Saturday, September 7, 2013

Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena III

Tulisan ini merupakan sedikit oleh-oleh bagi teman-teman FLP Banjarbaru yang tidak berkesempatan hadir langsung dalam rangkaian acara MUNAS 3 FLP di Bali, 29 Agustus – 1 September 2013. Anggap saja kalian sedang membaca laporan sebuah acara ^^

Sebelumnya, bagi yang belum tahu FLP itu apa akan saya jelaskan sedikit. Forum Lingkar Pena (FLP) adalah organisasi kepenulisan di Indonesia yang mempunyai 3 pilar utama yakni organisasi, dakwah serta menulis itu sendiri. Motto FLP adalah Berbakti, Berkarya, Berarti. Keren kan? Nah, musyawarah nasional (MUNAS) adalah salah satu agenda 4 tahunan FLP dimana dalam acara tersebut terjadi pergantian dewan penasihat, ketua umum, dan badan pengurus pusat (BPP) FLP. Setelah munas tahun 2009 lalu, kali ini munas FLP dilaksanakan di Pulau Bali dengan tema “Quo Vadis Penulis di Era Digital”.

Kalimantan Selatan mengirimkan enam orang delegasinya, yaitu Bapak Khairani mewakili FLP wilayah Kalimantan Selatan sekaligus jaringan wilayah Kalimantan, Kak Saprudi juga mewakili FLP wilayah Kalimantan Selatan (beliau sendiri adalah ketuanya), Kak Ervina Rahiem mewakili FLP cabang Banjarmasin, saya sendiri mewakili FLP cabang Banjarbaru dan dua akhwat lainnya mewakili FLP cabang Barabai yaitu Kak Satiah dan Norliani.

Kamis, 29 Agustus 2013
Jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 22.00 WITA, delegasi wilayah Kalimantan Selatan (selain Pak Khairani dan Kak Saprudi) baru saja tiba di ruang meeting Hotel Grand Villas dimana diadakan acara Sarasehan antar Delegasi. Sedangkan acara tersebut dimulai sejak jam 8 malam. Alhasil, baru sebentar duduk. Acara sudah ditutup. Hikz. Keterlambatan kita disebabkan karena kelamaan transit  di Bandara Juanda Surabaya. Lima jam! Jangan tanya, ngapain aja kami selama itu. Mati bosan, lumayan.

Perut kami masih lapar. Sedangkan konsumsi yang disediakan oleh panitia sudah habis. Sedihnya. Beruntung, kakak-kakak panitia paham sekali. Berempat, kami diajak ke warung yang agak jauh dari hotel nyari makan. Alhamdulillah, dapat warungnya.

Selesai makan. Balik ke kamar. Go to bed, time for sleep.

Jum’at, 30 Agustus 2013
Pagi-pagi, kita sudah harus kumpul di ruang makan untuk breakfast. Wah senangnya bisa duduk satu meja dengan mbak Sinta Yudisia, sosok penulis yang selama ini saya kenal hanya lewat novelnya. Ternyata beliau ramah sekali.

Sarapan bersama Mbak Sinta Yudisia

Selesai makan kita langsung ke lobi sembari nunggu bus. Kita akan ke hotel Grand Shanti, tempat acara pembukaan dilaksanakan. Sampai di hotel tersebut, kita langsung masuk. Delegasi kalsel langsung masuk ruangan, duduk di barisan depan.



Acara pembukaan dimulai dengan tarian khas bali, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu disambung dengan sambutan dari ketua umum FLP mbak Setiawati Intan Savitri (a.k.a Izzatul Jannah). Sambutan kemudian berturut-turut disampaikan oleh Staf Ahli Kemenkoinfo, Bapak A. Mabruri dan Staf Ahli Pemerintah Bali, Bapak Ida Bagus Gumara. Pak Ida Bagus yang mewakili Pemerintah Daerah Bali ini secara resmi membuka acara MUNAS 3 FLP dengan pemukulan gong sebanyak 3 kali.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertema “Quo Vadis Penulis Era Digital”. Secara umum seminar ini membicarakan era teknologi yang kian maju sekarang ini dan bagaimana  para penulis menyikapinya dengan mengikuti arus teknologi media tetapi tetap produktif berkarya. Seminar ini dipandu oleh moderator M. Irfan Hidayatullah, atau biasa yang dipanggil Kang Irfan. Beliau adalah Ketua Umum FLP periode 2005-2009 dan merupakan salah satu Dewan Pertimbangan FLP periode 2009-2013. Ada empat orang pembicara dalam seminar ini. Yang pertama adalah Bapak Hari, perwakilan dari Direktur Telkom Indonesia. PT. Telkom Indonesia saat ini menawarkan aplikasi Q-Baca (www.qbaca.com) untuk para penulis FLP. Dimana dengan menggunakan aplikasi tersebut, penulis bisa mengupload tulisannya dengan mencantumkan harga jual atau bisa juga gratis.


Pembicara yang kedua adalah ibu Oka Rusmini. Beliau adalah salah seorang sastrawati bali yang buku-bukunya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ciri khas novel beliau adalah sarat unsur budayanya, sehingga menarik pembaca dari seluruh dunia. Beliau memberikan pesan kepada seluruh penulis FLP, jangan pedulikan hirarki. Teruslah menulis, jika tulisan kita dibaca dan bagus, maka dunia yang akan mencari kita. Pembicara yang ketiga adalah Habiburrahman El-Shirazy (a.k.a Kang Abik), penampilan penulis yang juga ustadz ini sudah ditunggu-tunggu peserta sejak awal seminar. Satu poin penting yang beliau tekankan adalah bahwa penulis FLP jangan terpancing dengan ketidakindahan suasana yang sekarang melanda Indonesa, tetaplah menulis yang indah, yang mencerahkan.

Pembicara yang terakhir ada Pak A. Mabruri perwakilan Kemeninfo. Bagi yang belum kenal dengan beliau, beliau adalah pemimpin redaksi majalah Annida yang pertama. Jadi beliau juga mempunyai basic literasi. Tapi beliau mengaku tidak bisa menulis. Hihi. Dalam paparannya beliau mengatakan bahwa saat ini Kemenkominfo sedang mengembangkan teknologi TV Digital untuk menggantikan TV Analog yang kita pakai sekarang. Dimana dalam TV digital ini ada banyak sekali stasiun televisi yang bermunculan. Peluang yang sangat besar bagi para penulis untuk ikut nimbrung dalam dunia pertelevisian. Merasa dong sekarang gimana bikin gerahnya sinetron-sinetron Indonesia. Salah satu yang menyebabkannya adalah naskah skenario mereka yang memang tidak berkualitas. Dengan backing para penulis FLP yang ideologis, insyaallah tayangan-tayangan TV Indonesia ke depannya akan menjadi lebih berkualitas. Aamiin. Bahkan, beliau menawarkan kalau memungkinkan mengapa FLP tidak membuka stasiun televisi sendiri saja? Wuihh, tawaran yang menggiurkan. Bisa dicoba ^^. Ketika acara selesai, mulai deh aksi norak peserta layaknya ketemu artis. Minta foto bareng dengan para penulis-penulis tingkat nasional =D.

Bersama Bunda Helvy Tiana Rossa

Agenda selanjutnya dipindahkan ke Hotel Grand Villas lagi. Selesai ishoma, acara dilanjutkan dengan agenda pembahasan tata tertib sidang. Delegasi Kalsel boleh berbangga karena salah satu delegasi Kalsel, yaitu Pak Khairani terpilih menjadi Pimpinan Sidang I. Sedangkan Pimpinan Sidang II adalah pak Aliman dari wilayah NTB dan Pimpinan Sidang III adalah Ibu Umi Kulsum dari wilayah Jawa Timur. Setelah pembahasan tata tertib sidang selesai, langsung dilanjutkan dengan Sidang Pleno I yaitu Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum 2009-2013. Sebelumnya mbak Intan juga memperkenalkan anggota Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP periode 2009-2013. Ada banyak sekali pertanyaan dari peserta sidang dan ini memakan waktu hingga agenda selanjutnya. Bahkan laporan pertanggungjawaban belum bisa diputuskan diterima atau tidak sehingga dipending dulu. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno II yaitu Laporan Kerja dari Dewan Pertimbangan. Dewan pertimbangan yang terdiri dari mbak Maimoon Herawati (a.k.a Muthmainnah), kang Irfan, kang Abik, dan mas Gola Gong ini menjelaskan apa saja yang mereka kerjakan selama 4 tahun jabatan mereka. Ketika azan maghrib tiba, ishoma dulu.

Setelah ishoma sidang Pleno I yang belum selesai dilanjutkan. Alhamdulillah, LPJ diterima namun dengan beberapa syarat perbaikan. Akhirnya, mbak Intan bisa bernafas lega. Sidang kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi. Ada tiga komisi, yaitu komisi A yang membahas AD/ART, komisi B membahas Kaderisasi dan komisi C yang membahas Dana Usaha. Saya dan kak Satiah masuk dalam komisi C. Ternyata komisi ini paling cepat selesainya, jam 11 malam aku sudah bisa tidur. Yeaay. Besoknya saya baru tahu, kalau kak Ervina yang ikut komisi A baru jam 2 dinihari masuk ke kamar. Ckck.



Sabtu, 31 Agustus 2013
Pagi datang, mata para peserta Munas masih banyak yang merah, ngantuk. Apalagi komisi A =D. Setelah sarapan pagi, acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno III, yaitu pembahasan sidang komisi A. Panjaaaaaaaaaaang sekali pembahasannya. Teman-teman yang tidak ikut Munas beruntung bisa langsung “menikmati” AD/ART secara utuh. Tidak banyak perubahan sebenarnya, tapi namanya berdiskusi tentu memakan waktu. Jadwal udah mulai molor dari jadwal semula. Sidang pleno komisi A memakan waktu hingga azan maghrib. Selanjutnya Sidang Pleno IV dan V dilakukan setelah makan malam. Komisi B dipimpin oleh Mbak Sinta Yudisia dan Komisi C dipimpin Mbak Afifah Afra dan Mas Adam Muhammad/Luthfi Hakim (itu lho, operator FLP Bisa!). Sidang pleno kali ini membahas tentang Kaderisasi dan Dana Usaha, dua divisi yang wajib ada di FLP tiap wilayah/cabang.

Karena saya masuk di komisi Dana Usaha, jadi disini akan sedikit saya ceritakan kesimpulan dari sidang komisi Divisi Dana Usaha. Jadi setelah munas ini dan terbentuknya kepengurusan BPP yang baru. FLP akan mendirikan PT dan koperasi, dananya didapat dari seluruh anggota FLP di Indonesia. Caranya dengan me”nol”kan seluruh anggota dan mengadakan  registrasi ulang tanpa kecuali. Registrasinya melewati web pusat FLP, dengan biaya 100.000 per anggota pertahun. Setengah dari uang tersebut, yakni 50.000 akan dimasukkan ke koperasi, 10.000 untuk pusat, 10.000 untuk wilayah dan 30.000 untuk cabang. Jadi setiap ada Munas atau acara apa pun, harapannya kita tidak lagi membayar untuk penyelenggaraannya namun bahkan dapat dividen (bagian) dari keuntungan PT atau koperasi yang dikelola FLP. Ketua umum yang baru terpilih otomatis akan menjadi Komisaris Utama. Wuihh. Selain itu, poin penting dari hasil sidang komisi C adalah penyakralan logo FLP. Jadi logo FLP tidak boleh diutak-atik (diubah-ubah bentuk atau ditambah dengan tulisan cabang/wilayah), karena logo ini akan segera dipatenkan dengan hak cipta FLP. Juga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pihak yang akan mencantumkan logo ini dalam sampul buku, merchandise, dll.

Acara selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yakni pemilihan Dewan Pertimbangan dan Ketua Umum periode 2013-2017. Dari hasil musyawarah dan voting didapatkan nama-nama Dewan Pertimbangan, yaitu Gola Gong dan Habiburrahman El-Shirazy. Selain itu Dewan Pertimbangan juga terdiri atas pendiri FLP, yakni Mbak Helvy Tiana Rossa, Mbak Asma Nadia dan Mbak Maimoon Herawati. Mantan ketua umum juga otomatis menjadi anggota Dewan Pertimbangan, sehingga ada tambahan 2 orang lagi yakni Kang Irfan dan Mbak Intan.

Calon-calon Ketua Umum
Sedangkan calon-calon ketua umum adalah Kang Abik, Mas Yanuardi Syukur, Mbak Intan dan Mbak Sinta. Subhanallah, ketika voting dilaksanakan perolehan nilai Mbak Sinta dan Kang Abik hanya selisih 3 poin. Namun karena diantara keduanya tidak ada yang lebih dari  50% dari total suara maka sesuai AD/ART harus voting dilakukan putaran kedua. Tapi setelah musyawarah yang alot, maka diputuskan cara lobi antar kedua calon sajalah yang memutuskan yang mana diantara mereka yang berhak dan merasa mampu untuk memegang FLP 4 tahun ke depan. Akhirnya, Mbak Sinta didaulat untuk menjadi ketua umum. Sedangkan Kang Abik, beliau tetap menjadi bagian dari FLP karena merupakan salah satu dari Dewan Pertimbangan. Setelah itu dilakukan sambutan perdana dari ketua umum yang baru. Mbak sinta berpesan mari kita saling mendo’akan semoga beban yang sedang diamanahkan kepadanya menjadi terasa ringan karena do’a-do’a seluruh anggota FLP. Aamiin.

Penyerahan jabatan secara simbolis ke Mbak Sinta Yudisia
sebagai Ketua Umum FLP 
Acara terakhir malam itu adalah pembacaan rekomendasi dan ringkasan hasil Munas. Pada pembacaan tentang divisi kaderisasi ada kejadian yang cukup mengejutkan lho. Pak Alimin, Presidium Sidang II, jatuh tertelungkup di depan. Saking lelahnya beliau, masya allah. Acara kemudian dilanjutkan, setelah Pak Alimin dibawa ke kamar beliau. Oya, setelah itu ada musyawarah sebentar mengenai tempat munas 4 tahun berikutnya. Ada 10 tempat yang ditunjuk sebagai calon tuan rumah munas tahun 2017, antara lain yaitu Bandung, Bontang, Pontianak dan Palembang.

Minggu, 1 September 2013
Subuh-subuh kita sudah keluar kamar. Ngumpul di lobi dan jalan kaki ke Pantai Jerman, Kuta Bali. Subhanallah, sejuk sekali menikmati pagi di Pulau Dewata dengan berjalan kaki. Apalagi setelah sampai di tempat tujuan, kita disambut oleh deburan ombak dan hamparan pasir pantai yang luas. Sesi narsis dulu, pemotretan =D.

Delegasi FLP Kalimantan Selatan
Acara kemudian dilanjutkan. Ada beberapa games dari panitia. Sebelumnya kita disuruh berdiri melingkar. Games yang paling seru itu adalah Games Jurmal (jujur itu mahal). Jadi setiap peserta disuruh suit dengan peserta lain, siapa pun yang menang boleh suit lagi dengan peserta lain yang juga menang. Ada banyak sekali yang menang sampai akhir. Tetapi ternyata, yang mendapatkan doorprize adalah yang jujur mengaku kalah =D. Selain itu, ada semacam salam kode dari panitia ke peserta. “Are you ready?”, peserta harus jawab “Ready”. Nah, readynya ini yang dimedok-medokin jadi logat jawa sehingga yang terdengar adalah reddi’ :D.

Acara utama kita di pantai ini adalah menulis serempak, dengan menggunakan gadget apapun lewat akun twitter. Setiap penulis harus menyuarakan Suara Penulis Indonesia (SPI) di akunnya masing-masing dengan memention pak Presiden @SBYudhoyono tagar #SPIMUNAS3FLP. Tiga topik tulisan yang bisa ditulis adalah advokasi penulis Indonesia, apresiasi penulis dari pemerintah dan simpati untuk Mesir. Keren deh!


Pulang dari pantai, setelah membersihkan diri dan sarapan, acara dilanjutkan lagi. Kali ini acaranya adalah Seminar Internal yang dipandu oleh Bang Yons Achmad. Pembicaranya kali ini adalah Kang Irfan, Mas Gola Gong, Mbak Intan, Mbak Helvy, dan Mbak Sinta. Mas Gola Gong menyemangati para peserta untuk selalu berkarya dengan gayanya yang gokil. Kang Irfan keren, beliau tidak berbicara tapi menyanyi dengan lagu ciptaan sendiri. Dibantu seorang peserta yang jago big box, beliau menghidupkan suasana di lobi Hotel Grand Villas. Isi lagunya juga menyemangati para anggota FLP untuk terus berkarya. Setelah itu berturut-turut mbak Intan, mbak Helvy dan mbak Sinta berbicara tentang harapan untuk FLP ke depannya.

Setelah itu ada sambutan dari Kholidi Assadil Alam yang juga hadir saat itu. Kakak yang akrab dipanggil Odi ini didaulat Mbak Helvy untuk menjadi ikon FLP. Wah, saya senang sekali katanya meski tanpa fee. Gurunya Odi, kang Abik juga memberikan sambutan. Semoga FLP membawa berkah kata beliau. Aamiin. Oya, ada sesi hiburan juga dari Benny Arnas, penulis dari Lubuk Linggau Sumatera Selatan ini membawakan puisinya tentang rindu. Keren.

Acara terakhir adalah pemberian Anugerah Pena, award high class di kalangan penulis FLP. Berikut hasil pengumuman Anugerah Pena:
1. Penulis Terpuji: Afifah Afra Amatullah
2. Kumpulan Cerpen Terpuji: Bulan Celurit Api (oleh Benny Arnas)
3. Buku Non-Fiksi Terpuji: Terapi Kejujuran (oleh Yanuardi Syukur)
4. Novel Terpuji: Takhta Awan (oleh Sinta Yudisia)
5. Penulis Pendatang Baru Terpuji: Mashdar Zainal (dari FLP Cabang Malang)
6. Kumpulan Puisi Terpuji: Rembulan pun Melapuk di Reranting Perak (oleh Syukur A. Mihran)
7. Wilayah Terpuji: FLP Wilayah Jambi
8. Cabang Terpuji: FLP Cabang Depok

Mas Benny Arnas menerima Award dalam kategori Kumpulan Cerpen Terpuji

Juri Anugerah Pena adalah dari Dewan Pertimbangan dan seorang mbak-mbak Indonesia yang udah Doktor di Jerman, mbak Eva N. Nisa. Oya, sebelumnya sudah diumumkan anggota BPP yang baru. Ayo, kita ucapkan selamat sekali lagi kepada Pak Khairani. Kali ini beliau “diangkat” menjadi Ketua Harian II BPP yang mengurusi masalah kaderisasi. Wilayah Kalsel dimajuin FLPnya ya pak, hehe.

Bersama Teh Imun
Acara selesai. Sembari nunggu-nunggu banyak sekali teman-teman yang antri foto dengan Odi. Mas yang berperan sebagai Azzam di film Ketika Cinta Bertasbihnya Kang Abik ini memang ramah sekali. Tapi aku tidak ikut-ikut berebut saat itu, karena selain sudah waktu di belakang sebelum acara (itu pun secara tidak sengaja dan rame-rame), aku tak punya interest terhadap foto dengan orang terkenal. Paling ngebet waktu munas itu aku pengen foto bareng dengan mbak Maimoon (Muthmainnah), karena waktu remaja (sekarang masih kok =D) aku terinspirasi dengan serial Pingkan yang nongol di majalah Annida. Alhamdulillah kemaren sempat foto dengan beliau dan bukunya yang juga ditandatangi beliau.

Waktunya terbang. Kita ke bandara Ngurah Rai yang gedung baru. Panas banget sumpah. Gejala panas dalam pula, dibawa tidur sambil menghabiskan waktu delay rasanya percuma saja. Gak enak. Di Juanda juga gitu. Lagi-lagi delay. But, finally welcome to Banjarmasin J.




0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates