
Penerbit: Kata Buku
Tahun terbit: 2009
Siapa bilang kalo liburan ke Bali atawa Lombok pasti bikin kangker alias kantong kerontang? Itu cuma mitos. Asalkan tahu cara dan trik-triknya, kita bisa dapet harga ala backpacker yang hemat bin ajaib! Dalam buku ini kamu akan dipandu step-by-step buat menikmati setiap tempat wisata di Bali dan Lombok. Mau langsung jalan-jalan ke Kuta lihat sunset sambil mantengin bule pada berjemur? Trus menikmati makan malam di Pantai Jjimbaran yang terkenal seafoodnya? Tenang, bisa dapet yang sesuai kocek kok! Buat yang suka petualangan kamu bisa main banana boat dan flying fish di Tanjung Benoa. Jangan lupa juga belanja pernak-pernik khas Bali sepuasnya ke Pasar Sokawati, ada tips buat dapet harga cling (murah)!

Lebih tertarik ke Lombok? Semua tentang Lombok dikupas abis di buku ini. Mau ke Pantai Senggigi yang berpasir putih? Atau mendaki Gunung Rinjani ala jejak petualang? Atau ke pasar tradisional Lombok? Semuanya bisa kamu jelajahi dengan mudah dan biaya yang dijamin hemat tapi tetep asyik!
**

Motivasiku membeli dan membaca buku ini apalagi kalau bukan karena hobi travellingku. Yup! Buku ini layak dijadikan buku panduan wisata bagi yang mau jalan-jalan hemat ke dua pulau paling terkenal di Indonesia, Bali dan Lombok. Setiap tahunnya banyak turis yang berdatangan ke dua pulau tersebut. Lombok dipilih sebagai destinasi kedua karena terlalu banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali sehingga bagi yang mencari suasana tenang dalam liburannya kurang tepat jika bepergian ke Bali. Selain itu, keindahan alam di Lombok juga tidak kalah dengan di Pulau Dewata. Apalagi pemandangan di tiga gugusan pulau kecil (gili) paling terkenal di Lombok yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Sekali lagi buku ini sangat cocok menjadi buku panduan wisata karena pada setiap lokasi wisata terdapat keterangan jam buka, harga tiket masuk, jenis-jenis souvenir yang bisa dibeli di tempat wisata tersebut, dan alamat lengkapnya disertai denah lokasi dari pusat kota. Hal tersebut sangat membantu kita dalam membuat itinerary, baik waktu maupun dana selama berwisata. Selain itu bagi yang hobi wisata kuliner, buku ini juga menyajikan bahasan khusus tentang makanan khas Pulau Bali dan Pulau Lombok. Buku ini dilengkapi pula dengan daftar hotel dan harga per malamnya, serta alamat biro wisata di Bali. Lengkap banget kan?

Aku sendiri sangat ngebet pengen ke Bali (lagi) karena ingin mencoba seawalker, berjalan di dasar laut Pantai Sanur. Pasti keren. Cocok sekali bagi orang yang tidak pandai berenang tapi ingin menikmati keindahan bawah laut seperti aku =D. Selain itu aku juga ingin menonton pertunjukkan Tari Barong di Batubulan. Kalau di Lombok, tentu saja aku ingin menjajal puncak Rinjani yang tersohor itu.

Jadi tunggu apalagi, bagi pencinta travelling, buku ini patut menjadi koleksi. Ada 35 tempat wisata di Pulau Bali dan 27 spot rekreasi di Pulau Lombok yang dibahas dalam buku setebal 220 halaman ini. Tinggal pilih mau mengunjungi yang mana. Atau mau mengunjungi semuanya, terserah Anda ^^.

Berhentilah Menjadi Pengecut!


Judul: Wandu
Penulis: Tasaro
Penerbit: Zikrul Hakim
Tahun terbit: 2005
Novel ini merupakan pemenang pertama Sayembara Novel FLP 2005. Meski tanpa tulisan itu pun di pojok sampulnya, aku tetap tertarik membaca karena ada nama Tasaro sebagai penulisnya. Seperti yang tertera di profil buku, novel ini terbit sudah cukup lama –tahun 2005.  Tapi aku baru melirik novel ini karena baru saja mendengar gaung nama Tasaro sebagai penulis novel yang cukup fenomenal, Lelaki Penggenggam Hujan –sebuah novel dengan tokoh Nabi Muhammad SAW. Nama Tasaro sendiri baru kuketahui adalah akronim dari nama lengkapnya, Taufiq Saptoto Rohadi.

Novel yang berjudul Wandu (Berhentilah Menjai Pengecut!) ini sangat renyah dan ringan, meskipun ada beberapa tema yang dibahas sama sekali tidak ringan. Kalaupun Poe mengatakan bahwa cerpen adalah cerita yang dapat dibaca sekali duduk, niscaya dalam pandanganku novel ini lebih cocok disebut cerpen. Karena aku sama sekali tak ingin beranjak dari tempatku membaca setelah membaca halaman pertama. Pertama, diksi yang tersusun apik bertebaran di seluruh helai novel ini. Kedua, ada bagian dari inti cerita yang masih menjadi misteri bahkan hingga bagian akhir.

Kata “wandu” sendiri tidak terdapat satu pun dalam isi novel ini. Aku baru mengetahuinya setelah membaca sinopsis di cover belakang buku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sama sekali tak perlu membaca sinopsis untuk mengetahui kualitas novel ini. Karena sudah terjawab dengan nama Tasaro sebagai penulis. Sebelumnya kupikir wandu itu adalah nama seorang tokoh kunci dalam novel ini, yang baru dalam bab ke 5 baru keluar namanya. Aku kecele, karena kemudian menemukan tokoh tersebut tidak bernama wandu,.

Kekurangan yang bisa kukatakan sebagai pembaca adalah kunci cerita ini tidak dibuka hingga tuntas. Ada beberapa bagian yang menggantung. Jika tidak merupakan inti cerita, tak apalah menurutku bagian tersebut tidak dipaparkan hingga akhir. Sedangkan bagian ini, bagian yang membuatku rela begadang menamatkan novel setebal 223 halaman. Bagian yang menjadi pokok cerita, meskipun masa lalu –tapi bagian inilah yang disebut benang merah menurutku. Benang yang menyimpulkan semua tokoh dan karakter, benang kejadian yang memperlihatkan bagaimana pengecutnya seseorang berhati wandu.

Dibalik kekurangan tersebut, novel ini memiliki banyak kelebihan. Selain dua alasanku di atas, novel ini memiliki kelebihan lain yaitu mulai dari beragamnya tema, banyaknya pesan yang disisipkan, hingga kepiawaian penulis menyatukan kisah lima orang tokoh utama dalam satu jalinan cerita tanpa melupakan detail masing-masing tokoh. Tema dan pesan yang paling utama dalam novel ini adalah tentang persahabatan dan kepengecutan. Tema-tema turunannya sangat banyak untuk ukuran satu novel, meliputi pengkhianatan, kelainan seksual, idealisme, sastra bahkan hingga nasionalisme. Sekali lagi, novel ini memang layak diacungi jempol.

Thursday, March 13, 2014

Hati Memilih









Wednesday, March 12, 2014

Secret Talk

Jarang-jarang aku dan seorang teman sequality-time saat itu. Saat kami membicarakan tentang tema yang agak sensitif. Tentang cinta. Entah dari mana mulainya. Aku bilang bahwa satu-satunya konsep tentang cinta yang kupercaya saat ini adalah bahwa cinta itu adalah perasaan yang diputuskan. Sedangkan kata temanku, cinta adalah saat kita menemukan orang yang mampu membuat kita berusaha sempurna untuk dia. Kalau menurut qouteku benar, kukatakan padanya kalau aku telah jatuh cinta dengan memutuskan perasaanku untuk seseorang. Tapi jika teorinya yang tepat, aku belum pernah jatuh cinta hingga saat ini. Karena rasa cinta belum pernah mengubahku menjadi bukan aku. Kalau pun aku berusaha menyempurnakan diri, itu bukan untuk orang lain tapi untuk diriku sendiri. Whatever about self oriented or egosentris =D. Temanku sendiri pun belum juga katanya.

bamruno.blogdetik.com

Diskusi iseng kemudian merembet ke masalah orang yang belum menikah, meskipun dari segi umur sudah tiba. Pembicaraan aneh ini bersumber dari mata kuliah Toksikologi Lingkungan, saat itu kami mendengar dosen kami menjelaskan tentang cara remediasi lahan tercemar logam berat berupa radikal bebas. Caranya, radikal bebas tersebut tidak diremove (karena belum ditemukan cara untuk menghilangkannya) tapi dibuat pasangannya agar ia melekat dan berhenti mencemari lingkungan. Nah, aku dan temanku menganalogikan orang yang belum menikah tapi sudah waktunya ini seperti radikal bebas. Karena orang-orang ini “mencemari lingkungan” dengan sifat mereka yang moody sehingga orang-orang terdekatlah yang kena imbasnya. Kami tergelak beberapa saat ketika menyebut contoh. Jahatnya kami. Ckck. Keluar dari zona subjektif, aku pun berkata pada temanku bahwa kami melupakan hak prerogatif Tuhan dalam hal ini. Dimana hanya Tuhanlah yang tahu kapan waktu yang tepat bagi seseorang untuk menikah. Bijaksana tidak, aku? Hehe

Tuesday, March 11, 2014

Gak Tau Ngeblog… Halah!

Judul : Bloggermania!
Penulis : Pipiet Senja dan Adzimattinur Siregar
Penerbit : Zikrul Hakim
Tahun terbit : 2008

“Hari gini… gak tahu ngeblog? Halaaah… gaptek amat!” demikian komentar Butet waktu ditawari kolaborasi menulis buku tentang blog. Pas dia survei, bukan di kalangan kampus, ternyata masih banyak juga yang belum paham apa itu ngeblog. 

Bagi Pipiet Senja dan Adzimattinur Siregar, ngeblog sudah menjadi makanan sehari-hari, kebutuhan yang tak mungkin dihindari. Sebagai penulis, ibu dan anak ini, memandang perlu media online untuk menampung tulisan-tulisan, buah karya mereka di dunia maya. Demi menjawab tantangan zaman yang memasuki era globalisasi.

Inilah buku tentang blog yang ditulis oleh ibu dan anak sesama bloggermania. Berisi berbagai hal, mulai dari cara ngeblog yang smart dan santun, curhatan, pemikiran, ide kreatif, sampai kiat-kiat menembus SPMB dan 1001 alasan ngeblog.

**

Alasan terbesarku membaca buku ini adalah karena temanya tentang blog. Aku yang baru bangun dari mati suri di dunia per-blog-an tentu merasa perlu untuk membaca buku ini. Meskipun sudah melihat tahun terbit buku ini, 2008 –yang notabene blog waktu itu masih merupakan media sosial online yang populer. Sekarang 2014, blog pasti sudah jauh terlibas oleh facebook, twitter, instagram, bbm, dkk.

Setelah aku membaca buku duet ortu-anak ini. Ya ampun, isinya random banget. Tidak hanya soal blog yang ditulis di sini. Tapi juga tentang berbagai catatan harian kegiatan mereka. Meluber kemana-mana. Membacanya, membuatku seperti masuk ke kehidupan mereka. Aku tidak terlalu terkejut dengan latar belakang keluarga dalam cerita mereka, karena sebelumnya sudah membaca buku Haekal, kakak Adzimattinur a.k.a Butet yang bertema nikah muda. Mereka keluarga penulis, salah satu dari sekian banyak inspiratorku.

Mengenai isi curhatan kedua penulis ini di blog, aku terkesan dengan catatan Pipiet Senja. Mengenai neo-komunisme yang ternyata beliau mengalami atau setidaknya melihat secara langsung kegiatan kaum kiri ini. Tidak ditulis di sana tahun berapa tulisan tersebut ditulis, tapi aku membayangkan betapa ngerinya seandainya anak-pinak PKI tersebut masih berkembang di Indonesia hingga saat ini. Sedangkan dari blog Butet aku merasa tertohok sekali membaca catatannya yang berjudul Baybay Einsten. Bayangkan ada anak IPA yang rela ikut bimbel IPS demi masuk FH daripada FK. Buat aku yang termindset bahwa jurusan IPA lebih keren daripada jurusan IPS,  itu nohok banget ^^

Point terpenting dari buku ini adalah pesan yang secara tidak langsung disampaikan oleh penulis, yaitu bahwa menulis blog itus sangat menyenangkan. Ditulis dengan bahasa yang mengalir dan gaul, buku ini membuat pembaca tidak merasa telah membaca sebuah buku. Sekali lagi, seperti membaca catatan harian. Pada beberapa halaman juga designnya menyerupai tampilan blog. Jadi menurutku buku ini memang sangat cocok dibaca oleh orang yang berniat menjadi bloggger sejati –seperti aku. #tsaah


Jadi yuk ngeblog! Karena ngeblog itu menyenangkan J
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates