Tuesday, December 31, 2013

Menemukanmu


Kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana kita akan menemukan cinta sejati kita.
***

Sembari memasukkan beberapa barangnya ke dalam koper biru mudanya, Rena memegang telepon dan sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana.
“Iya, lagi packing ini”
“Tidak lah, tapi bener juga sih ini kali pertama aku tinggal jauh dari mama, hihi”
“Janji, aku pasti tak kan lupa”
Bye
Akhirnya, telepon yang sudah mulai panas karena dipakai untuk berbicara setengah jam penuh itu dimatikan.
“Dari siapa, Ren”, tanya mama Rena yang tiba-tiba sudah muncul di depan kamarnya.
“Dari Acha Ma, dia kaget banget waktu kuberitahu aku akan ke Samarinda”
Mama Rena terdiam sebentar, lalu berkata, “Ren, jujur mama agak khawatir melepas kamu sendirian ke sana”
“Mama, aku sudah 24 tahun. Aku bisa jaga diri kok”, Rena menenangkan mamanya dan melempar senyum
“Andai saja ada seorang lelaki meminangmu sekarang, pasti Mama akan langsung terima agar ada yang menemani dan menjagamu di sana”
Rena terhenti sesaat dari pekerjaannya, “Mungkin belum waktunya Rena menikah, Ma. Mama tenang aja, jodoh pasti datang pada saat yang tepat”, dia mulai sok menggurui.
Mamanya hanya bisa tersenyum kecil.
“Lagian di sana ada Ekka, teman Rena S1 dulu. Tante Ima juga di sana, kalau lagi merasa kesepian pasti deh Rena bakal berkunjung ke rumah beliau. Wira, anaknya Tante Ima juga pasti bakal senang menemani Rena jalan-jalan di sana”
Mamanya sedikit lega, beliau kemudian membantu menyelesaikan packingnya Rena.
***

Kekhawatiran mamanya sebenarnya dapat dimengerti oleh Rena. Selama ini ia tak pernah sekali pun tinggal jauh dari mamanya. Sejak papanya meninggal 2 tahun yang lalu dan kedua abangnya bekerja dan menikah di dua kota yang jauh dari Jakarta, Medan dan Kuala Lumpur, otomatis Rena hanya tinggal berdua dengan mamanya. Hal ini sebenarnya membuat Rena berat hati untuk meninggalkan mamanya sendirian, tapi kesempatan kerja ini sangat langka menurutnya. Beberapa teman juga menyarankan untuk mengambil tawaran kerja tersebut, kesempatan karir yang bagus kata mereka, sayang sekali kalau dilewatkan. Rena mengajukan lamaran sebulan lalu, tepat setelah lulus dari pendidikan S2nya, di sebuah perusahaan multi-nasional yang mempunyai banyak cabang di kota seluruh Indonesia. Seminggu yang lalu kepastian dirinya diterima bekerja ia dapatkan. Sebelum menandatangani kontrak, ia sudah mengetahui akan ditempatkan di Kota Samarinda.
Tentang suami, ah ini yang membuat Rena menghela napas panjang. Usianya baru 24 tahun, masih muda untuk menikah menurut standar gadis Jakarta seperti dirinya. Tapi ia tak menolak andai saja memang ada lelaki yang cocok meminang dirinya. Ia sudah lama tidak dekat dengan lelaki mana pun setelah …. Ahh, ia jadi teringat Rey.
Lamunannya terputus, panggilan untuk menaiki pesawat terdengar menggema di seluruh ruang tunggu bandara. Tujuan ke Balikpapan melewati gate 5, ke sanalah kaki Rena melangkah.
***

Ya, di sinilah ia sekarang. Di Bumi Etam, Kota Samarinda. Ini pertama kalinya Rena menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan.
“Jadi bagaimana menurutmu Kota Samarinda, Ren?”, Ekka teman dimana rumahnya merupakan tempat Rena menginap sementara sekarang bertanya
“Bagus, kotanya besar dan masih pure dibandingkan Jakarta”, jawab Rena
Mereka baru saja kembali dari berjalan-jalan dan melihat-lihat beberapa rumah kos dan kontrakan yang akan ditempati Rena kelak. Sebenarnya Ekka menawari Rena untuk tinggal di rumahnya selama apa pun Rena bekerja di Samarinda. Toh dia anak tunggal, hanya ada Ekka dan kedua orang tuanya di rumah. Tapi Rena menolak, mau belajar mandiri kilahnya. Ia berjanji akan sering-sering mengunjungi Ekka. Begitu pula tante Ima, menawarinya untuk tinggal di rumahnya. Rena denga halus menolak dan memberikan alasan tambahan kalau rumah tante Ima agak jauh dari tempat kerja Rena.
“Jadi bagaimana kabar pangeran kita?”, Ekka bertanya mengagetkan Rena yang sedang minum
Rena tersedak, namun ia berusaha menyembunyikan kekagetannya, “Emm, aku lama sekali tidak bertemu dia Ka”, suaranya pura-pura terdengar biasa.
“Yakin kamu tidak mau tahu kabarnya sekarang?”, pancing Ekka sambil tersenyum geli di belakang Rena yang membalikkan badannya setelah tersedak
“Tidak Ka, yakin”, jawab Rena lambat. Dia cukup yakin dengan subjek yang sedang mereka bicarakan
“Sayang sekali, kukira kamu mau tahu”, sambung Ekka tanpa ampun.
“Hah, memangnya kamu tahu, dia sudah menikah?”, kali ini tanpa bisa menutupi rasa penasarannya Rena membalikkan badan ke arah Ekka
“Aku juga tidak tahu Ren”, tanpa dosa Ekka mengangkat bahu
“Huh” Rena pura-pura kesal
Ekka tertawa geli, setidaknya ia tahu Rena masih penasaran tentang Rey.
***

Rena menghembuskan napas lega, fiuhhh. Akhirnya selesai juga pekerjaannya. Ia  melirik arlojinya, 16.30. Lembur lagi. Meski pun dia anak baru, ternyata tugas untuknya cukup banyak. Setelah dua minggu masa perkenalan dan adaptasi, Rena mulai bekerja. Alamak, di minggu keempat ia sudah harus lembur seminggu penuh, bahkan di hari jum’at. Rena sendiri tidak keberatan dengan rutinitas seperti itu, ia sudah kenyang workaholic saat kuliah dulu.
Sekarang Rena bersiap pulang tapi setelah melihat keluar dari jendelanya, niat tersebut ia urungkan. Hujan sangat deras di luar. Keasyikan bekerja membuat ia tidak menyadari bahwa sejak satu jam yang lalu, rinai hujan sudah bertandang ke bumi. Rena malas berbasah-basah kehujanan. Meski pun membawa jas hujan di balik jok motornya, Rena tahu ia tidak akan sepenuhnya berhasil menghindari basah karena hujan yang terlampau deras seperti ini.
Dalam proses menunggunya, Rena jadi teringat percakapannya dengan Ekka sebulan yang lalu. Ekka sialan, umpatnya. Rey. Satu nama itu entah mengapa membuat hatinya merasa begitu aneh jika disebut. Ia dan Rey punya hubungan dekat dulu, ketika mereka kuliah S1. Kemana-mana selalu bersama. Selain Acha dan Ekka, Rey adalah sahabat Rena yang paling setia. Ya, mereka tidak pernah mengikrarkan diri dengan hubungan antar lawan jenis. Tetapi tidak bisa terelakkan, aura kecocokan mereka berdua telah merebak ke seluruh kampus. Tentu saja, karena Rena begitu populer. Rey sendiri orangnya terlalu cuek untuk mengklarifikasi kabar yang salah atau memastikan hubungan mereka. Rena senang-senang saja. Dia nyaman berada di dekat Rey terus.
Suatu hari, kabar yang tak ingin didengar Rena datang. Ia mendengarnya dari seorang teman Rey satu daerah asal. Katanya Rey sudah punya tunangan, sudah dijodohkan oleh orang tua sejak lulus SMA. Sekarang, gadisnya Rey tersebut juga sedang berkuliah di Banjarmasin, di daerah asal Rey. Rena pias, marah, cemburu jadi satu. Ia merasa selama ini, Rey hanya miliknya. Rey yang cuek. Rey yang hanya perhatian dengan Rena. Rey yang manis. Rey yang selalu membantunya ketika ia butuhkan. Ia tidak ingin berlanjut. Logikanya menyeruak. Saat itu masa akhir perkuliahan. Rena semakin disibukkan dengan skripsinya. Pertemuan dengan Rey terbatas. Ketika Rey mengajak bertemu pun sebisa mungkin ia hindari. Ia tidak ingin bertemu Rey lagi. Ia tahu kabar itu benar. Ia tidak ingin mendengar kabar tersebut langsung dari mulut Rey. Ia tidak ingin terluka lebih jauh lagi. Dan yang paling tidak diinginkannya terjadi adalah, ia tidak ingin terlihat terluka dan menangis di depan seseorang yang statusnya bukan siapa-siapanya.
Rena beranjak, hujan mulai digantikan gerimis kecil.
***

Yes”, pekik Rena ketika mengetahui ada waktu libur dalam rangka natal dan tahun baru. Satu minggu, lumayan juga pikirnya. Ia bisa balik ke Jakarta, menengok mama yang 3 bulan terakhir ini sangat dirindukannya.
Tapi macam anak sekolah saja, meski pun libur tetap saja ada tugas yang harus dikerjakan Rena. Tidak di  kantor, tapi di rumah. Divisi tempat Rena ditempatkan memang sangat urgen, libur 1 hari saja akan membuat beberapa pekerjaan dari divisi lain terbengkalai. Setelah berdiskusi dengan mamanya ia memutuskan tidak jadi ke Jakarta. Tapi untuk mengobati kerinduannya, mamanya yang terbang ke Samarinda. Toh, kakak-kakaknya tak ada yang bisa pulang. Lumayanlah menghabiskan tahun baru bersama keluarga selain di kota Jakarta pikir Rena.
***

Rena terlihat sangat sibuk dari siang hingga sore ini, ia membantu tante Ima dan mamanya memasak. Malam tahun baru kali ini akan mereka rayakan di rumah saja dengan makan malam menu spesial.
Malam tiba, mereka sudah mengelilingi meja makan. Tante Ema, Om Nelwan, Mama, dan Rena. Wira masih absen, kata tante Ima dia akan segera datang dengan temannya.
“Pacarnya ya Tante?”, tanya Rena menyelidik
“Hehe, mungkin saja”, jawab Tante Ima tertawa
Beberapa saat kemudian terdengar pintu depan dibuka, Wira masuk diikuti oleh seseorang. Seorang teman, bukan perempuan, bukan pacarnya. Meskipun bertahun-tahun tidak melihat orang ini. Rena tidak pernah lupa senyumnya. Rena hampir saja ternganga jika ia tidak segera menyadarkan dirinya dan pura-pura biasa.
“Hallo, Om, Tante”, sapa cowok ini, Rey.
***

Duarrr duuuaaarrr
Di kejauhan kembang api mulai bermekaran di langit. Bunyinya bergema dari setiap penjuru kota. Meski pun udara di teras rumah tante Ima saat itu sangat dingin, Rena merasa hangat. Setelah makan dan berbasa-basi sejenak, Rey mengajak Rena ke teras.
“Dunia memang sangat sempit, aku tidak tahu kalau kalian saling kenal”, itu kata Wira di meja makan saat mengetahui Rena dan Rey berteman.
“Bagaimana kabarmu?”, Rena membuka pembicaraan
“Aku baik, kamu?” standar sekali. Rey masih cuek seperti dulu pikir Rena
“Aku juga, aku sekarang kerja di sini, di Samarinda”
Rey kaget, “Yang benar? Sudah berapa lama”
“Sudah 3 bulan terakhir, kenapa?”, Rena heran mengapa Rey kaget
“Ah, tidak. Tidak menyangka saja, gadis metropolitan seperti kamu bersedia kerja di Kalimantan”, kata Rey sambil tersenyum
Rena menetralisir hatinya setelah melihat senyum Rey
“Kamu sendiri kerja di mana sekarang? Sudah menikah?”, Rena keceplosan

chibinanako.blogspot.com


Rey tersenyum, Rena masih seperti dulu, “Aku kerja di Balikpapan, satu kantor dengan Wira. Aku belum nikah”
Sangat kentara Rena menarik napas lega sebelum dia kemudian sadar lagi dengan tingkah bodohnya. Eh, tapi belum menikah bukan berarti tidak punya calon istri kan? Aaah, Rena mengerang kecil.
“Kenapa Ren? Sakit?”, Rey khawatir
Rena suka melihat wajah khawatir Rey, rasanya dejavu, saat mereka bersama-sama dulu, “Tidak apa-apa Rey”, senyumnya
Rena merasa ini adalah waktu yang tepat untuk minta maaf atas sikap kekanakan dan kelabilannya dulu. Apa pun yang terjadi dulu adalah masa lalu. Dan bagaimana pun status Rey sekarang, Rena hanya ingin berteman, menjalin hubungan baik dengan Rey lagi.
“Rey, aku minta maaf tentang dulu”
“Tentang apa Ren?”, Rey mengernyit bingung
“Di akhir-akhir kuliah aku menghindarimu, itu sengaja. Bukan karena kesibukan skripsiku”
“Ohh, boleh aku tahu alasannya?”
Rena terdiam. Ini rahasia masa lalu. Jika ia menginginkan hubungan baik, maka mau tak mau ini harus diungkapkan. Lalu, keluarlah kata-kata dan perasaan yang ia rasakan dulu ketika ia mengetahui bahwa Rey telah bertunangan. Rena mampu menahan air matanya, ini mukjizat. Karena bagaimanapun rasanya perasaan itu masih ada. Setiap ia berpikir untuk mengatakan ini pada Rey, ia pikir ia pasti tidak akan sanggup untuk tidak menangis.
“Rena?” panggil Rey lirih setelah jeda cukup lama
“Rena sejujurnya aku mencintaimu sejak dulu”, mata Rey menatap mata Rena
“Tapi kabar yang kau dengar, itu benar, itu yang membuatku tidak bisa mengatakan perasaanku padamu atau menanyakan perasaanmu padaku. Aku terikat janji dengan seseorang. Aku begitu bodoh membiarkan peraaanku padamu semakin dan membiarkan diriku nyaman selalu bersamamu dulu. Aku tak bisa mengambil sikap. Maafkan aku Ren”
“…”
“Ketika aku balik ke Banjarmasin, ternyata gadis yang telah menjadi tunanganku itu pun jatuh cinta dengan orang lain. Ia dan orang tuanya meminta pertunangan kami diputuskan. Aku bersedia”
“…”
“Aku mencarimu Ren setelah itu tapi tak ada kabar. Aku loss contact dengan teman-teman semasa kuliah. Otomatis jembatan menemukanmu juga terputus. Tapi tidak tahu mengapa, selama ini aku yakin aku akan menemukanmu kembali”
“Kamu tahu aku juga mencintaimu?”, Rena yang baru pulih dari shocknya baru bisa bicara
“Rena, aku tahu kamu. Aku kenal kamu dengan baik. Aku bisa membacamu. Aku tahu kamu mencintaiku dulu, dan sepertinya sekarang pun masih”, tembak Rey
Rena tersenyum dan ini membuat merah pipinya.
Eitts, tapi tunggu dulu aku sudah punya calon suami”, kata Rena mengejutkan
Wajah Rey langsung berubah 180 derajat, ia pun memperbaiki posisi duduknya.
“Benar Ren?”
“Iya”, jawab Rena santai, “Sekarang aku akan mengenalkannya dengan mamaku”, ia menarik tangan Rey.

Rey lega, ia menurut diajak Rena masuk. Akhirnya, aku menemukanmu kembali Ren.

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates